KIM AND PARK FAMILY THE SERIES
.
.
AUTHOR KILLA8894
.
GENRE FAMILY AU
.
PAIRING KIM JONGIN X OH SEHUN ( KAIHUN ), PARK CHANYEOL X KIM SUHO ( CHANHO )
.
RATED T
.
CHAPTER 4
.
HAPPY READING
.
.
.
Jongin menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah Sehun.
" Hyung mau mampir ke rumah Hunnie? " tanya Sehun sesaat setelah ia turun dari motor Jongin dan menyerahkan helmnya.
" Mungkin lain kali saja Bunny baby... " Jongin tersenyum seraya mengelus pelan pipi chubby Sehun. Aku masih belum ingin mati di tangan ibumu yang galak itu, sambungnya di dalam hati.
Sehun tersenyum. " Kalau begitu sampai jumpa besok hyung... " dengan riang namja mungil itu melambaikan tangannya kemudian berlari memasuki halaman rumahnya.
Meninggalkan Jongin yang tertawa geli melihat tingkah kekanakannya. " Aku bisa gila kalau terus berdekatan denganmu Sehun. " gumam Jongin. Ia tersenyum tipis sebelum tangannya merogoh saku jaketnya, mengambil handphone dan mulai menelpon seseorang.
" ... "
" Ayo berkencan malam ini. Kurasa aku butuh refreshing. " Tanpa mendengarkan jawaban dari orang yang ditelpon, Jongin segera memutuskan panggilannya dan melajukan kembali motornya menuju rumahnya di sebelah rumah Sehun.
" Kau sudah pulang? "
Jongin menoleh pada ibunya yang tampak cemberut duduk di sofa. " Ya, kenapa wajah Eomma cemberut seperti itu. tidak diberi jatah sama Appa? "
Bukk
Dengan sadis Baekhyun melemparkan bantal sofa ke wajah tampan anaknya. " Ya, jangan bicara sembarangan. Eomma yang tiap malam memberi Appamu jatah..."
Jongin tertawa lepas mendengar jawaban ibunya. Ia duduk di sebelah ibunya dan memeluk tubuh mungil ibunya dengan erat. " Kalau Appa sudah diberikan jatah, lalu apa yang memb uat Eomma cantikku cemberut seperti ini... "
" Itu karena anak tetangga. Akh, mengingat dia, Eomma bisa bisa cepat keriput. " Gerutu Baekhyun.
" Anak tetangga sebelah? " tanya Jongin.
" Iya? "
" Maksud eomma, Sehun? " Jongin agak ragu sebenarnya mengatakan itu, bagaimana mungkin anak sepolos Sehun bisa membuat ibunya marah?
" Bukan, tapi adiknya yang kecil. Taeoh... aish, dia nakal sekali Jongin. Kemaren saja dia berani mencium adikmu di sekolah. "
" Mwo... "
" Ah, aku hampir lupa anak itu kan mesum. Kyaa, anakku... bagaimana keadaan anakku di kamar. " Ucap Baekhyun heboh, ia melepas paksa pelukan Jongin dan beranjak menuju kamar anak bungsunya di lantai dua.
" Eomma, jangan berlari. Eomma mau jatuh dan sakit pinggang lagi? " Jongin buru buru berdiri dan menyusul ibunya yang sudah berjalan separu anak tangga. Dengan langkahnya yang lebar itu, Jongin dengan mudah menyusul ibunya.
" IHH... LAHEE KAN CUDAH BILANG, JANGAN DICITU, CAKIITT... "
Suara teriakan Rahee membuat Baekhyun ternganga. " Kyaa, apa yang dilakukan bocah mesum itu pada anakkuuuuu... "
" TAPI KALAU DI SINI KAN SEMPIT, DI SANA SAJA... "
Suara Taeoh terdengar nyaring di telinga Baekhyun. Namja manis itu berlari ke arah pintu kamar Rahee dan langsung membukanya. " APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU BOCAH ME... " Baekhyun terdiam melihat Taeoh yang menatapnya dengan mulut terbuka dan Rahee yang duduk dengan bingung di hadapan Taeoh. Tak ada yang aneh, hanya boneka pororo di pangkuan Rahee dan mainan rumah rumahan di tangan Taeoh.
" Tante kenapa marah marah? " tanya Taeoh.
Baekhyun berdehem singkat, di belakangnya Jongin sudah menutup mulutnya menahan tawa. " Tadi aku mendengar Rahee bilang sakit, jadi aku... "
" Taeoh nginjak kaki Lahee eomma caat mau naluh lumah lumahannya di citu. " Rahee menunjuk ke arah ranjang mungilnya.
" Taeoh kan sudah minta maaf. Taeoh tidak sengaja. Masih sakit ya, sini Taeoh obati. " Taeoh meletakkan rumah rumahan itu di lantai dan segera berjongkok di kaki Rahee, perlahan ia mendekatkan mulutnya dan mulai meniup dengan pelan.
Cup
Ia mengecup kaki Rahee sekilas. Membuat Baekhyun hampir saja menendangnya keluar kamar kalau saja Jongin tidak menahan tangannya.
" Kenapa Taeoh cium kaki Lahee? "
" Kalau Taeoh dan Sehun hyung sakit, Mama dan Papa selalu cium seperti ini. Biar sakitnya cepat hilang. Jadi Taeoh juga cium kaki Rahee biar sakitnya hilang. " Jelas Taeoh
" Aish, bocah mesum ini... " geram Baekhyun.
" Sudahlah Eomma, dia masih kecil. Rahee tidak akan kenapa kenapa bersamanya. Dia akan aman. " Ucap Jongin. ' Ya, walau aku tidak yakin kakaknya Taeoh akan aman kalau bersamaku, paling tidak adikku tidak akan kenapa kenapa'
" Terserahlah. Eomma mau belanja dulu. Jongin kau jaga bocah bocah ini. Jangan biarkan bocah itu mencium Rahee lagi. " Baekhyun segera keluar dari kamar Rahee, setelah menatap tajam kearah Taeoh. " Oh ya, Eomma mungkin akan agak larut pulangnya. Nanti kau temani Rahee tidur dulu. "
" Iya, eommaku yang cantik. "
Jongin melangkahkan kakinya dengan santai menghampiri kedua bocah yang masih asyik bermain itu.
" Hyung... " Panggil Taeoh pelan.
" Hmm... " Jongin yang baru saja membaringkan tubuhnya di ranjang Rahee hanya menggumam seraya memejamkan matanya.
" Hyung kan orangnya yang kemarin mencium hyung Taeoh di halaman? "
" Apa? " Jongin langsung bangkit dari posisi tidurannya.
" Taeoh melihat sendiri di halaman. "
Jongin menatap ke arah Taeoh dengan intens. " Jadi karena itu kau mencium Rahee? "
Taeoh mengangguk. " Hunnie hyung terlihat cantik sekali saat hyung selesai menciumnya. Taeoh suka... karena itu Taeoh cium Rahee juga... "
Jongin nyengir. " Ya, hyungmu memang cantik... "
" Tapi kata Mama, hyung tidak boleh cium Hunnie hyung lagi. Nanti Mama marah. "
" Kau juga bocah, kalian masih kecil untuk mengerti apa itu arti mencium pasangan. " Gumam Jongin.
" Uhmm... tapi Taeoh masih boleh main dengan Rahee kan? " pinta Taeoh penuh harap.
" Tidak. " Tegas Jongin.
Taeoh langsung mempoutkan bibirnya. " Tapi Taeoh kan ingin main dengan Rahee, kenapa tidak boleh hyung? "
" Tentu saja tidak boleh, kecuali... "
" Kecuali apa hyung? " tanya Taeoh.
" Kau membantu hyung mendapatkan Hunnie hyungmu itu. " Pinta Jongin.
Taeoh mengerjapkan matanya. " Mendapatkan itu apa artinya hyung? "
Jongin menepuk jidatnya, ia lupa kalau Taeoh masihlah bocah berumur lima tahun yang pikirannya masih polos, ya walau tidak sepenuhnya juga sih. " Maksud hyung, kau harus membantu hyung kalau hyung ingin bertemu dengan hyungmu tanpa ketahuan ibumu, mengerti? "
" Umm, Hyung dan Hunnie hyung ingin main petak umpet dengan Mama ya? "
" Bisa di bilang begitu. " Sahut Jongin.
" Lahee boleh ikut tidak oppa ? Lahee mau ikut main... " Rahee yang sedari tadi dia mendengarkan terlihat mulai tertarik.
" Tidak boleh sayang, Rahee masih kecil. "
Rahee menunduk dengan muka cemberut, disampingnya Taeoh segera menggenggam jemari mungilnya. " Rahee jangan sedih, nanti mainnya sama Taeoh saja. "
Rahee menatap kearah Taeoh dengan senyum cerah di bibir mungilnya. " Lahee mau... "
" Jadi... apa kau mau bocah ? aku tak akan melarangmu bermain dengan adikku asal kau tidak menciumnya lagi, tapi sebagai imbalannya kau harus membantuku bila ingin bertemu dengan hyungmu. " Ucap Jongin.
" Umm, Taeoh mau... " meski tidak begitu memahami sepenuhnya apa yang dikatakan Jongin tetapi begitu mendengar ia boleh bermain dengan Rahee sudah membuat Taeoh senang.
Jongin menyeringai. " Aku akan mendapatkanmu Sehuna... "
.
.
.
" Papa pulang... "
Chanyeol memasuki rumahnya dan menatap bingung dengan suasana sepi yang menyambutnya. Kemana istri cantiknya, biasanya istrinya selalu menyambutnya dengan senyuman manis dan pelukan hangat untuknya. Kali ini jangankan sebuah senyuman ataupun pelukan, sosok mungil istrinya saja tidak terlihat.
" Sayang... Hunnie... Taeoh- ya... " Chanyeol menatap sekeliling. " Apa mereka pergi keluar tanpa memberitahuku? "
Chanyeol melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah lalu bergegas menuju kamarnya di lantai dua.
" Sayang... " panggilnya saat tiba di kamar. Sepi. Tidak ada sosok istrinya disana. Chanyeol meletakkan tas yang ia bawa di atas meja kerjanya. Saat ia mau berbalik, pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan sosok mungil istrinya yang hanya berbalut handuk yang menutupi area pinggul ke bawah. Chanyeol tersenyum melihat ekspresi kaget di wajah istrinya.
" Tak usah malu malu seperti itu, aku sudah terlalu sering melihatnya. Bahkan setiap malam selama tujuh belas tahun ini. "
Suho mendengus pelan, sebelum melangkah mendekati suaminya yang masih berdiri ditempatnya. " Apa kau bosan karena melihatnya setiap hari? "
" Tentu saja tidak, aku tidak akan pernah bosan melihatmu. " Chanyeol merangkul pinggang ramping istrinya dan menariknya mendekat, tubuh mereka menempel dengan erat karena Suho balas memeluk tubuh kekar suaminya. Chanyeol menunduk dan mengecup kening istrinya dengan lembut. " Lima puluh tahun kedepan akan kupastikan aku masih tidak akan bosan denganmu Suho- ya. "
Suho tersenyum saat mendongak menatap wajah tampan suaminya. " Maaf aku tidak menyambutmu di depan. "
" Tidak apa, kau menyambutku dikamar tanpa pakaian seperti ini sudah membuatku sangat senang. "
" Dasar mesum... " Suho melepaskan pelukannya. " Bisakah kau melepaskan pelukanmu sekarang? " pintanya dengan suara lembut.
" Memangnya kau mau kemana. " Bukannya melakukan apa yang istrinya minta, Chanyeol malam makin mengeratkan pelukannya.
" Aku mau memakai baju, sayang. Kau juga perlu mandi, aku akan menyiapkan air hangat untukmu. " Jawab Suho.
" Ah, aku ingin lebih lama memelukmu. Kau tau seharian tidak melihatmu dan anak anak rasanya aku sangat rindu. "
" Jangan gombal, sekarang ayo lepaskan tanganmu dari pinggangku. " Rengek Suho.
Chanyeol tertawa pelan. " Kau seperti Hunnie saja. Tidak usah pakai baju sayang, ayo mandi bersama. Kita sudah lama tidak melakukannya. "
Suho mempoutkan bibirnya. " Kalau kau lupa tuan Park, aku baru saja selesai mandi. "
" Tetapi aku tidak ingin ada penolakan Nyonya Park. " Sedetik setelah Chanyeol bicara, ibu dari kedua anaknya itu sudah berada dalam gendongannya.
" Yak, Park Chanyeol lepaskan aku. Aku sudah mandi... " teriak Suho.
Chanyeol tertawa dengan keras, tapi ia tidak melepaskan tubuh istrinya. Malah dengan sengaja ia menarik lepas handuk yang di pakai Suho dan membawa tubuh polos istrinya itu ke dalam kamar mandi.
Sesaat setelah keduanya masuk ke dalam kamar mandi. Pintu kamar di ketuk dari luar.
" Mama... apa Papa sudah pulang? " wajah cantik Sehun muncul dari sela pintu yang terbuka. Namja mungil itu melangkah masuk kedalam kamar orang tuanya saat merasa tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
" Oh, itu ada tas Papa. Tapi Papanya kemana, Mama juga tidak ada. " Gumam sehun. ia menoleh ke sekeliling, dan tatapannya kemudian terhenti pada handuk di atas lantai.
" Ish, mama kenapa handuknya ditaruh di lantai sih, kan jorok. " Sehun berjongkok untuk mengambil handuk itu, namun saat ia ingin berdiri dengan tegak lagi suara tawa dari arah kamar mandi membuat gerakannya terhenti. Itu suara ibunya.
" Mama... " panggil Sehun. Ia menegakkan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu kamar mandi. Perlahan di ketuknya pintu kamar mandi yang tertutup itu. sontak suara tawa dari dalam kamar manid terhenti. " Mama... " panggil Sehun lagi.
" Iya sayang... " suara lembut ibunya terdengar dari balik pintu.
" Mama sedang mandi ya. Papa mana? " Tanya Sehun polos.
" Umm, Papamu sedang buang air, sayang. Memangnya ada apa Hunnie. " Jawab Suho.
" Hunnie bosan di kamar, Hunnie mau main sama Papa... "
" Hunnie main sama Taeoh dulu ya. " Suara Ayahnya terdengar serak dari dalam kamar mandi.
" Papa sedang sakit ya? " tanya Sehun.
" Tidak sayang. "
" Papa cepat buang airnya ya. Hunnie akan menunggu di halaman bersama Taeoh. "
" Papa usahakan sayang... "
Sehun tersenyum lalu beranjak pergi dari kamar orang tuanya.
" Taeoh- ya... Mau main dengan hyung tidak? " Panggilnya. Sehun membuka pintu kamar Taeoh dan tidak menemukan adiknya di dalam kamar. " Ish, kemana sih Taeoh... "
Sehun menutup pintu kamar Taeoh dan segera menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
" Taeoh- ya, ayo bermain bersama hyung... " Sehun membuka pintu rumahnya dan berlari ke halaman, namun ia tidak menemukan adiknya di sana.
" Apa yang sedang kau cari Park Sehun? "
Sehun menoleh dan tersenyum cerah saat melihat ibu dari Jongin hyungnya sedang berdiri menatapnya dari samping mobil.
" Hunnie sedang mencari dongsaeng Hunnie, Tante... "
Baekhyun menatap kearah penampilan Sehun. Selera anak sulung dari mantan kekasihnya itu terlihat masih kekanakan. Memakai Sweater rajut berwarna pink dengan motip kelinci di bagian perutnya dan juga celana jeans selutut, Sehun terlihat jauh lebih muda dari usianya.
" Taeoh ada dirumahku. " Ucap Baekhyun.
" Umm, boleh Hunnie kerumah tante untuk menjemput Taeoh? "
" Ya ya, jemput saja adikmu, agar anakku bisa tenang. Dari pada itu berapa umurmu sekarang, Sehun? "
" Enam belas tahun tante. " Jawab Sehun sopan.
Baekhyun mengangguk. " Datanglah kesebelah dan jemput adikmu. "
" Baik tante. "
Baekhyun sekali lagi mengamati tubuh Sehun, sebelum masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
Sehun sendiri segera bergegas melompati pagar dan melangkah dengan tergesa menuju pintu rumah Jongin.
.
.
.
Jongin terbangun dari tidurnya yang nyenyak di atas ranjang Rahee saat mendengar bel berbunyi.
" Aish, siapa sih yang datang sore sore begini. " Gerutu Jongin, dengan malas ia bangkit dari posisi berbaringnya. Melirik sekilas ke arah tempat Rahee dan Taeoh bermain tadi, ia mendapati keduanya tertidur dengan posisi Rahee yang memeluk kepala Taeoh.
" Jodohmu sepertinya tidak jauh jauh dari dirimu sendiri ya Rahee. " Gumam Jongin. Ia turun dari ranjang dan menghampiri keduanya, berusaha sepelan mungkin agar adiknya tidak terbangun, Jongin mengangkat tubuh mungil Rahee dan meletakkannya di atas ranjang.
Saat Jongin berhasil memindahkan keduanya ke atas ranjang tanpa membuat kedua bocah itu terbangun, bel kembali berbunyi. Jongin bergegas keluar dari kamar Rahee.
" Siapapun dia, kalau dia muda dan cantik, aku bersumpah untuk menciumnya karena sudah mengganggu tidurku. " Geram Jongin saat ia dengan malas malasan membuka pintu rumahnya.
" Hyuuuunnggg... kenapa lama sekali. " Rengekan itu, Jongin merasa ia mengenalnya.
" Sehun... Bunny baby... "
Jongin tersenyum cerah, ia segera menarik tangan Sehun untuk masuk kedalam rumahnya.
" Bear hyung, di mana Ta... "
Cup
Sehun mengerjapkan matanya saat bibir tebal Jongin mendarat dengan sempurna di atas bibirnya. " Hyung, kenapa mencium Hunnie... "
" Itu hukuman Bunny baby, karena Bunny sudah membuat hyung terbangun dari tidur hyung. "
" Maafkan Hunnie, hyung... " Sehun menunduk, terlihat begitu bersalah.
" Tidak apa baby, sekarang cium hyung. Agar kepala hyung tidak pusing lagi. " Pinta Jongin.
Sehun tersenyum, ia segera berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Jongin. Walau tetap saja Jongin harus menunduk untuk membuat tinggi badan mereka sama.
Cup
" Sudah hyung... " ucap Sehun malu malu saat berhasil mengecup bibir Jongin.
" Aigo, Bunny baby... hyung menyukaimu. " Jongin mengacak pelan surai lembut Sehun.
" Hunnie juga sayang Bear hyung. " Ucap Sehun polos.
" Jadi Bunny baby kesini karena ingin bertemu dengan hyung? " Tangan Jongin bergerak merapikan poni Sehun yang tadi sempat ia acak.
" Umm, Hunnie kesini ingin menjemput Taeoh. "
" Taeoh sedang tidur bersama Rahee. " Ucap Jongin.
" Rahee? " Tanya Sehun bingung.
" Ya, dia adikku. "
Sehun mengangguk paham. " Uhh, bagaimana ini, Hunnie sudah janji pada Papa untuk main bersama Papa dan Taeoh. "
" Tunggu saja di sini dengan hyung sampai Taeoh bangun. " Saran Jongin.
" Tapi hyung... "
" Hunnie mau ice cream tidak... " Sela Jongin.
" Mau... " Seru Sehun dengan bersemangat.
" Kalau begitu mau nonton film dengan hyung sambil makan ice cream? " Bujuk Jongin.
" Umm, Hunnie mau. " Sehun mengangguk dengan antusias.
Jongin tertawa pelan. Ternyata tak sulit untuk membujuk namja manis di hadapannya ini.
" Kalau begitu, ayo ke kamar hyung. "
" Ne... " Sahut Sehun riang.
' Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi, aku akan mendapatkanmu Sehuna.'
.
.
.
" Sayang, kau bisa bantu aku melihat keadaan Sehunie sekarang. Sedari tadi ia belum keluar dari kamar. Aku takut dia kelelahan setelah bermain dengan Taeoh tadi. "
Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan istrinya memasak langsung bangkit dari kursinya. " Baiklah sayang... "
Cup
" Berhati hatilah dengan pisaumu. Aku tak ingin jemari cantikmu terluka. " Ucap Chanyeol.
Setelah mengecup sekilas bibir lembut istrinya Chanyeol beranjak dari area dapur. Meninggalkan istrinya yang tengah merona.
" Papa... " Panggil Taeoh saat melihat Ayah kesayangannya itu berjalan ke arahnya.
" Anak papa yang tampan sedang apa, eoh. " Chanyeol berjongkok di samping bocah lima tahun yang sedang asyik dengan buku gambarnya itu.
" Taeoh sedang menggambar ironman pa, lihat, gambar punya Taeoh baguskan? " Dengan perasaan bangga Taeoh mengacungkan buku gambarnya tepat di depan wajah Ayahnya.
" Wah, ini bagus sekali. Anak Papa sangat pintar menggambar. Tapi sayang, lain kali jangan memberi warna matanya kuning seperti ini lagi ya. " Ucap Chanyeol.
" Baik Papa, nanti Taeoh akan beri warna hijau saja. "
Chanyeol nyengir, ia sedikit merunduk untuk mencium kening anaknya. " Taeoh teruskan menggambarnya ya, Papa ingin menemui hyungmu dulu. "
Taeoh hanya mengangguk dan kembali fokus dengan buku gambarnya.
Chanyeol membuka pintu kamar putranya dengan perlahan, takut mengganggu anak sulungnya yang mungkin sedang belajar. Namun apa yang ia lihat berbeda dengan apa yang ia bayangkan. Putra sulungnya itu tertidur pulas di atas kasur empuknya.
" Sayang... ayo bangun... " Chanyeol duduk di sisi kanan Sehun dan menepuk pelan pantat berisi anaknya.
Sehun mengerang pelan sebelum membuka matanya. " Papa, Hunnie masih ngantuk. " Rengeknya saat melihat Ayahnya duduk tak jauh darinya.
" Bangun dulu sayang. Sebentar lagi makan malam siap. Ayo cuci muka dulu setelah itu ganti baju. " Perintah Chanyeol.
Dengan wajah cemberut Sehun melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sementara Ayah tampannya sedang memilihkan piyama tidur untuknya.
" Papa, Hunnie sudah cuci muka. "
Chanyeol menoleh kearah anaknya yang tampak lebih segar setelah mencuci mukanya. " Kalau begitu sini, Papa bantu anak Papa yang cantik ini untuk ganti baju. "
Sehun menurut, ia melangkah pelan ke hadapan Ayahnya dan mengangkat kedua tangannya ke atas, membiarkan Ayahnya menarik lepas sweater pinknya.
Chanyeol terkadang sering berpikir, apa karena dulu ia dan Suho begitu mengharapkan mempunyai anak perempuan saat istrinya itu tengah mengandung Sehun hingga anaknya itu terlahir dengan sifat sifat yang bisa dikatakan tidak manly sama sekali. Bahkan lihat saja hampir seluruh pakaian yang ada di lemarinya berwarna pink dan putih. Sehun kecil juga tidak menyukai segala mainan anak laki laki, ia hanya menyukai semua boneka yang berwarna pink dan putih, hingga umur Sehun menginjak enam belas tahun, Chanyeol belum menemukan satu pun yang terlihat jantan dari putra sulungnya, berbeda sekali dengan Taeoh. Putra bungsunya itu sangat gemar bermain bola dan hobi mengumpulkan segala mainan yang berbau otomotif.
Dari itu Chanyeol menyimpulkan kalau putra sulungnya ini terlahir tidak menjadi dominan seperti dirinya.
Lamunan Chanyeol buyar saat ia melihat tanda kemerahan di dada putih mulus anaknya. " Hunnie siapa yang membuat tubuhmu seperti ini? " Tanya Chanyeol dengan wajah memucat.
Sehun menunduk dan memperhatikan dadanya. " Ini... bekas Jongin hyung gigit dada Hunnie Papa. "
Jawaban polos Sehun membuat Chanyeol tersentak kaget. " Jongin... Kim Jongin... maksudmu dia anak tetangga kita itu? " Tanya Chanyeol memastikan ia tak salah orang.
" Umm. " Sehun mengangguk. " Hyung tampan di sebelah rumah kita Papa. "
" Kenapa Hunnie mau di gigit. Harusnya Hunnie menolaknya sayang. " Ucap Chanyeol.
" Tapi Jongin hyung bilang, hyung tidak akan menyakiti Hunnie. " Sahut Sehun polos.
Chanyeol menghela napas panjang, saat ia menghembuskan napasnya lagi, ia mengusap pipi mulus anaknya dengan lembut.
" Baiklah di bagian mana saja Jongin hyung menyentuh Hunnie? " Tanya Chanyeol, jujur saja ia merasa takut apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan.
Sehun segera menunjuk kearah bibir dan dadanya.
Diam diam Chanyeol merasa sedikit lega. " Dia tidak menyentuh apa yang ada di celana Hunnie kan? "
Sehun menggelengkan kepalanya.
Chanyeol tersenyum lemah. " Kalau begitu ayo pakai piyamamu, sebentar lagi masakan Mama pasti sudah siap. "
" Ne, Papa... "
.
.
.
Jongin baru saja ingin menstarter motornya saat ia melihat Ayah dari orang yang ia sukai muncul di hadapannya.
Wajah orang yang berdiri di hadapannya itu terlihat tenang kalau tidak bisa di katakan datar.
" Kim Jongin...? "
" Ya, Om... " Sahut Jongin sopan.
Chanyeol mengamati penampilan Jongin sekilas. Terlihat berantakan, namun Chanyeol mengakui namja di depannya ini memiliki aura yang begitu memikat, pantas saja anaknya yang polos itu menyukainya.
" Aku ingin berbicara secara pribadi denganmu. " Tegas Chanyeol.
" Berbicara masalah apa Om ? Maaf, bukannya aku tidak sopan tapi... aku harus kuliah Om. "
" Ini tentang anakku, Sehun... "
Suara tajam Chanyeol membuat tubuh Jongin serasa membeku. Apa ayah Sehun mengetahuinya ?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Sedikit pemberitahuan untuk yang mungkin salah nebak siapa itu Rahee. Disini aku pake cast Rahee ponakan Jongin ya. Tapi kalau mau bayangin Rahee yang lain terserah aja sih.
Buat yang minta cast Sehun diganti menjadi GS. Maaf, ga bisa dikabulin. Aku sudah terlanjur mencintai karakter Sehun di sini. Mengganti karakter dia menjadi seorang yeoja, pastinya akan berpengaruh pada moodku dalam mengetik ff ini.
Dan buat yang minta chanho moment dan moment Park family. Kali ini aku kasih. Moga hasilnya tidak mengecewakan ya. Ada yang minta dibikinin moment Kim family ?
Oh ya satu lagi, disini Jongin playboy cuma untuk meramaikan cerita aza. Yah, gak pa2 laa playboy dulu, ntar juga bakalan tobat. Kalo gak suka Jongin playboy dan gak mau baca, gak mau maksain kok.
Masih ada yang berminat? Mohon reviewnya yaaaa
