Disclaimer, Amano Akira

Dia di sana, tersenyum dan bercanda tawa bahagia dengan teman-temannya. Gadis idola yang membuatnya doki-doki suru pada pandangan pertama. Kyoko Sasagawa namanya. Mau dekat-dekat pun banyak saingannya. Sekeras apa pun perjuangannya akan masuk friendzone saja rumornya. Murid teladan memang beda. Pacaran urusan belakangan, belajar dikedepankan. Tapi katanya, ada satu penghalang besar yang tidak memungkinkan untuk dilewati oleh orang biasa dengan kekuatan rata-rata. Seperti sebuah sistem pelindung yang tidak bisa ditembus entah apa, Tsuna belum tahu. Bicara kekuatan, Tsuna menyeringai kecil memikirkan kemungkinan untuk dirinya.

Di sana Tsuna sekarang. Menopang dagu memandangi sang cinta monyet bagaikan tak ada hal menarik lain disekitarnya, padahal sedari tadi Yamamoto setengah frustasi memanggil nama remaja shota dengan tingkat kepolosan diambang jurang neraka.

"...na! ... Tsuna... TSUNA! OI!" dasarnya kekuatan Yamamoto memang sudah tidak diragukan, cuma satu tepuk berasa ditampar. Tapi hasilnya, Tsuna bisa sadar dari dunia khayalannya... sambil meringkuk, meringis akan nasib tulang-tulangnya. "Kau tidak apa-apa?" Tsuna menyerapah tentang kondisinya yang tidak mungkin sedang tidak kenapa-kenapa. Bisakah dia lulus dengan nyawa tetap ada di dalam raganya? Tsuna ragu.

"A- aah... y- ya begitulah... jadi... ada apa?" demi tidak dipanggil dengan panggilan sayang sang tutor, Tsuna jaga image. Senyum meyakinkan macam sales door-to-door yang mementingan kenaikan gaji ketimbang urusan barangnya palsu atau asli, biar capek sampai pengen lepas kaki.

"Dari tadi kau melamun, sakit?" Tsuna punya feeling kalau topiknya dilanjutkan, bakal nyerempet hal-hal tak penting lainnya. Intuisinya itu absolute! Dan tidak boleh ada yang menentang apa kata intuisinya atau Tsuna lempar ke bara api yang selalu ia katakan 'su-te-ki' dengan senyuman dan mata berbinar. Racun kekejaman berlaku lain bagi bungsu Sawada ini.

"Ah, tidak... hm, makan siang?" Tsuna mengeluarkan kotak bekal normal, berbentuk balok, berwarna jingga, dengan tutup putih. Isinya Tsuna sendiri yang masak demi menghindari keracunan. Ditata apik DAN tidak selebay kakak pengidap brother-complex-nya "Nah, aku membuatnya sendiri, mau coba? Setidaknya aku mau membalas makan siang kemarin." *smile* di belakang sana, beberapa siswa tumbang kehabisan darah dan Yamamoto sekuat mungkin menahan diri untuk tidak menerjang Tsuna, mengikatnya, memasukkannya ke dalam karung, lalu bawa pulang. Author saja tidak bisa melakukannya, maka tidak boleh ada yang melakukannya kalau masih mau hidup.

"Be- benarkah? Tentu! Aku akan mencobanya!" sebenarnya jika diperkirakan dalam jangka panjang, ini akan berakhir buruk. Tapi kabar baiknya, Tsuna tidak peka akan kesalahan kecil yang akan terus ia lakukan untuk seterusnya. Author ketawa penyihir di ujung ruangan.

Walau topik sudah ia rubah dan teman pertamanya sekarang banyak mengocehkan pujian untuk Tsuna, hati tidak mau menolak untuk tetap memperhatikan eksistensi sang idola yang bagaikan matahari yang begitu menghidupi. Tanpa sadar dia melamun lagi. Membayangkan banyak hal yang membahagiakan bersama Kyoko. Sedang orang yang dilamunkan tiba-tiba merinding. Jangan tanya Author apa yang Tuna-fish bayangkan.

TBC


sankyuu~ Cocoa2795, Renkou-tachii, Natsu Yuuki, zhichaloveanime, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama