.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Fifty Shades of Jungkook

.

.

.

.

.

.

.

[Non-AU, idol-life, BTS]

First Phase

Stage I

-Dandere

pendiam–sangat amat diam, pemalu–teramat malu, mudah sekali merasa malu terlebih bila dirinya menjadi pusat perhatian, dijuluki sebagai anti-sosial, lebih suka berdiam di pojok ruangan sendirian, sangat sulit didekati namun dapat bertindak progresif bahkan melebihi siapapun apabila ia sudah merasa nyaman dengan seseorang, jarang bicara namun sangat peka terhadap lingkungannya.

.

.

.

.

.

Empat belas tahun Jungkook menatap gedung di hadapannya dengan tatapan awe, mata besarnya semakin membesar, mulutnya terbuka lebar. Beberapa menit sebelumnya kaki kecilnya baru saja menapaki jalan menuju bangunan yang cukup besar di hadapannya ini. Dan ia berhenti untuk mengamati setiap inci dari bangunan tersebut. Ia mengeratkan genggamannya pada ransel berwarna merah kegemarannya yang ia sematkan di punggung, dan perlahan telapak tangannya terasa basah.

Adam apple kecil yang belum terbentuk miliknya bergerak naik turun, menandakan kegelisahan dirinya. Jungkook menghela nafas sebelum kembali berucap, "Tenang, Jeon Jungkook. Kau pasti bisa melewati ini!"

Ia berusaha mengulaskan senyuman tipisnya dan mengalihkan tatapannya pada secarik kertas di genggamannya.

Congratulations!

You're qualified to be one of the trainees. Your day of training has been settled as in the attachment contract behind. Please come at the day written there.

Make yourself at home.

Big Hit Entertainment

Ambil nafas.

Hembuskan.

Jungkook kembali tersenyum. Ia mendapatkan kertas itu pada minggu yang lalu saat dirinya kembali dari sekolah menengah pertamanya. Dengan wajah sumringah sang ibu memeluk dirinya dan mengatakan 'Chukhae, uri adeul,' berulang kali. Jungkook yang bahkan belum sempat meletakkan ranselnya melompat gembira tanpa melepaskan pelukannya pada sang ibu.

"Kuharap appa pulang dan ada di sini bersama kita,"

Jungkook mengulaskan senyum tipisnya kembali. Ia menyeka bulir air yang mulai turun dari lipatan bawah matanya, mengelak dengan bergumam bahwa cuaca sedang panas.

"Aku sudah sampai tahap ini, tak ada lagi alasan untuk mundur. Fighting Jeon Jungkook!" gumamnya dengan nada khas anak belasan tahun. Dengan langkah pelan namun pasti kaki kecilnya bergerak kembali menuju pintu depan bangunan besar di depannya. Ia menunggu saat pintu otomatis itu terbuka, dan mengirim hawa dingin dari pendingin ruangan di sekujur tubuhnya. Berpakaian jersey tanpa lengan berwarna merah–kesukaannya–membuatnya harus bergidik sedikit tatkala hawa dingin itu menyapu kulit putihnya.

.

.

"Sudah, eomma, appa, sampai sini saja! Aku bukan lagi anak kecil,"

.

.

Jungkook menolehkan kepalanya dan melihat seorang bocah–yah mungkin sedikit lebih tua dari dirinya–tengah menundukkan kepalanya sembari menyemat ranselnya. Terdapat sepasang suami istri di hadapannya yang tengah tertawa sembari mengelus kepalanya yang terlindungi oleh snapback berwarna biru.

.

.

"Baiklah, our little man," suara keibuan dengan logat yang tak asing dari sang istri menggelitik telinga Jungkook. Sejenak perutnya mengerat dan merasakan kerutan aneh. Ia menggigit bibir bawahnya.

"Kau yakin?"

"Sangat yakin, appa! Kalian bisa pulang sekarang, aku akan baik-baik sajaa,"

.

.

Begitu perhatian.

.

.

"Baiklah, semoga berhasil. Kami pulang, Jimin-ah," "Eomma dan appa akan pulang, kami harap kau bisa menjaga dirimu. Jangan lupakan makanmu, dear,"

"Neee! Bye, eomma, appa!"

.

.

Mata besar Jungkook memperhatikan gerak-gerik tiga orang di hadapannya. Bagaimana sang ayah nampak begitu bangga pada sang anak, terlihat dari pancaran matanya. Sang ibu yang terlihat khawatir, namun akhirnya memilih untuk mempercayai anaknya. Dan sang anak yang begitu enerjik dan berusaha meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia akan baik-baik saja di sini.

Siapa tadi namanya?

Jimin?

"Park Jimin!"

Jungkook tersentak dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Suara dari Jimin yang sedang berbicara dengan salah satu petugas di sana membuatnya harus membuyarkan lamunannya.

"Oh, kau Park Jimin yang itu?" petugas yang berpakaian rapi lengkap dengan blazer dan dasi menampilkan ekspresi ceria kepada Jimin.

Sedangkan Jungkook hanya bisa terdiam sembari memaku tatapannya pada orang-orang di sekelilingnya.

"Ne, Park Jimin! Aku tak tahu maksudmu tentang 'Park Jimin itu' namun benar, akulah Park Jimin!" Jimin menjawab sembari tersenyum. Matanya menyipit dan membentuk sebuah crescent. Sejenak Jungkook mengaguminya.

Namun ia cepat-cepat tersadar dari lamunannya ketika Jimin melirik padanya.

"Yah?"

Jantungnya berdetak cepat.

"Neo?"

Jimin mendekat ke arahnya, lengkap dengan cengiran khas miliknya. Jungkook, however, mengambil langkah mundur.

"Neo nuguya?"

Oh, sial, tumitnya menabrak sebuah pot besar. Itu artinya ia tak bisa pergi ke manapun ditambah Jimin yang sudah berada beberapa inci darinya. Pemuda itu memindai tubuh Jungkook mulai dari ujung rambutnya, hingga ke kaki. Lalu pemuda bermata sipit itu memicingkan kepalanya dengan lucu.

"Hei, kau imut. Apa kau juga seorang trainee?"

Apa yang barusan dikatakannya.

Jungkook yang tidak berani menatap matanya hanya menenggak salivanya kuat-kuat dan mencengkram genggaman ranselnya. Telapak tangannya kembali basah, wajahnya perlahan memucat, jantungnya berpacu lebih cepat, kakinya kehilangan rasa. Bahkan dirinya mulai mengeluarkan sengalan demi sengalan.

Ia tidak terbiasa dengan perlakuan ini.

Jimin yang melihatnya membulatkan bibirnya. Matanya membesar, dan bertanya-tanya apakah dirinya mengatakan hal yang salah pada sosok di hadapannya ini. Ia berusaha menangkap wajah Jungkook dengan ikut menundukkan kepalanya. Empat belas tahun Jungkook memiliki tubuh yang sedikit pendek dari dirinya.

"Yah, gwaenchana?"

Hanya sekedar kata 'gwaenchana' yang menyiratkan kekhawatiran, seharusnya bukanlah sebuah hal yang mengerikan, namun mampu membuat rasa ketakutan dalam diri Jungkook memuncak. Ia berusaha tidak mengeluarkan air matanya, karena sungguh bodoh bila seorang lelaki menangis hanya karena seseorang berusaha mengajakmu berbicara.

Tapi Jungkook adalah lelaki bodoh itu.

"..Uh.." Cairan bening perlahan mengalir dari kedua matanya. Ia menahan cairan itu mengalir deras dengan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi matanya. Isakan kecil keluar dari mulutnya.

Sosok di hadapannya terperangah, dagunya terbuka lebar dan wajahnya berubah panik. Ia tak bermaksud membuat Jungkook menangis.

"Y-Yaah, uljimarayo..! H-hajima, hajima!" pemuda belasan tahun itu berusaha menghentikan tangisan Jungkook dengan segala upaya. Ia panik, sesekali menggigiti bibir bawahnya frustrasi.

Namun Jungkook tak juga berhenti, isakannya terdengar semakin pilu dan menyedihkan, membuat Jimin menggeram gemas.

Snapback biru muda miliknya terjatuh tatkala sepasang lengan melingkari lehernya dan–

"JIMINAAAH!"

–hanya menyebabkan Jungkook terisak semakin keras begitu mendengar teriakan seseorang dengan suara berat.

.

.

.

.

.

.

"Oh, jadi kau terkenal dengan sebutan 'Park Jimin itu'?"

Di antara kumpulan remaja-remaja yang duduk mengelilingi suatu ruangan dengan banyak kaca di dalamnya, nampak dua sosok remaja tengah bercakap-cakap.

Seorang di antaranya mengedikkan bahu, dan membetulkan letak snapback biru muda miliknya di atas kepalanya lalu beralih menatap lawan bicaranya, "Yah, aku pun tak tahu mengapa orang-orang di sini memanggilku begitu," nampak lawan bicaranya menyeringai jahil, "Jangan kau lagi, jangan ikut memanggilku begitu, Tae." "Tapi itu terdengar menyenangkan, Jimin-ah,"

Seorang remaja dengan mata sipit bernama Jimin, dan seorangnya lagi yang memiliki senyum rectangle dipanggilnya 'Tae'.

"Shut up. Kau bahkan menakuti bocah itu di hari pertama training, Taehyung,"

Jungkook yang tengah duduk di pojok ruangan yang terletak tak jauh dari mereka kembali tersentak saat Jimin menunjuk dirinya. Taehyung, lawan bicara Jimin menolehkan kepalanya melihat Jungkook tengah duduk dengan memeluk kakinya dan menumpu dagunya di atasnya.

Taehyung tak dapat menahan senyumannya begitu melihat Jungkook yang nampak sangat lucu.

Jarak mereka yang dibatasi oleh beberapa orang trainee lain membuat Taehyung mendengus kecewa saat pandangannya terhalang oleh kepala seorang trainee dari Jungkook.

Ia mendapat sebuah ide dan menatap Jimin yang nampaknya sedang tenggelam dalam percakapan dengan seorang pemuda bermata sipit dan berkulit putih pucat. Oh, nampaknya Jimin sudah mendapatkan kenalan baru.

Taehyung beranjak dari duduknya dan berjalan melewati beberapa trainee kemudian sampai ke hadapan Jungkook yang berada di pojokkan.

Kedua manik Jungkook melebar dan nampak panik begitu Taehyung mendekati dirinya. Beruntung tak banyak orang di sekelilingnya, karena pojok ruangan merupakan tempat yang paling sedikit diminati orang-orang–terkecuali Jungkook–, membuat Jungkook menggeser tubuhnya menjauhi Taehyung.

Taehyung yang melihat reaksi Jungkook terkekeh kecil. Ia mengulaskan cengiran khas berbentuk rectangle miliknya.

.

.

"Hey,"

.

.

Jungkook menggeser tubuhnya.

.

.

"Hey, hey,"

.

.

Jungkook kembali bergerak menjauh.

.

.

"Hey, tak perlu takut,"

.

.

Jungkook merasakan dirinya akan segera diculik oleh seorang om-om pecandu rokok cabul. Karena suara dari Taehyung membuat dirinya gemetar dan bergidik. Dalam artian lain.

Ia merasakan jantungnya melompat keluar saat Taehyung mendudukkan dirinya tepat di sampingnya. Ia tak bisa lagi bergeser ke manapun, karena dirinya sudah benar-benar terpojok. Tubuhnya yang sayangnya lebih kecil dari tubuh sosok di sampingnya ini membuat ketakutannya bertambah. Jika saja ia lebih besar sedikit, pasti dapat menyeruak pergi dari sisi Taehyung. Tubuh Taehyung seakan menutupi tubuhnya dari luar sebab perbedaan tubuh mereka yang terlihat nyata.

Jungkook adalah bocah berumur empat belas tahun lagipula. Dan apa yang bisa dilakukan bocah seusianya?

"Maaf aku menakutimu pada pertemuan awal kita,"

.

.

Benar sekali, Jungkook akan segera diculik dan orang tuanya dimintai tebusan atau lebih parah, organ tubuhnya akan dijual.

.

.

Diam.

.

.

Hanya itu reaksi Jungkook. Kepalanya tertunduk, jemarinya mencengkram ujung jersey merah tanpa lengannya. Jika Taehyung dapat melihat wajahnya mungkin saja ia akan tertawa terbahak-bahak.

"Aku tak tahu kau sedang menangis saat itu, dan aku hanya memperburuk suasana," lanjutnya sembari memberikan kekehan kecil.

Tubuh Jungkook kembali bergidik. Lengannya yang terekspos secara tidak sengaja bersentuhan dengan lengan Taehyung akibat dari kegusaran tubuhnya. Dan Jungkook sangat ingin melarikan diri dan bersembunyi karenanya.

"Oh, kau sudah berkeringat?"

Jari-jari Taehyung dirasakan tengah menyapu kulit putih lengan Jungkook yang sedikit basah.

Jungkook kembali terlonjak.

Hentikan Taehyung. Sebab Jungkook benar-benar tidak terbiasa dengan perlakuan ini.

Taehyung mengerjapkan matanya sebab ia tak mengira akan mendapatkan reaksi seperti itu dari Jungkook. Ia akhirnya membuat jarak pada tubuh mereka dan mulai mengusap tengkuknya, "Mian, ne, jika aku membuatmu tidak nyaman,"

Jungkook yang masih tertunduk melirik pada Taehyung dan ia sungguh menyesali tindakannya karena Taehyung yang tengah mengusap tengkuk dengan ekspresi malu-malu benar-benar menghantam jantungnya.

Taehyung yang menyadari tatapan Jungkook akhirnya balas menatapnya dan memberikan senyumannya.

.

.

"Kim Taehyung, 16, originally from Daegu, salam kenal,"

.

.

Manik Jungkook yang besar semakin membesar–jika perumpamaan itu memang bisa–di kala Taehyung tersenyum dan berkenalan dengan dirinya.

Berkenalan.

Berkenalan.

Itu artinya Taehyung ingin berteman dengannya.

Berteman.

.

.

Melihat reaksi Jungkook yang hanya menatapnya dengan tatapan tidak percaya serta mata yang membesar lucu membuat Taehyung kembali tertawa kecil.

"..Tae!"

Kedua remaja itu menolehkan kepala dan mendapati sosok Jimin tengah melambai ke arah mereka. "Sebentar lagi uji kebolehan akan dimulai, cepat ke sini!" ujarnya yang ditemani dengan pemandangan para trainee yang beranjak dari duduk mereka dan berkumpul mendekat jadi satu di tengah ruangan.

Taehyung memberikan ibu jarinya pada Jimin dan mengangguk, "Oke, tunggu kami sebentar!" dengan itu Jimin menyeringai gembira dan mendahului mereka dengan berjalan beriringan bersama teman barunya.

Taehyung kembali menatap Jungkook, lalu menatap trainee di sekeliling mereka yang mulai beranjak. Ia menawarkan sebuah lengan pada Jungkook, "Ayo, kita juga pergi, ng..?" dan seperti sebuah mantra, Jungkook membuka suaranya hanya untuk memberitahu namanya, "..Jeon Jungkook, hyung.."

Senyum di wajah Taehyung terkembang semakin lebar begitu nama 'Jeon Jungkook' yang keluar dari bibir Jungkook memasukki telinganya. "..14.. Busan," "Wah, kau bisa menjadi teman bicara yang baik untuk Jimin," mendadak nada suara Taehyung berubah menjadi lebih ceria. Dan ini hanya membuat ketakutan Jungkook meningkat. Ia merasa tidak nyaman diberi perlakuan seperti ini. Sama sekali tidak.

"Ugh, maaf. Ayo pergi, aku tak sabar melihatmu unjuk kebolehan di hadapan sana,"

Tanpa berkata apa-apa, Taehyung menarik perlahan lengan Jungkook dan membawanya menyusul Jimin dengan cengiran di wajahnya yang tak pernah lenyap.

Taehyung tidak menyadari sosok Jungkook di belakangnya benar-benar sedang merasa depresi.

Unjuk kebolehan? Ya.

Di hadapan orang-orang? Tidak.

Di hadapan trainee sebanyak ini? Tidak.

Di hadapan beberapa tutor profesional? Ya, jika itu memang yang dibutuhkan.

Di hadapan Taehyung?

Jungkook berusaha menenangkan dirinya dengan bergumam beberapa kali, "A-aku tidak berpikir Taehyung-hyung akan memperhatikanku, lagipula,"

Jungkook pikir Taehyung tidak akan memperhatikannya.

Sebab Jungkook bukanlah sebuah objek yang menarik untuk diperhatikan.

Sama sekali bukan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

tbc

ugh gangerti gangerti gangerti nulis apa /slapped/

duh menbung menbung(?) masih utang banyak epep maafkan aku /bows deeply/

dan astaga astaga astagaaa yoonjin-nya udah jadi tapi masih aku edit2 lagi biar bagusan kata2nya ugh maafkan aku sungguuuuuh :" aku ingin memberikan yang terbaik untuk kalian/?

dan maaf kalo chapter ini jelek sejelek akuu(?) karena yah...akunya juga jelek(?) /dor/ ke depannya akan lebih aku tingkatkan! yosssh

ohiya ini aku karang2 aja lho soalnya aku gatau dengan jelas kehidupan trainee tuh gimana(?) xD semoga ga alay2 banget yah(?)

plissss kemaren2 penuh uts dan tugas dan blablabla jadi sama sekali gabisa ngetik :" pulang tuh belajar langsung molor abis itu zzz

makasih

ok, tinggalkan jejak apapun untuk membuatku bahagia(?) dan apapun tanggapan kalian mengenai cerita ini khuhuhu

critics/comments are warm welcomed, but please do not bash chara and or pairing, thx!

(pojok twitter: sugarnim, yok mari kita menjadi teman~ /emot lope lope/)

seeyou soon~!