Disclaimer : One Piece milik Oda Eiichiro.

Summary : Akhirnya Luffy dan Shanks berhadapan secara langsung. "Yo Luffy, sepertinya kau sudah menepati janjimu padaku. Mari kita selesaikan saja sekarang, Road Phoneglyph ini akan menjadi milikmu." "Aku tidak mau melawanmu, Shanks. Kau adalah nakamaku. Aku bisa menggunakan jalan lain untuk menemukan one piece." Bagaimana jadinya kalau Luffy dan Shanks saling bertarung? Lalu bagaimana dengan Usopp ketika berhadapan langsung dengan Yasopp? Kalau penasaran, baca ya lanjutannya hehe makasih XD

Warning : OOC, AU/AR/AT mungkin, banyak typo, dll.

Genre : (main genre) Friendship, Romance; (minor genre) Adventure, Action.

NAKAMA

"Huhuhu… Nami-san… Nami-san dengan Luffy… huhuhu…" ratap Sanji menggigit serbet makan.

Sejak mengetahui Nami hamil, para pria penghuni Thousand Sunny kecuali Zoro dan Luffy diam-diam meratapi Nami seperti Sanji, yang ini khusus grup omes seperti Sanji, Brook, dan entah mengapa Momonosuke, dan Kin'emon ikutan grup ini. Yang lain memandang Luffy dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Memang sebenarnya itu adalah hal yang wajar karena keduanya sudah menikah tapi melihat sikap Luffy yang biasa saja membuat semua itu terasa tak wajar.

"Oi alis keriting! Bisa diam tidak! Aku mencoba tidur disini. Ratapanmu itu merusak gendang telingaku!"

Tidak ada reaksi apapun dari Sanji.

DUAK

Sanji hanya mengusap belakangnya dan kembali meratap.

"AAAHH! Aku sudah tidak tahan lagi. Apa masalahmu?!"

"Ya, kau benar. Ini tidak ada urusannya denganku. Aku… huhuhu…"

"Kalian ini berisik sekali!" protes Nami.

Sanji dan Zoro pun terkena bogeman mentah dari Nami. Akhir-akhir ini mood Nami memang tidak bagus, dia sering muntah dan terkena morning sickness. Dia sering mual dan dia juga ingin makanan atau benda-benda aneh-aneh. Tapi bukan Nami saja yang mengidam. Luffy juga begitu. Dia sering memakan makanan yang sebelumnya tidak dia sukai, seperti yang terjadi beberapa jam yang lalu ketika Luffy meminta Sanji memasakkannya sayur mayur dan juga makanan yang tidak disukai lainnya. Lebih aneh lagi ketika Luffy merasa mual ketika memakan daging kesukaannya. Tapi yang paling aneh ketika dia makan dengan manner. Itu benar-benar aneh melihatnya. Bisa kau bayangkan?

XXX

"Yo!"

"Kau… Shanks?" respon Ace, "Sedang apa kau disini?"

"Aku hanya ingin menyapa." Jawab Shanks.

Setelah mengatakan itu Shanks pun pergi meninggalkan Ace sambil melambaikan tangannya. Saat itu Ace dan Marco sedang berada di makam Shirohige dan beberapa anggota bajak laut Shirohige yang dibunuh Weeble saat Shanks datang berkunjung. Marco sudah kembali ke kapal mereka sedangkan Ace, dia masih berdiri di depan makam ayah angkatnya itu.

"Ayah… aku akan melanjutkan perjalananku. Aku ingin mencari makam ayah kandungku dan ibuku. Terima kasih sudah menjaga dan menyayangiku selama ini." Lapor Ace.

Ace pun membungkukkan badannya sebagai terima kasih dan lalu membalikkan badannya, pergi melanjutkan perjalanannya.

"Ace, tadi Si Rambut Merah Shanks memberikan ini untukmu. Katanya kau mungkin akan mencarinya untuk menanyakan sesuatu." Ujar Marco memberikan vivre card milik Shanks.

XXX

"Tidak seru ah kalau kita sudah melewati rute yang sama. Aku tidak mau sama dengan peta dari Big Mom. Aku mau rute yang seperti biasa saja!"

"Terserah saja! aku kan navigatornya, mau seru atau tidak seru, rutenya memang begitu. Kebetulan saja sama percis dengan di peta dari Big Mom."

Kembali ke beberapa saat yang lalu….

"Usopp, Chopper, kita main yuk." Ajak Luffy yang kebosanan.

"Maaf Luffy tapi aku sudah janjian dengan Franky mau menciptakan sesuatu." Tolak Usopp yang langsung pergi mencari Franky.

"Maaf Luffy, aku mau main tapi aku harus ke perpustakaan. Ada yang harus kulakukan sebagai dokter." Tolak Chopper yang pergi ke perpustakaan.

Luffy yang bosan lalu pergi ke crow nest menemui Zoro namun dia diusir. Dia lalu melihat Robin yang menyiram bunga namun karena tidak tertarik, dia mencari Momo tapi nihil. Tidak ada satupun nakamanya yang bisa dia temui lagi kecuali Sanji yang langsung menendangnya keluar. Akhirnya Luffy pun duduk di singgasananya namun dia tetap bosan. Dia pun melihat Nami ke ruang navigasi dan mengikutinya.

"Nami… aku bosan."

"Kalau kau bosan, kenapa tidak bermain dengan Usopp dan Chopper?"

"Mereka semua sibuk."

Nami pun menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Luffy sambil memasang wajah berpikir. Lalu dia berbalik lagi melanjutkan membuat peta dan menuliskan log mereka.

"Aku juga sibuk. Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu, Luffy."

"Hei Nami… apa benar kalau kau… maksudku diperutmu itu ada nakamaku?"

Pertanyaan yang lebih mirip pernyataan itu membuat Nami tersedak. Gara-gara Luffy berkata begitu, peta yang susah payah dia kerjakan itu jadi tercoret dan itu artinya dia harus mengulanginya dari awal. Sontak itu membuatnya mendengus kesal. Nami pun berbalik menghadap Luffy yang menatapnya dengan serius namun juga ada kilatan penasaran di matanya.

"Ace dan Sabo bilang kalau kau hamil itu artinya aku akan mendapat nakama baru, ya dia belum ada. Aku harus menunggu sangat lama untuk bisa bertemu dengannya. Koala bilang itu benar, dia masih ada diperutmu jadi aku harus menjaganya agar dia bisa tumbuh kuat dan sehat." Ujar Luffy.

"Iya, itu benar tapi… Luffy, nakama yang mereka bilang itu adalah anakmu." Jawab Nami lalu berbalik lagi untuk mengulang peta yang ia buat.

"Anakku?" gumam Luffy, "Apa itu berarti dia seperti Ace?"

"Hah? Oh… ya. Dia seperti Ace, saat dia lahir nanti, kau mungkin sudah menjadi raja bajak laut atau mungkin baru mau menemukan one piece."

"Tentu saja aku sudah menjadi raja bajak laut saat aku bertemu dengannya. Kalau ada Nami, kita pasti bisa mengarungi seluruh lautan dalam waktu yang cepat karena aku memiliki navigator terbaik dalam hidupku shishishishi."

"Baiklah kapten, sebagai navigator terbaik, aku ingin menyelesaikan petaku jadi…"

Luffy pun berdiri lalu meletakkan topinya pada kepala Nami. "Baiklah. Kalau begitu aku titip topiku ya untuk calon bajak laut generasi selanjutnya." Luffy pun keluar dari ruang navigasi. Tanpa terlihat oleh Luffy, Nami tersenyum lembut dan memegangi perutnya yang masih rata. Tidak lama Sanji pun datang mengantarkan makan siang untuk Nami.

Usopp, Chopper, dan Luffy pun memutuskan untuk memancing setelah lelah bermain petak umpet dengan Robin dan Momo. Sementara Momo dan Robin mandi, trio idiot itu pun memancing cadangan makanan mereka, ya ikan-ikan di akuarium mereka sudah hampir habis karena mereka tak kunjung berlabuh di sebuah pulau.

"Usopp, kau terlihat sangat senang."

"Ya, soalnya kita kan sudah berhasil mendapatkan peta menuju Raftel yang kita curi, mungkin kita langsung menggunakan rute tercepat untuk kesana."

"Eh? Benarkah? Luffy…"

"…." Kriek…

"Usopp. Aku sudah pernah bilang kan kalau… lebih baik kita sudahi saja petualangan ini dan aku tidak mau menjadi raja bajak laut dengan cara itu tapi kenapa kau masih berpikir begitu!" marah Luffy mematahkan pancingannya. Chopper segera menangkap patahan pancingan Luffy yang dibawa ikan.

"Kau bilang begitu tapi kenyataannya kita mengikuti rute yang sama dengan di peta Big Mom, kenapa tidak sekalian saja kita ambil rute tercepat menuju one piece." sanggah Usopp.

"Siapa… siapa yang bilang begitu?"

"Aku melihat peta Big Mom sekilas saat Burgess melemparkannya kearah Robin. Rute yang kita lewati selama ini sama percis seperti di peta itu."

Luffy pun meninggalkan Chopper dan Usopp. Dia berlari menuju ruang navigasi.

"Nami!"

"Ada apa lagi, Luffy? Aku sibuk. Kalau kau mau main, mainlah sama Usopp dan Chopper."

"Apa benar… rute yang kita lewati selama ini sama dengan peta di Big Mom?"

"…"

Nami mengambil peta Big Mom dan membandingkannya dengan peta yang ia buat sendiri, bagaimana Luffy bisa tahu semua itu, dia kan tidak bisa baca peta.

"Ya, kau benar. Kita memang di rute yang benar..."

Kembali ke percakapan awal…

"Tapi, aku mau petualanganku sendiri!" marah Luffy lalu menghempaskan peta yang dibuat Nami.

Nami memungut peta yang dibuang Luffy.

"Awalnya aku merasa berterima kasih saat kau menghancurkan ruangan itu dan juga menyelamatkan desaku dari Arlong karena itu aku memutuskan untuk ikut denganmu, menjadi navigatormu, dan kupikir… sekali lagi, aku bisa mewujudkan impianku membuat peta seluruh dunia dan saat semua ini berakhir, aku bisa menunjukkannya pada Bellemere tapi… apa yang terjadi? Kenapa kau…?"

Nami pun mengambil peta yang ia buat dan juga peralatan membuat peta lalu meninggalkan Luffy sendiri disana setelah mengembalikan topi jerami itu ke pemiliknya. Luffy pun tertunduk lesu, wajahnya sebagian tertutup oleh topinya. Seharian itu Nami tidak berbicara sepatah katapun pada Luffy.

XXX

"Rayleigh-san, Crocus-san, Buggy tidak datang?"

"Ya… dia tidak mau. Kurasa dia masih dendam karena dulu dia sering di bully olehmu. Dia bilang aku tidak mau datang kalau ada Shanks. Ya tapi kau tahu dia, meski begitu dia pasti datang kesini." Jawab Rayleigh.

"Sudah 22 tahun sejak dia dieksekusi. Rasanya aku masih belum percaya kalau dia sudah tidak disini." Kenang Crocus.

Tidak jauh dari mereka Buggy menangis kencang. Hari itu anggota bajak laut Roger mengunjungi kapten mereka dulu. Gol D. Roger. Tidak jauh dari Buggy berada Garp juga datang mengunjungi raja bajak laut itu. Itu adalah hari eksekusi Roger. Jadi tiap pada hari itu, mereka memperingatinya dengan mengunjungi makam Roger yang dibuat oleh anggota bajak laut Roger.

"Kapten, maaf aku baru mengunjungimu lagi. Sebenarnya ada banyak yang ingin kuceritakan padamu… tapi-" ujar Shanks namun terhenti. Dia menangis dihadapan makam kaptennya itu.

"Roger, aku bertemu dengan salah seorang anggota bajak laut yang membawa Laboon…" Crocus pun menceritakan pertemuannya dengan Luffy, dengan Brook, hingga Laboon menjadi anggota bajak laut Topi Jerami dengan berlinangan airmata.

"Aku juga bertemu Ace. Dia benar-benar mirip denganmu tapi ada seorang lagi yang…" Rayleigh pun menceritakan tentang Luffy. Dia juga berlinangan airmata.

Sementara itu Ace sudah sampai di tempat itu. Di makam Roger dan Rogue. Ace mendekati ketiga veteran itu secara perlahan. Tiap langkah kakinya terasa berat dan entah mengapa airmatanya turun begitu saja, meski dia berkata membenci ayah kandungnya itu namun sepertinya tidak dengan hatinya.

"Jadi disini kau bersembunyi… Ayah."

Secara komikal kau mungkin akan melihat Roger menangis dengan kencang dan Rogue tertawa geli disamping Roger ketika Ace mengatakan itu. Para pria yang mendengar kalimat yang dilontarkan Ace itu pun semakin berlinangan airmata, mungkin mereka ikut bahagia karena akhirnya 'Pangeran' bajak laut itu mengakui ayahnya. Bahkan anggota RHP dan Buggy serta Garp meneteskan airmata melihatnya.

XXX

"Luffy… maafkan aku. Aku sungguh minta maaf."

Setelah pertengkaran Luffy dan Nami, Usopp jadi merasa bersalah. Dia pergi ke Nami namun didiamkan, dia terus meminta maaf pada Nami tapi Nami tetap mendiamkannya. Sanji menendangnya hingga babak belur karena menjadi sumber kesedihan Nami setidaknya menurut Sanji begitu. Usopp lalu menemui Luffy untuk meminta maaf tapi dia mendapat respon yang sama.

"OI… AKU MELIHAT PULAU!" teriak Zoro dari crow nest.

Nami pun segera keluar untuk mengecek cuaca dan mengatur posisi mereka berlabuh, dibantu oleh Franky.

"Sanji dan Franky bertugas untuk membeli perlengkapan kapal…" Nami membagikan tugas masing-masing pada mereka.

.

.

"Oi… jangan merapat disitu! Kalian bajak laut kan? Disana dekat markas marinir. Ayo ikut aku, kebetulan hari ini tangkapanku banyak. Istriku memasak masakan enak hari ini, ikutlah denganku." Ujar seorang pria berumur sekitar 30 tahunan.

Nami pun menyuruh untuk mengikuti pria itu ke sisi pulau lainnya. Pria itu lalu menyuruh mereka untuk menutupi layar kapal mereka dan bendera mereka agar tidak terlihat marinir dan tidak ketahuan oleh marinir. Sesampainya di sisi pulau tempat tinggal pria itu, mereka pun menurunkan jangkar mereka dan mengikuti pria itu.

"Namaku Koujiro, apa kau… kerabat Gol D. Roger?" pria itu memperkenalkan diri.

"Tidak, kami hanya bajak laut biasa. Tapi kami mengenal anaknya, dia adalah kakak angkat kapten kami." Jawab Nami mewakili SHP. "Oh, namaku Nami. Salam kenal."

"Begitu… sebenarnya waktu aku masih kecil aku pernah bertemu dengan raja bajak laut itu. Tapi tidak satupun orang yang percaya padaku, Topi Jerami itu sama percis yang dipakai oleh Roger. Aku pikir kalian mungkin kerabatnya atau apa…"

"Aku dengar topi jerami itu dititipkan oleh mantan anggota bajak laut Roger dan itu memang topi yang sama yang dipakai Roger."

"Ah ternyata begitu. Ini merupakan suatu kehormatan bagiku bisa menjamu calon raja bajak laut."

Bajak laut Topi Jerami pun memasuki rumah tempat tinggal Koujiro dan istrinya, Belle. Sanji membantu Belle membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan mereka sementara yang lain mendengarkan kisah Koujiro dan Roger. Setelah itu Sanji dan Usopp pergi ke kota untuk membeli persediaan bahan makanan mereka selama perjalanan menuju pulau selanjutnya. Franky dibantu Koujiro memeriksa keadaan Sunny Go. Robin dan Chopper pergi ke toko buku. Zoro dan para samurai Wano berjaga di Sunny Go. Luffy… jangan ditanya, dia berjalan-jalan di kota setelah menghabiskan seluruh jamuan makan. Nami ditemani Belle mengelilingi pulau, tentu saja mereka menghindari markas marinir.

"Nami-chan, apa kau dan Luffy sedang bertengkar?" tebak Belle saat mereka berjalan-jalan di kota.

"Eh? D-darimana kau tahu?"

"Karena aku dan Koujiro selalu bertengkar untuk hal kecil. Kau dan Luffy sudah menikah kan? Aku bisa lihat dari cincin di jari manis kalian."

"…/…"

DOR

Saat mereka berjalan di pusat kota, Nami dan Belle mendengar suara tembakan. Belle lalu mengajak Nami pergi dari sana. Sekilas Nami melihat orang yang menembakan pistol itu mirip sekali dengan Arlong, hanya saja dia seorang manusia bukan merman.

"Kenapa orang itu ditembak?"

"Dia tidak membayar pajak. Di pulau ini, kami harus membayar pajak untuk bertahan hidup. Kami sudah meminta perlindungan dari angkatan laut tapi mereka tidak menggubrisnya. Mereka adalah bajak laut."

Nami membulatkan matanya, badannya gemetaran dan dia mundur selangkah. Belle yang melihat reaksi Nami itu hanya menatap Nami heran. Kedua wanita hamil itu lalu bergegas pergi darisana. Sepanjang perjalanan Nami tidak berkata apa-apa.

XXX

"Ini uang pajak untuk kedua anakku. Aku tidak punya uang untuk membayar untukku." Ujar seorang wanita berumur sekitar 30 tahunan.

"Kau tahu kan konsekuensinya jika tidak membayar pajak." Balas salah satu bajak laut itu.

"Asalkan kau membiarkan kedua anakku hidup, itu sudah cukup untukku." Sahut wanita itu. Dibelakangnya kedua anaknya tampak ketakutan, mereka tidak mau kehilangan ibu mereka. Mereka sudah kehilangan ayah mereka gara-gara bajak laut itu, mereka tidak mau kehilangan ibu mereka.

Bajak laut itu menarik pelatuknya dan menodongkannya ke kepala sang ibu.

"THUNDER LANCE TEMPO!"

Bajak laut itu pun terkena sengatan listrik hingga pingsan. Nami berdiri dihadapan wanita itu dan kedua anaknya. Belle membantu ibu dan dua anaknya itu pergi darisana. Dia melihat ke arah Nami sebelum pergi bersama mereka.

"Wow… kau benar-benar membuatku terkejut. Aku tidak menyangkanya. Terima kasih sengatan listrik tadi."

Satu per satu bajak laut tadi lalu berdiri. Nami menatap mereka horror, mereka semua tidak seperti yang Nami kira. Masing-masing mereka adalah pemakan buah setan tipe Zoan, Logia, dan Paramecia. Pria yang mencoba menembak wanita tadi merupakan pemakan buah setan tipe Zoan, ikan gergaji. Nami membeku ketika pria itu merubah dirinya menyerupai Arlong. Salah lainnya bertipe Zoan, bunglon. Dia membuat dirinya me-mimikri udara hingga menjadikannya transparan.

BRAKK

"Apa yang kau lakukan dengan Nami!?"

Menggunakan jet pistol miliknya, Luffy meninju pria ikan gergaji itu. Kesempatan itu diggunakan Nami untuk melepaskan diri dari pria bunglon, kenapa dia bisa tahu dimana pria bunglon itu berada, itu masih menjadi misteri bagi Nami.

"Gomu gomu no…"

"Diable jamble…"

"Hitotsu…."*

"Elephant gatling! Hotpants! Hikari Boshi!"*

XXX

"Bagaimana dengan bajak laut tahanan itu? Mereka belum menyetor uang pajak hidup lagi?"

"Soal itu…. Mereka-"

"Admiral! Admiral! Pria itu mengamuk lagi di markas, apa yang harus kami lakukan?"

"Tsk."

Sosok misterius yang dipanggil Admiral itu lalu berdiri dari kursinya. Pria tambun itu dengan sekejap menjadi kurus lagi. Admiral itu lalu mengikuti marinir yang melapor padanya.

XXX

"Ah… kurasa ini sudah waktunya untuk mereka ya." Ujar Rayleigh yang bersantai di rumah Crocus dalam perut Laboon.

"Maksudmu… bajak laut Topi Jerami?" konfirmasi Crocus sambil mengobati Laboon tanpa menoleh ke arah Rayleigh.

"Ya. Ini saatnya Luffy berhadapan dengan Shanks… aku tidak menyangka mereka akan secepat itu sampai di pulau itu. Ayo kita juga harus kesana, Crocus."

XXX

"Koujiro!"

BUAK

Pria bernama Koujiro itu langsung meninju wajah pria tambun yang dipanggil Admiral itu. Tentu saja itu sama sekali tidak sakit bagi admiral angkatan laut itu. Admiral itu pun balik meninju wajah Koujiro hingga dia terpental.

"Kenapa kau jadi seperti ini, Gori?"

"Bukankah kita berjanji akan menjadi bajak laut seperti Roger?"

"Kenapa kau jadi seperti ini, kenapa kau memperalat bajak laut itu untuk merampas uang nakama kita?"

"Kau sadar kan apa yang kau lakukan itu lebih buruk dari mereka!"

Koujiro pun bangkit dan melawan admiral yang bernama Gori itu. Keduanya saling adu kekuatan, layaknya teman kecil. Argumen yang mereka debatkan bukanlah lewat kata-kata tetapi melalui adu fisik.

"Memang kau tahu apa soal aku?!"

.

.

FLASHBACK

25 Tahun Lalu di Pulau Tanpa Nama, Kerajaan Tanpa Nama…

"Oi Gorila, ayo sparring denganku!"

"Hah… lagi? Aku lelah. Lagipula ini sudah kesekian kalinya kita sparring, Kou-chan."

"Hohoho… kenapa? Kau takut?"

"*menghela nafas panjang*Iya iya… calon raja, Koujiro, ah tidak… Muromachi Jin."

"Jangan memanggilku dengan nama itu, Gori. Aku sudah ganti nama jadi Koujiro, lagipula aku bukan calon raja. Aku masih lima tahun."

"Dan aku baru enam tahun." Balas Gori sarkastik.

"Jin-sama, jika aku menang melawanmu. Kau harus mengikuti perkataanku seharian penuh ini ya!"

Dua bocah itu pun saling adu pedang. Gori yang sebenarnya bernama asli Raishou Kurogane dan Koujiro aka Muromachi Jin merupakan keturunan dari samurai Wanokuni dari ayah mereka yang kabur dari Wanokuni karena ingin mencari kebebasan. Ayah mereka terdampar di pulau tempat tinggal mereka dan menetap disana dengan menyembunyikan identitas keduanya, ayah Koujiro menikah dengan putri di kerajaan pulau itu dan ayah Gori menikah dengan putri panglima kerajaan. Tentu saja keduanya masih bersahabat hingga sekarang keduanya menjadi raja dan panglima perang kerajaan. Darah samurai yang mengalir dalam tubuh ayah mereka menurun ke Gori dan Koujiro.

"Hah… hah… sudah kubilang kau tidak akan menang melawanku."

Keduanya menyelinap keluar istana berjalan-jalan di tepi pantai, disanalah mereka bertemu Belle. Saat itu Belle baru berumur empat tahun, rambutnya yang kemerahan itu membuat Koujiro mendekatinya. Koujiro kecil lalu mengajak Belle ikut dengannya dan Gori berjalan di pusat kota. Tanpa tahu keduanya dari kerajaan, Belle kecil pun mengikuti dua bocah samurai.

"Kuhahaha…Bahahalala…" tawa mengerikan itu membahana di pusat kota.

"Ayo kita pergi, mereka bisa membunuh kita." Ajak Belle kecil gemetaran.

"Hentikan tertawamu itu. Aku pusing mendengarnya!" seru seorang pemuda bertopi jerami, umurnya mungkin baru dua puluh tahunan.

Kejadian itu sangat cepat hingga kedua samurai kecil dan gadis kecil itu tidak bisa mempercayai kedua matanya. Pemuda itu mengahajar habis seluruh bajak laut itu, pemuda itu menyeringai dan mengatakan pada anak buah bajak laut itu yang masih sadar. "Seorang raja pasti akan menghukum warganya yang melanggar hukum, begitupun denganku. Namaku Roger, Gol D. Roger, raja bajak laut." Pemuda itupun pergi setelah mengatakan hal itu.

Suatu hari terjadi kudeta di kerajaan yang dipimpin ayah Koujiro, keluarga Koujiro pada hari itu dibunuh oleh aliansi bajak laut yang bekerja sama dengan orang kerajaan namun Koujiro berhasil diselamatkan. Ayah Gori yang mengorbankan nyawanya untuk Koujiro akhirnya meninggal, Gori dan Koujiro berhasil melarikan diri ke sisi lain pulau dan bersembunyi disana. Keduanya bertemu dengan Belle, gadis kecil yang saat itu sudah berumur sepuluh tahun. Ketiganya tinggal bersama di rumah yang kini ditempati Koujiro dan Belle. Waktu terus berjalan hingga akhirnya ketiganya beranjak dewasa, bajak laut kembali berkuasa di pulau mereka tinggal. Kali ini Koujiro dan Gori memberanikan diri untuk melawan mereka, namun kekuatan buah setan yang dimiliki bajak laut itu membuat keduanya kalah telak. Koujiro teringat pemuda topi jerami yang saat itu menyelamatkan warga kota, juga ayah dan pamannya yang sudah menyelamatkan nyawanya. Melihat Gori yang sudah diambang kematian dan Belle dibelakangnya, Koujiro menutup mata dan menghela nafas panjang. Pedangnya kini berubah menjadi hitam, dia juga mengetahui gerakan lawan, dengan tenaga yang tersisa Koujiro menerjang bajak laut itu dan menebas mereka seperti seorang samurai.

BRUKK

Koujiro pun tersungkur. Tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya namun setelah itu Koujiro dan Gori tidak pernah lagi berbicara. Mereka seolah menjadi musuh.

E.O.F

"Hah…hah…hah…Gori… maafkan aku." Ungkap Koujiro.

"Maafkan aku, Kou-chan."

XXX

"Ossan, Paman muka Gorila, kami pamit dulu ya…"

Perpisahan itupun disambut dengan tembakan meriam dari segala penjuru oleh marinir, terlihat Gori menyeringai ke arah Luffy seolah mengatakan apa yang kau harapkan dari marinir, Belle tentu saja menjitak kepala Gori dengan keras. Berkat Luffy cs dan Koujiro, Gori meminta maaf kepada penduduk pulau Tanpa Nama. Gori kembali menjalankan tugasnya sebagai admiral angkatan laut, sedangkan Koujiro tetap menjadi nelayan yang menantikan kelahiran anak pertamanya dengan Belle.

Luffy dan Nami? Mari kita kembali ke beberapa saat sebelumnya….

"Luffy, Nami, maafkan aku!" ucap Usopp bersujud dihadapan Luffy dan Nami. Usopp lalu menjelaskan semuanya pada Luffy dan saat itu juga Luffy ikut bersujud dihadapan Nami seperti Usopp, dia meminta maaf.

Sanji lalu menjitak Luffy dan Usopp dengan kakinya sekuat tenaga. Alhasil Luffy dan Usopp pun terkubur didalam tanah hanya bagian kepala saja. Nami tidak berkomentar, dan berjalan mendahului mereka.

"Dengar Luffy, Usopp, ini terakhir kalinya kalian bersikap seperti itu pada Nami-san. Kalau sampai terjadi lagi…. Kalian akan kueksekusi." Ancam Sanji dengan mata yang berapi-api.

Kembali ke saat sekarang…

"Sedang apa kau disana, Luffy?"

"Ah! Nami, kau mengagetkanku saja."

Nami menaikkan sebelah alisnya dan seketika itu juga dia melihat jeruk kesayangannya di tangan Luffy. Luffy yang menyadari kesalahannya itu cepat-cepat mengulurkan tangannya yang berisi jeruk. "Ini ungkapan maafku. Aku tidak akan mengganggumu lagi tapi kumohon jangan marah lagi. Nami..." Luffy pun melangkah pergi namun terhenti.

"Ada apa? Bukannya kau mau per…"*cup*"..gi" Luffy pun kabur dari ruang navigasi setelah mencium Nami.

XXX

"Akhirnya… hari ini datang juga."

"Kau yakin ingin melakukan ini, Shanks?" ragu Beckmen.

"Cepat atau lambat, aku dan dia akan bertemu. Ayo kita tunggu dia di pulau itu, Beck."

"Oi Yasopp… ayo kita temui anakmu..!"

XXX

ini bagian pertama dari chapter ini. karena chapternya panjang jadi dibagi dua hehehe... silakan baca kelanjutannya di chapter 15.2 hehe