Bunuh saja aku yang tidak berkutik didepannya. Aku seperti pecundang yang hanya mampu menyimpan rasaku, aku hanyalah seonggok tulang tidak berguna, untuk mencintai dia yang sempurna.

.

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

~~~~~~~~~YUNHO~~~~~~~~~~

Dia hanya acuh dan acuh. Changmin sama sekali tidak tertarik dengan penampilanku yang luar biasa tampan sepagi ini. Bahkan tidak tertarik dengan aroma maskulin dari parfum edisi terbatas yang baru saja aku semprotkan ke tubuhku.

Mata beruangku, tidak henti mengintai seperti apa expressi, pretty Man yang duduk memunggungiku saat ini. Lagi dan lagi nafasku menghela kecewa, ia masih telaten dengan selai dan rotinya. Aku melanjutkan menyempurnakan tampilanku, didepan cermin sebelum menjejak lantai keramik mendekati Changmin.

Kakiku membeku, satu meter dibelakang Changmin, aku berdiri mematung wajah elok itu terpendar memunculkan auranya. Mengalahkan silaunya pagi ini. Demi Tuhan, kakiku seperti dikubur dalam timbunan es, beku dan kaku. 'Aku menyukaimu Shim Chang min, maukah kau hidup dengan pria menyedihkan seperti aku!' Nyatanya aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan itu.

"Kau ada kencan?" Sapaan itu membuatku sadar dari imajinasiku. Pelan aku melangkah mendekatinya, dan menunjukkan expressi cuek. Changmin benar-benar tidak melihatku, ia asyik mengunyah roti tawarnya dengan elegan.

"Lee Sungmin mengatur kencan buta untukku, apa salahnya aku sudah lelah hidup sendiri," ekor mataku terus awas mengintai expressi Changmin, lagi dan lagi pretty Man ini hanya acuh dan tidak perduli. Aku hanya bisa menahan kecewaku.

Terlebih dia hanya diam sambil tersenyum sendiri, "sepertinya kau sedang bahagia?" Hingga tanpa sadar penasaranku menuntun lidahku melontarkan pertanyaan yang kusesali, ingin aku menampar mulutku sendiri. Karena dia menyebut-nyebut model cantik Han Ga In bersedia bekerja sama dengan perusahaan kosmetik tempat Changmin bekerja.

Aku bergegas menghabiskan sisa roti, dan kopiku. Meraih kunci mobil, 'ah bukan biar kuluruskan author ini terlalu berlebihan, ini hanyalah kunci motor butut yang sembunyikan dibalik mobil bekas, yang kusulap seperti baru, aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan didepan Changmin. Jangankan untuk beli mobil, untuk makan saja aku hanya mengandalkan uang sewa tahunan dari Changmin.

Upah buruh pengantar susu, hasilnya hanya cukup untuk membeli bensin pulang dan pergi. Jika author menuliskan kemeja yang kupakai bermerk Danim, itu tidaklah benar merk itu hanya palsu dan celana jeans ini adalah hadiah dari ibuku sebelum meninggal. Ibuku menabung seribu demi seribu, hingga lima tahun lamanya dari hasil buruh cuci baju dan piring, hingga tangannya berkutu, 'hanya untuk membelikanku celana baru, kalian tahu itu bukan ibu kandungku tapi cintanya padaku sangat tulus dan tanpa pamrih. Aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku? Tinggikah? Pendekkah? Apa warna bola matanya? Apa warna kulit keduanya, putihkah, hitamkah, atau sawo matang? Aku tidak pernah tahu dan tidak ingin tahu, meskipun kadang keinginan untuk tahu bagaimana mereka sering menghantui, namun aku tidak akan memaafkan tangan yang telah menelantarkan aku di kolong jembatan.

Usia tujuh tahun yang belum tahu hiruk pikuk, dan kejamnya dunia. Usia, dimana seorang anak dipeluk dan dimanja, oleh kedua orang tuanya. Tapi justru dipaksa menjadi yatim piatu dan sebatang kara. Tanpa tempat tinggal, tanpa makanan aku dibiarkan sendirian menghadapi kejamnya dunia. Meringkuk ketakutan dan kedinginan beralaskan rumput yang dingin, saat hujan deras dengan badai menerjang disertai gemuruh petir yang menyambar-nyambar aku ketakutan dan sendirian. Aku bersumpah pada diriku sendiri, aku tidak perlu mencari orang tuaku dan memaafkan mereka. Beruntung, Ny. Jung Ji Joon, menolongku dan merawatku. Aku bertekat untuk menyayangi ibu angkatku ini.

Coba bagaimana! Tolong katakan padaku, dari segi mana aku bisa pantas dan bisa sejajar mendampingi. Shim Changmin yang sempurna, cerdas, memiliki pekerjaan yang layak, memiliki penghasilan tetap. Sementara aku hanyalah buruh yang belum pasti penghasilannya. Aku sangat malu duduk berhadapan dengan Changmin.

Setelah berpamitan, aku menyimpan punggung dibalik pintu. Bodohnya aku yang tidak bercermin dulu untuk menyukai seorang Changmin, aku tersenyum sinis untuk kebodohanku sendiri.

.

.

.

.

.

'Kencan buta?'

Bukan kencan buta yang didatangi Yunho. Melainkan pasar ikan Dongdaemun, setelah sampai ditempat tujuan, ia berganti pakaian untuk membaur dengan pekerja lainnya. Hotel H, menjadi tujuan Yunho pagi ini.

Hotel terbesar yang dipimpin oleh Choi Siwon tersebut, selalu menjadi suplai tetap untuk toko ikan tempat Yunho menjadi kuli. Kerja sama tersebut sudah berlangsung sepuluh tahun yang lalu. Kualitas dan kwantitas yang diutamakan toko Yunho selalu jadi alasannya. Ikan yang dipasarkan, lebih segar dari ikan toko lain, tanpa bahan atau zat kimia berbahaya.

Tujuan berikutnya resto seafood reongg yang jadi tujuannya, restorasi raksasa yang dikelola koki manis, Kim Ryeowook tersebut juga menjadi suplayer terbesar kedua. Udon dan sup ikannya belum tertandingi sejauh ini, bahkan ada isu perusahaan pengembang kuliner ingin mempromosikan Reongg kedalam jajaran wisata kuliner dunia, pantas jika restoran ini berkembang pesat dan semakin elegan saat ini.

Disela aktifitas mengangkuti ikan pesanan menuju ruangan beku, Yunho menangkap siluet Changmin, tengah berada didalam restoran. Jelas ia tengah mempresentasikan temuannya, dibalut kemeja putih dengan stelan cokelat kehitaman, yang mencetak lekuk paha dan betis hingga ke mata kaki. Ditunjang tinggi yang proporsional, Changmin terlihat layaknya model. Yunho menatap punggung itu, hingga air liurnya mencucur.

"Pak cepat sedikit, ikannya bisa hilang kesegarannya nanti," interupsi pelayan dengan jabatan manajer bagian penyuplai. "Oh, baik tuan," Yunho tersadar, dan kembali melanjutkan aktifitasnya.

.

.

.

.

.

"Kuli itu cukup tampan, sepertinya dia menyukaimu Shim Changmin," seloroh Heechul yang menjadi peserta meeting. Changmin menoleh kearah tatapan Heechul, tepat saat Yunho masuk ke gudang beku. "Mana? Siapa!" Changmin celingukan mencari, seseorang yang dimaksud Heechul. "Dia masuk ke gudang pendingin, dia pengantar ikan direstoku," timpal Ryeowook yang mengantar menu istimewa untuk sahabatnya.

"Jjinjja? Beruntung sekali kau...," komentar Heechul, kemudian mendengus iri. "Berarti kau punya alamatnya, nomor telponnya, lalu siapa namanya?" Antusias Heechul kemudian sambil menoweli dagu Ryeowook.

"Jangan menyentuhku tanpa seizin Cho Kyuhyun," galak Ryeowook, Changmin terkikik karenanya. "Semua catatan tentang penyuplai dan kulinya, ada ditangan Park JungSoo Hyung, karena dia manajer bagian suplai," dengan senang hati Heechul bergegas menemui manajer Park, setelah sebelumnya menghujani Ryeowook dengan kecupan-kecupan manja. Changmin dibuat kelimpungan menahan tawa.

"Hyung memang setampan apa sih kulinya? Aku jadi penasaran?" Ujar Changmin akhirnya. "Ayo ke gudang pendingin, mungkin dia masih disana menyelesaikan pembayaran. Mungkin jodoh belum mempertemukan, kuli yang dicari sudah pergi sepuluh menit yang lalu.

.

.

.

.

.

Changmin memungut koin dilantai. "Mungkin mirip!" Pikir Changmin, karena tidak mungkin Yunho ada disini. Jika Yunho dan Changmin minum berdua dibar, keduanya akan mengundi siapa yang akan mabuk berat hari itu, dan biasanya koin bergambar bunga dan raja wali menjadi alat untuk mengundi. Jika koin bunga yang muncul itu hari sial untuk Changmin, ia harus rela minum soda saja dan menjadi sopir untuk Yunho. Karena beruang itu yang giliran mabuk berat, begitu pula sebaliknya jika raja wali yang muncul Yunho yang harus menyimpan keinginannya untuk mabuk, saat itu Changmin akan memanfaatkan keadaan dengan mabuk hingga tak bisa bangun. Maka Yunho akan menggendong tubuhnya dipunggung Changmin menyukai hal seperti itu.

Changmin menyimpan koinnya, mungkin saja ia yang lupa menjatuhkannya,akhir-akhir ini ia sering pelupa. "Mungkin lain kali Hyung, lagi pula aku harus pergi sekarang, Han Ga In menungguku!" Semangat Changmin, tersenyum antusias.

"Simpan ini," Ryeowook menyelipkan dua saset madu rasa anggur. "Ganbatte!" Heechul memberi semangat. Changmin menoleh sekali dan tersenyum, kaki jenjangnya cepat menuju parkiran. Mobil pick up yang dikendarai Yunho, melintas di belakang ekor mobil Changmin. Tepat saat Changmin masuk kedalam mobilnya.

.

.

.

.

.

21.30

Saat Yunho duduk merenung sambil mengawasi rumahnya dari atas motornya. Kondisinya yang berbau amis dan acak-acakan menahan niatnya untuk masuk kedalam. Ia hanya mengamati kamar Changmin yang masih menyala ia bergegas pergi saat Changmin mematikan lampunya.

Hingga pagi menjelang saat Changmin membuka kamar Yunho, HAMPA. Ia menghela kecewa. Yunho tidak pulang semalaman.

Disinilah Yunho bermalam, Apartment kumuh Kim Yesung. Setelah membersihkan badan dan meminjam kaos Yesung yang ketat ditubuhnya, Yunho terlihat seksi. Semalam kedua sahabat itu bermain pocker sambil minum-minum hingga terkapar. Andai Changmin tahu lipstik yang didapatkan Yunho selama ini adalah bibir Yesung, yang tercetak di leher mana kala Yunho kalah bermain pocker.

KLEKK

Saat Yunho membuka pintu rumahnya. Dengan kondisi seperti yang diramalkan Changmin. Bahkan pagi ini lebih mengerikan, Yunho pulang dengan baju orang lain dan bukan ukurannya. Makin sesak dada Changmin, karena kecewa.

.

.

.

TBC

makin ngawur, makin gak jelas. Dan buat Uri Leader Om Park Jungsoo alias Leeteuk, maafkan aku membuatmu jadi asistennya wookie.

Mohon maaf untuk segala kekurangan di ff in. Jejaknya jangan lupa yah.

Dan Thank you Ela.

#PS : from Ela : MAAFKAN AKU YANG BARU BISA UPDATE-IN FF INI SEKARANG.. Padahal chap 3 sudah di kirim ama Jejep.. Jadi besok ato lusa, bakal apdet chapter 3 ya semua...