Animal Heroes

Chapter 4

Disclaimer : cerita punya aku, minnie kucing punya aku, minnie bunny punya kyunnie deh.

Rate T

Warning : typo(s), dll...

.

.

Spesial for you: Princess Kyumin, BoPeepBoPeep137, Cyn Kyunnie, Lee Shurri, S.J 1315, anonim890516, Chikyumin, Park Min Rin, KyuLoveMin, fishy, Cho Miku, Kyurin minnie, Han-RJ, Mega Kyu, Super girl, Alin, Sparkyu and Pumpkins, Eclipse Boy, Shinta pumpkinsMING, hyuknie, desnakyu, HanArien, Chely, Lonely girl, Rima Kyumin Elf, black devil, Liciousnam, dengelokie, Finda heeming, Choi Sila, lalalala, ShippoChan, Vinda8402, WieLoveWolfBunnySelamanyah, MINGswife, runashine88, hunhanshipper, Vie Joyer3424, Minnie Galz, Cho Kyuri Mappanyukhi, Rio, Arvita kim, ammyikmubmik, Gyurievil, ZaAra evilkyu, .1, Vhentea, reva kyuminelf, E-H, Guest, Guest, Guest, Guest, Guest. (Nama itu penting sayang, biar aku kenal dan gampang manggil kalian.)

Also special for you Silent Reader.

.

.

.

Jam baru menunjukan pukul 6.30, Sungmin terburu-buru menaiki tangga menuju kelasnya dilantai dua.

Sungmin terlonjak, saat membuka pintu didapatinya seorang pemuda sudah duduk dengan kaki diangkat ke atas meja, seperti kebiasaannya, dia memandang jauh keluar jendela. "Kyuhyun?!" Dari nada suaranya, Sungmin tidak bisa menutupi rasa heran dan keterkejutan dengan keberadaan pemuda yang sering datang terlambat itu.

Kyuhyun menoleh, melihat Sungmin yang masih memegangi dadanya. "Rajin sekali kau datang pagi-pagi begini." Kyuhyun berucap sinis, walaupun maksudnya bukan begitu.

Merasa tersinggung, Sungmin mengerutkan dahinya. "Bukankah seharusnya aku yang bicara seperti itu."

Kyuhyun tidak menanggapi ucapan sang pemimpin siswa itu, dia lebih memilih diam, dan kembali memandangi halaman sekolah yang masih sepi.

Sungmin menyimpan tasnya di bawah bangku, dia terburu-buru mengambil sapu dalam sebuah lemari di bagian belakang kelas.

Suara ribut yang disebabkan Sungmin, membuat Kyuhyun menoleh. "Kau mau apa?"

"Hari ini aku piket." Sungmin menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari alat kebersihan dihadapannya.

"Bukankah kemarin sore kau sudah membersihkan kelas, kenapa sekarang harus dibersihkan lagi?" Kyuhyun menurunkan kakinya, dia duduk menyandar pada tiang jendela, matanya memperhatikan Sungmin yang menarik-narik sebuah kain lap yang terhimpit alat kebersihan yang lain. "Setiap hari kau juga selalu ikut membantu piket yang lain, kenapa kau masih mendapat tugas piket lagi?"

Sejak semalam Sungmin sudah kesal dengan teguran ayahnya karna pulang terlambat, dan pagi ini dia tidak ingin mendengar siapapun mengoceh didepannya, dia hanya ingin menyelesaikan tugas piketnya sebelum siswa yang lain datang. "Kyuuuu~" Sungmin berkacak pinggang. "Daripada kau terus bicara, bisakah kau membantuku mengambil lap ini."

Kyuhyun menangkap nada kesal pada suara Sungmin, tapi dia tidak peduli, setidaknya untuk saat ini dia bisa pura-pura tidak peduli. "Itu bukan urusanku." Kyuhyun mengangkat bahunya acuh tak acuh.

Sungmin tahu, bahkan sangat tahu jika Kyuhyun itu memang tidak bisa diharapkan, bukan hanya pada hal-hal besar, tapi juga pada hal-hal sepele, seperti sekarang. Dia menghentakan kakinya, dan kembali menarik-narik kain lap itu.

"Hey pendek.."

"Aku tidak pendek." Sungmin menyela.

"Hn, cerewet.."

"Aku juga tidak cerewet!"

"Berhenti menyelaku." Lantai berdecit saat Kyuhyun menggeser kursinya, dia berjalan mendekati Sungmin. "Kenapa tidak kau keluarkan satu-satu, supaya lebih mudah mengambil lapnya?"

"Nanti alat-alatnya jadi berantakan. Kau mau menolongku, kan?" Sungmin menoleh, menatap Kyuhyun yang berdiri bersandar pada dinding disebelah lemari.

"Tidak."

"Kyuuu~" Sungmin ber-aegyo memohon, bukannya menolong Kyuhyun malah memasukan tangannya kedalam kantong celana.

"Fighting ne, minnie-ah." Kyuhyun pergi keluar kelas meninggalkan Sungmin sendirian, sebelum menutup pintu, dia bisa mendengar Sungmin mengumpatnya. Entah perasaannya saja atau apa, tapi gelagat Sungmin terlihat berbeda, seperti ada sesuatu yang dia tahan. Memperhatikannya selama satu tahun penuh membuat Kyuhyun sangat memahami semua gerak-gerik Sungmin.

"Dasar menyebalkan." Sungmin menghentak-hentakan kakinya. Kyuhyun tidak berubah sejak kejadian kemarin, masih tetap tak acuh. Kyuhyun tahu dirinya memperhatikan gerak-gerik pemuda berandal itu, dan hal itu membuatnya malu setengah mati, terlebih lagi dia kepergok oleh guru dan semua teman sekelasnya, dan yang paling membuatnya kesal adalah rasa penasarannya pada apa yang dikatakan pemuda yang dipanggil hyung oleh Kyuhyun, tempat kami, Sungmin tahu, pemuda itu pasti akan bercerita banyak tentang tempat mereka itu, tapi kenapa Kyuhyun seperti menutup-nutupinya, dengan menariknya keluar dari rumah, dengan alasan sudah saatnya dia pulang. Sungmin bertekad untuk kembali mengikuti Kyuhyun, melihat keadaan kucing yang tempo hari ditolongnya, dan jika hyung Kyuhyun itu masih berada disana, Sungmin juga berencana mengobrol lebih banyak dengannya.

Karna kesulitan mengambil lap, akhirnya Sungmin memutuskan hanya menyapu lantai, dan membersihkan papan tulis.

Tiga puluh menit berlalu sejak Kyuhyun meninggalkan kelas.

Sungmin duduk menunduk di bangku guru.

Jika saja sifat Kyuhyun tidak secuek itu, pagi ini dirinya pasti bisa membersihkan kelas seraya mengobrol dengannya, mencari-cari alasan agar Kyuhyun memperbolehkan dirinya ikut pulang kerumahnya. Yah, tapi mau bagaimana lagi, pemuda berandal itu sudah pergi, dan sebentar lagi siswa yang lain pasti datang.

"Ini."

Sungmin terhentak keluar dari lamunannya. Dia mendongak, menoleh pada pemuda yang sudah berdiri disampingnya.

"Ini ambil." Kyuhyun menyodorkan gelas steropom berisi minuman hangat. "Kerjamu bagus juga." Kyuhyun berdiri menyandar pada papan tulis, matanya mengamati keseluruh penjuru kelas.

"Apa maksudmu?" Sungmin menerima gelas itu, dan memain-mainkan minuman didalamnya.

"Kau cocok jadi pembantu rumah tangga."

"Apa?!" Mata Sungmin melebar. "Dasar orang menyebalkan."

"Aku tahu, dari tadi kau terus mengatakan itu."

"Kau memang menyebalkan Kyunnie."

"Hey pendek.."

"Aku tidak.."

"Jangan menyela!"

Sungmin memicingkan matanya, dia kesal dan marah, tapi marah pada seorang Cho Kyuhyun tidak ada gunanya.

"Kau mau membantuku?"

"Membantumu?"

"Hn." Kyuhyun mengusap belakang kepalanya, kaku, tidak mudah baginya untuk meminta pertolongn dari seseorang, tapi untuk hal yang satu ini, dia harus memberi pengecualian. "Semalam si ikan laut menginap dirumah, dia membuat rumah menjadi berantakan, aku..mmm..." Kyuhyun menjilati bibirnya yang kering. "Aku..mmm..."

"Kau tidak biasa membereskan rumah?" Terka Sungmin.

"Ya, begitulah, jadi... Kau mau membantuku, kan?"

Sungmin terdiam, terlihat mencerna, dan menimbang-nimbang, melihat ada kesempatan dia tersenyum. "Aku bantu!" Ucapnya. "Tapi ada syaratnya."

"Tenang saja aku pasti membayarmu." Seloroh Kyuhyun.

"Bayar? Bukan, bukan itu maksudku."

"Lantas?"

"Aku ingin kau menjawab beberapa pertanyaan dariku."

Kini giliran Kyuhyun yang terlihat berpikir, dia menatap langsung kemata Sungmin. "Tergantung pertanyaannya, jika menyangkut hal pribadi, aku menolak."

"Hanya beberapa hal saja, bagaimana, deal?" Sungmin mengulurkan tangannya.

"Terserah." Kyuhyun tidak menghiraukan uluran tangan Sungmin, dia meneguk habis minumannya sebelum kembali duduk dibangkunya.

Sungmin merenggut, walaupun hatinya senang, kapan lagi bisa memiliki kesempatan untuk menghilangkan rasa penasarannya, dan lebih mengenal pemuda cuek itu.

.

.

.

"Hey, pendek, kau lama sekali sih." Kyuhyun menarik Sungmin keluar dari kelas.

"Tunggu dulu, Kyunnie. Aku harus membantu yang lain piket dulu." Sungmin menahan tangan Kyuhyun agar berhenti menyeretnya.

"Pendek, tadi pagi kau sudah melakukan tugasmu, jadi biarkan sekarang yang lain yang bekerja."

"Tapi Kyuuu~"

"Jika kau ikut pulang denganku sekarang, aku akan menjawab semua pertanyaanmu, bagaimana?"

"O? Oke! Ayo!" Tanpa pikir panjang pemuda chubby itu kembali kekelas, mengambil tas dan izin pulang lebih dulu. Sungmin menarik tangan Kyuhyun, berjalan lebih cepat menuju gerbang sekolah.

Bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu, koridor sekolah sudah cukup sepi, begitupun jalanan. Mudah bagi Sungmin untuk menyeret Kyuhyun agar lebih cepat sampai di rumah.

Hari ini Kyuhyun tidak berkeliling seperti biasanya, dia pikir cukup aman jika satu hari saja tidak berjaga, lagipula sejak kejadian minnie si kucing, sudah tidak ada lagi anak sekolah yang dengan sengaja melukai binatang. Merasa cukup aman, Kyuhyun membiarkan dirinya ditarik Sungmin, yang terlihat bersemangat membersihkan rumah, hmmm... mungkin bukan itu alasan utama Sungmin, tentu saja bukan itu alasan Sungmin.

"Kyunnie, apa sih yang kau dan Donghae hyung lakukan semalam? Kenapa rumahmu berantakan sekali?" Sungmin dan Kyuhyun menggeser sofa ketempat semula. "Kenapa sofa bisa berpindah hingga kedapur?"

Kenapa? Tentu saja karna mulut manusia ikan itu tidak bisa diam, memaksa mengambil minnie si kucing keberuntungan, menyebarkan gossip Kyuhyun suka Sungmin pada hyung-nya yang lain. Bukan Kyuhyun, jika diam saja saat merasa tertindas, yah jadilah aksi kejar-kejaran tadi malam, namun bukan hal yang bagus bagi Kyuhyun untuk memberitahukan kejadian semalam pada Sungmin.

Kyuhyun mendengus. "Ikan bodoh itu pelakunya."

"Kyunnie, Donghae hyung itu, kakak kandungmu?"

"Geser sedikit lagi, tepat didepan televisi." Kyuhyun memberi intruksi, Sungmin menarik dan Kyuhyun mendorong. "Bukan."

"Bukan?"

"Bukan. Oke sudah pas." Kyuhyun menepuk tangannya, seolah telah melakukan pekerjaan berat. "Sekarang giliran kamar."

"Kamar?!" Sungmin berseru, jika Kyuhyun dan Donghae bukan sodara kandung, apa yang mereka lakukan tadi malam, hingga seluruh isi rumah berantakan, bahkan sampai kamar. Tidak, tidak, tidak, Sungmin menggelengkan kepalanya, menyingkirkan pikiran-pikiran negatif dari dalam kepalanya.

"Kau kenapa?"

"Apa? Aku?" Sungmin mendongakan kepalanya, mendapati Kyuhyun yang sudah berdiri di ambang pintu kamar, dengan tangan dilipat didada, dan kening berkerut. "Aku tidak apa-apa."

"Ayo cepat." Kyuhyun memberi isyarat, dan Sungmin langsung mengikutinya.

"Astagah." Bukan hanya buku-buku pribadi Kyuhyun, bahkan bantal, guling dan seprei berantakan di atas lantai, bisa ditebak apa yang terjadi semalam? Tidak, tidak, tidak, Sungmin menggelengkan kepalanya lagi. Sungmin membulatkan tekad, harus menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Benar, Sungmin memang harus bertanya, jika tidak dia akan pusing sendiri dengan pikiran-pikiran negatifnya.

"Ayo cepat Lee Sungmin!" Kyuhyun menghentakan ujung sebuah seprai, mengisyaratkan agar Sungmin menarik ujung lainnya, dan bersama-sama mereka memasangkan seprai pada ranjang berukuran besar itu.

"Kyunnie, kau tidur sendirian di kasur sebesar ini?" Sungmin merentangkan tangannya, mengukur seberapa besar tempat tidur itu.

"Kenapa? Kau mau menemaniku tidur?" Kyuhyun menyelipkan ujung seprai kebawah kasur, menepuk-nepuknya agar terlihat rapi.

Oh, perkataan Kyuhyun berhasil membuat Sungmin memalingkan wajahnya, apa itu rona merah dipipi Sungmin?

"Jangan bicara sembarangan Cho Kyuhyun."

"Pertanyaanmu yang aneh." Kyuhyun mengambil bantal, dan guling yang berserakan di atas lantai, menepuk-nepuknya, lalu ditata diatas kasur. "Kau pikir aku akan tidur dengan siapa?"

"Donghae hyung, mungkin."

"Apa? Kau pikir aku dan dia akan..."

Sungmin mengangguk, sebagai jawaban.

"Jangan berpikiran yang macam-macam." Kyuhyun mengambil buku-buku dan menatanya dalam sebuah rak didekat meja belajar.

"Tentu saja aku berpikiran yang macam-macam."

Kyuhyun berbalik, menatap Sungmin dengan alis terangkat.

"Tunggu, maksudmu aku dan dia semalam.."

Sungmin menganggukan kepalanya.

"Astagah, Lee Sungmin!" Kyuhyun berseru. "Kau pikir kami.."

"Tentu saja, Kalian bukan sodara, berduaan, dan rumah yang menjadi berantakan, tentu saja aku akan berpikir yang macam-macam."

Kyuhyun sudah membuka mulutnya untuk membalas tebakan asal Sungmin, tapi dia mengurungkan niatnya dan lebih memilih tertawa.

"Kenapa kau tertawa?" Pipi Sungmin mengembung, tangannya dilipat didada. Kyuhyun terus tertawa membuat Sungmin merengek. "Kyuuuu..."

"Tidak ku sangka kau memiliki pemikiran sejauh itu."

Kyuhyun memasukan buku terakhir kedalam rak, meregangkan tubuhnya, lalu keluar dari kamar.

Sungmin mengikutinya, masih tetap cemberut.

Kyuhyun menyodorkan segelas air putih dingin pada Sungmin. Lalu merebahkan tubuhnya diatas sofa.

"Anak kucingnya mana?" Sungmin menerimanya dan meneguk habis airnya, lalu ikut merebahkan tubuhnya disebelah Kyuhyun.

"Dibawa hyung."

"Lukanya sudah sembuh belum?"

"Hn."

"Oh, bagaimana dengan lukamu?" Sungmin menegakkan tubuhnya, tangannya sudah terangkat, hendak melihat luka di pelipis Kyuhyun, saat Donghae berseru.

"Aku pulang!"

"Hyung?!" Kyuhyun menepis tangan Sungmin, dia menegakan tubuhnya, bergeser, duduk menjauhi Sungmin.

"Hey hey hey, lihat minnie, ayah dan ibumu sedang berpacaran." Donghae menunjuk-nunjuk Kyuhyun dan Sungmin dengan kaki minnie si kucing.

Seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Donghae, kucing itu mengeong, mengiyakan.

"Ayah dan ibu?" Sungmin menatap Donghae dengan wajah kebingungan.

"Jangan dengarkan dia, dia sudah gila karna jarang bertemu manusia." Kyuhyun berdiri, menghampiri Donghae dan merebut minnie.

Donghae hendak memprotes, tapi tidak jadi karna ternyata Kyuhyun menyerahkan minnie pada Sungmin.

"Minnie, kau datang untuk bertemu denganku, kan?" Donghae mendudukan dirinya disebelah Sungmin.

Sungmin terkekeh, menurutnya Lee Donghae itu sangat percaya diri. "Sebenarnya aku datang untuk membantu membereskan rumah."

"Rumah?" Donghae baru menyadari jika rumah yang semalam berantakan kini sudah kembali rapi. "Aaa, benar, kau tahu minnie, semalam Kyunnie menggila, sampai-sampai aku harus tidur di sofa." Donghae bercerita dengan penuh drama, membuat Sungmin mengangguk, namun kebingungan.

"Hey Lee Donghae, jangan bicara sembarangan."

"Aku tidak bohong. Semalam Kyuhyun melempariku dengan barang-barang dikamarnya..."

"Lee Donghae!" Kyuhyun meninggikan nada suaranya, mengisyaratkan sebuah ancaman.

"Apa yang terjadi hyung?" Sungmin dan Donghae mengabaikan Kyuhyun yang sudah mulai mengetuk-ketukan kakinya.

"Lee Sungmin, ayo pulang." Kyuhyun menarik lengan Sungmin, hingga minnie si kucing kaget, dan melompat dari pangkuan Sungmin kepangkuan Donghae.

"Tapi Kyu.."

"Ada yang ingin kau tanyakan padaku, kan? Ayo bicara diluar."

"Tapi.."

"Ayo!"

Kyuhyun mengambil tas Sungmin, dan menarik Sungmin keluar.

Donghae yang mengikuti mereka, melambai-lambaikan kaki depan minnie.

"Kyunnie, kau kenapa sih?" Sungmin menarik lengannya dari genggaman Kyuhyun. "Kau tidak suka Donghae hyung bicara denganku?!"

"Aku..." Ucapan Kyuhyun terputus, dia melihat jauh kebelakang Sungmin.

"Kyu.."

"Tunggu disini."

Kyuhyun berlari meninggalkan Sungmin. "Sial, aku pikir hari ini aman."

Kyuhyun berlari mengikuti dua orang anak yang masih mengenakan seragam sekolah. Dia berbelok masuk kedalam sebuah gang.

"Hey, Kalian!"

Dua anak SMP itu menoleh. "Ada apa?"

"Apa yang ada ditangan kalian?"

Dua anak itu bertukar pandang, sebelum menunjukan seekor burung pipit yang kakinya diikat menggunakan karet gelang.

"Sial!" Kyuhyun menggeram. "Berikan burung itu padaku."

"Enak saja, ini mainan kami, kau cari saja burung yang lain." Kedua anak itu mengacuhkan Kyuhyun.

"Mainan kalian bilang? Berikan padaku, bocah.!"

Dalam sekali hentakan, Kyuhyun meraih pundak salah satu anak yang memegang burung pipit kecil itu, memutar tubuhnya dengan cepat.

"Hey!" Teman anak itu mendorong Kyuhyun.

"Berikan!" Kyuhyun menggertak.

Kedua bocah itu saling berpandangan.

"Kau mau cari gara-gara yah?"

"Berikan burung itu."

Burung pipit itu, bercicit pilu, menggerak-gerakan kakinya yang terikat, mengepak-kepakan sayapnya, berusaha melepaskan diri dari tangan kedua bocah usil itu.

Melihatnya membuat Kyuhyun semakin geram.

"Diam!" Salah satu anak itu menggeram, mengeratkan genggaman tangannya pada tubuh burung itu.

Burung kecil itu bercicit semakin keras, sesak dirasakannya.

"Burung bodoh!"

"Hey!" Kyuhyun mendorong kedua anak itu hingga mereka terjerembab kebelakang, direbutnya burung itu dari tangan bocah-bocah usil itu.

"Kau tidak apa-apa?" Kyuhyun mengelus-elus sayap rapuh burung itu, cepat-cepat dia melepaskan ikatan karet dikakinya, burung itu bercicit kesakitan, membuang Kyuhyun meringis, dan semakin melembutkan tindakannya.

"Burung bodoh!"

"Orang aneh!"

Kedua anak itu mengumpat, namun tidak berani membalas serangan Kyuhyun, mungkin mereka menyadari tubuh Kyuhyun lebih tinggi dan lebih kuat dibanding mereka, sehingga mereka lebih memilih lari meninggalkan Kyuhyun dan burung pipit itu.

Perlakuan lembut Kyuhyun pada burung pipit itu, berbanding terbalik dengan image-nya yang diketahui orang-orang selama ini. Cukup membuat Sungmin membatu untuk beberapa saat, sebelum dia memanggil nama pemuda itu.

"Kyuhyun."

Kyuhyun mendongak, kaget, saat Sungmin sudah berdiri beberapa langkah darinya.

"Kyu..."

"Bukankah aku menyuruhmu menunggu."

Sungmin terkesiap dengan nada marah dari suara Kyuhyun. Dimata Kyuhyun, Sungmin melihat amarah, kepedihan, benci, dan kekesalan.

"Kyu, aku..."

Kyuhyun mengacuhkan Sungmin, dia berlari melewatinya, kembali kerumah, saat dirasanya tubuh burung kecil itu mengejang Kyuhyun berlari semakin cepat.

"Hyung!" Kyuhyun mendobrak pintu, mengagetkan Donghae yang sedang bermain dengan minnie. "Tolong." Suara Kyuhyun terdengar parau.

Melihat burung ditangan Kyuhyun, cepat-cepat Donghae menurunkan minnie dari pangkuannya. "Apa yang terjadi?"

Donghae mengambil selembar handuk kecil dan kotak P3K dari dalam lemari. "Berikan padaku."

"Dua bocah mengikat kakinya dengan karet, dan menekan tubuh burung ini dengan kuat, hingga burung ini mengejang."

Kyuhyun memberikan burung itu kepada Donghae, perlakuan Donghae pada burung itu sama lembutnya seperti Kyuhyun.

Donghae membawa burung itu kedalam kamar, Kyuhyun terus mengikutinya.

"Tunggu diluar, Kyu."

"Tapi, hyung..."

"Kyu!" Donghae membentak Kyuhyun, Donghae sangat memahami sifat Kyuhyun, jika Kyuhyun berada disampingnya, Donghae tidak akan bisa memeriksa burung itu dengan tenang, karna Kyuhyun pasti akan terus bicara menanyakan keadaan burung itu.

Dalam keadaan seperti ini, Kyuhyun tidak bisa melawan Donghae, Donghae dokternya, dia yang lebih tahu keadaan burung itu.

"Lakukan yang terbaik." Ucap Kyuhyun sebelum menutup pintu kamar.

Donghae mendengus, entah sudah berapa puluh binatang yang dia rawat, dan obati, seharusnya kemampuan dirinya sudah dapat diakui, tapi bocah itu? Donghae menggeleng kepalanya, dia harus memaklumi salah satu sifat rapuh pemuda bertubuh tegap itu.

Kyuhyun berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar, terlihat gelisah, seperti seorang pria muda yang risau menunggu kelahiran anak pertamanya.

Sungmin yang sedari tadi mengikuti Kyuhyun hanya bisa terpaku, kebingungan memenuhi pikirannya, belum pernah dia melihat Kyuhyun begitu panik dan gelisah seperti ini, Kyuhyun bahkan tidak menyadari keberadaannya yang berada dalam satu ruangan, hanya berdiri beberapa meter darinya.

Kyuhyun langsung memberondong Donghae dengan berbagai pertanyaan, saat pemuda dengan wajah innocent itu membuka pintu kamar.

"Bagaimana?"

Donghae tertunduk, dia menggelengkan kepalanya.

"Burung itu tidak..." suara Kyuhyun terdengar seperti orang tercekik.

"Tidak apa-apa!" Donghae mengangkat kepalanya, diwajahnya terpatri senyuman jahil.

"Lee Donghae!" Kyuhyun menggeram. "Bercandamu tidak lucu."

Donghae tertawa, candaan seperti itu memang akan selalu berhasil pada Kyuhyun. "Itu balasan untuk kelakuanmu semalam."

"Aku mau melihatnya."

"Tunggu." Donghae menahan agar Kyuhyun tidak masuk kamar. "Burung itu masih shock dengan perlakuan manusia, biarkan dia sendiri dulu."

"Miauw."

Sungmin terhentak kaget, saat bulu-bulu halus menyentuh kakinya.

"Minnie." Donghae baru menyadari jika Sungmin berada diruangan itu bersama mereka.

"Hai hyung." Sungmin tersenyum, namun matanya menatap Kyuhyun.

"Lee Sungmin."

To be continued...

.

.

.

Cieee yg udah marah-marah aja nih, nungguin kelanjutan animal heroes *ditoyor*..

Maaf ya, baru bisa update, tadinya mau pas natal kalau ga pas valentine, tapi ternyata natalan rame bgt, dan aku kelewatan hari valentinenya.

Gimana, suka? Masih kurang panjang juga? Diiih sukanya yang panjang-panjang..nanti kenyang sebelum habis lhooo, kasian yang masak, nanti mubazir.. #eh

To "guest", siapa namamu, nak? Jangan manyun ah, ntar saya cubit nih pipinya..hohoho

To E-H : suka review kamu, kenapa saya ga langsung publish cerita saat itu juga? Karna saat itu sy baru ngeh kalo valentine udah lewat *tepok jidat* *ini tgl berapa* sedangkan cerita belom selesai di ketik, kalo saya paksain publish, ntar kpendekan, reader ga puas, dan warning kemarin itu mendadak saya ketik, besoknya baru saya lanjutin ketik cerita ini.

To "vhentea" : Makasih ya koreksinya, saya sampe cek lagi lho. Kita belajar sama-sama yah, biar lebih faham bahasa koreanya. :)

To "Cyn kyunnie" and "Liciousnam" : My dear, thank you for call me 'oenni' and 'noona', maksudnya pasti mau sopan yah, saya ngerti, tapi kita bahkan tidak saling mengenal satu sama lain, kita belajar sama-sama yah, kalo baru kenal kamu gak perlu manggil 'oenni' dan 'noona', maaf tapi itu justru gak sopan, kamu gak bisa seenaknya manggil oenni, noona dan oppa, di korea ada attitudenya lho, nanti kamu disangka so akrab. Kenapa saya ngomong kaya gini, karna kebanyakan k-popers Indonesia seperti itu, dan saya gak mau nantinya aku, kamu, kita di anggap so akrab sama orang koreanya, ini berdasarkan pengalaman saya sendiri, saya pernah chatt dengan orang korea dan jepang, mereka pernah bilang kalo ga suka sama stranger yg sekonyong-konyong manggil oppa untuk orang korea, dan langsung pake embel-embel 'chan' dan 'kun' untuk orang jepang. Ini share aja yah, biar kita ga di spelein sama orang korea dan jepangnya, kita biasain yukz sopan dulu sebelum akrab, oke my dear? ^^

Tapi aku suka kok, gapapa kalo kalian mau manggil oenni dan noona, kalian pasti remaja-remaja yang sopan, makasih ya. :)

And for you, you, you *ngabsen siapa aja yang ngerasa* stop calling me "thor"! I'm not Luthor, ataupun Alan Luthor, Aku punya nama kakak~, pennameku Kujaku, gak enak tau dipanggil thor thor thor *pundung*

To All reviewer, Silent Reader, Follower Story, Follower Author, Favorit Story dan Favorit Author, terimakasih sudah berkenan membaca kelanjutan fanfic saya. Maaf kalo ceritanya malah ga nyambung dan kurang berasa.

A/N: ada yang merasakah cara penulisan saya berubah?

Oh iya, ada yg suka baca cerita slain ff, ga? Saya punya cerita, saya publish d note fb n fictionpress sih, kalo ada yg suka, kasih tau saya yah, nanti saya bagi linknya, saya perlu pendapat dan penilaian dari reader, kalo d fb cuma temen yg komen, ya jd gitu deh...

Share sesama reader: readers, d fb, saya ngelike sebuah FP "Namanya Flanelish." , Fp itu suka publish cerita fiksi romansa juga, kalo kamu suka baca cerita selain ff, coba deh cek note fp itu, seriusan deh ceritanya bagus, remaja bgt deh.

Kebanyakan ngoceh ya..hehehe maklum yah habis gatel kalo punya bacaan bagus yang ga di bagi pada sesama reader.

Sekian deh..

Terimakasih banyak...

Kujaku MeHyoozan.