Disclaimer, Amano Akira
Mengelus sayang jidat yang dipelester karena memar yang kentara, hadiah bangun tidur pengganti morning kissu dari Alfonso-nii-san. Dino sebenarnya sudah bangun sebelum dibangunkan, hanya ingin meneruskan mimpi indah terbang bersama burung sadis yang masih terlalu muda ketempat yang jauh... jauuuhhhh. Begitu keluar dari kamar tanpa repot mandi, ruang tamu sudah penuh sesak oleh bocah-bocah absurd NamiHigh yang sedang berdebat pasal rute otoge terbaru yang masih segelan, jangan tanya siapa yang beli. Dino mikir. Mereka apa? Cewek-cewek lovesick cowok-cowok kece? Kecil-kecil sudah homo. Nggak sadar dirinya bahkan semi pedo.
Tidak memperhatikan keramaian nggak jelas di rumahnya, Dino hanya perlu segelas susu dengan gula banyak-banyak untuk membangunkan nyawanya yang masih nyangkut di tempat tidur. Tapi begitu mendapat view ruang makan, serasa Dino melihat pintu surga, atau dia saja yang masih tidur nyambi jalan? Yang pasti dia tidak mau bangun jika benar masih tidur dan ada mimpi indahnya tadi... tapi sepertinya ada yang berbeda... mimpi indahnya habis ketumpahan mayonais? Ah, Dino... kau mulai pikun.
Tsuna merasa, kehausannya ini bikin sial. Di ambang pintu dapur, Dino berdiri megap-megap seperti ikan. Aah, padahal Tsuna hanya ingin ambil jus jeruk sebelum habis dijarah teman-teman Ieyasu. Memutuskan mengabaikan eksistensi adik kembar Alfonso, Tsuna menyelinap di antara kusen pintu dan kakaknya. Langsung menuju kulkas begitu bisa masuk.
"Nah, Tuna-fish," Alfonso duduk posisi wuenak di kursi ujung meja makan layaknya raja. Di seberangnya, sosok menyerupai Hibari-san yang kepalanya ketumpahan mayonais menyesap minuman yang kelihatannya masih panas dari cangkir yang bisa dibilang feminim pake bunga-bunga. Tsuna tegang layaknya ikan masuk frezzer ingat trauma hari pertama. Alfonso tidak suka dicueki.
"Oi!" dengan gerak patah-patah, Tsuna merespon. "Ini, belanja sana! Bocah sapi sialan itu menguras isi lemari penyimpanan." ibu jarinya menunjuk remaja SMA yang duduk dengan 'sopan'nya di depan pantry, menguap lalu melanjutkan cemilannya.
Beringsut waspada pada sosok yang bisa Tsuna deteksi sebagai salah satu keturunan Hibari, Tsuna akhirnya sampai di sisi sang kakak tertua. Lembar seribu yen diambil, lalu kakinya segera melangkah menuju pintu kulkas untuk jus favoritnya.
Tiga, lima menit kemudian Dino bercicip. "Alaude-kun!" dan menerjang remaja mirip Hibari Kyoya tapi bersurai dirty-blonde. "Ne, ne, Kyo-kun, bagaimana kabar dia hari ini? apa dia tadi bangun pagi? Apa dia sudah sarapan? Apa dia menanyakan sesuatu tentangku-" lalu Dino sudah terkapar dengan lengan kaki sudah terborgol. Muncul dari mana borgol-borgol itu? Apa sudah ditemukan teknologi abad dua puluh dua yang bernama kantong ajaib?
Angin berhembus datar entah dari mana. Tsuna tidak mau tahu dan langsung keluar.
Pucuk tak mengiba, nanas terkutuk pun tiba.
"ANIKIII!" baru mau Tsuna membuka pintu, tahu-tahu sudah ada saja yang dengan baik hati MENDOBRAKkan pintu untuknya. Benda persegi itu sudah hampir lepas dari engselnya berkat sesosok (sesosok?) makhluk (makhluk?) astral (euum...) menyerupai nanas (nanaass! ^o^)/. *Author terkapar ditusuk trident*
Tuna-fish dan nanas-san mematung saling pandang, panah moe si brunette sukses menancap di jantung hati pikiran napsu nanas biru bermata belang /bukan berarti motif macan, cheetah, nanas, hati dan sebagainya lho/. Untungnya Tsuna tidak perlu melakukan aksi india-india-an, karena dalam kurun waktu kurang dari satu per seratus ribu mikro detik(?), nanas biru itu sudah terkapar tidak berdaya di bawah tangga. Seorang gadis manis bertampang tanpa dosa berdiri menggantikan yang nanas meregang nyawa /eh? Bukanya naas? Sudahlah/.
"Mukuro-sama, anda tidak apa-apa? Maafkan saya, tadi itu reflek karena mendeteksi pedopil anda kumat." Tsuna sweatdrop, gadis ber-eyepatch memberi alasan... err... penjelasan akan sikapnya tadi –menendang-dari-belakang- pada sang Mukuro-sama.
"Nai, nai, nai, Chrome-chan. Good job!" seorang nanas lain dengan paduan semangka mengangkat kedua jempol tangannya untuk gadis yang masih di ambang pintu. Beberapa teman Ieyasu juga memberikan pujian atas apa yang baru saja dilakukan gadis yang terlihat –tidak-akan-mungkin-bisa-membunuh-nyamuk-sekalipun di depan Tsuna.
"A- arigatou..." gadis yang disadari Tsuna juga memiliki model rambut nanas itu tersipu. 'Manisnya~' kalau Tsuna boleh berkontar, walau tertelan pujian lain berbunyi 'Sadisnya~'. "A- ano..." lamunan Tsuna buyar, gadis itu menatapnya lekat.
"Ah, silahkan masuk..." setidaknya gadis ini masih memiliki sopan santun. Dan mungkin agak lebih waras dibanding beberapa yang baru-baru ini ditemuinya.
"Doumo..." setelah membungkuk pada Tsuna dan melepas sepatu, gadis bernama Chrome itu masuk. Tsuna melanjutkan langkah. Tapi berhenti lagi ketika ingat tamunya yang manis akan ditinggal sendirian bersama para manusia absurd. Ah, Tsuna sakit kepala.
"Etto... aku masih belum hapal jalan..."
"Biar aku temani!" Ieyasu dan Nanas biru berdiri antusias, nanas semangka mengangkat tangan menawarkan diri. Dino yang masih terikat membuka mulut namun tak jadi ikut-ikutan menawarkan bantuan untuk mengantar, dia ada jadwal pemotretan hari ini. 'Seandainya jasa mereka bisa dijual...' Tsuna mulai jahat. Seorang berambut merah muda(?) menampar kepala tiga orang yang terlalu optimis.
"Kita kemari untuk rapat! Jangan macam-macam dengan alasan membantu, agar bisa kabur dari sini!" galaknya. Padahal dari tadi dia dan yang lain hanya ribut sendiri memperebutkan rute ikemen mana yang mau dimainkan.
"Tapi aku bukan anggota OSIS!" si nanas biru mencoba mengelak.
"Kau itu juga ikut terlibat aho! Hargai senpaimu!" balasnya. "Nah Chrome! Temani ochibi-Sawada ini!" Tsuna merasa agak sakit right in the kokoro mendengar panggilan itu untuknya.
"Ah, ha- hai." Chrome berbalik dan kembali memakai sepatu bootsnya. Yah, setidaknya Tsuna dapat keuntungan. Intuisinya berkata buruk tentang ide memilih tiga yang barusan. Sekarang dia ditemani gadis manis, nggak tersesat dan mungkin akan jauh dari bahaya. Tsuna mah gitu orangnya. "Ano..." Chrome menghadap gurita pink memastikan sesuatu.
"Tenang saja, aku akan mengirim tagihan lembur ke kepala keluarga Rokudo." sebuah seringai dan jempol tangan diangkat, lalu suara protes terdengar kompak, namun Tsuna sudah didorong keluar dari kediamannya oleh Chrome yang berwajah ceria yang-terbaca-asik-gaji-bulan-ini-naik. Mungkin pengaruh sulung Dokuro yang bekerja sebagai rentenir. Alasannya, bekerja dengan keluarga Rokudo saja tidak memenuhi kriteria ideal jumlah tabungan dan gunungan uang dalam rekening banknya, padahal keluarga yang sudah turun temurun menjadi pelayan keluarga Rokudo ini sekarang bahkan lebih kaya dari keluarga masternya sendiri. Tinggal menunggu waktu sih, sampai azab turun karena dosa serakahnya. Kalau ditelan bumi, author mau ngasi tanda silang merah terus digali. Kan saya seneng. *plak!
NB: Saya tuliskan bahwasannya keluarga Dokuro adalah keluarga yang turun-menurun melayani keluarga Rokudo dengan loyal... err... mungkin generasi ini agak berbeda. Kedua keluarga asli italia, dan Chrome adalah pelayan pribadi Mukuro. Sudah ah, spoiler banyak-banyak bisa bahaya... /Author... tolonglah.../ *authordibuang*
TBC
sankyuu~ Natsu Yuuki, Cocoa2795, Remah-Remah Rengginang, Ssora0, zhichaloveanime, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama
