.

.

.

Pagi ini giliran Taeyong dan Yuri yang masak sedangkan Tiffany harus memberi makan kucing dan burung elang milik Yunho. Yuri dan Taeyong akan memasak japchae (sumpah ini enak banget, gajauh ama bihun goreng sebenernya), bulgogi dan kimchi.

"Taeyong-ah, noona akan mengambil beberapa bahan lain di gudang makanan. Kau teruskan dulu sendiri, arra?" Ucap Yuri. Taeyong hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum kecil. Yuri tersenyum dan keluar dari dapur.

Taeyong masih asik memasak sendiri di dapur tanpa sadar bahwa Doyoung memperhatikan nya dari pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan dapur. Doyoung memilih untuk masuk dan melihat apa yang Taeyong masak.

"Woah... Apakah itu japchae?" Tanya Doyoung tepat di sebelah Taeyong. Yang ditanya langsung terperanjat kaget dan menjauh beberapa langkah. Doyoung langsung meminta maaf. "Ah! Mianhae! Aku mengagetkanmu ya?" Doyoung panik. Taeyong hanya diam dan menunduk.

Doyoung tersenyum. "Kau tidak perlu takut atau malu padaku. Aku sama sepertimu, bottom," Ucap Doyoung dengan pelan. Taeyong yang tak mengerti arti dari bottom hanya diam memandang Doyoung menunggu si empu menjelaskan detailnya. Doyoung menatap balik mata Taeyong lalu berkata, "Ah, kau tau... Disaat... Pria yang menjalin hubungan dengan seorang pria... Kita itu dipihak 'perempuan'. Dan itu disebut bottom atau uke," Jelas Doyoung.

Wajah Taeyong bersemu setelah mendengarkan penjelasan Doyoung mengenai bottom. Doyoung terkekeh, "Yunho hyung sudah pernah memperkenalkan diriku sebelumnya padamu di ruang teh, tapi alangkah lebih baik jika aku memperkenalkan diriku sendiri secara langsung padamu kan? Hai! Aku Kim Doyoung, panggil saja Doyoung," Ucap Doyoung seraya menyodorkan tangan nya pada Taeyong.

Taeyong mengulurkan tangan nya lalu menjabat tangan Doyoung dengan ragu. "Annyeong haseyo... Doyoung-ssi..." Ucap Taeyong malu-malu. Doyoung tersenyum memaklumi. Ia tau Taeyong begini juga karena didikan Yunho yang salah dari awal, dan terlalu mengurungnya sehingga sulit untuk beradaptasi dengan orang atau lingkungan baru. Tapi ia yakin Taeyong itu bisa keluar dari sifat pendiam nya ini, karena dulu ia juga sama seperti Taeyong.

"Mari aku bantu masak! Aku sudah lama sekali tidak masak, tapi jangan khawatir. Aku ahli jika menyangkut daging," Doyoung tersenyum yakin pada Taeyong. Taeyong akhirnya berani mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar untuk pertama kalinya. "Jinjja?" Tanya Taeyong dengan nada antusias nya namun tetap pelan. Doyoung menganggukan kepalanya dengan semangat. Ia sangat senang melihat reaksi Taeyong yang mulai membuka diri untuknya.

"Mau aku ajari? Tapi sebagai gantinya kau harus mengajariku cara membuat japchae. Otte?" Tanya Doyoung menawarkan barter. Taeyong langsung menganggukan kepalanya dengan semangat. Doyoung makin bahagia.

Mereka berdua berkutat di dapur tanpa sadar kalau sedari tadi Yunho memperhatikan nya dari taman depan rumahnya. Ia sedang berjalan dan berbincang ringan dengan Jaehyun, Yuta dan Johnny. Tadinya Doyoung bergabung namun ia tiba-tiba hilang dan ternyata Doyoung mencoba mendekati Taeyong lewat hobby yang sama.

"Yak... Kau yakin kau tidak tertarik sedikit pun pada Taeyong, Jae? Dia terlampau sempurna untuk ukuran laki-laki. Aku mulai tertarik padanya," Ucap Yuta memanas-manasi yang padahal hanya bercanda. Jaehyun hanya mendengus kasar mendengar perkataan Yuta yang membuatnya panas sekarang.

"Shh! He is mine." Ucap Johnny sambil tersenyum sendiri menatap Taeyong dari kejauhan.

"Jae, dia sangat nyaman saat dipeluk. Tubuh nya lembut seperti perempuan. Aku yakin kau akan sangat menyesal jika membuangnya begitu saja," Yunho ikut memanas-manasi. "Ck! Arghh! Apa-apaan kalian ini! Kau juga hyung! Kenapa kau malah ikut-ikutan!?" Tanya Jaehyun yang sudah tak tahan dengan godaan-godaan teman-temannya.

"Mereka melakukan itu karena mereka tau kalau laki-laki seperti Taeyong, adalah satu-satunya laki-laki yang dapat menjinakan mu Jae. Aku juga tidak dapat menyangkal itu," Taeil menambahkan. Jaehyun makin geram.

"TIDAK! AKU TIDAK TERTARIK PADA TAEYONG DAN AKU SUDAH BILANG ITU DARI SEJAK AWAL!" Jaehyun berteriak cukup keras sebelum pergi meninggalkan teman-teman nya yang hanya tertawa.

Sedangkan Taeyong yang sedang didapur hanya makin menundukan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya dari Doyoung yang kini menatapnya khawatir. Pasalnya, teriakan Jaehyun terdengar sangat jelas sampai ke dapur dan tidak mungkin jika Taeyong tidak mendengarnya.

"Jangan dengarkan apapun yang Jaehyun katakan. Itu semua omong kosong, percaya padaku," Doyoung memegang tangan Taeyong yang mulai kembali bergetar karena rasa takut. Taeyong hanya diam dan tidak berhenti mengolah daging sesuai dengan apa yang Doyoung ajarkan padanya. Doyoung menatapnya sedih, ia ingin membantu tapi ia tidak mau ikut campur karena tau posisi nya itu hanyalah seorang ninja sedangkan Taeyong seorang anak raja.

.

.

.

"Taeyong-ah, tolong berikan handuk juga hanbok baru ini untuk Jaehyun," Ucap Yunho. Taeyong bisa saja menolak permintaan Tiffany atau Yuri jika mereka yang menyuruh, tapi Yunho? No-no. Ia terlalu takut pada Yunho. Taeyong hanya diam lalu menerima handuk dan hanbok baru tersebut lalu langsung pergi ke kamar Jaehyun.

.

.

Srekk

"Permisi..." Ucap Taeyong pelan. Jaehyun yang sedang berganti pakaian langsung keluar tanpa memakai atasan dari balik tirai ganti baju. Jaehyun terdiam menatap Taeyong begitu juga Taeyong.

Taeyong langsung menunduk takut dan tangan nya mulai bergetar lagi. Jaehyun tau akan hal itu. Ia berjalan mendekati Taeyong dan mengambil handuk juga hanbok baru yang Taeyong bawakan untuknya. Jaehyun baru menyadari seberapa mungil tubuh Taeyong jika dibandingkan dengan tubuhnya sendiri. Taeyong itu rapuh, dan Jaehyun bisa melihat itu semua hanya dengan melihat matanya langsung tadi.

Tiba-tiba Taeyong memegangi handuk yang melingar di pinggang Jaehyun. Jaehyun yang panik secara tak sengaja memukul tangan Taeyong dengan keras bahkan tubuh Taeyong ikut tersentak saat tangan nya di pukul keras oleh Jaehyun.

"Apa-apaan kau hah!? Berani sekali menyentuhku! Kurang ajar kau!" Jaehyun langsung membentak Taeyong habis-habisan. Taeyong makin menunduk dan kini mata nya berair menahan tangis. Jika sudah dibentak, Taeyong tidak akan bisa bergerak ataupun menjawab, tubuhnya kaku, lidahnya kelu dikarenakan rasa takut yang amat sangat.

"Keluar!" Teriak Jaehyun pada Taeyong. Taeyong memegangi tangan nya yang membiru akibat dipukul Jaehyun lalu keluar dengan kaki bergetar. Ia tidak pulang ke kamarnya, ia pergi dan tidur di rumah pohon yang biasa ia gunakan jika ia butuh waktu sendiri.

.

.

.

Ke-esokan harinya, Tiffany dan Yuri panik mencari Taeyong karena semalam Taeyong tidak tidur dengan mereka. Yunho juga sempat ikut panik namun ia baru ingat jika Taeyong tidak di rumah, kemungkinan terbesar adalah sekarang ia ada di rumah pohon kesayangan nya.

"Fany-ah, kau sudah cek rumah pohon nya?" Tanya Yunho sekalem mungkin. Tiffany yang tadinya panik langsung terdiam dan menghela nafas. "Hah... Kau benar... Dia ada disana sedari malam..." Tiffany menatap tanda merah yang tertempel di pohon sebagai tanda kalau dia ada disana. Taeyong akan memasang tanda warna biru jika ia sedang tidak ada disana.

"Tapi kenapa dia kesana? Apa dia punya masalah?" Rasa panik yang Yuri rasakan kini berganti dengan rasa khawatir. "Biarkan saja dulu, jika sampai waktunya makan siang ia tidak keluar, baru kalian susul ke rumah pohon nya," Ucap Yunho. Tiffany dan Yuri menganggukan kepalanya.

.

.

Selama di dalam rumah pohon Taeyong hanya diam memeluk kedua lututnya sambil menangis. Ia tidak mau turun karena jika ia turun ia akan bertemu dengan Jaehyun.

Tok tok tok

"Taeyong-ah... Ini aku Doyoung... Apa kau akan memberiku izin untuk masuk?" Tanya Doyoung selembut mungkin. Taeyong terdiam lalu membukakan pintu untuk Doyoung. Ia tidak bisa menceritakan yang sebenarnya pada Tiffany dan Yuri karena 2 noona nya itu bisa saja langsung membabad habis kepala Jaehyun. Apalagi bercerita pada Yunho, bisa-bisa samurai dikamarnya terbang. Maka dari itu ia akan mencoba terbuka pada Doyoung setelah mengetahui bahwa mereka di posisi yang sama dan berharap Doyoung bisa mengerti keadaannya.

Doyoung tersenyum dan masuk ke dalam rumah pohon lalu kembali mengunci pintunya karena ia tau Taeyong tidak akan membiarkan orang lain masuk dengan seenaknya jika keadaannya seperti ini.

"Katakan. Apa yang dilakukan Jaehyun padamu." Doyoung langsung to the point dan menanyakan hal tersebut pada Taeyong yang terkejut. "K-Kau... B-Bagaimana bisa-"

"Aku mendengar suara teriakan Jaehyun semalam, dan aku dengan sebelumnya Yunho hyung memintamu untuk datang ke kamarnya," Jelas Doyoung selembut mungkin. "Gwaenchana~ aku janji tidak akan menceritakan ini pada siapapun. Hanya kita berdua. Aku hanya khawatir karena aku yakin Jaehyun tidak mungkin hanya memarahimu kan?"

Taeyong terdiam cukup lama. Ia ragu untuk menceritakan semua nya pada Doyoung, tapi ia harus. Taeyong menyingkap lengan baju sebelah kanan nya lalu terlihatlah luka lebam cukup besar disana dan Doyoung sudah hampir berniat ingin loncat dari rumah pohon untuk menghajar Jaehyun habis-habisan setelah melihat luka itu jika saja ia tidak ingat janjinya pada Taeyong.

"Ya tuhan Taeyong-ah... Ini pasti sakit sekali..." Doyoung mengusap lembut luka lebam yang cukup besar itu dan baru saja ia sentuh Taeyong langsung meringis. Doyoung langsung mengangkat tangan yang tadi menyentuh luka Taeyong setelah melihat ringisan Taeyong. "Mian," Ucap Doyoung.

"Nanti malam, kau tidur denganku saja. Akan aku obati lukamu dan aku jamin tidak akan ada yang tau soal ini. Arrasseo?" Kata Doyoung. Taeyong menganggukan kepalanya tanda mengerti. "Sekarang ayo kita turun dan aku janji aku akan tetap berada di dekatmu. Aku akan berusaha menjauhkan mu dari Jaehyun," Doyoung benar-benar membuat Taeyong lega. Taeyong benar soal Doyoung. Doyoung pasti mengerti keadaannya.

.

.

.

Ke-esokan harinya, Yunho dan para ninja lainnya pergi secara mendadak karena ada pasukan musuh yang berhasil menembus benteng desa mereka. Yunho meminta Jaemin untuk mendampingi Tiffany dan Yuri yang menjaga temple agar tetap aman. Sekaligus Taeyong yang diamankan di rumah pohon. Taeyong demam tinggi setelah tidur di rumah pohon karena ia tidak makan seharian dan juga masuk angin.

Taeyong tetap menunggu di rumah pohon nya berharap semua orang kembali dengan selamat. Ia trauma dengan hal ini karena sebelumnya ia harus melihat Yunho yang berlumuran darah setelah perang seperti ini dan jujur ia ketakutan. Ia tidak suka melihat orang lain terluka.

Ia terus berdoa dan memeluk lutut nya berharap kedua noona juga Jaemin yang kini berjaga dibawah juga tidak kenapa-kenapa. Ia ingin menolong, sangat ingin, tapi rasa takut yang ia tidak bisa kontrol membuat tubuhnya kaku tak berdaya jadi ia memilih diam.

"AKK!" Teriak Tiffany yang kesakitan dan sontak membuat Taeyong mengintip dari jendela rumah pohonnya. Ia melihat Tiffany sudah terjatuh di tanah tak berdaya sedangkan Yuri dan Jaemin tak bisa menolongnya karena mereka juga sibuk melawan musuh lain.

Taeyong panik. Ia merasa ia harus turun dan menyelamatkan Tiffany lalu membantu yang lain, tapi di satu sisi ia takut ia tidak bisa mengontrol tubuhnya yang gampang sekali kaku. Sekali lagi Taeyong mengintip.

"Arghh!" Salah satu musuh menyayat lengan Tiffany dengan pedang.

Habis sudah kesabaran Taeyong. Ia benar-benar keluar dari rumah pohon dan menyelamatkan Tiffany. Ia membawa Tiffany ke tempat aman lalu melawan para musuh sebisa mungkin karena tugasnya kini ada 2, melawan musuh hingga mati dan mengontrol rasa gugup dan takutnya.

Ia berhasil membantu Yuri dan Jaemin namun kini Jaehyun lah yang kewalahan karena ia sendirian. Jaemin berlari ke arah Jaehyun untuk membantu. "Noona! Tolong jaga Tiffany noona! Aku yang akan membantu Jaehyun dan Jaemin!" Ucap Taeyong nekat. Yuri menganggukan kepalanya.

Taeyong maju dan ikut melawan. Disaat musuh sudah hampir kalah, tiba-tiba seorang musuh berusaha untuk menusuk Jaehyun dari belakang dan untungnya Taeyong menyadari hal itu.

Srett

"Ugh!" Perut Taeyong tersayat pedang musuh namun ia tidak boleh berhenti dan akhirnya ia menusuk perut sang musuh hingga musuh tersebut mati.

"ARGH!"

Taeyong menoleh kebelakangnya dan mendapati Jaehyun sudah tertusuk pedang. "JAEHYUN-SSI!" Taeyong panik dan langsung menangkap tubuh Jaehyun yang tejatuh ke tanah.

.

.

Taeyong benar-benar lupa akan keadaannya sendiri. Ia panik mengobati semua orang tapi lupa kalau perutnya berlumuran darah dan demam nya makin tinggi. Ia mengabaikan semua itu setelah melihat keadaan Jaehyun yang sekarat.

Taeyong belajar teknik pengobatan bersama leluhur-leluhur di desa ini sedari umur 8 tahun. Jadi ia tau betul bagaimana cara menangani orang sekarat karena tertusuk pedang.

Selama mengobati, Taeyong menangis. Ia benci melihat Jaehyun terluka. Ia tak suka melihat orang terluka apalagi sampai sekarat begini. Rasa takut, panik, gugup, khawatir bercampur aduk dan kini ia hanya bisa menangis.

Yang lain hanya diam melihat Taeyong yang menangis sambil mengobati Jaehyun dengan telaten.

"Aku akan membuatkan bubur untuk nya," Ucap Taeyong dengan nada datar sambil menunduk dan pergi ke dapur sendirian.

.

.

Selama di dapur ia juga masih menangis bahkan lebih keras. Jujur ia takut ia gagal mengobati Jaehyun. Entah kenapa ia begitu khawatir dan tidak mau kehilangan Jaehyun. Padahal Jaehyun kasar padanya, dan mereka baru bertemu beberapa hari. Mungkin trauma dengan rasa di tinggalkan orang disekitarnya.

.

.

2 hari Taeyong tidak istirahat dan hanya diam di sebelah Jaehyun. Ia akan memberi obat pada Jaehyun 2 jam sekali begitu juga dengan mengganti perban. Yuri sempat menawarkan bantuan namun Taeyong menolak.

Dihari ketiga, Taeyong keluar dari kamar Jaehyun. Kepalanya terasa sangat sakit begitu pula dengan anggota tubuhnya yang lain. Apalagi perutnya yang tersayat pedang.

Taeyong mencoba untuk mencari Tiffany dan Yuri untuk meminta bantuan karena kepalanya terasa sangat sakit. "N-Noona..."

BRUK!

Taeyong pingsan di ruang keluarga.

.

.

.

TBC

JaeYong... My bae... Review jangan lupa~ maaf kalo alur kecepetan, ABISNYA GREGET PENGEN LANGSUNG ROMANTIS-ROMANTISANNNN