"Tenseigan!"
Flash!
Tap!
Brukh!
Tiba-tiba saja Azazel menarik Ise, membuat pemuda itu terpelanting kebelakang. Azazel membiarkan tubuhnya sendiri terkena serangan Taichou dan menjadi tameng hidup, agar dapat menyelamatkan muridnya. Bola chakra emas super padat yang dapat membelah bulan jika ditembakakan itu berdesing keras, menggilas kulit perut, mengoyak daging, dan menggiling organ vital, sebelum meledak di dalam perut targetnya yang mungkin merasakan betapa pedihnya ketika ajal menjemput.
"Tch. Sialan kau Azazel."
Brakh!
Taichou menendang tubuh tak berdaya Azazel hingga terpental menabrak Ise. Tiba-tiba saja Naruto Lucifer memberi isyarat kepada Taichou, Taichou mengerti apa yang Naruto Lucifer insyaratkan karena itu sudah menjadi rencana mereka, sebab Naruto Rikudou yang memang ditugaskan untuk berjaga di luar telah melancarkan seranganya untuk menghancurkan tempat tersebut. Taichou mengangguk, dengan segera keempat pemuda itu berpencar dan pergi meninggalkan Hyoudou Mansion.
"Se-sensei... Hoi Sesensei! Ba-bangun SENSEI! HOI!" Ise tak memperdulikan kondisi tubuhnya sendiri, walaupun luka bakar parah di tubuhnya ditambah luka melintang cukup dalam pada punggung dan bahu kiri yang tertembus panah, Ise tetap sekuat tenaga mengguncang-guncang tubuh terkapar berlumur darah dengan perut yang berlubang milik Azazel.
"BRENGSEK! A-AKU BILANG BANGUN AZAZEL!"
"U-ukh... Kau berisik sekali Ise." Air mata mengalir membasahi wajah Ise, ia bersyukur sangat-sangat bersyukur Azazel masih belum benar-benar mati.
"ASIA! Ce-cepat obati Sensei!" Asia berlari mendekati Azazel, namun belum sempat sang gadis suci mengaktifkan Twilight Healing, Azazel terlebih dahulu menahan tangan Asia agar tidak menyembuhkannya.
"Ti-tidak Ise., ohok... Aku sudah tidak dapat di sembuhkan lagi. Se-serangan Taichou menhancurkan organ vitalku dan membuat jantungku bocor."
"Ti-tidak mungkin! I-ini semua bohongkan Azazel! BOHONGKAN!"
"Aku tidak mungkin berbohong kepada muridku, Ise. apa lagi disaat-saat te-terakhirku. Ohok." Azazel memuntahkan banyak darah segar dari mulut, kondisi tubuhnya sudah sangat kritis! Efek dari serangan Taichou benar-benar menghancurkan organ dalamnya begitu pula dengan indra perasa milik Azazel. Ia sudah tak mampu untuk merasakan tubuhnya apa lagi hanya sekedar menggerakan jarinya.
"Se-sensei." Rias, Koneko, Gasper, dan Xenovia mendekati Azazel. Linangan air mata juga menghiasi pipi mereka.
Blaaaar!
Serang Naruto Rikudo menghantam dinding sihir pertahanan Hyodou Mansion. "Pergilah kalian semua! Aku sudah mengaktifkan sihir pertahanan rumah ini, tapi itu tidak akan bertahan lama untuk menahan serangan sebesar itu." Azazel sekuat tenaga menyeret tubuhnya agar dapat duduk bersandar.
"Ta-tapi Sensei_."
"Rias! Sudah tidak ada waktu lagi! Aku tidak akan mampu menahan ini terlalu lama. Bawa semuanya untuk pergi meninggalkan tempat ini dengan teleport darurat." Walaupun ucapan Azazel terdengar normal tapi tidak pada kenyataanya. Sebenarnya Azazel mati-matian menahan agar suaranya tidak tersendat oleh darah yang terus menerus membanjiri kerongkongannya.
"Lalu bagaimana denganmu Azazel!" Ise berteriak penuh emosi. Ia mati-matian agar tidak menangis dan terus menahan kesedihan yang menyeruak dari lubuk hatinya.
"A-aku akan tetap di sini dan memberikan kalian waktu untuk pergi. La-lagi pula... aku merasa jika ajal sudah menyapaku." Asia menangis tersedu-sedu menyaksikan detik terakhir dari Senseinya. Koneko, Rias, Xenovia dan Gasper juga tak mampu menahan air mata kesedihan. Bagi mereka... Sosok Azazel adalah figur seorang Guru yang mampu mengajarkan banyak hal yang mereka tidak ketahui sebelumnya disamping itu... Sifat kocak Azazel dan kepiawaiannya dalam memimpin begitu meresap dalam hati mereka.
Meski sifat mesum Azazel yang tidak dapat ditoleransi tetapi itu semua tidak merubah fakta bahwa Azazel adalah sosok teman, orang tua sekaligus guru yang ideal bagi Kelompok Gremory dan sosok yang akan mereka Hormati mulai dari sekarang, dan untuk selamanya.
Dengan sisa-sisa kekuatanya Azazel menciptakan sihir teleport yang dilengkapi dengan pelindung agar murid-muridnya tidak mampu lagi untuk memberontak.
"A-apa yang kau lakukan AZAZEL!?"
"Maaf Ise, tapi ini demi kebaikan kalian semua. Pergilah aku serahkan sisanya pada kalian." Senyum bahagia Azazel mengiringi aktifnya teleport. Ia bahagia karena disisa-sisa waktunya bisa menyelamatkan murid paling berharga sekaligus harapan terakhir untuk mencegah akhir dari dunia.
"SENSEIII!" Teriakan Ise menjadi moment terakhir yang dapat Azazel dengar sebelum ia benar-benar mengirim para iblis muda itu ke tempat aman.
"Satu tahun lagi tiga fraksi akan terpojok dan kalah dalam pertempuran. Jika yang dikatakan Taichou benar... Hanya ini yang mampu aku lakukan untuk merubah takdir." Azazel menciptakan lingkaran sihir kecil di tangannya dan detik berikutnya lingkaran sihir itu hilang kembali, sebagai tanda bahwa pengiriman yang ia lakukan berhasil.
"Uhuk... Setidaknya ini adalah akhir yang sedikit bagus untuk makhluk sepertiku." Senyum tulus terpatri di bibir sang Gubernur Da-tenshi. Ia merasa agak lega karena kematiannya jelas akan merubah alur waktu dunia ini, dan mungkin akan membawa takdir cerah bagi dimensi yang menjadi tempat asalnya.
"Nah... Sekarang aku akan pergi dan benar-benar menyusulmu_"
"_Ayah."
BLAAAAAAARRRRR!
.
.
.
.
.
.
XXXXXX The DxD XXXXXX
.
.
.
.
.
The DxD
Disclaimers : Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi.
Crossover : Naruto and High School DxD
Rate : M (For story and leangue. not Lemon)
Genres : Adventure, Fantasy, Sci-Fi, Supernatural, Hurt/Comfort, Angst, Tragedy ETC.
Pairing : "Penjahat tidak membutuhkan cinta" meminjam perkataan The Dark Side; Yami Naruto, dari fic TBT(The Best Team) by : Jendral-Ecchi Dony Ren/Icha Icha Ren..
Warning : Time Travel, Dimensional Travel, Death Char, Dark Side Naruto, Powerfull Naruko and Ophis, Universal, Semi-OOC, No OC, Typo(s), Miss Typo(s), Adult theme, Violence, AU, Twist Plot (Plot Maju, Mundur, Naik, Turun, dan Berliku). RUMIT!
.
.
.
.
.
.
.
ARC : III - Akar Tujuh, dan Waktu. The Last Day.
Chapter 19 - Hati Yang Layu : Lucifer VS Lucifer.
.
.
.
.
XXXXXX The DxD XXXXXX
.
.
.
.
.
.
.
-Under World, Wilayah Kekuasaan Agares, Pulau Langit Agreas.-
Naruto berlari menusuri lorong bawah tanah yang menghubungkan pintu masuk rahasia dengan pusat Institut Teknologi Agreas. Mata merah berpupil kuningnya menyala dalam gelapnya lorong tersebut, mata yang mampu melihat dalam gelap itu mengobservasi daerah sekitar mengawasi setiap gerak yang mungkin akan menghadang pergerakannya.
Naruto sudah menyusun segala rencana untuk menyusup ke dalam Agreas, dari mulai rencana inti sampai cadangan semua sudah tersimpan dalam otaknya. Berbekal pengalamnya ketika masih menjadi salah satu kepala peneliti di Agrear ia dengan mudah mengetahui beberapa jalan rahasia untuk menuju tempat yang ia targatkan, ditambah dengan data hasil penyelidikan Hero Faction yang dikirim oleh Jenne untuk mengantisifasi jika memang sistem pertahanan tempat ini sudah dirubah sejak satu tahun lalu.
"Oi Naruto-kun."
"Ada apa Naruko?" Tanpa menghentikan pergerakannya Naruto menjawab sebuah suara feminim yang terdengar dari dalam kepalanya.
"Aku merasa tidak enak dengan Ophis."
"Huh? Apa yang kau fikirkan Naruko? Bukankan itu rencanamu?" Naruto tak habis fikir dengan gadis perwujudan Juubi yang bersemayam dalam tubuhnya ini. Sempat-sempatnya gadis jahat itu berkata 'tidak enak setelah memanfaatkan Ophis?' Yang benar saja! Mana ada penjahat yang menyesal setelah memanfaatkan orang lain?
"Ba-baka! Siapa yang bilang ini rencanaku, hah?! Bukankah kau yang merencanakannya terlebih dahul!" Merasa tidak terima, Naruko balas membentak Naruto dengan nada ketidak sukaan.
"H-hei! Apa-apaan dengan pernyataanmu itu? Jangan seenaknya ya berkata yang tidak-tidak!" Terkadang Naruto tidak mengerti tentang jalan fikiran gadis jejadian tersebut. "Asal kau tahu saja ya Naruko Ojou-sama... Aku memang berencana untuk merebut Samael dari Cao Cao, tapi tidak dengan memanfaatkan Ophis."
"Mou~ Naruto-kun, kasar sekali." Tiba-tiba saja Naruko menasir paksa kesadaran inangnya, dan mengambil alih tubuh Naruto secara paksa untuk bersembunyi.
"Hei! Apa-apaan kelakuanmu in_.' Naruto dipaksa untuk tak bersuara atas sesuatu yang tertangkap oleh direksi pengelihatanya.
Dalam alam bawah sadarnya yang berupa kuil dengan singgahsana yang berada di atas altar kuil tersebut, tergeletak tubuh tak berbusana milik Naruko yang mempunyai lekuk tubuh sempura serta Oppai kenyal yang terlihat sangat kencang, terbaring dengan gaya erotis. Rambut blone panjang bergaya Twin tilenya agak acak-acakan dan menutupi beberapa bagian tubuh sensitif yang membuat Naruko tampak sangat erotis.
Gleek~
Mau tidak-mau Naruto yang notabene adalah seorang pemuda dalam masa pertumbuhan, menelan ludahnya bulat-bulat. Ia tak mampu mengucapkan sepatah kata'pun. Entah karena terlalu syok dengan tingkah abnormal Naruko, atau mungkin berusaha menahan gejolak hawa nafsu yang sudah mengsugesti Naruto agar segera mengucapkan 'Ittadakimasu' dan menerkam gadis sexy di hadapannya.
"Are? Kenapa kau diam saja, Naruto-kun?" Naruko bangkit dari tempatnya, tanpa memperdulikan tubuhnya yang 100% terekspos, gadis penjelmaan Makkura itu berjalan mendekati sang Inang sembari menaruh kedua lengannya di bawah dada dan tentu saja hal itu membuat dua gundukan lemak di dada Naruko yang memang memiliki ukuran diatas rata-rata bertambah besar.
"Mou~ ada apa sih! Kenapa Naruto-kun, diam saja?" Naruto masih diam tak menjawab, tapi detik berikutnya, Naruko yang hanya berjarak sepuluh senti dengan Naruto menemukan aliran darah segar mengalir tenang dari kedua lubang hidung Naruto.
"Ara ara, ufufufu jadi Naruto-kun bergairah, melihat tubuhku, eh?" Naruko menyeringai, sebuah hal jahil terlintas di benaknya.
"Kalau begitu... Apakah Naruto-kun mau me-nik-ma-ti-nya?" Naruko mengeluarkan suara super imut yang menggoda! Apa lagi saat mengucapkan kata 'Menikmati' Naruko benar-benar menggunakan nada imut maksimal. Dan jangan lupa dengan gerakan kecil yang membuat kedua payudara gadis itu agak berguncang.
"Naruko... Jangan paksa aku agar memakanmu di sini!"
"Ara ara. Ternyata Naruto-kun sangat Agresif." Naruko bergumam sensual walau keadaannya dan Naruto dalam posisi yang bisa dikatakan cukup 'berbahaya', tapi tetapi saja gadis perwujudan Makkura itu menanggapi dengan sifat kalem khas miliknya.
"Sayangnya... Ini bukan waktu yang tepat untuk bermesraan Naruto-kun." Naruko balik mendorong Naruto, sehingga posisi awal tubuhnya yang dikekang dan ditindihi tubuh kekar Naruto kini terbalik. "Karena... Kita harus segera mendapatkan Agreas." Bibir mungil itu mendarat tepat di bibir Naruto. Naruko menyesap manis bibir agak tebal namun sexy milik sang inang dengan perlahan, menikmati sensasi menyenangkan disetiap inci bibir merah itu dengan lidahnya.
Sebagai pria sejati Naruto tidak mau tinggal diam untuk tidak andil bagian dalam pergulatan lidah ini. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang polos Naruko, sembari meminta izin kepada pemilik bibir agar membuka jalan akses bagi lidahnya agar dapat menikmati rasa memabukan bak tuak milik sang gadis.
Ahnnn~
Menyadari inangnya merespon bahkan meminta lebih, tentu saja Naruko menyambutnya penuh suka cita. Ia membuka mulutnya lebar sembari melahap seluruh bibir Naruto ganas. Perlahan tapi pasti... Naruto menjelajahi rongga mulut Naruko menyapu bersih liur sang gadis penuh kenikmatan.
Mhnnn~
Suara kecipak terdengar nyaring dan menjadi alunan musik romansa memabukan bagi kedua insan yang kini tengah dilanda asmara. sesekali lidah mereka bertabrakan dan saling bergulat untuk mencari kenikmatan lebih. Ciuman inisiatif dari Naruko ternyata tak sia-sia malah... Sekarang Naruto'lah yang mendominasi ciuman panas tersebut.
"Hah... Hah... Hah~." Naruko menarik paksa bibirnya dari lumatan ganas Naruto untuk sekedar meraup oksigen rakus-rakus. Namun... Belum sempat sang gadis mendapatkan apa yang ia inginkan, dirinya harus kembali merasakan lumatan bengis Inangnya.
Lagi... Untuk kedua kalinya pemuda pemudi itu kembali menautkan lidah mereka. Percampuran dua air liur berbeda gen yang pada logikanya menjijikkan entah mengapa terasa sangat manis bagi keduanya, rasa nikmat yang mampu membuat mereka berdua melupakan daratan, seakan-akan dunia ini hanyalah milik mereka berdua.
"Hah... Hah~ hah~."
Kini keduanya sepakat untuk memisahkan bibir mereka, bukan karena ciuman menggairahkan ini sudah tidak nikmat lagi, bukan pula karena hasrat gejolak nafsu sudah tidak mempengaruhi mereka. Yang jelas... Keduanya setuju menyudahi France Kiss ini karena memang membutuhkan oksigen untuk bernafas, ditambah mereka tahu sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk tenggelam lebih jauh kedalam lautan cinta.
"Nah sekarang... Ayo kita rebut Agreas!" Satu kecupan lembut Naruko daratkan kembali di bibir sang tuan, kecupan singkat namun penuh makna yang mewakili segala perasaan keduanya. Tidak ada nafsu menggebu pada ciuman kali ini, semua hanya untuk menyampaikan perasaan satu sama lain yang tak bisa diungkapkan oleh untaian kata-kata pujangga atau'pun sastra dalam berbahasa.
Berkat itu semua kini... Naruto sadar akan satu satu hal pasti dalam hidupnya. Ia yakin bahwa gadis yang sudah menemaninya sejak kecil, mendampingi dalam senang mau'pun duka, dan selalu menjaganya ini adalah... Tulang rusuknya.
Kedua insan itu larut dalam kasih sayang selayaknya Adam dan Hawa yang diciptakan untuk saling melengkapi.
"Ya ayo kita lakukan... Naruko-chan."
.
.
.
.
.
.
.
.
Crash!
Crash!
Kilauan logam menjadi tanda akhir bagi nyawa dua prajurit penjaga gerbang, saat sebuah katana memenggal kepala mereka secara bersamaan. Darah segar menyembur dari tubuh yang kehilangan pusat kontrolnya, di hadapan dua bangkai iblis itu berdiri tegap seorang pemuda bermata merah sembari mengibaskan katana dalam genggamanya untuk membersihkan noda darah yang melumuri logam tajam tersebut.
Naruto melangkahkan kakinya santai melewati dua mayat penjaga tanpa merasa riskan. Dalam hidupnya hal seperti pembunuhan atau'pun pembantaian sudah tak asing lagi, karena selama masa kecil sampai remajanya dihabiskan untuk terus membunuh membunuh dan membunuh. Mungkin ini memang pekerjaan kotor namun itu adalah resiko sekaligus takdirnya yang dilahirkan di lingkungan keras, klan ninja Arashikage.
Brakh!
Naruto menjejak gerbang masuk itu hingga hacur berkeping-keping. Sebenarnya ini sudah melenceng dari rencananya untuk menyusup diam-diam agar mengurangi resiko pertarungan yang tidak diharapkan, tapi pada kenyataannya, ia sudah dikepung oleh puluhan pasukan iblis.
"Kalau begitu tidak ada cara lain." Meresapi katana andalannya dengan Darkness Power, Naruto membuat ancang-ancang dan bersiap untuk melakukan pembantaian. "Saa... Majulah kalian semua!"
"SERAAAAAANG!"
Darah segar berceceran disana-sini, organ tubuh berterbangan menghiasi langit-langit dan berserakan memenuhi lantai. Tidak ada suara atau'pun jeritan sekecil apa'pun yang dapat terdengar di tempat itu, semua terjadi begitu cepat semua terasa begitu lambat, seakan-akan waktu berhenti berputar untuk mengontrol alur dunia.
Sepuluh... Tiga puluh... Sembilan puluh... Mayat iblis berjatuhan disetiap detiknya dengan anggota tubuh tidak lebih dari 50%. Bagaikan penjual daging yang memotong barang dagangannya cekatan, katana sang Eksekutor memutilasi semua yang berani bertegur sapa dengan kejayaannya..
Tidak ada rasa ngeri atas tindakan itu, tidak ada rasa kasihan di mata merah pemuda itu. Semua dilakukan tanpa penyesalan, semua berjalan seperti seharusnya dan semua memang dibutuhkan untuk mencapai satu tujuan.
Meski harus mengorbankan nyawa iblis tak berdosa_mungkin_ Naruto akan melakukan semua itu tanpa pandang bulu. Pengorbanan selalu dibutuhkan untuk sebuah tujuan karena pada dasarnya kau harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu dan itu adalah hukum sebab-akibat yang berlaku dalam dunia busuk ini.
Crash!
Naruto menusukan katana terbungkus Darkness Power dalam genggamannya hingga menancap cukup dalam di lantai, menembus kulit kepala, melubangi tengkorak pelindung otak, dan mengantarkan nyawa iblis yang mampu bertahan paling akhir dalam pembantaian tersebut.
Ternyata data-data yang dikirimkan Janne sangat akurat dan berguna, karena pada saat ini adalah waktu dimana keamanan Institut Teknologi Agreas sangatlah menurun.
Jika pada waktu normal keamanan Agreas memiliki system pengaman yang dilengkapi X-Ray, jebakan yang berjarak lima meter dengan jebakan lain, dan sepuluh Squad besar yang bertugas di lima titik. Sekarang... Pada waktu ini hanya ada Sembilan puluh penjaga reguler dan sepuluh penjaga khusus yang bertugas. Sedangkan X-Ray dan jebakan lain tidak aktif karena sedang menjalani proses Re-Boot yang dilakukan rutin sebulan sekali.
Jadi... Ini adalah sebuah keuntungan untuk Naruto karena ia tidak perlu membuang-buang tenaganya berlebih untuk sekedar menghabisi seluruh penjaga.
"Le Fay, aktifkan sihir teleport khusus untuk memindahkan seluruh iblis yang ada di Agreas." Naruto memberi perintah kepada Le Fay melalui lingkaran sihir komunikasi di telinganya.
'Ha'i Naruto Onii-sama.'
"Balance Breaker."
Satu kata pemicu terjadinya luapan cahaya emas berkekuatan suci yang dalam sekejap mata meniadakan ratusan pasukan Iblis penjaga gerbang utama istana Lucifer. Ribuan pedang emas melayang disana-sini, tanah emas menyebar luas melingkupi seluruh area pusat pemerintahan Underworld.
"Ini..." Sirzachs Lucifer, melempar pandangan takjub sekaligus geram kepada sesosok pemuda yang kini tengah mengamuk memporak-porandakan daerah kekuasaannya. Ia geram bukan karena tindakan asal-hajar pemuda itu, bukan pula karena Istananya porak-poranda. Kemarahan yang memenuhi Maou Lucifer itu murni dikarenakan jumlah korban jiwa akibat penyerangan orang tak dikenal tersebut sudah benar-benar tidak dapat dimaafkan.
"Anata?" Suara lembut sang istri meredakan sedikit rasa murka di jiwa. Aura kekuatan mutlak yang kapan saja siap menghancurkan, sedikit memudar tak mencemari udara sekitar.
"Grayfia, bawalah Milcast menjauh dari sini." Senyum hangat Sirzachs berikan untuk sang istri tercinta. Entah mengapa untuk kali ini saja, ia tak ingin istri dan anaknya melihat dirinya bertarung. Mungkin memang karena rasa kasih yang begitu besar kepada keluarga sehingga Sirzachs tidak mau keluarganya bersedih jika ia terluka.
"Ta-tapi Anata_." Grayfia tak pernah bisa melanjutkan lagi ucapannya, ketika sebilah jari telunjuk sang Suami membungkam bibirnya rapat. Entah mengapa sifat tenang yang selalu mengelilingi Ratu Lucifer itu kini tidak nampak sedikit'pun. Hanya ada rasa cemas, layaknya seorang istri pada umumnya yang akan khawatir kepada sang suami.
"Aku mohon untuk yang pertama dan terakhir Greyfia. Pergilah dan jangan membantuku, kita berdua sadar sekuat apa musuh yang ada di hadapan kita." Tidak menunggu lama sebagai istri yang patuh pada suaminya, Greyfia langsung pergi membawa 'buah' hasil cinta antaranya dan sang suami.
"Apa'pun yang terjadi..." Greyfia menghentikan langkahnya, detik berikutnya sang Queen berlari dan langsung mencium Sirzachs tepat di bibirnya. "Kau harus pulang dengan selamat." Setelah itu Greyfia pergi bersama Milicast meninggalkan Maou Lucifer sendirian yang siap melakukan tugasnya sebagai Raja kaum Iblis.
Sirzachs memalingkan tubuhnya ke depan. Tepat beberapa meter di hadapanya berdiri seorang pemuda familiar, dengan ratusan pedang emas yang melayang layaknya pengawal pribadi. Pemuda itu menyeringai saat sadar Sirzachs menunjukan wajah syok. "Heh, akhirnya kau datang juga Lucifer-sama."
"Naruto Uzumak_ bukan! wajahmu hanya mirip dengan Naruto."
"Wow! kau hebat sekali sampai-sampai bisa membedakanku dengan Naruto Uzumaki." Pemuda itu menancapkan pedangnya ditanah sebelum melanjutkan. "Seperti yang diharapkan dari Iblis dengan eksistensi yang melebihi kaum iblis itu sendiri." Pemuda itu mengacungkan pedang emas miliknya tepat ke pada Sirzachs. "Perkenalkan aku adalah Naruto Lucifer Namikaze dan orang yang akan melenyapkanmu!"
Flash!
Tepat di akhir kalimat Naruto, ratusan pedang emas yang sejak tadi melayang disekitarnya melesat membom-bardir Sirzachs. Menyadari dirinya terancam Sirzachs menciptakan puluhan lingkaran sihir pertahanan untuk memblok serangan. Tidak sampai disitu Maou Lucifer itu langsung melompat kebelakang dan menembakan Powor of Destruction karena ia sadar pertahanannya tidak akan mampu bertahan lama.
Blaaar!
Ledakan hebat terjadi detik berikutnya tanpa melihat efek dari benturan dua serangan tersebut, Sirzachs langsung menciptakan sepuluh bola Power of Destruction yang mengelilinginya.
"Lumayan. Tapi kali ini... Jangan harap bisa menghindar."
Untuk kedua kalinya dalam hidup abadinya Sirzachs harus dibuat syok dalam pertempuran. Jika dulu ia dibuat syok karena kekuatan Rizevim Livan Lucifer mampu menon aktifkan Sacred Gear dalam Civil War, sekarang ia harus kembali syok saat sebuah pedang berkekuatan suci setara True Longinus berusaha membelah tubuhnya. Beruntung bagi Sirzechs, bola-bola Power of Destruction miliknya memblok serangan itu tepat waktu, andai meleset satu detik saja ia yakin akan menerima kerusakan yang fatal.
"Apa tujuanmu Naruto!" Berbekal keahlian tingkat tinggi dalam mengontrol Power of Destructio, Sirzachs merubah bentuk bola-bola Demonic Power khas miliknya menjadi tangan besar yang langsung mencengkram pedang emas Naruto dan melemparkannya.
"Tujuan? Entahlah..." Naruto melompat ke belakang menghindari amukan Power of Destruction berbentuk tangan milik Sirzachs, sembari menonaktifkan Sacred Gearnya. "Mungkin demi masa depan. Tapi jika kau mau jawaban yang lebih jelas. Lebih baik tanyakan saja kepada Naruto Arashikage."
"Apa hubunganmu dengan Teroris itu?! Dan kenapa wajahmu juga mirip dengannya!" Tidak ada jawaban dari Naruto. Pemuda itu hanya menunduk membiarkan untaian poni rambutnya menutupi wajah. Merasa percuma dengan rencana negosiasinya, Sirzachs langsung melepaskan energi Demonic Power secara gila dari tubuhnya. Tanah berguncang hebat, lantai pada dipijaki kaki Maou itu remuk tak tersisa diikutinya hawa intimidasi tinggi yang bahkan dapat membuat seorang iblis kelas atas berlutut tak berdaya. Kekuatan penghancur murni khas keluarga Great King Bael fokus pada satu titik di tubuh Sirzachs Lucifer.
"Jadi kau tidak mau bicara? Baiklah kalau begitu, aku akan benar-benar serius dari sekarang."
"Huh? Jadi kau mau menggunakan True Form? Ok aku terima tantanganmu."
[Power of Destruction : True Form!]
[Absolute Power of Destruction : True Form]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Unlimeted" ledakan kekuatan menyebar luas mengikis tahan, menghancurkan bangunan, dan merubah struktur surga tingkat satu menjadi padang pasir bermandikan ratusan pedang disekelilingnya.
"Blade Work." Langit cerah menghitam, kegelapan terlahir dari inti cahaya menyelimuti langit surga. Pasukan malaikat yang mengepung sumber penyebab fenomena tersebut lenyam dari pandangan tergantikan oleh sejumlah Gear raksasa yang melayang bebas disana-sini.
[Sandal Phone : Adonai Melek.]
Armor biru dengan kesucian dalam setiap lengkuk ukiranya membalut tubuh Naruto Angel, enam pasang sayap emas tumbuh dari balik tubuhnya, singgasana Raja turun dari langit, seakan mempersilahkan pemuda itu untuk menggapai pedang kebanggaan dan menduduki tahta sang Raja. "Michael, Gabriel, Uril, dan Rafael... Harusukah kita memenuhi takdir nista ini?".
.
.
.
.
.
.
To Be Continued. . . .
Ok! Bagi yang bingung, bacalah sedikit bocoran di bawah ini :
DxD 1 : Naruko Otsutsuki & Naruto Arashikage. (dari fic The DxD/ The Devil Ninja Shadow.)
DxD 2 : Naruto Lucifer Namikaze. (Dari Fic : Revenge of The Absolute Satan.)
DxD 3 : Naruto The Embodiment Angel. (Dari Fic : Knight of The Embodiment Angels)
DxD 4 : Naruto Sage of The Six Path. (Dari Fic : Naruto DxD : In Rain You Lost.)
DxD 5 : Android Mx-01 & Naruto no Aogiri A.K.A One-Eyed Fox. (Dari Fic : Before RE; Dan Half Blood : Change The World. Crossover NarutoXTokyo Ghoul.)
DxD 6 : - ?
DxD 7 : - ?
Unknow : Naruto Taicho, Bolt, Skull, Dragon.
Death : Azazel.
Issue For Next Chapter - Krisis Tiga Fraksi.
Salam Anti-Mainstream!
