Tittle; My Love

Cast; Kang Daniel, Hwang Minhyun, Bae Jinyoung, Lee Daehwi

Support Cast; Choi Minki, Im Youngmin, Takada Kenta, Kim Sanggyun, Kim Jonghyun, Ha Sungwoon, Ong Seongwoo, Yoon Jisung, Kang Dongho, and others.

Sebelumnya saya mau peringatin, kalo ini FF NielHwang, so yang nggak suka jangan maksain baca, okay :) jadilah pembaca yang cerdas :)

ooo

Seoul November 2012

Yongguk, sekarang tengah berada didepan apartment yang ditinggali oleh Ayah Daehwi-Kang Daniel- Ia menghembuskan napas berkali-kali untuk menghilangkan kegugupannya. Dia tidak tau harus bagaimana jika nanti Daniel bertanya macam-macam. Dan lebih parahnya lagi, bagaimana jika Daniel tidak percaya? Ya... Yang pasti Daniel tidak akan mungkin percaya begitu saja. Pastinya akan sulit untuk membuat Daniel percaya.

Yongguk menghela napas sekali lagi. Ia melirik Daehwi sedang tertidur lelap didalam gendongannya. Senyum manis terukir di bibir kucingnya. Yongguk mengecup pipi Daehwi sekilas, lalu dengan mantap memencet bel apartment Daniel.

Satu menit Yongguk menunggu, pintu apartment akhirnya dibuka oleh Daniel. Dapat ia lihat Daniel yang mengerutkan keningnya saat melihat ia yang datang dengan seorang bayi didalam gendongannya.

"Yongguk, kau membawa bayi siapa?" Daniel bertanya bingung.

"Danik, setidaknya biarkan aku masuk dulu dan menidurkan Daehwi dengan nyaman, aku akan jelaskan semuanya didalam." Yongguk tersenyum lega saat melihat Daniel yang mengangguk, anak itu menggeser tubuh besarnya mempersilahkan Yongguk masuk.

"Tidurkan saja anak itu dikamarku" Daniel menunjuk kamar yang tauh dari ruang tamu.

Yongguk mengangguk, ia melangkahkan kakinya kekamar Daniel. Yongguk menidurkan Daehwi keatas kasur Daniel dengan sangat hati-hati, takut membangunkan Daehwi yang sedang terlelap. Yongguk menciumi wajah Daehwi sebentar, lalu ia kembali ke ruang tamu apartment Daniel.

"Jadi... Apa yang akan kau jelaskan tentang anak itu?" Daniel bertanya sesaat setelah Yongguk keluar dari kamar miliknya. Yongguk menghela napas gusar, ia bingung harus memulai dari mana. Ia duduk dengan gelisah, membuat Daniel mengernyitkan dahi karena bingung dengan tingkah laku nya.

"Yongguk... Aku menunggu penjelasanmu." Desak Daniel tak sabaran.

"Sabar, Niel... Akan aku jelaskan," Yongguk berujar sarkastik. "Oke... Sebelumnya aku ingin bertanya, apa kau... Ingat dengan kejadian kurang lebih saat hampir dua tahun yang lalu saat kau mengunjungi Miracle club? Tidak, lebih tepatnya saat perayaan kelulusan kita" Yongguk bertanya hati-hati.

Alis Daniel mengerut bingung, ia menatap Yongguk penuh tanya. "Miracle club? Kejadian yang mana? Kita sering mengunjungi Miracle club, dan juga... Aku tidak benar-benar mengingat kejadian pada saat kita kelulusan."

"One Night Stand..." Yongguk sengaja menjedah kalimatnya, ia ingin melihat reaksi Daniel, anak itu terlihat menegang saat ia menyebutkan kata One Night Stand. Ia menatap Yongguk dengan gugup. "Kau ingat bukan? Saat kau bangun dari tidur- tidak atau lebih tepatnya mabuk, kau terbangun di hotel, dan... Kau menghabiskan malam panas bersama seseorang?" Yongguk melanjutkan kalimatnya, ia berujar sambil terus menatap kearah Daniel.

"Jangan berbelit-belit Kim Yongguk! Katakan saja langsung" Daniel berujar datar, sepertinya dia mulai menangkap arah pembicaraan mereka kemana.

Yongguk tersenyum sinis, ia menegakkan tubuhnya menatap Daniel tak kalah datar. "Oke... Aku akan mengatakannya secara langsung. Jadi... Singkat cerita, orang yang kau tiduri itu hamil, dan anak yang aku bawa tadi- Daehwi- dia adalah anakmu" Yongguk berujar tenang. Namun ia menggertakan giginya saat melihat Daniel yang malah terkekeh, seolah menganggap ini adalah lelucon yang patut ditertawakan.

"Jangan membual Kim Yongguk! Kau yakin itu benar-benar anakku? Bisa saja kan dia hanya mengaku-ngaku, untuk mendapatkan uang ku, dan juga... Apa dia orang baik-baik? siapa tau juga ia hanya seorang pelacur di Miracle Club." Daniel berujar remeh. Dan selanjutnya ia tersungkur ke lantai, karena Yongguk yang menghantam wajahnya dengan sangat kuat. Darah mengalir dari hidungnya, ia bisa melihat ekspresi wajah Yongguk yang tenang, namun terselip emosi disana.

"Kau... Dan mulutmu itu sama saja. Sama-sama busuk Kang Daniel, aku tau kau memang seorang bajingan dan brengsek. Tapi aku tidak tau kau bisa berfikiran serendah itu pada Ibu dari anakmu! Kau tidak tau apa-apa Niel... Kau tidak tau penderitaan apa yang ia alami selama mengandung anakmu! Dan sekarang... kau dengan mudahnya mengatakan hal sekejam itu! Jika dia pelacur yang gila uang, ia pasti sudah memerasmu untuk uang! Dan juga besar kemungkinan ia akan menggugurkan anakmu... Kau tau betul apa maksudku Tuan muda Kang yang terhormat. 'Nama baik adalah segala-galanya' bagi keluarga besar Kang," Yongguk menekankan kaliamat terakhirnya.

Daniel terdiam, ia masih pada posisi yang sama. Teduduk di lantai, ia memegangi hidungnya yang masih mengeluarkan darah, akibat pukulan Yongguk yang tidak main-main.

"Yongguk... Apa yang kau katakan itu benar?" Daniel berujar pelan. Ia menatap Yongguk dengan pandangan kosong, pernyataan Yongguk barusan seolah menghujamnya dengan pedang tak kasat mata. Nyawanya seolah dicabut paksa dari tubuhnya, dia tidak tau jika perbuatan bejatnya, bisa membuat seseorang menderita.

"Niel... Aku tidak mungkin berbohong, kita berteman bukan satu, atau dua tahun Niel. Kau tau betul bagaimana sifatku"

Daniel tersenyum miris. "Aku harus bagaimana Yongguk" Daniel berujar hampa, ia memandang Yongguk dengan pandangan tidak fokus.

"Kau... Hanya perlu mengurusnya dengan baik Niel, Ibu dari anakmu tidak meminta apa-apa. Ia hanya minta, kau mengurus Daehwi dengan baik. Didik Daehwi dengan benar, jadikan dia anak yang baik. Besarkan dia dengan kasih sayang, karena... ia pun 'melakukan hal yang sama' bukan hanya kau yang mengurus Daehwi, bukan hanya kau yang menjadi orang tua. Karena... Ibu Daehwi juga mempunyai tanggung jawab yang sama, mengurus... dan membesarkan... hyung Daehwi"

"Kau- APA?!" Daniel melotot, ia menatap Yongguk dengan mata membulat karena kaget.

Yongguk tersenyum saat Daniel menyadari kalimat terakhirnya. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Daniel, Yongguk mengusap punggung Daniel. "Kau tidak hanya punya Daehwi, Niel. Kau masih punya satu anak lagi. Oke... Untuk yang satu ini memang Ibu Daehwi tidak mengizinkan aku memberitahumu, tapi aku rasa... Kau harus tau, kau harus tau... Bahwa kau bukan hanya menjadi ayah dari satu orang anak. Kau, mempunyai dua orang anak Niel."

"Mereka... Kembar?" Daniel mendongak menatap Yongguk.

"Ya... Mereka kembar" Yongguk tersenyum.

"Yongguk... Bisa kau pertemukan aku dengan Ibu Daehwi" Daniel berujar penuh harap.

"Tidak, Niel. Aku tidak bisa mempertemukan kau, dan Ibu Daehwi. Lebih tepatnya, Ibu Daehwi yang tidak mau bertemu denganmu. Jika tuhan mengizinkan, suatu saat nanti takdir yang akan mempertemukan kalian, dan... Ini juga atas permintaan Ibu Daehwi, ia memohon agar aku merahasiakan identitasnya"

Daniel mengangguk faham, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Menghiraukan darah yang membekas di sekitar wajahnya, ia berdiri dan berjalan kearah kamarnya. Ia menghela napas sebentar, sebelum membuka knop pintu kamarnya. Setelah mengatur napasnya, Daniel membuka pintu kamarnya secara perlahan. Daniel mendekati kasurnya, yang disitu ada Daehwi yang sedang tertidur nyenyak.

Daniel memperhatikan 'anaknya' dalam diam, tak lama setelahnya, ia dapat melihat kelopak mata 'anaknya' perlahan-lahan terbuka, menampakkan sepasang iris kembar yang menatapnya dengan polos. Seketika, airmatanya mengalir tanpa di perintah, ia mendongak, menghalau airmatanya agar tidak terjatuh dan mengenai Daehwi.

"Maafkan aku... Maafkan aku dan segala kebejatanku membuat kau, dan Ibumu menderita." Daniel berujar parau, Daniel menggenggam tangan mungil Daehwi dengan lembut, seolah mengerti apa yang dirasakan oleh ayahnya, Daehwi juga balas menggenggam jari telunjuk Daniel walaupun tidak erat. Dan itu sukses membuat Daniel makin terisak, ia menciumi seluruh wajah 'anaknya' dan tak henti mengucapkan kata maaf.

Yongguk menyeka airmatanya yang mengalir dengan satu tangan. Ia tersenyum haru melihat pemandangan didepannya, ia menggenggam erat ponsel yang sedari tadi merekam kejadian barusan. Yongguk akan memberikan rekaman ini pada Minhyun. Ya... Setidaknya, Minhyun tidak perlu khawatir dengan keadaan anaknya, Daehwi disini akan baik-baik saja. Yongguk tau, Daniel bukan orang bejat. Dia dibesarkan dengan dilingkungan yang keras, ayahnya mengajarkan ia untuk bertanggung jawab dalam setiap hal yang ia perbuat.

"Nik... Setidaknya bersihkan dulu darah yang mengalir dari hidungmu. Kau bisa membuat wajah Daehwi kotor dengan darah itu." Yongguk berujar dari ambang pintu kamar Daniel.

Daniel menoleh, ia menganggukkan kepalanya, "Ya, kau benar... Bisa tolong bantu aku membersihkannya." Daniel beranjak dari posisinya, ia melepaskan secara perlahan jarinya yang digenggam oleh Daehwi.

"Nik, beri bantal disekitar Daehwi, dia sedang belajar tengkurap. nanti dia bisa jatuh jika tidak ada penmbatasnya." Yongguk memberitahu pada Daniel, yang dituruti oleh anak itu. Ia meletakkan bantal disegala sisi tempat tidurnya. Memerangkap Daehwi yang berada di tengah-tengah tempat tidur.

"Sayang, tunggu disini oke. Jangan nakal, Daddy akan segera kembali." Daniel mengajak Daehwi berbicara, yang hanya dibalas tatapan polos oleh anak itu. Membuat Daniel tersenyum gemas.

Yongguk melihat itu dalam diam, bibirnya mengulas senyum tipis; Selanjutnya, ia keluar dari kamar Daniel, yang diikuti oleh Daniel di belakangnya.

"Yongguk, kau harus membantuku menjelaskan pada Ibu dan Ayahku." Daniel berujar tiba-tiba disela-sela Yongguk membersihkan hidungnya.

Yongguk mendengus, ia tau pasti akan kembali direpotkan. Kalau direpotkan Minhyun dia tidak masalah, karena dia memang sangat senang membantu Minhyun. Dan juga... Minhyun memang patut dibantu. Tapi jika yang meminta bantuan itu Daniel, tentunya itu tidak akan gratis. Yongguk menyeringai, dia bisa memanfaatkan Kang Choding satu ini.

"Baiklah... Tapi aku tidak mau kalau hanya cuma-cuma."

"Ya! Yang benar saja kau ini, perhitungan sekali dengan teman sendiri." Daniel berteriak kesal.

"Yah! Kang Choding! Jika kau berteriak seperti itu, anakmu bisa kena serangan jantung." Yongguk menggeplak kepala Daniel, membuat anak itu berteriak tidak terima.

"Itu sakit bodoh!"

"Masa bodo." Yongguk berujar cuek.

"Tsk... Oke, aku akan menuruti apapun permintaanmu, tapi bantu aku menjelaskan semua ini dengan Ayah dan Ibuku." Daniel berujar dengan nada memohon.

Yongguk menyeringai, "Naaahh... Itu baru deal, baiklah... Aku akan membantu menjelaskan pada paman dan bibi Kang." Yongguk berujar mantap. Membuat Daniel mendengus tak suka.

"Nik, aku harap kau berubah, berhenti bermain wanita, berhenti melakukan One night stand. Kau sudah punya Daehwi sekarang, kau sudah menjadi seorang Ayah. Aku harap Kau bisa bertanggung jawab Niel. Aku mohon, lakukan apa yang diinginkan Ibu Daehwi" Yongguk berujar sesaat setelah ia selesai mengobati hidung Daniel, ia menggenggam tangan Daniel dengan lembut.

Daniel menyandarkan tubuhnya pada sofa yang berada dibelakangnya, ia menutup wajahnya dengan satu lengan, "Aku... Akan aku coba." Daniel berujar tak yakin.

ooo

Seoul Agustus 2017

Minhyun berjalan dengan santai menuju kesekolah Jinyoung. Bibirnya tak henti mengulas senyum manis. Ia saat ini sangat bahagia, bagaimana tidak, hari ini putra kesayangannya -Hwang Jinyoung- genap berusia lima tahun. Hari ini Minhyun sengaja mengambil libur, karena ia akan mengajak Jinyoung jalan-jalan seharian. Teman-teman di caffé tempat ia berkerja juga sudah menyiapkan pesta kejutan untuk Jinyoung. Jadi, sepulang dari jalan-jalan nanti, Minhyun tidak akan langsung mengajak Jinyoung pulang kerumah, melainkan ke cafe tempat ia berkerja.

Minhyun sangat bersyukur, karena teman-teman ditempat ia berkerja, termasuk boss nya -Yoon Jisung- juga sangat menyayangi Jinyoung. Mereka semua sudah menganggap Jinyoung sebagai anak mereka sendiri. Ya... Walaupun mereka terkadang dibuat naik darah karena sifat Jinyoung yang pendiam, dan cuek ini. Tapi mereka tetap menyayangi Jinyoung.

Langkah kaki Minhyun memelan, saat ia sudah dekat dengan sekolah Jinyoung. Minhyun mengernyit saat tidak mendapati Jinyoung ditaman tempat biasa anaknya itu menunggu. Minhyun menyapukan pandangannya ke segala arah untuk mencari Jinyoung. Pandangannya terhenti pada taman yang berseberangan dengan sekolah Jinyoung. Ia menajamkan pengelihatannya, saat melihat siluet anak kecil mirip Jinyoung yang sedang menangis, dengan satu orang dewasa yang sepertinya sedang menenangkan anak itu.

Lama Minhyun memperhatikan mereka, sesaat setelahnya ia membolakan matanya, saat menyadari, bahwa anak kecil yang tengah menangis itu memang benar-benar Jinyoung. Minhyun berlari dengan cepat menghampiri Jinyoung, ia nyaris saja teserempet kendaraan mobil yang sedang lewat karena menyebrang tiba-tiba. Setelah meminta maaf dengan pengendara mobil tersebut, Minhyun kembali ke tujuan awalnya. Ia dengan cepat menghampiri Jinyoung, dan menarik anak itu ke dalam pelukannya.

"Mama!" Jinyoung memeluk Minhyun dengan erat, tangisnya semakin menjadi saat Minhyun mencoba menenangkannya.

"Ya! Kau siapa?! Beraninya kau memeluk keponakanku seperti itu?!" bentak seseorang yang Minhyun yakini membuat Jinyoung menangis itu,

Minhyun memperhatikan orang tersebut dengan seksama, sepertinya ia laki-laki, tapi... Oh, dia sedang hamil. Minhyun menghela napas sebentar guna meredakann emosinya. Seseorang di hadapannya ini tengah hamil besar, ia tidak mau balas membentak orang yang sedang hamil. "Maaf tuan, tapi anda yang siapa? Dia anak ku, dia Hwang Jinyoung anak ku" Minhyun berujar sambil tersenyum, Minhyun mencoba berbicara setenang mungkin.

"Ya! Dia keponakanku, dia Kang Daehwi keponakanku. Jangan mengaku-ngaku! Kau tau, aku bisa melaporkanmu pada polisi sekarang juga, karena mencoba menculik keponakanku" lelaki didepan Minhyun berujar tak terima, ia yakin jika itu adalah keponakannya, Daehwi.

Minhyun membeku, dia... tidak salah dengar 'kan? Seseorang dihadapannya menyebutkan nama Kang Daehwi, dan... Keponakan... Jantung Minhyun berdetak tak beraturan, keringat dingin mulai mengalir dari dahinya. "A-apa? Apa yang kau bilang barusan?" Minhyun tergagap. Ia berharap ia salah mendengar.

"Apa kau tuli?! Aku bilang kau siapa? Kenapa kau seenaknya memeluk keponakanku seperti itu!" lelaki yang tersebut semakin emosi.

"Bu-bukan yang itu, ka-kau menyebutkan nama seseorang tadi"

Lelaki itu mendengus, ia menatap nyalang pada Minhyun. "Kang Daehwi, dia keponakanku! Yang ada dipelukanmu itu keponakanku" ujarnya sarkatik.

"Ka-kau salah orang tuan, dia anakku. anakku dia Hwang Jinyoung, bukan Kang Daehwi" Minhyun berulang kali mengucapkan Jinyoung anakku bak sebuah mantra, pandangan Minhyun menjadi tidak fokus. Ia menatap lelaki didepannya dengan pandangan yang memburam karena airmata, membuat lelaki didepannya terheran karena melihat Minhyun yang tiba-tiba menangis.

"Ma-maaf tuan, anda benar-benar salah orang. Dia Hwang Jinyoung anakku, bukan Kang Daehwi. Aku permisi" Minhyun menggendong Jinyoung, lalu berjalan dengan cepat meninggalkan taman. Menghiraukan lelaki yang tengah hamil tersebut meneriakinya dengan penuh emosi.

Daniel, saat ini ia tengah memeriksa laporan keuangan perusahaannya. Ia melirik Daehwi yang sedang fokus bermain games di laptopnya, Daniel terkekeh saat melihat ekspresi serius anaknya saat bermakn games. Dilihat dari sisi manapun, Daehwi benar-benar menggemaskan. Bibirnya mengerucut, karena terlalu serius bermain. Sungguh, hati kecil Daniel benar-benar penasaran bagaimana rupa Ibu Daehwi. Ia ingin cepat bertemu dengan Ibu Daehwi, dan kakak Daehwi. Daniel yakin, dia pasti orang yang sangat cantik, terbukti dengan paras Daehwi yang cantik dan imut disaat bersamaan.

Daniel sebenarnya ingin menanyakan perihal Ibu Daehwi kepada Yongguk. Namun, teman china nya itu sedang tidak berada di Korea. Ia kembali ke China saat Daehwi menginjak usia ke tiga karena Ibunya sakit. Dan sampai sekarang Daniel lost contact dengan Yongguk.

Drrt drrt drrt

Daniel menghentikan aktivitasnya yang sedang memperhatikan Daehwi, saat mendengar ponselnya yang terletak di atas meja bergetar. Ia mengernyit, saat nama Kang Minki -kakak iparnya, istri dari Kang Dongho kakaknya- menelponnya. Seingatnya, Minki dan Dongho tadi keluar akan membelikan cake untuk ulang tahun Daehwi besok. Ya... Karena hari ulangtahun Daehwi hari ini (hari sabtu) Daniel memutuskan untuk merayakannya besok. Karena, ia sendiripun masih banyak pekerjaan hari ini, Ayah dan Ibunya juga baru hari ini akan pulang dari Belgia. Jaehyun juga, ia masih diluar kota karena urusan pekerjaan. Daniel tidak bisa apa-apa tanpa mereka. Daniel bisa saja meminta kakak iparnya untuk membantunya, tapi tidak mungkin, menilik kondisi kakak iparnya yang tengah hamil besar saat ini.

Drrt drrt drrt

Daniel tersadar dari lamunannya saat ponselnya kembali bergetar. Tanpa sadar ia melamun tadi. Daniel menghela napas sebentar, ia lalu menggeser icon hijau pada layar ponselnya.

"Ha-

"YA! KANG DANIEL BODOH! KENAPA LAMA SEKALI MENGANGKAT PANGGILANKU!" Minki berteriak sekuat tenaga dari seberang telpon. Samar-samar terdengar suara kakaknya -Dongho- yang sepertinya sedang menenangkan Minki.

Daniel refleks menjauhkan ponsel dari telinganya, saat mendengar teriakan tiba-tiba dari kakak iparnya. Telinganya terasa berdengung, akibat mendapat serangan berupa teriakan itu secara tiba-tiba..

"Ada apa, hyung?" Daniel bertanya bingung.

"Ya! Bodoh! Apa kau tau, Daehwi di bawa seseorang tadi. Kenapa kau bisa sesantai ini disaat anakmu sedang berada ditangan orang lain!"

"Tunggu, tunggu... Apa maksudnya, hyung? Daehwi sedang bersamaku saat ini. Ia sedang bermain games, Daehwi sedang dikantorku"

"A-apa? Apa maksudmu, Niel? Jelas-jelas aku tadi melihat Daehwi" Kekeuh Minki.

Daniel makin mengernyitkan dahi, ia benar-benar bingung sekarang.

"Daehwi sedang bersamaku, hyung"

"Tapi- tapi tadi anak itu sangat mirip dengan Daehwi, Niel. Sangat mirip tidak ada yang berbeda"

"Hyung... Sebaiknya kalian kekantorku sekarang, kalian bisa lihat sendiri Daehwi sedang bermain games, hyung"

"Oke, oke... Aku akan kekantormu sekarang. Kau sepertinya harus menjelaskan sesuatu Kang. Aku merada ada yang janggal."

Daniel mengangguk, walaupun ia tau anggukannya tidak akan terlihat oleh Minki. "Baiklah, aku tunggu" Daniel menjawab singkat.

"Aku tutup telponnya"

Pip

Selesai panggilan terputus, Daniel kembali melamun. Ia berfikir keras, bagaimana kakak iparnya bisa berkata Daehwi dibawa orang, sedangkan Daehwi jelas-jelas ada didalam satu ruangan yang sama dengannya. Daniel mengedikkan bahunya tak acuh, mungkin kakak iparnya itu salah lihat. Lama Daniel terdiam, ia memperhatikan Daehwi dengan intense. Tunggu! Kakak iparnya bilang anak itu sangat mirip dengan Daehwi? Jangan-jangan... Daniel mengepalkan tangannya dengan kuat. Semoga apa yang ia fikirkan, memang benar adanya. Semoga ini bisa menjadi setitik petunjuk untuknya.

'Tuhan... Aku mohon... Untuk kali ini, tolong jangan halangi aku lagi. Aku mohon, biarkan aku bertemu dengan Ibu dan Kakak Daehwi. Biarkan aku menebus kesalahanku.' batinnya nelangsa.

-TBC-

Note;

Hello

masih adakah yang nungguin ff ini?/g. chap 4 is update yuhuuu... hayoooo sapa yang nungguin mereka ketemu? chap depan (mungkin) bakal ketemu mereka, tapi tergantung juga heheuh.

oke jangan lupa review yah sayang-sayangku :) review kalian itu moodboster banget buat aku :) yang bikin aku semangat itu review dari kalian semua :)

oke... aku bakal up lagi kalo review nya udah banyak wkwk... serakah? biarin :p

see you next chapter :)

2018-01-12