Haihai!
Terima kasih telah membaca dan mereview chapter 4.
Adelaide Raverin: Iya yaa. Mungkin reader agak aneh juga melihat pair ini xD Ngomong2 pair mainstream, sekarang ini saya juga coba-coba bikin pair Dramione. Tapi masih belum rampung sih '-'
Guest: Tetap pantengin fic ini yaa. Nanti bakalan terkuak kok '-'
Anyway, selamat membaca chapter 5!
.
Harry Potter Series by J.K Rowling
Kisah Padma Patil: Si Cantik dari India by Last-Heir Black
.
"Ron?" kata Padma sambil menatap Ron. Seketika rasa jengkel menghampirinya karena Ron masih diam.
"Ayo kita ke asrama, Terry," ajak Padma sambil beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Terry Boot yang kebingungan. Mereka berjalan menaiki tangga ke lantai tujuh, meninggalkan Ron yang masih berdiri di meja Ravenclaw.
"Hei, ada apa?" kata Terry ketika mereka menaiki tangga.
"Aku benci dia," sahut Padma datar.
Terry berhenti di sebelah lukisan wanita yang memakai gaun abad pertengahan yang sangat cantik, di lantai dua. Ia menoleh ke Padma dan berkata, "Dia mau berbicara denganmu, lho,"
"Aku tahu, tapi aku tidak mau mendengarkan."
"Ada masalah apa, jika aku boleh tahu?"
Padma mendesah pelan. "Dia tidak suka aku bergaul dengan anak-anak Slytherin."
"Benarkah? Kau...bergaul dengan anak-anak Slytherin?" Terry membelalak.
Padma menatap tajam Terry. "Jangan bilang kau juga mau memarahiku."
"Oh, tidak, tidak. Aku tidak akan memarahimu karena hal itu. Kupikir...keren saja seorang Slytherin mau bergaul dengan anak-anak dari asrama lain."
Tatapan Padma melembut kembali. "Memangnya ada apa sih dengan Slytherin? Kenapa orang-orang selalu saja menjelek-jelekkan asrama itu?"
Terry menoleh ke sekelilingnya dengan waswas. Kemudian ia mengajak Padma untuk menaiki tangga menuju lantai tujuh.
"Sebaiknya kita tidak bicarakan itu disini. Ayo!" ajak Terry sambil menggandeng tangan Padma.
Padma menurut dan menaiki tangga bersama Terry yang masih menggandeng tangannya. Tiba-tiba tangga bergeser ke koridor lain. Genggaman Terry makin erat, sementara sorot matanya bingung. Dia menoleh ke Padma dan mendapati bahwa Padma juga kebingungan. Kemudian Padma menepuk dahinya dan menatap horor Terry, sebuah kesimpulan mengerikan terbentuk di benaknya.
"Koridor terlarang!" seru mereka berbarengan. Dan tidak lama kemudian, suara desisan kucing terdengar di belakang mereka.
"Kucingnya Filch! Ayo lari!
Mereka pun berlarian di sepanjang koridor lantai tiga yang terlarang itu. Terry melihat sebuah pintu, dan ia segera melafalkan 'Alohomora'. Ia memasuki pintu itu bersama Padma dan cepat-cepat menggerendelnya. Nafas mereka tersengal karena berlarian. Kemudian mereka mendengar suara dengkuran yang agak tak wajar. Mereka berbalik dan terpaku melihat pemandangan yang membuat mereka lupa bernafas.
Seekor anjing raksasa berkepala tiga yang sedang ngiler. Terry memberi isyarat untuk tetap diam, selagi hembusan nafas anjing itu menyapu tubuh mereka, membuat jubah mereka lembab dan...bau. Padma membuka gerendel pintu dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan bunyi. Setelah ia dan Terry keluar dari ruangan tersebut, Padma membanting pintu dan menguncinya. Setelah itu ia berlari kencang, diikuti oleh Terry, menuju lantai tujuh.
Mereka telah sampai di patung elang yang akan membukakan jalan bagi mereka untuk memasuki Ruang Rekreasi Ravenclaw. Terry mengetuk elang tersebut, dan si elang pun menyebutkan teka-tekinya.
"Kemanakah perginya barang-barang yang hilang?"
"Ke ketiadaan," jawab Terry.
Pintu membuka dan mereka pun masuk ke dalam.
"Kita tidak akan bilang siapa-siapa," kata Terry ketika mereka duduk di sofa di sebelah rak buku.
"Setuju." Padma mengangguk sambil duduk di sebelah Terry. "Untuk apa sih sekolah memelihara anjing neraka itu?" lanjutnya.
"Entahlah, sepertinya mereka menjaga sesuatu." Terry menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Ah!" seru Padma. Terry memandang Padma dengan bingung. Kemudian Padma berkata, "Ingat tidak, Professor Dumbledore memberi kita peringatan saat awal tahun ajaran? Peringatan tentang koridor terlarang? Pasti ada yang disembunyikan disana!"
Terry mengernyit. "Ya, aku ingat. Tapi pertanyaannya adalah, hal penting apa yang disimpan disana sehingga memerlukan penjagaan dari anjing neraka?"
"Aku...entahlah. Aku sama sekali tidak tahu," gumam Padma. Kemudian gadis berdarah India itu menatap Terry dan berkata, "Lupakan anjing neraka dan masalahnya. Sekarang jelaskan padaku mengenai hal tadi."
"Hal tadi?" tanya Terry bingung. "Oh, yeah, Slytherin."
Terry pun menceritakan semua hal yang ingin diketahui Padma. Tentang bagaimana permusuhan antara Slytherin dan Gryffindor yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Dan bagaimana mereka hanya berteman dengan sesama Slytherin yang berdarah murni.
"Aku tidak tahu para Slytherin sekolot itu," kata Padma kemudian.
"Yeah, begitulah. Pantas saja Ron Weasley marah padamu. Weasley dan Malfoy itu bermusuhan, padahal mereka sama-sama Darah Murni. Rasa benci Lucius Malfoy kepada Arthur Weasley sama besarnya dengan rasa sayang Professor Snape kepada rambut berminyaknya," kata Terry.
Tawa mereka pun meledak di ruangan tersebut. Mandy dan Lisa yang baru memasuki ruang rekreasi menatap Padma dengan pandangan tak suka. Padma menangkap pandangan mereka, dan memutar bola matanya bosan.
Padma mengobrol dengan Terry hingga larut malam. Mereka mengira-ngira benda apakah yang disimpan di bawah penjagaan anjing neraka tersebut. Ketika Padma menguap berkali-kali dan tak ada satupun tebakan mereka yang masuk akal mengenai hal itu, barulah mereka pergi ke kamar masing-masing.
Padma masuk ke kamar anak-anak perempuan, mengganti seragamnya dengan piyama, dan mencuci muka serta menggosok gigi ke kamar mandi. Ia tidak mengetahui bahwa Mandy menatapnya tajam sejak ia memasuki kamar.
"Jangan pura-pura bahwa kau tidak melihatku, Padma!" kata Mandy, mengagetkan Padma yang sedang menguraikan kepangan rambutnya.
"Demi Merlin! Jangan mengagetkanku!"
Mandy mengabaikan kata-kata Padma. "Katakan padaku, apa yang kau lakukan bersama Terry? Kalian menghilang ketika makan malam bahkan belum selesai. Aku melihatmu menggandeng Terry tadi."
Padma menatap Mandy dengan tatapan datar. "Ngobrol," jawabnya singkat.
"Jangan berbohong kepadaku! Aku punya kemampuan untuk mendeteksi kebohongan!"
Padma menggertakkan giginya dan berkata, "Baiklah! Aku meggandeng Terry ke Menara Astronomi, dan kami berciuman! Setelah itu kami kembali ke Ruang Rekreasi untuk bermesraan hingga tengah malam. Puas?"
Mata Mandy membulat tak percaya, ia menatap horor Padma dan mulutnya megap-megap seperti orang terkena gangguan pernapasan.
"Benarkah?" kata Lisa yang tadinya berbaring, sekarang duduk tegak di tempat tidurnya.
"K-kau!" gagap Mandy sambil menunjuk Padma.
Padma mengerang frustasi dan menghempaskan badannya di tempat tidur. "Argh! Kalian ini bodoh atau apa? Tentu saja aku tidak melakukan hal itu! Aku dan Terry tidak ke Menara Astronomi, tidak berciuman, dan tidak bermesraan! Demi Tuhan! Aku masih sebelas tahun! Aku belum sepantasnya melakukan hal-hal romantis seperti itu!"
"Aku tidak peduli. Banyak anak-anak sebelas tahun yang sudah berciuman di zaman ini. Jangan sok suci deh, Patil!"
"Salah satunya kau, kan, Mandy? Maaf saja, aku tidak seperti dirimu yang dewasa karbitan. Aku ini masih sebelas tahun, dan aku bertindak seperti anak usia sebelas tahun."
Muka Mandy memerah dan ia mengepalkan tangannya. Sementara Lisa hanya melongo menatap perseteruan teman sekamarnya. Sue dan Morag? Jangan tanya, mereka masih membaca di Ruang Rekreasi.
"Berani-beraninya kau membohongiku!"
"Demi jenggot panjang Dumbledore! Tolong digunakan, deh, pendeteksi kebohonganmu itu." Padma mendengus.
"Lalu apa yang kau lakukan bersama Terry, kalau begitu?" tanya Mandy.
"Kami hanya mengobrol," balas Padma singkat.
"Mengobrol tentang apa?" tanya Mandy lagi.
Padma menatap tajam Mandy dan berkata, "Aku takut otakmu tidak bisa memproses apa yang akan kukatakan. Aku mau tidur, jangan ganggu aku dengan pertanyaan-pertanyaan bodohmu, Mandy. Selamat malam."
Padma berbaring memunggungi Mandy dan Lisa, mengabaikan mereka berdua. Ia sudah bosan mendengar pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal dari Mandy. Apa hak Mandy menanyainya tentang Terry? Apa mungkin Mandy menyukai Terry? Pikiran ini membuat Padma ingin tertawa terbahak-bahak. Mandy menyukai Terry? Are you kidding me?
Februari 1992
Kehidupan Padma berjalan seperti seharusnya. Sekolah dan segala tetek bengeknya, mengobrol bersama teman, dan melakukan aktivitas biasa. Semuanya berjalan lancar dan agak membosankan bagi Padma. Beberapa hari ini ia terlihat uring-uringan. Ia masih belum bertegur sapa dengan Ron, hal yang membuat Harry meringis jika mereka kebetulan bertemu. Sementara Mandy dan Lisa selalu menatapnya dengan pandangan menyelidik. Tetapi sejak memasuki minggu kedua di bulan Februari, ada hal-hal yang tak terduga yang dialami Padma.
"Aku mulai bosan dengan rutinitas ini," ujar Padma pada hari Sabtu yang cerah. Ia dan Terry memutuskan untuk bersantai di pinggir Danau Hitam.
"Benarkah?" balas Terry dengan pandangan tertarik.
"Ya," jawab Padma singkat. "Aku bosan dengan hal yang itu-itu saja. Masuk kelas, mengerjakan PR, makan, dll. Aku butuh hal yang baru. Aku butuh pengalih perhatian," tambahnya sambil menghela nafas.
Terry tertawa, yang langsung dipelototi oleh Padma.
"Tidak ada yang lucu," kata Padma.
"Ada!" tukas Terry masih tetap tertawa.
Padma memutar bola matanya dan menoleh ke sekitar. Ia melihat trio yang tidak ingin dilihatnya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Trio Emas Gryffindor? Mereka sedang berbicara serius di bawah naungan pohon Birch. Entah apa yang mereka bicarakan, Padma tidak tahu. Mereka terlihat cemas, kemudian beranjak dari pohon tersebut dan berjalan cepat ke arah Padma dan Terry duduk. Padma buru-buru mengalasi kepalanya dengan sweater, untuk menyembunyikan wajahnya.
"Menurutmu siapa orang yang kebetulan membawa telur naga tepat ketika Hagrid ingin sekali memelihara makhluk itu?" tanya Ron mengernyitkan kening.
"Pelankan suaramu, Ron!" Hermione terlihat cemas. "Yang jelas orang itu tahu mengenai Fluffy dan tahu cara melewatinya," lanjutnya.
"Sudahlah. Ayo kita temui Hagrid!" Harry melerai.
Padma mengikuti pembicaraan trio itu, dan ia sama sekali tidak mengetahui apa maksud mereka. Hagrid ingin memelihara naga dan ada orang yang memberinya telur naga? Dan siapa itu Fluffy? Padma bertanya-tanya dalam hati, mengabaikan Terry yang menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Hei!" seru Terry sambil menarik sweater dari kepala Padma.
"Eh, apa?" Padma kebingungan.
Terry menatap Padma jengkel. "Kau kenapa, sih, menutupi wajahmu?"
"Aku...entahlah. Aku hanya tidak ingin mereka melihatku."
Terry mengerang pelan dan berbaring di atas rerumputan yang tebal. Ia menatapi langit yang bersih, tanpa awan. Kemudian, mendadak ia duduk dan menatap Padma dengan mata melebar.
"Kau pasti menguping pembicaraan mereka, ya?" tuduh Terry.
"Well...yeah. Aku sebenarnya tidak bermaksud menguping. Tapi mau bagaimana lagi, mereka mengobrol terlalu keras, sih," bantah Padma.
Terry mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk. "Bagaimana kalau kita cari tahu siapa itu Fluffy?" katanya sambil nyengir.
"Kau juga menguping!" seru Padma.
"Habis...mereka mengobrol terlalu keras, sih." Terry mengulang perkataan Padma.
Padma memutar bola matanya malas, kemudian merebahkan dirinya di atas rerumputan, sama seperti yang dilakukan Terry sebelumnya.
"Nanti saja, aku mau tidur dulu. Diri ini sudah lelah," ujar Padma dramatis.
"Drama queen."
Pagi ini Padma turun ke Aula Besar dengan bersemangat. Tak ada alasan khusus selain musim semi telah datang. Bagi Padma, indah dan hangat adalah kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan musim semi. Bumi seperti terlahir kembali dengan dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran, dan binatang-binatang yang keluar dari sarangnya untuk menikmati keindahan dan kehangatan musim semi.
Padma baru sampai di pintu Aula Besar, ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Lee?" tanya Padma terkejut.
"Senang bertemu denganmu juga," balas Lee dengan cengiran.
"Kau mengagetkanku, tahu!" seru Padma sambil bersidekap.
"Maaf. Ayo masuk," ajak Lee.
Mereka berjalan menembus kerumunan anak-anak yang berlalu lalang di Aula Besar. Padma hendak berbelok ke meja Ravenclaw, tetapi Lee membawanya menuju meja Gryffindor.
"Kau harus mengisi daftar hadirmu di meja Gryffindor," kata Lee sambil duduk di sebelah Padma.
Padma diam dan menundukkan kepalanya, namun masih bisa terlihat bahwa raut wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan. Kakinya bergerak-gerak gelisah di bawah meja.
"Ada masalah apa?" tanya Lee.
Gadis India tersebut hanya menggelengkan kepala.
"Hei," ujar Lee sambil memegang pundak Padma, berusaha agar gadis itu mau menatapnya. "Kau punya aku untuk tempat bercerita," lanjutnya.
Padma baru akan mengatakan sesuatu ketika seseorang menyerukan namanya. Terry berlari menuju meja Gryffindor, dan berhenti tepat di depan Padma dengan nafas tersengal dan kegembiraan yang terpancar dari raut wajahnya. Rupanya ialah yang memanggilnya tadi.
"Ada apa?" tanya Padma heran.
"Aku tahu! Aku sudah tahu!"
Padma mengernyitkan keningnya heran. Apa yang sudah diketahui Terry, yang membuatnya gembira seperti ini? Kemudian gambaran tentang anjing-berkepala-tiga berkelebat di benaknya. Ia menatap Terry, meminta konfirmasi. Terry mengangguk dan menggandeng tangan Padma, mengajaknya pergi.
"Aku pergi dulu," kata Padma pada Lee yang sedari tadi hanya menonton mereka.
"Ingat apa yang kukatakan tadi!"
Terry mengajak Padma ke perpustakaan. Ia menunjuk sebuah halaman, lalu menyuruh Padma membacanya. Padma menarik buku itu ke hadapannya dan mulai membaca. Baris demi baris hingga ia telah sampai pada akhir bacaan tersebut. Ia menatap Terry dengan pandangan menuntut penjelasan.
Terry duduk di sebelah Padma dan memasang wajah serius.
"Aku mendengar mereka membicarakan Nicolas Flamel,"
"Kau menguping lagi?" tuntut Padma.
"Aku penasaran." Terry membela diri. "Lalu mencari tahu siapa itu Nicolas Flamel. Dan seperti yang kita ketahui saat ini, ternyata Nicolas Flamel adalah pembuat..."
"...Batu Bertuah. Itulah yang dijaga oleh anjing neraka itu. Siapa namanya? Fluffy?" sambung Padma.
"Tepat sekali. Batu yang bisa membuat apapun yang disentuh menjadi emas dan membuat pemakainya abadi,"
"Yep. Tetapi...siapa yang mengincar batu tersebut?"
"Tidak tahu," kata Terry jujur.
"Mungkinkah...kau tahu...Vol-?" Padma menduga-duga.
"Tidak, tidak. Buka dia," potong Terry. "Dia sudah mati, lenyap dari permukaan bumi ini," lanjutnya.
"Baiklah. Lalu siapa?"
"Bisa siapa saja, kan?"
"Professor Snape?"
"Tidak mungkin,"
"Pelahap Maut?"
"Kurasa tidak. Mereka tidak akan bisa memasuki Hogwarts,"
"Pasti orang dalam,"
"Kemungkinan besar..."
Mereka berdua terdiam, masih memikirkan berbagai macam kemungkinan. Siapa yang menginginkan Batu Bertuah? Jika memang bukan Pelahap Maut, lalu siapa? Padma masih bertanya-tanya ketika perutnya berbunyi, menginterupsi kegiatan berpikirnya.
"Eh..." ujar Padma sambil memegangi perutnya, wajahnya memerah malu.
"Astaga, aku lupa kau belum sarapan. Ini, aku sempat mengantongi beberapa potong roti sebelum menyeretmu pergi," kata Terry menyodorkan roti.
"Tapi..."
"Makanan..." ujar suara di belakang mereka. "...tidak diizinkan untuk dibawa ke perpustakaan. Keluar!"
Padma dan Terry keluar dari perpustakaan dengan muka merah menahan tawa. Setelah berada jauh dari perpustakaan, mereka tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka berhenti ketika melihat tiga orang Slytherin berada di depan mereka.
"Padma Patil," sapa anak laki-laki berambut pirang platina dan berdagu runcing.
"Draco Malfoy," balas Padma. Kemudian ia memandangi orang yang mengapit Draco. "Zabini dan Parkinson, jika aku tidak salah."
"Kau benar, aku Blaise Zabini dan dia Pansy Parkinson. Kita pernah bertemu di Malfoy Manor," kata anak laki-laki yang berkulit dan bermata cokelat yang terasa familiar.
'Mata cokelat yang sama dengan kepunyaan anak yang menabrakku di peron!' batin Padma.
Padma masih menatapi Blaise dengan tatapan menyelidik.
"Well, sampai jumpa," kata Draco, dan mereka bertiga pun berlalu.
Padma masih menatapi punggung Blaise. Apakah Blaise ada hubungannya dengan anak perempuan itu? Mata cokelat dan rambut hitam...liontin berlambangkan huruf Z! Pastilah mereka masih berhubungan darah.
"Hei!" Terry melambaikan tangannya di depan wajah Padma.
"Eh, apa?"
"Kau melamunkan apa, sih?"
"Tidak, tidak apa-apa. Ayo ke Danau," ajak Padma.
Terry mengangkat bahu dan mereka berjalan menuju Danau Hitam. Mereka duduk di pinggir danau, seperti yang biasa mereka lakukan. Namun, kali ini sambil mencelupkan kaki ke dalam danau. Merasakan sejuknya air di kaki mereka, sambil memakan roti.
Mereka masih membahas Nicolas Flamel dan Batu Bertuah. Penasaran akan siapa yang menginginkan batu itu. Padma mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendapati Harry, Ron, dan Hermione berada tak jauh dari mereka, sepertinya juga sedang berdiskusi.
"Berani taruhan, pasti mereka mendiskusikan masalah ini," bisik Padma sambil mengarahkan pandangan ke arah trio tersebut.
Terry mengikuti arah pandang Padma. "Sepertinya..." katanya pelan. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Padma. "Bagaimana kalau kita mendiskusikan masalah ini dengan mereka?" lanjut Terry.
Padma memikirkan perkataan Terry. Berdiskusi dengan Trio Gryffindor? Entahlah, apa itu ide yang baik?
"Entahlah, Terry. Aku tidak tahu,"
Padma kembali memandangi Trio Gryffindor itu. Tak disangka sepasang mata biru memandangnya sekilas, sebelum kembali memandangi kedua temannya.
Seminggu setelah Padma dan Terry mengetahui keberadaan Batu Bertuah, Trio Gryffindor mendatangi mereka di meja Ravenclaw pada jam makan siang.
"Hai, Padma," sapa Harry dengan cengiran khasnya.
"Hai, kalian," balas Padma.
"Kami perlu berbicara denganmu sebentar." Ron berbisik. "Kau juga, Boot," lanjutnya.
Padma dan Terry saling berpandangan, kemudian sebuah pemahaman terbentuk. Mereka mengangguk kepada Trio Gryffindor, dan berjalan keluar dari Aula Besar.
"Aku tahu kalian ingin membicarakan Batu Bertuah," kata Terry ketika mereka berada di tempat yang sepi tak jauh dari Danau Hitam.
"Kau benar, Boot..."
"Terry. Panggil aku Terry,"
"Baiklah, Terry, kau benar. Kami memang ingin membicarakan masalah itu," kata Hermione mengangguk.
Hening sejenak. "Lalu, apa tepatnya yang harus kita bicarakan?" tanya Padma memandangi teman-temannya.
"Orang yang mengincar batu itu," jawab Ron, berusaha melakukan kontak mata dengan Padma.
Padma menatap Terry, dan berkata, "Kami berasumsi orang yang mengincar batu itu adalah orang yang berada dalam lingkungan Hogwarts."
"Ya. Dan kami berasumsi Professor Snape-lah orangnya," kata Harry.
"Apa?!" kata Padma dan Terry bersamaan.
"Tidak mungkin!" sanggah Terry.
"Dengar, aku tahu ini mengejutkan. Tetapi tingkah Snape sangat mencurigakan," kata Harry.
Harry pun menceritakan bagaimana ia berkeliaran di Seksi Terlarang untuk mencari informasi mengenai Nicolas Flamel. Bagaimana ia hampir tertangkap oleh Filch, dan menguping pembicaraan antara Professor Snape dengan Professor Quirell.
"Snape mengancam Quirell mengenai kesetiaannya. Dan ia mengatakan bahwa ia tidak mau memusuhi Quirell. Snape menghasutnya agar mau membantunya mencuri batu tersebut." Harry berhenti sejenak, melihat reaksi Padma dan Terry.
"Batu itu pasti dijaga dengan ketat oleh Dumbledore," kata Terry.
"Benar. Professor Dumbledore tidak akan membiarkan siapapun menembus pertahanannya. Kalau memang benar Professor Snape mengincar batu tersebut, pastilah akan diberi pertahanan yang akan sulit diterobos. Kita sama-sama tahu bahwa Kepala Sekolah kita penyihir yang hebat," tambah Padma.
"Masalahnya...Snape merupakan salah satu Professor yang turut andil dalam membuat pertahanan tersebut," kata Harry pelan.
Dagu Padma dan Terry tidak berada di tempatnya lagi.
"Aku masih tidak yakin Professor Snape yang mengincar batu itu," ujar Padma kepada Terry saat makan malam.
"Lalu siapa? Sepertinya hanya dia yang memungkinkan,"
"Entahlah, mungkin Kau-Tahu-Siapa?"
Terry mendesah. "Tidak mungkin. Dia sudah musnah, Padma, Harry sendiri yang memusnahkannya,"
"Tapi..."
"Sudahlah, Padma. Jangan ngawur, habiskan saja makan malammu." Terry memotong ucapan Padma.
Padma menatap Terry kesal, kemudian melanjutkan makannya. Menurut pendapatnya, bukan Professor Snape yang mengincar batu tersebut. Rasanya terlalu jahat menuduh Professor Snape mengincar batu tersebut. Walaupun guru Ramuan dengan hidung bengkok serta rambut berminyak itu memang menyebalkan, sih.
Hari ini Padma dan Terry berencana menemui Harry, Ron, dan Hermione di pinggir Danau Hitam pada jam makan siang. Kedua murid Ravenclaw itu berjalan menuju Danau Hitam setelah sebelumnya mengantongi beberapa makanan dari Aula Besar. Ketika mereka sampai, Trio Emas Gryffindor telah menunggu mereka.
"Maaf terlambat," kata Terry yang kemudian duduk di sebelah Hermione.
Padma duduk di sebelah Terry, yang membuatnya berhadap-hadapan dengan Ron. Hal itu membuat suasana menjadi canggung. Ron menatap Padma seakan ingin mengatakan sesuatu, namun gadis India itu mengalihkan pandangannya pada permukaan danau yang sehalus kaca.
"Baik, kami telah mendapatkan informasi dari Hagrid." Hermione memecah keheningan.
Semua mata memandang Hermione. "Kami baru saja kembali dari pondok Hagrid untuk menanyakan darimana ia mendapatkan naga. Ia menceritakan bahwa ia memenangkan telur naga dari orang asing yang memakai tudung. Mereka berbincang-bincang mengenai kecenderungan Hagrid yang menyukai binatang-binatang buas dan ajaib. Kemudian Hagrid mengatakan sesuatu tentang Fluffy."
"'Cara mengatasi makhluk buas adalah mengetahui bagaimana cara menenangkannya. Contohnya Fluffy, mainkan saja musik dan ia akan tertidur.'" Harry mengutip kata-kata Hagrid.
"Dan begitulah ceritanya." Ron menimpali.
Padma dan Terry berpandangan. Mereka berdua mengerutkan kening menerima informasi baru tersebut.
"Orang bertudung itu pastilah mata-mata. Setelah ia mendapatkan informasi, ia akan meneruskan informasi tersebut kepada majikannya," kata Terry.
"Benar. Dugaanku orang itu pastilah orang yang kenal baik dengan Dumbledore. Ia tahu bahwa Hagrid adalah orang kepercayaan Dumbledore. Namun ia juga mengetahui bahwa Hagrid sering keceplosan sewaktu bicara. Karena itulah ia mendekati Hagrid untuk mendapatkan informasi dengan memberikan imbalan berupa telur naga yang sangat diidam-idamkan oleh Hagrid," jelas Hermione.
"Aku setuju dengan Hermione. Dan orang itu pastilah Snape! Iya kan, Harry?" Ron menyikut lengan Harry.
"Snape pasti menginginkan batu itu untuk..."
"Hei...aku tahu Professor Snape menyebalkan. Tetapi...bukankah terlalu jahat menuduhnya ingin mencuri batu tersebut?" kata Padma menyela ucapan Harry.
"Tapi ia salah satu guru yang melindungi batu itu, Padma!"
"Nah! Betul sekali. Jika memang Professor Snape ingin mencuri batu itu, dia pasti akan langsung ketahuan oleh Kepala Sekolah."
Semuanya diam, memikirkan kemungkinan yang dilontarkan oleh Padma.
"Menurutku...entah kenapa aku mencurigai Professor Quirrelll," lanjut Padma.
"Professor Quirrell? Hah! Bahkan berbicara normal pun dia tak mampu," kata Ron mencemooh.
"Kau tidak boleh menilai orang hanya dari tampilan luarnya saja, Ron!" balas Padma mendelik.
"Kenapa kau mencurigai Professor Quirrell, Padma?" tanya Hermione.
"Ya. Diantara semua professor yang berkemungkinan melakukan pencurian, kenapa dia?" timpal Terry.
"Err...entahlah. Firasatku mengatakan demikian." Padma menggigit bibirnya. "Aku merasa ada yang disembunyikan oleh Professor Quirrell. Harry pernah memergokinya dan Professor Snape di perpustakaan, benar?"
"Benar. Tetapi saat itu ia didesak oleh Snape." Harry mengingat.
"Nah, apakah sebelumnya kau melihat orang lain di perpustakaan?"
Harry menggeleng. "Saat itu aku menghindari Filch dan mendengar Snape datang. Ia kemudian mengancam Quirrell dengan mengatakan 'kau tidak mau aku menjadi musuhmu'. Kurang lebih seperti itu."
"Jelas, kan? Quirrell telah berada di perpustakaan sebelum Snape datang mengancamnya! Bahkan bukan tidak mungkin Quirrell lebih dahulu berada di perpustakaan daripada dirimu, Harry. Kurasa dia ingin mencari informasi mengenai jebakan-jebakan yang mungkin ditemukannya di bawah pintu tingkap." Padma membeberkan kecurigaannya.
Semua mata menatap gadis berdarah India itu dengan heran. Hermione dan Terry mengernyitkan kening, mencerna dugaan Padma. Harry menatapi danau dengan intens seolah-olah ingin mencari jawaban pada permukaan danau yang disirami oleh cahaya matahari. Sedangkan Ron jelas-jelas menganggap dugaan Padma tidak masuk akal.
"Aku lapar," ujar Terry. Ia kemudian mengeluarkan makanan yang tadi ia dan Padma ambil dari Aula Besar dan membagi-bagikannya.
"Jadi...bagaimana?" desak Padma.
"Padma, maafkan aku. Tetapi dugaanmu tidak masuk akal," kata Hermione.
"Aku akan menyelidikinya sekarang." Harry bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi, tetapi ditahan oleh Ron dan Hermione.
"Kau akan pergi tanpa kami?" kata Ron.
"Kau tidak harus melakukannya sendiri, Harry." Hermione menimpali.
"Dan bagaimana dengan kami?" Padma dan Terry ikut berdiri.
"Baiklah."
Mereka berjalan menuju koridor terlarang di lantai 3 sambil membuat rencana. Ketika sampai di pintu terkunci yang berisi anjing berkepala tiga, mereka mengangguk dan membulatkan tekad.
Alohomora!
Bergerak mengendap dan berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Mereka menoleh ke sekeliling dan mendapati sebuah harpa tergeletak di lantai. Padma menunjuk pintu tingkap yang telah terbuka.
"Snape mendahului kita," geram Harry.
"Hei!" Terry berbisik panik sambil menunjuk Fluffy. Rupanya anjing itu terusik oleh kedatangan mereka.
"Aku akan menyihir harpanya agar tetap bermain. Kalian pergilah!" seru Padma.
"Aku tinggal bersama Padma. Pergilah sebelum terlambat!" Terry mendorong mereka ke bibir pintu tingkap. Hermione dan Ron terjun lebih dahulu.
"Baiklah. Cari pertolongan secepat mungkin!" teriak Harry selagi ia menuruni pintu tingkap yang berakhir entah dimana.
Terry memandangi lubang yang gelap itu, bergidik memikirkan apa yang menanti mereka dibawah.
"Kuharap mereka baik-baik saja," kata Padma cemas.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Terry.
BRAK! Pintu menjeblak terbuka, mengagetkan mereka berdua. Padma kehilangan konsentrasinya pada harpa, yang membuat benda itu berhenti bermain. Pandangannya tertuju pada sosok yang berada di ambang pintu.
"Professor Snape!"
Well? Gimana?
Silahkan tinggalkan kritik, saran, ataupun unek-unek seputar fic ini di kolom review.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya. ^^
Salam sihir,
Last-Heir Black
