Password System Successfully Enabled.
Welcome To Arashikage Clan Labs.
Bezzzttt!
Suara mekanik bergema di ikuti bergesernya pintu baja yang memisahkan antara ruangan tersembunyi dengan koridor bawah tanah di aparterment Kiba yuuto. Akeno dan Kiba yang sebelumnya berada di rumah sakit Underworld kini telah berada di Aparterment Kiba.
Sebenarnya Kiba mengajak Akeno bukan tanpa alasan karena memang ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Hime Miko tersebut.
"Akeno-san." Akeno menoleh, raut wajah Kohai-nya itu terlihat agak pucat.
"Ada apa Yuuto-kun?"
"Sebenarnya aku hanya ingin memastikan, apakah kau masih bisa menggunakan ilmu penyegelan Hime Miko klan Himeijima?" Akeno membawa jari telunjuknya ke atas dan menaruhnya pada salah satu pipinya, membuat pose berfikir sejenak.
"Rasanya aku masih bisa. Lagi pula aku juga masih mengingat formula Hand Seal untuk menggunakan KI."
"Ah bagus kalau begitu. Jadi aku bisa memintaimu tolong untuk menyegel gerbang itu." Tanpa sadar keduanya telah berdiri di depan sebuah gerbang besar. Gerbang itu berbentuk seperti gerbang pada umumnya hanya saja ukiran-ukiran aneh yang terpahat pada gerbang itu nampak memancarkan aura mistis.
Pada bagian kiri terukir simbol bulan sabit, sedangkan bagian kanan dari gerbang itu terukir simbol matahari berpijar.
"Tunggu dulu bukanya tadi kita berada di lab Naruto? Kenapa tiba-tiba kita berada disini?"
Kiba menghela nafas sejenak. Nampaknya Akeno tidak menyadari bahwa pintu masuk lab tadi adalah pintu masuk antar dimensi yang saling terhubung dan dapat berubah-ubah jika Kiba menekan tombol Switch perpindahan. "Hehe maafkan aku yang lupa memberitahumu, tadi sebelum masuk aku mengubah fungsi pintu lab menjadi portal dimensi."
Akeno mengangguk, walaupun sebenarnya ia tidak terlalu paham dengan penjelasan Kiba. Untuk sekarang Akeno harus mengabaikan keingintahuanya tentang portal dimensi apa tadi? Karena ia lebih tertarik dengan sesuatu yang tersembunyi di balik gerbang kuno di hadapanya. "Wakatta. tapi sebelum aku menyegel gerbang itu bisakah kau memberitahuku apa yang tersembunyi di balik gerbang itu?"
Kiba menganggu, ia membuat lingkaran sihir khas Gremory di telapak tanganya, kemudian dengan dorongan kuat Kiba menekan simbol Rinnegan pada bagian tengah gerbang tersebut.
Bum!
Bunyi bedebum mengiringi terbukanya gerbang tersebut. Efek obor terbakar api yang menerangi lorong dibalik gerbang itu menjadikan kesan mistis bertambah hebat.
"I-inikan?!" Iris violet itu tidak bisa untuk tidak melebar. Detak jantung pada dada kiri Akeno berdetak sangat kencang ketika iris violetnya yang melebar menyaksikan sesuatu yang berada di balik gerbang tersebut.
"A-ada apa Akeno-san?"
"Ti-tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Nada khawatir Kiba membawa kembali gadis cantik itu dari rasa takut yang menjalar diseluruh tubuhnya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis, membasahi tengkuk gadis itu. Sebuat tanda dimana rasa takut plus syok bersatu untuk menggrayangi hati sang Hime Miko.
Gedou Mazo.
Sebuah nama sederhana namun mengandung berjuta makna menakutkan bagi seorang Akeno Himeijima yang notabenenya adalah keturunan, Hime Miko. Histori yang mengisahkan kengerian patung raksasa berbentuk manusia yang memiliki sembilan mata itu telah diceritakan secara turun-menurun di keluarga Himeijima. Usut punya usut pendeta dari klan Himeijima dan ninja tersembunyi dari klan Arashikage, juga masih memiliki ikatan darah dengan pemilik patung raksasa tersebut, klan Otsutsuki.
"Dari siapa kau tahu keberadaan patung ini, Yuuto-kun?"
"Hmm, aku dan Buchou tidak sengaja menemukanya ketika menjelajahi lab Naruto."
Naruto Arashikage...
"Ah!" Akeno baru sadar akan sebuah fakta bahwa klan Otsutsuki pemilik Gedou Mazo adalah nenek moyang dari klan Arashikage. "Baiklah kalau begitu, ayo segera kita menyegel gerbang_"
Krak!
Krak!
Jrash!
Kiba dan Akeno dibuat syok! Ketika hendak berbalik dan menyegel gerbang rantai-rantai yang mengekang patung tersebut remuk dan hancur berkeping-keping.
Boft!
"...?!..."
"K-kemana Gedou Mazo?" Kalimat itu keluar secara otomatis dari Kiba dan Akeno saat patung berbahaya yang beberapa detik lalu berada di hadapan mereka, kini hilang menyisakan kepulan asap.
.
.
.
.
XXXXXX The DxD XXXXXX
.
.
.
.
.
The DxD
Disclaimers : Masashi Kishimoto & Ichi Ishibumi.
Crossover : Naruto and High School DxD
Rate : M (For story and leangue. not Lemon)
Genres : Adventure, Fantasy, Sci-Fi, Supernatural, Hurt/Comfort, Angst, Tragedy ETC.
Pairing : "Penjahat tidak membutuhkan cinta" meminjam perkataan The Dark Side; Yami Naruto, dari fic TBT(The Best Team) by : Jendral-Ecchi Dony Ren/Icha Icha Ren..
Warning : Time Travel, Dimensional Travel, Death Char, Dark Side Naruto, Powerfull Naruko and Ophis, Universal, Semi-OOC, No OC, Typo(s), Miss Typo(s), Adult theme, Violence, AU, Twist Plot (Plot Maju, Mundur, Naik, Turun, dan Berliku).
.
.
.
.
.
.
.
ARC : III - Akar Tujuh, dan Waktu. The Last Day.
Chapter 17 - Samael : Lucifer Patah Hati.
.
.
.
.
XXXXXX The DxD XXXXXX
.
.
.
.
.
.
.
Ribuan langkah kaki bergema memenuhi area sekitar. Ratusan tentara Youkai bersiaga dengan senjata mereka masing-masing mengantisipasi jika ada serangan dari kelima pemuda misterius yang baru saja jatuh dari langit dengan bantuan kapal aneh mereka.
Taicho. Pria berumur 21 yang mengenakan perlengkapan ANBU komplit dengan Tanto di punggung dan Syal merah yang melingkari lehernya itu mengisyaratkan agar keempat pemuda bahawahnya untuk diam. Tidak bergerak atau tidak menyerang seluruh pasukan yang mengepung. Ini di luar dugaan! Harusnya Team-nya mendarat di sekitar daerah perairan bukan di tengah hutan seperti sekarang.
"Serang!"
"Tunggu dulu. Apa maksud kali-."Tanpa memperdulikan pertanyaan pria yang disebut Taicho itu. Yasaka memerintahkan seluruh pasukanya mulai menyerang target yang telah memasuki Kyoto tanpa seizinnya.
"Tch! Tidak ada pilihan lain." Taicho merentangkan kedua tangannya. Dengan cepat mata kiri pria itu berputar kencang merubah bentuknya yang awal berwarna hitam onyx menjadi ungu pudar dengan tiga lingkaran yang mengitari pupil, khas Rinnegan. "Shinra Tensei!"
Blaaaaar!
Gelombang kejut kasat mata meledak, mengikis tanah dan menerbangkan pepohonan begitu pula dengan seluruh pasukan Youkai dalam radius dua puluh meter. Beruntung bagi keempat pemuda yang menjadi bawahan sang Taicho, andai mereka tak melompat tinggi ke udara pasti mereka juga terkena gelombang kekuatan mata Rinnegan. "Dia memang sangar!"
"Ya kau benar."
Tap Tap Tap Tap.
Ke empat pemuda itu mendarat kembali kini mereka berada tepat di inti kawah besar bersama sang pencipta kerusakan. "Aku hanya ingin berbicara dengan kalian! Tapi mengapa kalian menyerangku?"
Dua belas sayap hitam berkilau keluar dari balik punggung Azazel. Dalam sekali hentakan Gubernur Malaikat Jatuh itu telah berada di hadapan kelima pemuda asing tersebut. "Yare yare. Kau terlalu berlebihan dan tidak melihat keadaan sekitarmu anak muda." Azazel mendarat. Down Spear Dragon dalam genggamanya ia masukan kembali dalam kantung jas. Bukan bermaksud meremehkan, tetapi Azazel tahu bahwa pemuda di hadapanya bukanlah Naruto Uzumaki sang buronan aliansi Tiga Fraksi. Jadi tidak ada keharusan baginya untuk bertarung dengan pemuda berkekuatan misterius tersebut.
"Apa tujuan kalian menerobos Kyoto melalu jalur udara?"
"Maaf atas hal itu. Tapi kami juga tidak tahu kenapa kami bisa mendarat di daerah kekuasaan kalian." Terjadi keheningan sejenak atas jawaban sang Taicho. Azazel diam karena memikirkan satu hal yang mungkinkan dirinya akan dianggap gila. Sedangkan Yasaka diam untuk mengamati tanda-tanda kebohongan dari ucapan pria itu. Meski nyatanya ia'pun tak mendapati sedikit'pun kebohongan dari kata-kata sang Taicho.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang, agar kalian tidak merasa terancam." Pemuda itu berpaling untuk menuju pesawat mereka. "Rikudou, dan Absolute Satan atur kembali rute lompatan. Sedangkan Angel, dan Mx-01 periksa Energi mesin utama."
"Hei! Apakah kalian fikir, aku akan membiarkan kalian pergi setelah menghancurkan tempat ini!" Yasaka menembakan Api Kitsune dalam intensitas tinggi. Akan tetapi kelima pemuda itu dapat menghindarinya dengan mudah.
"Hahaha kau fikir api sekecil itu bisa melukai kami? Jangan bodoh!" Seringai licik merekah dari bibir tipis sang Kyuubi. Dirinya tidak sebodoh apa yang pemuda itu katakan, karena ia memang bukan mengincar para penyusup itu melainkan kendaraan mereka.
"Coba kita lihat, sekarang siapa yang bodoh? Aku atau kau pemuda tengik!"
Blaaaaarr!
Lima pasang mata pemuda itu membulat sempurna saat ledakan kuat membakar pesawat ulang-aling yang menjadi satu-satunya rumah plus kendaraan mereka. Keempat pemuda berjubah itu berlari kocar-kacir, kesana-kemari, jungkir balik tidak karuan, sedangkan seorang pemuda tersisa berpangkat Taicho hanya dapat menangis dalam bahagia(?) sembari merangkak menuju sang pelaku pembakaran(?).
"Woy cewek Kampret! Apa yang kau lakukan terhadap harta terakhirku!" Tangis bak banjir bandang itu; mengiringi setiap kata demi-kata yang diucapkan si Taicho.
"Itu adalah akibat kalian membakar hutanku! Huh!"
"Tidak! Ini tidak akan terjadi jika kau tidak mengepung ku! Jadi ini salahmu! Baka Kitsune!"
"Jangan pernah menyalahkan wanita Blondie! Wanita selalu benar!"
"Tidak! Ini tetap salahmu!"
"Salahmu!"
"Salah kau!"
"Kau yang salah! Huh!"
Parahnya lagi wanita tercantik dikalangan Youkai Kyoto sekaligus pemimpin bangsa Youkai itu menanggapi tingkah abnormal pria aneh tersebut, tidak lupa dengan sifat Tsun Tsun-nya yang mewarnai tingkah gaje bin ajaib itu.
Azazel dan para pasukan Youkai dibuat sweatdroop maksimal atas tingkah kedua orang itu. Sampai-sampai keempat pemuda team dari si Taicho juga dibuat menganga lebar atas tingkah Tsun Tsun kapten mereka yang entah kerasukan setan apa? Padahal Kaptenya itu terkenal sebagai orang yang galak dan tegas!
Dan pada akhirnya rencana untuk menyergap penyusup malah berbalik 180 drajat dari semestinya.
""AMPUN~ DIJEEE~"" Serentak tanpa latihan, apa lagi komando khusus seluruh penontong berseru laknat tidak pada tempatnya(?) karena pertengkaran Abnormal pemimpin dua kubu yang akan terus berlangsung mungkin sampai, Haji Lulu*g menyebut USB dengan nama UPS. #SaveHajiLulu*g
.
.
.
.
.
XXXXXX The DxD XXXXXX
.
.
.
.
.
Vali Lucifer tidak pernah menyangka jika musuh di hadapanya akan sekuat ini. Baru kali ini ada orang yang dapat memaksanya hampir mengerahkan separuh kemampuan dari Sacred Gear kebanggaannya. Lazimnya hanya dengan sepertiga kekuatan, Vali mampu membuat musuh-musuhnya lari tunggang-langgang meninggalkan medan pertarungan dengan hasil kekalahan mutlak!
Vali Lucifer bagaikan Raja dominasi yang berdiri pada puncak rantai makanan karena kukuatan dahsyat yang menjadi bakat alaminya sejak lahir sebagai keturunan Raja Iblis Lucifer terdahulu, telah memberi sifat dominasi yang mengalir dalam pembulu darahnya. Belum lagi dengan berkah sang Maha Pencipta yang menaungi darah manusianya bersifat panas sebagai Naga dominasi.
Eksistensi Vali bagaikan lelucon dalam cerita fiksi. Disamping manusia pemegang [Sacred Gear Longinus] dirinya juga mewarisi Demonic Power super dahsyat dari kakek dan ayahnya yang notabene adalah keturunan Sang Putra Bintang Fajar.
Namun... Kali ini Hakuryuuko terkuat itu dibuat terdesak oleh pemuda misterius yang selalu menyebutnya senpai. Entah mengapa sebutan 'Senpai' membuat Vali merasa kurang nyaman karena Vali dapat merasakan kekuatan mustahil yang masih ditekan hingga batas maksimal dalam tubuh pemuda itu.
"Kurokaaa!"
Vali melesat cepat tegak lurus dari atas ke bawah. Rasa cemas menyeruak dari dalam hati menyebar ke sekujur tubuh dan menghantam otaknya agar bertindak, untuk menyelamatkan Kuroka yang terjatuh dari puncak salah satu gedung pencakar langit.
Grep!
'Dapat.' Berat tubuh Kuroka dan tekanan gaya gravitasi memaksa Vali ikut jatuh menghantam kerasnya aspal. Rasa lega menggantikan rasa cemas ketika tubuh mungil sang kucing hitam telah berada dalam dekapannya. Rasa sakit pada tubuhnya tidak Vali hiraukan karena ia telah berhasil menyelamatkan Kuroka yang kini tengah pingsan.
Telapak tangan Lucifer muda itu terkepal erat ketika direksi pandanganya melihat banyak luka mema dan goresan di sekujur tubuh Kuroka. Dengan jari-jari tangan kirinya yang kekar, Vali mengusap lembut aliran darah segar di sudut bibir ranum milik Kuroka.
Vali marah! Marah karena kedua orang misterius itu telah menyakiti rekannya.
Vali benci! Benci terhadap dirinya sendiri karena tidak dapat melindungi Kuroka.
Apa gunanya gelar Hakuryuuko terkuat sepanjang sejarah yang Vali sandang, jika nyatanya ia tidak mampu menyelamatkan gadis yang telah mewarnai hari-harinya dengan pelangi keceriaan?
Apa artinya nama Lucifer jika faktanya Vali tak mampu melindungi wanita yang ia sayangi? "Kuroka maafkan aku... Maafkan kesalahanku yang tak mampu melindungimu."
Kraaakk!
kraaaak!
Blaaaar!
Kekalahan Kuroka ternyata tidak sia-sia karena Kuroka juga mampu menumbangkan musuhnya. Dan dengan itu Dimensi ciptaan Skull gadis pemilik [Dimension Lost] hancur berkeping-keping dan memindahkan mereka ke hutan dipinggiran Kyoto.
"Kerja bagus Skull. Sekarang istirahatlah, sementara aku menjatuhkan Vali." Eye Patch berbisik merdu di telinga Skull atau tepatnya gadis cantik bersurai emas yang kini pingsan dalam dekapannya. Setelah itu ia membaringkan tubuh mungil gadis cantik itu di tempat yang menurutnya aman. Sebelum pergi Eye Patch menuliskan aksara-aksara aneh di sekitar tempat berbaringnya Skull. "Dark Doom!" detik berikutnya aksara-aksara aneh itu memuntahkan energi kegelapan dan bertransformasi menjadi kubah hitam pelindung.
Vali menyandarkan tubuh Kuroka disalah satu pohon besar. Tangan kekarnya menyibak untaian poni nakal yang menyembunyikan wajah cantik gadis tersebut. Senyum tulus Vali singgahkan di bibirnya sembari mengelus lembut pipi putih bak porselen sang gadis Nekomata.
"Tunggu aku sebentar, ok? Aku akan mengalahkan orang yang telah menyakitimu." Kecupan singkat Vali daratkan tepat di kening sang gadis. Kecupan itu penuh kasih sayang tanpa adanya nafsu semata.
Kecupan tulus sebagai sumpah sang Naga untuk selamanya melindungi sang putri Nekushou.
"Aku akan jujur dan mengungkapkan sesuatu yang penting kepadamu setelah semua masalah ini terselesaikan." Sepasang sayap cahaya yang sempat Vali hilangkan kini kembali terbentang kokoh. "Jadi tunggulah kedatanganku." Dalam sekali hentakan Vali terbang melesat dalam kecepatan cahaya menembus udara malam yang dingin di hutan pingiran Kyoto.
"Bisakah kita bertarung dengan serius, Senpai?"
"Tanpa kau pinta'pun aku akan benar-benar serius mulai dari sekarang." Eye Patch menyibakkan jubah biru yang menutupi seluruh tubuhnya. Sepasang sayap cahaya khas Vanishing Dragon sangat mirip dengan sayap Vali, terbentang lebar dari balik punggungnya.
"Menarik." Vali menyeringai dirinya tidak syok dengan satu lagi fakta yang baru terungkap dari musuhnya. Entah sengaja atau tidak Vali memang telah menyadari kekuatan Albion yang bersemayam dalam tubuh pemuda tersebut.
"Nah kalau begitu... Ayo kita buktikan! siapa yang pantas menyandang gelar Hakuryuuko terkuat sepanjang masa!" Eye Patch dan Vali membuat kuda-kuda di udara. Lengan kanan kedua pemuda itu terangkat ke depan detik berikutnya cahaya putih keperak-perakan meledak dari tubuh mereka berduanya.
""Ayo Albion!""
[Vanishing Dragon : Balance Breaker!]
[Vanishing Dragon : Balance Breaker!]
.
.
.
.
XXXXXX The DxD XXXXXX
.
.
.
.
.
Jari-jari lentik itu menanggung beban baskom berisikan air pada lempengan logam berbentuk oval. Senandung kecil terdengar merdu dari bibir merah mudanya yang senantiasa menyunggingkan senyum manis, mengiringi Langkah demi-langkah kaki mulus, putih nan jenjang itu untuk menaiki satu persatu susunan tangga.
Sesekali Le Fay menyingkirkan poni nakal yang menutupi direksi pandanganya. Tatapanya lurus iris biru itu memandang sejuk pembatas antara kamar dan koridor yang terbuat dari kayu jati. Senyum pada bibirnya semakin merekah ketika jari-jari lentiknya menggenggam knop pintu sebelum membukanya perlahan.
Cekrek.
"Yo! Le fay."
Gomprang!
Rasa syok sekaligus bahagia menyeruak dari lubuk hatinya dalam waktu bersamaan. Jari-jari lentiknya terlalu kaku untuk kembali menahan beban air dan akhirnya membiarkan benda itu jatuh membasahi permadani lantai. Tatapanya tak fokus terhalang aliran air mata bahagia yang tiba-tiba saja mengalir dari permata birunya. "Le Fay."
"O-onii-sama?!" Cicitan kecil Le Fay keluarkan. Tanpa menunggu lama gadis Pendragon itu berlari menerjang sosok pemuda berambut kuning keputihan di depanya, hingga mereka berdua terjungkal dan mendarat di atas empuknya kasur.
Isak tangis gadis Pendragon itu dapat terdengar jelas, menusuk indra pendengaran dengan suara yang dapat menyayat hati bagi siapa saja orang yang mendengarkannya. Tapi... Le Fay tak peduli dengan hal itu. Dirinya terlalu gembira untuk menutupi kebahagiaannya sampai-sampai air mata mengalir deras, tanpa bisa ia bendung.
"Kamu cengeng sekali ya, Le-chan?" Le fay bungkam tak menanggapi ejekan Onii-sama-nya. Gadis pirang itu terlalu menikmati keadaan ini sampai-sampai ia enggan untuk membuka suaranya.
Harum tubuh ini... Adalah harum favoritnya.
Dada bidang yang menjadi bantal wajahnya... Adalah tempat ternyaman yang pernah ia rasakan.
Kehangatan tubuh ini... Adalah kehangatan yang selalu dapat menenangkan raga dan jiwanya.
Jauh dalam lubuh hatinya... Le Fay ingin selamanya memiliki semua kenyamanan ini tanpa ada satu orang'pun yang boleh merenggutnya. Sebagi gadis pemalu Le Fay adalah tipe diktator yang akan selalu mendominasi tapi Ia juga takut untuk menuruti sifatnya tersebut.
Takut bukan karena hatinya lemah tetapi takut karena tak ingin menyakiti hati wanita lain yang Le Fay yakini juga menginginkan pria dalam pelukanya.
"U-umm." Le Fay tercicit imut saat sebuah tangan kekar mengusap penuh sayang puncak mahkotanya. Tangan itu begitu nyaman dan nikmat. "Ah~." Tanpa sadar Le Fay bergenyit nikmat dengan suara desahan yang imut.
Menyadari suara imut itu Naruto tidak bisa untuk tidak menyeringai jahil, tangan kirinya yg mendekap pinggang ramping Le Fay ia gerakkan secara lembut untuk mengelus turun-naik tubuh bagian belakang sang gadis Pendragon.
"sshhh~ Kimochi desu~." Entah sadar atau tidak? Le Fay kembali mendesah membuat seringai jahil di bibir Sekiryuushintei semakin melebar. "Le-Chan, kamu nakal sekali." Naruto berbisik lembut tepat di telinga kiri sang gadis. "Jika terus seperti ini... Onii-sama tidak janji loh, bisa bertahan untuk tidak memakanmu. Aaam."
"Hmhhh~ O-onii-chan dame." Gadis loli itu semakin mendesah hebat ketika Naruto mengigit manja telinganya. Dan entah mengapa Le Fay mulai meracau tak jelas saat kenikmatan mulai menjalar keseluruh tubuhnya.
"Le-chan... Bolehkah Onii-chan Me-ma-kan-mu?" Kata-kata penuh penekanan itu merenggut akal sehat sang gadis Pendragon. Le fay mendongak, menatap wajah Naruto dengan mata indah yang sayu. Mau tidak mau Naruto malah berbalik menelan ludah. Ia kuat-kuat menahan nafsunya agar tidak segera memangsa gadis loli yang menindihi tubuhnya.
"Onii-sama... Aku adalah milikmu jadi kau bebas berbuat sesukamu bahkan jika itu memangsaku." Dengan rona merah yang menghiasi pipi mulusnya Le fay spontan menjilat leher Naruto penuh nafsu.
"L-le fay! A-apa yang kau lakuka-." Tanpa bisa mengakhiri perkataanya Le fay telah terlebih dahulu membungkam bibir Naruto dengan bibir mungilnya.
"Hmm~" Desahan nikmat Le fay keluarkan saat lidahnya mulai menjamahi setiap inci dari mulut Naruto. Entah mengapa Naruto mendadak lemas dan tak sanggup meronta, mungkin karena sensasi nikmat dan manis dari bibir sang gadis?
"Isshhhh~."
"emhhh~." Suara kecipak tak luput mewarnai pegulatan antar lidah yang lebih didominasi oleh Le Fay. Ini gawat! Naruto sudah tak sanggup lagi menahan nafsu birahinya. Desahan Le Fay dan kenikmatan dari permainan lidah sang gadis hampir membuat akal sehat Naruto hilang kendali.
Brugh!
"Kyaa~." Le fay berteriak imut ketika tubuh kecilnya didorong dan balik ditindihi oleh tubuh kekar Naruto tak lupa kedua lengan gadis itu'pun ikut dikunci oleh Naruto.
"It-ttai O-onii-chan~ Dame~." Mata indah itu menatap sayu, wajah penuh rona merah itu menghiasi pipi chubb-nya dan suara cegahan penuh nafsu itu lagi-lagi menghantam akal sehat Naruto. 'Oh Jashin-sama~ inikah surga dunia yang kau katakan?' Sepertinya Naruto memang sudah kehilangan akalnya sampai-sampai ia membatin nista.
"Le-chan." Naruto membawa tanganya untuk membuka celana jeans hitam yang melekat pada tubuhnya. Le fay kembali menegang saat raut wajah Naruto terhalang untaian rambut putihnya dan suara yang terkesan memerintah itu mengisaratkan agar Le fay membuka mulutnya.
"O-onii-chan~." Le Fay pasrah dengan apa yang akan Naruto lakukan padanya. Ia hanya dapat memejamkan kedua maniknya untuk menunggu sesuatu yang mungkin akan memperkosa mulutnya.
Dalam hati Le Fay bersumpah nista. Persetan dengan Ophis Ojou-sama atau'pun Naruko-chan yang tengah bertempur di luar sana! Yang terpenting Le Fay bisa mendapat kasih sayang dan perlakuan spesial dari Onii-sama-nya! 'Hahahaha jahat sekali kau Le fay! ufufufu You The Real MVP.' batin Le fay.
"Dasar loli mesum." Naruto mengecup bibir Le fay singkat, sebelum kembali duduk dan berhenti menindihi tubuh sang gadis serta melepas celana jeans-nya karena celana itu membuatnya tak nyaman.
"Eh?" Sebuah batu seberat 1000 Ton seperti menghantan kepala sang gadis Pendragoo, membawa dirinya kembali dari nafsu kepada rasa malu tak berujung. Rona merah pada pipinya semakin padam. Tapi yang jelas rona merah itu bukanlah rona karena nafsu melainkan luapan darah yang ditahan atas dasar kemarahan dan rasa malu.
"BAKAAAA!"
Plaaaaak!
"Uwaaaah!"
Dan sebuah tamparan berkekuatan sihir menghantam pipi Naruto, menerbangkan pemuda itu sebelum menabrak dinding kamar hingga berlubang dan mengirimnya terbang bebas dari lantai 4 kastil Ouroboros.
Blaaaarrrr!
.
.
.
.
"Onii-sama no baka!."
"H-ha'i"
"Dasar bego!"
"H-ha'i"
"Pria tidak peka!"
"Ha'i"
"Pria mesum!"
"Bu-bukanya kau yang memperkosaku."
"E-eh? Ba-baka! Jangan mengatakan itu!"
Plaaak!
Lagi-lagi telapak tangan mungil itu mendarat di pipi Naruto. Ia hanya dapat pasrah dengan perlakuan Le Fay. Padahal jelas-jelas gadis loli itu yang mesum tetapi mengapa Naruto yang dituduh berbuat mesum oleh gadis itu?
Mungkin benar yang dikatakan anak Meme, bahwa wanita selalu benar! Dan akan selalu benar walaupun pada kenyataanya wanitalah yang salah.
Wanita memang merepotkan.
"Onii-sama." Naruto mendongak, detik berikutnya ia merasakan seruatu yang kenyal memanjakan wajahnya. "Oi! Ja-jangan terlalu erat aku sulit bernafas tahu!" Naruto mendorong paksa melepaskan pelukan Le Fay agar ia tak mati kehabisan oksigen.
Sekali lagi untuk yang kesekian kalinya, Naruto dibuat heran oleh tingkah laku gadis Pendragon itu. Baru saja gadis itu bersifat Tsun tsun sekarang gadis itu malah bertingkah manja nan agresif.
"Hikz... O-onii-chan jahat." Suara lemah lembut itu menarik paksa Naruto yang bekutat dalam fikiranya. Tatapan mata berkaca-kaca dan setitik air mata yang hendak menetes di ujung pelupuk manik biru itu membuat Naruto iba dan terpesona dalam waktu bersamaan.
"Gomennasai." Secara reflek Pemuda pewaris tahta Great Red itu membawa tubuh mungil Le fay dalam pelukanya, bibirnya berucap maaf dan menyesal berulang-ulang kali. Tetapi tanpa Naruto ketahui, gadis dalam pelukanya itu malah menyeringai setan sekaligus menikmati kehangatan sang Onii-sama. Ternyata tidak sia-sia Le Fay belajar jurus puppy eyes kepada Kuroka nee-chan. "Ufufufu."
.
.
.
.
.
Seorang pemuda melaju kencang menerobos rimbunnya hutan belantara. Iris birunya menyala berbahaya dalam gelapnya malam. Hembusan angin malam yang dingin tak menggoyahkan langkah kakinya yang terus-menerus melompati satu-persatu cabang-cabang pohon licin berlumut. Tubuh tegap pemuda itu hanya tertutupi kaus dalam putih dengan tambahan tali hitam yang menyilang di pundak kiri untuk mengikat Katana kebanggaanya. Dalam benak pemuda itu masih mengingat jelas pesan yang ia tinggalkan untuk teman-temanya.
"Le Fay, Katakan kepada yang lainya agar tidak menyusulku. Aku akan pergi ke Agreas untuk melaksanakan rencanaku."
"Ta-tapi apa harus secepat ini? Padahal Onii-sama baru saja siumanan."
"Aku baik-baik saja. Lagi pula aku merasa sangat sehat! Walaupun aku juga tidak tahu kenapa bisa siuman sekarang. Kalau tidak salah Naruko bilang aku akan pingsan selama satu bulan." Ini adalah hal yang tidak pernah Naruto duga. Mestinya kelumpuh total dan koma menjadi efek samping dari penggunaan [Makkura Over Drive] sebanyak tiga kali berturut-turut. Tetapi baru saja satu minggu berlalu, Naruto sudah tidak lagi merasakan efek samping dari energi negatif Makkura.
Apa jangan-jangan Naruko yang menyembuhkannya? Atau mungkin karena kekuatan Great Red yang bersemayam dalam tubuhnya? Entahlah Naruto tak mau ambil pusing!
"Sudahlah, Jangan khawatirkan Onii-sama. Lebih baik Le-chan do'akan saja agar Onii-chan berhasil." Senyum lembut di wajah tampan Naruto menjadi moment terakhir yang dapat di ingat oleh Le fay sebelum kegelapan merenggut kesadaranya.
Iris biru itu menelisik jauh ke depan ketika seberkas cahaya tertangkap direksi pengelihatanya. Kecepantan dalam setiap hentakan kakinya meningkat diiringi dengan berkas-berkas aura merah menyelimuti telapak kaki yang terlindungi sepatu kets putih kontras dengan celana jeans hitamnya.
"Disana!" Menghentikan langkah cepatnya di salah satu cabang pohon besar, Naruto menyiapkan ancang-ancang untuk melompati hutan dalam sekali lewat.
Flash!
[Dragon Breaker!]
Kilatan cahaya merah bergerak lurus dalam kecepatan suara. Bunyi dentuman dan teriakan binatang nokturnal bergema disana-sini ketika puluhan bahkan ratusan pohon tumbang tercabik-cabik oleh aura merah dahsyat yang menghalangi jalur lintasanya. Aura merah yang menyelimuti tubuh Naruto menerobos secara paksa lebatnya hutan hujan yang memisahkan kastil Ouroboros dengan lautan.
[Mode Change : Imperial Armor!]
Aura merah itu kembali meningkatkan intensitasnya dalam jumlah gila-gilaan. Perlahan tapi pasti aura itu memadat menjadi armor ramping yang menyelimuti tubuh Naruto. Masih dalam keadaan melayang sepasang sayap metalik tumbuh dari balik armor tersebut tidak lupa dengan sepasang booster tambahan yang menyembul bagai ransel di punggung Naruto.
[Hyper Sonic Booster!]
Naruto berteriak lantang, detik berikutnya sayap pada punggung dan ransel Booster dari armornya menembakan jet pendorong sangat kuat! Melontarkan tubuh Naruto terbang, melesat membelah lautan dengan kecepatan [MARC 20].
"Tunggu aku, Naruko." Sejujurnya, Naruto tak tega untuk membohongi Le Fay tentang kepergianya untuk menuju Agreas. tapi mau bagaimana lagi? Dirinya memang berniat untuk menyusup ke dalam pulau apung Agreas di Underworld, dan menjalankan rencananya. Akan tetapi sebelum itu, ia harus mendatangi Naruko terlebih dahulu untuk memastikan rencananya berjalan sempurna.
Rencana yang telah Naruto susun bersama Naruko dalam alam bawah sadarnya. Rencana dengan tingkat keberhasilan 50 persen itu mungkin saja gagal karena Cao Cao tak terpancing dengan umpan yang Naruto berikan.
Rencana ini bersifat krusial dan tak pasti! Sebab andai saja Ophis tidak mengindahkan atau tidak terpancing dengan kata-kata pedas Naruko... Rencana ini akan gagal sebelum dimulai. Tapi untungnya Ophis terpancing dan mengajak Naruko untuk bertempur, sehingga umpan untuk hidangan utama dapat disiapkan!
Dan pada ahkirnya pertempuran kedua makhluk superior itu dapat menarik minat Cao Cao. Siasat licik ini'pun akhirnya dapat dijalankan dengan mulus saat Cao Cao memanggil Samael.
"Ufufufu." Naruto tidak bisa untuk tidak menyeringai senang, ketika Naruko menghubunginya melalui telepati dan mengatakan bahwa rencana untuk mendapatkan Samael berjalan mulus! Mungkin hanya tinggal selangkah lagi untuk membuat rencana itu berhasil.
"Maafkan aku Ojou-sama karena telah menjadikanmu sebagai umpan. Tapi mungkin kau juga akan sependapat denganku karena di dunia ini... Kau harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, ufufufu."
Namun rencana saja tak cukup jika kurangnya rincian informasi target sasaran. Terdengar aneh memang Naruto sebagai anggota dari [Awakening Dragon] dapat mengetahui info rahasia [Golongan Pahlawan] yang notabenenya adalah musuh bebuyutan?
Tapi tenang saja... Jangan sebut Naruto sebagai ahli strategi saat masih menjabat sebagai Taicho dalam satuan squad rahasia [Tangan Kiri Lucifer].
Naruto telah memikirkan semuanya secara matang! Bahkan... Dari jauh-jauh hari sebelum ingatanya kembali, Naruto telah mencuci otak salah satu anggota [Golongan Pahlawan] dengan kemampuan Great Red.
Tadinya sih... Ia melakukan hal itu hanya untuk jaga-jaga bila terjadi kudeta dari dalam untuk menjatuhkan Khaos Brigade, tapi tak disangka dan tak diduga, Dewi Fortuna mungkin sedang berpihak kepadanya dan dengan itu pula ia bisa mendapat informasi dari mata-matanya, jika Cao Cao yang dibantu oleh Sakra telah meminjam Samael kepada Hades yang disegel dalam Neraka paling dasar, Cochytus.
Dan pada akhirnya Naruto dapat mengatur strategi untuk merebut Samael. "Ufufu. Penghianatan, kebencian, dendam dan konsfirasi... Dunia ini sungguh kotor, bukan?" Masih memasang seringai licik di bibirnya yang tak dapat terlihat karena topeng armor yang menghalangi. Naruto terus melesat dalam kecepatan tinggi menuju satu tempat, yang pastinya berada pada dimensi pengalihan milik [Dimension Lost].
Celah Dimensional.
Tangan kiri pemuda itu mengarah ke depan, detik berikutnya retakan dimensi tercipta dalam sekejap mata jauh di depan sana. Hanya jarak seperti itu bukanlah jarak yang memakan waktu bagi Naruto yang telah menggunakan salah satu kemampuan [Armor Dragon Breaker].
.
.
.
.
.
.
.
XXXXXX The DxD XXXXXX
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kuchiyose no Jutsu : Gedou Mazo!"
Boft!
Groaaaarrr!
Sesosok raksasa dengan sembilan mata yang saling terbuka berteriak lantang yang tiba-tiba datang dari kepulan asap hebat. Kedua mata Rinnegan milik gadis yang berdiri di atas kepala patung itu berputar santai. Api emas dari Mode Rikudou Senjutsu yang menyelimuti tubuh Naruko, bergerak liar untuk menyelimuti patung raksasa, tersebut.
"Nah, sekarang... Aku akan menghancurkanmu dan merebut kekuatan Ophis yang tersegel oleh Samael. Ufufufu~ Tidak lupa pula untuk merampas Samael itu sendiri." Tawa jahat berdengar nyaring, dan bergema di seluruh dimensi ciptaan Dimension Lost.
Rencana Naruto akan segera di laksanakan oleh Naruko! Selagi Naruto masih dalam perjalanan menuju tempat tersebut.
"Lima menit mungkin waktu yang cukup, untuk Gedou Mazo mengekstrak seluruh kekuatan itu. Ufufufufu."
.
.
.
.
.
XXXXXX The DxD XXXXXX
.
.
.
.
.
To Be Continue. . . . . . .
A/N: Halo~ bertemu lagi dengan saya Author koplak yang resek kalo lagi laper, hahaha.
ah mungkin chapter ini terlalu mengejutkan kah? atau malah sebaliknya? tapi semoga saja chapter ini memuaskan hehe walau'pun banyak kesalahan dalam penulisan atau apapun itu.
Kali ini tidak ada yang perlu saya katakan karena otak saya yang sedang ngehang hahaha tapi mungkin kalian bingung dengan beberapa scene di chapter ini? kalau iya... saya menyarankan agar membaca DxD dari chapter ke-2 sampai 17 #ditabok_reader!
Sekian dari saya terakhir jangan sungkan untuk menuliskan keluhan, kesan, kebingungan, atau'pun CACIAN kalian, atas chapter terbaru dari The DxD!
Review? Come to Papa Haise!
Issue For Next Chapter - Pertemun Kedua : Ayah Yang Baik.
Salam Anti-Mainstream!
