Disclaimer : One Piece©Eiichiro Oda
Summary : Akainu menyerang pulau Kuja, Luffy dan Ace membantu Hancock menyelamatkan penduduk Kuja. Namun saat Akainu menyerang Luffy dan hampir membunuh Ace, tiba – tiba Garp datang. Pertarungan antara pensiunan marinir dan admiral tertinggi tersebut tak bisa dihindarkan, siapakah yang akan menang? Apa yang dilakukan bajak laut topi jerami minus Luffy? Baca aja lanjutannya..
Warning : OOC, AR/AT/mungkin AU, 99% karangan author 1% canon
GREY TERMINAL
"Hebihime-sama," panggil Margareth sembari membawa kotak yang diambilnya di dekat tangga menuju dek kapal.
"Hebihime-sama," panggilnya lagi karena Hebihime yang dipanggilnya itu tak juga menoleh, jangankan menoleh marah-marah dengan nada cibiran seperti biasanya saja tidak.
"Hebihime-sama," panggil Margareth untuk kesekian kalinya.
"Iya. Aku mendengarmu, kau pikir aku ini budek atau apa?!" balas Hancock dengan nada cibirannya seperti biasa.
"Taruh saja kotak itu di kamarku." Lanjut Hancock lalu kembali melamun, entah apa yang ada dalam pikirannya itu.
FLASHBACK
"Hancock, tolong berikan kotak ini pada Luffy ya.. dan aku mohon tolong jaga Luffy untukku," pinta Nami sebelum dia kembali ke Pulau Wheatheria.
"Tch, tanpa kau bilang pun aku akan menjaganya dan akan kurebut dia darimu." Balas Hancock ketus.
Nami tahu bahwa Hancock akan bilang begitu tapi kenapa dia tetap merasa terkejut, saat itu Nami dan Hancock hanya bicara empat mata karena kakeknya Luffy dan Ace sedang pergi entah kemana bersama dengan Crocus, mungkin nostalgila tentang masalalu. Nami terdiam dan tiba-tiba saja ide cemerlang itu terlintas di benak Nami.
"Hmm.. baiklah, bagaimana kalau kita bertaruh?" tantang Nami pada Hancock.
"Oke. Apa taruhannya?" sambut Hancock antusias sembari menambahkan,"Kalau aku menang, Luffy akan menjadi milikku!"
"Tentu saja. Dan..." Nami berhenti sejenak, dia mencoba membuat perhitungan apa-apa saja yang dia inginkan kalau dia menang.
"Kalau aku menang, kau harus membayar senilai 3 milyar triliun belly padaku dan kau harus mencium Sanji-kun di hadapan Luffy." Aju Nami. Merasa akan menang, Nami pun tersenyum puas. Memikirkannya saja Nami bisa tertawa lepas apalagi kalau itu sampai terjadi.
"Oke! Jadi apa taruhannya?" Sambut Hancock antusias, membayangkan kekalahannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri apalagi kalau harus terjadi padanya. Mungkin seumur hidupnya, dia tidak akan pernah lagi mau mendekati makhluk berjenis laki-laki, oh iya satu lagi mungkin seumur hidupnya dia akan alergi dengan cewek berambut orange.
"Kalau dalam dua tahun ini, kau bisa membuat Luffy hanya melihatmu, maka kau pemenangnya tapi jika tidak, maka aku yang menang."
Kedua wanita cantik beda karakter itu saling memberikan tatapan membunuh hingga Garp, Ace, dan Crocus kembali. Setelahnya Nami berpamitan pada Garp dan Ace juga Crocus. Garp pun sekali lagi memeluk cucu menantunya itu, Ace hanya tersenyum melihat kelakuan kakeknya itu. Dan Hancock melihat kepergian Nami dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Nami sekali lagi melihat ke arah Hancock dengan tatapan jangan lupa dengan janjimu.
E.O.F
"Margareth, putar haluannya sekarang juga. Kita kembali ke Pulau Lovey!" perintah Hancock.
XXX
Untung saja saat Hancock kembali ke Pulau, Thousand Sunny masih ada di darmaga Pulau itu. Hancock pun menyuruh awak kapalnya untuk merapat ke Dermaga, diambilnya kotak yang ditaruh Margareth dikamarnya.
'Apa wanita itu ingin aku punya alasan untuk berlayar bersama Luffy ya,' pikir Hancock dengan wajah bersemu, dia emang tidak suka dengan Nami tapi itu bukan alasan untuk tidak menyampaikan amanat dari orang yang kau benci bukan? Terlebih lagi jika itu menguntungkanmu.
"Kalian kembalilah ke Pulau Kuja, aku akan berlayar bersama Luffy ke Gray Terminal." Perintah Hancock kemudian turun dari kapalnya, untungnya tak ada marinir yang melihatnya menaiki kapal Luffy. Dan beruntungnya, Luffy menaiki kapal Garp untuk kesana.
Hancock pun menaiki kapal Garp, namun hanya ada Ace disana. Kakak angkat Luffy itu sedang tertidur diatas meja bar, sepertinya dia habis minum sake. Dia melihat sekeliling tapi Thousand Sunny sudah tidak ada, sepertinya Sunny sudah kembali ke Twin Cave dan mungkin Luffy habis mengantarkan Crocus dan Laboon.
XXX
"Loh? Hancock kenapa bisa berada disini? Kalau marinir yang lain melihatmu disini, mereka bisa melaporkannya pada Akainu dan gelarmu bisa dicabut kan? Amazon lily juga bisa dalam bahaya kan?" Ujar Luffy dengan ekspresi khawatir.
'Dia mengkhawatirkanku, apa itu berarti Luffy menyukaiku,' pikir Hancock mulai berpikir kalau Luffy menyukainya lagi.
"Aku yang membawanya kesini, kakek bilang dia akan membantumu melatih hakushou haki. Iya kan Hancock?" Sahut Ace dari meja bar.
'Kapan dia bangun?'
"Iya, Garp-san yang memintaku kesini."
"Hancock, apa itu yang kau bawa?" Tunjuk Luffy pada kotak yang dibawa Hancock.
"Ini dari Nami, dia menitipkanku untukmu, aku tidak tahu apa isinya." Jawab Hancock seraya memberikan kotak itu pada Luffy.
XxX
Pulau Wheateria, 3 hari kemudian..
"Hei, apa-apaan ini! Kenapa aku ada di penjara?"
Para penduduk Wheateria mulai berkumpul membentuk kerumunan untuk melihat seorang wanita jatuh dari langit, mereka menyebut wanita itu seorang pencuri karena wanita itu memiliki buku tentang cuaca yang hilang dari tempat mereka, padahal tanpa mereka ketahui salah satu dari mereka yang memberikannya pada wanita itu.
"Kek, tolong jelaskan pada mereka, aku tidak mencurinya, kau yang memberikannya padaku." Ujar wanita itu terlihat berbicara pada salah satu orang di kerumunan itu.
Mereka saling berpandangan, mencoba mencari tahu pada siapa wanita itu berbicara.
Glek
"A-aku rasa ini hanya salah paham saja, yang wanita itu bilang emang benar,,ha,,ha,,ha,," jawab salah seorang dari mereka.
Sebenarnya wanita itu bisa saja keluar dari penjara itu karena penjara itu tidak ada atapnya lagi dan sekeliling penjara kecil itu juga sudah jebol akibat jatuhnya wanita itu, tapi mungkin karena panik jadi wanita itu tidak melihat sekelilingnya lagi.
"Nona, kau bisa keluar dari penjara itu kapanpun kau mau. Aku bahkan tidak tahu apa itu bisa disebut penjara lagi atau tidak," jawab kakek yang memegang kunci penjara.
"Terima kasih kek, ini bukunya. Maaf sudah membuat keributan di tempat ini. Namaku Mon- hm maksudku Nami. Aku adalah bajak laut, aku pernah terlempar kesini tapi aku berhasil bertemu dengan teman-temanku lagi. Aku kembali lagi kesini untuk belajar cuaca, ya aku adalah navigator. Jadi aku ingin belajar lebih banyak tentang cuaca agar kelak aku bisa lebih kuat dan lebih,,. Sebagai hukuman telah memperlakukanku sebagai pencuri, kalian wajib mengajariku segala hal tentang cuaca atau membayarku senilai 3 triliun belly."
888
Pulau Kuraigana,
"Makhluk apa ini, kenapa banyak sekali monyet gorila disini? Trus dimana aku sekarang?!"
Pendekar pedang buta arah sekali lagi terlempar ke pulau Kuraigana, tanpa dia ketahui bahwa pulau itu sebenarnya rumah bagi rival terbesarnya.
"Zoro, kapan kau kesini?" Tanya seorang perempuan berpenampilan ghotic sambil terbang di atas pendekar pedang yang ternyata adalah Zoro.
"Hah?!" Hanya itu yang bisa diucapkan Zoro saat itu, otaknya sepertinya bekerja terlalu lambat untuk mencerna apa yang terjadi padanya.
"Huh.. Hah.. Huh!" Para monyet itu mulai menyerang Zoro satu per satu, dan tentu saja Zoro bisa menangkisnya dengan cepat. Namun karena banyaknya monyet itu, Zoro harus ekstra kerja keras menghadapi mereka semua.
"Cukup mengesankan untuk ukuran orang yang sudah dua kali kukalahkan," kata lelaki berpakaian aneh sambil bersender di salah satu puing.
888
Kerajaan Kammabaka, Pulau Momorio
"Oh Oda-sama, kenapa aku harus terlempar ke neraka ini lagi?!" Keluh Sanji ketika dia tiba di pulau Momorio.
Para penduduk Kammabaka pun mengerubungi Sanji, mereka hendak 'menyerang' Sanji namun Sanji sudah melarikan diri terlebih dahulu dari 'penyerangan' mereka.
Dari kejauhan, tampak seorang wanita cantik yang menurut pandangan Sanji adalah wanita normal bukan banci seperti yang mengejar Sanji sekarang ini. Sanji pun mengikuti wanita itu sampai ke sebuah rumah, tanpa dia tahu ternyata wanita cantik yang dilihatnya dari kejauhan tadi adalah salah satu anak buah Ivankov yang menyamar untuk memancing Sanji agar ke tempat Ivan.
XXX
Pulau Boin
Usopp lagi lagi harus terlempar ke pulau ini, dan sekali lagi harus melarikan diri untuk menghindari tanaman-tanaman yang mencoba memakannya. Saat itu juga, seseorang muncul menyelamatkan Usopp dari serangan tanaman-tanaman itu. Orang itu juga yang akan menolong Usopp selama dua tahun ini di pulau Boin.
Kapal Pasukan Revolusioner
Robin memandangi lautan yang sekali lagi memisahkan dirinya dengan sahabat-sahabatnya. Dia menghela nafas pelan lalu menghembuskannya, dilihatnya orang-orang yang mengaku sebagai pasukan Revolusioner.
"Apa yang anda pikirkan, Robin-san?" Tanya orang yang menjemput Robin di Thousand Sunny, ketika dilihatnya Robin hanya memandang lautan sambil sesekali menghela nafas panjang.
"Aku hanya memikirkan teman-temanku," jawab Robin melihat ke arah orang tadi lalu kemudian memandang lautan lagi.
"Anda tidak perlu khawatir, ini untuk kebaikan Luffy-san dan teman-temannya. Aku dengar Luffy-san akan berlatih di Grey Terminal, tempat kita akan kesana nanti."
ZZZ
Pulau Harta Karun, South Blue
"Tanuki, anda kembali lagi?" Sambut salah satu penduduk suku pedalaman disana.
"Hehe.. Maaf sudah merepotkan kalian. Aku ingin mempelajari tanaman-tanaman obat disini lagi, mohon bimbingannya selama dua tahun ini!" Ujar Chopper sedikit membungkukkan badannya.
"Tentu saja, kami sangat senang anda kembali lagi,"
XXX
Kerajaan Masa Depan, Barimajoa
"Kakek, lihat! Manusia aneh itu datang lagi!" Seru seorang anak kecil yang menemukan Franky saat terdampar dulu.
"Hei, paman. Apa kau masih ingin bertemu dengan Vegapunk?" Tanya anak kecil itu lagi.
"Apa aku bisa bertemu dengan Vegapunk, lil bro?" Jawab Franky antusias
"Tentu saja boleh, tapi jangan sampai ketahuan. Ayo ikut aku, paman."
SHP
"Yohohoho... Kenapa aku berada di dalam penjara. Luffy-san, aku janji padamu aku akan lebih kuat lagi dalam dua tahun ini."
*889#
"Ace, coba cium aku disini." Pinta Luffy pada Ace seraya menunjukkan bibirnya.
"EHH?!" Ace hanya memandang Luffy dengan tampang horror.
Dia begitu syok karena Luffy, adiknya sendiri, oke mereka memang tidak sedarah tapi bukan berarti Ace itu tidak normal. Ace mengerjapkan matanya, namun Luffy masih menatapnya serius.
"Apa kau tahu yang kau lakukan itu hah!" Bentak Ace sambil memukul kepala Luffy sekeras mungkin.
"Cari saja orang lain, kenapa harus aku! Aku masih normal, asal kau tahu itu!"
"Kalau Ace tidak mau, biar kakek saja yang menciummu," canda kakeknya sambil memonyongkan bibirnya.
Hancock, Tobi, dan Helmeppo hanya memasang wajah menjijikkan. Memang benar kata orang, polos dan bodoh itu bedanya tipis. Buktinya saja Luffy, ketika kakeknya bercanda memonyong-monyongkan bibirnya Luffy dengan senangnya menyambut kakeknya, tentu saja ini mengundang kegusaran Ace. Dan dengan seluruh kekuatannya itu Ace menendang cucu dan kakek itu.
"Apa ada yang keberatan dengan kejadian ini." Ace memberikan penekanan di setiap katanya sambil membalikkan badannya dengan aura membunuh. Hancock, Tobi, dan Helmeppo hanya menggeleng dan melanjutkan kegiatannya masing-masing kecuali Hancock yang langsung menghampiri Luffy.
"Luffy, Apa kau terluka? "
CUP
Rupanya Luffy masih belum jera juga setelah kejadian tadi, entah karena saking penasarannya atau karena kelewat polos, ketika Hancock menghampirinya dan membantunya berdiri. Luffy mengambil kesempatan ini untuk mencium Hancock, dan seketika itu juga Hancock pun pingsan. Ace yang melihat itu hanya syok, tidak tahu mau berbuat apa.
"Rasanya biasa saja," gumam Luffy sambil memegang bibirnya.
"..."
"Ace, ini aneh. Kenapa saat aku mencium Hancock, perutku tidak bergejolak, dadaku juga tidak sesak dan aku merasa biasa saja. Jantungku bahkan tidak secepat saat Nami menciumku," curhat Luffy pada Ace.
Belum hilang syok Ace karena kejadian LuHan tadi, kini Luffy membeberkan fakta yang lebih membuat Ace syok lagi. Luffy pun menceritakan kejadian sebelum dia berpisah dengan Nami.
Flashback Luffy POV (A/N: Luffy disini menceritakan pada Ace, jadi aku sengaja memakai Aku dalam Flashback)
Berawal dari ketika salah seorang pemuda berumuranmu menghampiri kami dan meminta pertolongan kami..
"Ya aku sudah tahu cerita itu, langsung ke pokok permasalahannya saja." Potong Ace saat aku menceritakan awal mula Nami menciumku.
"Tapi aku tidak tahu harus darimana menceritakannya," ucapku tidak mengerti maksud Ace.
"Kenapa kau tidak menceritakan awal mula kenapa tiba-tiba Nami menciummu," saran Ace terlihat entahlah seperti merasa terganggu.
Aku hanya diam, berpikir darimana Nami tiba-tiba menciumku. Aah.. Aku ingat sekarang.
"Baiklah.." Aku kembali memulai ceritaku. Semua itu berawal dari sejak Nami kembali dari kapal, entah kenapa aku merasa Nami sedikit berbeda. Dia seakan ingin menangis tapi ditahan, aku berkata padanya,"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir, meski kita terpisah kita akan baik-baik saja. Aku akan lebih kuat lagi dari sekarang agar aku bisa melindungimu juga Zoro, Usopp, Sanji, Chopper, Robin, Fr-.." Ucapanku terhenti saat tiba-tiba Nami menciumku. Aku tidak mengerti mengapa saat itu jantungku berdegub kencang, tubuhku kaku, darahku seperti mengalir lebih cepat, aku bingung dan tidak mengerti. Dan aku hanya membiarkannya seperti itu, kakiku mulai terasa lemas dan aku harus berusaha agar tidak jatuh menimpa Nami. Aku benar-benar tidak mengerti, bukan hanya itu saja, Nami juga hmm bagaimana ya menjelaskannya, Nami juga-
"Sudah cukup ceritanya. Aku sudah mengerti permasalahannya sekarang, lagipula kalau kau melanjutkan ceritamu itu rate fanfic ini bisa berubah. Luffy, dengarkan aku baik-baik?!" Potong Ace sekali lagi dan ya flashback mode off.
E.O.F
"Luffy, kau hanya jatuh cinta pada Nami." Simpul Ace setelah mendengar cerita Luffy. Luffy hanya diam dan tidak memberikan respon apa-apa terhadap Ace.
"Nami adalah nakamaku, tentu saja aku mencintainya. Apa maksudmu Ace, aku hanya jatuh cinta pada Nami?" Jawab Luffy yakin(?)
"Percuma saja aku menjelaskannya padamu, kau terlalu bodoh untuk menyadarinya. Untuk itulah Hancock disini, agar kau lebih bisa menyadari perasaanmu sendiri. Kau bisa mempelajarinya melalui sikap Hancock, dan Luffy. Nami bukan nakamamu lagi, dia sudah jadi istrimu." Kata Ace menyudahi pembicaraan melelahkan itu.
Luffy terus memikirkan kata-kata Ace padanya, apa yang harus dia pelajari dari Hancock. Sekarang jika dia ingat lagi, sikap Hancock terhadapnya memang berbeda 180 derajat dengan sikapnya pada orang lain. Oh iya, saat dia mencium Hancock sekilas tadi juga wajah Hancock merah padam hingga dia pingsan dan badannya juga panas, sama seperti saat Nami menciumnya. Waktu di alabasta dan saat Bon-chan menyamar jadi Nami, ketika dia melihat Nami telanjang, entah kenapa dan apa mungkin karena ada Usopp, hidungnya mimisan padahal ketika Hancock telanjang, hidungnya tidak mimisan. Ketika dia dikejar oleh wanita ksatria di Pulau Kuja, dia teringat dengan Nami meskipun dia hanya teringat saat Nami memukulnya dan memarahinya. Entah mengapa dia merindukan Nami lebih dari nakamanya yang lain, tapi bukankah karena Nami adalah nakamanya yang paling dekat setelah Zoro. Sikap Hancock yang mana yang bisa membuatnya menyadari perasaannya sendiri, dia tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti. Belum lagi pernyataan Ace yang menyatakan bahwa Nami bukan nakamanya melainkan istrinya. Dia benar-benar tidak mengerti!
XXX
"Admiral Akainu, lapor kami melihat shichibukai Boa Hancock dan Laksamana Madya Garp serta Portgas D Ace dan Monkey D Luffy berada dalam satu kapal. Disana juga ada marinir lainnya. Kami dengar mereka akan pergi ke kampung halaman Garp-san. Apa yang harus kami lakukan? kami menunggu perintah anda selanjutnya." Lapor salah satu kapten kapal marinir.
"Awasi mereka! Awasi juga Amazon Lily, aku mencium adanya persekutuan dalam hal ini, jika terbukti wanita itu bersekutu dengan anak Roger dan anak Dragon, serang pulau itu dan aku akan mencabut gelar shichibukai wanita itu. Bagaimana pergerakan Shirohige dan orang yang kusuruh kalian kejar kemarin?"
"Maaf Akainu-san, kami kehilangan jejak mereka."
"Cepat cari dan tangkap mereka atau kalian yang akan kueksekusi!" Perintah Akainu.
XXX
"Luffy, makan siang sudah siap!" Teriak Ace dari dapur.
Luffy pun berlari menuju meja makan seiring perutnya yang keroncongan. Siang itu semua menu yang dihidangkan sama percis seperti saat dia ada di Thousand Sunny. Mungkin Ace atau Garp yang menyuruh koki kapal tersebut memasakkan menu itu. Seperti biasa cucu dan kakek itu pun saling mencuri makanan anggota marinir lainnya, bahkan diantara mereka bertiga pun saling curi-mencuri, suasana itu seperti Luffy masih berada di tengah teman-temannya.
"Sanji, tambah lagi dong dagingnya!"
Hening.
Luffy pun menghabiskan makannya seperti celetukan itu tak pernah diucapkan.
XXX
"Luffy, apa kau tahu ini pulau apa?"
Saat itu mereka sedang berada di sebuah pulau yang terletak di perbatasan North Blue dan East Blue, pulau itu tak berpenghuni. Pulau itu sepertinya dulu terjadi peperangan disana, puing puing bangunan masih jelas disana. Seperti kota mati, pulau itu kini menjadi pulau pengawasan marinir.
"Garp-san, bukankah ini pulau itu?" Tanya salah seorang anggota marinir memastikan.
"Iya,"
"Wow, aku hanya pernah mendengar cerita dari seniorku tentang pulau ini, aku dengar sejak perang dulu Bellemere-san pensiun secara dini. Sayang sekali, kudengar dia marinir yang tangguh meskipun dia wanita, mungkin dia bisa menjadi kapten atau laksamana."
"Karena itulah aku kesini, untuk mengenang perjuangan terakhirnya. Meski dia bukan dari markasku tapi aku cukup mengenalnya dengan baik, aku bahkan tidak menyangka anak yang diselamatkannya itu menjadi cucu menantuku bwahahahaha." Ujar Garp yang membuat anggota marinir itu sweatdrop.
"Apa sekarang kau tahu Luffy?"
"Ini pulau tempat Nami dilahirkan," gumam Luffy.
Dia memilih untuk berjalan-jalan di pulau mati itu. Aneh. Ini benar-benar tidak seperti dirinya. Sejak kapan dia mulai tertarik dengan masa lalu nakamanya, mungkin lebih tepat navigatornya. Dulu saat dia menyelamatkan Nami, dia bahkan tidak ingin mendengarkan cerita Nojiko bagaimana Nami berakhir di markas Arlong tapi saat kakeknya mengajaknya ke pulau tempat kelahiran Nami dan Nojiko, dia memilih untuk mencari tahu seperti apa.
Luffy terus menyusuri jalan di pulau itu, dia membayangkan seperti apa Nami dulu. Entah mengapa dia merasa bersyukur karena Nojiko dan Bellemere menyelamatkannya. Mungkin Nami bukan namanya yang diberikan oleh orangtua kandungnya tapi dia tidak peduli, dia lebih suka nama Nami. Luffy hanya melihat pemakaman massal pada pulau itu, dia berjalan terus hingga ke tengah kota tapi tetap tak ada apa-apa.
Bukan Luffy namanya kalau tidak nyasar, saat dia hendak kembali ke kapal dia malah mendapati dirinya entah berada dimana. Luffy hanya mengikuti instingnya, dia terus berjalan dan berjalan hingga akhirnya dia kembali ke jalan tempat kakeknya berpijak. Tak mau membuang waktu lagi, Luffy langsung naik ke atas kapal dan pergi ke dapur buat minta makan.
MMM
"Roronoa, mengapa kau ingin mengorbankan nyawamu untuk topi jerami? Tapi itu bukan urusanku, kalau kau tidak ingin mengatakannya padaku, tidak apa-apa. Aku hanya mendengarnya dari Pacifista."
Tring
"Karena dia orang yang akan menjadi raja bajak laut," jawab Zoro sambil terus mengayunkan pedangnya ke arah Mihawk.
Zoro dan Mihawk setelah luka-luka Zoro diobati oleh Perona dan zombi-zombinya, mereka latihan pedang. Mihawk juga menyuruh Zoro untuk mengalahkan seluruh monyet di pulau itu, selain itu mereka juga adu pedang seperti di Baratie dulu.
"Ini juga bagian dari latihan, kau harus fokus pada lawanmu disaat yang bersamaan kau juga harus bisa mendengarkan sekelilingmu. Aku akan menunggumu di kastil, mulai sekarang kau harus mengalahkan monyet-monyet Bulgori itu, jika kemampuanmu bisa melampaui monyet tersebut maka kita bisa latihan lagi tapi jika belum, kau harus mengasah kemampuanmu pada mereka. Itupun kalau kau masih ingin bisa melindungi kapten kesayanganmu itu dan juga nakamamu."
"Aku tahu."
XXX
"Maaf mengganggumu, apa benar kau salah satu nakama Luffy?" Tanya salah seorang pasukan revolusioner.
"Iya, Revolusioner-san. Maaf kalau aku tidak sopan, aku tidak tahu harus memanggil apa." Jawab Robin tersenyum.
"Hahaha... tidak apa, kau bisa memanggilku apa saja. Apa saja yang dilakukannya selama ini? Pasti dia sering merepotkan kalian."
"Tidak, Luffy adalah kapten yang baik. Dia bahkan sudah dua hmm mungkin tiga kali menyelamatkanku, aku senang bisa bertemu dengannya dan menjadi nakamanya. Dia membuatku ingin hidup," jawab Robin kemudian saat dia menyadari bahwa bukan itu jawabannya yang mungkin diinginkan pria itu, Robin cepat-cepat menambahkan,"Maaf aku belum menjawab pertanyaanmu, aku tidak tahu bagaimana Luffy memutuskan berlayar hingga akhirnya memiliki nakama begitu banyak, tapi mungkin sama sepertiku, dia berlayar dan dalam perjalanannya dia menemukan Zoro, dan nakama lainnya dan mungkin dia juga menyelamatkan mereka. Aku juga dengar dari Nami, Luffy menyelamatkannya dan desanya dari bajak laut manusia ikan Arlong. Di Arabasta ketika aku belum bergabung dengan bajak laut Topi Jerami, Luffy mati-matian mencoba menyelamatkan Vivi, putri kerajaan Arabasta. Saat itu ketika Luffy melawan Crocodile untuk pertama kalinya dan kalah, lalu aku menyelamatkannya dari kuburan pasir-"
"Kuburan pasir?" Potong pria itu tampak tertarik dengan cerita Robin.
"Crocodile pemakan buah setan, dia bisa mengendalikan pasir dan dia bisa merubah dirinya menjadi pasir. Luffy tenggelam dalam pasir ketika Crocodile mengalahkannya. Saat itu aku berpikir, 'kenapa orang ini hingga ingin mempertaruhkan nyawanya demi putri negeri ini.' Aku tersentuh dan entah mengapa dia mengingatkanku pada Saulo, sahabatku, tapi dia sudah meninggal karena menyelamatkanku. Diam-diam aku membantu Luffy dan kau mungkin bisa menebaknya, akhirnya Crocodile bisa dikalahkan dan aku pada akhirnya bergabung dengan Luffy."
"Hahaha... Aku senang dia tidak berubah sama sekali. Aku harap dia tidak pernah berubah,"
'Jadi namanya Nami.'
ZZZ
"Selamat datang, Luffy!"
"Siapa wanita yang bersamamu itu?"
"Eh, apa dia yang bernama Ace? Anak Roger yang hampir dieksekusi itu?"
"Mungkin dia istrimu Luffy? Kudengar kau sudah menikah."
"Eeh!"
Seluruh warga desa Fusha termasuk Dadan yang memilih untuk bersembunyi di balik pemukiman datang menyambut kedatangan Luffy dan Garp. Hancock yang menangkap kata-kata 'wanita cantik itu pasti istri Luffy' hanya bisa tersipu malu, sementara Ace yang melihat gelagatnya terlihat tak peduli. Helmeppo dan Coby hanya tersenyum penuh kekaguman melihat sambutan warga desa Fusha saat mereka pada Garp. Luffy langsung berlari menembus kerumunan warga desa Fusha ketika dilihatnya Dadan hendak kembali ke rumahnya.
"Dadaaaaaan~!"
Disusul Ace yang ikut berlari menuju Dadan. Garp hanya tertawa melihat kelakuan kedua cucunya itu sementara warga desa Fusha minus kepala desa dan Makino hanya sweatdrop melihatnya. Mereka tidak menyangka kalau Luffy bisa berteman dengan bandit gunung yang entah mengapa selalu lolos daro tangkapan Garp. Dadan terus mengoceh menanggapi kelakuan Ace dan Luffy, sesekali dia menangis karena mengingat Ace yang hampir dieksekusi. Ace dan Luffy hanya cengengesan melihat Dadan yang memarahi mereka yang selalu mempertaruhkan nyawa mereka.
"Kenapa kalian selalu saja seperti ini?" Keluh Dadan sambil berderai airmata.
"Maafkan kami Dadan hehehe" sahut kedua kakak beradik itu cengengesan.
888
"Paman, maaf aku baru bisa membayarmu sekarang. Ini harta yang kudapat selama kami berlayar, semoga bisa melunasi hutang kami bertiga ya paman." Ujar Luffy membawa sepertigapuluhdua harta dari Thousand Sunny.
"Oya Paman, jangan bilang Nami aku membayar paman dengan harta di kapalku ya, bisa dipukuli abis-abisan aku."
Pria botak berjanggut yang semakin menua itu hanya diam sambil mengingat wajah Luffy, dua puluh detik waktu yang cukup untuk pria itu mengingat anak nakal yang makan dan pulang seenaknya dari restorannya itu hanya bisa diam. Diam karena anak itu masih mengingat janjinya dan anak itu juga menepati janjinya. Bocah nakal yang menjadi omongan banyak orang karena melawan pemerintah dunia hanya karena salah seorang temannya ditangkap, bocah nakal yang mempertaruhkan nyawanya di impel down hingga akhirnya dia bisa menyelamatkan kakaknya, bocah nakal itu kini berdiri dihadapannya memberikan sedikit hartanya sambil tersenyum. Tidak melarikan diri lagi seperti dulu.
"Terima kasih sudah menepati janjimu, aku sekarang sudah bangkrut. Restoranku sudah tutup. Pajak restoran maupun bangunannya sudah sangat tinggi hingga aku tidak bisa membayarnya dan usahaku bangkrut." Ucap pria itu sambil tersenyum.
"Eh! Padahal aku ingin makan di restoran paman, makanannya sungguh enak. Apa paman ingin aku menendang raja di kota ini?" Kata Luffy sambil menunjukkan kuda-kuda.
"Hahaha... Tidak usah, kau tak perlu melakukan itu. Aku sekarang meskipun usahaku bangkrut, tetapi aku bekerja di sebuah restoran di East Blue jadi salah satu koki disana, mungkin kau pernah mendengar Baratie?"
"Kalau kau mau, aku bisa memasakkanmu makanan, ayo masuk." Ajak pria itu.
Luffy pun mengikuti ajakan pria itu, dia pun memakan makanan seperti saat dia dan Ace masih kecil dulu. Pria itu juga membungkuskan makanan untuk Ace, Dadan, dan teman-temannya yang lain ditambah ekstra makanan untuk Luffy secara gratis. Luffy pun berterima kasih dan berpamitan pada pria itu sambil membawa makanan yang dikasih tadi.
MMM
BRAK
"Jadi kau yang bernama Shanks di mata merah?!" geram Garp menggebrak meja ketika dilihatnya Shanks dan nakamanya sedang minum-minum di bar Makino seperti kebiasaannya dulu setiap kali mampir di desa Fusha.
Para kru bajak laut Rambut Merah Shanks masih tampak santai menanggapi kemarahan Garp. Bagaimana tidak, karena ulah orang ini cucunya bahkan dengan tegas dan lantang mengatakan ingin menjadi raja bajak laut.
"Tenang saja, aku disini hanya untuk minum di bar. Aku tidak berencana untuk menemui Luffy, kami sudah berjanji akan bertemu di suatu tempat suatu hari nanti. Dan aku bukan orang yang ingkar janji. Kau bisa memegang kata-kataku ini,"
"Kau harusnya berterima kasih padanya, Garp, kalau bukan karenanya meskipun aku benci mengakuinya tapi dia menyelamatkan hidup Luffy." Bela kepala desa Fusha.
"Waktu Luffy kecil, Shanks pernah melarangnya, sebenarnya sudah berkali-kali Shanks melarang Luffy menjadi bajak laut tapi Luffy tidak mendengarnya dan dia pun memakan buah setan Gomu Gomu. Ketika seorang perompak gunung datang dan menculik Luffy, dia membawa lari Luffy dengan kapal, saat monster laut datang menyerang keduanya, perompak itu lalu melempar Luffy ke laut. Luffy-" cerita Makino namun terpotong oleh Shanks.
"Makino-san, terima kasih minumnya. Teman-teman ingat jangan sampai ketahuan Luffy kalau kita kesini," pamit Shanks.
Shanks pun memberikan salam perpisahan kepada Garp sekali lagi. Garp pun memutuskan untuk pergi ke Gunung Colbo tempat persembunyian Dadan. 'Kuharap cicitku nanti jadi marinir sepertiku' begitulah pikiran Garp saat dia berjalan menuju Gunung Colbo.
XXX
"Hah... Hah..."
Luffy dan Ace masih bertarung sama lain seperti saat mereka kecil dulu. Tentu saja kemenangan masih di tangan Ace, namun kali ini Luffy sudah semakin kuat dan hasil pertarungan mereka tidak terlalu timpang seperti dulu, jika dulu perbandingan kekuatan antara Luffy, Ace, dan Sabo saudara mereka yang sudah meninggal dulu 1:5:4 maka sekarang perbandingan kekuatan Luffy dan Ace adalah 3:7.
"Sial! Aku pikir aku bisa mengalahkanmu sekarang, bahkan dengan gear tiga giganto jet pistol-ku pun tak bisa mengalahkanmu. Hah... hah.. Ace ayo kita bertarung lagi."
"Tidak bisa, pertarungannya tidak berubah. Untuk sekarang, sampai disini dulu. Aku juga lelah sekali, kau sudah bertambah kuat Luffy."
"Tapi kau masih jauh lebih kuat dariku, Ace."
Kakak beradik itu pun saling terjatuh di arena pertarungan tempat mereka saling adu kekuatan saat masih kecil hingga masing-masing dari keduanya memutuskan untuk berlayar.
"Aku merindukan Sabo," gumam Luffy.
"Ya, aku juga."
Tanpa mereka sadari sepasang mata sedari tadi melihat keduanya sambil tersenyum, sosok itu berbalik kemudian menghilang dibalik hutan menggunakan soru. Luffy dan Ace seakan merasakan kehadiran seseorang yang mereka kenal pun langsung terbangun dan mencari asal 'feeling' itu namun tak ada siapapun disana. Hanya ada mereka berdua. Mereka saling berpandangan.
"Kau merasakannya juga Luffy?"
"Sabo,"
"Tapi itu tidak mungkin, dia sudah meninggal saat kita masih kecil."
XXX
"Hei hei hei Nami-san, rambutmu sudah sedikit memanjang. Dadamu juga," ucap Haredas mengamati Nami saat mereka sedang berlatih utas tali angin (A/N aku ngga tahu namanya apa hehehe ituloh yang dilihatin ke Nami pas dia baru tiba di Wheatheria pas Nami nanya gimana Haredas bisa membuat air di kamar mandi jadi kayak pas Nami mandi.) yang membuat sebuah pukulan telak mendarat di mukanya yang keriput. Haredas pun terlempar sejauh 300 milimeter dengan muka babak belur.
"Kenapa aku selalu bertemu dengan orang-orang aneh sepanjang hidupku, tak terkecuali dia." Gumam Nami memandang cincin yang melingkar di jari manis kanannya,"Apa yang sedang dia lakukan sekarang ini?"
XXX
"Usoppun!"
Hercules pun segera menolong Usopp yang hampir dimakan oleh pulau Boin. Usopp yang baru pulih dari penyakit aku-hampir-mati-ditelan-bunga-raksasa hanya bisa bernafas sedikit lega.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku hampir saja mati, bagaimana kau bisa menggunakan akar seperti itu tadi?"
"Oh, ini namanya polo green. Nanti akan kuajarkan bagaimana cara kerjanya tapi sekarang kita harus mengobati penyakit tolong-selamatkan-aku-sesegera-mungkin itu. Kita akan memulai latihannya sekitar sore hari nanti, jadi bersiaplah!"
XXX
"Gomu Gomu No Giganto Busho Jet Pistol!"
"Hiken!"
Ace dan Luffy saling bertarung di tempat mereka kecil itu lagi, kali ini mereka saling memperdalam kemampuan haki mereka. Ace yang memang sudah memiliki dan menguasai serta mengendalikan ketiga macam haki semakin menguasainya, sedang Luffy yang baru belajar dasar haki dari Rayleigh sudah mulai menyesuaikan jurus-jurus yang dimilikinya kedalam haki, seperti saat ini ketika dia melawan Ace. Ace tampak kewalahan menghadapi Luffy, meski pada pertarungan terakhir hari ini Ace tetap pemenangnya namun Ace tampak bangga dengan kemajuan adiknya itu. Tidak hanya itu, Ace dan Luffy juga melawan Rayleigh dan Garp untuk melihat sejauh mana latihan mereka meningkat.
Sudah lima minggu ini Luffy dan Ace berlatih menguasai haki. Hancock sudah pulang ke Amazon Lily bersama Coby dan Helmeppo tiga minggu yang lalu. Selama di Grey Terminal, Hancock, Coby, dan Helmeppo juga mempelajari dan berlatih kemampuan hakinya atas bimbingan Garp dan khusus Coby dan Helmeppo, Garp juga mengajarkan mereka jurus-jurus yang seperti dikuasai CP9.
"Luffy! Ace-san! Garp-san!" Seru Coby di denden mushi milik Dadan.
"Ada apa Coby?!" Tanya Luffy.
"Luffy, Hancock-san! Hancock-san, Pulau Kuja, Akainu-san," ucap Coby terbata-bata, dia saat ini sedang berada dalam situasi tak menguntungkan. Disuatu sisi dia harus menuruti perintah komandannya yang baru yaitu Akainu untuk menyerang Pulau Kuja. Disisi lainnya, dia mengganggap Hancock sudah seperti nakama seperti sama Luffy, dan itu membuatnya dilemma.
"Coby! Tenang saja kami akan segera ke pulau Kuja. Luffy, Rayleigh, kita ke pulau Kuja sekarang!" Sahut Ace tegas dan ada setitik hakushou haki dalam ucapannya itu.
"Shishishi... Yosha!" Timpal Luffy.
XXX
"Hebihime-sama, tolong anda serta Marigold-sama dan Sandersonia-sama segera bersembunyi ke tempat lain. Tempat ini sudah dikepung oleh marinir, bahkan monster laut yang biasanya melindungi tempat ini sudah habis dibunuh oleh Akainu. Hebihime-sama, gelar anda sebagai shichibukai juga sudah dicabut secara sepihak. Tak ada yang bisa kita lakukan selain mereka." Mohon Margaret.
"Tch, aku adalah ratu pulau ini! Apa kau pikir aku selemah itu harus bersembunyi dan membiarkan penduduk ini tewas di depan mataku sendiri! Aku tidak sekejam itu!" Bantah Hancock yang membuat hampir seluruh penduduk Kuja hampir menjadi batu karena aura Hancock.
Dan dengan itu Hancock dan seluruh penduduk Kuja melawan seluruh pasukan marinir, kapten, letnan, admiral, laksamana, bahkan Akainu. Tanpa mereka ketahui Luffy dan Ace sudah tiba di pulau itu bersama Rayleigh. Rayleigh yang langsung dihadang oleh admiral Kisaru, Luffy yang langsung dihadang Smoker, dan Ace yang langsung melawan Akainu.
VVV
"Gomu gomu no busho gatling gun!"
Smoker langsung mengubah tubuhnya menjadi asap namun Luffy langsung menghajarnya sebelum dia berubah menjadi asap. Smoker sedikit terhuyung ketika serangan bertubi-tubi Luffy tepat mengenai wajah dan tubuhnya itu. Luffy segera menggunakan gear dua dan melayangkan serangannya kembali ke Smoker dengan menggunakan haki. Smoker tersungkur, dan ketika Tashigi akan menyerang Luffy, Hancock datang membantu Luffy. Tashigi dan Hancock pun saling bertarung, Sementara Smoker dan Luffy masih melanjutkan pertarungannya.
"Hiken!"
Ace melancarkan serangan pertamanya ke arah Akainu. Lawannya kali ini jelas bukan lawannya yang seimbang. Ace tahu itu, namun dia ingin mengalahkan Akainu apapun yang terjadi sekalipun itu membahayakan nyawanya sendiri.
"Menyerah saja, pada akhir aku akan mengirimmu ke neraka bersama kedua orang tuamu." Sombong Akainu.
"Aku tidak akan membiarkanmu membunuhku di fanfic ini!" Jawab Ace.
"Oya, coba saja menyerangku terus, aku akan membunuhmu dengan sekali serang atau perlu memakai trik 'lama'." Kata Akainu menyeringai licik.
Seperti dalam animanga-nya Akainu berbelok melancarkan serangan ke arah Luffy yang sedang bertarung dengan Smoker, namun triknya itu berhasil dibaca oleh Ace dan Luffy tapi tidak oleh Hancock. Melihat Luffy dalam bahaya, Hancock langsung berlari ingin menyelamatkan Luffy tapi tidak semudah itu. Tashigi menghadangnya, rupanya Tashigi sudah lebih kuat dibanding saat di Arabasta dulu.
Ace menyerang Akainu dengan menggunakan haki, namun Akainu sudah memperkirakannya sebelumnya dan melancarkan serangan balik dua arah kepada Ace, tidak tepat ke arah Ace. Kali ini Akainu menyerang Hancock dan Luffy dalam waktu bersamaan, dia sengaja melakukan itu dengan maksud memecah konsentrasi Ace dan dengan begitu dia bisa benar-benar membunuh anak Roger dan anak Dragon juga pengkhianat angkatan laut sekaligus.
"Luffy! Hancock!"
Hancock yang melihat serangan Akainu langsung menghindar sehingga serangan itu tidak mengenainya melainkan bebatuan di belakangnya. Luffy yang masih melanjutkan pertarungannya dengan Smoker kini mulai terpojok, tenaganya mulai menipis namun dia terus melancarkan serangan kepada Smoker. Keadaan terus berimbang. Ace langsung berlari ke arah Luffy, dia mencoba untuk melakukan hal yang sama seperti di manga. Sedikit lagi, Akainu sudah akan membunuh Luffy namun Ace menghadangnya, Luffy masih belum menyadari serangan itu. Dia masih fokus pada Smoker hingga Ace mendorongnya dan Akainu menyerang Ace. Ace terkena serangan Akainu disaat yang bersamaan dengan tumbangnya Smoker.
"Ace!"
Akainu memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang kembali Luffy namun dihadang oleh Garp. Garp datang bersama Shirohige. Perang Kuja itu pun pecah, Akainu menatap marah ke arah Garp. Bagaimana bisa pahlawan marinir seperti Garp membantu bajak laut.
"Luffy! Jangan hanya duduk disana! Bawa Ace ke tempat aman, apapun yang terjadi jangan biarkan dia mati, kau dengar!" Ucap Garp keras.
Rayleigh bersama Luffy membawa Ace dipandu oleh Hancock memasuki istana Hancock. Untuk saat ini, istana kerajaan Kuja masih termasuk tempat yang aman. Di dalam perjalanan mereka, Law datang menawarkan bantuan. Law memang shichibukai juga menggantikan Gecko Moria dan dia ikut bertarung dipihak marinir namun sebagai dokter, dia lebih mengutamakan keselamatan pasiennya dibandingan pertarungan tidak penting ini.
888
Garp melancarkan serangan demi serangan kepada Akainu namun Akainu berhasil mematahkan serangannya. Garp tidak tinggal diam, dia sengaja memancing Akainu untuk mendekati sungai namun cara itu juga tidak berhasil. Akainu terlalu pintar untuk hal seperti itu. Tidak ada pilihan lain, sebagai pensiunan marinir yang tangguh Garp kemudian membasahi dirinya sendiri dengan air laut, Garp merobek sedikit lengan bajunya dan menggulungkannya ke tangannya seperti sarung tinju untuk latihan tinju dalam boxing. Garp terus menyerang Akainu dengan tinjunya. Akainu terpojok, biar bagaimanapun juga dia adalah penggguna buah setan. Air laut yang membasahi Garp itu ternyata mampu mematikan buah setan Akainu sehingga Akainu tersungkur.
Akainu bangkit dan kembali menyerang Garp, namun Garp dapat menghindari semua serangannya. Garp kemudian meninju Akainu hingga Akainu kembali terjatuh, sayangnya tempatnya terjatuh adalah pinggir pulau yang merupakan lautan. Tubuhnya mungkin lemah karena air laut tapi semangat bertarungnya melebihi itu semua. Akainu dan Garp kembali saling serang, namun keduanya berhasil menghindar. Keduanya sudah mulai kelelahan, namun Garp tetap melancarkan tinju mautnya kepada Akainu dan Akainu pun melayangkan serangan terakhirnya kepada Garp yang membuat keduanya tumbang.
BERSAMBUNG
Maaf telat updatenya ya tapi tenang saja karena fic ini masih terus berlanjut. Oya buat semua yang udah mendukung fic Love is Nakama ini terima kasih banyak ya.
Buat yang udah baca tapi ngga review, buat yang udah baca dan review, buat yang nge-follow fic ini saya ucapkan terima kasih banyak ya.
