Disclaimer : One Piece milik Eiichiro Oda

Summary : Setelah pertarungan dengan Big Mom selesai, Luffy cs pun melanjutkan perjalanan mereka ke Wanokuni. Tapi sesuatu terjadi ketika mereka di Wanokuni, apakah itu? Baca saja kelanjutannya di chapter ini hehehe

Warning : OOC, AU/AR/AT, 1% canon, 99% karangan author, alur ga beraturan, banyak typo, dll.

MYSTERIOUS FEELINGS (NAKAMA)

"Maafkan aku!"

Entah sudah keberapa kali Sanji meminta maaf sambil bersujud dihadapan Luffy dan Nami.

"Sudahlah, Sanji-kun, tidak apa. Ini bukan salahmu. Kau kan dalam situasi yang tidak menguntungkan. Aku juga minta maaf karena kami kau harus berada disituasi seperti itu."

"Baiklah! Kalau kau bersikeras bersikap begitu. Sebagai kapten aku akan menghukummu dengan berat."

"Luffy!"

"Shishishi... mulai sekarang apapun yang terjadi kau tak diijinkan keluar dari bajak laut Topi Jerami. Dan... kau sepanjang hidupmu harus menjadi koki bahkan setelah kau menemukan All Blue, kau harus terus menjadi koki dan AH! Kalau aku kelaparan di tengah malam dan mencuri makanan di berankas makanan maka kau-"

BLETAK

"Aduh sakit! Nami ap-"

"Kalau Sanji tidak memarahimu maka aku akan menggantikannya, mengerti."

"Ya... Sanji, itu adalah hukumanmu dan sebagai tambahan jika aku dimarahi Nami maka kau yang akan kena imbasnya."

"Dengan senang hati."

"Apa Sanji selalu seperti itu?" Tanya Pudding pada Chopper disampingnya.

"Ya. Dia seorang Machocist kalau berhubungan dengan wanita cantik." Jawab Chopper sambil memakan permen kapas kreasi Pudding.

Pudding pun tertawa mendengar penuturan Chopper. Mungkin saja benar karena dihadapannya Sanji yang dikenalnya belum ada sebulan itu menari-nari seperti angin puyuh dengan mata berbentuk hati. "Nami yang marah semakin cantik." "Carrot-chan garchuu." Ya... sama sekali tidak seperti Sanji yang dikenalnya tapi dia tidak membencinya, bahkan membuatnya senang karena dia bisa melihat sisi Sanji yang lain.

"Oi Sanji, aku kelaparan!"

"Baiklah, aku akan memasak sekarang juga."

Sanji pun bersegera ke dapur untuk memasak makan malam untuk teman-temannya. Pergelangan tangannya masih sakit namun Chopper sudah membebatnya dengan gips jadi Sanji tidak terlalu merasakannya. Pudding pun memasuki dapur.

"Sanji, apa ada yang bisa kubantu? Tanganmu masih sakit kan?"

Sanji menoleh ke arah wanita yang baru menjadi istrinya itu. Sanji teringat perjanjiannya pada Big Mom untuk menikah dengan Pudding dan tinggal dengannya asalkan teman-temannya meninggalkan pulau itu dengan selamat namun siapa sangka kalau mereka benar-benar menikah dan tinggal bareng bukan di Pulau Wholecake namun di Sunny Go.

"Kalau begitu, bisa tolong potong-potong bahan ini, Pudding-chan?"

"Tentu saja."

"Terima kasih, Pudding."

"Hm?"

"Karena kau berada dipihakku hingga akhir, terima kasih. Aku tidak tahu harus berkata apa tapi..."

"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Sanji. Aku melakukan itu semua karena aku menyukaimu. Aduh aku jadi malu."

Tanpa sadar Sanji pun tersenyum mendengar pengakuan Pudding. Jujur saja saat dia mengatakan pada Pudding untuk menikahinya bukan karena dia menyukai wanita itu tapi lebih kepada karena terbawa perasaan. Wanita itu menawarkan ketenangan pada Sanji disaat dia benar-benar merasa kehilangan dan tidak berguna. Dia wanita yang baik dan menikahinya bukanlah sesuatu yang buruk.

XXX

"Luffy!"

"Chopper~!"

BLETAK

"Aduh, kenapa kau memukul kepalaku?"

"Bukankah sudah kubilang jangan turun dari tempat tidur dulu! Kau hampir mati, Luffy! Sebagai dokter dan temanmu, aku hanya minta kau istirahat sebentar saja di ruang kesehatan atau di kamarmu."

"Tapi aku bosan."

Chopper pun mendesah berlebihan. Sebenarnya bukan hanya Luffy saja, Nami pun sama. Kapten dan navigator itu sama sekali tidak mendengar Chopper sebagai dokter. Bedanya Nami masih menyempatkan untuk berkunjung ke ruangan Chopper atau sekedar rebahan jika Chopper menceramahinya.

"Terserah kau saja, aku masih harus memeriksa Jinbei dan Nami. Kau mungkin manusia karet tapi selebih itu kau manusia biasa, Luffy, tulangmu pun bisa patah seperti saat sekarang. Kau boleh bermain lagi atau apapun itu jika aku sudah memeriksanya lagi."

Luffy pun terdiam. Dia teringat pertarungannya dengan Big Mom, dengan Sanji. Apakah Chopper nantinya akan memasang demo aksi mogok jadi nakamanya juga hanya karena dia tidak suka nerdiam diri di satu tempat. Akhirnya Luffy pun menyerah dan mengikuti Chopper.

"Jadi aku hanya harus rebahan disini saja kan Chopper?"

"Ya."

Chopper pun meninggalkan Luffy menuju Jinbei di tempat tidur paling ujung dekat pintu keluar. Sementara menunggu gilirannya diperiksa, Luffy pun mengganti posisinya berbaring. Tubuhnya menghadap kiri dan dilihatnya Nami yang tertidur pulas. Ada beberapa perban di tubuh navigatornya itu. Pergelangan tangannya sedikit memar akinat serangan pasukan enraged Big Mom, Luffy menjulurkan tangannya dan mengambil pergelangan tangan Nami yang memar. Dia lalu mengambil salep di meja Chopper dan mengoleskan salep itu pada pergelangan tangan Nami dengan hati-hati. Dia hafal benar dengan salep itu karena Chopper selalu mengoleskannya kepada luka memarnya, seringnya akibat Nami.

"Hngh."

Nami meringis dalam tidurnya, Luffy pun menaruh kembali pergelangan tangannya itu. Luffy kembali rebahan menghadap Nami. Dia meletakkan topi jerami kesayangannya pada kepala Nami.

"Luffy, maaf membuatmu lama menunggu."

"Aku tidak menunggu sama sekali."

"Oh, ya apapun itu. Biar aku periksa luka-lukamu."

Ketika Chopper mencoba memeriksa luka-luka Luffy, tanpa sengaja dia melihat salep untuk memar dekat kepala Luffy.

"Hah? Kenapa salep ini ada disini. Aku kan tadi taruh di mejaku."

"Oh... tadi aku yang mengambilnya. Aku ingin mengobati memar pada pergelangan tangan Nami."

"Hmm..."

Sejak kapan Luffy peduli dengan hal seperti itu? Tentu saja pertanyaan itu terlintas dibenak Chopper tapi Chopper adalah Chopper. Tingkat kepolosannya dan tingkat kepositifannya beda tipis dengan Luffy, dengan kata lain dia tidak terlalu memikirkan perbedaan sikap Luffy itu. Kalau ada Robin, sudah pasti wanita berambut hitam itu tidak akan melewatkan hal kecil seperti itu.

"Tulangmu masih belum menyatu jadi kau harus banyak beristirahat. Kalau kau memaksakan diri untuk banyak begerak lagi, kau tidak akan bisa menggunakan gear 4 dan gear 3 milikmu lagi."

"Booo..."

"Setidaknya tahanlah selama dua minggu. Aku tidak akan melarangmu lagi setelah itu. Aku juga harus memeriksa Nami."

"Tony-kun apa aku sudah bisa keluar?"

Jinbei meminta izin pada Chopper untuk keluar. Chopper pun membolehkan Jinbei dengan syarat bahwa setelah memeriksa Nami, dia harus kembali ke tempat tidurnya lagi. Luffy pun membalikkan tubuhnya kembali menghadap Nami. Navigatornya itu masih tertidur pulas. Chopper bilang, Nami hanya kelelahan jadi jangan mengganggunya dan biarkan dia tertidur. Chopper pun keluar ruangan setelah memperingatkan Luffy untuk tidak turun dari tempat tidurnya. Luffy yang kebosanan lalu mengulurkan tangannya menyentuh rambut Nami yang tidak ditutupi topinya, tanpa disadarinya dia membelai rambut Nami dengan lembut. Luffy lalu menyentuh pipi Nami. Kemudian dia menggenggam jemari Nami dan mengelusnya.

"Apa yang kau lakukan Luffy?"

"Nami!"

"Kenapa kau berteriak begitu?"

Nami pun terbangun ketika Luffy sibuk memainkan rambutnya lalu mengelus jemarinya dalam genggamannya dan menyentuh pipinya. Tentu saja Luffy tidak menyadari perbuatannya itu hingga Nami bertanya padanya. Luffy segera menarik kembali tangannya yang terulur dengan wajah bingung.

"Aku tidak tahu."

"Kau tidak tahu?"

"Nami."

"Ada apa?"

"Tidak ada, hanya memanggil saja."

"Kau sakit?"

Nami mencoba menempelkan dahinya dengan dahi Luffy ketika dia menyadari bahwa topi jerami milik Luffy bertengger di kepalanya. Bagaimana bisa dia tidak menyadari kehadiran topi itu dikepalanya? Oh iya, dia terlalu fokus pada Luffy di hadapannya.

"Kenapa kau memberikan topimu padaku?"

"Itu karena kau terlihat kesakitan saat aku mengoleskan salep untuk memar ke pergelangan tanganmu jadi aku pakaikan saja topiku."

"..."

Nami pun mengambil topi jerami milik Luffy dan hendak memakaikan topi itu ke kepala Luffy ketika dia menyadari ada banyak kerusakan kecil pada topi itu, belum lagi jahitannya sudah banyak terlepas. Mungkin karena pertarungan sengit antara hidup dan mati itu. Mengingat pertarungan itu, Nami teringat akan Dragon dan perkataannya. Membuatnya jadi malu saja. Pria yang bisa dibilang mertuanya itu juga terluka sangat parah.

Beberapa jam sebelumnya... (flashback mode on)

"Luffy!"

Brook dengan jiwanya mencari di setiap sudut bahkan di reruntuhan bangunan kastil yang sebagian besar adalah bahan kue tersebut. Nami juga mencoba mencari di reruntuhan sebelum akhirnya menyerah karena pergelangan tangannya terkilir. Chopper memarahinya makanya dia tidak melanjutkan pencarian. Nami begitu panik saat itu sama halnya dengan nakamanya yang lain.

"Luffy~!"

Tiba-tiba dari reruntuhan kastil itu ada angin puting beliung dahsyat yang menyingkirkan puing-puing bangunan. Dari sana muncullah Dragon membawa Judge dan juga Luffy. Nami dan Chopper langsung menghampiri Luffy.

"Kau Chopper kan? Dokter kapal."

"Iya, terima kasih sudah menyelamatkan kapten kami."

"Tidak usah berterima kasih. Dia adalah anakku, sebagai ayah sudah pasti aku akan menyelamatkannya. Tolong rawat dia, aku rasa tulang rusuknya patah akibat pertarungan itu."

"Tapi kau juga terluka parah, Dragon-san."

"Tenang saja. Ada Ivankov yang akan mengobatiku."

"Oh... dan kau Nami kan? Terima kasih sudah menjaga anakku, menantuku, kukukuku."

"Eh.. ah.. iya."

Dragon pun pergi bersama Sabo, Koala, dan Hack. Urusan mereka dengan Germa 66 juga sudah selesai jadi tak ada alasan lagi untuk Pasukan Revolusioner berada disana. Chopper dibantu Brook dan Pedro pun membawa Luffy ke Sunny Go. Sebelum meninggalkan Pulau Wholecake, Ace memberikan masing-masing vivre card anggota bajak laut Topi Jerami.

Beberapa Jam Setelahnya (flashback mode off)

Nami pun mengambil alat jahitnya di meja samping tempat tidurnya kemudian menjahit topi Luffy, dilain sisi Luffy hanya memperhatikan Nami.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Melihat seperti apa? Aku hanya melihatmu seperti biasa."

"Tidak, caramu melihatku berbeda dari biasanya. Aku tidak bisa menjelaskannya tapi... ah sudahlah."

GRRROOOKKK

"Kalau kau lapar, makan saja duluan sana. Biasanya kan begitu."

"Ya, tapi Chopper menyuruhku untuk disini."

"Sejak kapan kau mendengarkan perkataan orang lain. Apa kau yakin kau ini Luffy? Mungkin saja jiwamu tertukar dengan orang lain atau... jangan-jangan kau ini BrĂ¹lee yang menyamar jadi Luffy. Kau tadi memainkan rambutku, Luffy yang kukenal tidak akan melakukan itu."

"Hmph... aku juga bisa mendengarkan orang lain kalau aku mau."

"Oh ya?"

GRRRROOOOOOKKKK

"Selesai."

Nami pun memakaikan Luffy topi jeraminya dan menariknya turun dari tempat tidur. Saat mereka akan keluar, Chopper baru masuk. Nami mengatakan bahwa mereka akan makan di meja makan, Chopper mengatakan dia memang ingin memberitahukan mereka bahwa makan malam sudah jadi. Mendengar itu Luffy sudah akan berlari melesat ke ruang makan sebelum Chopper menghentikannya dan mengatakan dia tidak boleh lari-lari dulu karena tulangnya akan bergeser lagi dan dia tidak boleh bertarung lagi. Luffy pun menurut namun berjalan dengan cepat. Nami hanya tersenyum melihat Chopper menasehati Luffy. Dia benar-benar Luffy.

"Nami-san, Carrot-chan, Pudding, ini makan malam untuk kalian."

"Aku kan bisa mengambilnya sendiri, Sanji."

"Shishishi... itu sudah jadi aturan Sanji, Pudding. Biarkan saja dia."

"Baiklah kalau begitu, terima kasih Sanji."

"Anything for you my lovely wife~~"

"Luffy! Punyamu sudah kutambahkan lagi ekstra 10 porsi jadi jangan mencuri makanan yang lain terutama para ladies disini."

Meski begitu untuk orang yang sudah kehilangan jatah makan lebih dari tiga hari, Luffy tetap saja mencuri makanan kecuali dari para ladies seperti yang dikatakan Sanji. Tapi tidak apa, suasana seperti ini lebih cocok untuk bajak laut Topi Jerami.

XXX

"Luffy! O-nami!"

"Momo! Mengapa kau ada disini?"

"Kami akan ke Wano Country."

"Carrot!"

"Wanda?!"

Carrot yang takut dimarahi Wanda pun bersembunyi di kebun bunga milik Robin. Tentu saja Wanda tidak marah. Sementara Zunisha berhenti sejenak, Pedro membawa Carrot dan Pekom kembali ke Zou. Demi keselamatan Pudding, Sanji meminta Pudding tinggal di Zou hingga mereka bertemu kembali dengan nakama mereka.

"Zunisha tidak bisa mengubah rutenya, karena itu hukuman untuknya."

"Tapi dia pergi ke arah Wano Country?"

"Ya. Aku memohon padanya namun dia tidak bisa mendekatinya karena itu keluar dari jalurnya."

"Maksudmu?"

"Maksud Lord Momonosuke adalah dia akan ikut kapal kalian dan kami akan disini menunggu kalian. Ini vivre card milik kami, kembalilah kesini setelah menjemput mereka di Wano."

"Nekomamushi, kau tidak ikut kami?"

"Ya. Aku ada disini menunggu kalian."

Bajak laut Topi Jerami serta Momonosuke pun melanjutkan perjalanan mereka ke Wano. Sementara itu di Negeri Wano.

Para samurai yang memberontak dan berkhianat pada Wano sudah dipenjara, beberapa diantaranya melakukan harakiri. Kaidou masih belum sadarkan diri. Zoro, Law, dan Kid berjaga-jaga di sekitar Kaidou jika dia sadarkan diri. Sementara Robin dan Usopp mencari salinan poneglyph itu. Franky kembali memeriksa kapal agar mereka bisa segera kembali melakukan perjalanan.

XXX

"Zoro!"

"Robin!"

"Law!"

"Usopp!"

"Franky!"

"Kin'emon dan Kanjuuro!"

"Raizou!"

"Luffy~~~!"

Usopp berlari ke arah Luffy dan memeluknya, terlihat seperti itu tapi kenyataannya adalah Usopp menjitak kepala Luffy sekuat tenaganya. Luffy pun mengaduh kesakitan. Bagaimana bisa manusia karet sepertinya bisa kesakitan setiap kali mendapat jitakan, pukulan, maupun tendangan dari nakamanya meski yang paling sakit adalah hadiah dari Nami.

"Aku pikir... aku pikir kau sudah mati...hiks."

"Shishishi... aku hampir mati kalau Ace dan Sabo tidak menolongku."

"Fufufu... mereka berdua langsung pergi dari sini secepat mungkin menaiki burung buatan Kanjuuro."

"Kemana Zoro dan Law?"

"Mereka berjaga di sekitar Kaidou."

"Aku akan kesana."

"Luffy, sudah kubilang jangan berlari dulu!"

Chopper dan Usopp pun mengikuti Luffy yang berlari duluan. Sanji membawa Caesar ke tempat Law bersama Franky. Tinggallah Nami dan Robin berdua disana.

"Ada apa Nami?"

"Oh... tidak ada."

"Apa yang kau khawatirkan?"

Nami melihat ke arah Robin lalu menundukkan kepalanya, beberapa hari ini selama perjalanan ke Zou, Nami memiliki firasat buruk atau setidaknya itu yang dirasakannya. Mereka sudah melawan dua Yonkou dan mengalahkannya. Tidak heran jika harga buronan mereka akan melesat naik namun itu membuatnya berpikir bagaimana kalau hal serupa terjadi lagi dan kali ini dia benar-benar kehilangan salah satu nakamanya atau lebih buruk lagi mereka yang kehilangannya. Tiba-tiba saja bayangan Bellemere tertembak di depan matanya terlintas begitu saja membuat Nami sedikit gemetar.

"Nami?"

Robin pun mengajak Nami ke sebuah tempat dimana banyak sayatan di gedung tersebut, mereka hanya berdiri diam disana sebelum Robin berkata.

"Ini adalah saksi Zoro, Law, dan Kid mengalahkan Kaidou."

Nami menolehkan wajahnya ke arah Robin.

"Aku tahu perasaanmu. Saat aku melihat Zoro terjatuh dengan luka lamanya yang terbuka, aku juga takut. Aku takut dia akan mati. Tapi... dia bangkit, meskipun tubuhnya penuh luka tapi dia mencoba melampaui batasnya dan akhirnya dia bisa mengalahkan Kaidou dibantu Law dan Kid."

Robin pun melanjutkan perkataannya ketika melihat Nami hanya diam mendengarkan.

"Kau harus mengatakan padanya."

"Terima kasih, Robin."

"Sama-sama."

XXX

"ZORO!"

"Oh Luffy dan Darthboard."

"Shishishi."

"Aku pikir kau memilih menikahi wanita itu."

"Oh maksudmu Pudding. Dia ikut dengan kita shishishi."

"Kalian tidak terkejut sama sekali."

"Itu karena kau Sanji, Sanji."

"Apa maksudmu?"

"Naah... tidak usah pikirkan, pikirkan saja istrimu itu, ero-cook."

"Oh kau memulainya."

Sanji dan Zoro pun memulai ritual mereka sampai Nami menyerang mereka dengan thunder lance bolt tempo. Caesar kembali menjadi tawanan Law.

XXX

"Luffy-dono, Zoro-dono, Sanji-dono, N-"

"Kau tidak perlu memanggil semua nama kami. Jika kau ingin berterima kasih pada kami, kami tidak membutuhkannya."

Kin'emon tidak tahu lagi harus berkata apalagi pada mereka. Miris memang, negeri asalnya diserang oleh bajak laut dan yang menyelamatkannya justru bajak laut dari generasi terburuk. Kin'emon menangis terharu karena dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Disampingnya Kanjuuro, Raizou, dan Momonosuke melakukan hal yang sama.

"Terima kasih."

"Terima kasih banyak."

DUAG

"Berisik! Aku tidak bisa tidur dengan tenang."

"Shishishishi...Sanji! Aku lapar!"

"Fufufufu..."

Bajak laut Topi Jerami pun meninggalkan mereka berempat sendiri. Itu adalah waktu dimana seorang laki-laki tidak ingin siapapun terlebih wanita melihat mereka menangis dan terlihat lemah apalagi salah satu dari mereka adalah calon raja negeri itu.

"Hiks...Kin'emon, Kanjuuro, Raizou, aku sudah putuskan akan mengambil alih Wanokuni. Aku akan menjadi raja dan aku akan memunculkan lagi tradisi kita sebagai pembuat poneglyph."

"Lord Momonosuke."

Plok Plok Plok

"Waaa... hebat hebat. Pidatomu barusan benar-benar menyentuh, Momo."

"Kau...?! Siapa?"

GUBRAK

"Siapa aku itu tidak penting. Aku hanya mata-mata Shogun yang berkhianat saja. Kalau kau serius dengan pidatomu itu, aku punya usul..."

"Baiklah, kami akan menginformasikan kepada Luffy-dono dan Law-dono."

XXX

"Oi Straw-ya!"

"Torao!"

"Kau akan melewatkan momen favoritmu jika tidak cepat-cepat."

"Ya, sebentar lagi aku kesana. Aku masih ingin memikirkan sesuatu."

"...HAAAH?!"

Sesuatu yang mengejutkan memang jika mendengar Luffy berkata seperti itu. Menjadi aliansi Luffy untuk waktu yang agak lama membuat Law sedikit mengerti karakter rivalnya itu. Tapi untuk seseorang seukuran Luffy lebih memilih memikirkan sesuatu daripada makan itu adalah hal yang langka.

"Ada apa, Straw-ya?"

"Aku mau makan!"

Luffy pun berlari menuju nakamanya meninggalkan Law yang diam mematung. Law pun menyusul Luffy kembali ke rumah Kin'emon.

Ketika Luffy sampai di rumah Kin'emon, pemandangan yang dilihatnya adalah Sanji yang menjadi batu, mereka semua memakai kimono seperti Kin'emon. Lalu pandangan Luffy beralih ke arah Nami, navigatornya itu juga memakai kimono. Rambutnya ditata rapih, dia terlihat seperti sedang membuat sesuatu. Tanpa disadarinya langkahnya membawanya ke arah Nami dan berhenti tepat dibelakang navigatornya itu.

"Kau sedang membuat apa Nami?"

"Oh... ini. Topi jerami. Ace juga pernah bilang kan saat dia berkunjung ke Wanokuni, dia juga membuat topi jerami. Jadi aku juga akan membuat untukku sendiri, dengan begitu kau tak perlu memberikan topimu padaku lagi, Luffy."

DEG

Tubuh Luffy menegang. Kalimat terakhir itu bergema di pikirannya. Ah dia tidak suka itu. Itu membuat dadanya terasa sakit. Nafasnya pun menjadi berat. Mungkin yang Chopper katakan itu benar, dia harus beristirahat. Kemudian Luffy pun makan seperti biasa namun dadanya masih terasa berat dan dia tidak suka itu. Sungguh tidak menyenangkan.

"Chopper, sepertinya aku sedang sakit. Dadaku terasa sesak dan nafasku berat."

"Eh! Ayo ikut aku, aku akan memeriksamu dulu."

"Chopper, ada apa?"

"Nami... bisa tidak kau jaga Luffy dulu. Aku lupa membawa peralatan medisku."

"Oh baiklah."

"Luffy, kau sakit?"

"Sesak sekali, Nami."

"Waa..."

Nami menyuruh Luffy untuk duduk. Dia tidak pernah merasa sesak jadi dia tidak tahu harus bagaimana. Luffy terlihat kesakitan. Tanpa pikir panjang Nami mengusap-usap punggung dan dada Luffy, berpikir bahwa itu bisa membuat Luffy sedikit baikan.

BRAKK

"Luffy!"

Chopper langsung mengambil alih Luffy. Semua orang disana langsung menghentikan apapun kegiatan mereka dan menghampiri Luffy yang pingsan. Luffy terus memegangi dadanya dan mencengkram bajunya, disampingnya Nami hanya menangis melihat Luffy yang kesakitan. Selama mereka berpetualang dengan Luffy, baru kali itu mereka melihat kapten mereka terlihat kesakitan. Chopper segera memeriksa keadaan Luffy.

"Dia baik-baik saja. Luffy baik-baik saja, dia tidak sakit. Tapi aku akan tetap memeriksanya. Kin'emon aku bisa memakai kamar ini dulu?"

"Silahkan, Chopper-dono."

"Chopper, aku boleh disini? Aku khawatir dengan Luffy."

"Iya, Chopper. Kami ingin disini."

"Baiklah, tapi jangan berisik."

XXX

"Hah? Kenapa mereka semua disini?"

Luffy melihat sekelilingnya dan mendapati hampir seluruh nakamanya ada di kamar tidur yang dijadikan ruang UKS dadakan itu. Chopper terlihat sedang meracik obat. Sanji tidak terlihat dimanapun, mungkin sedang menyiapkan sarapan atau makan siang atau mungkin makan malam, Robin dan Zoro juga tidak terlihat dimanapun. Nami tertidur disamping futon Luffy. Jantungnya kembali berdetak kencang dan dadanya kembali sesak ketika melihat Nami namun dia menyukainya, itu tidak lagi perasaan tidak menyenangkan seperti sebelumnya. Usopp, Brook, Franky, dan Jinbei terlihat tertidur di samping Luffy lainnya.

"Luffy~!"

Nami berteriak senang ketika dia melihat Luffy terbangun. Tanpa sadar Nami pun terbangun sepenuhnya, dia tidak lagi mengantuk dan karena posisi tidurnya, ketika dia terbangun obinya hampir lepas hingga hampir memperlihatkan bagian dalam tubuhnya yang tertutup kimono. Entah mengapa Luffy memalingkan wajahnya dan dia merasakan wajahnya memanas.

"Nami, bajumu."

Nami melihat kimononya yang hampir terlepas lalu melihat ke arah Luffy yang memalingkan wajahnya, ini menarik. Entah sengaja atau tidak, Nami pun menggoda Luffy seperti yang ia lakukan pada potongan tubuh Kin'emon saat berada di penjara bekas Fasilitas Penelitian Vegapunk.

"Oh... apa kau tidak menyukainya?"

"Ha?"

"Bukannya aku tidak menyukainya namun, kalau aku melihatnya, kau pasti akan menghajarku dan membuatku berhutang padamu."

"OH!"

"Kenapa kau jadi marah?"

"Aku tidak marah."

"Iya, kau marah."

"Aku tidak marah."

"Kau ma-"

DUAKKK

"Aduh, kenapa kau memukul kepalaku Nami? Jadi kau benar-benar marah."

"Aku tidak marah tapi aku jadi kesal karena kau berkata begitu."

"Sama saja, itu berarti kau marah."

"Sudah kubilang aku tidak marah."

Adu argumen itu terus berlangsung hingga Sanji memanggil mereka untuk sarapan pagi. Seharian itu Nami sama sekali tidak berbicara pada Luffy, begitu juga sebaliknya. Keduanya bahkan saling menghindar, oke yang satu ini lebih ke Nami yang menghindar dari Luffy setiap kali dia bertemu dengan kaptennya itu. Usopp, Chopper, Franky, dan Brook yang menyaksikan pertengkaran tidak penting itu sudah menyerah untuk membuat mereka berbaikan. Mereka tidak pernah melihat kapten dan navigatornya seperti itu. Memang benar Nami selalu memukul Luffy kalau Luffy bertindak bodoh tapi itu bukan Luffy saja, seluruh pria kecuali Chopper sudah merasakannya tapi dia tidak pernah menghindari mereka, dan sangat benar kalau Nami selalu membuat mereka berhutang padanya bahkan dengan bunga yang tidak sedikit tapi itu juga tidak pernah membuatnya menghindari mereka. Nami sendiri juga tidak mengerti mengapa ia melakukan itu, tidak ada yang salah dari perkataan Luffy dan dia juga tidak marah tapi kenapa dia merasa kesal ketika Luffy mengatakan itu. Nami benar-benar tidak mengerti.

Sudah tiga hari Nami menghindari Luffy. Zoro dan lainnya bahkan sudah terbiasa dengan pertengkaran mereka. Hari itu Luffy memilih menjelajahi Wanokuni. Zoro pergi latihan tidak jauh dari rumah Kin'emon. Sementara kapten dan firstmate menyibukkan diri di tempat berbeda. Usopp memilih untuk menjadi dewan perdamaian antara Nami dan Luffy.

"Oi Nami, sampai kapan kau terus menghindari Luffy. Aku sudah tidak tahan lagi."

"Aku tidak tahu. Aku juga tidak mengerti, sebenarnya aku mau minta maaf pada Luffy tapi setiap kali aku melihatnya, aku jadi ingat kata-katanya itu dan aku jadi kesal."

"Kenapa kau merasa kesal?"

"Aku tidak tahu!"

Usopp pun menyerah. Disaat seperti itu mengapa dia tidak bisa berbohong. Meninggalkan Nami sendiri, Usopp pun pergi mencari Robin dengan harapan arkeolog mereka bisa membantu Nami mengatasi masalahnya.

"Robin, apa kau bisa...?"

"Maaf Usopp, tapi ini adalah masalah keduanya. Aku rasa mereka harus berbicara berdua dan mengungkap perasaan mereka sesungguhnya, dengan begitu keduanya bisa tahu apa yang jadi permasalahannya."

"Benar juga."

Usopp lalu kembali ke Nami dan memintanya untuk ke Sunny Go, kemudian dia pergi mencari Luffy. Apa yang Robin katakan itu benar, mereka hanya perlu waktu untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan satu sama lain.

XXX

"Yo!"

"Rayleigh!"

"Aku dengar kalian mengalahkan Big Mom dan Kaidou."

"Shishishi... sedang apa kau disini Rayleigh?"

"Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari Shanks dan memberikan vivre card ini padamu."

Rayleigh pun memberikan tone dial dan secarik vivre card milik Shanks pada Luffy. Veteran bajak laut itu lalu mengambil posisi duduk disamping Luffy.

"Aku tidak menyangka akan ke tempat ini lagi."

"Oh iya... Nekomamushi bilang Roger dan ayahnya Momo berpetualang bersama mengikuti road poneglyph."

"Oh kau mendengarnya juga. Iya, itu saat ketika Roger bertemu dengan Rouge."

"Oh maksudmu ibunya Ace."

"Ya. Hahahaha... aku ingin tertawa mengingat mereka. Aku tidak tahu bagimana awalnya tapi tiba-tiba saja kapten mengatakan pada kami kalau dia akan menikahi Rouge, disaat itu aku rasa Rouge sudah mengandung Ace. Kami tidak pernah menyangka karena keduanya selalu bertengkar untuk masalah kecil."

"Kedengaran seperti aku dan Nami."

"Ahahaha... aku harus kembali. Aku tadi bertemu Nami di Sunny Go, dia terlihat sedih."

"Kami sedang bertengkar. Aku tidak tahu apa yang membuatnya marah."

"Sebaiknya kau pergi menemuinya, Luffy."

"Iya. Terima kasih Rayleigh."

XXX

"Luffy, Nami, aku Usopp sebagai dewan perdamaian kalian berdua membawa kalian kesini agar kalian baikan. Sampai kalian baikan, kalian tidak boleh keluar dari Thousand Sunny. Oh aku punya mata-mata paling hebat sejagat raya jadi jangan harap kalian bisa melarikan diri."

"..."

"Shishishi."

Usopp pun meninggalkan Sunny dan bersembunyi di kapal Law. Chopper, Sanji, Franky, Brook, Bepo, Law, Kid juga mengintai mereka. Bagi mereka itu seperti hiburan tersendiri, duel antara kapten dan navigator itu mungkin untuk pertama kalinya.

Kembali ke Luffy dan Nami...

"Hm... aku..."

"Oh kau tak perlu minta maaf Nami. Shishishi..."

Nami mencoba protes namun tidak ada yang keluar dari mulutnya. Sekarang, dia menjadi gugup. Apa yang sebenarnya yang terjadi padanya? Pertama, dia merasa kesal karena Luffy berkata seperti itu, dan sekarang dia menjadi gugup. Mengapa ini semua terjadi padanya? Nami benar-benar tidak mengerti.

"Maafkan aku Nami, Rayleigh bilang kau sedih. Jika kau sedih karena aku, maafkan aku. Aku tidak mau kau bersedih lagi, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak sedih lagi?"

Lagi-lagi tak ada kata yang keluar dari mulut Nami. Melihat Luffy mengkhawatirkannya seperti itu membuatnya ikut sedih. Belum lagi rasa gugup yang dirasakannya dan detakan jantungnya yang tidak teratur ketika mendengar tawa Luffy tadi. Ah Nami benar-benar bingung.

"Maaf Luffy... maafkan aku, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku juga bingung dengan perasaanku ini."

"Kau juga Nami?"

"Hah?"

"Sebenarnya aku juga merasa bingung dengan perasaanku ini. Bagaimana bilangnya tapi aku tidak bisa melihatmu seperti sebelumnya. Seperti semalam, saat kau mengatakan bahwa kau membuat topi jerami itu agar aku tidak usah memberikan topiku lagi padamu, aku juga tidak tahu mengapa tapi saat itu tiba-tiba saja dadaku jadi sesak dan sakit sekali. Dan saat kau berada disampingku menjagaku sebelum Chopper datang, dadaku semakin sesak dan aku lupa untuk bernafas, dan akhirnya aku pingsan shishishi."

Nami sedikit terkejut mendengar pengakuan Luffy itu. Dia tidak tahu kalau ucapannya itu membuat kaptennya seperti itu.

"Saat kau mengatakan hal itu padaku, aku juga tidak tahu mengapa aku menjadi kesal. Rasanya juga sama, itu seperti ada yang mengganjal disini."

Nami memegang dadanya. Bahkan saat itu jantungnya berdetak tidak karuan. Ada apa dengannya itu? Apa dia sakit jantung? Apa dia akan mati?

"Iya, iya... aku juga begitu. Bahkan sekarang pun begitu."

Luffy pun mengambil tangan Nami yang didadanya dan meletakkan di dadanya, dia juga meletakkan telapak tangannya di dada Nami.

"Shishishi... kita sama."

"Sebenarnya kita ini kenapa ya Luffy... mungkinkah kita punya penyakit serius?"

"Kita tanya saja sama Chopper. Ayo Nami."

Luffy pun menggandeng tangan Nami dan mengajaknya turun dari Sunny. Para mata-mata pun menjadi panik, Usopp dan Sanji pun menendang Chopper ke Sunny Go. Luffy dan Nami yang mendengar suara seseorang terjatuh lalu berbalik. Chopper mengutuk kedua nakamanya itu sambil memegangi kepalanya yang benjol.

"Chopper!"

"Luffy, Nami."

"Chopper, aku dan Nami-"

"Ah iya aku mendengar kalian... hehehe..."

Para mata-mata di kapal Law hanya bisa sweat dropped mendengar pengakuan Chopper. Mereka lupa kalau Chopper sama polosnya dengan Luffy. Mereka menelan ludah dan berdoa semoga Nami tidak menyadarinya tapi...

"Teman-teman, bukankah sudah saatnya kalian untuk keluar."

"Nami-san."

"Nami..."

"Kami minta maaf."

"Terima kasih teman-teman."

"Hehehehe... sama-sama."

"Untuk menguping masing-masing kecuali Robin dan Chopper harus membayar 1000 berri."

"EEEHH!"

"Shishishi."

XXX

"99978...99979...99980...99981...9998...99999...10000."

"Kau mau sparring denganku?"

"Oh kau."

STRING

STRING

Zoro dan samurai misterius itu saling mengadu pedang. Keduanya saling mengeluarkan jurus andalan mereka seakan-akan itu bukan sebuah latihan melainkan sebuah pertarungan sungguhan.

"Kau tidak buruk juga."

"Kau juga."

STRING

XXX

"Pudding-san, apa kau mengkhawatirkan Sanji?" Tanya Nekomamushi.

"Tidak. Dia bersama nakamanya lagi jadi aku tidak khawatir tapi aku ingin bertemu nakama Sanji yang lain, aku ingin ikut mereka berpetualang tapi aku terlalu lemah."

"Kalau begitu apa kau mau ikut denganku? Aku dan Inuarashi akan ke Wanokuni besok pagi."

"Aku boleh ikut?"

"Tentu saja."

"Terima kasih."

XXX

Hari itu adalah saatnya Momonosuke naik tahta sebagai raja Wanokuni. Seharusnya begitu namun yang terjadi...

"Telah banyak yang terjadi pada negeri kita ini. Kita kehilangan banyak nakama kita, samurai terbaik kita. Pada hari ini, Lord Momonosuke akan dinobatkan menjadi raja Wanokuni."

Sorak-sorai penduduk Wanokuni membahana menyambut raja baru mereka. Bajak laut Topi Jerami, bajak laut Law, dan Kid tidak berada disana. Mereka berada di kapal masing-masing. Kazuki Momonosuke lalu berdiri dihadapan penduduk Wanokuni.

"Terima kasih telah mempercayakanku sebagai raja Wanokuni. Aku... tidak tahu harus berkata apa..."

Momonosuke menghentikan pidatonya sejenak untuk menyeka airmatanya.

"Dalam perjalananku mencari bantuan untuk Wanokuni, aku bertemu dengan kelompok bajak laut. Kapten mereka sangat bodoh dan selalu bertengkar denganku, navigator mereka sangat cantik dan bersamanya aku seperti bersama ibuku,"

Luffy hanya tertawa mendengarnya dan Nami pun protes dengan mengatakan aku tidak setua itu.

"Dia terlalu muda untuk menjadi ibuku tapi terlalu tua untuk menjadi istriku..."

Nami pun tersedak mendengar pidato kelanjutan Momonosuke sementara Luffy, auranya memancarkan ketidaksukaan, dia menggumamkan sesuatu seperti Nami tidak tua.

Penduduk Wanokuni tertawa mendengar pidato Momonosuke, Kin'emon, Kanjuuro, dan Raizou hanya tersenyum mendengarnya.

"Sniper mereka sering menceritakan petualangan yang bahkan anak berumur delapan tahun seperti aku tahu kalau itu adalah bohong, dokter mereka sangat polos dan mudah dibohongi,"

Usopp dan Chopper langsung protes mendengarnya, Chopper mengatakan bahwa dia tidak mudah tertipu yang membuat lainnya tertawa mendengarnya.

"Arkeolog mereka juga sangat cantik dan dadanya sangat besar, berpetualang bersama mereka sangat menyenangkan. Karena itu... aku... ketika mendengar ayahku ikut bajak laut Roger mencari poneglyph dan akhirnya menemukan One Piece. Aku juga ingin ikut mereka. Aku ingin melihat dunia yang dilihat ayahku, aku ingin mengembalikan Wanokuni seperti seharusnya dimana kita membuat poneglyph. Aku ingin menjadi raja yang lebih baik dari ayahku tapi aku masih kecil dan aku masih belum mengerti apapun. Aku masih lemah. Karena itu, aku mohon maaf karena permintaan egois ini."

Aliansi bajak laut Topi Jerami pun tersenyum mendengar pidato Momonosuke. Franky pun mengajak Usopp untuk membantunya merenovasi Thousand Sunny. Law dan Kid berpamitan pada Luffy, mengatakan bahwa meskipun aliansi mereka berakhir disana yang dibalas oleh Luffy dengan mengatakan bahwa mereka akan selalu menjadi nakamanya. Law dan Kid mengatakan itu tidak mungkin karena hanya ada satu raja, jadi mereka adalah rival. Luffy tertawa dan mengatakan meski begitu dia akan tetap membantu mereka jika mereka menemui kesulitan.

Nami mengecek log pose mereka dan mengatakan mereka bisa meninggalkan Wanokuni dalam waktu dua hari. Nami juga meminta Usopp dan Franky mengupgrade clima tact miliknya. Zoro mendapatkan dua pedang baru yang meruapakan pedang legenda dari samurai legendaris di Wanokuni menggantikana dua pedangnya yang patah akibat pertarungannya melawan Kaidou. Sanji mendapatkan resep turun temurun dari Wanokuni, dan Chopper mendapatkan tumbuhan obat untuk berbagai penyakit. Robin mungkin yang paling beruntung dari semuanya karena selain mendapatkan salinan road poneglyph, dia juga bertemu generasi kedua dari pembuat poneglyph. Robin belajar banyak darinya.

XXX

"Pudding~~!"

Nekomamushi, Inuarashi, dan Pudding baru saja sampai di Wanokuni beberapa jam sebelum Topi Jerami meninggalkan Wanokuni menuju pulau selanjutnya.

"Aku Pudding, aku bergabung dengan Luffy sebagai Pastry Chef. Ah... maaf aku sampai lupa, aku membuat ini untuk kalian. Ini kreasi baruku."

"Wooo... miniatur Thousand Sunny."

"Itadakimasu."

Chopper langsung memakan cokelat mirip dengannya. Luffy tertawa mendengar Chopper mengatakan itu dan mengatakan kalau Chopper seperti Toriko namun dia mengikuti apa yang dilakukan oleh Chopper. Nami juga memakan miniatur pohon mikan dan miniatur mirip dengannya. Zoro dan Franky mengambil miniatur mirip dengannya dan memakan crownest dan akuarium. Robin memakan miniatur mirip dengannya sedangkan Usopp memakan bendera SHP. Dan Brook...

"Pudding-san, lama tidak bertemu. Apa aku boleh melihat celana dalammu?"

Sanji pun menendang Brook.

"Maaf Brook-san tapi aku tidak memakainya hari ini."

Brook dan Sanji pun jadi mimisan mendengar perkataan Pudding.

"Ah maafkan aku, maksudku aku memakai punya Wanda karena punyaku.. hmmm... aduh aku ini bicara apa."

BLETAKK

"Jangan membuat Pudding mengatakan itu, Brook, Sanji."

"Tenang saja Pudding, aku mengerti maksudmu. Aku juga mengalami itu, kau tukaran dengan Wanda kan. Baju itu juga dari Carrot."

"Iya, itu maksudku."

"Hei... apa kau terkena guna-guna dari Darthboard?"

Pudding hanya tertawa mendengar pertanyaan Zoro. Apalagi setelahnya Sanji dan Zoro memulai pertengkaran bodoh mereka yang berakhir terkena bogeman mentah dari Nami. Usopp lalu menghampiri Pudding dan mengatakan kalau dia sudah tahu kalau Pudding menikah dengan Sanji dan dia bergabung dengan bajak laut Topi Jerami karena dia (Usopp) adalah peramal. Robin hanya tersenyum.

XXX

"LUFFY!"

"MOMO!"

"Aku... bolehkah aku... boleh tidak aku ikut denganmu?"

"Tentu saja!"

Momonosuke pun berubah menjadi naga kecil, dia menangis dengan kencang. Luffy merenggangkan tangannya dan membawa Momonosuke dan Kin'emon, Raizou, dan Kanjuuro untuk ke kapalnya. Nekomamushi, Inuarashi, dan samurai wanita misterius itu menaghantarkan kepergian Momonosuke dan Bajak Laut Topi Jerami.

"Robin, Nami, kalau kita mengikuti road poneglyph itu. Kita akan sampai ke pulau terakhir?"

"Iya, itu yang dikatakan Nekomamushi di Zou."

"Osu!"

"Jadi kalau kita bisa menemukan road poneglyph terakhir maka kita bisa ke Raftell."

"Iya."

"Apalagi yang kita tunggu, berangkat!"

"Osu!"

XXX

BERSAMBUNG

Akhirnya selesai juga hehehe jadi bagaimana menurut kalian chapter ini? Dapat ga feelingnya antara Luffy dan Nami.

Untuk semua yang sudah follow dan favorit-in fic ini saya ucapkan terima kasih, untuk yang baca tapi ga review, baca dan review, review tapi ga baca, dan untuk semua reader mau yang guest, anonymous, ataupun yang login saya ucapkan terima kasih banyak. Untuk guest yang bernama name- apa gitu saya juga ucapkan terima kasih. Sampai jumpa di chapter selanjutnya... maafkan saya kalau update suka lama hehehe