Halo.

Terima kasih telah mereview chapter 1, Aconitum Ferox dan Lime no Himesama.

Kali ini saya datang dengan chapter baru.

Selamat membaca :D


.

Harry Potter Series by J.K Rowling

Kisah Padma Patil: Si Cantik dari India by Last-Heir Black

.


Agustus 1991

"Papa, Mām̐! Mērē aura Parvati ēka ḍāyana! Dēkhēṁ!*" Padma yang berusia 11 tahun melambai-lambaikan surat berlogo Hogwarts yang mengundangnya untuk bersekolah di sekolah sihir paling besar di Britania Raya.

"Oh ayolah Padma, tidak perlu bertingkah berlebihan. Kita sudah mengetahui hal itu bertahun-tahun yang lalu," balas Parvati, saudari kembarnya, sambil memutar bola matanya.

"Tapi tetap saja ini sebuah kejutan!" balas Padma tak mau kalah.

Shivam dan Priya Patil, orangtua si kembar Padma dan Parvati, hanya tersenyum melihat tingkah putri kembar mereka.

"Jadi, kapan kita ke Diagon Alley?" tanya Padma sambil menatap orangtuanya.

"Sekarang. Iya kan, Papa?" pinta Parvati penuh harap.

"Tentu saja. Ayo!" ajak Shivam sambil menggandeng putri kembarnya untuk ber-Apparate, sementara Priya mengikuti dari belakang.


Diagon Alley tampak ramai seperti biasanya. Tetapi bagi Padma dan Parvati, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini hanya mampu memandang takjub. Terang saja, segala macam benda bisa ditemukan di sini. Apalagi dengan banyaknya penyihir dari berbagai macam suku bangsa yang berseliweran di dekat mereka, yang memakai pakaian mencolok. Tak terkecuali bagi keluarga Patil sendiri. Shivam Patil memakai setelan khas pria India berwarna merah marun. Sedangkan Priya dan anak kembarnya memakai saree, pakaian khas wanita India yang terlihat seperti selendang. Salah satu ujungnya dililitkan di pinggang, dan ujung lainnya disampirkan di bahu.

"Papa, Mām̐, aku tidak akan hilang kan?" tanya Parvati sambil mengeratkan genggamannya pada Shivam.

"Jangan percaya diri, Parvati. Tidak akan ada yang mau menculikmu," ujar Padma terkekeh, yang membuat saudari kembarnya cemberut.

"Ayo, kita ke Madam Malkin untuk membeli jubah," ajak Priya. "Kau bilang ada hal penting yang harus dikerjakan?" lanjutnya pada Shivam.

"Ah, benar. Kalian pergi dengan Mām̐ ya? Kita bertemu di Florean Fortesque. Sampai nanti," ujar Shivam mengecup pipi istri dan kedua putrinya, kemudian ber-Apparate.

Mereka berjalan menyusuri Diagon Alley menuju toko jubah Madam Malkin yang sudah ramai pengunjung. Padma dan Parvati mengeluh melihat panjangnya antrian.

"Ramai sekali. Kita akan terlambat untuk menemui Papa di Florean Fortescue," gumam Priya. "Untuk menghemat waktu, bagaimana kalau Mām̐ membeli perlengkapan kalian yang lain sementara kalian mengepas jubah?" ia menambahkan.

"Mām̐, bagaimana jika kami..."

"Baik, Mām̐. Kami akan menunggu disini," ujar Padma memotong perkataan Parvati.

Sementara Priya berjalan menuju toko Flourish and Blotts, Padma dan Parvati mengantri di belakang sekelompok anak-anak berambut merah yang langsung menoleh ketika mereka datang.

"Kalian ini...apa?" tanya seorang cowok yang mukanya penuh bintik-bintik, kelihatannya ia yang paling muda.

"Apa maksudmu?" ujar Parvati melotot.

"Apa itu yang kalian pakai?" tanya cowok itu lagi. Memelototi saree berwarna toska yang dikenakan Padma dan Parvati.

"Ini yang dinamakan pakaian, jika kau belum tau." Padma mendengus gusar.

Kedua saudaranya –yang ternyata kembar- tertawa sambil memegangi perut mereka.

"Tetapi aku belum pernah melihat pakaian seperti itu sebelumnya," balas cowok itu tak mau kalah.

"Ini namanya saree India. Apakah kau sebegitu bodohnya..." kata Padma berhenti sejenak.

"...sehingga tidak mengetahui hal ini?" sambung Parvati cepat.

Si kembar berambut merah tertawa lagi. Tetapi adiknya malah mendengus menghina dan berkata, "Buat apa aku mengetahui hal sepele seperti itu? Kalian hanya ras minoritas disini. Tak pantas untuk diperhatikan."

"Ron!" seru si kembar.

PLAK! Tamparan yang cukup keras. Semua orang memandangi mereka, tiga cowok berambut merah dan dua cewek berambut hitam. Dua diantara mereka saling berhadapan dengan tampang marah, sedangkan tiga lainnya hanya diam di tempat dengan ekspresi kaget dan tak percaya.

"Padma, seharusnya kau tidak menamparnya!" ujar Parvati cemas.

"Aku tak peduli. Cowok bego ini harus tahu dengan ras minoritas macam apa dia berhadapan," balas Padma sambil menekankan kata 'ras minoritas'.

"Ron, kau harus minta maaf!" ujar salah satu si kembar.

"Weasley sejati harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan meminta maaf jika ada salah," sambung kembar yang lain.

"Aku tidak mau! Buat apa aku meminta maaf pada cewek berandalan ini?" tukas Ron keras kepala.

"Jangan sebut saudariku berandalan, idiot!" ancam Parvati.

"Oh, jangan sok aksi deh, cewek kembar. Kalian menjijikkan." Ron menghina.

Kali ini Parvati dan Padma bersiap menerjang Ron. Tetapi si kembar berambut merah menghalangi mereka.

"Tenang, tenang. Jangan mempermalukan diri kalian, kumohon. Simpan saja tenaga kalian untuk hal lain," ujar si kembar.

"Benar. Kalian cewek-cewek cantik tidak seharusnya menonjok atau main kasar. Biar kami yang bereskan."

"Kami minta maaf atas perlakuan adik kami. Dia memang bego."

Si kembar menyeret Ron sambil memarahinya. Tetapi Padma dan Parvati masih bisa mendengar apa yang mereka katakan.

"Kau benar-benar pengecut, Ron!"

"Aku malu mempunyai adik sepertimu."

"Menjijikkan."


Padma menatap tanpa minat es krim vanilla yang tersaji di hadapannya. Es krim yang menarik sebenarnya, jika saja Padma tidak mengaduk-aduk es krim tersebut hingga tampak tak beraturan seperti sekarang. Di sebelahnya Parvati melakukan hal yang sama, membuat Shivam dan Priya menatap heran.

"Ada apa?" tanya Priya lembut.

"Tidak ada apa-apa," jawab keduanya bersamaan.

Shivam terkekeh pelan. "Tidak ada apa-apa tetapi kalian telah mengobrak-abrik es krim hingga tampak mengenaskan dan tidak layak untuk dimakan. Astaga."

Parvati hanya tertawa lirih, sementara Padma masih diam menatap es krimnya. Parvati memutuskan untuk bercerita kepada orangtuanya.

"Padma habis nonjok orang," kata Parvati pelan.

Shivam dan Priya terkejut. "Benarkah itu, Padma?" tanya Priya mengkonfirmasi.

Padma menghela nafas, "Benar, Mām̐."

"Kenapa, Nak?" tanya Shivam.

"Cowok bego itu menghinaku, Papa. Menghina kita! Dia bilang kita ini ras minoritas yang tak pantas diperhatikan!" jawab Padma geram.

"Dia juga menyebut aku dan Padma cewek berandalan dan kembar menjijikkan," tambah Parvati.

Shivam dan Priya menatap putri mereka dengan sedih. Memang beginilah nasib orang asing. Selalu diremehkan dan dipandang sebelah mata. Mereka baru dua tahun menetap di Inggris, karena Shivam dipilih untuk mengambil kendali perusahaan, setelah ayahnya meninggal. Patil's Bussiness, perusahaan yang dipimpin Shivam memang tidak seterkenal yang dimiliki oleh Malfoy. Tetapi Patil's Bussiness cukup terkenal di beberapa kalangan. Yah, paling tidak orang-orang tidak memandang sebelah mata lagi terhadap mereka.

BRAKK! Pintu menjeblak terbuka dan menampakkan tiga sosok berambut merah yang sangat dikenali Parvati dan Padma. Si cowok kembar mendorong adiknya untuk masuk ke dalam kedai es krim ini. Mereka melambai ke arah Padma dan Parvati, kemudian menyeret adik mereka menuju meja cewek kembar tersebut.

"Mau apa lagi kau kesini?" bentak Padma sambil melompat berdiri dari kursinya.

"Padma!" seru Parvati dan Priya

"Tidak sopan, Nak," tegur Shivam.

"Dia orangnya, Papa, Mām̐! Dialah cowok bego yang menghina kita!" kata Padma sambil menunjuk Ron.

Shivam dan Priya menoleh ke arah cowok berambut merah yang ditunjuk oleh Padma. Kemudian mereka bertukar pandang dengan si cowok kembar, yang notabene adalah kakaknya.

"A-aku cuma ingin m-min-ta ma-af," ujar Ron terbata sambil menatap lantai.

"Yang jelas, Ron. Aku tak sudi punya adik yang gagap," tegur kakak kembarnya sambil nyengir.

"Aku ingin minta maaf," kata Ron dengan tegas. "Aku minta maaf kepada kalian, cewek kembar. Maafkan aku telah mengatai kalian tadi. Dan aku juga minta maaf kepada Anda, Madam dan Sir, karena telah menghina keluarga Anda."

Si cowok kembar berseru senang sambil membuat gerakan meninju udara, kemudian tertawa terbahak-bahak. Priya menoleh pada putri kembarnya dan tersenyum.

"Baiklah. Maaf diterima," jawab Parvati tersenyum, kemudian mencolek lengan Padma.

Padma menghela nafas panjang dan berkata, "Dimaafkan."

"Ngomong-ngomong, aku Ron Weasley. Cowok kembar ini kakakku, Fred dan George." Ron memperkenalkan diri.

"Kau...Weasley? Apakah kau anak dari Arthur Weasley, pegawai Kementrian?" tanya Shivam.

"Ya, Sir. Arthur Weasley adalah ayahku," jawab Ron bingung.

"Ayah kami juga," tambah si kembar, Fred dan George.

"Ah! Aku Shivam Patil. Ayahmu banyak membantu ketika aku baru pindah ke Inggris ini. Aku bertemu dengannya di Kementrian." Shivam mengangguk antusias.

"Wow, Anda pemilik Patil's Bussiness? Astaga, aku tidak tahu Ayah bergaul dengan orang-orang kaya." Ron bergumam.

Shivam tertawa dan memperkenalkan istri serta putrinya. "Ini Priya, istriku. Dan mereka adalah putri kembarku, Padma dan Parvati."

Dan hari itu mereka menghabiskan sore yang cerah sambil mengobrol seru di Florean Fortescue. Ketika Molly Weasley, ibu dari ketiga cowok tersebut datang mencari anak-anaknya, pembicaraan berakhir. Walaupun Shivam dan Priya telah menawarkan Molly untuk bergabung bersama mereka. Tetapi Molly menolak halus dengan alasan belum memberi makan ayam ternaknya. Akhirnya mereka berpamitan dan kembali ke urusan masing-masing.

Keluarga Patil sampai di kediaman mereka, Patil Palace, ketika matahari mulai terbenam. Ngomong-ngomong tentang Patil Palace, tempat itu benar-benar seperti istana. Sulit di deskripsikan. Bayangkan saja istana-istana kerajaan Hindu yang megah. Dengan ornamen-ornamen India yang diletakkan di tempat yang pas. Bangunan ini benar-benar India banget. Tampaknya mereka keluarga yang nasionalis, cinta tanah air walaupun berada di tempat asing. Secara keseluruhan, Patil Palace ini mampu menggambarkan orang macam apa yang tinggal di dalamnya.


September 1991

Peron 9 ¾

Peron 9 ¾ ramai seperti biasanya. Suara langkah kaki para penyihir yang akan menaiki Hogwarts Express hingga suara burung hantu yang saling ber-uhu riang. Ah, jangan lupakan kucing-kucing yang mengeong serta katak yang berlarian di sepanjang peron. Juga wejangan-wejangan orangtua yang akan melepas kepergian putra putri mereka ke Hogwarts.

"Koper? Sweater? Tongkat sihir? Semuanya sudah lengkap?" tanya Priya.

"Sudah, Mām̐," jawab Padma dan Parvati serentak.

"Jangan lupa berkirim surat," kata Shivam. "Padma, aku tidak mau mendengar kabar kau menonjok orang di Hogwarts," tambahnya.

Padma cemberut. "Aku tidak akan menonjok orang tanpa alasan."

"Jaga adikmu, Parvati. Kirim surat jika ia berulah," kata Shivam pada Parvati.

"Siap, Papa. Aku akan menjaga Padma. Nah, Choti, jangan berbuat macam-macam, oke?" Parvati mencolek lengan Padma.

"Menyebalkan. Kau hanya 5 menit lebih tua dariku, Parvati!" bantah Padma.

"Tetap saja aku yang paling tua," balas Parvati tak mau kalah.

Padma memilih untuk tidak membalas Parvati, karena ia tahu perdebatan ini tidak akan berakhir jika mereka saling membantah. Ia menoleh ke arah jam di dinding peron. Dua menit lagi kereta akan berangkat! Ia dan Parvati memeluk kedua orangtua mereka dan masuk ke dalam kereta. Mereka segera mencari kompartemen yang kosong sebelum didahului oleh anak-anak yang lain. Tetapi mencari kompartemen dengan menyeret koper yang beratnya aduhai bukanlah perkara mudah. Sudah beberapa kompartemen yang mereka lewati, semuanya terisi penuh.

"Butuh bantuan?" ujar suara yang berada di belakang mereka. Ternyata si kembar Weasley dengan satu orang temannya.

"Kami tidak menemukan kompartemen kosong. Bisakah kalian membantu kami?" tanya Parvati.

"Tentu saja. Kalian bisa menumpang di kompartemen kami," kata teman si kembar Weasley.

"Terima kasih banyak. Aku Parvati, dan ini saudariku Padma." Parvati menoleh ke Padma yang duduk di atas kopernya.

"Aku Lee Jordan. Senang bertemu kalian," balas Lee tersenyum.

Mereka berjalan menuju kompartemen ketiga cowok tersebut. Lee membantu mereka untuk meletakkan koper di bagian langit-langit kompartemen kereta. Kemudian mereka duduk untuk melepas penat.

"Terima kasih, Lee," ujar Padma tersenyum.

"Ngomong-ngomong, aku Gred, dan ini Forge," ujar si kembar sambil nyengir.

"Maaf? Kukira nama kalian Fred dan George?" tanya Padma keheranan.

"Oh ya? Sepertinya kau salah orang," ujar Fred nyengir.

"Mana mungkin aku salah mengenali kalian," balas Padma memutar bola matanya.

"Ah, masa? Bahkan ibu kami sendiri sering salah mengenali kami," kata George tertawa.

Padma mendengus dan menoleh ke sebelahnya, ternyata Parvati tertidur sambil menyenderkan kepalanya di jendela.

"Aku ingin berjalan-jalan sebentar." Padma beranjak dari tempat duduknya hendak keluar dari kompartemen.

"Mau kemana, Padma?" tanya Lee.

"Kau tahu namaku? Bagaimana kau bisa membedakan kami?" Padma keheranan.

"Mudah saja. Dagumu tidak seruncing dagu kembaranmu," jawab Lee enteng.

"Dan kau lebih emosional daripada saudarimu," tambah si kembar sambil memperagakan gaya menonjok orang.

Padma memutar bola matanya dan berkata, "Tolong jaga saudariku, ya?" kemudian keluar dari kompartemen.

"As you wish, My Lady," ujar si kembar sambil membungkuk, sementara Lee tertawa melihat aksi temannya.


Padma berjalan melewati kompartemen yang berisi sekelompok anak-anak perempuan yang mengobrol seru. Dari pintu kompartemen yang tidak tertutup rapat, Padma bisa mendengar jelas obrolan mereka.

"Harry Potter bersekolah di Hogwarts!" ujar seorang anak perempuan berambut pirang dengan antusias.

"Ia ada di kompartemen lain!" sambung temannya yang berkulit gelap.

"Kukira dia ke Hogwarts dengan kereta kuda," sahut yang lainnya, kemudian mereka tertawa.

Padma tercengang. 'Apa yang spesial dari seorang anak laki-laki yang bernama Harry Potter itu? Sepertinya ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Ah, sudahlah,' batin Padma. Kemudian ia melihat seorang cowok berambut merah yang sangat dikenalinya berada di kompartemen yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Padma melangkah menuju kompartemen tersebut dan membuka pintunya.

"Hai," sapa Padma.

"Hai, err, Patil. Sendirian?" tanya Ron.

"Ya, begitulah. Boleh aku masuk?"

"Tentu saja."

Padma masuk ke dalam kompartemen dan duduk di sebelah anak laki-laki yang berambut hitam acak-acakan. Ia tersenyum dan matanya langsung tertuju pada bekas luka berbentuk sambaran kilat di dahi cowok itu.

"Apa itu?" tanya Padma, mengarah ke bekas luka tersebut.

"Ah, bukan apa-apa." Cowok itu gelagapan sambil merapikan poninya agar menutupi bekas luka tersebut.

"Bloody Hell! Kau tidak tahu siapa dia?" Ron terkejut.

"Tidak," jawab Padma cepat. Kemudian menoleh kepada cowok itu, "Maaf, tetapi aku tidak mengenalimu. Apakah kau orang hebat?"

Cowok itu nampak lega, dan akan menjawab pertanyaan Padma ketika Ron menyelanya. "Blimey! Dia Harry Potter! Anak Yang Bertahan Hidup!"

Padma mengernyit kemudian menoleh kepada Harry yang nyengir gugup. "Aku tidak mengerti."

Ron melongo dan menggaruk kepalanya frustasi. Wajahnya sudah sama merahnya dengan rambutnya yang sekarang sangat berantakan.

"Dia Harry Potter, pahlawan dunia sihir, dan kau tidak mengetahuinya?"

"Maafkan aku, Harry Potter. Tetapi aku benar-benar tidak tahu. Aku baru menetap di Inggris selama dua tahun," ujar Padma meringis.

Harry tertawa pelan, "Tidak apa-apa. Aku senang bertemu denganmu. Err, siapa namamu?"

"Padma Patil. Senang bertemu denganmu. Mungkin setelah ini aku harus bertanya pada Lee tentang dirimu."

"Lee, siapa?" tanya Harry.

"Apakah Lee Jordan? Ada hubungan apa kau dengannya?" sahut Ron.

"Oh, aku sekompartemen dengannya," jawab Padma enteng.

"Sekompartemen dengan Lee berarti sekompartemen dengan kakak kembarku," gumam Ron.

"Ya, benar. Ngomong-ngomong, Ron, bagaimana cara membedakan mereka?" tanya Padma.

"Buat apa kau menanyakan hal itu? Apakah kau naksir pada kakakku?" tanya Ron curiga.

Padma terkesiap, sementara Harry tertawa kencang. "Tentu saja tidak!" jawab Padma gusar.

"Yah, mudah saja. George lebih pendek daripada Fred," kata Ron. Kemudian ia berkata pada Harry, "Aku akan memperkenalkan kakak-kakakku padamu, Harry."

"'Kakak-kakakku'? Maksudmu kau punya lebih banyak kakak?" tanya Padma keheranan.

"Well, ya, aku punya lima orang kakak," jawab Ron malu-malu.

Dan kemudian mereka –Harry dan Padma- mendengarkan Ron bercerita tentang kakak-kakakknya. Mereka sangat antusias mendengarkan cerita Ron, dan hal itu membuat Ron senang dan merasa diperhatikan. Tidak lama kemudian troli penjual makanan datang. Harry membeli semua jenis makanan yang ada dan mentraktir Padma dan Ron. 'Wow, anak ini baik sekali. Dia pasti kaya raya,' pikir Padma.

Hari sudah mulai senja dan mereka sudah dekat dengan Hogwarts. Padma berpamitan dengan Ron dan Harry, dan berjalan menuju kompartemennya. Ia masuk ke dalam kompartemen dan mendapati bahwa Parvati masih tidur. Sementara itu, ketiga cowok yang sekompartemen dengannya sudah mengenakan jubah Hogwarts. Dan Padma baru saja menyadari kalau ketiga cowok itu seniornya. Mereka mengenakan jubah hitam yang berlambangkan singa emas dengan latar berwarna merah dan kuning keemasan. Mereka adalah penghuni asrama Gryffindor.

"Ada apa, Padma? Kau memelototi kami," ujar Lee.

"Kau terpesona pada kami, eh?" goda Fred.

"Kami masih single kok. Kau boleh memacari salah satu dari kami, Padma," sambung George.

Padma tersadar, kemudian mendelik pada Fred dan George dan berkata, "Aku tidak terpesona pada kalian. Aku hanya baru menyadari bahwa kalian telah memasuki Hogwarts lebih dulu daripada aku."

Fred dan George tertawa, "Pintar sekali, Padma."

"Rowena akan bangga sekali mempunyai murid sepertimu," sindir Fred.

"Kepintaran tak terhingga adalah harta manusia yang paling berharga," sambung George dramatis.

Padma mendengus dan memalingkan muka.

"Sebaiknya kalian memakai jubah. Kita sudah hampir sampai di Hogwarts. Ah, iya. Jangan lupa membangunkan saudarimu, Padma," ujar Lee kemudian menyeret Fred dan George keluar dari kompartemen.

Padma menutup tirai kompartemen dan mengganti bajunya dengan jubah Hogwarts. Kemudian ia membangunkan saudarinya, Parvati. Tidak mudah membangunkan Parvati, tetapi ia akhirnya terbangun dengan sedikit percikan air dan gerutuan kesal.


Hogwarts' Express telah sampai di Stasiun Hogsmeade. Murid-murid mulai turun dari kereta dan mulai bergerombol ke arah kereta tanpa kuda yang terletak di dekat hutan.

"Kelas satu! Kelas satu ayo sini! Kelas satu ikut aku!"

Mereka bisa mendengar suara menggelegar yang berasal dari seorang pria berbadan besar yang ukurannya agak tidak normal, seperti terkena Mantra Pembengkakan. Mereka pun mengikuti pria yang bernama Rubeus Hagrid itu. Ternyata ia adalah pengawas binatang liar di Hogwarts sekaligus pemandu anak-anak kelas satu yang baru memasuki Hogwarts. Mereka berjalan menuju tepi danau. Disana telah tersedia perahu-perahu yang akan membawa mereka ke Hogwarts melalui Danau Hitam.

Padma dan Parvati satu perahu dengan seorang anak laki-laki berwajah bundar dan seorang anak perempuan berambut megar yang menyebalkan. Sepanjang perjalanan ia selalu menyerocos tentang Hogwarts, seakan-akan ia seorang pemandu wisata yang profesional. Dengan muka kesal mereka turun dari perahu dan berusaha menjauh dari anak perempuan tersebut. Seorang wanita jangkung yang mengenakan jubah berwarna hijau-zambrud menghampiri mereka, dan memandu mereka menuju Aula Besar untuk seleksi asrama. Padma berjinjit untuk mencari Harry dan Ron. Mereka telah berjanji untuk bertemu di Aula Besar.

"Kau mencari siapa?" tanya Parvati.

"Harry dan Ron," jawab Padma enteng.

"Harry? Maksudmu Harry Potter?!"

"Ya, Harry Potter. Kau kenal dengannya?" Padma heran.

"Astaga, Padma! Dia itu kan..."

Ucapan Parvati terpotong ketika mendengar suara nyanyian yang berasal dari sebuah topi usang berjumbai yang sudah kumal. Anak-anak baru melongo mendengar topi itu bisa bernyanyi. Setelah aksi hebat topi yang bisa bernyayi itu, wanita berjubah hijau-zambrud mulai memanggil nama-nama anak yang akan diseleksi.

"Aku, Minerva McGonagall, akan memanggil kalian satu persatu untuk diseleksi. Namanya yang terpanggil silahkan duduk di kursi yang telah disediakan, dan memasang topi ini," ujar wanita bernama McGonagall tersebut.

"Abbott, Hannah," panggil McGonagall.

Seorang anak perempuat berambut pirang panjang tampak gemetar ketika berjalan menuju kursi yang telah disediakan. Kemudian memakai topi kumal berjumbai yang menutupi matanya.
"HUFFLEPUFF!" teriak si topi.

Meja yang didominasi oleh warna kuning dan hitam pun bersorak sorai menyambut kedatangan penghuni baru asrama mereka. Hannah Abbott melepaskan topi dan berjalan menuju meja asrama Hufflepuff.

Proses seleksi pun terus berlanjut hingga terdengarlah nama "Granger, Hermione."

Anak perempuan berambut cokelat megar yang seperahu dengan Padma tadi melangkah dengan pasti kemudian duduk dengan anggun. Ia memakai topi dan menunggu hasil seleksinya.

"GRYFFINDOR!"

Sekarang giliran meja berlambang singa bersorak kencang, yang dikomandoi oleh si kembar Fred dan George.

"Astaga. Aku tidak mau seasrama dengan cewek menyebalkan itu," bisik Padma ke Parvati, yang membuat saudarinya itu mengernyitkan kening.

Kerumunan anak-anak yang belum diseleksi mulai menipis. Hingga akhirnya. . .

"Patil, Padma!"

Padma terkejut dan dengan ragu-ragu melangkah ke depan untuk memakai Topi Seleksi.

"Hmm...Pendatang baru, eh?" Padma bisa mendengar suara Topi Seleksi itu di dalam kepalanya.

"Berasal dari negeri nun jauh disana. India. Aku bisa melihat pegunungan disana. Apakah kau gadis gunung?" si Topi tetap bergumam sementara Padma sudah berkeringat dingin menanti hasil seleksi.

"Kau pintar, brilian, cerdas, dan memiliki semua aspek yang diinginkan Ravenclaw. Tetapi agak ceroboh dan pemberontak, ya?" Padma mendengus mendengar hal ini.

"Cepatlah," gumam Padma.

"Tidak sabaran," kekeh si Topi. "Kau aset yang berharga bagi Ravenclaw, namun kau bisa jadi pejuang di Gryffindor," lanjutnya.

"Oh ayolah, aku tidak mau satu asrama dengan cewek menyebalkan itu," ujar Padma jengkel.

"Baiklah, kalau begitu...RAVENCLAW!"

Padma mendesah lega kemudian berjalan menuju kerumunan Ravenclaw yang menyambutnya dengan sorakan dan tepukan antusias. Secara otomatis dasinya yang semula hitam polos berubah menjadi warna biru dan perunggu dengan lambang elang. Begitu juga dengan jubahnya. Emblem Ravenclaw secara otomatis melekat, menandakan ia adalah penghuni asrama yang diisi oleh para cerdik cendikia tersebut. Ia mengerling Parvati, kemudian melambai. Setelah ini giliran Parvati.

"Patil, Parvati."

Parvati maju ke depan dengan anggun, kemudian memakai Topi Seleksi. Tak sampai satu menit si Topi meneriakkan... "GRYFFINDOR!"

Padma kaget. Dia tidak menyangka akan berbeda asrama dengan Parvati. Mereka akan berada di bawah atap yang berbeda untuk tujuh tahun ke depan. Mereka belum pernah berpisah sebelumnya. Padma memandangi Parvati yang tampak limbung berjalan menuju meja Gryffindor. Ia melihat Parvati disambut dengan hangat oleh si kembar Fred dan George, serta Lee Jordan.

Ah, ternyata Harry Potter dan Ron Weasley juga berada di asrama Gryffindor. Padma merutuki pilihannya tadi. Seharusnya ia masuk Gryffindor saja. Tetapi tak ada gunanya menyesal. Lebih baik dijalani saja. Padma berencana untuk mendatangi Parvati setelah acara seleksi.

"Aku harus menemui Parvati," gumam Padma pada dirinya sendiri.

Maka setelah acara seleksi usai dan tiba waktunya untuk makan malam, Padma berlari menuju meja Gryffindor yang disambut oleh pelototan dari anak-anak Ravenclaw dan tatapan keheranan anak-anak Gryffindor. Padma mencari-cari Parvati dan menemukannya duduk di antara Fred dan Lee Jordan. Ia mendatangi mereka dan menyusup duduk diantara Parvati dan Lee Jordan.

"Padma!" seru Lee kaget.

Padma mengabaikan seruan Lee dan memandangi Parvati yang menatap kosong.

"Parvati!" panggil Padma.

"Choti," balas Parvati lirih, "Aku tidak menyangka kita akan berbeda rumah untuk tujuh tahun ke depan."

"Aku tahu. Kita akan baik-baik saja, kan?" Padma memeluk Parvati dengan erat.

"Tentu saja." Parvati tersenyum, dan balas memeluk Padma.

"Awww," ujar Fred dramatis.

"Aku terharu," sambung George kemudian memeluk Fred.

"Aku tidak bisa membayangkan..."

"...bagaimana rasanya berpisah denganmu..."

"...aku tak sanggup, George..."

"...aku juga, Fred. Aku menyayangimu..."

"...aku juga."

Seketika meja Gryffindor tertawa kencang melihat aksi Fred dan George yang konyol itu. Padma dan Parvati cemberut dan malu karena diledek.

"Tidak usah tersinggung. Mereka memang begitu, kok," ujar Lee menenangkan.

"Well...Aku harus pergi ke mejaku. Sampai jumpa." Padma melambai ke arah Parvati dan Lee, dan melayangkan tatapan membunuh pada si kembar Fred dan George.

Makan malam telah usai dan murid-murid kembali ke asrama masing-masing. Khusus untuk murid kelas 1, mereka dipandu oleh Prefek. Sambil berjalan mereka mendengarkan penjelasan mengenai Hogwarts. Mulai dari lukisan-lukisan yang bisa bergerak dan berbicara, hingga tangga yang bisa bergerak.

"Kalian tahu, tangga bergerak ini merupakan peninggalan Ravenclaw. Rowena Ravenclaw kita," ujar Prefek laki-laki berambut pirang dengan bangga.

Perjalanan menuju asrama Ravenclaw cukup melelahkan mengingat asrama berlambangkan elang ini terletak di menara tertinggi di Hogwarts. Sama halnya dengan asrama Gryffindor. Namun, untuk mencapai asrama Gryffindor, kau harus berbelok ke arah kanan. Sedangkan asrama Ravenclaw berbelok ke arah kiri. 'Baguslah, aku bisa dengan mudah menemui Parvati.' Batin Padma.

Mereka telah sampai di pintu asrama Ravenclaw.

"Nah, untuk masuk ke dalam asrama kalian harus bisa memecahkan teka-teki burung elang. Jika tidak, kalian tidak bisa masuk dan harus menunggu orang lain untuk membukakan pintu," ujar Prefek perempuan yang berambut cokelat gelap, yang namanya belum diketahui Padma.

"Hal ini dilakukan agar otak kita tetap terasah untuk berfikir. Sekedar memberitahu, hanya asrama kita yang menerapkan sistem seperti ini. Kita patut bangga," sambung si Prefek laki-laki.

Mereka berkerumun di depan pintu masuk asrama. Kemudian, si Prefek laki-laki mengetuk si elang penjaga yang langsung mengucapkan teka-tekinya.

"Apa yang berada di awal lautan dan di tengah malam?" ujar si elang penjaga.

"Nah, ada yang tahu?" tanya si Prefek laki-laki sambil mengedarkan pandangan ke arah murid-murid.

Hening. Mereka saling menoleh dan mengangkat bahu. Kemudian Padma menjawab, "L."

"Benar sekali, anak baru," jawab si elang yang membuat Padma bangga.

Mereka memasuki asrama Ravenclaw yang sangat mewah. Ruangan yang berbentuk kubah yang didominasi oleh warna biru. Kita dapat melihat luasnya Danau Hitam dari ruangan ini. Di ruangan ini juga terdapat patung Rowena Ravenclaw. Senyumnya sangat cantik, namun juga mengerikan di saat yang sama.

Anak-anak perempuan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menempati kamar yang sama. Padma sekamar dengan Mandy Brocklehurst, Sue Li, Lisa Turpin, dan Morag MacDougal. Mereka masuk ke dalam kamar yang telah ditentukan, kemudian mulai melakukan aktivitas masing-masing.

"Aku akan menyusun barangku besok. Kalian bagaimana?" tanya Mandy.

"Aku akan menyusunnya sekarang," jawab Padma. Sementara ketiga temannya yang lain setuju dengan Mandy.

"Well, selamat tidur semuanya," ujar Mandy kemudian merebahkan dirinya di atas kasur.

"Selamat tidur," jawab mereka berempat.

Jadi begitulah. Padma sibuk menyusun dan membereskan barang-barangnya malam itu. Padma bersenandung pelan sambil memikirkan hari pertamanya di Hogwarts. Tidak terlalu buruk, bahkan mengejutkan. Pertemuan dengan Harry Potter dan Ron Weasley, hingga perbedaan asramanya dengan Parvati. Setelah selesai berbenah, Padma mengganti seragamnya dengan piyama kemudian naik ke tempat tidurnya. Berharap semoga hari esok lebih menyenangkan daripada hari ini.


Nah, bagaimana? Apakah chapter ini akan mendapat review lebih dari sebelumnya?

Silahkan review apa saja, baik itu kritik, saran, masukan, atau usulan lainnya.

Salam sihir,

Last-Heir Black.