.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Fifty Shades of Jungkook

.

.

.

.

Notes: taekook with top!tae & yoonmin with top!yoongi.

.

.

.

Dandere sangat sulit didekati namun dapat bertindak progresif bahkan melebihi siapapun apabila ia sudah merasa nyaman dengan seseorang.

.

.

.

.

.

"Oke, cukup untuk hari ini!"

Sebuah tepukan mewarnai ruangan panjang dengan cermin besar di sebuah gedung berisikan belasan pemuda berbakat. Seorang lelaki, kau menyebutnya koreografer, tengah membungkuk untuk memberi hormat sebelum melambaikan tangan dan pergi dari ruangan. Tindakan lelaki tersebut dibalas dengan sopan oleh seluruh anak didiknya.

Jungkook, salah satu dari belasan pemuda dalam ruangan nampak masih mengatur nafas, meraih sebuah botol minum dan menenggaknya hingga habis tak bersisa. Sesudahnya bocah itu menyeka bulir-bulir keringat yang sedari tadi bertengger di pelipisnya.

Seorang pemuda berkaus hitam yang memerhatikan bocah itu mendadak mendekatinya,

"Berkeringat lagi hari ini, Jungkookie?" suaranya yang ber-pitch khas mengalun indah dalam telinga Jungkook. Dan kembali membuat suatu gangguan aneh di dalam perutnya.

Mengingat kemarin mereka sudah menyelesaikan masalah 'gangguan' tersebut, Jungkook akhirnya dapat membalas senyuman lelaki di depannya.

"Pertanyaanmu sedikit aneh, hyung," ujarnya sembari membalas cengiran seseorang yang dipanggil hyung olehnya.

Taehyung semakin melebarkan senyumnya. Melihat Jungkook kini sudah dapat berbagi senyuman bersama dirinya membuat lelaki belasan tahun itu sangat kegirangan. Mendadak gerakan tubuhnya tak terkontrol. Satu tangannya ia gunakan untuk mengusap tengkuknya yang tidak gatal.

"Hehe, hanya sekedar memecahkan suasana, kau tahu?" ucap Taehyung yang lagi-lagi dibalas dengan suara tawa lemah Jungkook.

Taehyung bahkan sempat bersumpah dalam hatinya jika suara tawa itu merupakan tawa terindah setelah suara sang ibu.

Jungkook benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya ia katakan setelah ini. Dirinya begitu merasa payah dalam membangun sebuah conversation. Namun di sisi lain ia tidak mau mengecewakan Taehyung yang sudah berbaik hati menyapanya.

Jadi bocah itu menawarkan minumannya pada Taehyung.

"Hm?" Taehyung sedikit merasa bingung saat Jungkook menyodorkan botol minumannya ke hadapannya dengan wajah yang tertunduk.

Taehyung akhirnya paham apa yang ingin disampaikan bocah itu. Walau sebenarnya ia memiliki minuman sendiri–dan yang pasti ia sudah meminumnya–Taehyung tetap menerima minuman Jungkook.

Sembari mengulaskan senyuman khasnya pemuda itu berujar, "Terima kasih, Jungkookie," lalu memutar tutup botol dan meneguk air di dalamnya.

Tindakan Taehyung tersebut membuat bocah kecil di hadapannya tertegun. Kedua maniknya nampak membesar saat dirinya melihat secara langsung bagaimana adam apple milik hyung-nya ini bergerak-gerak. Bagaimana ekspresi Taehyung saat menenggak air. Dan sepertinya sejak saat itu Jungkook menghasilkan sebuah pertanyaan di benaknya-

Apa yang menyebabkan seseorang meminum air dapat terlihat begitu menawan?

Jungkook hanya mengangguk sebagai pengganti jawaban. Dirinya masih memaku tatapannya pada sosok Taehyung di hadapannya yang mulai terkekeh kembali. Sebab pemandangan seorang Jeon Jungkook yang menatapmu secara intens sungguh menggemaskan.

"Jungkookie? Aku tahu aku begitu menawan," gelak Taehyung seraya mencubit perlahan pipi kanan Jungkook yang masih mematung. Tidak, pemuda itu tidak menjawil pipi gembil Jungkook, itu akan menyakitinya.

Setelahnya Jungkook terlihat gelagapan. Ia kembali menunduk dan meremas ujung kausnya–tanda jika dirinya sedang merasa nervous.

Belum sampai Taehyung mengusak rambutnya, momen indah itu harus terinterupsi dengan kehadiran seorang Park Jimin.

"Yo, lovebirds!" suara cempreng pemuda bermata segaris dan pipi berlebih itu mengundang perempatan imajiner di kening Taehyung.

"J-Jimin-hyung, annyeong," Jungkook membungkuk sesaat pada Jimin yang tengah bergelayut di leher Taehyung, sahabatnya.

Jimin memekik sesaat begitu melihat tingkah Jungkook yang manis. "Taehyung! Kau benar, ia semanis ini!" ujarnya semangat. Membuat kedua manik Jungkook membesar kembali dan menatapnya polos.

Tubuh kecil Jungkook terhempas oleh tubrukan tiba-tiba yang dilakukan Jimin. Nampaknya kedua bersahabat ini memiliki kebiasaan yang sama, menubrukkan diri. Jungkook sudah berada dalam pelukan Jimin yang terkesan–

Hangat?

.

.

"Di hari pertama aku belum sempat mengenalkan diri dengan benar, mulai sekarang ayo berkawan denganku, Jeon Jungkook!"

.

Sangat hangat.

.

Jimin melepaskan pelukannya pada Jungkook dan segera menautkan tangan mereka. Membuat perkenalan sekali lagi.

"Park Jimin! Enam belas tahun, sebaya dengan Taehyung jadi kau harus memanggilku 'hyung'! Asalku dari Busan, sama sepertimu, mengapa aku tahu? Sebab logat kentalmu itu!"

.

Jungkook belum pernah diperlakukan sehangat ini sebelumnya

.

.

"Yah, hentikan itu! Sudah cukup perkenalannya," Taehyung menjauhkan tangan Jimin dari Jungkook dan nampak membuat perlindungan di sekitar tubuh kecil Jungkook. Tentunya disambut dengan erangan protes dari Jimin.

"Tae! Aku 'kan tidak melakukan hal yang menyeramkan padanyaa!"

.

kecuali oleh Taehyung.

.

.

"Tapi kau bisa menakutinya! Aku saja merinding melihatnya," pungkas Taehyung sembari memasang ekspresi menyeramkan miliknya. Kedua tangannya secara tidak disadari sudah melingkar di pinggang Jungkook yang masih terdiam mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.

"Aaah, so meaaaan~!" rengek Jimin seraya mengeluarkan tatapan memelas. Tak sampai dua detik setelahnya, raut wajah pemuda sipit itu mendadak berubah saat maniknya menangkap pemandangan sahabatnya secara teknis memeluk Jungkook.

"Ah, aku mengerti, jika kau memang ingin waktu berdua saja dengan Jungkook kau cukup katakan padaku,"

Baik Taehyung maupun Jungkook terlihat terkejut dengan ucapan Jimin barusan. Taehyung yang menyadari jika tangannya masih bertengger di pinggang bocah itu buru-buru melepaskannya. Lengkap dengan ekspresi wajah yang tak bisa diuntai dengan kata-kata.

"M-Mianhae, Jungkookie!" ucap pemuda itu sembari memalingkan tatapannya dari Jungkook yang menunduk dalam, menyembunyikan getaran aneh dalam dadanya.

Sebuah desakan menyiksa tubuh bocah itu, seakan meminta untuk menyeruak keluar dari dalam tubuhnya. Namun anehnya, desakan itu justru menambah rasa aneh yang menyenangkan.

Jimin menatap puas kedua pemuda yang nampak salah tingkah. Jika sudah seperti ini mau berasumsi seperti apapun takkan ada yang melawan asumsi bahwa Taehyung, sahabatnya diam-diam menyimpan atensi tertentu pada Jungkook.

"Baiklah, lovebirds, sudah menjelang malam. Sebaiknya kalian membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam. Makan malam kali ini disponsori oleh seonsaengnim, jadi aku tak ingin kalian melewatinya!" ujar Jimin sembari menggendong tasnya di punggung dan mengencangkan sneakers miliknya.

"Tae, sampai jumpa di kamar, dan Jungkook, sampai jumpa saat makan malam!" tutup Jimin dan berlari mengejar seorang trainee lain yang merupakan sahabat menarinya, kalau Taehyung tidak salah mengingat namanya Jung Hoseok.

Yah, Taehyung akan berkenalan dengannya nanti.

Suasana canggung kembali menyelimuti dua pemuda ini. Taehyung berinisiatif mengambilkan tas dan hoodie merah milik Jungkook yang masih berserakan.

Disertai senyuman pemuda itu berucap, "Kenakan hoodie, di luar akan terasa dingin," ujarnya seraya mencuri pandangan pada lengan atas Jungkook yang tidak tertutup apapun, sebab bocah itu selalu berlatih dance dengan menggunakan pakaian sleeveless-nya.

"Taehyung! Cepat ke sini, Hoseok-hyung ternyata dipanggil oleh PD-nim! Aku tak ingin jalan sendirian!"

Itu teriakan sahabatnya.

.

.

.

.

"Jadi, apakah kalian tahu mengapa kalian berada di sini?"

Di dalam ruangan bernuansa gold, tiga orang pemuda sudah duduk rapi menghadap seorang lelaki bertubuh sedikit tambun, dengan wibawa yang besar dan aura. Lelaki tersebut duduk bersandar pada meja tempat sebuah laptop beserta soundsystem dan perlatan bermusik lainnya berada. Tatapannya tegas, namun memancarkan keteduhan.

Ketiga pemuda tersebut mengenakan pakaian yang sama, kaus hitam dengan snapback berwarna senada.

Seseorang dari mereka membuka suara pertama kali, "Mungkinkah waktu debut kami, atau salah satu dari kami sudah ditentukan, PD-nim?" pemuda itu berada di tengah dan bertubuh paling besar di antara ketiganya.

Sesaat setelah mendengar ucapan pemuda itu, dua kawan di sebelahnya sontak menolehkan kepala dan bergantian menatap sang PD dan pemuda di sebelah mereka.

"B-Benarkah itu..?"

Sang PD mengulaskan senyumannya begitu melihat pancaran pengharapan dan excitement dari ketiga pemuda di hadapannya. Para pemuda yang sudah mempercayakan mimpinya untuk dipupuk dalam agensi miliknya. Pemuda yang sudah mengeluarkan segalanya agar mimpinya dapat tercapai.

Dengan sekali anggukan lelaki tersebut sudah mewujudkan seperempat mimpi ketiga pemuda di depannya.

"Namjoon tak pernah salah dalam menebak sesuatu," sebuah senyum tergambar di bibir sang PD. Setelahnya lelaki itu tertawa puas melihat ekspresi ketiga pemuda favoritnya.

"Iya, tanggal debut kalian sudah disiapkan. Tahun depan akan menjadi tahun tersibuk sebab kalian akan memulai proses sebagai grup beranggotakan enam orang,"

Tak ayal, ketiga pemuda di hadapannya segera berteriak senang dan berpelukan satu sama lain. Melupakan tindakan mereka yang mungkin saja terlihat konyol dan memalukan. Siapa peduli, mereka akan segera debut!

Sang PD membiarkan euforia pada anak didiknya. Pandangannya beralih pada monitor di hadapannya yang sudah menampilkan gambar beberapa pemuda. Tiga di antaranya adalah gambar ketiga pemuda favoritnya itu.

"Ini adalah line-up sementara yang kubuat bersama produser-produser lain. Kami masih mendiskusikan lebih lanjut, dan tentu saja sudah didiskusikan bersama dengan para koreografer dan pelatih vokal. Silakan jika kalian ingin melihatnya," tutur lelaki itu sembari memundurkan kursi putarnya dan mempersilakan para pemuda yang akan menjadi calon anggota grup binaan barunya itu untuk melihat.

"Wah, Park Jimin!" Hoseok, salah seorang dari ketiga pemuda itu segera memekik begitu melihat nama pemuda yang merangkap sebagai partner sparing dance-nya.

Ucapan Hoseok mengundang pemuda yang bertubuh paling kecil di antara mereka untuk menatap objek yang tengah menjadi pembicaraan.

Park Jimin.

Dia 'kan pemuda yang sering bersama dengan dirinya sepanjang waktu ini. Oh, ternyata Hoseok juga berteman dengannya, ya?

Bodoh, tentu saja mereka berteman. Mereka berasal dari unit kemampuan yang sama. Berbeda denganmu, Yoongi.

"Ne, Hoseok. Mr. Son mengatakan jika anak itu memiliki kemampuan yang mengesankan. Sudah beberapa kali ia tertarik pada Park Jimin dan berkata padaku jika BigHit memiliki permata tersembunyi dan sayang jika kita tidak memolesnya hingga berkilau," ucapan sang PD yang terkesan sulit membuat Hoseok mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sungguh senang jika dapat berada dalam satu grup yang sama dengan Jimin, sahabat menarinya.

Sedangkan Yoongi, entah mengapa wajah pemuda berkulit putih itu mendadak bersemu merah saat sang PD mengucap kalimat 'memolesnya hingga berkilau'. Ia sangat setuju dengan ucapan lelaki itu dan nampaknya kata-kata seperti itulah yang harusnya ia ucapkan saat dirinya hendak memberi semangat pada Jimin yang sempat mengeluh padanya jika ia merasa lelah.

Yoongi menghembuskan nafasnya dengan berat, terdengar seperti seorang kakek tua. Hal itu membuat Namjoon terkekeh pelan dan menatap Yoongi yang notabene setahun lebih tua darinya.

"Ada apa, hyung? Kau lelah? Ingin beristirahat?" ujar Namjoon dengan nada sedikit menggoda. Yoongi memberinya tatapan tajam dan mengerutkan bibirnya.

"Tidak. Hanya saja aku menganggap ucapan Bang PD-nim begitu sulit,"

"Kau nervous karena akan bertemu dengan anggota kita?" celetuk Hoseok kelewat gembira. Celetukannya hanya dibalas dengan dengusan pelan dari Yoongi.

Namjoon yang masih tersenyum mendadak mengerutkan keningnya saat membaca nama 'Jeon Jungkook' di monitor.

September 1997.

"PD-nim! Bukankah anak ini masih terlalu muda? Aku pikir maknae kami hanya sekitaran kelahiran tahun 1995?" tanya Namjoon dengan heran. Ia sungguh berpikiran jika anak ini masih harus menunggu beberapa tahun lagi hingga akhirnya bisa melakukan debutnya.

"Tiga belas.. Empat belas.. Anak itu masih berusia empat belas tahun?" timpal Hoseok sembari menghitung usia Jungkook dan membentuk bibirnya menjadi huruf 'o'.

Sementara Yoongi hanya mengerenyitkan keningnya dan menunggu respon dari sang PD.

PD mereka tersenyum sesaat. Lalu memberikan tanda 'jangan khawatir'.

"Tidak apa, catatan Jungkook-goon sangat baik. Anak itu memberi kesan baik pada seluruh pengajar, Mr. Son pun berkata bahwa selain Jimin ada seorang anak lagi yang akan menjadi 'emas' di dalam industri ini. Dan itu adalah dia, Jeon Jungkook. Para pelatih vokal pun menyukai tipe suara Jungkook yang bagaikan madu," jelas Bang PD.

Ketiga manik pemuda itu melebar kagum saat mendengar penjelasan dari PD mereka. Tidak menyangka jika calon anggota grup mereka akan sebegitu menjanjikan. Hal tersebut mendorong masing-masing diri pemuda itu untuk menciptakan karya yang akan menyokong kesuksesan grup mereka nanti, jika anggota-anggotanya saja sudah seperti itu.

"Aah! Namjoon, kau percaya tidak? Seokjin akan menjadi anggota kita juga!"

Itu suara Hoseok yang memekik girang bahwa salah satu orang yang dikenalnya, dan juga Namjoon, akan bergabung bersama mereka membuat satu grup.

Akan tetapi, di lain sisi, Yoongi mendadak memikirkan nasib trainee lain yang tidak ikut debut bersama mereka.

.

.

Apakah mereka benar-benar pantas untuk menerima semua ini?

.

.

.

.

.

Sesampainya di kamar, Taehyung melempar ranselnya dan menjitak kepala roommate-nya.

"Hei, mengapa kau memanggilku dan Jungkook dengan sebutan 'lovebirds'?"

Jimin yang tengah melepaskan sneakers putih miliknya dengan cepat mengaduh, dan mengerucutkan bibirnya, "Lho, memangnya bukan?" tanyanya, nampak polos dan inosen. Namun begitu mendapatkan reaksi sahabatnya yang bersemu merah, Jimin kembali menggodanya,

"Oh, belum ya?"

"S-Sial.." ingin sekali Taehyung menarik pipi gembil Jimin hingga terlepas. Tidak, itu mengerikan.

"Jika kau memerah berarti iya! Sudahlah, tindakanmu itu tertebak!" lanjut Jimin sembari menyambar handuknya dan berlari menuju kamar mandi dengan semangat.

Meninggalkan sosok Taehyung yang melempar pintu kamar mandi dengan bantal tidur milik Jimin. Tak peduli jika bantal tersebut dipenuhi dengan air liurnya.

Taehyung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tingkat miliknya dan Jimin. Kedua tangannya ia pakai untuk menumpu kepalanya.

Bibir tebal itu mengeluarkan desahan kecil. Mengapa ia mendadak memikirkan perkataan Jimin barusan?

Tidak ia pungkiri jika dirinya memang sangat suka berada di sekitar Jungkook. Bocah itu memiliki wangi yang sangat enak. Terlebih saat mereka berpelukan tempo hari–Taehyung mana bisa melupakan aroma Jeon Jungkook yang menyatu dengan kaus yang dipakainya waktu itu.

Sampai saat ini ia berniat tidak akan mencuci kaus itu. Jika Jimin tidak berteriak-teriak bahwa ia sangat jorok.

Sejujurnya ia tidak tahu apa yang ia rasakan pada Jungkook saat ini. Tidak, Taehyung bukanlah seorang pemuda yang bodoh akan masalah cinta. Ia pernah menjalin hubungan dengan beberapa perempuan sebelum ini namun–

–t–tunggu?

Cinta?

"Argh!" Taehyung memendam wajahnya ke atas bantal. Wajah yang tiba-tiba saja sudah dihiasi dengan rona merah.

Saat dirinya berkata bahwa ia ingin menjadi sebuah rasa aneh yang nyaman dalam diri Jungkook sesungguhnya ia tak tahu jika perkataannya itu bisa saja memiliki maksud berbeda yang tersirat.

Ada sebuah maksud lain yang mengarah pada hal romantis dalam perkataannya. Entah Jungkook sendiri mengetahuinya atau tidak, Taehyung berharap bocah itu tidak mengartikannya demikian.

Namun seorang Jeon Jungkook berhasil membuat sebuah gembok dalam dirinya terbuka dan seakan menyilakan bocah itu untuk masuk dan meng-explore dirinya lebih dalam.

Taehyung sangat menyukai itu.

Ia sangat suka jika ada seseorang yang dengan kemauannya sendiri mendekati dirinya dan mempelajari apapun tentangnya tanpa ada perintah yang berarti.

Saat Jungkook dengan manisnya memberikan botol minuman miliknya untuk Taehyung, sejujurnya hal kecil seperti itu menimbulkan rasa yang meletup-letup dalam diri Taehyung. Ingin sekali raganya bergerak untuk merengkuh tubuh kecil Jungkook dan membelainya dengan lembut, menyalurkan kehangatan padanya.

Ia tahu, Jungkook menyembunyikan kekhawatiran yang besar. Bola mata indah milik bocah itu memancarkan segalanya.

Dan lagi-lagi, Taehyung tak bisa berhenti memikirkan Jungkook malam itu.

.

.

.

.

.

Jungkook sudah berpakaian rapi. Rambutnya sudah bersih, pakaiannya sudah rapi, tubuhnya sudah berbau lebih baik daripada sore hari tadi. Tangan kecilnya nampak bergetar saat memutar kenop pintu kamar yang digunakannya bersama sang roommate, namun saat pemandangan pertama kali yang dilihatnya adalah wajah Kim Taehyung, rasa gugup di dalam dirinya pudar.

"Jungkook, kejutaan! Kau takkan percaya, Tae sangat ingin berangkat bersamamu lalu kami putuskan untuk menjemputmu!" sosok Jimin yang menyembul dari balik tubuh Taehyung yang sudah berbalut sweater v-neck berwarna abu-abu pun sempat terlupakan oleh Jungkook yang nampak terpana dengan penampilan Taehyung.

Taehyung menarik perlahan pipi gembul Jimin, mengisyaratkan pemuda itu untuk memelankan suaranya sebab para trainee lain tengah menertawakan mereka.

Jungkook yang sudah tersadar berucap, "Ah, dari mana k-kalian tahu kamarku..?"

Taehyung dan Jimin saling menatap satu sama lain. Jimin menjadi yang pertama menjawab pertanyaan Jungkook, "Kau lupa dengan bakat mata-mata kami, Jungkook?"

Mendengarnya Jungkook menjadi sedikit ngeri. Yang benar saja, dalam asrama ini terdapat mata-mata?

Taehyung kembali berusaha menyingkirkan Jimin dari hadapan Jungkook, "Mudah saja, kau dan Jimin 'kan berasal dari Busan. Kami hanya melihat daftar trainee yang berasal dari Busan dan voila, kau kutemukan," ujarnya sembari mengulaskan senyum sejuta watt miliknya.

Kedua pipi gembil Jungkook menghangat saat mendengar Taehyung mengucapkan 'kau kutemukan'. Mengapa segala yang diucapkan pemuda itu sekarang ini menimbulkan efek baginya?

"U-h, be-begitu ya, hyung.." ujarnya sembari menunduk dan menggoyangkan kakinya, tanda lain jika dirinya sedang nervous. Bagaimana tidak nervous, saat ini ia sedang berhadapan dengan seorang pemuda berpenampilan so damn fine, sementara dirinya hanya memakai hoodie berwarna merah miliknya.

"Hei, lovebirds, kita akan tertinggal kereta," ucap Jimin seraya meniru gerakan pekerja yang tengah mengejar kereta di pagi hari.

Taehyung segera menautkan jemarinya dengan milik Jungkook, berusaha agar bocah itu tidak hilang dan berjalan bersamanya. "Ayo Jungkookie,"

Belum sempat Jungkook berkata, Taehyung melepas beanie yang ia kenakan dan meletakkannya di atas kepala Jungkook.

"Agar kau tidak kedinginan,"

Sungguh, segala tindakan Taehyung membuat rasa aneh dalam diri Jungkook terus mencuat dan tak ingin pergi. Pada awalnya ia tidak menyukai rasa tersebut, namun semakin hari ia menjadi semakin terbiasa.

Apalagi menurutnya waktu pelatihannya bersama Taehyung masih panjang.

Menurutnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Taehyung.. Tidak debut bersamaku..?"

.

.

.

.

.

Tbc

h-halo…. Halooooooooo :"D

aku update ini… finally(?)

hihi. Maaf banget aku sungguh minta maaf kalau aku sempat menggantung dengan cerita ini : ( tapi tapi tapi- akhirnya aku putuskan untuk melanjutkannya x"D

btw- kalau mau mengobrol err.. yuk ke twitter aku? u/n-nya danmarked. Oh, kalau kalian menemukan(?) Instagram atau wattpad dengan username springyeol itu adalah aku, itu aku asli(?) /shamelessly promoting

oh iya, aku juga ingin meminta maaf jika selama ini ada ucapanku yang menyakiti hati kalian, siapapun itu, baik disengaja maupun tidak disengaja.. aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadikan apapun sebagai pengalaman berharga~!

ok, tinggalkan jejak apapun jika kalian menyukai ini :3

terima kasih!

-springyeol-