Disclaimer, Amano Akira

Yang pertama Tsuna lakukan hanya tersenyum, inginnya sih bertanya secara halus. Entah ia salah jalan di kusutnya benang takdir atau apa, tapi Tsuna tidak menginginkan ini. Terjebak di sebuah ruangan berhawa seram biar tampilannya simple nan elegan. Pipinya lebam pas di tulang pipi sebelah kanan. Mungkin bisa lebih parah jika tadi Tsuna tidak ambil tindakan menunjukkan surat kepindahan. Orang yang hampir membuatnya masuk rumah sakit atas tuduhan masuk teritori tanpa ijin dan diclaim sebagai penyusup, sekarang tengah duduk meneliti lembar-lembar kertas entah apa isinya, dengan tatapan tajam nan dingin padahal kertasnya tidak melakukan apa-apa.

"Sawada Tsunayoshi." suara berat yang membuatnya trauma di pertemuan pertama memanggil namanya.

"I- iya... ?" kepala miring empat puluh lima derajat secara otomatis. Secara imajiner, telinga dan ekor anjing yang berkibas akan terlihat jika kau terlalu imajinatif membayangkan hal tidak berguna ini. Sebenarnya, Tsuna tak yakin juga sih harus menjawab atau tidak. Tapi demi sopan santun...

"Kelasmu ada di lantai dua di ujung lorong." lalu hening tak nyaman. Hanya bertahan beberapa detik sebelum mata sewarna logam tangguh itu memberi glare yang bisa membuat Tsuna percaya bisa membunuhnya jika terus ada di ruangan itu.

"Te- terima kasih bantuannya..." segera dengan kecepatan lari yang biasa ia gunakan untuk menghindari tembakan yang selalu niat menghapus eksistensinya, Tsuna keluar tidak lupa menutup pintu lalu pergi ke kelasnya sendiri. Skylark raven menghela napas dan menutup wajah tampan berlabel-anti-anas-semangkanya ketika suara langkah pendek-pendek tak terdengar. Sepertinya dia akan pergi cek-out ke rumah sakit, siapa tahu punya penyakit jantung atau tertular virus menjijikkan nanas-nanas jantan brengsek yang suka selinap intip-intip di toilet umum.

Sampai di depan kelas, Tsuna tidak langsung mengetuk atau masuk. Mau meninggalkan kesan apa kalau memperkenalkan diri sambil ngos-ngosan. Dalam pikirnya, ini kota kok gini amat orang-orangnya. Cocok sih kalau dipikirin lagi, buat tiga kakaknya yang unik-unik tapi. Adik durhaka memang.

Dirasa napasnya sudah benar dan pakaiannya sedah rapi terutama mentalnya sudah siap, Tsuna mengetuk pintu kelas. Suara dari kegiatan belajar mengajar kelas itu pun tiba-tiba hening. Entah mengapa tapi rasanya ini terlalu lama hingga seorang laki-laki berwajah menyebalkan yang sepertinya tak laku dapat pasangan membuka pintu dan hadir sebagai guru. Apa perasaannya saja atau guru ini menghela napas lega dan suasana tidak terlalu hening lagi karena yang ditemukannya bukan orang lain selain Tsuna?

"Ano, saya siswa pindahan." menyerahkan lembar keterangan pindah sekolah, guru itu akhirnya menyadari eksistensi siswa asing di hadapannya.

"Oh, hmm... Sawada Tsunayoshi. Baiklah, tunggu disini hingga aku memanggilmu masuk dan memperkenalkan diri." guru itu masuk lagi dan memberi pengumuman singkat sebelum mempersilakan Tsuna masuk.

"Perkenalkan, Sawada Tsunayoshi. Empat belas tahun, pindahan dari Italia. Mohon bantuannya." dan dengan sentuhan akhir sebuah senyuman malaikat, latar kelas itu berubah menjadi bunga-bunga dan merah muda. Ah, Tsuna sedikit bersyukur tutornya tidak hanya mengajarkan cara 'bertahan hidup' saja.

TBC


sankyuu~ zhichaloveanime, Cocoa2795, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, Natsu Yuuki, AkabaneKazama