My Darkness
Disclaimer: I own nothing but story
28 July 2016
Chapter 2
.
.
Tak ada yang tahu isi hati seorang Haruno Sakura. Ia nampak diam ketika ditindas, tak bereaksi ketika disindir, namun satu hal pasti yang orang-orang yakini—siswi terpintar seantero sekolah itu tak punya urat malu. Ia mengejar-ngejar Sasuke yang jelas-jelas memperlakukannya seperti sampah. Lebih menyebalkan lagi, ia acuh tak acuh pada sang penguasa sekolah—Uzumaki Naruto—yang jelas-jelas pula mengejarnya.
Hari ini, anak OSIS berlarian ke belakang pagar sekolah setelah salah satu murid berteriak kalau ada komplotan asing yang menyerang beberapa siswa sekolah. Mereka yang diserang ditemukan terluka dan tergeletak di tanah.
"Panggil ambulans!"
"Jangan!" Shikamaru yang sedang menggotong Naruto menghentikan. "Jangan sampai ketahuan pihak luar!"
Sasuke dan Sakura yang tak sadarkan diri juga ikut dibawa ke UKS. Petugas medis yang bersiap pulang pun terkejut dengan kehadiran pasien sekolah hari ini.
.
.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
.
.
Sakura menatap helaian rambut merah muda di telapak tangannya. Ia melenguh merasakan ngilu. Tragedi kemarin yang menyakitkan kepalanya dicoba untu diingat-ingat kembali...
.
.
Kemarin, saat bersiap pulang, seorang siswi memberikan kertas pada Sakura.
"Aku hanya dioper, aku tak tahu dari siapa." Kata siswi tersebut setelah melihat Naruto sedang mendekat.
"Oke, terima kasih." Sakura tersenyum dan membukanya.
'Temui aku ke luar pagar belakang sekolah. – Sasuke.'
"Tak mungkin dari dia, kan?" Naruto berkomentar setelah mengintip.
Diam. Sakura berkedip menatap kertas itu, kemudian ia menoleh tersenyum pada Naruto. "Kau ini cemburu kan!"
"Memang!" Naruto setengah berlari mengejar Sakura yang sudah terlebih dulu berlari.
Dan betapa terkejutnya Naruto saat menemukan beberapa siswa tak dikenal sudah membawa senjata tumpul seperti kayu, pemukul kasti bahkan batangan skateboard yang digenggam seperti untuk menyerang.
Senyum Sakura pun pudar saat tiba di sana terlebih dahulu.
"Heh. Apa dia bawa pengawal?"
"Siapa peduli? Habisi semuanya!"
"Apa yang—"
Sakura tak mampu meneruskan setelah salah seorang dari mereka mencoba memukulnya, namun Naruto melindunginya dan menyerang balik.
"Sakura-chan, pergi dari sini!"
Tak mungkin Sakura lakukan itu, satu lawan sekitar sepuluh orang! Tangan siswi bermarga Haruno itu mengepal erat, wajahnya pucat, matanya berlarian mencari benda apa saja yang bisa diraih.
"Cukup! Hentikan!"
Sekuat apa pun berusaha, Sakura adalah perempuan berperawakan kurus yang tak kan sanggup melindungi bahkan membantu Naruto secuil saja. Perutnya sudah terkena tendangan saat mencoba memukul lawan yang tengah memegangi Naruto. Sakura terjatuh di tanah.
"Sakura-chan lari!" teriak Naruto lagi namun Sakura bersikeras membantu.
Pada akhirnya rambut panjangnya menjadi sasaran.
"HEY!"
.
.
"Aduh!" Sakura memegangi kepalanya, ingatannya cukup sampai di situ. Sampai ada suara seseorang berteriak 'HEY'.
Suara itu sudah pasti Sasuke, karena pada saat ia siuman, petugas medis sekolah menceritakan bagaimana mereka ditemukan.
Naruto sudah masuk sekolah, kembali bermain basket di lapangan dengan lincah dan sesekali mengedipkan mata jenakanya kepada Sakura yang duduk di pinggir lapangan.
Sakura meringis berpura-pura jijik sambil meremas handuk di tangannya. Ia berpikir mungkinkah hanya khayalannya saja, atau kemarin Naruto benar-benar babak belur? Tapi mengapa wajah berkulit tan itu kembali mulus? Tubuh tegap yang seingatnya kemarin terkapar kembali berlarian ke sana ke mari seolah tenaganya baru dipakai untuk hari ini?
Entalah. Tidak ada orang yang bisa ia wawancara perihal kemarin, Naruto tak banyak menjelaskan sedangakan Sasuke… tidak masuk.
"Kau tau rumah Sasuke-kun, kan? Kalian teman SD dulu."
Naruto mengasamkan wajah dan urung meminum air dari botol yang Sakura berikan sebelumnya.
"Jadi kau menungguiku di sini hanya untuk menanyakan itu? Pantas saja." Mimik sakit hati dipasang jelas oleh Naruto. "Jangan katakan kau mau ke sana."
"Dengan atau tanpa bantuanmu aku akan tetap ke sana." Sahut Sakura tersenyum. "Aku tahu alamatnya, aku kan sempat menjabat jadi sekertaris OSIS, hanya saja mungkin kau mau mengantarkan aku?"
"Cih. Tidak akan."
.
.
"Telpon aku kalau sudah selesai."
"Oke!" Sakura memberi hormat dan Naruto kembali masuk ke mobil merahnya.
Gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu mendekati gerbang tinggi berwarna hitam. Setelah dicegah Naruto habis-habisan (sampai Naruto mengajak nonton, mengajak belanja atau pura-pura sekarat minta diantar pulang) pada akhirnya Sakura berhasil ke depan gerbang rumah Sasuke—dan ajaibnya Naruto memaksa mengantar setelah Sakura menolak dan mengejek alasan-alasan si pirang itu sebelumnya.
Berkali-kali pula Sakura membujuk Naruto untuk ikut masuk dan ditolak dengan alot.
"Siapa?"
Suara dari speaker security point terdengar.
"Um. Halo. Aku Haruno Sakura, teman sekolah Sasuke." Sakura menyengir seolah speaker itu memiliki kamera.
Gerbang hitam yang menjulang tinggi itu pun bergeser diiringi bunyi getaran yang cukup dalam.
"Silakan masuk, nona Haruno."
Sakura melotot. "Wow. Ini lebih mudah dan lebih ramah ketimbang bicara dengan orangnya langsung. Hihihi." Maksudnya adalah Sasuke. Terbiasa ditolak, dijudesi bahkan diusir oleh Sasuke ternyata membuat Sakura merasa bahagia bak lolos audisi unjuk talent ketika gerbang rumah Sasuke terbuka dan security mempersilakan masuk.
Melenggang masuk, Sakura sempat berjingkrak disambut gongongan anjing besar yang ternyata sudah dirantai. Di pintu utama setinggi tiga meter itu telah berdiri seorang maid yang tersenyum ke arahnya. "Selamat datang, Nona. Mari saya bawakan tas sekolah Anda."
"W-whoa… tidak usah!" Sakura memeluk tasnya seakan-akan maid itu ingin merayu dan merebut harta bendanya. "Tak apa, ini tidak berat. Sama sekali tak berat, kok!"
Melangkah ke dalam mengikuti sang maid, Sakura masih berusaha menyadarkan dirinya sendiri—barangkali ia masih pingsan, masih tak sadarkan diri—niatnya menjenguk Sasuke tak disangka akan semulus ini…
Ruang pertama nampak seperti ballroom hotel bintang tiga yang pernah Sakura kunjungi, wow—rumah ini bak istana. Sakura mulai tersadar, pantas saja Sasuke jijik dengannya; Sakura kan rakyat jelata.
"Silakan." Pintu lain dibuka dan nampaklah sebuah ruangan besar yang memiliki perapian. Terdapat kursi berpunggung tinggi yang diduduki seorang wanita paruh baya. Kursi itu nampak nyaman dibalut kain beludru berwarna violet gelap.
"Hai." Sapa wanita itu langsung, ia berdiri dengan tenang dan kalem. "Tolong bawakan gadis ini teh dan kudapan." Perintahnya pada maid yang membawa Sakura masuk.
"Baik, Nyoya."
"Silakan duduk."
Sakura tersenyum setengah bingung.
Sasuke mengusirnya, menghardik kedatangannya dan membentaknya tiap terlihat dalam pandangan mata. Tapi di rumah ini, rumah Uchiha Sasuke tinggal, Sakura disambut baik oleh…
"Apakah kau Ibunya Sasuke-kun?"
Bodoh kalau masih bertanya. Jelas-jelas mata gelap dan wajah sempurna wanita itu menganugrahi ketampanan Sasuke.
Tertawa teduh. "Uchiha Mikoto."
"Haruno Sakura." Sakura menyambut tangan yang ternyata hangat dan lembut tersebut.
Dan dari sinilah cerita sebenarnya dimulai… ketika Ibunda Sasuke yang berparas ayu nan teduh itu mulai menatapnya.
Antara senyum terpaksa atau meringis sakit.
Sakura ingin segera mempelajarinya.
.
.
Note :
Woops sorry tanda complete dipasang padahal ini bukan oneshot atau udah selesai. Sebelum ada kata fin, tentu saja cerita ini berlanjut. Tapi gak janji x) maaf. Aku akan kerjakan fanfic lainnya mumpung sampai agustus aku ada jatah waktu ngetik untuk akun kesukaanku ini hehehe. I MISS YOU SO MUCH #nangisdramatis
