Enam pasang sayap putih bersih berwarna keemasan terbentang lebar di balik tubuh seorang pria setengah baya. Sayap itu semakin berkilau ketika cahaya putih keperakan sang dewi malam menaungi dan menyinarinya dalam kegelapan. Malaikat itu berdiri di hadapan seorang anak kecil umuran enam tahun, surai kuning emasnya nampak layu pertanda bahwa anak itu dalam kondisi lemah.

"Jadi begitu, kau adalah anak yang memiliki potensi tertinggi diantara ke 13 yang lain walaupun kau tidak termasuk dalam hitungan 13 itu sendiri." Malaikat itu tersenyum lembut, sembari mengelus puncak kepala pemilik surai kuning tersebut.

"Nak, takdirmu telah ditentukan jauh sebelum kau terlahir di dunia ini. Kau akan menempuh jalan penuh lika-liku. Rasa sakit, dendam, putus asa, penghianatan, dan kebencian. Semua itu akan menjadi temanmu saat kau berjalan dalam kegelapan. Tetapi kau tenang saja ok? Jangan membuat hidupmu di repotkan dengan semua itu. Aku yakin sesuatu yang tertidur jauh di dalam hatimu akan menuntunmu menuju kebenaran" Anak kecil yang terduduk dan menyandarkan punggungnya ke pohon cemara besar itu bangkit. Dengan gerakan takut-takut tangan mungungilnya memberanikan diri untuk membelai salah satu sayap emas, hangat, nan menenangkan sang Malaikat.

"karena bagaimana'pun 'Dia' telah memilihmu... Sebagai eksekutor bagi ketiga belas calon pengganti-Nya yang lain meski itu hanya ilusi belaka." tiba-tiba keenam pasang sayap putih keemasan milik sang malaikat itu berubah menjadi hitam legam, namun kilauan emas tampak jelas dari sayapnya yang menghitam.

"Pa-paman apa maksud perkataanmu? Dan ke-kenapa sayapmu menjadi hitam?" tanya polos anak itu saat masih senantiasa mengelus sayap emas yang sekarang telah menjadi hitam.

"Ahahaha, jadi memang sudah 'jatuh' ya? Maaf nak, namun kau akan mengerti semua itu jika waktunya tiba." Mantan Malaikat itu menghela nafas berat... Padahal sudah banyak takdir yang ia bocorkan tetapi mengapa baru sekarang ia jatuh? 'Meski telah tiada kau selalu tahu tentang apa yang telah aku lakukan'

"Ah... Waktunya telah tiba, waktunya untuk 'Pulang'." perlahan tubuh sang Malaikat hitam itu memudar menjadi partikel-partikel cahaya. Melihat hal tersebut, anak kecil itu tidak mengerti mengapa tubuh orang yang ia dekap seakan-akan mengabur. "Satu pesan terakhirku untukmu, Nak. [Biarkan 'kilau' di dalam hati yang akan menuntunmu menuju jalan pulang, dan kebahagiaan]."

"Sayonara... Kaisar Kegelapan." Setelah mengucapkan itu sang Malaikat hitam tersebut benar-benar hilang dari muka bumi dan meninggalkan seorang anak kecil yang tengah terisak tersedu-sedu.

.

.

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

.

.

.

[The Devil Ninja Shadow]

Disclimer's : Masashi Kishimoto and Ichie Ishibumi

Crossover : Naruto and High School DxD

Rate : M (For story and leangue. not Lemon)

Genres : Semi-Romance, Adventure, fantasy, Sci-Fi, Supernatural, hurt/comfort, ETC.

Pairing : "Penjahat tidak membutuhkan cinta" meminjam perkataan The Dark Side; Yami Naruto, dari fic TBT(The Best Team) by : Jendral(Ecchi) Dony Ren/Icha Icha Ren.

Slight pair: KibaTsuba, IseAsia, ValiKuro, NaruNaru(?) and more.

Warning : Dark Side, Semi-OOC, No OC, Typo(s), Miss Typo(s), Adult theme, Violence, AU, Etc.

.

.

.

.

.
ARC : II - why the dragon's cry without tears? (In the hearts of all secrets will be revealed and become a reality.)

Chapter 11,5 : Arc II - Fate A Dark Emperor.

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

.

.

.

.
"Apa dosaku, hingga Kami-sama hanya memberiku rasa sakit ini?"

"Siapa sebenarnya diriku?"

"Apa tujuanku hidup di dunia ini?"

"Mengapa semua beban ini, harus berada di pundakku?" dan tumpahlah semua rasa dalam derasnya air yang mengalir dari sepasang bola mata merah milik Naruto.

"Tou-chan, Kaa-chan. Mengapa kalian meninggalkanku? Mengapa kalian melindungi dan membiarkanku hidup di dunia yang kejam ini? Aku... Aku ingin kalian berada disisiku! Melihaku tumbuh, membesarkanku dengan kasih sayang, dan... Hiks... membanggakanku sebagai anak kalian ketika aku menjadi ketua Clan Arashikage!"

Seringai kemenangan tampak jelas di bibir Naruko dan ia tahu... Hanya satu langkah lagi untuk menjadikan Naruto miliknya "Kau tahu? Semua ini dapat dirubah andai kau menjadi yang terkuat dan memapu memusnahkan mereka yang telah membuatmu menderita?" Naruto kembali fokus setelah mendengar ucapan dari gadis yang senantiasa menemaninya dalam suka maupun duka. "Beritahu aku... Beritahu aku caranya Naruko! Agar aku bisa menjadi kuat dan merubah semua ini!"

"Ufufufufu~ tetapi apakah kau mau menukarnya dengan kenaifanmu?"

"Aku bersedia!"

"Apakah kamu mau menukarkannya dengan seluruh filosofis membosankanmu?"

"Aku bersedia!"

"Meski itu menjadikan mu seorang monster? Dan membuatmu menjadi musuh bagi dunia ini?"

"Aku tidak peduli dengan konsekuensi apa'pun itu! Aku hanya ingin merubah semuanya!"

"Bagus! Apakah ini berarti kau menerimaku?"

"Ya!" jawab Naruto mantap.

"Kalau begitu, ayo kita lantunkan syair kebangkitan!" Setelah menucapkan hal tersebut. sosok Naruko memudah menjadi kegelapan yang masuk ke dalam dada kiri Naruto.

[Aku adalah raja yang akan bangkit dari gelapannya kegelapan malam]

(ya, seperti itu... Itu'lah langkah yang sang raja tempuh.)

[Kesejatian yang terabaikan, bersembunyi di balik bayang dan terlupakan dimakan zaman!]

(Bayangan adalah sifat lain dari Kegelapan, itu adalah sifat sang Raja malapetaka.)

[Aku menangis dalam kebahagiaan, tertawa dalam keputus asaan, dan menggila pada dominasi rival merah-putih]

(Mereka dua makhluk suci syurgawi yang telah mencuri dominasi dari Tuhan.)

[Keangkuhan adalah temanku, kasih sayang adalah musuhku dan ikatan adalah dendamku.]

(Mari musnahkan~ mari tenggelamkan.)

[Dan aku akan memusnahkanmu dalam kegelapan abadi di jurang keputus asaan!]

[[ The First Form : The True Dragon of Darkness ]]

BLAAAAARRRR!

Salib hitam pengekang itu hancur berkeping-keping, di ikuti runtuhnya ruangan penyiksaan akibat ledakan aura hitam kemerahan yang berasal dari tubuh Naruto. Alarm keamanan di penjara bawah tanah istana Lucifer berbunyi nyaring, menandakan adanya kekacauan yang terjadi di ruang tahanan.

Asap coklat dari debu yang berterbangan akibat ledakan itu mulai memudar. Menampakan sosok seekor makhluk penyebab ledakan tersebut.

Berdiri dengan empat kaki atau mungkin tangan sosok tersebut menampakan sosoknya. Mata merah berpupil kuning vertikal menyala ganas dalam kegelapan. Tubuhnya seperti miniatur naga seukuran manusia normal yang tercipta dari aura hitam dengan semburan merah di bagian terluar. susunan tulang rusuk, ekor, tangan, cakar, dan tengkorak. Melapisi bagian luar makhluk itu layaknya sebuah armor. Sepasang tanduk tumbuh dari tengkorak kepala naga yang menutupi wajahnya seperti topeng, dan sepasang sayap naga yang juga terlapisi susunan tulang membentang lebar di punggunnya.

Grooaaaarrrrrrrr!

Naruto dalam mode Makkura satu, terkontaminasi dengan kekuatan Great Red yang mengalir dalam darahnya, meraung buas layaknya naga yang sedang marah.

Flash!

Braaak!

Dalam sekejap pintu baja bagian terluar ruangan itu hancur berkeping-keping saat Naruto menabraknya dalam kecepatan cahaya. Mata merahnya yang mampu men-scan keadaan sekitar, menangkap puluhan... Tidak! Tapi seratus pasukan iblis yang sudah menunggunya dan bersiap-siap untuk menangkap Naruto kembali atau mungkin membunuhnya.

Tap.

"Jadi benar kau adalah Naruto Uzumaki?" ucap seorang samurai sebagai pemimpin ratusan pasukan iblis tersebut.

"Souji kah? Tak kusangka aku akan melawan mantan Fuku-Taichou-ku sendiri." Kini suara yang di keluarkan Naruto terdiri dari campuran suaranya dan suara Naruko. "Khukhukhu, tetapi maaf saja. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu ataupun kalian semua! Yang telah menyiksaku. Hahahahah. Aku akan mencabik-cabik daging kalian!, memotong tangan dan kaki kalian!, memenggal kepala kalian!, merobek perut kalian dan memusnahkan kalian semua! Tak peduli kalian siapa! Karena kalian adalah bagian masalalu yang HARUS dimusnahkan!" Naruto tertawa dan berbicara layaknya seorang Psycho yang tak puas hanya dengan membunuh mangsanya.

"Cih, tapi itu hanya dalam mimpimu MONSTER!"

Syuut!

Traank!

Dalam kecepatan kasat mata Souji menebas Naruto, namun tulang yang membentuk cakar di tangan kiri Naruto menangkisnya dengan mudah. Dengan cepat ekor yang terlapisi tulang itu menghantam Souji dan menyebabkannya terpental hingga menghancurkan dinding.

"SERBUUU!"

Perintah langsung telah di kumandangkan dengan itu seratus pasukan iblis menyerang ke depan. Menyerang sosok monster naga yang masih berdiri -dengan empat kaki- santai di kejauhan.

Duaar!

Duaar!

Blaaar!

Tembakan demi tembakan Demonic Power di luncurkan oleh para iblis dalam intensitas yang tak dapat dihitung banyaknya. Ledakan-demi ledakan terjadi membuat asap debu yang cukup tebah. Souji yang telah kembali ke barisan depan, memberi perintah untuk menahan serangan dengan tangannya. Mencoba melihat dampak kerusakan atau mungkin keberhasilan dari serangan tersebut. Walaupun ia tak yakin bahwa serangan itu dapat melukai mantan senpai sekaligus Taichou-nya di [divisi intel].

"Apakah... Hanya ini, kemampuan kalian?" seratus pasukan iblis melebarkan matanya saat mendengar dan melihat sosok Monster yang baru saja di serbu itu dalam kondisi normal, bahkan tidak lecet sedikit'pun.

"A-apa apaan ini...!?"

"M-mustahil!"

"Ba-bahkan dia tidak terluka sama sekali! Dasar Monster!" umpatan dan ucapan menyangkal terlantun dari para pasukan iblis saking syok-nya mereka atas fakta bahwa serangan mereka tak berpengaruh terhadap sang monster.

"Jangan bercanda! Dasar MONSTER KEPARAT!" Salah satu iblis menyerbu maju ke arah Naruto. Walaupun Souji telah menghentikannya tetapi tetap saja iblis tersebut memberontak dan makin dekat dengan Naruto.

"Dasar bodoh!"

Crash!

"Uhuk!" Ekor tulang Naruto menusuk perut iblis tersebut. dalam sekejap mata, Naruto telah berada di hadapan iblis itu dan memamerkan susuna gigi runcingnya. "Dasar bodoh, Sampah sepertimu layak mendapatkan ini" Naruto mencabut ekornya, namun tangan yang berupa cakar dari susunan tulang miliknya, ia arahkan kepada lubang di perut musuh dan detik berikutnya tubuh iblis tersebut terbelah dua di iringi semburan liquid merah khas darah yang membanjiri lantai ruangan. Seluruh iblis menatap jijik dan takut akibat pembunuhan sadis yang terjadi di hadapan mereka. Rasa takut, putus asa, marah, dan benci. Bercampur dan menggentayangi hati dari sembilan puluh sembilan iblis yang manyaksikan kejadian tersebut. Tubuh mereka berguncang hebat, kaki mereka bergetar ketakutan oleh aura kegelapan dahsyat yang terpancar dari tubuh sang monster.

"Ufufufufufu~ Takut'lah!, benci'lah!, dan putus asa'lah. Karena itu akan menjadi tambahan energiku! Ufufufu" setelah mengucapkan itu, Naruto menanggahkan kepalanya dan membuka mulutnya lebar-lebar detik berikutnya sebuah bola energi berwarna hitam pekat berdiameter lima kali bola basket terbentuk dari ketiadaan. Bola itu dikompres hingga terus dan terus mengecil seiring detik berlalu, hingga ukurannya menjadi sebesar bola ping pong namun dengan kepadatan sepuluh kali lipat dari kepadatam normal.

Hap!

Sang Monster menelan bola energi super padat itu hingga kedua pipinya agak mengembung, dan detik berikutnya tembakan Beam super padat ditembakan oleh Naruto menuju para iblis yang ada di hadapannya.

Syuuut!

Blaaaaar!

Bunyi dentuman nyaring terdengar dari kejauhan. Souji Okita, dapat menghindar dari Laser Beam pemusnah itu. Tetapi sayang... saat sang samurai melihat ke belakang seluruh anak buahnya yang tak sempat menghindar, meregang nyawa dan musnah terbawa laju Beam tersebut. Potongan organ tubuh dari para iblis yang musnah berserakan di lantai akibat hanya separuh tubuh mereka yang termakan laju Beam pada lintasan tembaknya.

"BANGSAT! AKU AKAN MEMUSNAHKAN MU, MONSTERRR!"

Dalam kecepatan cahaya sang samurai menyerang Naruto dengan frontal! Kilatan-kilatan cahaya tercipta dalam setiap serangan berkecepatan tinggi yang di kakukan oleh sang guru pedang Kiba Yuuto. Tetapi Naruto dalam mode gilanya dapat menahan setiap serangan Souji dengan mudah walapun ada beberapa serangan sang Samurai yang dapat memotong dan menghancurkan armor tulangnya. "Ufufufufu, kau semakin berkembang eh, Souji? Tetapi apakah kau lupa sebuah fakta yang tak'kan pernah berubah?" masih dalam pertempuran adu kecepatan Naruto mengucapkan itu.

"Apa maksud-"

Crash!

"Uhuk" Souji melebarkan matanya saat baru menyadari sebuah katana hitam menusuk jantungnya dari belakang "D-Dark Controuler?"

"Ufufufu benar! Dalam mode ini aku mampu mengontrol semua pedangku hanya dengan perinta batin! Tetapi kali ini aku tidak akan membahas itu karena ada hal yang lebih penting.!"

Duakh!

Naruto mendorong Souji dengan kuat hingga samurai itu menabrak dinding dan menyisakan retakan laba-laba. "A-apa yang sebenarnya terjadi denganmu Taichou?"

"Ufufufu~ jangan sebut aku dengan panggilan itu lagi Souji! Karena aku muak dengan itu!"

"Te-tetapi bukankah ka-kau memang masih mengemban tugas sebagai Taichou?" Sang samurai bertanya lemah ketika rasa sakit di tubuhnya makin menjadi-jadi.

"Tidak, aku sudah tidak menyandang gelar Taichou lagi! Kau tahu? kenapa, Aku di keluarkan dari divisi intel?" Naruto mencabut Demon slayer dari dada Souji sebelum melanjutkan. "Itu semua karena para tetua BANGSAT! Para BAJINGAN ANGGOTA DARI civilian councile 72 Pilar yang telah menipuku dan menjebakku!"

DEG!

Souji melebarkan matanya karena sebuah fakta yang baru saja otaknya terima. Jadi benar? isu yang tersebar dikalangan Dewan pertahanan itu adalah fakta sesungguhnya dari main gelap para civilian council? Civilian council 72 pilar, adalah sebuah lembaga khusus yang berdiri di atas segalanya. Bahkan seorang Maou sekalipun, tidak akan bisa menggugat gugat keputusan yang telah di tetapkan para dewan tersebut. Civilian Councile terdiri dari 32 tetua clan iblis yang masih eksis sampai sekarang. kecuali 4 clan yang menjadi keluarga seorang Maou yaitu; Gremory, Sitri, Astaroth, dan Gleysia Laboras. karena keempat clan tersebut adalah anggota keluarga dari para Maou masa kini.

"para BAJINGAN, itu telah menipuku! mereka memberiku misi khusus di Kota langit [Agreas], untuk mengembangkan sebuah teknologi, namun saat proyek itu sampai pada tahap akhir aku ditendang oleh mereka dengan cara memfitnahku sebagai penghianat! padahal penghianat yang sebenarnya, adalah mereka sendiri yang telah bekerjasama dengan [OSF]" Kota Langit Agreas adalah sebuah pulau apung peninggalan Maou terdahulu yang terletak di wilayah keluarga Agrares. Pulau itu juga menjadi surga bagi pecinta Rating Game, karena kota langit menjadi satu-satunya kota yang memiliki Doom terbesar termegah di Underworld. "Dan... apakah kau tahu, apa yang akan aku lakukan?"

"Ja-jangan bilang kau ak-"

Crash!

Belum sempat sang Samurai menyelesaikan ucapannya. Ia harus bungkam karena sebuah pedang yang memotong urat hidupnya. "Maaf Souji, tapi kau telah terlalu banyak tahu tentang rencanaku. Maka dari itu kau perlu mati di sini, agar tidak ada lagi yang menghalangi rencanaku."

.

XXXXXXXXXXXXXXX

.

-[[Istana Lucifer, Ibukota Lilith, Underworld.]]-

[Satu Jam Setelah Rating Game Dimulai, Dan Tiga Puluh Menit Setelah Kebangkitan.]

Crash!

Sebuah sayatan tercipta dari ketiadaan, menciptakan sebuah distorsi dimensi sebesar tubuh manusia dewasa. Dari dalam celah dimensional keluar tiga orang yang mengenakan jubah hitam ber-hody, dengan lambang Naga yang memakan buntutnya dan bertuliskan [Awakening Dragon] pada bagian punggung.

"A-apa yang sebenarnya sudah terjadi di sini?" Le Fay, Arthur, dan Kuroka. Membelalakan mata mereka masing-masing, saat direksi pengelihatan mereka melihat kehancuran yang telah terjadi di Istana Lucifer. Padahal mereka baru saja tiba.

Memang Rating Game telah disabotase oleh OSF dan para pasukan Underworld telah di kerahkan secara maksimal, untuk membebaskan para petinggi dari tiap-tiap fraksi yang terperangkap di dalam [Dimension Lost] tetapi tidak mungkin bukan? Kalau pusat keamanan pemerintahan Underworld di kosongkan?

Memikirkan itu dengan otak cerdasnya. Arthur menarik beberapa hipotesa atas kejadian yang saat ini ia lihat dengan mata kepalannya sendiri. Pertama; walaupun para pasukan Underworld telah dikerahkan secara maksimal untuk menekan pasukan OSF dan menerobos [Dimension Lost]... Tetapi tidak mungkin keamanan pusat pemerintahan ditinggalkan hingga memungkinkan para teroris menyerbu Istana Lucifer.

Kedua. Andai saja Hipotesa pertamanya benar. Siapa yang akan menggempur istana Lucifer? Bukankah pasukan inti OSF telah terpusat pada rencana Shalba Belzeebub dan Cruzerey Asmodeus, untuk me-Reverse [Twilight Healing]? Lantas siapa yang memporak-porandakan Istana Lucifer? Hero Faction kah? Tidak... Tidak mungkin hal itu terjadi.

Hanya satu... Ya hanya satu golongan yang mungkin melakukan Invasi ini. Dan yang melakukannya adalah... Golongan paling berbahaya dan misterius di Khaos Brigade setelah Team Vali

Golongan itu adalah...

Flash!

Belum sempat sang Pendragon menuntaskan Hipotesa-nya, ia harus tercengang saat sebuah tembakan Beam berkekuatan dahsyat melaju kencang ke arahnya. Menyadari tidak akan sempat untuk mengelak Arthur mencabut pedang yang berada di punggungnya dengan gerakan kilat. Holy-King Sword Caliburn, memancarkan aura suci secara gila-gilaan hingga pedang perak itu bercahaya terang dalam kegelapan. Satu pertanda bahwa Arthur akan menggunakan kemampuan ke-3 pedang Raja Sucinya yaitu [Seal]

Drrrttttt!

Laser berwarna hitam itu berbenturan dengan ujung lancip Holy-King Sword yang memancarkan aura suci dalam jumlah besar.

[Coullbrande Tecnique : Seal]

Setelah Arthur meneriakan nama tekniknya ujung pedang suci terkuat itu agak terbelah dan detik berikutnya Beam penghancur tersebut terserap, dan tersegel di dalam Holy-King Sword.

"Arthur?" dari balik asap debu akibat ledakan itu terdangar sebuah suara campuran antara pria dan wanita. Arthur menyipitkan matanya heran. Heran karena pemilik suara misterius tersebut mengetahui identitasnya, padahal ia belum sama sekali membuka Hody yang menutupi wajahnya. "Arthur, Le Fay, dan Kuroka. Apakah... itu kalian?"

Rasa heran dari team penyusup [Awakening Dragon] semakin besar saat suara misterius itu makin mendekat. Arthur, Kuroka, dan Le Fay memasang sikap siaga bertarung, takut-takut kalau pemilik suara misterius itu adalah musuh, namun detik berikutnya mereka kembali santai saat dari balik pintu istana muncul sosok berambut kuning yang amat familiar bagi mereka.

"Naruto?"

"Ya, aku Naruto"

"A-apa yang terjadi denganmu?" Tanya Kuroka terkejut. Pasalnya ciri fisik pemuda itu sangat'lah berbeda dengan Naruto yang biasanya. Kini sepasang tanduk berwarna hitam tumbuh di kepalanya. Surai kuning keemasannya bertambah pucat bahkan agak memutih, Tato segel berbentuk bintang di dada kirinya berubah menjadi bentuk tiga lingkaran kecil dengan tiga magatama yang terletak di setiap lingkaran, mata birunya yang dulu menyejukan kini berwarna merah darah dengan pupil vertikal berwarna kuning, dari punggungnya sepasang sayap kegelapan yang dibingkai susunan tulang terentang lebar, dan tangan kirinya terbungkus oleh sarung tangan hitam bercorak api merah, berbentuk tangan naga.

"ceritanya panjang, nanti akan aku ceritakan setelah kita pulang. Apakah kau tahu, keberadaan Ojou-sama?"

"Sekarag Ophis tengah berada di dalam dimensi ciptaan Gogue, untuk mengobservasi tindak tanduk OSF" Jawab Arthur sebagai orang pertama yang berhasil lolos dari rasa syok-nya.

"Kalau begitu, lebih baik sekarang kalian menuju tempat Ojou-sama. Aku takut kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya." Arthur mengangguk setuju, diikuti anggukan Le Fay dan Kuroka. Setelah itu pendekar pedang berpakaian formal tersebut menebas udaha hampa dengan Holy-King Sword dan detik berikutnya sobekan dimensi tercipta sebesar tubuh manusia dewasa.

"Apakah kau tidak ikut dengan kami?" Sebelum masuk ke dalam celah dimensional Kuroka menoleh ke belakang sejenak hanya untuk menatap wajah datar dari sahabatnya. "Maaf, mungkin aku akan menyusul kalian nanti setelah urusanku, di sini selesai." dengan begitu Kuroka memalingkan wajahnya kembali dan menjadi orang terakhir yang masuk ke dalam celah dimensional.

"Keluarlah! Aku bisa merasakan keberadaanmu, Yu-Long. Walaupun kau menyembunikan auramu." ucap Naruto entah pada siapa.

"khukhukhukhu, seperti yang di harapkan dari inkarnasi Shinsekiryuutei dan pemilik Raja kegelapan." tiba-tiba dari dalam tanah muncul sesosok Naga-ular berwarna hijau giok. Naga itu memiliki tubuh ramping dengan panjang lima puluh meter, ekornya berbentuk sirip ikan, dengan empat kaki kecil berkuku tajam layaknya burung elang. Naga itu adalah Yu-Long, satu dari lima raja naga yang masih eksis sampai sekarang dan naga yang menjadi kuda dalam Alkisah [Perjalanan Kebarat].

"Biarku tebak, apakah... 'Sang-pertama' yang memerintahkanmu datang ke sini?"

"Tepat sekali! Sebenarnya aku kesal dengannya Si monyet tua itu... Dengan seenak jidatnya saja dia memberiku perintah. tetapi walaupun begitu dia telah berjanji akan memberiku makanan lezat, ukhukhukhukhu." Naruto sweatdroop Melihat sifat aneh sang Naga-ular.

"Jadi..." Mengepakkan sayap kegelapannya beberapa kali, Naruto terbang di udara untuk mensejajarkan posisinya dengan sang Naga-ular. "Bisakah kita mulai... pertarungannya?"

Sang Naga-ular menatap tajam pemuda di depannya dengan mata giok yang bersinar berbahaya. "Bila itu kemauanmu BOCAH!"

BLAAAARR!

Dentuman hebat memecah udara bergemuruh nyaring, akibat bogem Naruto yang terbalut sarung tangan naga bersarang di moncong Yu-Long. Tetapi tampaknya sang Raja naga sama sekali tidak cidera walaupun mendapat pukulan telak yang dapat meruntuhkan dinding beton sekalipun.

"Giliranku bocah!" Ekor sirip tajam bak pedang milik sang Naga-ular melikuk tajam tepat mengarah ke tubuh Naruto, namun sang inkarnasi Great Red itu dapat menahannya dengan tameng kegelapan yang tercipta dari ketiadaan. Naruto melesat maju tangan kanannya yang menggenggam Demon Slayer ia arahkan ke bawah, mencoba untuk memotong salah satu kaki sang Naga-ular. Tapi sayang seranga itu dapat dengan mudah dihindari sang Naga giok karena pertempuran di udara adalah teritorial khusus milik Yu-Long, hingga ia bisa bergerak bebas sesuka hatinya.

"Khukhukhukhu. Rasakan ini Bocah!" Yu-Long membuka mulutnya lebar-lebar dalam satu kali tarikan nafas, sang Naga-ular menyemburkan api merah menyala dengan intensitas besar berjangkauan luas. Naruto membelalakan mata saat serangan kejut itu hanya berjarak beberapa meter dari dirinya. 'Naruko, bagaimana ini?'

[Ufufufufu~ tenanglah Naruto-kun. Serahkan semua padaku]

Sepasang simbol magatama timbul di kening Naruto. Pertanda bahwa Naruko telah mengambil alih sementara tubuh sang inang. Naruto memalingkan tubuhnya, dalam hentakan kuat ia melesat secepat kilat menjauhi istana Lucifer dan semburan api yang dapat melelehkannya. Akan tetapi alih-alih memudar termakan jarak api merah menyala hasil semburan Yu-long malah merubah bentuknya menjadi pilar-pilar api dan terus mengepung Naruto layaknya misil roket.

Duaaaar

Blaaarrr!

Ledakan dahsyat tercipta di udara saat pilar api itu berbenturan dengan tubuh Naruto. Naruto melesat jatuh, menembus rimbunya hutan, dan menghantam kerasnya tanah.

"Uhuk" Pemuda 'malang' itu memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Darknes Power dari tato segelnya menyelimuti sekujur tubuh yang mengalami luka bakar parah. Mencoba untuk merangsang regenerasi sel-sel mati pada tubuhnya. "Hahahahaha. Apa cuma ini, kekuatan pemilik Raja kegelapan yang mampu memporak-porandakan istana Lucifer? Lucu sekali! Hahahaha" Yu-Long tertawa 'bungah' di udara karena serangannya mampu pelumpuhkan sang lawan.

"Uhuk... Ja-jangan bercanda! Kau terlalu meremehkanku Yu-Long!" Disela rasa sakitnya Naruto membalas hinaan sang Naga-ular, dengan maksud untuk meperluas jeda serangan musuh selanjutnya dan untuk menyiapkan serangan balasan. Memejamkan mata dan segera membukanya pemuda itu tiba-tiba berada di sebuah kuil yang familiar baginya. Ya kuil ini adalah kuil peninggalan nenek moyang Clan-nya yaitu kuil Nakano.

[Oi, Naruto-kun masuklah kedalam [Makkura Mode] agar kau bisa menyelesaikan ini dengan cepat!]

Naruto mengalihkan wajahnya ke depan detik berikutnya ia memasang tampang Sweatdroop akut dan menahan darah segar agar tidak menetes dari hidungnya, saat menemukan Naruko yang sedang berbaring dengan gaya seksi di atas sebuah kasur yang kelihatan sangat nyaman dan jangan lupa dengan tubuh polos seksi nan menggoda milik Naruko yang dapat membuatmu (Fap-Fap). 'Makhluk ini... Bisa tidak sih dia serius!?' batin sang Namikaze sweatdroop sekaligus bergairah.

"Urusai Naruko! mana mungkin aku bisa masuk ke dalam [Makkura Mode] lagi. Apa kau ingin aku mati? Dan yang terpenting kenapa kau telanjang!"

[Gezz... Dasar Baaaka! Aku tidak mungkin memerintahkan mu untuk masuk dalam mode itu kalau itu akan mencelakakan mu! Asal kau tahu saja. Dengan kau yang telah menerimaku, sekarang kau mampu menggunakan mode itu tiga kali berturut-turut. Dan ah... Kenapa aku telanjang karena aku ingin saja, apakah kau bergairah, melihat tubuh seksiku? ] jelas sang makhluk cantik penjelmaan dari Makkura dengan ekpresi sensual yang... Aduhay.

"Woah... Benarkah itu Naruko?" jawab Naruto dengan mata berbinar-binar layaknya seorang anak kecil yang mendapat hadiah dari orang tuanya.

[Pffttt... Tampang bodoh apa itu? Ufufufu sudah lama aku tidak melihat wajah bodohmu itu. Ufufufufu~]

"Urusai! Ke-kenapa sekarang kau jadi cerewet sih, Naruko!" bentak Naruto dengan wajah memerah menahan malu.

[Baiklah ayo kita serius. tetapi ketika kau sudah menggunakannya tiga kali tubuhmu akan lumpuh selama satu bulan total. Jadi apakah kau mau menanggung konsekuensi-nya?] Naruto menundukan kepalanya hingga Raut wajah sang Namikaze muda itu tertutup bayangan poni rambut kuning pucatnya.

'Anak terkutuk! Pantas saja ketua clan menyegel Makkura dalam dirimu!'

'Lari Naruto! Tou-chan percayakan kelangsungan Clan, padamu. Selamatkan nyawamu walaupun hanya kau seorang yang tersisa."

'Maaf Naruto, tapi aku tidak bisa berkata tidak pada pria itu karena aku... Aku mencintainya. Sampai jumpa~'

'Cih, dasar naif! Kau fikir kami tetua 32 Clan iblis berdarah murni akan membiarkan makhluk rendahan sepertimu, terlalu berpengaruh di Underworld? Jangan bercanda!' Kilatan-kilatan memori menyakitkan berkelebatan dalam benak Naruto, dan itu membuat hatinya perih. Rasa sakit atas hinaan semasa kecil, rasa putus asa kehilangan kedua orang tua dan Clan, rasa kecewa saat cinta bertepuk sebelah tangan, dan rasa perih atas penghianatan. Seakan-akan semua kesalahan berada di pundaknya, dan seolah-olah seluruh kebencian dunia tertuju pada dirinya seorang, hingga tidak ada lagi tempat 'pulang' untuknya di dunia ini, bahkan tidak ada secuil harapan'pun untuk sekedar membaringkan lelah di hati.

'Bukan... Bukan aku yang salah tetapi dunia ini yang salah! Aku... Aku akan merubah dunia yang keji ini! Agar tak ada lagi seorang'pun yang merasakan, apa itu yang disebut rasa sakit!' Naruko yang masih setia menunggu jawaban sang inang menyeringai senang, saat melihat sebuah seringai bengis terpatri di bibir tipis majikannya.

"Jangan'kan lumpuh selama satu bulan, menjual jiwaku kepada setan'pun aku bersedia, jika itu dapat membuat rencanaku berhasil." Mendengar jawaban Naruto, seringai sadis di bibir sang gadis cantik perwujudan [Makkur] itu semakin menjadi-jadi. Kaki jenjang, putih nan mulusnya ia langkahkan untuk mendekati sang inang dan detik berikutnya Naruko memeluk erat tubuh kembarannya sebelum berbisik.

[Ralat Naruto-kun... bukan rencanamu tetapi rencana kita! Karena bagaimana'pun aku adalah seseorang yang paling mengerti dirimu.]

"Kau benar... Kau memang benar, Naruko. jadi... ayo kita lantunkan..."

["Syair kebangkitan!"]

Ucap Naruto dan Naruko bersamaan. Dengan begitu pertanda bahwa sang Naga telah benar-benar termakan oleh kebencian.

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

To Be Continue...

Author Note's : Halo... Berjumpa lagi dengan saya Author paling autis dan cantik(?) ini. Hn, mungkin tidak banyak yang akan saya sampaikan kali ini. Sebenarnya ini hanya chapter permulaan final chapter Arc II. Saya hanya akan mengatakan : menurut hasil Review kemarin saya telah memutuskan untuk mengambil Opsi kedua (10K+/2 minggu) karena banyak para Reader yang memilih opsi tersebut.

Bagaimana? Apakah permainan politik di sini pas? Atau gx jelas? Tenang saja semua akan terjawab di chapter depan huehuehuehue, jadi... Tunggu saja kelanjutannya dua minggu lagi. Hahahaha tetapi mungkin bisa lebih CEPAT andai saja saya memiliki Mood yang bagus! Dalam menulis. Nah... Bila ada kesalahan di chapter ini, tolong beritahu saya. Atau ada yang mau usul? Ah intinya lemparkan saja ke dalam kotak Review! :D

Review? Come to Onii-chan!

Akhir kata; Terima kasih atas partisipasi para Author-sama dan para Reader-sama ataupun para Silent Reader-sama, karena telah mendukung fic gaje ini. Tanpa kalian... Fic ini hanyalah sampah kering yang layak dibakar.

Issue for next chapter : Final Chapter, Arc II - Showdown : Judggernaut Drive VS Makkura Mode Over Drive (Kebencian ini hanya untukmu Ruin Princess.)

SALAM ANTI-MAINSTREAM!