Disclaimer, Amano Akira

Yang bisa Tsuna lihat hanya kegelapan. Ia yakin dirinya masih sadar. Padahal ini belum jam tidur dan baru beberapa menit yang lalu dia menyalakan komputer di kamarnya. Rasa-rasanya dia juga masih nyaman di kursi belajarnya, bukan terbaring melayang-layang di udara seperti nasari author-author yang membuatnya mati suri atau reinkarnasi *Authordikeroyok*. Jadi intinya, ini bukan khayalan kesehatan Tsuna saja.

Tapi mati listrik. Bukan hal besar memang, tapi biasanya dibesar-besarkan.

"TSUUUUUUU-CHAAAAAA- gabuagh." Beruntung Tsuna mengunci pintu kamarnya. Tapi barusan Ieyasu menabrak pintu kamarnya atau tembok? Keras sekali suaranya.

Dengan merayap, Tsuna bangkit menuju lemarinya mencari lilin atau senter. Sayang, lilin yang ditemukannya hanya berupa sisa-sisa lelehan dengan sumbu kurang dari satu sentimeter. Setidaknya bisa memberinya cahaya biar hanya satu-dua menit, dari pada harus menabrak benda keras dan tahu-tahu dapat peluk maut Ieyasu? Tapi masalahnya dia tidak punya korek api. Seandainya dia bisa mengeluarkan api. Sayangnya ini fanfic AU.

"Na, baka-Yasu... kenapa kau malah bermesraan dengan tembok?" sorot cahaya bisa Tsuna lihat dari sela-sela pintu kamarnya. Tsuna membuka pintu.

"..." Tsuna sweatdrop saja diambang pintu, menyaksikan tubuh Ieyasu yang sepertinya sedang sekarat, dicolek-colek jahil kaki berbalut selop kelinci merah muda Alfonso. Lagi pula, jika yang dicari Ieyasu adalah kamar Tsuna, kenapa dia malah menabrak dinding di seberang pintu kamar Tsuna? Terkadang Tsuna ingin pergi bersama semua kakaknya untuk periksa kejiwaan, karena tamasya sudah terlalu mainstream.

"Oh! Tuna-fish." Alfonso berbalik menghadap Tsuna, lampu darurat di tangannya diangkat setinggi wajah Tsuna. "Aku hanya mau memanggilmu untuk makan malam." dengan wajah datar tersirat kepuasan itu, rasanya Alfonso tidak niat sekali repot-repot naik ke lantai dua untuk memberitahunya makan malam sudah siap. Ara~ sepertinya karena Ieyasu tadi ngotot ingin memanggil Tsuna, tidak percaya Tsuna bisa selamat, makannya Alfonso menyusul... dengan membawa satu-satunya lampu darurat rumah ini. Fufu... Alfonso sayang adik ternyata.

"Al! Kenapa kau bawa lampu daruratnya?! Aku tidak bisa melihat!" suara Dino dari lantai satu terdengar jelas, lalu suara debam dan pekikan familiar. Ah, Dino tersandung kakinya sediri.

"Ayo turun, sebelum Haneuma itu menggulingkan meja makan." Alfonso pergi sambil menyeret kaki Ieyasu, entah bagaimana nasibnya nanti di tangga. Tsuna sih mengekor saja, berhubung dia juga tidak ada sumber cahaya di kamar. Kira-kira makan malam ini apa ya? Bukan tuna seperti kemarin malam 'kan? Ie-nii sampai menggambar wajah Tsuna menggunakan saus, padahal lebih mirip kappa. Tsuna tidak mau memikirkan bagaimana jadinya kalau itu benar dirinya. Horor!

Oh, lihat Dino di sana. Bergelung manja dengan spageti di samping kaki meja. Untung yang jatuh jatah makan malamnya Dino sendiri. Alfonso dan Tsuna mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Alhamdulillah...

TBC


sankyuu~ zhichaloveanime, Cocoa2795, Renkou-tachii, Natsu Yuuki, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama