Happy Friday!
Terima kasih bagi silent reader yang telah membaca chapter 3.
Saya lihat di traffic stories, pembaca fanfiksi ini cukup banyak. Namun tidak ada yang meninggalkan jejak review.
Yasudahlah.
Selamat membaca chapter 4 ^-^
.
Harry Potter Series by J.K Rowling
Kisah Padma Patil: Si Cantik dari India by Last-Heir Black
.
Desember 1991
Butiran-butiran salju mulai melapisi kastil Hogwarts, membawa hawa dingin dan menandakan datangnya Natal. Besok, 24 Desember, Padma beserta sebagian murid Hogwarts akan pulang ke rumah masing-masing untuk menghabiskan waktu liburan Natal. Ia mendengar Hermione dan Ron juga akan pulang, entah bagaimana dengan Harry. Padma akan menanyakannya nanti.
Malam ini kastil sudah didekorasi dengan sangat indah. Pohon-pohon cemara berukuran besar yang sudah dihias sedemikian rupa diletakkan di sudut-sudut Aula. Ditambah dengan patung-patung es yang berkilau, khas Natal. Profesor Flitwick juga telah memantrai butiran salju yang berjatuhan dari langit-langit agar kembali lagi ke atas, alih-alih menjatuhi anak-anak yang sedang makan malam. Padma berjalan menuju meja Gryffindor yang masih sepi. Ia tidak melihat mereka bertiga. Hanya ada Lee Jordan dan beberapa murid kelas satu Gryffindor.
"Hai," sapa Padma, kemudian duduk di sebelah kiri Lee.
"Oh, hai Padma. Tumben sekali kau duduk disini," balas Lee.
Padma menaikkan alisnya bingung. "Benarkah? Aku menghabiskan hidupku lebih banyak di meja Gryffindor daripada di asramaku sendiri," kata Padma sambil memelototi Lee.
Lee terkekeh, "Kau absen selama tiga minggu, Choti."
"Oh, jangan kau juga." Padma mengerang.
"Tidak apa-apa. Aku memang lebih tua darimu, Padma." Lee menepuk kepala Padma.
Padma memutar bola matanya dan mengernyit heran melihat sepinya meja Gryffindor.
"Kemana sih yang lain?" tanya Padma.
"Entahlah. Harry, Ron, dan Hermione berada di perpustakaan sepanjang hari. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, membuat PR kurasa," kata Lee sambil menyuapkan sup daging ke mulutnya. "Fred dan George masih di ruang rekreasi," tambahnya.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Padma penasaran.
Mata Lee menyipit ketika memandangi Padma, seakan menilainya. Padma mengangkat alis heran.
"Kurasa kau oke," kata Lee kemudian.
Padma menelengkan kepalanya.
"Well, Fred dan George punya pekerjaan sampingan." Lee memulai.
Padma menaikkan alisnya lagi.
"Yah, dia punya beberapa barang lelucon. Dia menjualnya di Hogwarts, kau tahu," lanjutnya.
"Lalu?" tanya Padma.
"Mereka-"
"Mereka mengetesnya kepada anak-anak lain, dan membayar mereka."
Ron-lah yang menjawab pertanyaan Padma. Ia duduk di sebelah Padma, sedangkan Harry dan Hermione duduk di hadapan mereka. Padma menyapa mereka bertiga dan bertanya lagi.
"Mengetesnya? Maksudmu, barang lelucon?"
"Well, yeah," kata Ron. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke Padma-yang memekik kaget- dan berbisik, "Hermione sangat tidak setuju dengan kelakuan mereka."
Padma menghembuskan nafas lega. Ia kaget dengan sikap Ron. Bukannya berfikir macam-macam, tetapi Padma tidak pernah seperti itu sebelumnya. Ya, aku tidak berfikir macam-macam, batin Padma yang mukanya telah memerah. Tidak tahu bahwa Hermione menatapnya dengan penuh perhitungan.
Padma telah bersiap-siap pulang ke Patil Palace. Ia telah mengenakan mantel dan sepatu bot, membiarkan rambut panjangnya tergerai, dan mengenakan topi wol berwarna putih polos dengan garis-garis biru muda. Ia juga menggunakan sarung tangan berwarna biru muda dengan motif yang sama. Padma telah mengepak kopernya dan bersiap turun ke Aula Besar. Ia menoleh ke teman-teman sekamarnya.
"Aku turun duluan. Selamat Natal," kata Padma seraya keluar dari kamar, mengingat teman-temannya tidak akan repot-repot untuk membalas ucapannya.
Semenjak Mandy dan Lisa mengejeknya mengenai Trio Emas Gryffindor, Padma tidak lagi bertegur sapa dengan mereka. Kekanakan, memang. Tetapi Padma tak ambil pusing. Toh, mereka tidak mempunyai ikatan selain menjadi teman sekamar. Sedangkan Sue dan Morag, mereka tidak terlalu peduli dengan sekitar. Mereka tetap bertegur sapa dengan Padma, tetapi hanya sebatas itu.
Padma mengedarkan pandangan di Aula Besar, kemudian berjalan menuju meja Gryffindor. Ia menyapa Ron dan Harry yang sedang bermain catur sihir, kemudian duduk di sebelah Harry yang mengeluh karena lagi-lagi dikalahkan oleh Ron.
"Kau pulang, Padma?" tanya Harry.
"Yeah, begitulah," jawab Padma. "Kau tidak?" katanya lagi.
"Tidak," kata Harry muram.
Kemudian Padma mengalihkan pandangannya ke Ron yang masih bersukacita atas kemenangannya.
"Dimana kopermu?"
"Oh, aku tidak jadi pulang. Orangtuaku mengunjungi Charlie di Rumania. Jadi, yeah, aku tidak pulang," kata Ron mengangkat bahu. "Lagipula-aku harus menemani Harry," tambahnya.
Harry nyengir. Kemudian Hermione datang dan menyapa mereka bertiga.
"Wow, kau juga pulang, Padma?"
"Yeah, aku merindukan rumah," jawab Padma.
"Ngomong-ngomong, dimana rumahmu?" tanya Ron.
"Wiltshire."
Ron memekik. "Malfoy!"
Harry menoleh ke sekeliling Aula, mencari Malfoy. Sedangkan Hermione menatap Harry geli.
"Tidak ada Malfoy, Harry," kata Hermione.
Harry sudah akan membuka mulutnya untuk bertanya lagi, tetapi Hermione langsung berkata, "Malfoy juga tinggal di Wiltshire. Malfoy Manor."
Mata Harry membulat tak percaya, sedangkan Ron mengangguk.
"Kau bertetangga dengan Malfoy, eh?" tanya Ron dengan nada tak suka.
"Malfoy? Tunggu sebentar. Anak laki-laki berambut pirang platina dan berdagu runcing, anak dari Lucius Malfoy-pemilik Malfoy Corporation?" Padma berusaha menggali informasi tentang Malfoy di dalam pikirannya.
"Yeah, berapa Malfoy lagi yang kita kenal?" kata Ron tajam.
"Oh, aku tahu. Aku pernah kesana-sekali. Yeah, aku bertemu Draco Malfoy dan teman-temannya, Pansy Parkinson dan Blaise Zabini."
"Kau-kau berteman dengan mereka?" Ron histeris.
"Tidak juga. Kami saling mengenal, tetapi hanya itu. Tidak terlalu dekat, tidak seperti aku dengan kalian," Padma menerawang, kemudian melihat reaksi Ron. "Memangnya ada apa, sih?"
Ron menatap Padma tak percaya, kemudian berteriak dalam kemarahan.
"Mereka Slytherin, Padma!"
Harry dan Hermione kaget, begitu pula dengan Padma. Ia tidak menyangka akan diteriaki Ron, bahkan ia tidak tahu apa yang salah dari perkataannya.
"Kau berteman dengan musuh, Padma! Kau bahkan tinggal di wilayah yang sama dengan mereka!" kata Ron lagi.
"Ron-"
"Aku tidak-aku tidak menyangka kau seperti ini. Kupikir kau berbeda dari yang lain. Ternyata sama saja," kata Ron dingin, kemudian bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.
"Ron, kau berlebihan!" seru Hermione.
"Hey! Apa yang salah dengan semua itu?" Padma mencekal lengan Ron.
"Apa yang salah? APA YANG SALAH?! Yang salah adalah-" Ron berhenti sejenak, "-kau, Padma Patil, bergaul dengan ular-ular licik itu. Oh, aku baru menyadarinya!" Ron menepuk dahinya dan berpura-pura berpikir. "Kalian anak-anak orang kaya tentu saja saling mengenal. Masalah bisnis, kurasa?" tambahnya sambil mendengus, kemudian berjalan cepat meninggalkan Aula Besar.
Padma bergetar dalam kemarahan. Tangannya mengepal erat, membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya memanas, setitik air mata mengancam jatuh, tetapi Padma menahannya. Ia berdehem kemudian bertanya kepada Harry yang masih shock. "Kau melihat Parvati?"
"Tidak," Harry menggeleng. "Kau, Hermione?" tanyanya pada Hermione.
"Aku tidak melihatnya di kamar. Kurasa dia sudah turun duluan bersama Lavender," jawab Hermione.
"Oh, well, kurasa tidak ada lagi alasanku berada disini. Bye, guys. Selamat Natal."
Dan dengan itu Padma melenggang keluar dari Aula Besar. Meninggalkan Hermione yang menatap punggungnya, dan Harry yang merasa bersalah.
Stasiun King's Cross, Peron 9 ¾
Padma turun dari Hogwarts Express dengan raut wajah datar. Ia bertekad untuk mengubur kemarahannya di sudut hati yang paling dalam, tidak akan memperlihatkannya kepada Parvati dan kedua orangtuanya. Ia menyeret kopernya dan menyusuri peron untuk mencari orangtuanya. Ia tidak repot-repot mencari Parvati, yang tadi duduk di kompartemen lain. Memikirkan Parvati membuat amarahnya muncul lagi ke ubun-ubun, dan ia berusaha menyurutkan amarahnya dengan melakukan meditasi yang pernah dipelajarinya ketika masih kecil. Pejamkan mata, kosongkan emosi, tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, keluarkan perlahan melalui mulut. Lakukan beberapa kali dan perlahan-lahan kau akan kembali-
BRAK!
Seseorang menabrak Padma hingga membuatnya terduduk di atas kopernya sendiri. Oh, sialan! Makhluk macam apa yang mengganggu meditasiku-yang-nyaris-berhasil-ini? batin Padma kesal. Ia membuka mata dan mendapati seseorang jatuh terduduk di depannya. Anak itu sekitar tiga atau empat tahun lebih muda dari Padma, sangat cantik dengan rambut hitam ikal dan kulitnya yang kecoklatan. Tetapi mata cokelat jernihnya yang indah dipenuhi oleh air mata. Anak itu menangis sambil memunguti kaca yang berserakan dihadapannya, kemudian membungkusnya dengan kertas cokelat. Padma memutuskan untuk menghilangkan kekesalannya dan berjongkok untuk menyapa.
"Hai," sapa Padma canggung. "Mengapa kau menangis?"
Pertanyaan bodoh, Padma! Batin Padma jengkel.
Anak itu tetap saja menangis, tetapi ia mendekap erat bungkusan tersebut.
Oh, hebat! Sekarang aku malah terjebak dengan entah-anak-siapa yang sedang menangisi bungkusan-entah-apa-itu. Aku tidak berpengalaman dengan anak-anak! teriak Padma dalam hati.
"Err...boleh kulihat bungkusan itu? Mungkin aku bisa memperbaikinya," tawar Padma mencoba menghibur.
Anak itu menatap Padma dengan mata cokelat jernihnya. Menimbang apakah Padma bisa dipercaya. Kemudian ia membuka bungkusan itu dan memperlihatkan isinya kepada Padma, pecahan-pecahan kaca beserta rantai emas. Sepertinya itu sebuah liontin.
"Aku akan mencoba memperbaikinya," kata Padma sambil tersenyum.
Padma mengeluarkan tongkat sihir dari saku jubahnya dan mengarahkannya ke pecahan-pecahan kaca tersebut.
Reparo!
Pecahan-pecahan kaca tersebut beserta rantainya menyatu kembali. Sekarang terlihatlah alasan kenapa anak itu menangisi liontinnya. Liontin itu sangat indah, berwarna biru kehijauan dengan huruf Z terukir di permukannya. Dan sebuah batu safir berukuran kecil berada tepat di atas huruf tersebut. Liontin ini pastilah mahal, pikir Padma.
Anak itu mengalungkan liontin yang sudah diperbaiki Padma ke lehernya dan memeluk Padma dengan erat.
"Terima kasih banyak. Liontin ini sangat berarti bagiku," kata anak itu setelah melepaskan pelukannya.
"Sama-sama." Padma tersenyum tulus.
Anak itu masih menatap Padma, seperti hendak menanyakan sesuatu. Tetapi kemudian terdengar suara langkah kaki yang berisik dan seseorang meneriakkan nama Padma. Padma berbalik dan menemukan ayahnya tak jauh dari tempatnya berada.
"Papa!" seru Padma sambil melambaikan tangannya.
"Astaga! Disini kau rupanya,"
Padma nyengir tak bersalah. Sedangkan anak perempuan tadi menatap Shivam dengan sorot tak terbaca. Ia kemudian tersenyum kepada Padma dan berkata, "Kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat," kemudian pergi menjauh dari Padma dan Shivam.
Sementara itu Padma hanya melongo dan menatap ayahnya bingung.
"Siapa anak itu?"
"Tidak tahu," jawab Padma enteng.
Shivam mengacak rambut hitam Padma, kemudian berkata, "Ayo, kita pulang."
Pagi-pagi sekali di hari Natal, Padma terbangun dan menatap tumpukan hadiah Natal di ujung tempat tidurnya. Ia meraih kotak teratas-yang berasal dari orangtuanya- dan merobek bungkusnya. Sebuah ransel seputih salju dengan motif kupu-kupu kecil beraneka warna. Padma membuka ransel tersebut dan memekik gembira ketika melihat isinya. Sebuah sweater rajutan berwarna toska- yang terdapat huruf PP berwarna hitam di bagian tengahnya- dan topi wol yang senada dengan sweaternya, sebuah cermin persegi berukuran sedang, sebuah sisir yang gagangnya dilapisi perak dan ditaburi batu safir, serta beberapa aksesori rambut.
Kemudian ia memeriksa hadiahnya yang lain. Hermione, Lee, si kembar Weasley, dan satu lagi dari anonim. Padma penasaran dan membuka hadiah dari anonim tersebut. Isinya sebuah album foto yang kosong dan sebuah surat. Padma membuka lipatan surat tersebut dan membacanya.
Selamat Hari Natal, Padma Patil!
Kuharap kau menyukai hadiahku. Aku sengaja membiarkan albumnya kosong, agar kau bisa mengisinya sendiri. Isilah dengan kenanganmu yang paling berkesan. Sekali lagi, Selamat Natal.
-anonim
Padma mengernyit heran. Dia bertanya-tanya siapa gerangan yang mengirimkannya hadiah tanpa menyebutkan identitasnya? Padma mengangkat bahu dan membuka hadiahnya yang lain. Hermione memberinya buku Ensiklopedi Mantra. Lee Jordan memberinya sebuah kue cokelat yang ditaburi kacang almond. Dari surat yang dibaca Padma, Lee mengatakan bahwa ia membuat kue itu sendiri. Padma tersenyum kecil melihat usaha Lee untuk memberinya kado Natal. Dan hadiah terakhir, yang berisi sekotak barang lelucon dikirim oleh si kembar Weasley.
Padma turun dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Kemudian ia menuruni tangga menuju dapur. Ia melihat Shivam dan Priya sudah berada disana. Shivam sedang membaca Daily Prophet, sedangkan Priya sibuk memasak makanan.
"Hai, Papa, Mām̐," sapa Padma sambil duduk di meja makan.
"Ah, sudah bangun rupanya," senyum terkembang di wajah Shivam. "Selamat Natal, Nak. Kau suka hadiah dari kami?" tambahnya.
"Suka sekali!" kata Padma girang. "Tetapi, tidakkah itu terlalu mewah, Papa? Maksudku, sisirnya." Padma menatap Shivam waswas.
"Ah, biar saja," kata Shivam enteng.
"Tahu tidak, ayahmu membuat jengkel goblin Gringotts karena sisir itu," kata Priya sambil tertawa, yang membuat Shivam cemberut.
"Memangnya kenapa, Mām̐?" tanya Padma penasaran.
"Ingat tidak, pertama kali kita ke Diagon Alley dan Papa harus pergi karena ada keperluan?"
"Ya, aku ingat."
"Nah, pada hari itulah ayahmu meminta goblin untuk membuatkan dua buah sisir, untuk kau dan Parvati. Ayahmu mengira kalian berdua akan masuk ke asrama Gryffindor, maka dia meminta gagangnya ditaburi batu rubi," kata Priya berhenti sebentar. "Ternyata kau diseleksi ke Ravenclaw, dan ayahmu meminta batu-batu rubi itu diganti dengan batu safir. Agar sesuai dengan warna asramamu," tambah Priya sambil tertawa.
"Astaga, Papa!" Padma tertawa kemudian memeluk Shivam dan berkata, "Terima kasih banyak."
"Tidak masalah," kata Shivam. "Ngomong-ngomong, dimana Parvati?" tanya Shivam sambil memandang berkeliling.
"Belum bangun, sepertinya," kata Padma agak ketus. Kekesalannya pada Parvati belum mereda.
Shivam mengetahui nada ketus Padma, dan mengangkat alisnya meminta penjelasan. Padma menghela nafas dan berkata, "Aku akan melihatnya di kamar." Kemudian ia menaiki tangga menuju kamar Parvati.
Lantai atas berbentuk setengah lingkaran. Hanya ada dua kamar, yaitu kamar Padma dan Parvati yang masing-masing terletak di ujung ruangan. Dan ada satu ruangan luas di antara kedua kamar tersebut. Ruangan itu ditutupi dengan gorden berwarna merah dan emas. Terdapat dua buah tangga di masing-masing kamar untuk menuju ke bawah. Padma berjalan menuju kamar yang pintunya ditempeli kertas hias berwarna pink dengan tulisan 'Parvati's Palace'. Padma mendengus membaca tulisan itu kemudian membuka pintu kamar, alih-alih mengetuknya terlebih dahulu. Ia melihat Parvati masih bergelung di tempat tidurnya.
"Parvati, bangun!" Padma mengguncang-guncang tubuh Parvati.
"Demi Merlin, Padma! Bisa tidak membangunkanku dengan cara biasa saja?" gerutu Parvati.
"Maksudmu dengan air?" kata Padma iseng.
"Terserahlah. Ngomong-ngomong, Selamat Natal," kata Parvati sambil tersenyum.
"Selamat Natal juga." Padma balas tersenyum. "Mām̐ dan Papa sudah menunggu di bawah. Cepatlah, bersihkan dirimu." Padma mendorong Parvati ke kamar mandi.
Padma menoleh ke kamar yang didominasi oleh warna pink tersebut. Parvati memang tergila-gila pada warna pink dan warna-warna nyentrik lainnya. Mulai dari pink pucat, jingga, neon pink, hingga pink tua dijadikan sebagai dekorasi ruangannya. Agak silau sebenarnya bagi Padma yang menyukai warna-warna kalem. Kamar Padma sendiri didominasi dengan warna biru yang menenangkan.
Parvati keluar dari kamar mandi dan mengajak Padma turun ke bawah. Mereka menuruni tangga dan berjalan menuju dapur, dimana orangtua mereka telah menunggu di meja makan. Aroma khas rempah-rempah memenuhi indra penciuman kedua saudari tersebut.
"Chicken Tandoori!" teriak Padma kegirangan sambil menghampiri meja makan. Parvati memutar bola mata melihat tingkah adik kembarnya, dan menduduki kursi di sebelah Priya.
"Selamat makan," kata Shivam kemudian.
Suara dentingan pisau dan garpu memenuhi ruangan tersebut. Ditambah dengan suara tawa dan canda dari keluarga kecil itu.
"Oh, Chicken Tandoori, aku merindukanmu," kata Padma menatap piringnya yang berisi Chicken Tandoori. Ayam yang direndam dalam bumbu dan yoghurt, kemudian dipanggang di dalam tandoor, alat pemanggang tradisional yang terbuat dari tanah liat.
"Biasa saja, Padma," sahut Parvati sambil memutar bola matanya.
Padma mengerang, kemudian berkata, "Kau dan aku sama-sama tahu bahwa Hogwarts tidak menyediakan menu ini."
"Yeah, aku tahu."
"Kalau begitu kau tidak boleh memakan ayam ini!" Padma kemudian menyeret sepiring Chicken Tandoori ke arahnya dan menjauhkannya dari jangkauan Parvati.
"Hei, tidak adil!" seru Parvati cemberut, sedangkan Padma tertawa terbahak-bahak.
"Sudahlah, jangan bertengkar," kata Priya menenangkan.
Hari sudah malam. Padma berjalan menuju kamarnya dan berencana untuk tidur. Seharian tadi ia dan Parvati memasak bersama Priya. Mereka membuat cemilan khas India, yaitu Vada, Samosa, dan Kulfi. Vada adalah cemilan berbentuk seperti donat yang terbuat dari adonan tepung terigu dan biji lentil yang digoreng, makanan ini tidak mempunyai rasa manis, tidak seperti donat kebanyakan. Kemudian ada Samosa-cemilan yang terbuat dari kentang, bawang, kacang, dan daging yang sudah dibumbui- yang berbentuk seperti martabak telur. Sedangkan Kulfi adalah es krim tradisional dari India. Es krim ini terbuat dari susu yang diolah dengan waktu yang lama. Ada beragam rasa, yaitu ada rasa mawar, safron, dan mangga.
Padma naik ke ranjangnya ketika ia menyadari seekor burung hantu berwarna seputih salju bertengger di ambang jendelanya. Padma mengenali burung hantu itu. Itu Hedwig, burung hantu milik Harry Potter. Ia mendekati Hedwig yang menjulurkan kakinya, rupanya Hedwig membawa sebuah kotak yang dilapisi dengan kertas hias. Padma melepaskan kotak itu dari kaki Hedwig, kemudian memberinya sekeping biskuit. Hedwig pun terbang membelah langit malam. Setelah titik putih itu menghilang dari pandangan, Padma menaiki ranjangnya dan membuka kotak tersebut. Sekotak Cokelat Kodok beserta selembar surat. Padma mengambil surat itu dan membacanya.
Dear Padma,
Aku minta maaf atas sikap Ron kemarin. Aku tidak tahu apa yang salah dengan semua itu, dan Ron tidak mau memberitahuku. Kuharap kau tidak terlalu marah karena sikapnya yang –ehm- memang tidak sopan kemarin.
Aku minta maaf atas hadiah Natal yang telat. Semoga kau suka hadiahnya, dan Selamat Natal. Aku merindukanmu di meja Gryffindor.
-Harry P
Seulas senyum bermain di bibir Padma. Ia senang dengan sikap Harry yang membuatnya tersanjung.
"Ah, andaikan Ron bersikap baik sepertimu, Harry." Padma berbisik lirih.
Kemudian Padma teringat kata-kata Ron yang menyakitkan hatinya. Ia berdecak kesal dan naik ke tempat tidurnya, berusaha menghilangkan suara-suara marah Ron. Ia kemudian berbaring dan memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Tak lama kemudian, ia sudah terlelap mengarungi dunia mimpi. Mimpinya dipenuhi dengan kenangan-kenangan bahagianya ketika masih berada di India. Berkumpul dengan keluarga besarnya di taman belakang rumah. Orang-orang tua duduk di bangku taman sambil memperhatikan anak dan cucu mereka bermain di taman. Padma dan Parvati, bersama para sepupu duduk melingkar di taman, bermain tebak-tebakan.
"Coba tebak, dimana aku menyembunyikan batunya?" kata Parvati sambil mengulurkan kedua tangannya yang terkepal.
"Kanan!" seru Padma.
"Kau benar, Choti. Sekarang giliranmu."
Padma berpikir sebentar, kemudian tersenyum lebar. "Coba tebak, apa warna kesukaanku?"
Padma mengedarkan pandangannya kepada Parvati dan para sepupu.
"Itu sih sudah jelas. Biru, kan?" kata Parvati.
"Salah," balas Padma mencibir.
"Merah!" kata salah satu sepupu perempuan Padma yang rambutnya dikepang dua.
"Masih salah,"
"Kuning!"
"Emas!"
"Salah, salah." Padma terkikik geli.
"Toska!"
"Yap, benar!"
Padma menoleh ke asal suara tadi. Dan ia terkejut melihat warna merah menyala di antara lautan warna hitam. Ia memekik pelan. Ia mengenali pemilik rambut merah itu. Siapa lagi kalau bukan Ron Weasley? Ia melihat Ron nyengir dan melambaikan tangan kepada Padma yang masih shock.
Padma terbangun dari tidurnya. Ia menoleh ke sekelilingnya dan menghembuskan nafas lega.
"Aku berada di Inggris, bukan di India. Dan Ron Weasley tidak pernah datang ke rumahku." Padma bergumam, menenangkan pikirannya.
Ia berusaha untuk tidur lagi, tetapi ia tidak bisa. Ia menatapi langit-langit kamarnya, seakan-akan berusaha untuk melubangi langit-langit tersebut. Padma berguling ke kiri dan mendesah pelan. "Demi Merlin! Bagaimana bisa aku memimpikan cowok menyebalkan itu?"
Januari 1992
Liburan telah usai, waktunya kembali ke Hogwarts! Padma beserta Parvati dan orangtuanya berjalan membelah kerumunan di peron 9 ¾. Waktu keberangkatan tinggal 3 menit lagi. Ia dan Parvati langsung menaiki kereta setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Shivam dan Priya. Padma dan Parvati melongokkan kepala dari jendela yang terbuka, dan melambaikan tangan kepada orangtua mereka. Padma tidak menyadari bahwa sepasang mata cokelat jernih mengamati dirinya dari peron.
Makan malam tetap lezat seperti biasanya. Sayang sekali tidak ada Chicken Tandoori disini, keluh Padma. Malam ini Padma duduk di meja Ravenclaw. Ron masih marah padanya dan Padma juga jengkel dengan sikap Ron. Ia menusuk ayam panggangnya dengan kekuatan yang berlebihan, membuat ayamnya tergelincir ke pinggiran piring. Padma menghabiskan ayamnya kemudian mengambil puding vanilla. Ia memotong-motong puding tersebut dengan rapi, kemudian menuang susu di atasnya. Ia memakan puding itu dengan lahap. Padma memang menyukai puding vanilla buatan Hogwarts. Menurutnya puding itu sangat enak dan ia merasa bisa menghabiskan puding itu sebanyak-banyaknya.
Aula Besar masih dipenuhi dengan suara dentingan logam dan celotehan murid-murid Hogwarts. Padma sedang mengobrol seru dengan Terry Boot-yang kebetulan juga menyukai puding vanilla- mengenai lezatnya puding buatan Hogwarts tersebut. Kemudian seseorang menepuk bahu Padma-yang merasa jengkel karena sedang mengobrol- dan dengan enggan Padma berbalik melihat orang yang menepuk pundaknya itu. Ia kaget melihat kepala berambut merah menyala berdiri di hadapannya sambil menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.
"Ron?"
Yap, sekian dulu untuk chapter 4.
Semoga kali ini pembaca meninggalkan komentarnya.
Silahkan review apa saja. Mau kritik, saran, atau apa saja yang pembaca rasakan ketika membaca cerita ini.
Salam sihir,
Last-Heir Black
