Disclaimer, Amano Akira
Tsuna tidak mengerti, lalu tidak mau tahu sama sekali. Urat malunya sudah aktif semua, hampir over penggunaannya malah. Dirinya tidak mengenal seorang pun di sana, hanya seorang asing yang tidak pernah bertemu. Namun gadis manis yang menemaninya menuntaskan perintah yang mulia Alfonso-onii-sama, bersikap sebaliknya. Semu di pipinya Tsuna akui menambah tingkat manis hingga level pencipta diabetes sekali lihat. Yang jadi masalah ada antusiasme Chrome pada tontonan tidak bermutu di ujung jurang opera sabun roman picisan berharga minus. Ketika memilih sayur tadi, tiba-tiba saja Tsuna terseret ke depan sebuah florist di mana sebuah adegan nista terjadi. Ah, bisa-bisanya seorang anak manis punya kekuatan macam hero dari barat sana.
"Dokuro-san, kau terlihat cantik hari ini. Tuntas tiga bulan masa penantianku dalam bingkai pekerjaan yang harus menjauh darimu, sekarang aku senang bisa kembali memandang wajah terindah itu." gombalan rendah penuh modus meluncur dari si muka playboy yang memerankan akting pangeran harem dalam ekspektasi.
Tsuna merasa harus ke kamar mandi... berwudhu, atau mandi wajib jika perlu. Matanya sudah hampir kena belek paska bertemu anak Tsuyoshi-san, sekarang apa mata yang mulai iritasi ini akan meleleh pasal lihat adegan jijay di depannya ini? Serius deh, ini pasar, bukan panggung opera.
"Kampret lu! Nggodain orang lihat-lihat dong! Di sini pasar bego'!" yang di godain malah nyolot pake ngotot, banyak perempatan berhamburan di kepala tertutup hoodie.
"Nah, nah, kalau nggak di sini berarti mau?" lalu pot bunga dari florist yang jadi korban bekgron mencium kening pemuda ganteng, cuma rada anjrit kelakuannya.
Pelempar barang tidak ikut andil dalam hal ganti rugi, yang jadi sasaran lempar malah dengan senang hati memberi ganti /beuh, pamer kekayaan dia/. Ini yang dosa siapa coba? Tsuna 'kan illfeel. Sampe ngelirik Author yang lagi nulis tuh, kasi muka uke-yandere pake tulisan itu-summary-ditulis-no-pairing-nape-ni-adegan-najis-masih-ada? Nah, author pun hanya menganggapnya angin lalu, bodo' amat terancam beku ditempat. Ini fic AU, jadi aman. *pot besar menewaskan Author* /tapi boong/
"Ah ah, Dokuro-san~."
"Pergi kau sialan! Ladeni orang lain sana!"
"Hee... nona cantik cemburu~"
"..." Tsuna bisa merasakan napsu membunuh dari Dokuro-san malang. Biar ini fic AU, bukan berarti ahli palak Namimori udah nggak bisa ilusi. Pasal gimana caranya, tentu 'entah' jawabnya, buat 'cuci otak korban peras' alasan pastinya.
Setelah trik ini dan itu dilakukan dengan cepat, sang 'nona cantik' hilang. Ahli gombal kebingungan dompetnya hilang. Chrome tepuk tangan. Tsuna melambaikan tangan –pada CCTV terdekat-.
"Ahahaa, sugoi na Mammon-nii! Deposit bertambah!" Chrome berseru riang.
"Heh?" Tsuna sedikit berfikir.
"Ah, ma- maaf Sawada-san. Tadi itu kakak saya, Viper, baru ganti nama menjadi Mammon setelah suatu 'insiden'. Mungkin dia baru saja selesai menagih hutang. Jarang-jarang dia- /dan bla bla bla/" Chrome bercerita dengan senyum ceria terpasang bangga. Walau Tsuna tidak tahu apa yang bisa dibanggakan dari menagih hutang sebagai rentenir kalap.
Pemuda tukang gombal masuk mode cool, berlalu dengan aura blink-blink menyebar pheromon. Sepertinya hendak mencari mangsa yang lainnya. Intuisi Tsuna masih menjalankan roda giginya dengan mulus, semulus hawa dingin yang lewat ketika pandangan pujangga kesepian yang padahal jones sok cool menusuk padanya.
"Aah, kelinci kecil yang di sa- " sebelum tuntas, Tsuna sudah lari menyeret Chrome. Dugaannya benar! Pria bersenyawa memabukkan bagi kaum hawa itu homo. Author smirk-smirk menantang pada Tsuna, salah siapa nantangin Author. Ufu, berniat tebak siapa jones ini?
TBC
sankyuu~ zhichaloveanime, Cocoa2795, Kuroshi Charlice, Natsu Yuuki, Remah-Remah Rengginang, Ssora0, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama
