.

.

.

Kini Taeyong terbaring lemah dikamar nya. Ia menghabiskan waktu nya untuk tidur karena kepala nya terasa sangat sakit dikarenakan demam yang sangat tinggi. Ia mau makan tapi tetap tidak habis sekalipun Tiffany atau Yuri memaksanya. Seperti sekarang ini.

"Ngg... Perutku mual..." Taeyong memegangi perut nya sambil sedikit meringis. Tiffany memandang Taeyong sedih. "Taeyong-ah... Apa terasa begitu menyiksa? Aku tak tega melihatmu begini..." Tiffany mengusap lembut rambut Taeyong.

Taeyong hanya diam tak merespon. "Ku anggap diam mu sebagai iya," Tiffany mencoba menghibur Taeyong dan berhasil. Taeyong hanya tertawa kecil tapi Tiffany bahagia bisa melihat Taeyong tersenyum ditengah keadaan nya yang tidak enak badan.

"Bagaimana dengan keadaan Jaehyun?" Tanya Taeyong dengan wajah serius. Tiffany menatap lurus mata adik bungsu nya itu. "Taeyong-ah... Kau suka padanya?" Tiffany bertanya dengan senyum meledek. Taeyong membelalakan matanya namun dasar Taeyong, wajah nya memerah dengan mudah jika ia malu dan itu membuatnya tidak bisa berbohong dari siapapun. "T-Tapi aku sangat takut padanya..."

"Awwww~" Tiffany menangkup kedua pipi nya sendiri karena gemas melihat Taeyong yang secara tidak langsung mengakui perasaan nya. "Gwaenchanayo... Kau tidak perlu takut, aku yakin dia bisa berubah. Jadi... cinta pertama mu adalah Jaehyun? Katakan padaku, apa yang kau sukai darinya," Tiffany berangsut duduk mendekati Taeyong dan memegangi kedua tangan Taeyong dengan tatapan tak sabar juga excited.

Taeyong terdiam untuk berpikir. Ia tidak tau apa yang ia sukai dari Jaehyun... Karena mereka belum lama kenal, Jaehyun juga tak acuh padanya, Jaehyun kasar padanya, bahkan Jaehyun tak menganggapnya ada.

"Tidak ada..." Ucap Taeyong pelan. "Mwoya? Tidak mungkin kalau tidak ada. Oke, no comment untuk sifat nya yang menyebalkan dan dingin itu. Tapi... Jika fisik? Mungkin itu akan lebih mudah," Tiffany membuka jalan lain.

Pipi Taeyong menghangat lalu menolak untuk menjawab pertanyaan Tiffany jika yang ditanyakan adalah fisik.

"Ah shireo!" Taeyong menarik tangan nya dari Tiffany. Tiffany kembali memegang tangan Taeyong dan menarik nya agar Taeyong kembali duduk tegak. "Ayolah~ ini penting bagiku! Adik bungsuku jatuh cinta pertama kalinya!" Tiffany memaksa.

Taeyong terdiam sejenak lalu menjawab. "Mata nya...?" Tiffany masih belum puas. "Lalu?"

"Dimple nya...?"

"Lalu?"

"Bahu lebar nya..."

"Lalu?"

Taeyong mendengus. "Kenapa banyak sekali!?" Taeyong protes. Tiffany makin bahagia setelah melihat Taeyong antusias dan menaikan suara nya yang jarang sekali terdengar itu. Sekalipun terdengar pasti sangat lembut, tidak sekeras ini.

"Ayo lanjutkan!" Tiffany memaksa. Taeyong kembali berpikir. "Apa lagi yah..." Taeyong bermonolog. "Bibir?" Tebak Tiffany yang kini tersenyum menggoda. Seketika wajah Taeyong memerah parah dan langsung kembali tidur lalu menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Tiffany tertawa puas.

"Kau menyukai bibirnya?" Tiffany kembali bertanya. "Shh noona sebaiknya pergi, aku mau istirahat," Ucap Taeyong kembali kalem. "Taeyong-ah, kau menyukai bibirnya?" Tiffany mengabaikan perkataan Taeyong dan tetap menanyakan hal yang sama.

"Noona!" Taeyong sudah tidak mau membahasnya. "Kau menyukai bibirnya!?" Tiffany bertanya makin keras. "NE!" Taeyong menjawab tak kalah keras. "Sekarang pergi dari sini karena aku mau istirahat. Sungguhan." Taeyong mendorong Tiffany untuk keluar dari kamarnya dan membiarkan Tiffany tertawa bahagia sendirian.

.

.

Jaehyun sadar dari pingsan nya yang memakan waktu 2 hari. Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, seperti habis di geleng truk besar. Ia melihat sekelilingnya dan ya, tentu saja dia hanya sendirian di ruangan itu.

Ia bangkit dari posisi tidurnya lalu mengambil hanbok dan memakainya. Ia memilih untuk keluar dari kamar dan mencari udara segar sebab kepalanya sakit sekali.

Srekk

Jaehyun keluar dari kamarnya. Ia memandang taman depan rumah Yunho yang rapi dan sejuk. Ia juga melihat Yunho, Doyoung, Jaemin dan Mark yang sedang berkumpul di bawah pohon, bersantai sambil minum teh. Ia melihat Yuri yang tengah mengangkut bahan-bahan makan ke gudang makanan di bantu Tiffany. Dan ia juga melihat Taeyong yang asik bermain dengan kucing peliharaan Yunho tak jauh dari kolam ikan.

Jaehyun keluar dan Johnny tiba-tiba memeluknya. "Wah! Kau sudah bangun!? Ya tuhan! Terima kasih! Aku kira kau mati!" Johnny memeluk erat tubuh Jaehyun tanpa menghiraukan erangan kesakitan Jaehyun. Yuta yang ada disebelahnya hanya tertawa. "Bagaimana dengan luka mu?" Tanya Yuta.

"Terasa jauh lebih baik dan sepertinya akan sembuh sebentar lagi," Jawab Jaehyun. "Hah... Baguslah, ya sudah, kalau begitu ayo ikut bergabung dengan kami! Kita sedang berbincang ringan," Ajak Yuta. "Taeil hyung mana?" Tanya Jaehyun sambil menyisir seluruh pekarangan dengan matanya.

"Dia masih tidur, semalam ia menjagamu sampai pagi," Jawab Yuta. Jaehyun membelalakan matanya, "Jinjja!?" Tanya Jaehyun tak percaya. "Hm. Tanya saja sendiri pada yang lain, bahkan Yunho hyung pun tau,"

Jaehyun memutuskan untuk bergabung dengan ninja lain.

Ia sebenarnya melirik-lirik Taeyong sedari tadi karena jujur, ia sangat suka kucing dan sepertinya Taeyong juga sama. Ia ingin sekali menghampirinya dan ikut bermain dengan kucing milik Yunho, namun ia tau diri kalau selama ini ia tidak memperlakukan Taeyong dengan baik.

"Taeyong-ah! Ayo sini bergabung dengan kami!" Ajak Doyoung. Taeyong menoleh dan tersenyum, "Gwaenchanayo, aku akan diam disini bersama Momo. Nikmati teh nya," Taeyong menjawab dan menolak halus ajakan Doyoung.

"Yak... Shh, jinjja. Aku tak habis pikir dengan mu Jae. Bisa-bisanya kau menolak dan menyakiti pria sebaik Taeyong," Lagi-lagi percakapan itu diungkit. Jaehyun langsung mendecak kesal. Ia bersikap tak acuh dengan pembicaraan yang satu ini.

"Taeyong hyung bisa saja tetap diam di rumah pohon nya dan tidak turun melawan kalau saja ia tidak melihat Tiffany noona terluka. Aku sih mewajarkan hal itu karena aku juga pasti akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada anggota keluargaku sendiri. Tapi lain cerita dengan Taeyong hyung yang harus mengontrol rasa takutnya juga harus melindungi Tiffany noona disaat yang bersamaan. Dia sangat hebat kemarin," Cerita Jaemin yang kemarin bertarung melawan musuh bersama Taeyong.

Jaehyun terdiam mendengarnya. "Hyung, apa kau tidak sadar kalau dia juga berusaha menyelamatkan mu kemarin?" Tanya Jaemin. Jaehyun memandang langsung ke mata Jaemin, lalu menggeleng pelan. "Dia rela terluka karena melindungi mu dari belakang hyung. Dia membunuh orang yang akan menusuk mu dari belakang, dan kini perutnya tersayat pedang dan cukup dalam," Jelas Jaemin. Jaehyun makin terdiam.

"Hyung, dia juga yang mengobati mu saat kau tertusuk pedang. Bahkan ia menangis saat melihat dirimu sekarat, ia melindungimu disaat tubuhnya sedang demam tinggi... Dia pingsan kemarin pagi karena ia tidak mengobati luka di perutnya secara langsung, juga mengabaikan demam nya yang semakin tinggi. Ia tidak mau makan dari kemarin tapi untungnya dia mau minum susu maka dari itu ia membaik sekarang," Mark ikut berbicara. Semua ninja tersenyum penuh arti melihat wajah murung Jaehyun yang menunjukan raut penyesalan.

"Dia memilih untuk tidak tidur tadi malam dan menemaniku menjagamu semalaman." Taeil yang baru saja datang ikut menambahkan. "Jaehyun-ah... Bersikap baiklah padanya. Kau sudah menyakitinya berulang kali tapi asal kau tau saja, ia tidak dendam sama sekali padamu," Kata Doyoung.

"Jae, apa kau tau alasannya kenapa waktu itu ia memegangi handuk yang melingkar di pinggangmu?" Doyoung bertanya. "Itu karena handukmu hampir saja terjatuh dari tubuhmu dan kau malah memukul tangan nya hingga memar parah. Kau tega sekali," Doyoung memasang wajah sedihnya yang memang sedih disaat mengingat bagaimana Taeyong berusaha untuk menyembunyikan apapun yang Jaehyun lakukan padanya sekalipun itu menyakitkan.

Jaehyun menatap Taeyong yang tertawa sendiri saat bermain dengan Momo. Jaehyun tak berkata apa-apa dan langsung pergi masuk ke dalam rumah. Semua ninja menghela nafas pasrah.

"Kalian mau dengar prediksi playboy ku tidak?" Tanya Johnny tiba-tiba. "Mwoya?" Yuta sudah illfeel duluan. "Ish! Dengarkan aku dulu! Firasat playboy ku berkata... 'Malam ini akan ada yang jatuh cinta mendadak'," Johnny tersenyum bahagia.

"Maksud mu Jaehyun?" Taeil bertanya. "Tentu saja Jaehyun! Masa iya Yunho hyung," Jawab Johnny.

"Jatuh cinta pada...?" Mark meminta jawaban. "Jatuh cinta padamu." Jawab Johnny sekenanya. Mark langsung terperanjat dan memundurkan tubuhnya. "Ew!" Ucapnya jijik. "Ish! Pada Taeyong! Kalian ini- ya tuhan... Berkahilah manusia-manusia di hadapan ku ini..." Johnny mengangkat kedua tangan nya seperti orang yang sedang berdoa.

"YES!" Tiba-tiba Yuri dan Tiffany berteriak girang. Semua ninja menoleh. "Kalian mendengarnya?" Tanya Johnny. "Menurutmu kami tuli? Tentu saja terdengar kita hanya berjarak 10 langkah John," Jawab Tiffany jengah.

"Lagi pula aku sudah mendapatkan pengakuan dari Taeyong soal perasaan nya pada Jaehyun," Tiffany tersenyum sendiri dan jingkrak-jingkrak sendiri.

"CERITAKAN PADA KAMI!"

.

.

.

.

TBC

YA ALLAHHHHH AMPUNI HAMBAAAA~ KALIAN LIAT RATE NYA KAN. INI FF TUH RATED M. TAPI INI BULAN PUASA, KUDU OTOKE NIH AUTHOR... Maaf jarang banget update FF, karena kalau lagi puasa otak mendet gabisa dipake mikir gara-gara laper wkwkwk dan kalo malem abis kenyang langsung bobo (kyk panda yah). Nih udah update, FF yang lain nyusul yak, REVIEW JANGAN LUPA~ karena semakin banyak review, semakin semangat ngelanjutin ff nya~