KIM AND PARK FAMILY THE SERIES

.

.

AUTHOR KILLA8894

.

GENRE FAMILY AU

.

PAIRING KIM JONGIN X OH SEHUN ( KAIHUN ), PARK CHANYEOL X KIM SUHO ( CHANHO )

.

RATED T

.

CHAPTER 3

.

HAPPY READING

.

.

.

" Sayang... "

Langkah jongin terhenti saat ada seseorang yang berdiri tepat di hadapannya dan menghalangi langkahnya. Seringaian lebar menghiasi wajahnya saat ia melihat wajah orang yang menyapa dan menghalangi jalannya itu.

" Baby... "

Namja cantik dihadapan Jongin tampak cemberut. " Aku sudah lama menunggumu tau, kau kemana saja. Bukankah jadwalmu sudah berakhir beberapa jam yang lalu, kemana saja kau? " namja itu, Taemin, sudah memeriksa jadwal kuliah Jongin dan memastikan kalau hari ini namjachingunya itu hanya mempunyai jadwal satu mata kuliah, lalu kemana saja ia beberapa jam ini.

Jongin menyeringai. " Kau memeriksa jadwalku lagi. Sudah aku bilang hentikan itu, Lee Taemin karena itu percuma saja kau lakukan. "

" Kau dari mana saja Jongin, kau melupakan janjimu padaku. "

" Dance... " Jawab Jongin singkat.

Taemin menghembuskan napas kesal. " Hanya demi dance, kau melupakan janjimu pada kekasihmu sendiri, kau lupa Jongin hari ini kau berjanji akan menemaniku shopping. "

Jongin mengangkat bahu. " Kau bisa lakukan itu sendirian kan. Tak perlu menungguku... "

" Tapi aku ingin denganmu Kim Jongin... "

" Hhh, baiklah... "

Taemin tersenyum lebar, dengan cepat ia menarik lengan Jongin dan dengan setengah menyeretnya berjalan ke tempat parkir. " Kita langsung berangkat saja ya. Aku takut nanti terlalu sore untuk tiba di sana. "

Langkah Jongin terhenti saat ia teringat sesuatu. " Jam berapa sekarang? "

" Setengah empat sore... "

" Oh, shit... " Jongin melepaskan pegangan Taemin pada lengannya dan setengah berlari ia menuju ke tempat sepeda motornya terparkir.

" Jongin, ada apa? " tanya Taemin , namja itu mengikuti Jongin yang tampak begitu terburu buru.

" Aku tak bisa pergi denganmu, aku pergi saja sendirian. " Sahut Jongin.

" Mwo, tidak bisa. Kau sudah berjanji padaku. " Tangan Taemin menahan gerakan tangan Jongin yang ingin memasang helmnya. " Kalau kau pergi sekarang, kita putus. "

Jongin melirik kearah Taemin sekilas dan menghempaskan tangan yang masih memegang lengannya. " Baiklah, kita putus. " Ucapnya dengan tenang.

" Tidak, Jongin... aku hanya bercanda. Jongin aku... " Taemin tampak panik, namun Jongin menghiraukannya. Namja tampan itu dengan gerakan cepat memasang helmnya dan menstarter motornya.

" Jonginnnnnnnn... " teriak Taemin saat Jongin benar benar meninggalkannya sendirian di tempat parkir. " Bagaimana aku bisa dengan bodohnya mengatakan putus padanya. aku harus bisa kembali dengan Jongin bagaimanapun caranya. "

.

.

Jongin menghentikan larinya saat ia tiba di depan kelas yang ia yakini sebagai kelas Sehun dengan napas terengah. Berlari dari tempat parkir hingga mencapai kelas Sehun di lantai tiga gedung itu cukup menguras tenaganya. Setelah merasa yakin napasnya kembali normal perlahan Jongin membuka pintu yang tertutup itu, was was apakah Sehun masih menunggunya atau sudah pulang. Dan semua itu terjawab saat pintu terbuka dan Jongin melangkah masuk ke dalam. Sehun masih ada di sana, duduk menelungkup dikursinya dengan posisi kepala yang ia baringkan di atas meja, sepertinya ia tertidur karena saat Jongin panggil, namja cantik itu tetap diam.

Jongin mencondongkan tubuhnya di samping Sehun, merasa bersalah pada namja manis yang menunggunya hingga tertidur. " Maafkan aku Sehuna. " Bisiknya lirih.

Jongin mengamati bagaimana wajah Sehun terlihat begitu polos saat ia tertidur. Bulu matanya yang panjang dan lentik kini menyembunyikan iris kecoklatan yang ia sukai. Bibirnya tipis dan berwarna merah, Jongin ingin sekali menciumnya. Dan baru kali ini Jongin melihat wajah Sehun sedetail ini, wajah yang sempurna menurut Jongin. Sangat cantik. Ia tersenyum mengingat bagaimana polosnya namja itu.

" Kau benar benar seperti kelinciku yang manis, Sehuna. " Jongin mencium kening Sehun yang tertutup poni dengan lembut, sebelum meremas bokong padat milik Sehun. " Bangun Princess bunny, saatnya kita pulang. "

Sehun melenguh pelan, menyamankan posisinya dan kembali tertidur. Jongin menggelengkan kepalanya. Ia bisa saja menggendong Sehun hingga sampai diparkiran. Tapi sepertinya hal itu tidak ingin ia lakukan sekarang.

" Hunnie, bunny... bangun Princess... " kali ini Jongin menepuk bokong padat Sehun dengan sedikti keras.

" Uh, mama jangan pukul bokong Hunnie... " gumam Sehun, dengan perlahan ia membuka matanya, mengerjap ngerjapkan matanya saat melihat ada bayangan dihadapannya.

" Jongin hyung... " Gumam Sehun.

" Akhirnya bunny kesayangan hyung bangun juga. "

Sehun mencebikkan bibirnya. " Hyung lama, Hunnie lapar hyuuuungggg... " Rengek Sehun manja.

" Maafkan hyung, hyung baru bisa jemput Bunny sekarang. " Sesal Jongin.

" Bunny... " Sehun mengerjapkan matanya, terlihat bingung.

" Iya, Bunny, itu panggilan khususku untukmu. Kau suka... " Ucap Jongin.

Sehun tampak berpikir sejenak. " Kenapa hyung menyamakan aku dengan kelinci sih. "

" Karena kau itu imut dan cantik. Lucu seperti kelinci. " Jawab Jongin.

Sehun menunduk dengan wajah merona. " Hyung juga sangat tampan. " Ucapnya lirih.

"Apa ? aku tidak dengar. Coba ulangi... " Goda Jongin.

Sehun menggembungkan pipinya. " Ish, hyung, Hunnie kan malu... "

Jongin terkekeh pelan, ia menarik Sehun untuk berdiri, sehingga ia bisa duduk di kursi bekas tempat Sehun duduk tadi. Sebelum Sehun sempat protes ia lagi lagi menarik tubuh Sehun untuk duduk dipangkuannya.

" Hyung, Hunnie sudah besar. Hunnie berat, nanti hyung kesakitan kalau mangku Hunnie. " Ucap Sehun.

" Tidak, tubuhmu itu kecil dan juga ringan. Aku tak akan keberatan kalau kau duduk dipangkuanku seharian. " Jongin mengecup bibir Sehun sekilas. Merasakan betapa manisnya bibir yang sudah menjadikannya kecanduan itu.

Sehun memutar posisinya dipangkuan Jongin hingga kini ia berhadapan, kakinya yang ramping mengapit pinggang Jongin. Jongin menghela napas panjang, posisi yang sangat sulit untuknnya, karena bokong padat Sehun tepat berada di atas ereksinya. Sehun yang tidak menyadari itu malah mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Jongin. " Hyung tampan, tapi kenapa warna kulit hyung lebih hitam dari Hunnie? "

" Ini namanya kulit seksi bunny sayang. " Ucap Jongin kembali mengecup bibir tipis itu.

" Bear... " gumam Sehun pelan.

" Eh, apa...? " Tanya Jongin bingung.

" Hyung seperti beruang, Bear hyung... " Ucap Sehun, lalu terkikik geli.

" Kau menyamakanku dengan beruang, baiklah kelinci nakal, kau harus dihukum. " Goda Jongin.

Sehun duduk dengan kaku dipangkuan Jongin. " Hyung... "

Jongin membelai pipi Sehun dengan lembut kemudian memagut bibir tipis namja manis itu, perlahan Jongin mengangkat tubuh mungil Sehun dan membaringkannya di atas meja lalu Jongin melanjutkan ciumannya. Dengan lembut ia membuka baju seragam yang di pakai Sehun, menariknya lepas hingga namja itu hanya menyisakan celana panjangnya saja.

" Hyung... " ucap Sehun dengan tubuh gemetar. Sungguh ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.

" Lihat aku Bunny baby, kau milikku sekarang. " Bisik Jongin. Ia menciumi leher sehun dengan lembut, berusaha untuk tidak meninggalkan jejak disana. " Katakan kalau kau milikku sekarang. "

Sehun memejamkan mata, tak tau harus mengatakan apa saat lidah Jongin membelai puncak dadanya. " Hyung... "

" Aku sungguh menginginkanmu sekarang baby... " suara Jongin terdengar serak dan ia menghisap puncak dada Sehun dengan lapar, lidahnya menjilat. Membiarkan namja manis dibawahnya menjerit, ketika merasakan perasaan yang baru pertama kali dirasakannya.

Jongin terus menghisap dan menjilat puncak dada Sehun. Setelah puas, ia menaikkan kepalanya dan kembali melumat bibir merah Sehun. Ia memasukkan lidahnya dan mulai menjelajahi bibir hangat namja manisnya itu.

" Hiks... " Sehun terisak pelan saat Jongin menariknya dengan lembut untuk berdiri. Tampilan namja manis itu tampak begitu berantakan, bibirnya merah membengkak dan dada yang memerah hasil karya bibir dan tangan Jongin.

" Hyunggggg... " Rengek Sehun.

Cupp

Jongin mengecup bibir bengkak itu sekilas dan kembali tangannya bekerja untuk mengancingkan seragam Sehun.

" Badan Hunnie jadi jelek. " Rengek Sehun lagi.

Jongin menegakkan badannya usai merapikan seragam Sehun. " Badanmu itu seksi bunny baby. Jangan menangis nanti cantiknya hilang. " Tangan Jongin meraih tubuh mungil Sehun dan memeluknya dengan erat.

" Hiks... " isakan Sehun teredam di dada Jongin.

" Hunnie mau ice cream? "

" Hiks... Mau... " jawab Sehun.

" Kalau begitu berhenti menangis dan kita pergi sekarang. Kau juga pasti lapar. " Jongin melepaskan pelukannya dan menghapus jejak air mata di pipi Sehun.

" Hunnie mau ice cream hyung... " rengek Sehun.

" Janji tidak akan menangis lagi? " Tanya Jongin.

Sehun mengangguk dengan semangat. Jongin tersenyum melihat tingkah manis Sehun. Ah, betapa ia sangat menginginkan namja manis ini untuk menjadi miliknya seorang.

.

.

.

" Mama, Taeoh mau main dulu ya. " Seru Taeoh saat berlari keluar dari rumah.

Suho yang sedang duduk menonton tv di ruang tengah langsung menoleh. " Taeoh main dengan siapa? "

Sunyi. Taeoh sudah menghilang. " Aish kemana anak itu. Hunnie juga kenapa belum pulang. Ini sudah sore. " Gumam Suho cemas. Ia berkali kali menatap ke arah pintu dengan perasaan gelisah.

Taeoh berlari lari kecil memasuki pekarangan rumah tetangganya. Ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan orang yang menarik perhatiannya di sekolah tadi.

" Rahee, main bareng yuuuukkk... " teriaknya, dengan semangat namja cilik itu mengetuk pintu, salahkan posisi bel yang tak bisa diraihnya sehingga ia harus mengetuk pintu dengan keras.

Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka, menampakkan sosok mungil dan cantik Rahee.

" Oppa... "

Taeoh tersenyum lebar melihat Rahee. " Main sama aku yuk. " Tanpa dipersilahkan masuk, Taeoh menggenggam jemari mungil Rahee dan menariknya masuk ke dalam rumah.

" Kamar Rahee di mana? " Tanya Taeoh.

Rahee menunjuk ke arah kamar di lantai atas.

" Huh, kok sama dengan Taeoh, kamar Taeoh juga di atas, hyung yang di bawah. " Ucap Taeoh.

" Kamal oppa Lahee juga di bawah. " Ucap Rahee.

" Kajja, ke kamar Rahee... "

Rahee menghentikan langkahnya sejenak. " Oppa tidak akan cium Lahee lagi kan? "

" Eh... " Taeoh mengerjapkan matanya. " Taeoh kan ingin main dengan Rahee. Rahee mau Taeoh cium? "

Rahee dengan cepat menggelengkan kepalanya.

" Sayang... siapa tamu yang datang? " Tanya Baekhyun. Namja cantik itu baru selesai membuat puding untuk Rahee dan sedang membawa sepiring puding itu saat melangkahkan kaki mendekati anaknya.

" Taeoh oppa, Eomma... " Jawab Rahee polos.

" EHH, BOCAH MESUM ITU... " Baekhyun meletakkan sepiring puding itu di atas meja dan menghampiri anaknya yang tampak kaget mendengar teriakannya tadi.

Taeoh menatap ke arah meja dengan mata berbinar. Tanpa sempat dicegah ia berjalan ke meja itu dan mengambil pudingnya.

Mata sipit Baekhyun langsung melotot begitu melihat Taeoh memakan puding itu. Hanya satu gigit dan Taeoh langsung meletakkannya kembali ke piring.

" Kue buatan mama Rahee rasanya tidak enak, buatan mama Taeoh jauh lebih enak. " Ucap Taeoh jujur.

" KAU BOCAH MESUM, BUKANKAH AKU SUDAH MELARANGMU UNTUK BERTEMU RAHEE. DAN SEKARANG KAU MENGATAKAN KUE BUATANKU TIDAK ENAK. CEPAT PULANG SEBELUM AKU MENENDANG PANTATMU. " murka Baekhyun.

" Tapi Taeoh kan hanya ingin main dengan Rahee. " Taeoh mempoutkan bibirnya.

" Pulang. Dan jangan datang lewat depan rumahku lagi. " Usir Baekhyun. " Ck, tak ku sangka aku harus bertetangga dengan Suho itu, mana anaknya mesum lagi. Kalau terus begini, bisa bisa aku cepat keriput. " Omel Baekhyun, tak sadar diri dengan kelakuan anak sulungnya yang jauh lebih mesum.

Taeoh menatap ke arah Rahee dan tersenyum riang. " Rahee tunggu sebentar ya. Nanti kita main bareng. "

Rahee mengangguk dan balas tersenyum.

" Cepatlah pulang bocah. " Baekhyun mengibaskan tangannya dan Taeoh pun berlari keluar pintu rumahnya.

Baekhyun melangkah ke arah meja dan mengambil sepotong pudingnya. " Awas saja kalau bocah nakal itu berbohong. " Gerutu Baekhyun sambil menggigit puding itu. Ia terdiam sejenak, menatap Rahee dan meringis pelan. " Rasanya hambar sekali. Aish, sepertinya aku lupa memasukkan gula. "

" Rahee, kamu duduk nonton tv dulu ya. Eomma akan buatkan puding yang baru. "

" Ya, eomma. " Dengan patuh Rahee duduk di sofa menonton kembali acara di tv yang tadi sempat ia tinggalkan saat Taeoh datang.

Baekhyun baru melangkah memasuki dapurnya saat pintu belakang di ketuk orang.

" Siapa yang mengetuk pintu belakang sore sore begini. Apa ahjushi yang aku suruh membersihkan halaman belakang tadi? " Gumam Baekhyun.

Dengan langkah tergesa ia menuju pintu belakang dan membukanya.

" KAMU LAGI... "

Baekhyun tampak syok melihat Taeoh berdiri dengan cengiran lebar di hadapannya.

" Bukankah aku sudah melarangmu untuk datang? "

Taeoh mengangguk.

" Lalu kenapa kamu kembali? " Baekhyun memicingkan matanya.

" Kan tante bilang Taeoh tidak boleh datang lewat depan, jadi Taeoh lewat belakang deh. Sekarang Taeoh sudah bisa main dengan Rahee kan tante. " Ucap Taeoh riang.

Tanpa persetujuan lagi Taeoh berlari dengan riang melewati Baekhyun yang ternganga merutuki kebodohannya.

" AARRGGGHHHTT... PARK TAEOOOHHH... "

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Ada yang mau lanjut?