Perasaan asing yang menyenangkan. Menjalar dari pangkal kaki, hingga ke ujung rambut. Bibir Yunho terasa hangat saat mendarat di luka Changmin. Mata bambi terbelalak, terkejut menerima kecupan tak terduga. Meski pun Changmin menginginkan itu, tetap saja ia terkejut. Luka Changmin terasa dingin dan tidak perih lagi. Changmin membiarkan Yunho melakukan apapun yang ia kehendaki, 'pada tubuh atletis yang sensitif milik Changmin.
Yunho sadar sikapnya, kurang sopan dan tidak seharusnya, cepat ia menjauhkan diri dari Changmin . Yunho memijat tengkuknya yang tidak pegal, tubuh tegapnya berdiri kikuk, dan canggung. Yunho sedang memutar otak mencari alasan yang tepat, untuk ia katakan pada Changmin, 'Kenapa Yunho mengecup kening Changmin.
"A-Aku... hanya...eeeuuummppp."
Entah keberanian seperti apa yang Changmin miliki. Ia melingkarkan tangan di leher Yunho, dan mengecup bibir Yunho. Menghentikan alasan, yan dan menurut Changmin itu tidak perlu. Changmin melepaskan kecupannya, bisa ia lihat Yunho sangat terkejut. Wajah mesumnya sangat lucu, saat terkejut.
Changmin masih mengapungkan tangannya di leher Yunho. Mata bambinya lekat mengawasi tiap detail pahatan diwajah tampan Yunho. Kemudian menatap lurus kedalam manik mata sang beruang.
"Hyung! Sudah lama aku menyukaimu, aku menunggumu menyadarinya sejak lima tahun yang lalu. Aku sangat malu, dan gengsi karena julukanku sebagai pria terhormat, tapi hari ini aku tidak tahan lagi, jujur aku cemburu melihat kau begitu mesra dengan ONEW tadi, Pria ini menyukaimu Jung Yunho. Maukah kau berkencan denganku."
Perkataan panjang lebar dari Changmin yang menyatakan cintanya. Wajah Changmin bersemu merah, mendapati tatapan menelanjangi dari Yunho, surprise, terkejut, bahagia, dan banyak rasa yang bercampur aduk dalam benak Yunho.
"Ini nyata? Aku tidak bermimpi bukan? Apa kau benar-benar Shim Changmin?"
Yunho menjewer kedua pipi Changmin, hingga bibir mungil sang Pretty Man mengerang. "Jika kau ingin tahu, apa sedang bermimpi atau tidak harusnya, kau menjewer pipimu sendiri bukan, pipikuuumpp." Yunho langsung membungkam bibir Changmin, melumatnya penuh perasaan. Changmin mengeratkan rengkuhannya untuk menikmati seutuhnya, bibir pria yang ia dambakan selama lima tahun.
Yunho mendorong tubuh Changmin hingga berbaring di sofa. Dan melanjutkan ciuman manis di minggu siang yang indah. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawakan kesejukan hati-hati yang di sedang disulut bara api. Parkit berkicau dengan irama tentang cinta. Soundtrack yang indah untuk mengiringi sepasang kekasih yang dimabuk asmara.
"Apa sekarang kita pacaran?" Intruksi Changmin, meyakinkan satu kejadian dihari ini. Jauh dalam hatinya, ia berterima kasih pada Onew. Jika bukan karena luka di keningnya saat ini, hal ini tidak akan mungkin terjadi. Changmin menggeliat dipelukan Yunho, makin mendekatkan telinganya kedada Yunho, mencoba mendengarkan detak Jantung Yunho yang berirama. Changmin tidak mau jika, ini hanyalah mimpi saja. Jika ini mimpi Changmin tidak ingin bangun dari tidurnya. Mimpi ini terlalu indah, tapi tubuh kenyal Yunho terlalu nyata untuk disentuh. Senyuman terus saja mengukir dibibir Changmin. Yunho pun berusaha memberikan kenyamanan untuk Changmin. Ia eratkan tangan yang melingkari bahu Changmin. LCD TV menayangkan drama romantis, saat pemeran pria mencium wanitanya dibawah guyuran hujan, sementara Homin membuat adegan romantisnya sendiri diatas sofa panjang.
"Eum, entahlah aku tidak berminat memilihmu jadi pacarku. Kau terlalu manja." Jawaban Yunho membuat Changmin bangun, dengan tatapan tajam menguliti Yunho. "Oh, jadi kau lebih memilih seseorang yang selalu meninggalkan lipstik dikemejamu, Eoh? Kau lebih menyukai siapa pun orang yang meminjamkan kaos kekecilan ini padamu? Dan kemana saja kau semalaman kenapa kau tidak pulang?" Cerocos Changmin kesal, yang ditanggapi senyuman geli oleh Yunho.
"Lupakan, aku tidak jadi menyukaimu...aku membencimu." Changmin beranjak dari pelukan Yunho, namun sebelum Changmin sempat pergi, Yunho mencekal pergelangan Changmin menariknya hingga jatuh tengkurap diatas tubuh, Mr. Jung. Gugup menjalar seketika di tubuh Changmin, matanya berkedip bingung. Ini pertama kalinya ia menatap wajah Yunho dengan posisi seperti ini. Seluruh persendian tubuhnya seperti nyilu dan mati rasa, Changmin merasakan tubuhnya lemas, lunglai.
Yunho melepaskan tawanya, Changmin ternyata lebih manis saat marah. "Apa kau sedang cemburu?" Goda Yunho, yang mencoleki pinggang ramping yang memunggungi dirinya. Dengan bibir manyun, tangan menyilang di dada. "Aku tidak berkencan dengan siapa pun," lembut Yunho sambil menyimpan dagu dibahu Changmin. Tubuh atletis yang aktif itu, seketika membeku. Nafas Yunho hangat menyentuh pipi mulus Changmin. "Aku hanya ingin terlihat sempurna saat bekerja, itu sebabnya aku berdandan." Suara Yunho yang halus dan dalam, membuat Changmin semakin gugup.
"Tapi...lehermu?" Changmin berbalik, mengerjapkan sepasang mata bambinya, menunjuk kearah leher Yunho yang merah. "Kau sungguh memiliki kemampuan, untuk membuat seseorang lepas kendali, " Sekali lagi, Yunho mendaratkan kecupan di kening Changmin yang terluka. "Ini ulah Yesung, aku kalah bermain poker semalam, saat menginap difletnya." Jujur Yunho. Changmin sabar menunggu sampai Yunho menyelesaikan penjelasannya. "Jadi, aku harus rela dicium Yesung, hingga meninggalkan jejak ini dileherku...ini kaos Yesung." Pungkas Yunho, menyadari tatapan Changmin pada kaos putih ketatnya.
"Shim Changmin!" Yunho menangkup wajah Changmin, agar fokus menatapnya. "Ini hanya kukatakan sekali, dan untuk yang pertama," Yunho mengambil jeda sejenak. "Beruang ini sangat mencintaimu, Shim Changmin maukah...kau berkencan denganku?" Changmin menatap dalam, langsung keonix gelap Yunho. Dengan expressi yang sulit di di skripsi kan.
TBC
Part ini segitu dulu deh. Ide lagi buntu nih.
