Seperti halnya saat sang putri jatuh dari kuda, lalu pangeran menyelamatkannya. Baekhyun terpaku pada wajah lelaki yang begitu tampan yang terlihat cemas. Ini posisi yang sama dengan aksi penyelamatan pangeran di buku cerita favorit Baekhyun.
"kau baik-baik saja? Hey apa kau terluka?" Baekhyun tersenyum saat mendengar suara yang terdengar khawatir itu. Saat akan menjawab pertanyaan pangerannnya itu, mata baekhyun mengabur. Seketika Baekhyun pingsan karena tidak kuat menahan sakit di kepalanya
.
.
.
Baekhyun menggerjabkan matanya berulang kali, ia membiasakan cahaya yang datang ke matanya. "Mimpi? Hueee ternyata Mimpi~~" rengek Baekhyun. Ia melihat Bulter pribadinya tidur dengan posisi terduduk disampingnya. Lalu mengguncang tubuh Minho berulang kali.
"Tuan Mudaa!! Kau baik-baik saja? Apa keningmu masih sakit? Tolong maafkan kelalian saya! Saya berhak untuk mati" Ucap minho menunduk, siap bersujud di kaki Baekhyun.
Mendengar ucapan Minho, kening Baekhyun berdenyut sakit, ia terperangah. Ternyata bukan mimpi. "Minho!!" Teriak Baekhyun kencang. Mendengar tuan mudanya itu berteriak, Minho menundukan kepalanya bersiap menerima tendangan, pukulan, ataupun tembakan yang dapat tiba-tiba Baekyun lakukan.
'Grep'
Tapi hal itu tak terjadi, Minho dikejutkan dengan pelukan yang tiba-tiba Baekhyun layangkan. "Tu-tuan muda.." Ucap Minho tergagap.
"Baekkie menemukan pangeran!! Yess Yess Kau percaya itu! Kau percaya kan? Akhirnya Baekkie akan menikah dengan pangeran" Ucap Baekhyun dengan riang, Minho hanya melogo mendengar perkataan Baekhyun yang kelewat semangat itu.
...
Di kediaman Byun, terlihat banyak orang yang tengah berkerumun mendiskusikan sesuatu. mereka sedang berkumpul di ruangan utama. Itu adalah Kepala keluarga, dan seluruh keluarga besar Byun, serta kepala Maid dan Bulter.
"Jadi begitu tuan, Nyonya. Maafkan saya sekali lagi." Ucap Minho menunduk dalam pada Bogum. Kepala keluarga Byun itu memijit pelipisnya berdenyut kencang.
Flashback
Bogum yang tengah mengurus perusahannya dikejutkan dengan panggilan VideoCall dari Baekhyun, tiba-tiba saja Baekhyun meminta untuk dinikahkan dengan seorang pangeran, yang berarti pangeran itu adalah seorang lelaki.
Ditambah ia tidak mengetahui lelaki itu siapa, bagaimana asal-usul, dan bagaimana seluk-beluknya.
Setelah merengek pada Ayahnya, kini Baekhyun tengah menangis di kamarnya ditemani ibunya, Byun Yoona.
"pokoknya hiks, baekkie.. mau menikah.. dengan pangeran hiks.. yang menyelamatkan baekkie tadi hueeeeee~~" Baekhyun menangis kencang, Yoona meneteskan air matanya sedih melihat putranya bungsunya bersikeras menikah.
"Tapi Bekkie, baekkie kan masih sekolah. Menikahnya nanti saja nee, setelah baekkie lulus sekolah" Bujuk Yoona sekali lagi. Baekhyun tidak dapat membendung tangisannya ketika mendengar alasan Yoona.
"Pokoknya Baekkie mau menikah ya menikah!! Hiks. Baekkie tidak akan bernafas sebelum mama menikahkan baekkie hiks" Tiba-tiba tangisannya terhenti. Baekhyun menutup hidung dan muluutnya, memberikan ancaman pada Yoona. Baekhyun tidak bernafas!
Yoona syok tentu saja, ia dengan spontan menyetujui keinginan anak bungsunya. Dan itu mejadi awal bagaimana diintrogasinya Choi Minho, dan awal dari permasalahan terjadi
Flashback END
Saengil Chukka Hamnida~~
Saengil Chukka Hamnida~
Saranghaneun uri Bakkie~
Saengil Chukka Hamnida~
Nyanyian merdu dari Bogum dan Yoona mengejutkan Baekhyun yang tengah tertidur, ia menggerjabkan matanya, menemukan kedua orangnya menyanyi, sedangkan Hyung-dan Noonanya membentangkan tulisan
'Happy Birthday Baekhyun'.
Mata Baekhyun berkaca-kaca, ia dihadiahi pelukan serta usakan gemas dari keluarganya itu.
Baekhyun merentangkan kedua tangannya meminta digendong. Dengan sigap Minho menggendong Baekhyun di punggungnya, dan membawanya keruang utama yang telah dihias sedemikian rupa dengan pernak-pernik ulang tahun.
Alangkah terkejutnya Baekhyun melihat keluarga besar Byun, dan seluruh Maid serta Bulternya berkumpul sedang merayakan ulang tahunnya. Bekhyun terharu.
"Baekkie kesayangan nenek, kau sudah besar huhuhu~~" Ucap neneknya sambil memeluk Baekhyun erat. Sedangkan kakek Byun menepuk pundak Bogum menguatkan.
"Baekkie sayang, sebagai hadiah ulang tahunmu. Kami sepakat untuk memberikanmu ini" Ucap Yoona sambil menyerahkan kotak berwarna silver, mata Baekhyun berbinar.
"Uwahhhh~~ Baekkie suka, Gomawo eomma~Appa~ halmonii~ halaboji juga hehe" Mata Baekhyun berbinar sambil membuka kotak berisikan tuxedo putih, dengan bordir berwarna biru. Warna kesukaan baekhyun.
"Nee, tuan muda. Ini berarti kelurga besar mengabulkan permintaan anda untuk menikah lho" Ucap Minho berbisik.
"Cucuku, pakailah tuxedo itu untuk hari pernikahanmu nanti. Yang akan dilaksanakan minggu depan" Ucap Byun Seung Hyun, dia adalah kakek Baekhyun.
Baekhyun terperangah, usahanya membuahkan hasil. Ternyata benar apa yang dikatakan Minho saat pagi tadi.
"jika anda berharap, tiada satu pun hal yang mustahil terwujudkan"
"Huee Saranghaeee~~ Baekkie sayang kalian~" Teriakan bahagia disertai aegyo membuat semua orang memekik gemas.
Satu Minggu Kemudian
Hari pernikahan yang diidam-idamkan Baekhyun tiba. Saat memasuki aula, Bekhyun tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya. Begitu pula dengan Bogum, Yoona dan Minho.
Setelah beberapa hari Baekhyun menunggu, tiba saatnya ia bertemu dengan Chanyeol, sang pangeran penyelamatnya. Hal itu karena sang Appa meminta Baekhyun agar tidak menemui pangerannya sebelum hari pernikahan, dengan patuh Baekhyun menunggu, dengan syarat Minho memberikan semua informasi mengenai 'Sang Pangeran' yang ternyata ia bernama Park Chanyeol. Murid SM Senior High School tingkat akhir.
Saat retinanya menangkap sosok tinggi berbalut jas hitam, disertai karangan bunga putih di tangannya, Baekhyun tersenyum lebar, dibalas senyuman canggung oleh Chanyeol.
Baekhyun melangkah berirama bersama Ayahnya, Byun Bogum. Diiringi instrument piano yang Minho mainkan, tangannya memeluk lengan Appa-nya erat.
'Kenapa tidak ada orang selain Appa, eomma dan Minho, dan pak Pendeta. Dimana seluruh rakyat negriku, dimana pula Raja dan Ratu dari pihak Pangeran' Batinnya bingung.
"Kenapa? Appa!! Kenapa tidak ada yang datang di hari bahagia ini. Kemana semua orang?" Tanya Baekhyun dengan mata berkaca-kaca. Bogum terus melangkah sambil mengapit lengan anaknya, sesekali menenangkan.
"Kemana semua orang di kota ini Appa~~ Teman-teman dan.."
Ucapan Baekhyun terhenti saat lengan Chanyeol menyambutnya. Dengan cepat raut wajahnya itu berubah. Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol erat, ia menatap tautan tangannya itu malu.
"Hei, lebih baik hanya ada kita saja.. hal itu aku yang memintaya." Ucap Chanyeol disertai anggukkan Bogum dan Yoona. "Soal pernikahan, ketika disekolah mari kita jadikan rahasia istimewa diantara kita." Ucap Chanyeol dengan senyuman yang memikat. Baekhyun mengangguk dengan rona merah di wajahnya.
...
"Saya bersedia" Ucap Chanyeol dengan wajah datarnya.
"Saya bersedia" Ucap Baekhyun disertai senyuman lebar disertai rona merah yang tersinggung di wajahnya.
"Saatnya pemasangan cincin" Ucap pendeta mempersilahkan kedua pasangan yang sudah resmi itu.
"Tidak ada pemasangan cincin" Ucap chanyeol datar, hal itu mengejutkan semua yang hadir. Baekhyun menatap Chanyeol penuh tanda tanya. Begitu pula dengan Bogum dan Yoona.
"Wae?? Bukanya disetiap pernikahan ada pemasangan cincin, pangeran?" tanya Baekhyun berbisik. Chanyeol tersenyum, "Jika ada tanda cincin, maka kelak rahasia istimewa kita akan terbongkar" Ucap chanyeol, Baekhyun hanya mengangguk setuju.
"err~~ Kalau begitu.. Ciuman ikrarnya" Ucap pendeta bingung melihat pasangan muda yang baru saja mengucap janji suci itu.
Kini baekhyun dan Chanyeol berhadapan, Chanyeol menghela nafas ragu, sedangkan Baekhyun telah bersiap memejamkan mata serta memonyongkan bibirnya.
Bogum menatap anaknya tak rela, sedangkan Yoona hanya memeluk lengan Bogum erat, ia menatap anak bungsu serta menantunya itu gemas.
Chanyeol memegang pundak baekhyun dengan tangan yang bergetar, ia dengan cepat mengecup pipi Baekhyun, dan Baekhyun memegang pipinya dengan rasa bahagia.
...
Setelah pernikahan 'janggal' itu dilaksanakan di greja, kini mereka bersiap pulang dengan mobil keluarga Byun. Mata Chanyeol seakan melompat ketika ia melihat mobil yang begitu mewah didepan matanya.
"Maaf, seperti yang saya bilang sebelumnya, bahwa kami akan tinggal di rumah saya, selaku pihak suami." Ucap Chanyeol sambil membungkuk hormat pada Bogum.
Baekhyun terkejut, untuk yang satu ini Baekhyun belum mengetahuinya.
"Apa Baekkie harus berpisah dengan Eomma dan Appa~?? Waee Pangeraan? Kenapa tidak tinggal dirumah Baekkie saja" Ucap Baekhyun disertai mata yang berkaca-kaca.
Yoona menatap anaknya lembut, "baekiie, karena baekkie sudah menikah sekarang. Walau eomma tadinya ragu. Tapi suamimu berhasil meyakinkan kami" Ucap Yoona. Baekhyun tersipu malu mendengar kata 'suami' yang diucapkan ibunya itu.
"Tidak masalah kan, eumm.. Baek?" Ucap Chanyeol. Baekhyun mentap Chanyeol berbinar, "Eumm. Tentusaja tidak masalah pangeran!" Ucapnya riang, lalu memeluk lengan Chanyeol erat.
"Eumm, Appa.. Minho ikut baekkie kan?" Tanya Baekhyun pada Bogum yang sedari tadi diam.
"Tidak baek, sekarang kau telah menjadi suami orang. Tentu saja harus mandiri, arraso?" Ucap Bogum tegas, Baekhyun mengangguk walaupun ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
...
Kini sampailah mereka di kediaman Chanyeol. Baekhyun menatap takut rumah yang ada didepannya itu. "Eumm.. Eumm.. pangeran yakin kita bisa tinggal ditempat seperti ini?" Ucap baekhyun ngeri. Pasalnya rumah yang akan mereka tempati sekarang jauh dari kata mewah.
Chanyeol tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan baekhyun. Ia tengah berpamitan pada Bogum dan Yoona, pasalnya orang tua Baekhyun itu tidak bisa berlama-lama karena ada urusan mendadak. Yang mengharuskan mereka berangkat keluar negri.
"Nee baekkie~ jangan merepotkan Chanyeol ya. Eomma dan Appa berangkat" Ucap Bogum. Baekhyun yang sibuk meneliti rumah barunya itu spontan barbalik kearah Ayahnya. Baekhyun memeluk Bogum tak rela, ia menepuk punggung anak bungsunya itu, lalu mencium kening baekhyun.
Baekhyun melepaskan pelukan pada ayahnya. Lalu matanya melihat sang Ibu yang terlihat sedih, Baekhyun memeluk ibunya erat.
"Jaga dirimu baik-baik sayang, jangan lupa makan yaa, uri Aegi, hiks" Isak Yoona. Baekhyun mengangguk kecil dipelukan ibunya.
"Baekkie bersama pangeran sekarang. Jadi pasti baekkie akan baik-baik saja" Ucap Baekhyun melepas pelukannya.
Setelah selesai berpamitan, Chanyeol yang sedari tadi menatap interaksi perpisahan itupun tanpa berkata-kata meninggalkan Baekhyun masuk kerumahnya. Sedangkan Baekhyun tengah sibuk melambaikan tangannya pada mobil yang semakin menjauh dari pandangannya.
Chanyeol menatap ruangan yang sekarang berbeda, tentu saja karena barang-barang baekhyun yang memenuhi ruangannya. Chanyeol menekan dahinya berdenyut pusing.
"Um pangeran, dimana kamar kita" Ucap baekhyun sumringah. Chanyeol menatap baekhyun dari atas-kebawah.
"Buka" Ucap Chanyeol datar.
Baekhyun terkejut, wajahnya memerah bahkan sampai ketelinganya. "B-Baiklah, tapi ini masih siang loh pangeran" Ucap baekhyun malu, lalu melepaskan pakaiannya perlahan.
Chanyeol menyerit, ia menatap baekyun yang sedang membuka kancing bajunya. "Dasar idiot! Buka sepatumu!" bentak cahnyeol.
"Eeeeehhh?!" teriak baekhyun malu, lalu dengan cepat ia mengancingkan bajunya kembali, lalu membuka sepatunya. Mengikuti chanyeol masuk ke salah satu ruangan.
"Ini kamarmu. Bereskan pakaianmu yang masih ada di koper. Lalu masukan ke lemari itu." Ucap Chanyeol membuat Baekhyun kaget. Ia menatap ruangan itu ngeri, yang bahkan kamar mandinya saja lebih luas dari ini.
'Mustahil, kenapa tidak ada ranjang. Kenapa kamar ini sempit sekali. Hanya ada lemari? Tidak ada meja rias? Ehh.. tunggu.. kamarmu?' batin baekhyun terkejut.
"Maksud pangeran, kamar kita terpisah? Tapi.. tapi.. tapi baekkie kira.. kita akan sekamar pange.."
"Berhenti! BERHENTI MEMANGGILKU PANGERAN SIALAN! KAU MEMBUATKU MUAK!" Bentak Chanyeol dengan suara tingginya.
Tentu saja baekhyun terkejut bukan main, matanya berkaca-kaca. Baru kali ini ia diteriaki oleh seseorang, bahkan orangtuanya saja tidak pernah berteriak pada Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun sinis, ia meninggalkan baekhyun begitu saja.
Suara bantingan pintu dari kamar sebelah membuat tubuh baekhyun merosot jatuh, ia menekuk kakiknya, menyembunyikan wajahnya disana lalu menangis keras.
"pa-pangeran hikss.. membenciku" Isak Baekhyun disertai air mata yang tak kunjung berhenti.
.
.
.
TBC
Sampai disini dulu ya~~
Terimakasih yang udah baca, jangan lupa kritik saran beserta lovenya hehe~
