KIM AND PARK FAMILY THE SERIES
.
.
AUTHOR KILLA8894
.
GENRE FAMILY AU
.
PAIRING KIM JONGIN X OH SEHUN ( KAIHUN ), PARK CHANYEOL X KIM SUHO ( CHANHO ), KIM JONGDAE X BYUN BAEKHYUN ( CHENBAEK ), KIM TAEOH X KIM RAHEE ( TAERA )
.
RATED M a lil bit
.
CHAPTER 7
.
HAPPY READING
.
.
.
Sehun berdiri di depan gerbang kampus Jongin, menunggu namja tampan itu keluar dari pintu gerbang. Walau harapannya sedikit tipis, mengingat Jongin yang bahkan tidak mengangkat telponnya ataupun membalas pesannya.
" Sehunie, ayo kita pulang dulu. Kau belum makan siang bukan... " Siwon yang setia mengantar keponakannya itu, menatap dari balik jendela mobilnya.
Sehun hanya menggeleng. " Tapi Bear hyung belum datang, Hunnie takut nanti Hunnie tidak bisa bertemu dengannya. " Jawab Sehun, masih bersikeras untuk bertemu dengan orang yang disukainya itu.
" Tapi nanti kau sakit kalau... "
" Ah, itu Bear hyung... " Pekik Sehun senang, senyum lebar menghiasi wajah cantiknya, namun itu tidak bertahan lama saat ia melihat orang yang ditunggunya itu sedang menggandeng seorang namja dengan postur tubuh yang mungil seperti dirinya, wajah Sehun seketika murung. Apalagi setelah melihat namja yang digandeng Jongin, tiba tiba memeluk tubuh kekar itu.
Dengan segera Sehun berbalik menghadap ke arah om tersayangnya. Melihat wajah murung keponakannya, Siwon segera turun dari mobilnya dan menghampiri Sehun. " Ada apa, kenapa cemberut? " tanya Siwon.
Sehun hanya menggeleng lesu. " Ayo pulang om, Hunnie lapar. "
Siwon memeluk tubuh mungil keponakannya itu dengan sayang. " kalau Hunnie ada masalah cerita saja pada om... "
Sehun tetap diam, ia hanya menggeleng di dada omnya. Kenapa Jongin hyung bersama namja lain ? hanya itu yang berputar di pikiran Sehun sekarang, dan ia ingin tau alasan Jongin menghindarinya juga.
Meski menyadari ada sesuatu yang terjadi, Siwon memilih untuk tidak bertanya lagi dan segera membimbing keponakannya itu masuk ke dalam mobil.
Keduanya tidak menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka. Kim Jongin. Namja tampan itu menatap miris melihat namja yang lebih dewasa dari dirinya itu memeluk tubuh Sehun. ' Bahkan kau sengaja membawanya ke sini, my baby bunny... '
" Jongin... "
Namja yang masih digandengan Jongin, menepuk pelan tangan yang melingkari bahunya itu. " kenapa, kau ada masalah? "
" Tak ada apa apa hyung... " Jongin melepaskan tangannya dari pundak Ryeowook, sunbaenya di kampus.
" Wajahmu tampak mendung. " Komentar Ryeowook.
Jongin nyengir. " Mungkin karena kau belum mentraktirku ayam goreng hyung. "
" Yak, kenapa di dalam pikiranmu hanya ada ayam, apa aku harus menguras isi otakmu dan menggantinya dengan daging ayam cincang? "
Jongin berdecak pelan, " kau terlalu berlebihan hyung, ayo ke klub, sudah lama kita tidak berkumpul. "
Ryeowook memicingkan matanya. " kau ingin balapan lagi malam ini? "
" tentu saja hyung. " Jongin tersenyum tipis. Ya, ia harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perasaan tak nyamannya saat melihat bunny kesayangannya di peluk orang lain.
Sehun berulang kali menoleh ke jendela kamarnya yang tepat menghadap ke kamar Jongin, ia merasa gelisah. Sedari sore hingga malam seperti ini, Jongin hyungnya belum balik ke rumah. Sehun berniat menunggunya, dan berbicara langsung dengan namja itu tapi kenapa dia tidak datang.
Namja manis itu memeluk boneka teddy bearnya dan membaringkan tubuhnya di ranjang, memilih untuk berbaring saja sembari menunggu kedatangan Jongin. Namun rasa kantuk yang menyerangnya membuat pertahanan namja cantik itu luruh, ia tertidur bahkan sebelum waktu menunjukan pukul 11 malam.
Entah berapa lama Sehun tertidur ketika ia mendengar suara motor milik Jongin terdengar memasuki halaman rumah, namja manis itu terlonjak bangun dari tempat tidurnya. " Bear hyung pulang... "
Senyuman cerah tampak terlihat diwajah cantik itu, melupakan rasa kantuknya, Sehun segera melompat dari tempat tidurnya dan bergegas menuju jendela. Dari balik tirai yang sengaja ia buka Sehun dapat melihat Jongin yang sedang membuka pintu rumah dan kemudian menghilang dari pandangan Sehun. " Uh, Hunnie ingin bertemu Bear hyung. " Gumam Sehun. " Tapi diluar sedang gerimis dan kamar bear hyung dilantai dua. "
Sehun menuduk dengan wajah murung. " Ah, tapi Hunnie kan bisa memanjat ke atas lewat pohon itu. " Ya, Sehun ingat dahan pohon disamping rumahnya tepat mengarah ke balkon kamar Jongin. Namja manis itu memperhatikan pakaiannya. " Umm, Hunnie tidak bisa memanjat saat memakai celana panjang seperti ini, Hunnie lepas saja, kan tidak ada juga yang melihat. "
Dengan polosnya Sehun melepas celananya, menyisakan atasan piyama dan juga celana dalam berwarna birunya. Sehun kemudian membuka jendela kamarnya dengan hati hati takut kalau ketahuan, ia melompat dengan sedikit gemetar melewati jendela. " Huff, untung Hunnie tidak jatuh. " Sehun mengelus dadanya sesaat ia turun dari balkon kamarnya, ia lalu mengelus dagunya sembari memperhatikan pohon yang akan ia naiki. " Uh, ini lumayan besar, tapi hunnie harus bisa ke atas demi Bear hyung. "
Setelah dengan susah payah dan penuh perjuangan akhirnya Sehun menjejakkan kakinya di lantai balkon kamar Jongin tanpa lecet lecet ataupun tergores tentunya.
" Bear hyung... " Sehun melangkah pelan lewat pintu balkon yang terbuka, mungkin Jongin lupa menguncinya. Namja manis itu tersenyum lebar melihat orang yang ingin ia temui tidur dengan punggung menghadap kearahnya. Segera saja Sehun berlari dan kemudian melompat ke atas kasur Jongin. " bear hyuuuung... "
Jongin terbangun saat merasakan ranjang nya bergerak. Tangan kecil mulai memeluk pinggangnya, dan ia merasakan napas seseorang dipunggungnya. Tanpa berbalikpun Jongin tau siapa orang yang tengah memeluknya ini. Ia mendongak, melihat jam didinding. Jongin menghela napas saat melihat jam menunjukkan jam dua malam. " Hei, Sehun. " Panggilnya. Sehun tidak merespon hanya semakin mengeratkan pelukannya. " Hei, apa yang dilakukan Bunny dikamar hyung di jam seperti ini? "
Sehun menggelengkan kepalanya, menolak merespon pertanyaan Jongin. Jongin memalingkan tubuhnya menghadap Sehun, membuat pelukan Sehun terlepas.
" Hei, hyung bertanya pada Bunny. Apa yang sedang dilakukan Bunny dikamar hyung di jam seperti ini? " Jongin mendongakkan wajah Sehun.
" Bear hyung... " Lirih Sehun. " Kenapa tadi siang mengacuhkan Bunny? "
Jongin menatap ke arah Sehun dan meneguk ludah saat melihat Sehun yang hanya mengenakan atasan piyama saja tanpa mengenakan celana panjang, dan celana dalam biru yang dikenakan Sehun terlihat sangat menggiurkan bagi Jongin. " Bun.. Bunny? " Panggil Jongin.
Sehun berbalik dan memperlihatkan wajah cemberutnya yang terlihat sangat imut. Bibirnya mengerucut, pipi chubby nya basah karena linangan air mata. Melihat hal itu membuat Jongin mengepalkan tangannya, mencoba menahan hasrat nya yang menggelora.
" Apa? " Sehun meninggikan suaranya, berharap agar Jongin takut. Tapi bukan nada kasar yang terdengar hanya terdengar suara lirih.
" Kenapa hanya memakai atasan piyama saja? Celana piyama Bunny mana? " Tanya Jongin.
Sehun menggelengkan kepalanya, meresap pertanyaan Jongin sebelum menundukkan kepala dan melihat ke kakinya yang tidak tertutupi kain. " Oh, ini tadi kan Hunnie memanjat balkon, hyung, biar lebih mudah jadi Hunnie melepas celana saja. Nantikan kalo Hunnie pake celana panjang kalo tersangkut, Hunnie kan bisa jatuh. Kalo jatuh nanti tubuh Hunnie sakit, bear hyung... " Ucapnya dengan polos.
Jongin menghela napas. Kalau kekasihnya berlaku imut seperti ini dia jadi tidak bisa marah terlalu lama.
Sehun menatap wajah Jongin. " Hyung, kenapa tadi siang mengacuhkan Hunnie? "
Jongin menatap wajah sayu Sehun, mendekatkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir Sehun. Saat menjauhkan wajahnya ia melihat Sehun menutup mata, membuatnya kembali mengecup bibir manis itu dengan ditambah lumatan. Ia menggigit bibir bawah Sehun agar terbuka dan dengan mudah memasukkan lidahnya.
Mereka berciuman dengan penuh nafsu sampai Sehun hampir kehabisan napas. Sehun meremas keras piyama yang dipakai Jongin. Jongin yang mengerti, melepaskan tautan bibir mereka. Membuat benang saliva membentang di antara mereka.
Sehun mencoba mengatur napasnya, tatapan sayunya ia arahkan pada Jongin. " Hyung, Hunnie benar benar menyukai Bear hyung. Jadi jangan acuhkan Hunnie lagi. "
Jongin mengusap pipi Sehun lalu merebahkan tubuh Sehun. Ia kembali melumat bibir merah Sehun.
" Nyahhh... Hyungghh.. " Lenguh Sehun. Saat merasakan lidah Jongin bertemu lidahnya.
Jongin melepaskan lumatannya, dan menyerang leher mulus Sehun, mengisap keras pada kulit dan meninggalkan kissmark dileher putih mulus Sehun. Dengan tetap menghisap leher Sehun, Jongin perlahan membuka satu persatu kancing piyama Sehun, setelah terbuka sepenuhnya, ia melepaskan piyama itu dari tubuh Sehun, memperlihatkan body indah Sehun.
" Hyunggiieehh... " Sehun merintih karena Jongin terus meninggalkan kissmarks di seluruh tubuhnya.
Jongin dengan perlahan menarik celana dalam biru Sehun, membuat Sehun telanjang dihadapannya. Ia menurunkan kecupannya, menjilat kulit tubuh Sehun. Sehun meremas rambut Jongin, saat merasakan Jongin menghisap nipple kirinya.
" Eemmhhh... Hyungieehh.. Nyahh.. " Desah Sehun.
" You are mine, Sehun. Hanya milikku. " Ucap Jongin possesif.
" Hunnie hanya milik Bear hyung. " Sehun mendekatkan wajahnya dan mencium Jongin. Dengan malu malu Sehun menjilat bibir Jongin, ia coba mengingat bagaimana cara Jongin menciumnya dan mencoba mempraktekkannya.
Jongin tersenyum karena Sehun menciumnya dengan canggung.
" Hyungiehh... " Sehun mengerang saat Jongin menyelipkan tangannya ke bawah, menyusuri paha bagian dalamnya dengan lembut, membiarkan tangan Jongin berjalan menyusuri sampai tepat di atas penis Sehun.
Jongin menjilat telinga Sehun, dan dengan parau berbisik. " Jangan pernah orang lain melakukan ini pada tubuhmu, Baby bunny, selain hyung. " menyebabkan Sehun mengerang dan tanpa sadar menggerakkan pinggulnya ke tangan Jongin.
" Hei, dimana bunny belajar melakukan itu, ehhm? " Ucap Jongin, mendorong kekasih imutnya itu.
" Nyaahh... Hunnie, ju... Juga tidak tau, hyung.. Eemmhh.. Tub... Tubuh Hunnie bergerak sendiri. " Sehun menggerakkan pinggulnya membuat penisnya keluar masuk dari genggaman tangan kekasihnya sampai ia merasa tarikan kasar pada kejantanannya.
Sehun begitu dekat dengan klimaksnya tapi Jongin tiba tiba menarik tangannya dan Sehun merasa kosong. " Hyungieee? " Sehun merintih sambil berharap Jongin kembali meliputi kejantanannya.
Jongin berlutut di kaki Sehun yang terbuka lebar dan menarik Sehun lebih dekat kepadanya dengan meraih kakinya sampai pantatnya tepat di depan wajah Jongin.
" Nyyahh... " Sehun mengerang, saat Jongin meraih pegangan dari kakinya sampai menekan ke dadanya. Membuat Jongin memiliki pandangan yang jelas dari pantat sintal Sehun.
Sehun bergidik karena ia merasa Jongin meniup udara ke dalam holenya, memberikan ciuman kecil dan lembut yang mendorong Sehun menjadi gila. Padahal Jongin sudah beberapa kali melakukan hal ini pada tubuhnya tapi entah kenapa malam ini terasa ada yang berbeda.
Jongin kemudian mendorong lidahnya memasuki hole Sehun, ia mengerang saat merasakan bagaimana ketatnya dinding hole Sehun menjepit lidahnya. Jongin menyiksa hole Sehun dengan lidahnya, sesekali menampar pantatnya supaya ia bisa mendengar teriakan kekasih imutnya itu.
Sehun hilang dalam ekstasi lidah kekasihnya yang jauh berada di dalam dirinya.
" Hyungiieehhh... Aaahhh... " Sehun menggerakkan pinggulnya menyamai irama lidah Jongin dan mengerang keras saat ia mencoba untuk mengejar kilmaksnya lagi. Salah satu kaki Sehun tergelincir, tangan kanannya menjambak rambut Jongin, mendorong dia lebih dekat ke holenya. Hal itu mendorong Jongin lebih semangat mengeluarmasukkan lidahnya lebih dalam dan lebih dalam lagi.
" Hyung... Hyungieehh.. Eemmhh... Stop, stop hyung. Hunnie mau pipis. " Sehun memekik keras, bernapas berat tapi Jongin tidak menunjukkan tanda tanda melambat.
Jongin meninggalkan satu ciuman terakhir, menjilati bibir dan membiarkan lidahnya berkeliaran di sekeliling hole Sehun.
" Hyungiieeehhh... Aaahhhhh... " Desah Sehun saat mencapai klimaksnya.
Sebelum mengangkat wajahnya, Jongin menjilati sperma Sehun. Ia lalu menyentuh pipi lembut Sehun. " Bunny, baik baik saja, bukan? "
Sehun tersenyum manis, sebelum ia teringat sesuatu. Ia mengernyit saat merasakan sesuatu menusuk nusuk perutnya. " Bear hyung, apa yang menusuk nusuk perut, Hunnie? " tanyanya polos.
" Eh? " Kaget Jongin. Ia menundukkan wajahnya dan melihat celananya menggembung karena ereksinya.
Sehun bangun, " Oh, apa Hunnie juga harus menjilat punya hyung? " Ucapnya sambil menurunkan celana Jongin. Ia kaget saat mendapati kejantanan Jongin yang sudah berdiri dengan bangganya. " Hyung... Bear hyung besar sekali.. "
" Ba... Baby bunny... "
" Uhh... Bear hyung curang, kenapa milik hyung lebih besar dari punya Hunnie. " Sehun mengerucutkan bibirnya, merajuk
Jongin terkekeh pelan, ia memperbaiki letak celananya sebelum kemudian memeluk tubuh polos Sehun dengan erat. " Tentu saja karena hyung kan lebih dewasa dari baby bunny. "
" Tapi Hunnie juga sudah besar hyung... " rengek Sehun.
" Iya iya baby bunny hyung memang sudah besar." Jongin menunduk untuk mengecup bibir Sehun dengan lembut. "Ayo pakai bajumu lagi, hyung akan mengantarmu pulang."
" Tapi Hunnie ingin tidur bersama hyung. " Ucap Sehun dengan nada sedih.
" Tidak bisa sekarang sayang, nanti hyung akan dimarahi orang tua bunny, memang bunny mau kalau orang tua bunny memarahi hyung? "
Sehun cepat cepat menggeleng. " Hyung belum jawab pertanyaan Hunnie. " Gumam Sehun saat Jongin menariknya untuk bangun dan kemudian memasangkan piyama lagi ke badannya.
" Pertanyaan yang mana? " Jongin meremas dada Sehun yang berisi sebelum kemudian mengancingkan piyama yang dipakai Sehun.
" Kenapa hyung marah pada Hunnie, padahal Hunnie kan ingin memperkenalkan om Hunnie pada hyung. "
" Om...? " gerakan tangan Jongin terhenti.
Sehun mengangguk. " Om Siwon, yang tadi siang hyung lihat di depan rumah Hunnie itu. "
" Dia keluarga baby bunny? " tanya Jongin memastikan.
Sehun lagi lagi mengangguk. " Om Siwon kakak dari mama Hunnie. " Jelasnya. " Kenapa, hyung mau kenalan ya, tapi besok pagi om sudah pulang... "
Jongin menepuk jidatnya sendiri tanpa membalas ucapan Sehun, jadi ia cemburu dengan paman dari kekasihnya sendiri. Oh tidak... jadi untuk apa ia galau seharian ini ?
.
.
.
" Taeoh- ya jangan ambil jaketku... " jerit Sehun saat Taeoh mengambil jaketnya dan berlari keluar dari kamar.
" Shilooo... " Taeoh terus berlari dengan membawa jaket kesayangan Sehun. " Coba kejal kalau bisa. " Teriaknya.
" Huweee... Papa... Taeoh mengambil jaket Hunnie... " Sehun mulai menangis saat Chanyeol menengok ke dalam kamarnya.
Chanyeol menghela napas dengan lelah, si sulung mulai kumat lagi manjanya. " Cup.. Cup.. Sudah, princess papa sudah besar, tidak boleh menangis lagi. " Princess ? yap, Chanyeol memang menganggap kalau anak sulungnya ini adalah seorang princess yang kelaminnya tertukar saat dilahirkan. Bagaimana tidak, Sehunnya tumbuh dengan sifat sifat manjanya yang jauh lebih dominan dibandingkan sifat manly seperti Taeoh.
" Hiiks... Jaket Hunnie... "
Chanyeol mengulurkan tangannya kemudian menggendong anaknya itu dengan sayang. " Uh, princess papa berat sekali. "
" Huweee... Hunnie tidak berat... " tangisan Sehun makin menjadi. " Papa... jaket Hunnie... " rengeknya.
Chanyeol menghela napas dengan lelah, memperbaiki posisi anaknya yang digendong ala koala hug agar nyaman sebelum menepuk bokongnya. " taeoh hanya ingin bercanda dengan hyungnya sayang, jangan di anggap serius, lagi pula Taeoh tidak suka dengan jaket warna pink punya Hunnie. " Jelasnya pelan pelan.
" Ada apa lagi dengan bayi besar itu? " Suho yang baru keluar dari kamarnya dengan dasi Chanyeol di tangan , mengernyitkan alisnya melihat anaknya yang digendong.
" Seperti biasa sayang, Taeoh membuatnya menangis lagi. "
Suho mendekat kemudian mengelus surai anaknya. " Hunnie turun ya, kasian papa. " Bujuknya.
" Tidak mau. " Tolak Sehun.
" Tapi papa mau berangkat kerja sayang, Hunnie mau papa terlambat ke rumah sakit? " tanya Suho.
" Umm, Hunnie boleh ikut papa tidak ma? " tanya Sehun penuh harap.
" Tidak, Hunnie harus sekolah pagi ini. " Tegas Suho. " Sekarang turun dari gendongan papa dan ganti seragammu yang kusut itu. "
Sehun menggelengkan kepalanya. " Jaket Hunnie... "
" Nanti mama ambilkan, Taeoh pasti mau menyerahkan pada mama. "
Sehun menurut, ia segera turun dari gendongan ayahnya dan berlari kembali memasuki kamarnya, meninggalkan Suho yang menatapnya dengan dahi berkerut dan Chanyeol yang tersenyum geli.
" Terkadang aku tak mengerti apa yang terjadi pada anak sulung kita, sifatnya itu sangat bertentangan dengan kita. " gumam Suho, namja cantik itu memperbaiki kemeja Chanyeol yang agak berantakan setelah menggendong Sehun tadi, kemudian memasangkan dasi yang sedari tadi ia pegang. " Cha, suamiku sudah tampan dan siap kerja. " Suho menepuk pelan dada bidang Chanyeol.
Chanyeol menggenggam jemari Suho dan menciumnya dengan lembut. " Sehun adalah anugerah pertama yang diberikan Tuhan dalam kehidupan perkawinan kita, dia adalah malaikat cantik yang begitu mirip denganmu. Aku mencintainya seperti aku mencintaimu dan aku tidak keberatan dengan semua tingkah manjanya, lagi pula kita tidak perlu khawatir karena masih ada Taeoh yang akan menjadi penyeimbang di antara anak kita. "
Suho tersenyum. " Ya, sifat keduanya memang sangat berlawanan. "
" Jadi istriku jangan khawatirkan masa depan anak kita nantinya. " Chanyeol mendekatkan wajahnya dan kemudian melumat bibir Suho dengan lembut.
" Mama... mana makanannya, Taeoh lapal... "
Teriakan dari Taeoh membuat Chanyeol melepaskan ciumannya. " Ku rasa Taeoh punya bakat yang tak kalah unik dari Sehun. " gumamnya pelan.
" Huh, bakat apa? " tanya Suho tak mengerti.
" Bakat untuk mengganggu kemesraan orang tuanya. " Jawab Chanyeol santai.
" Mamaaaaaaa... "
" Tuh kan benar. " Chanyeol melirik ke arah kamar Sehun yang masih tertutup. " Taeoh- ya, tunggu sebentar. " Balasnya setengah berteriak. " Ku rasa princess kita akan sedikit lebih lama baru keluar dari kamarnya, ayo kita turun lebih dulu. " Chanyeol melingkarkan tangannya dipinggang ramping istrinya dan kemudian mereka melangkah bersama menuju ruang makan.
.
.
.
Chanyeol melirik jam tangannya dan menyadari kalau ini sudah waktunya untuk makan siang, ia segera melepas jas putihnya dan kemudian mengambil handphone, dompet dan juga kunci mobilnya.
" Siang dok, mau makan siang ya. " Tanya seorang suster yang kebetulan lewat saat Chanyeol menutup pintu ruangannya.
Chanyeol menoleh dan tersenyum. " Iya. " Ucapnya sopan sebelum bergegas meninggalkan tempat itu.
" Kurasa makan sesekali di luar rumah tidak apa apa. sudah lama rasanya tidak makan di tempat itu. " gumamnya saat masuk ke dalam mobil. Kemudian Chanyeol mengarahkan mobilnya ke arah kota, tanpa sadar kalau ia belum menghubungi istrinya mengabarkan kalau ia tidak makan di rumah.
Sesampainya di sebuah mall Chanyeol segera memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk menuju lantai dua tempat restoran yang dulu sempat menjadi favoritnya berada.
" Chan... "
Panggilan dari arah belakang mau tak mau membuat Chanyeol segera menoleh dan ia tertegun sejenak. " Baekkie... "
Baekhyun tersenyum sembari melangkah mendekat. " Tadinya aku sempat ragu, tapi ternyata itu benar benar kau. Mau makan disana juga? " pandangan Baekhyun mengarah ke dalam restoran.
" Ya. Dan kau sendiri? "
" Sama sepertimu. " Gumam Baekhyun. " Mau makan bersamaku? " tawarnya.
Chanyeol menimbang perasaannya sebentar sebelum mengangguk. " Tentu saja. Ayo... " tanpa sadar ia merangkulkan tangannya ke pundak Baekhyun dan membimbingnya masuk ke dalam restoran dan duduk di meja pojok.
Pelayan yang menghampiri mereka tersenyum lebar saat mengingat siapa yang menjadi pelanggannya kali ini. " Rasanya sudah lama sekali tidak melihat kalian kemari, aku bahkan sempat berpikir hubungan kalian berakhir, ternyata masih awet ya. Kalian mau memesan yang seperti biasa? "
Chanyeol tersenyum canggung. " kau masih mengingatnya? "
" Tentu saja tuan dokter. "
" Baiklah kami pesan itu. " ucap Baekhyun. Ia menatap ke arah Chanyeol dan tersenyum.
" Rasanya sudah lama sekali. " Gumam Chanyeol.
" Ya, kau benar. Terakhir kita bertemu disini, Jongdae dan Suho memergoki kita dan hubungan kita berakhir. " Balas Baekhyun. Ia memainkan jarinya dengan gugup. Setelah 17 tahun ternyata ia masih merasa ada getaran yang tersisa saat menatap wajah mantan kekasihnya yang terlihat semakin dewasa dan matang. " Aku mengalami masa yang sulit setelah itu. " tambahnya lagi.
Tangan Chanyeol tergerak refleks untuk menggenggam jemari Baekhyun. " Maaf... "
Baekhyun menggeleng. " Itu semua bukan hanya salahmu, tapi salahku juga. "
Keduanya kembali diam dan hanya bisa saling pandang. Mencoba bernostalgia dengan masa lalu walau hanya untuk sesaat.
" Keadaan sekarang sudah tak sama lagi ya. " Gumam Baekhyun, namja itu tersenyum kecil. " Sekarang aku lihat kau sudah begitu bahagia dengan Suho. "
Chanyeol tersenyum. " Ya, dan aku bersyukur dengan kehadiran dua orang malaikat dikehidupan kami. "
" Sehun dan Taeoh. " Baekhyun terdiam sejenak. " Kau sudah bisa move on sepenuhnya bukan, karena itu kau tampak tidak keberatan saat harus bertetangga denganku. "
" Hidup terus berjalan Baekkie, dan seiring aku yang semakin bertambah tua rasa cintaku pada Suho semakin bertambah. Bagaimana denganmu? "
" Perlu usaha yang keras tapi aku rasa aku akan bisa melupakanmu sepenuhnya. "
" Akan? "
Baekhyun tertawa. " Ya, kau pikir segampang itu bisa membuang dirimu dari pikiranku. "
Chanyeol ikut tertawa, " Ya, tentu saja tidak akan mudah karena aku sangat tampan. "
" Dasar narsis. " Keduanya saling pandang dan tertawa lagi, seketika rasa canggung mulai mencair dan keduanya bisa dengan nyaman saling berbicara satu sama lain.
Di sisi lain Suho melangkah masuk ke dalam mall bersama dengan kedua anaknya. " Taeoh- ya, terus genggam tangan hyungmu, jangan biarkan dia terlepas atau hyungmu akan tersesat. " Ucap Suho.
Bocah berumur 6 tahun itu mengangguk tanda mengerti dan kemudian menggenggam jemari hyungnya dengan tangannya yang masih lebih mungil dari hyungnya.
" Mama, harusnya kan Hunnie yang menjaga Taeoh. " Protes Sehun tak terima.
" Mama tak bisa percaya padamu, terakhir kau berkata begitu, kau tersesat dan kemudian menangis hingga membuat mama dan papa repot. " Jawab Suho.
" Hihihi... " Taeoh menertawakan hyungnya yang tengah cemberut itu, namun dalam sekejap tawanya menghilang saat ada laki laki yang memperhatikan hyungnya dengan begitu intens. Wajahnya berubah menjadi galak dan matanya melotot. " Apa lihat lihat bokong hyungku... " ucapnya ketus.
Laki-laki itu gelagapan sesaat sebelum menjauh.
Suho tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya pada putra bungsunya. " bagus Taeoh, terus jaga hyungmu dan mama. "
" Iya, mama... " balas Taeoh.
Suho melanjutkan langkahnya menuju lantai dua tempat itu, menuju butik langganannya, sebelum ekor matanya menangkap sebuah restoran yang mempunyai kenangan begitu mendalam dihatinya. Namja manis itu tersenyum miris, mengingat semua yang pernah terjadi. ' Tak apa, semuanya sudah berlalu. ' Bisiknya lirih.
Namun saat ia ingin melangkah menjauh ucapan Taeoh menghentikan langkahnya.
" Mama, bukankah itu papa... "
Suho dengan cepat menoleh ke dalam dan restoran dan pandangannya seketika buram saat melihat suaminya sedang bercanda dan tertawa dengan seseorang yang sangat ia kenal. Orang yang sama seperti 17 tahun lalu, Byun Baekhyun.
" Mama... kenapa mama menangis. " Panik Sehun saat menatap ibunya.
" Mama tidak apa apa sayang. " Suho buru buru menghapus air matanya. " Ayo kita pergi. "
" Tapi Hunnie belum beli ice cream. " Rengek Sehun.
" Taeoh juga belum beli lobot mama... " taeoh ikut merengek. " Taeoh juga lapal, ayo temui papa... "
" Taeoh- ya, Sehunie, tolong mengerti mama kali ini saja sayang. "
" Mama... " rengek keduanya.
Suho memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya lagi dengan tatapan sedihnya. " Maafkan mama, tapi mama harus pulang. " Suho dengan cepat berbalik.
" Mamaaaa... " kedua kakak beradik itu berteriak memanggil.
Dan pada saat itulah Chanyeool menoleh dan matanya terbelalak melihat anak dan istrinya. Istrinya yang berlari menjauh dan Taeoh yang berlari menyusul dengan bergandengan tangan dengan Sehun.
" Ya Tuhan. " Chanyeol mengeluarkan uang dari dompet, melemparkannya ke atas meja dan kemudian bergegas keluar dari restoran untuk menyusul istrinya.
" Mama... kaki Hunnie sakit... " rintih Sehun. ia ingat semalam saat ia naik ke atas pohon, ia sempat tergelincir hingga pergelangan kakinya sakit. Tadi pagi saat bangun ia tidak merasakannya lagi, hingga sekarang saat ia berlari sakitnya datang lagi. " Hiks... Mama... "
Mendengar tangisan putranya, langkah Suho terhenti dan ia segera menoleh ke belakang. " Ya Tuhan Hunnie... "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Maaf atas keterlambatannya yang begitu lambat. Sejujurnya aku juga ingin banget update ff ini secara cepat, namun karena tanganku yang bermasalah dan aku harus terapy untuk penyembuhan otot syarafnya, aku harus istirahat total demi kesembuhan. Jadi maaf banget karena tanganku masih belom pulih sepenuhnya, semua ffku mungkin akan agak lambat baru update. Untuk yang mungkin baca ffku disini atau di wattpad, maafkan aku, karena akun wpku keblokir dan aku ga bisa update lagi disana, tapi aku berencana untuk bikin akun baru sih, tapi ga tau kapan. Hehehe...
Untuk ff Can' t Remember 5, itu aku ambil dari SM Town kali ini, jadi kalau ada bagian yang rada galau mohon dimaklumi. Aku harus menyesuaikan dengan fanacc baik yang diluar stage atau dalam stage. Tapi ga apa apa ya kalo updatenya rada lama.
# Syakila. W
