Kau yang seharunya telah tiada sejak zaman para pengguna Chakra. Kau eksistensi yang seharusnya belum ada pada masa ini dan tidak menampakan wujudmu sampai hari penghakiman.
Karena kau... Semua kacau! Karena keberadaanmu... Gesekan itu terjadi. Karena kau... 7 dimensi dan alur waktu menjadi kacau.
Sejak dulu... Tuhan menciptakan cinta dan menjadikannya sebagai anugrah untuk makhluknya. Seperti cinta Adam kepada Hawa dan begitu'pun sebaliknya. Mereka berdua adalah manusia pertama yang dianugrahi cinta. dari dua orang itulah cinta menyebar menjadi 'rahmat bagi seluruh alam semesta' agar para penghuni bumi dapat saling mengasihi,
Tetapi...
... Pada zaman ini hanya karena cinta... Api perang mulai menyala kembali, bahkan dengan kobaran yang semakin dahsyat.
mengapa semua bisa seperti ini?
Semua hal itu terjadi... Karna cinta adalah madu yang dapat menjadi racun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[The DxD]
Disclimer's : Masashi Kishimoto and Ichie Ishibumi
Crossover : Naruto and High School DxD
Rate : M (For story and leangue. not Lemon)
Genres : Adventure, Fantasy, Sci-Fi, Supernatural, Hurt/Comfort, Angst, ETC.
Pairing : "Penjahat tidak membutuhkan cinta" meminjam perkataan The Dark Side; Yami Naruto, dari fic TBT(The Best Team) by : Jendral(Ecchi) Dony Ren/Icha Icha Ren..
Warning : Death Char, Dark Side(meybe), Universal, Semi-OOC, No OC, Typo(s), Miss Typo(s), Adult theme, Violence, AU, Twist Plot (Plot Maju, Mundur, Naik, Turun, dan Berliku).
.
.
.
.
.
.
.
ARC : III - Akar Tujuh, dan Waktu. The Last Day.
Chapter 15 - Chakra, Juubi, Naruko, dan Otsutsuki? (Gesekan)
.
.
.
.
XXXXXX Scean Break XXXXXX
.
.
.
.
.
.
.
Kelopak mata itu terbuka perlahan, menampakan iris coklat dengan tatapan sayu. Merasa direksi pandangan yang masih buram, pemilik iris sewarna daun kering itu mengerjapkan matanya kembali beberapa kali, baru'lah iris coklat itu mendaptkan fokus.
Putih... Ya hanya warna putih yang dapat terlihat oleh iris sewarna daun kering tersebut, dan aroma menyengat obat yang begitu kuat sampai-sampai, sang pemilik surai coklat itu terbangun karenanya.
'ini rumah sakit?' Begitulah yang ada dalam benak sang Sekiryuutei. Walaupun belum begitu yakin tapi... Warna putih yang mendominasi ruangan ini dan bau menyengat khas obat adalah bukti yang cukup, untuknya berfikir kalau ini adalah rumah sakit. "Ukh... Tubuhku terasa sakit sekali"
Remas!
'empuk dan lembut... Apa ini?'
Remas!
"Haah~ ah~"
Remas!
"Iyaaa~ nhhhh~"
'wow su-suara yang menggoda dan menggairahkan ta-tapi tunggu!' Ise yang bingung dan curiga mencoba melihat kebawah, ke arah sebuah objek kenyal yang telah memanjakan tangannya. Wajah cantik yang tertidur pulas, surai merah semerah darar, dengan dengkuran halus terlelap nyeyak di tepian ranjang sembari Oppai sang gadis merah yang menindihi tangannya. 'Ri-rias?' Ise terkejut dan langsung berniat untuk membangunkan sang Buchou, namun saat Hyodou muda itu melihat wajah King-nya. Ia membatalkan niatnya itu karena terlihat jelas pada wajah sang gadis crimson, rasa lelah benar-benar kentara dipanjang lekuk wajah cantiknya.
"Kamu terlihat sangat cantik, jika sedang tertidur." Ise memandang sayu wajah tertidur Rias. 'Oh... Kami-sama... Aww!' Ise lupa bahwa dirinya adalah iblis. '...Aku baru sadar bahwa ada makhluk ciptaanMU yang seindah ini.' dalam hati yang kagum Ise bergumam. Namun berselang beberapa detik raut wajah sang Sekiryuutei mengeras. Ia ingat dengan kejadian waktu itu, dimana pemuda yang ia anggap sebagai sahabat baiknya yang telah tiada, kembali hidup dan berdiri di hadapanya.
Jujur saja... Setengah hati Ise sangat bahagia saat tahu Naruto masih hidup, namun setengah hatinya lagi merasa muak dan terkhianati oleh Naruto, karena pemuda itu telah menghianati dirinya dan teman-temanya. Ok, mungkin kalau saja Naruto menghianatinya seorang diri, Ise masih bisa mentolelirnya tapi... Si brengsek! Itu telah menghianati teman-temanya sendiri, bahkan... BAHKAN! Berniat membunuh King-nya sendiri.
Ise benar-benar muak dengan si brengsek Naruto, sampai saat ini'pun dirinya masih mengingat apa yang diucapkan Naruto dan mungkin ucapan itu akan ia ingat untuk selama-lamanya.
"umm... Ise?" suara cicitan khas bangun tidur, menarik Ise dari alam fikiranya. Mata coklat sang Sekiryuutei melunak seketika, saat mengalihan direksi pandanganya menuju wajah sang Hairres Gremory. "Buchou."
Greep!
"..."
"..."
"Hikz... Yo-yokata.. Hikz, yokata~ kamu telah sadar."
Ise mematung, saat tubuh mungil sang Buchou memeluknya erat. Diiringi isakan tangis sesenggukan dari gadis yang memeluknya. Tanpa sadar Ise membalas pelukan itu dan menenggelamkan wajah Gadis tersebut ke dalam dada bidangnya. "Tenanglah Rias, tenanglah... Aku ada di sini, aku tidak akan pergi lagi, aku berjanji... Mulai saat ini sampai seturusnya, tidak akan lagi membutmu khawatir, dan tidak akan pernah meninggalkanmu untuk selamanya." tangan kanan Hyoudou muda itu, ia letakan di puncak kepala merah sang gadis, sembari mengelusnya penuh sayang.
"A-arigatou Ise" dan moment mengharukan itu berlangsung cukup lama, sampai kedua muda-mudi tersebut tidak menyadari, ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka berdua, dengan pandangan haru.
"Akeno-san, aku ingin bicara denganmu sebentar." gadis masokist itu mengalihkan wajahnya yang sedaritadi melihat pemandangan mellow dalam kamar, ke kiri. Mata violet indahnya menangkap wajah seorang pria tampan semi-cantik yang tadi berbicara padanya. "Yuuto-kun? Ada apa?"
Kiba sang Cassanova Kuoh Akademi, melirik Akeno sejenak sebelum berjalan keluar dari lorong rumah sakit Underworld, tentunya dengan sedikit isyarat mata yang ia berikan kepada sanga gadis Miko sebelum kepergiaanya.
Selang sepersekian detik... Gadis Masokist sekaligur Hime Miko bernama Himeijima Akeno melangkahkan kaki mulus, putih nan jenjangnya, untuk mengikuti jejak sang Knight Gremory.
.
.
.
.
XXXXXX Scean Break XXXXXX
.
.
.
.
.
"Anak terkutuk! Pantas saja ketua clan menyegel Makkura dalam dirimu!"
"Lari Naruto! Tou-chan percayakan kelangsungan Clan, padamu. Selamatkan nyawamu walaupun hanya kau seorang yang tersisa."
"Maaf Naruto, tapi aku tidak bisa berkata tidak pada pria itu karena aku... Mencintainya. Sampai jumpa~"
"Cih, dasar naif! Kau fikir kami tetua 32 Clan iblis berdarah murni akan membiarkan makhluk rendahan sepertimu, terlalu berpengaruh di Underworld? Jangan bercanda!'
"Hahahahaha. Kau tahu? Seharusnya kematianlah yang cukup untuk menebus semua kesalahan atas penghianatanmu! Cih, tapi mungkin Lucifer-sama sengaja mengirimu ke sini agar kau mati dengan perlahan dalam kehinaan! Hahaha~"
"Naruto... APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN HAH! Sesakit itukah rasa yang kau terima sampai-sampai KAU... KAU BERNIAT MEMBUNUH BUCHOU?!"
"Apa kau ingin terus seperti ini? Apa kau ingin selalu menjadi target manipulas? Apa kau ingin menanggung kebencian seluruh dunia yang tertuju padamu? Apa kau akan selalu menjadi SAMPAH! Yang terus diinjak-injak?! Jawab aku NARUTOOO!"
Arggggggg!
Bayang-bayang menyakitkan itu terus berselingan dalam fikiran. Dengan durasi yang semakin pendek pada setiap kemunculannya akibat kecepatan fase demi-fase yang melebihi kecepatan cahaya. Namun... Walaupun potongan-potongan memori itu melaju kencang, otak pemuda bernama Naruto Uzumaki itu tetap bisa mengingatnya dengan kuat! Bahkan menyerap kenangan itu ke dalam lubuk hati yang paling dalam.
Akibatnya rasa benci dan kegelapan hati yang sejak dulu telah disegel rapat-rapat itu, kini telah bocor dan mengalir deras melalui pembulu darah dan menyeber ke sekujur tubuh Naruto.
Tes...
Tes...
Tes...
Sejauh mata memandang hanya ada kegelapan yang dapat ditemui oleh iris biru itu. Gemercik tetesan air yang jatuh dari langit-langit adalah satu-satunya sumber suara yang dapat didengar oleh telinga pemuda Uzumaki itu. Sekarang... Pemuda Uzumaki itu tidak tahu dimana tempat yang kini dipijaki kakinya.
Naruto berusaha untuk berfikir keras, namun tidak seperti yang diharapkan... Walaupun otak cerdas itu mencoba merangkai memori-demi memory yang ada di kepalanya tetap saja... Semua usahanya itu berakhir dengan sia-sia.
Hal yang terakhir kali diingat oleh pemuda itu adalah rentetan kenangan menyakitkan, yang terus berulang-ulang dalam otaknya dan mengakibatkan kepalanya terasa ingin pecah. "Kuso!" Tangan berwarna tan itu menjambak keras rambut kuning-keputihan miliknya.
Naruto frustasi!
Serius dia benar-benar frustasi dengan semua ini. Apakah dirinya akan menjadi gila? Oh ayolah... Yang benar saja! Seorang Naruto Uzumaki menjadi gila karena kegelapan? Demi kolor Great Red! Itu tidak akan pernah terjadi, dan itu tidaklah lucu!
"Naruto-kun" nada merdu dari suara lembut yang amat familiar itu, menarik paksa Naruto dari fikiran nistanya. Iris biru yang sejak tadi tidak dapat melihat apa-apa, kini menangkap sesosok objek di hadapanya.
"Ka-kaa-san?" Rambut merah indah itu amatlah familiar, wajah oval nan cantik itu sangatlah menyejukan, iris merah khas klan Arashikage itu menyimpan sebuah kerinduan yang mendalam. Naruto memandang sosok wanita yang jauh di depannya penuh rindu... Sampai-sampai tanpa pemuda itu sadari liquid bening mengalir deras dari matanya, membingkai wajah dengan tiga pasang guratan halus yang ia miliki.
"Kaa-san!"
Naruto berlari sekuat tenaga dengan kedua tangan yang direntangkannya, mencoba untuk menggapai sosok wanita yang ia sebut Kaa-san.
"Kaa-san!"
Semakin kencang pemuda itu berlari tapi jarak dirinya dan wanita itu tidaklah kunjung menipis.
"KAA-SAN"
Air mata mengalir deras dari blue sapphire itu mengiringi setiap langkah kakinya untuk meraih dan memeluk sosok sang ibunda tercinta. Namun sosok wanita itu mulai memudar dan menjauh ke dalam kegelapan dengan senyum tulus yang terpatri wajahnya.
"KAA-SAN... Jangan tinggalkan Naru lagi!"
Brukh!
Naruto terjatuh, tanpa bisa menggapai sosok ibunda tercinta yang telah pergi ditelan kegelapan. Air mata mengalir lebih deras dari sebelumnya menghiasi wajah murung sang pemuda. Rasa sakit itu kembali terulang...
Rasa sakit atas kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.
Andai waktu bisa diputar ulang... Naruto pasti akan menjadi lebih kuat untuk menghentikan penyerangan terhadap klannya. Andai ia bisa kembali kemasa lalu... Pasti dirinya akan bisa melindungi Ayah dan Ibunya dari para makhluk supernatural yang telah merenggut kebahagiaannya.
Dan andai saja ia memiliki kekuatan untuk memutar balikan waktu... Ia akan menghentikan Great War dengan cara APA'PUN! Agar cikal bakal dari semua kesedihan dunia ini, hancur sebelum semua terjadi.
"Great War... Ya itu memang benar! Semua dimulai dari perang itu." Naruto bangkit, ekspresi wajahnya mulai menggelap dengan poni rambut yang menutupi sepasang iris birunya. "Great War... Ya ya ya... Memang semua ini dimulai dari hal itu"
"Hahahahahahahaha!" Entah mengapa suara tawa yang dikeluarkan oleh pemuda itu sangat menakutkan ditambah dengan tempat gelap itu yang tiba-tiba berubah menjadi sebuah dataran luas yang dipenuhi oleh sambaran petir.
"Aku tahu... Ya sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan." Tiba-tiba aura kegelapan dan merah pekat menguar dari dalam tubuh pemuda itu. Kedua Aura tersebut terus dan terus mengalir bagaikan sebuh air sungai yang tak ada habisnya.
Grooaarrrr!
Dari gumpalan raksasa aura kegelapan dan merah itu terdengar suara auman yang sangat keras hingga terjadi angin badai akibat auman itu.
"Hahahaha ini memang takdirku... Ya ini memang takdirku seperti yang di ucapkan oleh malaikat waktu itu. Bahwa aku adalah..." sepasang sayap raksasa berwarna merah membentang luas, sepuluh ekor hitam berbentuk sabit itu melambai-lambai sesuka hati. Satu mata besar berbentuk Rinnegan spesial menyala menakutkan dalam siluet sebuah makhluk raksasa yang berdiri dengan empat kaki dan dua sayap yang membentang gagah.
"... Sang Eksekutor"
.
.
.
.
Ceklek...
Seorang gadis bertubuh loli membuka pintu kamar mewah bernuasa dark blue itu, mata birunya menerawang ke depan mengamati sesosok pria yang terbaring lemar di kasur king size sewarna gading. Tanpa ragu dan malu gadis imut itu melangkah maju mendekati kasur tersebut.
Sesampainya di pinggir ranjang tempat pria itu berbaring, gadis pemilik rambut kuning cerah yang selalu tertutup topi penyihir itu menaruh nampan yang berisi air dan handuk di meja. Iris biru gelap gadis itu menatap sayu wajah polos berhiaskan tiga pasang guratan kembar di pipi pria yang tengah tertidur pulas tersebut. Dengan gerakan lembut... Tangan seputih susu milik gadis loli bernama Le Fay itu membelai penuh kasih sayang rambut pria yang masih berbaring tersebut.
"Halo Naruto Onii-sama~ Bagaimana kabarmu?" gadis itu menyapa walaupun tahu bahwa, pemuda pirang bernama Naruto itu tidak akan menjawabnya. "Apa Onii-sama tahu? Onii-sama telah koma selama satu minggu. " Le Fay tersenyum sedih sembari mengelap wajah Naruto dengan handuk basah yang telah ia peras sebelumnya.
"Umm... Onii-sama, kapan kamu akan siuman? Andai onii-sama tahu... Le Fay dan yang lain sangat merindukanmu." Masih setia gadis keturunan Pendragon itu kembali mengelus rambut Naruto sepenuh hati.
"Le Fay sangat menyayangi Onii-sama..." Setetes liquid bening jatuh dari pelupuk mata gadis cantik itu. "Jadi cepatlah siuman! Le fay rindu dengan senyuman Oni-sama. Le fay ingin berlatih lagi dengan Onii-sama." dan berubah menjadi deras. Air mata kesedihan dari Le Fay Pendragon benar-benar telah tumpah. Rasa rindunya kepada pria yang masih belum siuman itu begitu tebal.
Ya... Le Fay mengakui itu rindunya kepada Naruto begitu tebal! Walaupun pria yang ia sebut Onii-sama itu bukanlah kakak kandungnya, tetapi entah mengapa hatinya sangat merindukan senyum menyejukkan milik Naruto
"Aku ingin Onii-sama mencubit pipiku dan mengacak-acak rambutku lagi, seperti dulu." dalam tangisanya Le Fay mendekap erat tubuh Naruto... Dirinya fikir mungkin dengan memeluk pemuda itu rindu dalam hatinya dapat sedikit terobati.
Suasana yang menyentuh itu membuat Le Fay terbawa dalam dunia penuh kerinduan sampai dirinya tak menyadari bahwa jari tangan pemuda bernama Naruto itu sedikit bergerak.
.
.
.
.
.
XXXXXX Scean Break XXXXXX
.
.
.
.
.
Ombak kuat menerpa pantai menyapu butiran-butiran pasir, seraya membawanya kembali ke laut. Angin kencang bertiup kuat menggoyangkan pohon-pohon kelapa hingga ada beberapa yang tumbang. Langit siang yang seharusnya cerah kini di penuhi awan gelap yang menyambarkan petir dan halilintar. Tapi... Ada sesuatu yang aneh! Seharusnya pada cuaca seburuk ini udara terasa sangat dingin namun sekarang, udara di tempat itu malah terasa sangat lembab.
Di tempat itu seperti ada sebuah gesekan energi yang menyebabkan terjadinya kelembaban udara, dan badai yang memang seharusnya tidak terjadi, karena sekarang bukanlah musih penghujan.
Masih di area pantai tersebut, tepatnya di tempat yang memiliki kelembaban dan badai yang paling tinggi. Percikan-percikan listrik muncul dengan tiba-tiba. Yang mulanya hanya percikan listrik kecil lama-kelamaan membesar disetiap detiknya. Listrik itu terus dan terus membesar membentuk sebuah lingkaran listrik raksasa yang terkonsentrasi.
Bztt... Bzztttt... Bzttttt~
Blaaaar!
Tanpa tanda-tanda yang jelas, dari langit melesat turun, dalam kecepatan cahaya petir yang menyambar lingkaran listrik terkonsentrasi tersebut. Ledakan hebat menggelegar memekikan telinga, menghancurkan tanah dan menciptakan kawah pada pantai yang lumayan besar.
Asap debu kecoklatan berterbangan ke sana-sini, tertiup oleh angin kencang yang kini mulai melemah. Setelah asap debu tersebut mulai mereda, di pusat kawah itu sudah tidak ada lagi lingkaran listrik. Melainkan hanya ada tiga orang yang berdiri tegak dengan jubah biru tua yang menutupi seluruh tubuh tiga orang tersebut. Hanya bentuk topeng yang membedakan kelima sosok itu.
"Eye patch... Apakah benar ini tempatnya?" dari suaranya dapat dipastikan kalau orang yang menggunakan topeng naga itu adalah pria.
"Hn, benar ini adalah tempat orang itu berada." jawab pria yang menggunakan topeng tak berwajah hanya saja memiliki satu lubang pada mata kirinya.
"Skull..."
"Ha'i... Dragon." suara lembut nan feminim terlantun merdu dari wanita bertopeng tengkorak yang men'iya'kan perintah dari pria bernama Dragon.
Gadis itu melangkahkan kakinya ke depan, lenganya ia bawa sampai setinggi dada. Dengan sedikit mantra aneh yang terlantun dari bibirnya... Tiba-tiba sebuah lingkaran sihir tercipta di telapak tangan gadis itu. "Aktif!"
Bzttttt!
Lingkaran sihir itu dengan cepat membesar dan terus membesar hingga menyelubungi tempat tersebut hanya dalam hitungan detik. "Pulau ini nol kehidupan Dragon."
"Bagus! Kalau begitu ayo kita bermalam di sini, dan menyusun strategi." tangan kiri yang digenggam pria bernama Dragon itu memancarkan aura hijau lemah saat sang empu mengangkatnya tinggi-tinggi. "Karena besok kita akan meng'eliminasi, target utama!"
[Boost!]
.
.
.
.
.
XXXXXX Scean Break XXXXXX
.
.
.
.
.
.Angin senja berhembus agak kencang membuat surai emas bergaya twin tail itu melambai-lambai anggun mengikuti arah hembusan angin. Mata biru cerah milik sang gadis menatap kosong lurus ke depan, mengamati sang mentari yang beberapa saat lagi akan tergantikan oleh sang rembulan. Gadis bernama Naruko itu tak tahu apa yang sebenarnya ia fikirkan, Sampai-sampai dirinya yang notabene adalah perwujudan dari [Makkura] keluar dari tubuh sang inang yang kini masih belum sadarkan diri, sejak deklarasi perang satu minggu yang lalu.
"Makkura." Naruko tetap diam tak berniat menanggapi sebuah suara datar yang tiba-tiba ia dengar dari arah belakang. "Kenapa kau keluar dari tubuh Naruto?" Gadis itu membalikan tubuhnya santai, kedua lengannya ia bawa ke atas dan dilipatkannya di bawah dada. "Itu bukan urusanmu, Ophis."
Gadis mungil bernama Ophis itu berjalan ke depan, untuk mensejajarkan posisi tubuh mungilnya dengan tubuh 'berisi' milik Naruko. Safir kusam itu bertemu. dengan violet datar tak beremosi, tetapi andai saja ada makhluk yang melintasi area itu pasti mereka dapat merasakan aura dominasi yang menguar dari kedua tubuh gadis yang masih bertukar pandang tersebut. "Bukan urusanku? Jangan bercanda Naruko... Aku adalah Ga_"
"Gadis apa hah? Apa kau fikir aku bodoh dan tidak mengetahui apa tujuanmu yang sebenarnya? Jangan bodoh, Ophis! Walaupun kau adalah satu dari dua Dewa Naga yang tertulis dalam Alkitab. Aku tidak akan membiarkan tujuanmu terlaksana!"
"Cih, dasar gadis bodoh. Kalau begitu, Ayo... Kita buktikan siapa yang lebih pantas bersandang dengan Naruto..." Dragon Power meledak dahsyat dari tubuh Ophis, meremukan tanah dan batu yang menjadi pijakan sang Ourobor Dragon secara kontan. "Lagi pula aku juga ingin tahu sampai dimana kekuatanmu... Otsutsuki Naruko!" Gadis bernama lengkap Otsutsuki Naruko itu melompat ke belakang untuk mengambil jarak aman dari Dragon Power yang berada di sekitar tubuh Ophis.
"Baiklah kalau itu kemauan mu, Ophis." Seringai bengis terpatri di bibir gadis pirang itu, dan detik berikutnya mata biru indah milik Naruko berputar kencang, merubah bentuk dan warnanya menjadi [Mangekyou Sharingan : Cakutou Tomoe] diiringi aura emas bak api yang menyelimuti tubuhnya dan delapan bola hitam [Godou Dama] yang melayang bebas di belakang tubuh sang Makkura.
"Senjutsu : Rikudou Sennin. Bukankah ini mode paling rendah yang kau milik? Apakah kau mencoba menghinaku Naruko?" Naruto menyeringai senang, dua dari delapan Godou Dama melayang ke depan dan merubah bentuknya menjadi sebuah pedang besar berbentuk DNA. "Maaf saja Ophis. Tapi dengan Nonoboku no Tsurugi dan Sage of Six Path mode, aku bisa dengan mudah mengalahkanmu."
"Hahahahaha, kau terlalu meremehkanku Naruko! Pantas saja Sang-Ayah mengatakan kalau kau adalah simbol dari kearoganan dan kebencian" tukas Ophis tak kalah sengit.
"Ufufufu jadi kau masih ingat yang Sang-Ayah katakan? Ironi... Ironi. Bahkan jika kau dan aku bertempur dengan kekuatan maksimal, niscaya tujuh dimensi akan berguncang dan langit'pun akan runtuh." Ophis tersenyum masam menanggapi perkataan Naruko. Mungkin ini memang dibutuhkan agar gadis di hadapannya sadar diri dan kembali dalam jalan yang telah di tentukan.
"Mari kita mulai"
BLAAAAAAAAAAAARRRR!
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue...
A/N: Halo Minna-san~ ini El... Wah cukup lama ya kita tak jumpa? #dijejekreaders. Ok maaf sebelumnya karena baru bisa update. Sejujurnya saya ingin sekali mengupdate fic ini dari kemarin-kemarin, tapi karena kesibukan Real World yang membuat saya sangat sangat dibuat kewalah... jadinya ya gini deh hahaha.
Ok mungkin kalian heran kenapa fic ini berganti judul dari The Devil Ninja Shadow. Menjadi The DxD. Tapi yakinlah ini bukan karena saya tidak konsisten tetapi karena judul asli fic ini adalah The DxD sejak pertama saya membuatnya dan jangan heran ya. Kalau kedepannya plot pada fic ini melenceng jauh dari dugaan kalian semua hahahaha sepertinya saya ketularan Ishida Sui! Mangaka dari Tokyo Ghoul dan Tokyo Ghoul : re. Mangaka yang suka misteri dan tukang ngetroll :v
Ok untuk para reviewers dan yang PM, maaf saya belum membalasnya tapi saya sudah membacanya ko ^_^ dan mulai dari chapter ini... Saya akan membalas semua PM Dan Review yang kalian berikan jadi? Jangan sungkan untuk mererivew! :v
Lastly... Review? Come to Onii-chan!
Salam Anti-Mainstream!
