Haihai. Terima kasih telah mereview chapter 2 Adelaide Raverin.

Iya ini emang fanfic 4 tahun lalu yang saya perbaiki dan terbitkan kembali.

Saya memang penyuka pairing minor, sayangnya masih kurang peminat hehe.

Btw, selamat membaca chapter 3 ^-^


.

Harry Potter Series by J.K Rowling

Kisah Padma Patil: Si Cantik dari India by Last-Heir Black

.


Fajar telah menyingsing. Padma Patil sudah bersiap-siap turun ke Aula Besar untuk sarapan. Ia sudah akan keluar dari kamar jika saja ia tak ingat teman-teman sekamarnya yang masih bergelung di tempat tidur masing-masing.

"Mandy, bangun." Padma menepuk pundak Mandy.

"'ntuk," gumam Mandy sambil berguling.

"Lisa, bangun. Kau bisa terlambat ke kelas jika tidak bangun sekarang." Padma mengguncang tubuh Lisa.

"Mmm-hmm."

Padma mulai kesal. Ia berencana untuk menyiram mereka dengan air, tetapi ia mengurungkan niat. Ia memutuskan untuk meninggalkan mereka dan turun ke Aula Besar.

Aula Besar sudah ramai. Meja keempat asrama mulai terisi penuh, kecuali meja Gryffindor yang masih sedikit penghuninya. Padma mencari saudarinya di meja Gryffindor, tetapi ia tidak menemukan Parvati. Jangan bilang Parvati masih tidur, batin Padma. Ia hendak berbalik menuju meja Ravenclaw ketika Ron Weasley melambaikan tangannya, mengajak Padma duduk di meja Gryffindor.

"Hai," sapa Padma sambil duduk di kursi kosong di hadapan Harry dan Ron.

"Ngapain kau cuma berdiri disana? Harusnya langsung duduk dan makan." Ron memelototi Padma.

Padma nyengir dan menoleh ke sekelilingnya. "Dimana yang lain?"

"Maksudmu kami?" ujar suara di belakang Padma. Ternyata Fred dan George, yang langsung duduk mengapit Padma.

Padma memutar bola matanya dan berkata, "Percaya diri kalian sangat tinggi."

"Tentu saja," kata Fred.

"Itu adalah daya tarik kami." George menyombong, sementara Harry membuat gerakan orang muntah.

Padma mengambil kentang tumbuk dan menuang jus labu ke pialanya.

"Ngomong-ngomong, dimana Lee?" tanya Padma.

"Di belakangmu," jawab Lee nyengir.

"Ampun deh, bisakah kalian tidak muncul di belakangku? Kalian membuatku encok, tahu." Padma menggerutu.

Lee duduk di sebelah kiri Ron dan mulai makan. Tak lama kemudian, seorang anak perempuan berambut cokelat megar datang dan duduk di sebelah Lee. Padma ingat anak itu, cewek sok tahu menyebalkan yang bernama Hermione Granger. Tetapi melihat penampilannya hari ini, Padma merasa kasihan. Hermione terlihat menyedihkan. Matanya merah dan bengkak, seperti habis menangis. Ia mendapati Padma sedang menatapnya dengan prihatin, sedangkan Hermione Granger tidak suka dipandang seperti itu. Itu akan melukai harga dirinya.

"Apa? Aku nggak butuh rasa kasihanmu!" ujar Hermione pedas.

Padma terkesiap dan menatap Hermione yang memandangnya sangar.

"Aku tidak mengasihanimu," kata Padma jujur.

"Lalu apa? Merendahkanku karena aku kelahiran-Muggle? Iba padaku karena tidak punya teman? Aku tidak butuh kalian! Aku tidak butuh rasa iba kalian!"

Dan dengan kata-katanya yang dramatis, Hermione meninggalkan Aula Besar dengan berlari kencang. Rambut cokelat megarnya berkibar dan mulai menghilang dari pandangan. Sekarang, semua anak di meja Gryffindor menatap Padma yang melongo.

"Aku tidak melakukan apa-apa," kata Padma.

"Aku tahu," balas Harry pelan.

Mereka masih memandangi Padma dengan tidak yakin.

"Aku serius! Aku hanya menatapnya dan dia meledak marah begitu saja." Padma meyakinkan.

"Serius nih, Padma. Jangan berinteraksi dengan cewek itu. Dia sakit jiwa, sok tahu, dan menyebalkan. Mungkin karena itulah dia tidak punya teman." Ron menatap Padma serius.

Padma menatap Ron tak yakin, "Kau kejam sekali, Ron."

"Tidak! Itu fakta! Dia sangat emosional, kau tahu. Aku tidak tahu apa yang salah dengannya, tetapi jangan dekat-dekat dia deh. Dia itu pemuja perpustakaan dan melahap buku apa saja yang disodorkan kepadanya," Ron bergidik, "aku tidak tahu kenapa dia bisa masuk Gryffindor, harusnya dia dimasukkan ke Ravenclaw. Ya kan, Harry?" Ron meminta dukungan.

"Oh, entahlah. Kurasa dia merasa getir disini. Ia merasa ini bukanlah tempatnya, ini berbeda jauh dari tempat asalnya. Ia tumbuh dan berkembang di lingkungan Muggle, kau tahu?" ujar Harry melamun.

"Berhentilah membahas cewek Granger itu," kata Fred sambil mencomot kentang goreng. "ada hal yang lebih penting yang-"

"Benar, Fred, kenapa jadwal pelajaran kita belum datang?" potong Lee, yang membuat Fred kesal.

"Bukan itu maksudku!" Fred menjitak kepala Lee.

Mengabaikan Lee yang mengaduh kesakitan, Fred dan George menatap Padma yang memelototi seseorang di belakang mereka. Ternyata Parvati. Saudari kembar Padma yang berjalan sempoyongan sambil menguap lebar, berjuang menahan kantuk yang menggelayuti kelopak matanya.

"'Lo semua," ujar Parvati sambil duduk di antara George dan Padma.

"Kau! Darimana saja?" geram Padma.

"Ngantuk," balas Parvati sekenanya.

"Demi Merlin, Parvati! Apa kau-"

Perkataan Padma terpotong ketika Profesor McGonagall datang ke meja Gryffindor dan membagikan jadwal pelajaran mereka.

"Aku tidak ingin angka Gryffindor dikurangi pada hari pertama sekolah." McGonagall menatap tajam anak-anak asramanya.

Fred mengerang, "Ramuan!"

"Dengan para ular!" sambung George.

"Ku harap kalian tidak berbuat onar, Mr. Weasley!" kata McGonagall, kemudian menoleh ke Padma, "Miss Patil, ku kira kau di Ravenclaw. Profesor Flitwick sudah membagikan jadwal sejak tadi."

"Err, baiklah, Profesor." Padma berkata gugup, kemudian berlari menuju meja Ravenclaw.


Pelajaran pertama Padma adalah Mantra, oleh Profesor Flitwick, Kepala Asrama mereka sendiri. Mereka bergabung dengan anak-anak kelas satu dari Gryffindor. Padma dan rombongan anak Ravenclaw masuk lebih dulu. Mereka mengambil tempat duduk yang paling depan. Sementara Padma mengambil tempat duduk di deretan nomor dua, dan menyisakan satu kursi untuk Parvati. Anak-anak Gryffindor datang dan mengambil kursi yang tersisa. Padma melambaikan tangan ke Parvati, tetapi ia tidak melihatnya. Parvati sedang mengikik bersama cewek genit yang berambut cokelat ikal. Padma kesal sekali dan tidak memandangi Parvati lagi.

"Bolehkah aku duduk disini?" tanya seorang cowok Gryffindor berkulit gelap.

"Ya," jawab Padma ketus.

"Eh, kalau kau keberatan aku bisa pindah kok," ujar cowok itu.

"Tidak, tidak. Aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku hanya sedang...jengkel."

"Aku Dean Thomas." Dean mengulurkan tangan.

"Padma Patil." Padma membalas uluran tangan Dean.

Pintu menjeblak terbuka. Profesor Flitwick, dengan tubuh mungil dan kumis lebatnya, memasuki ruangan. Suasana hening, sesekali terdengar tawa yang tertahan. Padma memandang mereka dengan jengkel. Profesor Flitwick boleh saja berukuran mini, tetapi jangan remehkan kemampuan otaknya sangat super. Setidaknya begitulah yang ia dengar.

"Selamat pagi," sapa Profesor Flitwick riang dengan suaranya yang melengking.

"Selamat pagi, Profesor."

"Aku Filius Flitwick, Kepala Asrama Ravenclaw, pengajar Mantra, dan Charm Master," ujar Profesor Flitwick memperkenalkan diri, "Aku akan mengabsen kalian," lanjutnya.

"Boot, Terry!"

Seorang anak laki-laki berambut cokelat yang seasrama dengan Padma mengacungkan tangan.

"Brown, Lavender!"

Padma mendengus tidak senang. Ternyata cewek genit yang bersama Parvati itu bernama Lavender Brown. Nama yang konyol, menurut Padma.

"Patil, Padma!"

"Saya, Sir!" jawab Padma sambil mengacungkan tangan.

Profesor Flitwick mengabsen semua murid. Setelah itu beliau memulai pelajarannya dengan memberi penjelasan tentang Mantra Melayang.

"Salah satu keterampilan dasar penyihir adalah 'melayangkan', atau kemampuan untuk membuat benda terbang." Profesor Flitwick menjelaskan. "Mudah saja, kalian punya pena bulu?"

Profesor Flitwick mengedarkan pandangan dan mendapati bahwa semua muridnya mempunyai pena bulu. Kemudian ia berkata, "Jangan lupa gerakan pergelangan yang lembut. Ayun dan hentakkan!"

Padma dan murid lainnya menirukan gerakan pergelangan tersebut.

"Lalu ucapkan mantranya, Wingardium Leviosa!" kata Profesor Flitwick.

Sekali lagi, semua murid menirukan Profesor Flitwick.

"Stop, stop! Kau bisa mencungkil mata seseorang!" ujar suara yang familiar, yaitu suara Hermione Granger, yang duduk di sebelah kanan Padma.

"Seharusnya Levi-o-sa, bukan Levi-o-sar," kata Hermione menjelaskan.

"Lakukan saja kalau kau memang pintar. Ayo lakukan," balas Ron menantang. Ternyata ia duduk di sebelah kanan Hermione.

Padma bisa melihat ekspresi angkuh Hermione ketika ditantang oleh Ron. Ia berdehem sekali, kemudian mengucapkan mantra dengan pelafalan yang tepat.

"Wingardium Leviosa!"

Bulu putih yang berada di meja Hermione melayang mengikuti arah tongkat sihirnya. Semua mata tertuju pada Hermione dengan pandangan kagum, kecuali Ron yang mukanya sudah merah dan terlihat ingin mengutuk Hermione.

"Well done, Miss Granger. 10 angka untuk Gryffindor," kata Profesor Flitwick riang.

Padma menatap Hermione kagum. Kemudian berkata, "Bagus sekali, Hermione Granger. Kau memang sepantasnya berada di Ravenclaw."

Hermione menoleh ke Padma. Ia kemudian tersenyum dan berkata, "Terima kasih."

Ruangan telah dipenuhi oleh suara anak-anak yang mengucapkan mantra. Hanya segelintir murid yang bisa melakukan Mantra Melayang. Padma salah satunya. Ia berhasil melayangkan bulu pada percobaan ketiga, yang dihadiahi 10 poin oleh Profesor Flitwick.

"Wingard Leviosa! Wingard Leviosa!"

DUAR! Terdengar suara ledakan di belakang Padma. Ternyata seorang anak Gryffindor memutuskan untuk meledakkan bulu, alih-alih menerbangkannya. Di sebelah anak yang wajahnya hitam terkena jelaga itu, Harry Potter bergumam, "Sepertinya kami butuh bulu yang baru, Professor."


Pelajaran Mantra telah usai. Padma keluar dari kelas Mantra sendirian. Dia bertekad untuk tidak mengindahkan Parvati hari ini, atau bahasa lainnya 'ngambek'. Ia berjalan menuju kelas berikutnya, yaitu Ramuan, bersama-sama dengan anak-anak Hufflepuff. Padma menghela nafas panjang. Menurut Fred, George, dan Lee, Ramuan merupakan mimpi buruk. Professor Snape suka sekali menganakemaskan asrama Slytherin, mentang-mentang dia yang menjadi Kepala Asrama ular tersebut. Padma menggeleng, ia tidak boleh berprasangka buruk.

"Padma Patil, tunggu sebentar."

Padma membalikkan badan dan mendapati bahwa Hermione memanggilnya.

"Ya?" kata Padma ragu.

Hermione melangkah mendekati Padma dan berkata, "Aku minta maaf atas kejadian tadi pagi," katanya malu-malu.

Padma melongo, kemudian menyadari bahwa Hermione membicarakan masalah ketika sarapan di Aula Besar tadi pagi.

"Oh! Yah, aku juga minta maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu," kata Padma.

"Tidak, tidak. Kau tidak menyinggungku sama sekali. Akulah yang terlalu sensitif. Yah, sepertinya orang-orang tidak menyukai keberadaanku disini." Hermione menatap lantai.

"Jangan begitu," kecam Padma. "Kau tidak sendirian, kok."

"Well, teman?" Hermione mengulurkan tangan.

"Teman." Padma membalas. "Aku harus buru-buru, ada kelas Ramuan. Bagaimana denganmu?"

"Transfigurasi," balas Hermione.

"Sampai jumpa saat makan siang!" seru Padma sambil berlari menuju ruang bawah tanah, berharap ia tidak terlambat.


"Bagaimana pelajaran Ramuanmu?" kata Hermione manyamai langkah Padma menuju Aula Besar.

"T untuk Troll," gerutu Padma.

Hermione tertawa. "Separah itukah?"

"Well, ternyata Profesor Snape berpendapat aku terlalu sok tahu di kelasnya." Padma memutar bola matanya.

"Tidak apa-apa. Aku pun begitu,"

Aula Besar sudah ramai oleh murid-murid maupun pengajar untuk makan siang. Tak terkecuali bagi Padma dan Hermione. Mereka hendak berjalan menuju meja Gryffindor ketika Padma mendadak berhenti. Raut wajahnya kesal sehingga membuat Hermione heran.

"Ada apa?" tanya Hermione.

"Aku tidak mau duduk di meja Gryffindor. Lebih baik kita di meja Ravenclaw saja," kata Padma kaku.

"Well, baiklah. Aku juga tidak nyaman berada disana." Hermione mengangkat bahu.

Maka Padma dan Hermione pun duduk di meja Ravenclaw. Padma berpura-pura tidak melihat lambaian tangan Harry serta pandangan shock Ron. Ia sedang tidak ingin berada di meja yang sama dengan saudarinya yang menyebalkan. Ayam goreng yang berada dihadapannya pun menjadi pelampiasan kekesalan Padma, membuat Hermione memelototi gadis berdarah India tersebut.

"Padma, jika makanan bisa bicara, Aula Besar akan dipenuhi oleh teriakan ayam goreng yang saat ini sedang kau siksa dengan sangat keji," kata Hermione.

Padma menghela nafas. "Sepertinya ini hari paling menyebalkan sepanjang hidupku di Hogwarts."

"Ayolah, jangan berlebihan. Hidupmu di Hogwarts baru saja memasuki hari kedua," ledek Hermione.

"Oh, kau benar. Hidupku sangat...melelahkan." Padma mendesah dramatis, membuat Hermione tertawa terbahak-bahak.


Oktober 1991

Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa sudah hampir 2 bulan Padma Patil berada di Hogwarts. Hari-hari di Hogwarts menyenangkan. Walaupun beberapa pertengkaran tidak terelakkan. Ya, pertengkaran Padma dengan saudarinya, Parvati. Ternyata aksi ngambek Padma ketika melihat Parvati dengan Lavender tidak digubris oleh saudarinya tersebut, yang membuat Padma makin kesal.

"Kau cemburu, Choti. Kau tidak suka aku berteman dengan orang lain selain kau." Padma memutar bola matanya melihat aksi Padma.

"Kata siapa? Aku menyukai teman-teman Gryffindor. Aku hanya tidak suka kau bergaul dengan Lavender si cewek genit itu," balas Padma.

"Oh, ayolah. Jangan mencampuri urusanku, dan aku tidak akan mencampuri urusanmu."

Dan dengan itu Parvati melenggang menuju Aula Besar, meninggalkan Padma yang masih melotot tidak percaya. Pertengkaran antar saudara memang sering terjadi. Dan itu tidak akan bertahan lama. Dua hari setelah itu, Padma dan Parvati berbaikan lagi. Walaupun Padma masih tidak menyukai Lavender yang kerjaannya hanya mengikik sepanjang waktu. Tetapi ia menekan perasaan tidak sukanya di depan Parvati, ia tidak mau bertengkar dengan saudarinya sendiri.

Padma dan Hermione juga semakin akrab, membuat Ron menggerutu dan memandang cemas Padma setiap mereka berpapasan. Ketika Padma menanyakan hal ini, Ron menjawab dengan polos bahwa ia takut Padma akan sakit jiwa-atau dicelakai oleh Hermione. Padma tertawa dengan heboh ketika mendengar alasan ini. Ron hanya cemberut memandanginya. Padma buru-buru minta maaf, tetapi tidak bisa menghilangkan senyum gelinya. Termasuk secercah perasaan hangat yang menjalari hatinya ketika mengetahui bahwa Ron Weasley mencemaskan keadaannya.

Malam ini adalah malam Halloween. Aula Besar telah didekorasi dengan nuansa jingga-yang agak menyeramkan. Labu-labu seukuran kereta-yang telah diukir dengan seringai yang membuatmu merinding- telah dipasang di sudut-sudut aula. Padma memandang takjub Aula Besar. Ia berjalan menuju meja Ravenclaw sambil mengagumi dekorasi yang serba jingga. Walaupun suasana Aula yang temaram membuatnya bergidik karena minimnya penerangan-yang memang disengaja. Ratusan lilin melayang tinggi di atas kepala. Beberapa diletakkan di dalam labu-labu, yang membuat ukirannya tambah menyeramkan karena efek bayangan yang terpantul di sisi lain aula.

Padma sudah akan mengambil makanan ketika ia menyadari absennya Hermione. Ia memandangi meja Gryffindor, tetapi Hermione juga tidak ada disana. Padma menyelinap pergi ke meja Gryffindor dan menyusup duduk di antara Fred dan Lee Jordan, berhadapan dengan Ron dan Harry.

"Astaga!" pekik Lee.

"Ah...Padma! Kau mengagetkanku, tahu!" ujar Fred pura-pura terkejut.

Padma mengabaikan Fred dan Lee, kemudian bertanya kepada Ron, "Dimana Hermione?"

Ron tersedak jus labunya, sementara Harry menepuk-nepuk punggungnya.

"Kau bertanya di tempat yang salah, Miss Patil. Potong 10 poin dari Ravenclaw," ujar Fred dengan nada sok tegas.

"Mana aku tahu! Sudahlah, Padma, jangan mencari-cari cewek gila itu lagi. Kau kan punya aku, Harry, dan kembaranmu si Parvati itu," kata Ron dengan muka memerah akibat tersedak.

"Kau juga punya aku, Padma." Lee promosi sambil nyengir.

"Oh, ayolah. Hermione teman yang baik. Aku bisa mengobrol dengan waras jika bersamanya," ujar Padma enteng, mengisi piringnya dengan sup brokoli yang kental.

Harry, Fred dan George-yang baru disadari Padma duduk di sebelah kanan Harry- tertawa terbahak-bahak. Sementara Ron mendengus.

"Seharusnya kau masuk Gryffindor saja, Padma. Ravenclaw berpengaruh buruk untukmu," gumam Ron.

Terdengar suara kikikan, dan Padma langsung tahu siapa pelakunya. Parvati dan Lavender, tentu saja. Parvati menoleh ke Padma dan menyapanya dengan riang, kemudian duduk di sebelah Lee Jordan.

"Kalian tahu? Hermione Granger bersembunyi di toilet perempuan sepanjang hari," kata Parvati dengan ekspresi sedih yang tidak meyakinkan. Sementara Lavender jelas tampak senang.

"Benarkah?" tanya Padma kaget.

"Well, begitulah."

Padma hendak mencari Hermione ketika pintu Aula Besar menjeblak terbuka, dan Professor Quirell berteriak histeris.

"Troll! Troll in the dungeon!" Professor Quirell berlari di sepanjang Aula Besar dan berhenti di depan podium. Ia menatap rekan-rekan gurunya dan berkata lemah, "Kurasa kalian harus tahu," dan kemudian ia pingsan.

Bagai dikomandoi, murid-murid Hogwarts langsung berteriak dan berlarian kesana kemari. Padma dan kelompok kecilnya di Gryffindor bersiap-siap untuk lari ketika terdengar raungan Professor Dumbledore-yang memakai Mantra Sonorus-, menyuruh untuk diam. Bagaikan menekan tombol stop, Aula Besar langsung hening dan menatap Professor Dumbledore dengan berbagai macam ekspresi.

"Semuanya harap tenang," kata Professor Dumbledore, "Kalian akan didampingi Prefek masing-masing untuk kembali ke asrama. Semuanya harap tenang dan tertib," lanjutnya.

Maka semua orang pun berjalan dengan patuh mengikuti Prefek yang memandu mereka menuju asrama masing-masing. Padma hendak berjalan menuju rombongan Ravenclaw ketika Harry berseru panik.

"Hermione! Hermione! Dia di toilet perempuan! Kita harus memberitahunya!" teriak Harry panik.

"Astaga! Ayo!" Padma mengikuti Harry dengan tampang tak kalah panik, sedangkan Ron terlihat ogah-ogahan dan cemas sekaligus.

Padma, Harry, dan Ron berlari menuju toilet perempuan yang terletak di lantai bawah. Tetapi, Padma dipanggil oleh Penelope Clearwater, Prefek Ravenclaw. Padma bergulat dengan keinginannya untuk menyelamatkan Hermione dan mengikuti Prefek menuju asrama. Ia bahkan belum sempat untuk memutuskan, karena ia telah diseret oleh Penelope.

"Hati-hati!" teriak Padma kepada Ron dan Harry yang menyusup diantara kerumunan siswa.

Padma dimarahi oleh Penelope selagi mereka menaiki tangga menuju lantai tujuh. Tetapi ia diam saja, ia memikirkan keselamatan Hermione. Setengah dari dirinya memberontak untuk tetap pergi menyelamatkan Hermione, tetapi setengahnya lagi berpendapat bahwa Hermione akan baik-baik saja. Cewek pintar, Hermione itu. Tidak seperti cewek lainnya yang gemar mengikik, macam si centil Lavender Brown. Ah, memikirkan Lavender membuat Padma makin jengkel. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia telah sampai di Ruang Rekreasi Ravenclaw. Padma memutuskan untuk naik ke kamarnya daripada mengobrol bersama teman-temannya di ruang santai. Ia naik ke tempat tidur, mengganti seragamnya dengan piama, dan mengambil buku Hogwarts: A History. Ia belum menamatkan bacaannya, tidak seperti Hermione yang sudah membaca buku ini berkali-kali. Menurut Hermione, buku ini sangat menarik. Kau bisa mengetahui hal-hal detail mengenai Hogwarts. Padma membaca buku tersebut sampai larut malam, bahkan ketika teman-teman sekamarnya sudah terlelap, Padma masih membaca. Hingga akhirnya ia menguap dan menutup buku tersebut, menyimpannya di dalam koper. Kemudian ia terlelap.


Bulan baru, hari baru, semangat baru. Cuaca di bulan November mulai membekukan tulang. Padma memakai sweater Ravenclawnya, mengepang rambut hitam panjangnya, kemudian melilitkan syal bergaris biru-perunggu di lehernya, dan turun untuk sarapan. Ia menemukan Hermione sudah duduk di meja Gryffindor bersama Harry dan Ron. Mereka melambai, dan Padma berjalan menuju meja Gryffindor, membuat kawanan Ravenclawnya mengernyitkan dahi tak suka. Padma memilih mengabaikan reaksi teman-teman Ravenclawnya, dan duduk di hadapan mereka bertiga.

"Bagaimana kabarmu, Hermione?" tanya Padma sambil menuangkan jus jeruk di piala.

"Masih hidup," jawab Hermione terkekeh, "Harry dan Ron menyelematkanku tepat pada waktunya," tambahnya.

"Tahu tidak? Hermione berbohong pada guru demi menyelamatkan kami!" seru Harry sambil tertawa.

"Benarkah?" tanya Padma melongo.

"Tentu saja. Aku tidak mungkin membiarkan mereka didetensi setelah menyelamatkan nyawaku."

"Harry punya souvenir bagus lho." Ron berbisik.

"Apa?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi. Ron dan Hermione tampak menahan tawa, sedangkan Harry meringis.

"Ingus Troll." Ron dan Hermione meledak tertawa, sedangkan Harry dan Padma meringis jijik.

Kemudian ada yang mengapit Padma, yaitu Fred dan George bersama Lee Jordan. Padma kaget dan melihat kiri-kanannya, kemudian mengerang keras.

"Aaaahhh...kalian lagi." Padma menopang kepala dengan kedua tangannya, frustasi.

"Ada yang membicarakan ingus Troll?" kata George mengabaikan Padma.

"Tahu tidak, kami pernah mendapatkan rasa itu ketika makan Permen Segala Rasa Bertie Bott's," tambah Fred sambil nyengir. Sedangkan Lee membuat gerakan orang muntah.

"Geser...geser..." kata Padma gusar, tetapi diabaikan oleh Fred dan George.

"Aduh!" pekik Fred.

"Aww!" sambung George.

"Geser sedikit! Aku tak bisa bernafas." Padma memelototi Fred dan George.

"Kau tidak perlu menusuk kami, Padma!" seru George.

"Nah, Harry, Ron, ayo ceritakan misi penyelamatan kalian kemarin," kata Padma.

Harry dan Ron pun menceritakan kejadian yang mereka alami. Mulai dari kekagetan mereka melihat Troll gunung dewasa yang super jumbo, hingga aksi bodoh (atau heroik?) Harry yang bergelantungan di kepala Troll. Ron memerah ketika Hermione menambahkan aksinya yang mengagumkan dengan Mantra Melayang, membuat Fred dan George meledeknya habis-habisan.

Hari ini pelajaran Terbang mereka yang kedua. Setelah pelajaran pertama mereka yang lumayan kacau-Neville Longbottom mengalami patah tulang- rupanya Madam Hooch berpendapat untuk membagi mereka dalam kelompok kecil yang beranggotakan 5 orang, dan menyuruh mereka terbang berkelompok. Padma sekelompok dengan teman-teman Ravenclawnya, yaitu Mandy, Lisa, Terry, dan Anthony. Kelompok Ravenclaw tidak begitu mahir terbang, hanya segelintir dari mereka yang mampu terbang dengan baik. Dan Padma tidak termasuk dalam kelompok tersebut. Ia selalu gugup ketika menaiki sapu, membuat keseimbangannya tidak stabil. Kelompok Gryffindor yang beranggotakan Harry, Ron, Hermione, Neville, dan Dean Thomas lah yang mahir. Well, kecuali Hermione dan Neville. Mereka juga sama parahnya dengan Padma. Harry, yang telah menjabat sebagai Seeker termuda pada minggu lalu, memamerkan kemampuan terbangnya dengan sangat lihai. Ron dan Dean, walaupun tidak selihai Harry, juga mampu menimbulkan decak kagum dari teman-temannya. Kecuali kelompok Slytherin yang mencibir dengan terang-terangan, hal yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Gryffindor dan Slytherin saling benci, titik.


Hari ini Padma duduk di meja Ravenclaw, hal yang membuat teman-temannya mengernyit heran.

"Tidak biasanya kau duduk di Ravenclaw," kata Mandy.

"Yah, ini asramaku, kan?" balas Padma enteng.

"Kemana teman-teman Gryffie-mu?" Lisa bertanya.

Padma menatap mereka dengan tajam. "Apa maksudmu?"

"Yah, cuma bertanya," kata Lisa mengangkat bahu.

"Kau dicampakkan, Padma?" sela Mandy.

Padma mendelik. "Bukan urusanmu."

Mandy mendengus dan berkata, "Kau tahu mereka itu disebut dengan apa, Padma?"

Padma menatap Mandy. Ia tahu yang dimaksud 'mereka' disini adalah Harry, Ron, dan Hermione.

"Mereka itu Trio Emas Gryffindor, mereka orang-orang populer. Sebuah trio beranggotakan tiga orang, kan? Tidak mungkin sebuah Trio Emas Gryffindor menambah satu anggota Ravenclaw, kan?"

Padma memasang wajah tanpa ekspresi, mengabaikan Mandy, dan melanjutkan makannya. Kemudian ia meninggalkan Aula Besar. Hari ini dia tidak mempunyai jadwal, karena ini adalah akhir pekan. Jadi, Padma berjalan menuju Danau Hitam tanpa alasan. Hanya untuk menghindari teman-temannya.

Ia memikirkan perkataan Mandy. Trio Emas Gryffindor. Yah, mereka memang terkenal. Hermione Granger, paling jenius di angkatan. Harry Potter, sang pahlawan yang bertahan hidup. Ditambah Ron Weasley, yang terkenal dengan rambut merah dan loyalitasnya. Mereka memang trio yang hebat. Tetapi Padma tidak pernah berfikir untuk menjadi bagian dari trio tersebut. Ia hanya ingin berteman baik dengan mereka bertiga. Bukan kerena Harry Potter adalah Anak-Yang-Bertahan-Hidup, bahkan Padma baru mendapatkan kisah lengkap tentang Harry Potter pada minggu kelimanya di Hogwarts. Diceritakan dengan sangat heboh oleh Ron Weasley dan kakak-kakaknya, bahkan Hermione yang Kelahiran-Muggle pun mengetahui riwayat hidup Harry. Bukannya meremehkan Kelahiran-Muggle, tapi Padma cuma heran. Dirinya yang kelahiran penyihir saja tidak mengetahui kisah itu. Mungkin karena aku berasal dari negara yang jauh, batin Padma. Atau mungkin karena aku terlalu acuh terhadap sekitar? Padma berperang dengan batinnya.

Padma duduk di pinggir danau, membuka sepatu dan kaus kakinya, dan mencelupkan kedua kakinya ke dalam danau. Hal yang ia sesali satu detik kemudian. Tentu saja! Ini bulan November, air danau pasti sangat dingin, batin Padma kesal. Ia buru-buru memberi mantra penghangat pada kakinya, kemudian memakai kaus kaki dan sepatu. Ia beranjak dari danau dan berjalan menuju kastil. Ketika melewati pohon Birch, ia melihat Harry, Ron, dan Hermione. Trio Emas Gryffindor yang sedang bersantai di bawah pohon. Mereka tampak sedang mendiskusikan sesuatu, melihat dari banyaknya buku yang berserakan di sekitar mereka. Baguslah, setidaknya Hermione berpengaruh baik bagi mereka, batin Padma. Kemudian ia buru-buru berjalan menuju kastil, tidak ingin kelihatan.

Setibanya di kastil, Padma memutuskan untuk naik ke Ruang Rekreasi Ravenclaw. Ia berpendapat lebih baik menghabiskan akhir pekan dengan bersantai di asrama sendiri. Mungkin membaca buku atau sekedar menghangatkan diri di dekat perapian. Apa saja untuk menghilangkan pikiran tentang Trio Emas Gryffindor yang terkenal itu.


Oiya, alur cerita ini memang sengaja dibuat lambat karena saya ingin memperlihatkan sudut pandang Padma di keseluruhan cerita Harry Potter.

Silahkan review apa saja :D

Salam sihir,

Last-Heir Black