Disclaimer : Wan Pisu akan selalu jadi milik Eiichiro Oda, fic gak mutu ini.. ya punya gw lah.

Summary : mulai chap selanjutnya sampe akhir tidak ada lagi Hancock, hehehe,,, untuk menghargai perjuangan Luffy, Ace memutuskan untuk ikut berlayar dengan Luffy hingga dia bertemu dengan Kurohige. Kru topi jerami memutuskan untuk mengantar Hancock ke pulau Kuja, Hancock meminta Luffy dan nakamanya tinggal selama satu atau dua hari, Ace mulai menyadari kalau dia suka sama Nami, meski dia tahu Nami suka sama Luffy. Apakah Luffy menyadari perasaannya pada Nami?

Deskripsi : mungkin ada yang bertanya-tanya, judulnya lovely LuNa tapi isinya jauh dari pairing LuNa. Jawabannya cuma satu, ada yang tahu pribahasa ini gak, witing tresno jalaran suku kulino, maaf ya kalo salah tulisannya. Kata rahul dalam kuch kuch hotta hai, cinta adalah persahabatan dan kata orang cinta itu bisa tumbuh karena sering bertemu. Cinta itu proses, seperti itu juga cinta Luffy dan Nami di fic ini, karena itu pairing LuNa-nya belom keliatan, maaf ya kalo pada kecewa sama fic gak mutu aku ini, hehehe..

Warning : fic ini mungkin bersifat OOC.

THIS FEELING

Caimie sedang berjalan-jalan di Shabondy Archipelago bersama Pappag dan Hachi, mereka bertiga bermaksud mencari Luffy dan kawan-kawan karena sudah hampir seminggu ini, Luffy tidak kelihatan batang hidungnya. Caimie yang sedari awal emang punya firasat buruk tentang bajak laut topi jerami mulai khawatir karena tidak kabar apa-apa dari Luffy, apalagi Rayleigh ikutan menghilang sejak hari itu. Hachi menyadari kegelisahan yang melanda Caimie, tidak bisa berbuat apa-apa karena dia juga khawatir pada Luffy dan nakamanya.

Sementara itu Franky dan Usopp sedang memeriksa keadaan kapal di groove 41, mereka berdua memang tidak ikut pergi menyelamatkan Ace, Franky bertugas memeriksa mesin kapal dan keadaan kapal selama mereka tinggal, sedangkan Usopp bertugas untuk memeriksa kelengkapan kapal dan persediaan kapal. Usopp dan Franky pun mencari bahan makanan dan persediaan lainnya di Shabondy, tapi dengan menyamar tentunya. Untungnya di jalan mereka berdua bertemu dengan Caimie dan Hachi, jadi mereka meminta tolong pada Hachi untuk membantu mereka mencari bahan makanan.

Kru topi jerami lainnya sudah hampir sampai di Shanbody, Luffy meminta Chopper, Brook dan Sanji untuk mengamati keadaan di Shanbody. Sanji dan Brook pun pergi ke Shanbody dengan menaiki gagak raksasa.

"Brook, menurutmu apa marinir-marinir itu masih ada disana?" tanya Sanji sambil terus mengamati Shabondy dari udara.

"Sanji, lihat, bukankah itu Usopp?" bukannya menjawab, Brook malah balik nanya.

"Benar, ayo kita kesana," ajak Sanji lalu terbang rendah ke arah Usopp.

Sanji dan Brook pun turun di tempat yang tidak jauh dengan Usopp, Sanji menyuruh Chopper untuk memberitahu Luffy. Chopper pun kembali ke tempat Luffy. Sanji menghampiri Usopp, tapi begitu dia melihat Caimie. Sanji melupakan tujuannya datang ke Shanbody, dengan mata berbentuk hati dan kaki yang berputar-putar seperti tornado itu, Sanji menyingkirkan Usopp dan berlari ke arah Caimie hingga tanpa sadar dia menginjak Pappag, bintang laut yang malang.

Belum sempat Sanji menghampiri Caimie, dia sudah ditahan Franky dari belakang. Caimie sudah khawatir dengan Sanji, Brook memberitahukan pada Franky kalau Ace, kakakkya Luffy, hampir di eksekusi. Franky jelas terkejut mendengarnya, Portgas D Ace, komandan divisi 2 bajak laut Kurohige adalah kakaknya Luffy, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah Ace adalah anak bajak laut Gold D. Roger. Usopp pun ikut terkejut saat mengetahui Ace adalah anak bajak laut Gold D. Roger, begitupun dengan Hachi, Caimie dan Pappag. Sanji masih berputar-putar di depan Caimie, sampai dia dijitak dengan Caimie.

ZZZZ

"Ace, sebenernya kenapa kau bisa hampir dieksekusi?" tanya Nami saat mereka sudah hampir sampai di groove 41.

"Ceritanya sangat memalukan, aku malas menceritakannya," jawab Ace sekenanya.

"Oh, gak apa-apa kok, lagi pula aku gak maksa," ucap Nami lalu memandang Ace, namun Nami berpikiran lain. Ace tampak sedih saat mengatakan itu meski dia memaksakan untuk tertawa.

"Sudahlah Ace, kau jangan sedih gitu," hibur Nami sambil menepuk pundak Ace. Ace meringis memegangi pundaknya lalu tertawa bersama Nami.

XXI

Chopper pun kembali ke tempat Luffy dan memberitahukan situasi dan kondisi di Shanbody, Luffy menyuruh nakamanya untuk kembali ke Thousand Sunny sebelum para angkatan laut itu menemukan mereka lagi, namun karena muatan gagak raksasa maksimal empat orang, jadi sesi antar jemput mugiwara pirates terbagi menjadi lima kelompok.

"Baiklah, sekarang kita bagi saja pembagiannya, aku dan Nami, Hancock dan Ace, Chopper, Zoro dan Robin," ujar Luffy membagi kelompok sesi antar jemput, "Ada yang keberatan?" tanyanya.

"Aku ingin bersamamu saja Luffy, aku tidak mau bersama prisoner ini," protes Hancock sambil menunjuk Ace.

"Hei, wanita angkuh, siapa juga yang ingin bersamamu, sampai kapanpun aku tidak sudi bersama wanita sok cantik, sichibukai angkuh sepertimu!" balas Ace yang tersinggung dengan 'julukan prisonernya'.

Semua orang di balon udara itu kecuali Luffy dan Brook menghela nafas, saling adu argumen antara Hancock dan Ace terus berlanjut. Tak ada yang bisa menghentikan pertengkaran mereka berdua, Robin pun angkat bicara tentang pembagian kelompok yang mengundang pro dan kontra itu.

"Kapten, aku dengan yang lain saja asalkan jangan dengan Zoro," desak Robin.

Kini semua mata tertuju pada Robin, mereka berpikir-pikir ada apa gerangan dengan Robin. Robin bukan orang yang suka mengeluh, dia cenderung cuek dan tak pernah protes dengan pembagian kerja atau apapun itu. Sekarang tiba-tiba Robin bilang dia tidak mau sekelompok dengan Zoro, sampai Luffy pun terkejut mendengar perkataan Robin barusan. Ada apa dengan Robin, kenapa dengan Zoro, dan mereka pun menyimpulkan bahwa Zoro mungkin bau badan makanya Robin tidak mau dekat-dekat dengan Zoro.

"Oke, Robin dengan Ace, lalu Hancock dengan Zoro, sekarang ngga ada yang protes lagi kan, ini keputusan kapten!" ucap Luffy tegas.

"Luffy, aku dengan siapa?" tanya Chopper polos.

"Aku tidak mau, aku mau denganmu saja," rengek Hancock manja sambil menjauh dari Zoro dan memandang Zoro dengan tatapan merendahkan.

"Cih, sok manja, udah sok cantik, sok manja lagi," cibir Ace lalu menaiki gagak raksasa.

Adu argumen antara Hancock dan Ace berlangsung lagi, namun adu argumen itu tidak berlangsung lama karena Ace, Chopper dan Robin sudah pergi duluan ke Thousand Sunny. Hancock tetap bersikeras ingin sekelompok dengan Luffy, tapi Luffy seakan tidak peduli dengan rengekan Hancock.

"Luffy, kau suka ya dengan Nami," tebak Hancock memandang Nami sinis, Nami pun blushing mendengar ucapan Hancock barusan.

"Aku tidak mengerti, dan apa itu suka, apa sejenis makanan dari daging?" tanya Luffy memasang tawa khasnya.

"Sudahlah Luffy, biar aku dengan Zoro, kau dengan Hancock saja," Nami memberikan solusi.

Gagak raksasa pun kembali dari mengantar Ace dan Robin, Zoro dan Nami pun bergegas menaiki gagak raksasa namun dicegah oleh Luffy. Dengan alasan yang dibuat-buat, Luffy pun memutuskan untuk pergi berempat ke Thousand Sunny. Selama perjalanan, semuanya diam tanpa kata.

SSSS

Back to Shanbody..

Usopp dan Sanji sudah menyelesaikan shopping persediaan kapal mereka selama perjalanan ke red line. Shopping disini berarti membeli keperluan seperti bahan makanan selama satu tahun, membeli 'bahan bakar' kapal, dan keperluan lainnya. Hachi dan Caimie juga Pappag sudah berada di Thousand Sunny. Ace dan Robin sibuk membantu Franky membersihkan kapal mereka yang terlihat usang.

Luffy, Nami, Hancock, dan Zoro pun tiba di Shabondy. Mereka berempat masih bertahan dalam sikap diamnya, keadaan ini mengundang tanya dari Franky. Hachi memperhatikan Hancock dengan seksama seakan dia pernah bertemu dengan Hancock sebelumnya. Matanya membulat dan rahangnya hampir terjatuh.

"Kau, Kau, Kau, siapakah kau, kau, kau," Hachi malah dangdutan, yang lain sweat dropped. Nami dengan sekuat tenaga menjitak kepala Hachi, hingga Hachi meringis kesakitan,"Hei, apa kau tidak mengingatku?" tanya Hachi pada Hancock sambil menunjuk mukanya sendiri.

Hancock memiringkan kepalanya berusaha mengingat, Hancock menggelengkan kepalanya. Hachi menunjuk tanda dikepalanya, seakan meyakinkan Hancock kalau mereka memang saling kenal. Hancock terdiam cukup lama, "Aku benar-benar tidak mengenalmu, kau ini siapa?" sahut Hancock dingin. Hancock hanya tidak ingin identitas aslinya terbongkar, identitas yang selama ini dia tutupi dan hanya Luffy yang tahu.

"Oi, kau tak perlu malu untuk mengakuinya, kita berdua memang mantan budak," Hachi tetap bersikeras dengan pernyataannya itu. Hancock tidak bisa lagi mengelak, identitasnya sudah terbongkar. Pernyataan Hachi sungguh menghujam jantung Hancock, Hancock tidak bisa berkata-kata, dia hanya meneteskan airmata.

Nami yang merasa senasib dengan Hancock mencoba menenangkannya, tapi bukannya berterimakasih Hancock menghempaskan tangan Nami hingga Nami hampir terjatuh.

"Aku tahu rasanya menjadi budak, kau beruntung karena kau bisa kabur. Aku tidak pernah punya kesempatan itu sebelum bertemu dengan Luffy, di depan mataku, Ibuku dibunuh dengan sadis. Arlong menjadikanku budak hingga aku bertemu dengan Luffy, aku dipaksa untuk membuatkan peta untuk mereka. Kau tahu, rasanya sakit sekali saat kau mengingatnya, kau beruntung karena kau BUKAN DIJADIKAN BUDAK OLEH ORANG YANG TELAH MEMBUNUH IBUMU SENDIRI!!" tangis Nami pecah, Hancock terdiam mencerna setiap perkataan Nami padanya.

Thousand Sunny kembali hening, tak ada gerakan apapun kecuali….

KRUUYUKKK,, GRROOOKKK…

Luffy sudah mendekati limit, perutnya terus mengeluarkan suara-suara aneh dan disusul oleh Zoro dan lainnya. Luffy meminta Sanji untuk memasak menu special untuk merayakan berkumpulnya bajak laut topi jerami. Luffy mendekati Nami dan memberikannya topi jerami, "Kami akan menunggumu di meja makan," Luffy pun pergi ke meja makan.

Bayangan masa lalu itu terus menghantui Nami hingga saat ini, Hachi berjalan ke arah Nami, Hachi menepuk pundak Nami dan berkata,"Maafkan aku Nami, aku juga tidak mengerti kenapa Arlong seperti itu, dia sangat berbeda dengan Jinbei. Arlong memang licik, bahkan dia selalu memperalat kami, kami tak pernah dianggap nakama olehnya, aku sangat bersyukur saat Luffy datang menyelamatkanmu. Sejak saat itu, aku berhenti menjadi bajak laut dab beralih menjadi pedagang takoyaki, hingga aku bertemu dengan Caimie dan Pappag," Hachi pun meninggalkan Hancock dan Nami di dek kapal, dia mengikuti lainnya ke ruang makan.

=Lover Mind=

"Sepertinya kita harus menunda perjalanan kita ke red line, kita harus ke Pulau Kuja. Maaf, kalo keputusan ini membuat kalian keberatan, tapi Hancock sudah menyelamatkan hidupku, aku hanya tidak ingin gelar Shicibukainya ditanggalkan begitu saja," Luffy memandang nakamanya satu per satu, meminta persetujuan kepada yang lain.

Ace terus melanjutkan makan malamnya, Zoro sudah selesai makan dari tadi memilih untuk pergi ke kamarnya. Robin berada di ruang pengintai, dia tidak ikut makan malam bersama yang lain. Seharian ini dia terus berada di ruang pengintai, memikirkan sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Sanji sedang menyiapkan makan malam khusus Robin, jadi dia hanya mendengarkan dari dapur saja. Chopper dan Usopp juga sepertinya setuju-setuju saja, semuanya diam tanpa memberikan jawaban.

"Luffy, kau adalah kapten kami, jadi apapun keputusanmu, kami pasti ikut!" jawab Nami yang disambut anggukan oleh lainnya termasuk Ace yang masih sibuk menngunyah makannya.

"Pulau Kuja itu seperti apa Hancock-san?" tanya Brook antusias.

"Pulau Kuja itu bisa dibilang Pulau Wanita, karena di pulau kami, semua penduduknya adalah wanita," jawab Hancock singkat, padat dan jelas.

"Wanita beneran kan?" tanya Sanji saat memasuki ruang makan sambil menghidangkan makanan penutup.

"Tentu saja, mereka itu wanita beneran, emang kau pikir aku ini banci lawang?" jawab Hancock ketus melemparkan death glare pada Sanji Dia tersinggung dengan pertanyaan Sanji barusan, sejujurnya Sanji menanyakan hal itu karena dia masih trauma dengan kerajaan kammabakka tempat dia terpental sebelumnya.

"Maaf, aku hanya trauma saja karena aku pernah dikejar-kejar oleh penduduk kerajaan Kamabakka," ucap Sanji lirih.

Semua yang mendengar kisah Sanji hanya bisa tertawa, seorang Sanji dikejar-kejar dengan banci. Sanji melengos lemah, namun dari luar ruang makan terdengar tawa membahana. Zoro tidak sengaja mendengar pengakuan Sanji, Zoro terus tertawa terbahak-bahak tanpa menyadari Sanji sudah berada di belakangnya. Zoro dan Sanji pun memulai pertarungan gak penting mereka, "Cih, hanya segini kekuatanmu atau kau sudah menjadi bagian dari mereka, ban-ci la-wang," ucap Zoro dengan nada mengejek. Sanji jelas tersinggung dibilang banci lawang, "Yaoi," balas Sanji tak kalah menyakitkan.

Mereka kembali bertarung, saling adu argumen tak penting lainnya. Robin memperhatikan pertarungan itu dengan seksama, bukan pertarungan tak penting itu yang membuat Robin memperhatikan dengan seksama, melainkan pria berambut hijau itulah yang menjadi perhatiannya. Ingatannya kembali saat mereka mengantarkan Perona, entah kenapa dia merasa sedih saat Zoro memperhatikan Perona. Ada yang aneh dari tatapan Zoro waktu itu, itu membuatnya hatinya sakit setiap mengingat kejadian itu.

Bukan hanya itu, dia harus menerima kenyataan bahwa Zoro tidak pernah memandangnya sebagai seorang wanita, Robin mulai menyadari perasaan yang dia rasakan adalah Cinta. Dia memang sudah menyukai Zoro sejak dia bergabung dengan Luffy, betapa senangnya dia saat mengingat Zoro menyelamatkannya waktu di Skypea. Robin mulai menitikkan airmatanya, ketika Nami datang mengantarkan makan malam untuk Robin ke ruang pengintai.

"Robin, ada apa?" tanya Nami sembari meletakkan makan malam yang dibawanya disamping Robin, "Sekarang, tolong ceritakan padaku kenapa kau menangis?"

"Umm," Robin menarik nafas lalu menghembuskannya,"Aku jatuh cinta pada Zoro, Nami," jawab Robin dengan volume sekecil mungkin. Nami membelalakkannya matanya, tak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh Robin. Nami terlihat shock saat Robin mengatakan bahwa dia suka sama Zoro. 'Bagaimana bisa seorang Robin jatuh cinta dengan Zoro, bagaimana caranya Robin bisa ditaklukkan oleh Zoro, oke kalau Sanji masih mungkin, tapi ini Zoro, Zoro kan selalu cuek dengan wanita, bahkan aku saja meragukan apakah dia pernah menyukai seorang wanita,' begitulah yang dipikiran Nami saat itu.

Nami masih diam membeku, dia tidak mampu berkata-kata. Robin khawatir dengan Nami, lalu mengguncang-guncang tubuh Nami.

"Kok bisa sih, Robin bagaimana cara kau bisa jatuh cinta dengan Zoro?" tanya Nami tapi Robin hanya menjawab dengan senyuman penuh arti.

"Ya bisalah, dasar wanita bodoh!" jawab seorang wanita berambut panjang yang baru saja naik ke ruang pengintai. Yup, orang itu adalah Boa Hancock.

Nami hampir saja mengamuk di ruang pengintai itu kalau tidak dihentikan oleh Robin. Hancock hanya tersenyum sinis pada Nami. Hancock pun duduk bersama keduanya, niatnya dia ingin minta maaf sama Nami atas sikapnya di dek kapal, tapi setiap kali melihat Nami. Hancock selalu teringat Luffy, makanya dia jadi ketus lagi sama Nami.

"Denger ya, wanita galak dan bodoh, cinta itu tidak mengenal rintangan, dia bisa datang kapan saja sesuka hatinya, tapi saat dia pergi akan ada luka yang dalam yang ditinggalkannya. Cinta itu proses, cinta juga perlu pengorbanan. Jika kau mencintai seseorang, kau ingin selalu dekat dengannya, saat dia menjauh darimu, ada yang hilang dari hatimu, saat dia tak disisimu, maka kau akan merasakan rindu yang mendalam. Cinta tak mengenal usia, kau takkan bisa menolak kedatangannya, cinta bukan sesuatu yang bisa dijelaskan oleh kata-kata, cinta itu perasaaan dimana saat kita bersama dengannya, kita akan merasa aman dan nyaman, saat kita jauh darinya, kita merasa kehilangan, dia selalu dipikiran kita, sekarang pejamkan matamu lalu rasakan, bayangkanlah," jelas Hancock panjang lebar.

Nami pun memejamkan matanya cukup lama lalu membuka matanya. Robin sedang memakan makanan yang dibawa Nami tadi. Hancock sudah pergi saat dia pejamkan mata. Semburat merah muda muncul di pipi Nami, Nami memegang wajahnya yang masih terasa panas.

'Kenapa Luffy yang muncul dipikiranku, ah ini gak mungkin,' pikir Nami.

Nami menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk menepiskan pikirannya tentang Luffy, tapi pikiran dan kenangan itu terus mengalir di ingatan Nami. Robin hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu, matanya lagi-lagi menuju ke luar jendela ruang pengintai. Zoro dan Sanji sudah selesai bertarung, Zoro yang merasa diperhatikan akhirnya mendongakkan kepalanya, dilihatnya Robin sedang memperhatikannya dari ruang pengintai. Mereka saling bertatapan cukup lama, hingga Robin memalingkan wajahnya dari Zoro.

=broken angel=

Back to impel down….

"Bagi semua kapten dan wakil kapten juga para shicibukai, mulai hari ini kita akan menyataan perang dengan Mugiwara Pirates. Mugiwara Luffy berharga 550 juta Belli, Nami berharga 80 juta belli, Nico Robin berharga 100 juta, Portgas D. Ace berharga 600 juta dan yang lainnya tetap. Sebagai ganti eksekusi Ace, dua hari dari sekarang kita akan mengadakan eksekusi besar-besaran, cepat cari mereka!" perintah admiral Sengoku.

"Admiral, bajak laut Kurohige, Monkey D. Dragon, Silver Rayleigh, dan Shank sudah pergi daritadi, siapa yang mau dieksekusi?" tanya salah seorang anggota angkatan laut.

"TANGKAP MEREKA HIDUP ATAU MATI, ATAU KALIAN YANG MENGGANTIKAN MEREKA!!"

Para kapten, wakil kapten, dan shicibukai pun berbondong-bondong memburu mugiwara pirates. Para shicibukai yang tidak ikut hanya Jinbei saja. Diantara semua kapten, kapten Smokerlah yang paling bersemangat dengan pemburuan ini, ditemani wakil kaptennya, Tashigi yang terus melatih kemampuan pedangnya.

Back to Shanbody archipelago……

Bajak laut topi jerami pun meneruskan perjalanannya ke pulau Kuja, Sanji dan Brook semangat sekali ketika mereka akan ke pulau Kuja. Sepanjang perjalanan mereka berdua terus menyanyikan lagu bink sake.

Angin membelai lembut rambut hitam Luffy, ikan-ikan kecil saling beriringan. Luffy memandang ombak yang saling berkejaran di lautan, Luffy tersenyum saat dilihatnya navigatornya mendekat. Nami ikut memandang ombak-ombak yang saling berkejaran itu disamping Luffy.

"Ah, kenapa aku baru menyadarinya ya," Luffy berkata entah pada siapa,"Ternyata ombak itu cantik banget ya."

"Heh, Luffy, kau ini aneh, apa bagusnya ombak itu?" tanya Nami menanggapi pendapat Luffy.

Luffy memberikan senyum khasnya, dia berbalik memandang Nami,"Memang sih ombak itu ganas, terkadang menenggelamkan, tapi tidakkah kau menyadarinya, coba perhatikan baik-baik. Pasti kau akan menyadarinya bahwa ombak itu sangat cantik, aku suka ombak."

Nami merasakan wajahnya memerah, hormon adrenalinnya bekerja dengan baik. Jantungnya berdegub kencang saat Luffy mengatakan itu, dia merasa bahwa kata-kata itu ditujukan untuknya. Luffy pun merasakan hal yang sama, dia tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Untuk pertama kalinya, dia memikirkan hal lain selain impiannya dan daging. Untuk pertama kalinya, jantungnya berdegub kencang saat disamping wanita, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia bisa mengatakan kata-kata seperti itu. Keduanya tenggelam dalam perasaan masing-masing. Nami pun pergi ke dapur meninggalkan Luffy sendiri.

Tak lama setelah Nami ke dapur, Hancock datang menghampiri Luffy yang sudah kembali duduk di kepala sunny. Luffy masih memandang lautan, dia hanya melihat kedatangan Hancock sekilas lalu memandang ombak lagi. Hancock mendekati Luffy dan memintanya untuk turun dari atas kepala sunny.


"Makan siang sudah siap," kata Sanji sembari menghidangkan makan siang untuk teman-temannya. Sanji celingak-celinguk mencari seseorang yang biasanya selalu ada.

"Ada yang lihat dimana Luffy gak?" tanya Sanji masih celingak-celinguk.

"Biar aku saja yang memanggilnya," Nami beranjak dari tempat duduknya.

"Nami-cwan, tolong sekalian panggil Robin-cwan ya," tambah Sanji.

"Nami, biar aku saja yang panggil Robin," ucap Zoro beranjak dari tempatnya duduk.

Nami kembali ke tempatnya bersama Luffy tadi, Nami mengurungkan niatnya untuk menyuruh Luffy makan siang saat dilihatnya Luffy bersama Hancock. Luffy melihat ke arah Nami dan menghampirinya, "Nami, ada apa?" tanya Luffy. Nami menjelaskan maksud kedatangannya pada Luffy, Luffy pun mengajak Nami kembali ke ruang makan dan meninggalkan Hancock disana sendirian.

"Hancock, aku ke ruang makan duluan ya!" seru Luffy meninggalkan Hancock sendirian.

Hancock pun kembali ke ruang makan, sebelum ke ruang makan, hancock melihat Zoro dan Robin sedang berbicara serius. Mereka bertengkar, Robin sepertinya habis menangis. Zoro berusaha menenangkannya, tapi Robin mendorong Zoro pelan. Hancock pun kembali ke ruang makn dengan wajah membingungkan.

"Hancock-cwaan, apa kau sakit?" tanya Sanji mendekati Hancock.

"Ah, tidak apa-apa, Sanji-kun, apakah Robin dan Zoro itu pacaran?" tanya Hancock balik.

"Nggalah, si marimo kan tidak pernah memikirkan wanita," jawab Sanji tertawa kecil.

Sanji kepikiran dengan kata-kata Hancock, dia sebenarnya merasa ada yang aneh dengan sikap Zoro tapi tidak tahu apa. Sanji terus memikirkan keanehan itu, tapi yang tidak kalah aneh adalah Luffy. Si perut karet sekaligus kapten mereka yang bodoh itu benar-benar aneh, biasanya dia selalu mengambil makanan semua krunya tapi sekarang dia hanya makan makanannya sendiri, meski sesekali dia juga mengambil jatah yang lain. Aneh karena hanya makanan Nami yang tidak disentuh oleh Luffy, aneh karena beberapa kali dia memergoki Luffy memandang Nami dengan penuh arti, keanehan ini terus menyita pikiran Sanji hingga tanpa sadar makanannya sudah habis dimakan Luffy.

Zoro kembali dengan tangan hampa, dia gagal membujuk Robin untuk makan siang. Sanji memperhatikan Zoro, meski dia bersikap dingin seperti biasa namun Sanji bisa membaca raut wajah sedih di wajah Zoro yang berkerut itu. Apa yang terjadi dengan Zoro dan Robin, Robin bahkan tidak pernah mau bertemu dengan Zoro, Robin mendiami Zoro. ini semua sungguh aneh, apa yang sebenarnya terjadi. Sanji pun menyerah dalam pikirannya sendiri, Robin pun datang dengan mata sembab sepertinya baru saja menangis.

"Oi, marimo sialan, apa yang kau perbuat dengan Robin-cwan?!" teriak Sanji frustasi, dia sudah tidak tahan lagi dengan pikiran-pikiran aneh yang membuatnya hampir setengah gila.

"Apa, aku tidak berbuat apa-apa!" jawab Zoro nyolot.

"Robin menangis karena kau kan, sudahlah mengaku saja," tuduh Sanji.

"Aku gak tahu, kenapa sih, tanya aja sama Robin kenapa dia menangis," teriak Zoro ngga terima dituduh sepert itu.

BLETAKK.. BLETAKK..

Nami menjitak kepala Sanji dan Zoro dengan sangat keras hingga kepala mereka benjol. Mereka meringis kesakitan, Sanji dan Zoro kembali ke tempat duduk masing-masing dan hendak melanjutkan makannya tapi, "Mana makananku?" Sanji mencak-mencak di ruang makan.

"Aku kira kau tidak mau, jadi kumakan saja," jawab Luffy innocent.

Sanji pun kembali ke dapur lalu kembali lagi ke ruang makan. Wajahnya merah lalu keluar asap dari hidung dan telinganya, rupanya makanan cadangan di dapur sudah habis. Sanji sudah kayak Zombi kelaparan, diapun memandang Luffy tajam dan mengirim death glare pada Luffy.

"LUFFY!" teriak Sanji marah,"Kenapa kau menghabiskan semua makanan cadangan di dapur?!"

=songongGalz=

Bajak laut topi jerami sudah sampai di pulau Kuja dengan selamat, Hancock memerintahkan untuk membuka pintu selamat datang ke pulau Kuja. Luffy masih terikat dengan mulut diikat dengan serbet. Sudah dua hari ini, Luffy tidak dikasih makan sama Sanji. Sanji juga sengaja memasak makanan dengan sangat sederhana, setiap kali ditanya,"Oi, Sanji, kenapa makanan hanya segini?" Sanji akan menjawab, "Persediaan makanan kita sudah hampir habis," tapi itu hanya untuk para pria saja. Para wanita tetap mendapatkan makanan seperti biasa, yang selalu protes dengan pembagian makanan itu tentu saja para pria terutama Zoro.

Luffy, dia sama sekali tidak dibuatkan makanan. Kaki dan tangannya diikat, mulutnya diplester. Pintu gerbang pulau kuja sudah di buka, akhirnya Sanji melepaskan ikatan Luffy dan memberikannya makanan yang banyak. Alasannya karena Sanji sedang senang karena dia akan melihat para wanita cantik dan seksi setipe Hancock, setidaknya itulah yang ada dibayangan Sanji dan Brook.

Thousand Sunny mulai memasuki gerbang pulau Kuja, para kesatria pulau Kuja sudah berkumpul untuk menyambut Hancock.

"Kyaa, Hebihime-sama," seru penduduk pulau Kuja.

Bajak laut topi jerami beserta Hancock dan Ace pun turun dari Thousand Sunny. Sweetpea dan Aphelandra juga ada diantara kerumunan itu. Hancock berjalan melewati kerumunan itu, diikuti oleh Ace dan bajak laut topi jerami.

"Nenek Nyon, siapkan keperluan mereka ya, tolong siapkan kamar mereka di istanaku!" perintah Hancock lalu pergi ke istananya.

"Luffy-kun," sapa Aphelandra dan Sweetpea.

"Hey, kalian berdua. Kenalkan itu kakakku Ace, dan mereka ini nakamaku," Luffy memperkenalkan kakak dan nakamanya.

"Aku Aphelandra," sapa wanita bertubuh paling tinggi dan berambut panjang.

"Kalau aku Sweetpea," sapa wanita bertubuh besar dan rambutnya dikepang.

"Oya, mereka ini yang telah menyelamatkanku saat aku terdampar di pulau ini," kata Luffy.

"Sebenernya bertiga tapi Margaret sedang berlatih di hutan," jawab Sweetpea.

Bajak laut topi jerami dan Ace ditemani Aphelandra serta Sweetpea mengajak mereka mengelilingi pulau Kuja, tidak seperti biasanya kali ini Sanji tampak kecewa dengan kunjungan ke pulau kuja. dia terus merengut seakan mengatakan bukan wanita seperti ini yang ingin kulihat, Brook tampak antusias dengan pulau kuja, meski dia sudah tidak punya panca indera lagi tapi rohnya masih merasakan ada banyak wanita disekitarnya, Robin masih tetap menghindari Zoro namun Zoro yang tidak peka itu malah cuek meski sebenernya dia merasa aneh dengan sikap Robin. Franky bersikap biasa saja ketika melihat pemandangan pulau Kuja, Usopp terus bercerita bualannya pada Aphelandra dan Sweetpea dan anehnya keduanya percaya dengan bualan itu. Diam-diam Zoro memperhatika Robin yang berjalan bersama Nami di depannya. Mengapa dia baru sadar ya, ternyata Robin itu manis juga, dia dewasa, pengertian, dia juga cantik. Memikirkan hal itu membuat Zoro menyuratkan semburat merah muda di pipinya. Ace menikmati kegiatan barunya, yaitu memandang wajah Nami secara diam-diam alias curi-curi pandang, tanpa disadarinya ternyata Luffy melihat Ace memandang Nami terus-menerus. Luffy merasa ada yang menusuk hatinya saat dia melihat Ace memandang Nami dengan lekat.

"Sekarang, kita sudah sampai di restaurant terbaik kami, kami jamin makanan disini menggugah selera makan kalian, benarkan Luffy?" Sweetpea menanyakan pendapat Luffy.

"Iya, itu benar, dagingnya sangat enak sekali," jawab Luffy antusias.

Mereka pun memasuki restaurant itu, Sweetpea memesan meja untuk mereka semua. Hancock yang baru saja datang ikut bergabung dengan mereka, sang koki menghidangkan masakan terbaik mereka dan lima drum sake untuk merayakan kepulangan Hancock dan kedatangan Luffy. Sanji mencicipi setiap maskan yang dihidangkan, sebagai orang yang mencap dirinya sebagai koki terhebat di dunia, 'Enak banget, bahkan ini lebih enak dari masakanku,' pikir Sanji saat mencicipi masakan itu. Dia pun pergi ke dapur untuk mengetahui siapa yang memasak semua makanan itu. Seorang wanita berambut pendek pirang dan berpakaian minim, sedang menghidangkan masakannya di meja. Wanita itu melihat ke arah Sanji, dia memandang aneh Sanji.

"Wow, bagaimana kau bisa mempunyai bentuk mata seperti itu?" tanya wanita itu menunjuk mata Sanji yang sudah berbentuk hati.

Bukannya menjawab, Sanji malah tertawa,"Wanita ini aneh sekali, lucu, cantik lagi, unik banget," pikir Sanji. Sanji mendekati meja dan duduk disana. Dia terus mengamati wanita itu meracik bumbu-bumbu, begitu lihai,"Hm, apa semua masakan ini kau yang masak nona,," Sanji menggantungkan kalimat terakhirnya.

"Ya, sebenarnya aku baru belajar, biasanya Belladona yang menjadi kokinya tapi karena dia sedang sibuk, aku yang menggantikannya. Namaku Margaret, kau adalah laki-laki yang beruntung," jawab Margaret memandang Sanji.

"Beruntung?" tanya Sanji bingung.

"Ya, biasanya tak ada yang laki-laki yang bisa sampai disini dengan selamat kecuali Luffy-" Sanji memotong kata-kata Margaret,"Kau kenal Luffy?"

"Iya, kau juga kenal dia, dia adalah orang yang baik. Dia sangat menyayangi nakamanya, dia bahkan hampir tenggelam saat ingin berlayar dengan rakit bobrok buatannya sendiri, dia menyelamatkan aku dari kutukan Hebihime-sama," jawab Margaret antusias.

"Aku adalah salah satu nakamanya," sahut Sanji.

"Kau benar-benar beruntung, oya, namamu siapa?" tanya Margaret, "Sanji," jawab Sanji.

Sekarang dia ikut duduk bersama Sanji, mereka berdua kini membicarakan Luffy. Kasihan Luffy, dia jadi keselek daging saat dirinya dibicarakan, berkali-kali ketulangan, Ace bahkan membantu Luffy untuk mengeluarkan tulang itu. Nami turut membatu dengan memukul punggung Luffy dengan sekuat tenaga, ternyata cara itu sangat berhasil. Tulang daging itu akhirnya keluar, dan Chopper pun memberikan Luffy pertolongan pertama.

XXX

"Ahh, bosan juga ya di kamar terus. Aku jalan-jalan saja disekitar pulau ini," kata Nami lalu meninggalkan kamarnya.

Malam itu Nami memutuskan untuk berjalan-jalan di pulau kuja, dia terus berjalan tanpa tujuan. Nami terus melangkahkan kakinya hingga tanpa sadar, dia kembali ke Thousand Sunny. Nami pun menaiki Thousand Sunny, berjalan mengitari kapal itu lalu terhenti tepat di depan kepala sunny, dilihatnya seorang pria duduk disana tapi bukan Luffy. Ace membalikkan badannya menghadap Nami lalu tersenyum padanya.

"Ace, sedang apa kau disini?" tanya Nami lalu berjalan mendekati Ace.

"Aku tidak bisa tidur, jadi aku kesini saja, kau juga tidak bisa tidur?" tanya balik Ace.

"Aku bosan dikamar, entah kenapa kakiku melangkah kesini," jawab Nami bersandar di kepala sunny.

Hening, tak satupun dari keduanya memulai pembicaraan. Hingga akhirnya Ace memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Nami, tapi saat dia ingin mengatakan perasaannya. Nami pun memulai pembicaraan malam itu.

"Ace, apa aku bisa mempercayaimu?" Ace pun mengangguk tanda setuju, Nami melanjutkan perkataannya,"Mungkin kedengarannya ini aneh, bahkan aku sendiri masih ragu dengan apa yang ingin kukatakan ini," Nami menarik nafas dalam-dalam lau melanjutkan pembicaraannya,"Ace, aku tidak tahu apakah yang kurasakan ini benar cinta atau bukan," Ace membelalakkan tak percaya, ada rasa senang dihatinya tapi dia masih menunggu lanjutan perkataan Nami. Nami memandang Ace lalu melanjutkan pernyataannya,"Aku tidak tahu perasaan apa ini, tapi setiap aku dekat dengan Luffy, aku merasa nyaman, meski dia itu bodoh tapi aku tak peduli, setiap kali aku bersamanya, rasanya jantungku berdetak lebih cepat, dan setiap kali dia menatapku, aku rasakan wajahku memanas, aku ingin selalu bersamanya, aku tahu ini memang aneh," Nami terkekeh, wajahnya memerah dan itu membuat Ace sedih karena dia pikir, perasaannya pada Nami terbalaskan.

"Ya, itu memang aneh, bagaimana mungkin kau bisa menyukai anak bodoh itu," keduanya pun tertawa, Ace mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada Nami,'Mungkin aku memang bisa mencintainya dalam hati saja, anak bodoh, kau sungguh beruntung karena Nami mencintaimu.'

"Nami, sebaiknya kau kembali ke istana Hancock saja, hari sudah larut malam, kau tidur saja duluan nanti aku menyusul," saran Ace dan Nami pun menurutinya. Nami pun kembali ke istana Hancock.

Sementara itu di tempat Hancock, Hancock mengajak Luffy untuk ke balkon atas. Luffy pun menceritakan perasaan aneh yang selama ini menghinggapi sebagian besar hati dan pikirannya, Luffy berpikir kalau Hancock tahu perasaan apa yang dia punya.

"Hancock, begini, aku punya masalah disini," kata Luffy menunjuk dada kirinya, Hancock blushing dan mulai berhalusinasi bahwa Luffy akan menyatakan cinta padanya. Luffy melanjutkan kata-katanya,"Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan, setiap kali aku berada disamping Nami, jantungku berdegub semakin kencang, rasanya aku selalu ingin berada didekatnya, kupikir mungkin kau mengetahui perasaan apa ini, saat dia tak ada, rasanya ada yang hilang dari hatiku, aku mempunyai perasaan ini sejak lama, aku tidak tahu perasaan apa ini, aku selalu ingin melindunginya, rasanya sakit sekali saat aku tak bisa melindunginya, Hancock, apa kau tahu perasaan apa ini?" tanya Luffy polos.

"Cinta, itu cinta namanya Luffy," jawab Hancock memancarkan kesedihan dimatanya, bukan Hancock namanya kalu dia menyerah begitu saja. Hancock pun semakin mendekati Luffy, dia pun memegang wajah Luffy dengan tangannya, Hancock memajukan wajahnya hingga wajahnya dan wajah Luffy hanya tinggal lima sentimeter, Nami yang baru dari thousand sunny melewati balkon atas dan menghentikan langkahnya saat dia melihat Hancock berusaha mencuri first kissnya Luffy. Nami hanya diam terpaku melihatnya, dia tak sanggup lagi menahan airmata disudut airmatanya.

Ace melihat Nami menangis, lalu mendekatinya. Dia kini mengerti alasan Nami menangis, Ace memandang Luffy dan Hancock dengan tatapan marah. Ace menghampiri Nami, lalu berusaha untuk menghiburnya dan sialnya, Luffy melihat semua itu dan salah paham dengan mereka.

XXXXX

Robin memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Zoro, dia sudah tidak peduli lagi dengan resiko yang akan dihadapinya, dia juga siap jika Zoro tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Robin membuka pintu kamarnya, lalu berjalan menuju ruang tamu tempat Zoro tidur. Dia juga tidak mengerti kenapa Zoro lebih memilih tidur di sofa daripada ditempat tidur.

"Zoro," panggil Robin lembut.

"Robin, ada apa?" tanya Zoro lalu duduk di sofa.

Robin memandang Zoro jauh kedalam matanya berusaha untuk menemukan bayangannya disana, dia menghela nafas panjang. Lalu menatap Zoro, Zoro memperhatikan Robin, sambil sesekali menguap. Robin merasa kasihan dan merasa bersalah telah membangunkan Zoro.

"Zoro, aishiteru, aku serius, aku sangat mencintaimu dari pertama aku bertemu denganmu, aku hanya ingin bilang ini saja, terimakasih sudah mau mendengarkan," setelah mengatakan hal itu, Robin kembali ke kamarnya sambil mengutuk dirinya sendiri. Apa yang harus dia katakan pada Zoro besok, tanpa diketahui Robin, Zoro tersenyum dan wajahnya memerah sepeninggal Robin.

ZZZ

BERSAMBUNG…..

Akhirnya update juga, hehehe, maaf ya kelamaan. Pertama-tama aku mau berterimakasih sama Jim-kun yang udah menyumbangkan idenya untuk chap 3 ini. Lalu aku juga ingin berterima kasih sama para reader especially Author yang udah ngereview fic aku. Berhubung reviewnya udah aku bales lewat PMs, jadi sekarang aku ingin menagih sesuatu, hehehe..

Monkey D. Cyntia : makasih ya mon, udah review fic aku. Iya, ini udah update, bagaimana sekarang udah panjang belom, oya, aku tunggu ya update-an fic kamu yang vivi sama secret,, hehehehe…

Azure R. Aori : makasih ya ri, udah review fic aku. Hehe, aku tunggu ya update-annya yang Sanji, dan the other way.

Ashoudan Zimer : makasih ya udah review jim-kun, udah nyumbangin idenya juga, oya, aku tungguin update-an Ichigo Dream dan Grand linenya.. heheh..

RodeoHyorinmaru : makasih ya ro udah review fic aku, sekarang udah ngerti belom, hehe,, maaf ya, kalo masi ngga ngerti juga, oya, aku tungguin loh update-an fic kamu yang blich in islam n 14 division,,

Kuchiki Rukia-taichou : makasih ya kuchiki, udah review fic aku. Aku tetep tunggu update-annya pulau hantu,,

Oke, maaf ya kalo aku salah nulis.. tidak pernah bosan saya mengingatkan untuk memencet tombol ijo di bawah ini.

Oke, mungkin updatenya bakal lama lagi karna aku harus menyelesaikan chap 3b fic bleach aku, baru update lagi, jadi maukah anda untuk menunggunya.. hehehe..