.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Fifty Shades of Jungkook

.

.

.

.

Notes: implied!yoonmin as well hohoho~

.

.

.

Dandere hanya akan mengeluarkan emosi sebenarnya bila berhadapan dengan seseorang yang berhasil membuatnya merasa nyaman.

.

.

.

.

.

"Kau lihat di sana itu?"

Iris gelap miliknya bergerak menuju ke arah yang ditunjuk oleh seseorang di hadapannya. Menuju seorang bocah belasan tahunan yang baru beberapa hari dikenalnya.

Jeon Jungkook.

"Aku tak habis pikir, mengapa anak sekecil itu menjadi favorit para trainer?"

"Pft, mungkin mereka hanya takut anak itu akan lari sambil menangis,"

"Lagipula, kurasa dia butuh sekitar 4-5 tahun lagi," "Ya, ya, tak mungkin anak itu yang terpilih terlebih dahulu,"

Dilihatnya bocah yang tengah menjadi bahan pembicaraan sedang berusaha mengipasi dirinya selepas latihan intens yang dilakukannya bersama dua orang trainer yang nampak menggemarinya. Bulir-bulir air yang jatuh menghiasi pelipis hingga pipi membuatnya harus menenggak saliva.

Yah, nampaknya ia tergoda dengan sosok kecil itu.

"..Ah, nampaknya aku butuh psikiater," karena sosok bocah itu nampak berkilau di matanya.

"Ne, Taehyung? Kau bicara sesuatu?"

Dengan cepat seseorang yang dipanggil 'Taehyung' itu menggelengkan kepala dan mengusap belakang kepalanya lengkap dengan cengiran, "Tidak, hanya bicara sendiri,"

Jungkook, yang kebetulan duduk bersila jauh dari kumpulan Taehyung dan kawan-kawannya diam-diam mencuri pandang dari sosok pemuda itu. Tak ia pungkiri jika sosok Taehyung berhasil membuatnya merasa penasaran.

Tidak, bocah itu hanya ingin mendapatkan suatu rasa perlindungan dan kenyamanan, dan ia merasakan itu dari sosok Taehyung yang beberapa hari lalu menempel erat dengan dirinya.

Jungkook teringat akan pesan sang ibu untuk berusaha menjalin pertemanan dengan siapa saja dalam pelatihan yang kiranya membuat Jungkook sendiri merasa nyaman.

Namun Jungkook terlalu malu untuk membuat first move.

Seringkali ia menyalahkan sifat dandere miliknya (yep, Jungkook mempelajari itu dari manga dan anime, terima kasih) yang membuatnya dijuluki sebagai bocah timid, anti-social, dan sebagainya dan sebagainya.

Sungguh, ia tak mengetahui dari mana asal sifatnya itu. Dalam memulai percakapan ia hanya takut bila ia tak mampu mengimbangi topik pembicaraan dan tak bisa mencapai pemikiran yang sepaham dengan lawan bicaranya.

Walau sesungguhnya ketakutannya itu sedikit berlebihan.

Jungkook hanya menghela nafas dan menutup botol minumannya.

Mungkin tidak hari ini.. pikirnya sembari kembali mencuri pandang pada Taehyung.

Ia menyadari jika kumpulan Taehyung perlahan memisahkan diri dan beraktivitas masing-masing. Ketika hendak meninggalkan ruangan, sebuah lengan menepuk pundaknya yang masih terasa sedikit lengket oleh keringat.

"Jungkook,"

Jungkook terlonjak, dengan sigap ia bergerak mundur dan memasang ekspresi horror pada seseorang yang muncul tiba-tiba di belakangnya.

Orang itu tertawa melihat reaksi Jungkook. Tawa yang menimbulkan ciri-ciri irama berat dan membuat semburat merah di kedua pipi Jungkook.

"Jika ada waktu senggang sore ini kuharap kau ingin berlatih bersamaku. Di sini,"

Taehyung.

Kedua matanya menyipit begitu senyumnya terulas. Senyum yang menggambarkan pengharapan pada Jungkook. Dan untuk pertama kalinya Jungkook mempertanyakan usia Taehyung yang sebenarnya–he's cute.

Tak mendapat respon apapun dari bocah itu Taehyung kembali bersuara, "Hey?" ujarnya sembari menyamakan tinggi badannya dengan Jungkook.

Membuat bocah itu kembali bergidik dan bergerak mundur hingga menabrak pintu. Dengan suaranya yang pelan ia menjawab, "N-ne, hyung..? A-apa..?"

Merasa gemas dengan jawaban yang diberikan oleh Jungkook, Taehyung terkekeh kecil dan membuat system kerja di otak Jungkook mendadak kacau balau. "Kuubah kata-katanya; sore ini datanglah ke ruangan ini, di sini. Aku akan menunggumu," pemuda itu menekankan kata 'di sini' pada Jungkook.

Belum sempat Jungkook bereaksi, Taehyung mendadak mengusap kepalanya sembari terus terkekeh, "Dan kurasa kita harus minggir karena menghalangi pintu keluar," Jungkook tak menyadari jika sudah ada beberapa orang yang menyuruh mereka untuk segera minggir dari pintu.

Untunglah Jungkook masih merasa kedua kakinya sanggup untuk menopang tubuhnya selagi ia berjalan meninggalkan Taehyung dan senyumannya.

.

.

.

"Tae,"

Jimin, seorang pemuda bermata sipit melipat kedua tangannya selagi menatap temannya yang sejak 30 menit yang lalu mematut diri di depan cermin. Mengacak-acak rambutnya, membuatnya menjadi beragam gaya, dan melatih ekspresi wajahnya di depan cermin.

Ia mengerti bahwa temannya ini memang good looking dan lain-lain, namun 30 menit itu terlalu err..

"Taehyung," kali ini Jimin melempar tubuhnya ke atas tempat tidur tingkat miliknya dengan Taehyung dan tetap memasang pandangannya pada pemuda itu. "Sedang apa?"

"Bercermin," Jimin hampir saja menepuk wajahnya sendiri mendengar jawaban bodoh dari Taehyung.

"Oh, kupikir sedang mengutuk Snow White dengan cermin ajaibmu," "..Lucu sekali," Jimin kembali mencibir tatkala Taehyung memberinya kerutan di dahi begitu mendengar komentarnya.

Tangannya meraih bantal bermotif karakter Chopper dari sebuah anime kesukaan teman sekamarnya dan meremas-remas bantal itu–entah ini merupakan suatu kebiasaannya jika mendengar jawaban bodoh. "Biar kutebak, sejak tadi kau sibuk bersolek di depan cermin, kau mau pergi kencan?"

Taehyung mendengus.

"Oh, oh! Kau 'kan tahu hal itu dilarang! Omo, bagaimana nanti kalau orang-orang tahu bahwa Kim Taehyung melanggar peraturan dan kau akan dikeluarkan sebagai trainee dan kita tak akan bisa debut bersama dan–" "..Gosh, Park Jimin, siapa yang melanggar peraturan, eh?"

Taehyung berbalik menatap Jimin dengan tatapan andalannya. Jimin mengedikkan bahu, "Jadi kau tidak berkencan? Oh, oh, gadis mana yang kau temui? Memangnya di sini ada gadis?"

Mendadak kedua pipi Taehyung menghangat. Ia memikirkan sore ini bersama Jungkook, dan apakah itu bisa diartikan sebagai kencan?

"Bukan gadis, itu–" "Oh my God, jangan katakan.. You're into boys?!" kali ini Taehyung yang hampir saja menepuk wajahnya dengan telapak tangannya.

Ia hendak menjawab sebelum kembali berpikir.

Jungkook itu lelaki, 'kan?

Ia menundukkan kepala sembari mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menaruh kepalan tangannya di dekat pelipisnya. Apapun jawaban yang akan ia berikan pada Jimin semuanya terasa salah.

Jimin yang melihat temannya nampak kebingungan berusaha membantu, dengan cepat ia berucap, "I-it's okay, Tae! Orang bermacam-macam di dunia, 'kan?" bersamaan dengan cengiran lebarnya.

"Namun kau tetap tak boleh melanggar aturan!" lanjutnya.

"Aku tidak melanggar, Jimin, apakah berlatih bersama Jungkook itu dianggap sebagai suatu pelanggaran?" setelah mengatakannya Taehyung mengeluarkan erangan 'eh!' sebab dirinya telah kelepasan bicara. Ia mengepalkan kedua tangannya dan memalingkan wajahnya dari Jimin yang menganga.

"K-kau akan berkencan dengan Jungkook? Bocah itu?"

Taehyung kembali hampir menepuk wajahnya mendengar ucapan Jimin yang lebih bodoh darinya, "Siapa bilang kencan?" ingin sekali ia menarik pipi gembil Jimin sampai memerah.

"Jadi? Bukan Jungkook?" "Argh, sudahlah! Kau ikut saja bersamaku," Taehyung benar-benar merasakan dorongan untuk mencabik pipi Jimin saat ini. Ia urungkan niat itu dengan kembali fokus pada apa yang dilakukannya, bercermin.

"Tapi gaya kau saat ini menandakan kau akan pergi kencan atau sesuatu,"

"Aku hanya tak ingin terlihat berantakan,"

"Nah, itu pertanda kau peduli dengan apa yang dilihat Jungkook darimu nantinya,"

"Bukankah berpenampilan rapi itu adalah hal yang normal?"

Jimin menatap Taehyung dengan tatapan menuduh.

"Apakah 30 menit itu normal?"

Taehyung membalasnya dengan tatapan membela-diri.

"Dan selagi kita bicara sudah bertambah menjadi 40 menit,"

"Jangan katakan aku tidak tahu kau selalu merona jika seorang bernama siapa, Yoongi-Yoongi itu menghampirimu dan mengatakan bahwa ia merindukanmu,"

Kali ini giliran Jimin mengeluarkan semburat merah di kedua pipinya.

"You blackmailed me!"

"Tch, bukankah kau yang bilang orang bermacam-macam, bukan?" ujar Taehyung lengkap dengan tatapan aku-menang-darimu-pendek .

Dan dengan wajah yang tertekuk Jimin kembali melipat kedua tangannya di atas dada, "Baiklah kita seri, aku tak akan bilang siapapun bahwa kau mengincar bocah bernama Jungkook,"

"Dan kau harus berjanji di hari pertamamu kencan dengan Yoongi kau harus membawaku,"

"Taehyung!"

.

.

.

.

Di dalam sebuah kamar berisi 4 orang terlihat sebuah selimut berwarna merah tengah bergelung menutupi tubuh kecil seorang bernama Jungkook. Sudah beberapa menit ia bertahan pada posisinya sembari menggenggam sebuah foto.

Dirinya, ayahnya, ibunya, serta kakak lelakinya dalam foto itu.

Bibirnya mengeluarkan dengusan-dengusan. Kedua maniknya menghangat dan pandangannya kabur untuk beberapa saat. Tak terasa butiran air mulai menghiasi pelupuk matanya.

Aku ingin pulang.

Gumamnya pelan setelah memastikan hanya dirinya yang berada dalam kamar.

Jemari kecilnya mengusap wajah sang ibu yang tersenyum. Terlintas kata-kata sang ibu di otaknya.

"Jungkook-ah, apapun yang kau lakukan, keputusan apapun yang kau ambil, ingatlah, bahwa eomma selalu mendukungmu selama itu yang terbaik untukmu. Walaupun appa tidak ada di sini tapi eomma yakin ia juga mengharapkan kebaikan untukmu selalu.."

Air matanya kembali mengalir, dan dengan sedikit kasar Jungkook menghapusnya menggunakan telapak tangannya.

Apakah bocah 14 tahun sepertinya harus mampu menjadi pelindung bagi sang ibu selama sang ayah tak berada di rumah? Diyakininya hal itu sangat berat, terlebih sepeninggal kakak lelaki yang selama ini berperan sebagai 'penjaga' mereka berdua. Setelahnya hal itu menjadi tanggung jawab Jungkook.

Ia tak menyalahkan sang ayah yang sibuk bekerja dan melintasi dunia, ia dapat menghitung berapa kali sang ayah menginjakkan kaki di rumahnya. Namun bisakah kehidupan melembut sedikit padanya? Memang, ia bukanlah seorang bocah kecil yang harus menghidupi keluarga dan dengan keadaan ekonomi yang tidak mendukung, namun tekanan yang membuatnya harus menjadi serbuk emas di antara pasir pantai yang membuatnya seringkali lelah.

"..You're golden, Jungkook. Kau adalah emas di dalam industri ini, kuyakin sajangnim juga setuju denganku.."

Ucapan para trainer yang baru saja didapatkannya ikut terngiang-ngiang dalam pikirannya. Sebagian dalam dirinya ingin pulang, sebagian lagi memaksanya untuk bertahan karena sudah menaikkan harapan orang-orang padanya.

Benar, orang-orang sudah menaruh harapan padanya. Dan bukan hal yang sopan jika Jungkook mematahkan harapan itu begitu saja.

Di usia yang baru 14 tahun dirinya sudah menanggung tanggung jawab yang begitu besar, hingga tidak salah jika ia sering berperilaku layaknya bocah. Termasuk saat ini, Jungkook sedikit emosional dan mundur karena ingin menyerah.

"..Tidak, Jungkook, kau tak boleh seperti ini!" jemari kecilnya mengusap-usap mata dan berusaha menghentikan tangisannya.

"Kau akan membuat eomma dan appa merasa bangga padamu..!" lanjutnya memberi ucapan-ucapan semangat pada dirinya sendiri.

Ia menyibak selimutnya dan menyimpan foto keluarganya kembali sebelum mengecup foto itu. "Dan jangan ada lagi hal yang mengganggu pikiranmu..oh, Taehyung.." ia mendapati waktu sudah menunjukkan pukul empat dan ia teringat dengan ucapan Taehyung.

Taehyung?

Jungkook kembali merona saat mengingat ucapan Taehyung. Ia memainkan jemarinya dan merasakan perasaan aneh bergejolak dalam perutnya jika berhubungan dengan Taehyung.

Apakah Taehyung merupakan suatu gangguan itu?

"…Gangguan itu menyebabkan perasaan aneh dan membuat tidak nyaman.. Dan Taehyung-hyung menyebabkan itu dalam diriku.. Apakah itu berarti.. Taehyung-hyung adalah sebuah gangguan?" gumam Jungkook layaknya bocah kecil.

Mendadak ia memegang pipinya dan kembali menutupi tubuhnya dengan selimut sembari meringkuk, "G-gangguan! Taehyung-hyung adalah gangguan..!"

Dan melupakan janji yang sebenarnya bukan sebuah janjinya pada Taehyung.

.

.

Taehyung berkali-kali melihat ke arah jam dinding yang berada di ruangan besar lengkap dengan kaca yang mengelilinginya. Pukul lima dan sudah dua jam berlalu sejak ia memasukki ruangan bersama Jimin yang nampak sibuk menggerakkan pinggulnya sesuai irama.

Pemuda 16 tahun itu menghela nafas panjang. Dan mengeratkan kedua jemarinya di depan hidung, suatu kebiasaan jika merasa sedikit kecewa.

Ia tidak bergerak sama sekali dari posisinya. Ia sudah memutuskan bahwa ia hanya ingin bergerak jika seseorang yang ditunggunya datang.

"Mana bocah itu?" Jimin yang merasa lelah ikut duduk di sampingnya sembari melenguh 'aah!' selagi meneguk minumannya.

Taehyung menjawabnya dengan helaan nafas.

Jimin menatapnya sembari mengerutkan dahi, "Kau bilang sudah memintanya datang? Kau yakin bocah itu mendengarmu dengan jelas? Kau yakin ia tidak salah dengar?"

"Tak tahu," jawaban Taehyung terdengar begitu stern dan kaku, seakan tak ada jiwa yang dimasukkan di dalamnya. Jimin yang mendengarnya mengerti bahwa jika temannya sudah seperti itu merupakan pertanda bahwa mood-nya sedang tidak baik.

Jimin memutuskan untuk diam sejenak lalu bersenandung lagu kesukaannya.

Mendadak beberapa detik kemudian Taehyung beranjak dari duduknya. Lalu berjalan menuju pintu dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana.

"Lupakanlah, bocah itu tak akan datang," ucapnya dengan nada suara yang tidak mengenakkan sembari keluar dari ruangan dengan Jimin yang mengikutinya.

"Eeh, tunggu, Tae!"

.

.

.

.

Keesokan harinya, Jungkook tak bisa mengharapkan lebih dari apa yang terjadi. Semenjak pagi Taehyung menatapnya tajam, seakan Jungkook hanyalah sesuatu yang bisa ditatapnya. Dan menjadi anak yang pemalu, Jungkook merasa takut ditatap layaknya dirinya akan ditelan hidup-hidup.

Maka ketika sesi pelatihan bersama dimulai, sebisa mungkin Jungkook mengambil tempat di mana Taehyung akan sulit menatapnya. Jungkook berusaha agar dirinya tak terlihat dari Taehyung.

Dan usahanya berhasil membuat kekesalan seorang Kim Taehyung semakin memuncak. Ia tidak merasa kesal dengan Jungkook, ia benar-benar tidak mempermasalahkan sifat pemalu milik Jungkook namun entah mengapa melihat Jungkook yang terkesan menjauhi dirinya membuatnya begitu kesal. Ia tidak merasa seburuk itu untuk dijauhi oleh Jungkook.

Dan menjadi seorang remaja tanggung berusia belasan tahun membuat Taehyung belum terbentuk sempurna dan menyebabkan remaja itu seringkali mengalami keguncangan emosi. Tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan.

Ia menjadi sangat emosional saat kemarin Jungkook mengabaikan dirinya karena ia belum pernah menerima perlakuan seperti itu dalam hidupnya. Setidaknya ia belum mengetahui bahwa tak semua orang memiliki garis hidup yang sama seperti dirinya. Lagi-lagi hal ini bukan salah siapapun, sebab dirinya hanyalah seorang remaja belasan tahun yang belum merasakan warna warni kehidupan.

Dan nampaknya hari ini ia akan menggoreskan sebuah warna di atas kertas putih kehidupannya.

Selepas seorang instruktur menepuk tangannya, tanda istirahat tiba, manik elang Taehyung mencari keberadaan Jungkook dan dengan gesit ia berlari menyusul sosok kecil itu. Jungkook keluar dari ruangan untuk menghindari Taehyung dan ia tak menyadari jika sosok yang ingin ia hindari justru berlari menghampirinya.

"Jungkook!"

Tubuhnya kembali bergidik untuk yang kesekian kali begitu mendengar teriakan seseorang memanggil namanya. Seseorang yang menyebabkan gangguan di kehidupannya.

Tanpa menoleh ke belakang, Jungkook mempercepat langkahnya. Berusaha lari menjauhi Taehyung sejauh mungkin hingga pemuda itu merasa kelelahan dan menyerah mengejarnya.

Kaki-kaki kecilnya berlari melewati koridor dan sampai ke pintu samping gedung dan tanpa menghiraukan orang-orang sekelilingnya, ia berlari menuju ke sebuah taman dengan danau di belakang bangunan. Taman yang nampak sepi, sebab hanya diperuntukkan oleh instansi gedung dan saat ini semua orang sedang sibuk melakukan aktivitasnya.

Taehyung mempercepat larinya dan berharap dirinya bisa menangkap Jungkook dan menghentikannya sebelum dirinya kehabisan nafas dan terengah-engah. Ia tak ingin tubuh kecil itu kesakitan karena mereka baru saja selesai berlatih.

Dengan satu gerakan Taehyung berhasil menangkap lengan Jungkook dan menarik bocah itu ke dalam pelukannya.

Jungkook yang merasa tubuhnya tertarik paksa dan mendekam di dalam dekapan tubuh pemuda yang menjadi gangguan terbesarnya sibuk meronta dan berteriak-teriak, "L-lepaskan!"

Taehyung yang berhenti dari kegiatan larinya tentu sedang terengah-engah dan mengatur nafasnya. Dan dengan Jungkook yang meronta-ronta membuatnya sulit untuk mengembalikan nafasnya. Ia pun memeluk erat tubuh kecil itu, memastikan bocah dalam pelukannya tak bisa lagi meronta ia berkata, "Diamlah dulu.." dan di sela-sela lenguhannya, "..Biarkan aku mengambil nafas.."

Jungkook yang terkurung dalam pelukan Taehyung menghentikan usaha merontanya saat ia tahu dirinya tak bisa melawan. Wajahnya benar-benar berada begitu dekat dengan dada Taehyung dan rona merah tak bisa dihindari dari kedua pipinya saat ia mendengar detak jantung Taehyung dengan jelas.

Keadaan keduanya yang saling berpelukan (secara teknis, walaupun sesungguhnya Taehyung memeluk Jungkook dengan paksa) membuat perasaan hangat menjalar di sekujur tubuh mereka. Taehyung, yang pada awalnya hendak meluapkan kekesalannya pada Jungkook mendadak merasa rasa kesal itu hilang begitu saja. Oh, ia tak mungkin kesal jika melihat wajah manis Jungkook yang dihiasi dengan rona merah saat ini.

Sedangkan Jungkook kembali merasakan perasaan aneh di dalam perutnya. Lalu kali ini ditambah dengan debaran jantungnya yang semakin intens. Sungguh membuatnya tidak nyaman.

"..Gangguan.." mendadak, Taehyung mendengar sayup-sayup ucapan dari bocah dalam pelukannya. Ia melonggarkan pelukan untuk menatap langsung pada Jungkook dan hal itu malah membuat Jungkook segera melepaskan diri darinya sembari berkata, "..H-hyung adalah gangguan.."

Taehyung menatap Jungkook dengan mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mencerna ucapan Jungkook. Bocah itu berkata bahwa dirinya adalah suatu 'gangguan' dengan wajah yang merona lucu, membuatnya mengerutkan kening.

Memutuskan untuk tetap mencengkram pundaknya agar tidak lari, Taehyung berucap pada Jungkook, "Jungkook..?"

Jemari Jungkook mengambil tangan Taehyung dari pundaknya dan menjauhkannya sembari berkata, "H-hyung adalah gangguan.. K-karena membuat perasaan aneh dalam perutku dan i-itu menggangguku.." ia bersumpah dalam hidupnya bahwa baru kali ini ia berhasil jujur mengatakan hal yang mengganggu pikirannya pada seseorang. Entah keberanian dari mana didapatkan olehnya.

"M-mianhae, h-hyung, aku tak tahu harus bagaimana, perasaan itu terus muncul jika aku bersamamu.. J-jadi kupikir hyung adalah–" ucapan Jungkook terputus karena Taehyung memeluknya kembali.

"Mianhae, Jungkook, karena telah mengganggumu," satu lengan Taehyung mengerat di sekeliling pinggang Jungkook dan satu lagi bergerak mengusap kepalanya. Memberikan suatu sengatan 'gangguan' dalam tubuh Jungkook.

Biasanya Jungkook akan bergidik saat Taehyung menyentuhnya, namun kali ini ia bergidik sekaligus merasakan jantungnya berdebar kencang. Perasaan aneh kembali menyeruak dalam perutnya namun sepertinya perasaan ini berbeda dengan 'gangguan' yang disebutnya barusan.

Ini tidak menyerupai gangguan, namun lebih kepada.. Perasaan mendebarkan dan excited.

Dan ucapan Taehyung selanjutnya meyakinkan Jungkook bahwa Taehyung layak menjadi orang pertama yang mengetahui keluh kesahnya selama ini;

"Aku ingin membuat perasaan aneh itu berubah menjadi rasa aneh yang nyaman saat kau berada di dekatku,"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Haiiii akhirnya setelah 202389892309182 abad aku apdet yeaaay~! :leicontearsofjoy:

Hahahahahaha aku ngga lupa cerita ini kok :"D maaf yaa aku bener2 skip dan mendadak buyar semua cerita (usia gak boong) :"D (engga kok, aku bercanda)

Jadi ini akhirnya jungkook jadi terbuka sama taehyung gitu tentang apa yg bikin dia tekanan dll dll dsb dst, sesuai sama pengertian dandere yang di atas itu /tunjuk2/? Tapi mereka belom jadian /dor/ abis kan dilarang :"D (?) nanti di next2nya yah jadiannya(?)

maafkan aku jika kurang memuaskan :"3 I'll work harder!

Please kindly wait for the next updates (bener kok aku janji apdet lagi buat cerita yang lain)

Udah, cukup sekian cuap-cuap saya kali ini hwhw hugs&kisses for you all~!

[twt: sugarnim]

Thanks for reading~!

Kindly do me the three big favors, favs/follows/reviews~!

Seeyou~!