Tittle; My Love
Cast; Kang Daniel, Hwang Minhyun, Bae Jinyoung, Lee Daehwi
Support Cast; Choi Minki, Im Youngmin, Takada Kenta, Kim Sanggyun, Kim Jonghyun, Ha Sungwoon, Ong Seongwoo, Yoon Jisung, Kang Dongho, and others.
Sebelumnya saya mau peringatin, kalo ini FF NielHwang, so yang nggak suka jangan maksain baca, okay :) jadilah pembaca yang cerdas :)
ooo
Minhyun sampai dirumah dengan perasaan takut yang luar biasa. Ia berjalan dari taman menuju kerumah dengan langkah yang sangat tergesah-gesah. Jinyoung yang berada di dalam gendongannya menjadi takut, namun tidak berani membuka suara. Minhyun nyaris menangis, saat ia beberapa kali salah memasukan angka password rumahnya. dengan tangan yang bergetar, Minhyun mencoba sekali lagi menekan angka password rumahnya. Ia bisa bernapas lega, karena saat ini tidak salah lagi.
Setelah pintu terbuka, Minhyun dengan cepat masuk kedalam rumahnya, ia mendudukkan Jinyoung di sofa ruang tamu, "Jinyoungie, Mama minta Jinyoung telepon Mama Sungwoon ya sayang, minta Mama Sungwoon kemari. Mama sedang ingin sendiri, Jinyoungie jangan ganggu mama dulu ya sayang," Ujar Minhyun dengan suara bergetar. Ia tersenyum lega saat Jinyoung mengangguk tanpa banyak bertanya.
Setelah yakin Jinyoung menelpon Sungwoon, Minhyun langsung memasuki kamarnya. Minhyun jatuh terduduk dibalik pintu kamarnya, ia memeluk kedua lututnya, dan menangis dalam diam. Minhyun bingung, Minhyun kalut, Minhyun sangat takut 'orang itu' akan mengetahui keberadaannya, dan Jinyoung. Dan... Yang Minhyun takutkan 'dia' akan mengetahui bahwa Daehwi tidak sendiri. Minhyun takut 'dia' akan mengambil Jinyoung darinya.
"Tidak! Jinyoung anak ku! Dia tidak berhak mengambilnya, aku yang akan mengambil Daehwi darinya! Daehwi tunggu Mama sayang, Daehwi sebentar lagi bisa bersama Mama dan Jinyoung hyung." ujarnya dengan suara bergetar.
Tok tok tok
"Minhyun! Hey Minhyun! Buka pintunya, Min."
Minhyun bergegas menghapus Air mata nya, dia menepuk-nepuk beberapa kali pipinya, berharap Air mata nya berhenti mengalir. Menghela napas beberapa kali, Minhyun membuka pintu kamarnya.
Pemandangan pertama kali yang dilihatnya adalah, Jinyoung yang berada didalam gendongan Sungwoon. Dibelakangnya ada Taehyun -suami Sungwoon- yang sedang menggendong Seonho, anak mereka yang baru berusia Tiga tahun.
"Minhyun ada apa?! Kenapa Jinyoung menelpon ku sambil menangis? dia bilang ada orang yang tidak dia kenal memaksa untuk mengikutinya, Apa yang terjadi sebenarnya? Apa Jinyoung hampir di culik seseorang?" Sungwoon bertanya tak sabaran.
"Sayang tenanglah, bagaimana Minhyun bisa menjawab jika kau memberondongnya dengan banyak pertanyaan seperti itu." Taehyun mencoba menenangkan istrinya.
"Hyung, sebaiknya kita ke ruang tamu saja, aku akan menceritakan semuanya," ujar Minhyun, yang diangguki oleh Sungwoon. Ia mengikuti Minhyun yang lebih dulu berjalan ke ruang tamu.
"Taehyun hyung, tolong aku... Bisakah kau bawa Seonho dan Jinyoung bermain ke taman kompleks dulu , aku ingin berbicara serius dengan Sungwoon hyung, ini tentang Jinyoung." berujar tak enak pada Taehyun.
"Iya sayang, tolong yah." Sungwoon membantu Minhyun membujuk suaminya.
Taehyun mengangguk faham, dia menuruti kata-kata Minhyun dan Sungwoon, mengajak Jinyoung dan Seonho bermain ke taman yang tak jauh dari taman kompleks.
"Minhyun, sekarang jelaskan padaku, sebenarnya ada apa?" Sungwoon bertanya khawatir.
"Hyung, 'dia'... Sudah mengetahui keberadaanku dan Jinyoung, hyung." Minhyun berujar lirih, Air mata kembali menetes dali kedua mata indahnya.
"A-apa... Apa maksudmu Min? Aku tidak mengerti, ceritakan dengan jelas." tuntut Sungwoon.
Minhyun menganggukkan kepalanya, ia menghela napas sejenak lalu, mulai menceritakan kejadian saat ia melihat Jinyoung yang menangis, dan seseorang yang mengirah Jinyoung adalah Daehwi. Semuanya, tanpa terkecuali.
Hening
Setelah Minhyun menceritakan kejadian beberapa saat yang lalu, Sungwoon hanya bisa terdiam, ia bergitu terkejut mendengar cerita Minhyun. Dia tau, ini semua pasti akan terjadi, lambat laun Ayah Jinyoung pasti akan mengetahui keberadaan mereka.
Tapi, Sungwoon tidak menyangka akan secepat ini, walaupun yang bertemu dengan Jinyoung adalah bibinya. Tapi, Sungwoon yakin pasti mereka sudah menceritakan semuanya pada Ayah si kembar.
"Minhyun, aku fikir... Ini sudah saatnya kau keluar dari persembunyianmu," Ujar Sungwoon dengan lembut.
Minhyun tersentak mendengar kata-kata yang diucapkan Sungwoon. Dia menatap Sungwoon dengan nanar, " Hyung... Aku tidak bisa, aku tidak mau 'dia' mengambil anak-anak ku, hyung! Aku takut Jinyoung akan lebih memilih tinggal bersama Ayahnya, hyung." Minhyun menangis sesegukan. Sungwoon dengan cepat menarik Minhyun kedalam pelukannya.
"Minhyun, tidak mungkin kau akan bersembunyi terus-terusan, apalagi sekarang Ayah si kembar pasti sudah mengetahui keberadaan kalian berdua, tidak ada yang kebetulan di dunia ini Minhyun, tidak mungkin ada anak yang sangat mirip dengan anaknya, kalau itu bukan kembarannya." Ujar Sungwoon sambil mengusap punggung Minhyun yang bergetar.
"Tapi hyung-
"Ssst... Jangan takut, aku dan Taehyun akan selalu berada disampingmu. Kami akan membatumu dengan cara apapun, termasuk jika kau ingin mengambil hak asuh atas Daehwi."
Minhyun melepaskan pelukan Sungwoon, ia menatap nanar pada hyung tersayangnya itu, "Hyung... Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu? Kau sudah terlalu banyak membantuku hyung. Aku- aku..." Minhyun tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya terasa tercekat.
Melihat Minhyun yang kembali menangis, Sungwoon menarik Minhyun kembali kepelukannya, ia tak henti-hentinya mengusap punggung Minhyun yang bergetar karena menangis.
"Tidak perlu melakukan apapun Minhyunie, kau harus bahagia, cukup bahagia. Kau sudah sangat menderita selama ini, sudah tak terhitung berapa banyak penderitaan yang kau alami selama ini. Aku tidak ingin melihatmu menderita lagi," Sungwoon berbisik pelan.
ooOoo
Disisi lain, Daniel masih berada di kantornya. Ia sedang mengajari Daehwi menulis, dan membaca sembari menungu kakak ipar nya datang. Daniel memperhatikan Daehwi yang tengah serius menuliskan kata-kata yang ia contohkan.
"Daddy, cucah..." Daehwi merengek dengan manja.
Daniel terkekeh kecil; ia mengangkat Daehwi keatas pangkuannya. Daniel menciumi seluruh wajah anak manjanya itu, membuat Daehwi tertawa karena geli.
"Hahaha... Daddy cudah, Daddy geli..."
Bukannya berhenti, Daniel malah semakin menciumi seluruh wajah Daehwi, membuat anak itu berterial kegelia, "Daddy Daehwi sudah berubah menjadi singa aum~ dan Daddy ingin makan, Daddy sedang lapar." Daniel semakin gencar menggoda Daehwi membuat anak itu berteriak, dan semakin tertawa.
"Dewi tidak mau punya Daddy cinga, Dewi mau punya Daddy kecoa caja, hahaha..."
"Hahahah... Apa-apaan itu masa Daddy Daehwi yang tampan ini jadi Kecoa," Daniel tak henti tertawa mendengar ucapan anaknya.
"Daddy tidak tampan, Daddy jelek cepelti Kecoa hahaha.."
Brakk
Daniel terlonjak kaget, saat mendengar pintu ruangannya di buka dengan tidak berperikepintuan oleh seseorang. Ia mengkesah saat mendapati kakak iparnya lah yang masuk diikuti oleh kakaknya yang menuntun Jihoon, dan Woojin(park) -anak pertama (kembar) mereka yang berumur Tujuh tahun.
"MOMMY!"
Daehwi turun tergesah-gesah dari pangkuan Daniel, dan bergegas lari menghampiri Minki. Ia menubrukkan tubuh mungilnya yang hanya setinggi paha, pada Minki. "Mommy, Dewi lindu Mommy," Daehwi memeluk kaki Minki dengan erat. Memang akhir-akhir ini Minki jarang main kerumah Daniel, karena usia kandungannya yang sudah mulai memasuki usia ke Delapan, dia sudah agak susah bergerak. Jadi dia lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah.
Minki terkekeh kecil, ia melepaskan pelukan Daehwi pada pinggangnya. Minki mensejajarkan tubuhnya dengan Daehwi, "Mommy juga merindukanmu sayang, Daehwi bagaimana kabarnya?" tanya Minki sambil mengusak rambut Daehwi. "Dewi baik Momm" Jawabnya antusias.
"Daehwi rindu Mommy saja, Daehwi tidak rindu Jihoon hyung? Hyung ngambek ah," ujar Jihoon sambil mencebilkan bibirnya.
"Dewi juga lindu Jihoon hyung!" Daehwi beralih memeluk Jihoon dengan heboh, yang dibalas tak kalas hebohnya dengan Jihoon. Woojin yang disebelah kiri Ayahnya hanya menatap malas acara pelukan Daehwi dan Jihoon.
Daehwi melepas pelukannya pada Jihoon, dan beralih menatap Woojin, "Woojin hyung, tidak lindu Dewi?" Daehwi bertanya dengan polos.
"Rindu, tapi hyung tidak mau kau peluk,"
Daehwi memberengut, ia menatap sebal kearah Woojin, "Woojin hyung bodoh! Woojin hyung jelek cepelti Kecoa, Jiun hyung, hyung ayo kita main beldua caja." Ujarnya sambil menggeret Jihoon ke sofa dimana ia belajar menulis dan membaca tadi.
"Ya! Hyung disekolah itu yang paling tampan, cuma kau yang bilang hyung jelek" Ujar Woojin tak terima. Ia menghampiri Jihoon dan Daehwi di tempat mereka.
"Apanya? Disekolah yang paling tampan itu Guanlin, bukan kau." Jihoon berujar tak terima.
"Apanya, Guanlin itu jelek, aku yang tampan!" Woojin kekeuh berpendapat bahwa dirinya tampan.
Dongho menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran tak penting ketiga anak kecil itu. Sudah terlalu biasa melihat pertengkaran antara Daehwi dan Jihoon vs Woojin. "Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi, itu tidak baik, kalau masih bertengkar nanti jadi monyet," Dongho menakut-nakuti ketiga bocah tersebut. Ia tersenyum puas saat ketiga anak tersebut langsung diam, dan malah bermain bersama.
"Daniel, aku ingin berbicara serius padamu."
Daniel menggela napas panjang, dia tau Minki pasti akan langsung membahas masalah ini. "Tapi tidak dengan adanya Daehwi disini, hyung." Daniel menjawab singkat.
"Yasudah, panggil Taeyong, minta tolong padanta untuk menjaga mereka bertiga. Atau ajak mereka kerumahnya saja, agar mereka bisa bermain dengan Renjun, dan Jisung."
Daniel mengangguk, ia dengan segera menelpon Taeyong -sekertarisnya di kantor, sekaligus istri dari Jaehyun. Tak lama setelah Daniel menelpon, Taeyong masuk keruangannya. Ia tersenyum saat mendapati Minki berada didalam ruangan itu juga.
"Taeyong, apa kabarmu?" Minki berjalan tak sabaran menghampiri Taeyong.
"Wow, wow... calm down Minki, kau sedang hamil, tidak lucu jika kau melahirkan hanya karena terlalu semangat bertemu denganku."canda Taeyong yang membuat Minki tertawa. Mereka berpelukan, saling melepas rindu. Taeyong, dan Minki adalah sahabat sejak SMP, mereka sangat akrab. Bahkan yang mengenalkan Minki pada Dongho adalah Taeyong dan Jaehyun -suami Taeyong.
"Taeyong hyung, tolong jaga mereka bertiga ya, maafkan aku harus merepotkanmu lagi." Ujar Daniel tak enak.
"Tak apa Niel, jangan merasa sungkan." Tayeong berujar menenangkan. "Baiklah, aku ajak mereka sekarang ya." Taeyong menghampiri Jihoon, Woojin dan Daehwi. Taeyong mengajak mereka bertiga untuk kerumahnya, dan terdengar pekikan senang dari Ketiganya.
Taeyong menuntun Jihoon diselah kanan, dan Daehwi desebelah kiri, sedangkan Woojin bergandengan tangan dengan Jihoon. Mereka menghampiri ketiga orang dewasa yang masih setia pada posisinya masing-masing.
"Woojin, Jihoon, Daehwi, jangan nakal ya dirumah Mommy Taeyong. Woojin, jangan mengusili mereka yah." Ujar Minki, yang diangguki oleh Woojin.
Minki beralih menatap kearah Taeyong yang berada didepannya, " Tae, maafkan aku selalu merepotkanmu"
Taeyong menggelengkan kepala tak setuju, "Berhentilah minta maaf, mereka sudah ku anggap anakku Minki. Lagupula, Mark dan Jisung sangat senang jika mereka datang kerumah." Taeyong menenangkan Minki yang masih menatap tak enak padanya.
"Tae Mommy, ayo! Dewi mau main cama Jicung." ujar Daehwi sambil menarik-narik tangan Taeyong yang menggandengnya.
"Iya sayang, kita kerumah Mommy sekarang, Dongho, Daniel, Minki. Aku pergi sekarang, yah."
"Ya, hati-hati dijalan, hyung."
"Baiklah, bye semuanya."
"Bye!"
"Daniel, cepat katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya?" Minki bertanya tak sabaran.
"Hyung, tenang dulu. Sebaiknya kita duduk dulu, kau tidak kasian dengan anakmu yang masih didalam kandungan?" Daniel menunjuk perut besar Minki.
"Iya sayang, lebih baik kita duduk dulu." Dongho menuntun Minki kearah sofa tempat anak-anak bermain tadi.
Minki menurut, ia mengikuti Dongho yang menuntunnya dengan lembut kearah sofa. Minkin menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kepalanya mendadak pusing, masalah Ibu Daehwi saja sudah membuatnya ikut pusing, apalagi jika ia mendengar fakta lainnya nanti. Minki tidak ingin berspekulasi, tapi dugaannya terlalu kuat. Dia merasa bahwa Daniel tidak hanya punya satu anak.
"Sayang, kau oke?" Dongho bertanya khawatir.
"Aku tak apa jangan hiraukan aku, Dongho. Ada masalah yang lebih penting."Ujar Minki sambil memejamkan mata.
Dongho memeluk pinggang Minki, mengelus perut besar istrinya. Mencoba berinteraksi dengan calon anaknya.
Daniel menatap pemandangan didepannya dalam diam. Seketika rasa sesak memenuhi hatinya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Ibu Daehwi, yang harus merasakan hamil tanpa didampingi seorang suami. Itu pasti tidak mudah, Daniel tau itu, apalagi pada saat usia kandungan masih muda, itu adalah masa-masa paling sulit. Dongho terkadang datang kerumahnya sambil mengerang frustrasi karena terlalu stress dengan permintaan istrinya yang aneh-aneh.
Daniel membuang napas lelahnya, dia benar-benar ingin bertemu dengan Ibu dari anak-anaknya. Dia ingin meminta maaf, dia ingin menebus semua kesalahannya. Kesalahan fatal yang ia lakukan di masa lalu. Kesalahan yang sudah menyebabkan seseorang menderita. Daniel mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bingung harus mencarinya kemana lagi.
"DANIEL! apa kau hanya akan jadi patung disitu?! Cepat kemari dan ceritakan apa yang terjadi di masalalu mu!"
"Oke, oke. Akan aku ceritakan, tapi kau jangan berteriak seperti itu, kau itu sedang hamil sekarang." ujar Daniel menghampiri Dongho dan Minki.
"Jadi?"
"Oke, aku akan berkata jujur sekarang, kalau Daehwi bukan satu-satunya anak ku. Daehwi bukan anak tunggal ku. Daehwi mempunyai kakak, anak ku kembar." Daniel berujar hampa. Rasanya sakit setiap kali mengingat fakta itu.
"Daniel..." Minki tak dapat melanjutkan kata-katanya, sepertinya ia terlalu kaget mendengar penjelasan Daniel barusan.
"Aku tau." Dongho berujar santai.
"Kau- APA?" Daniel membelalakan mata tak percaya.
"Aku tau Kang Daniel, aku tau bahkan sebelum Daehwi datang kerumah ini. Dan aku tau, seluruh hal bejat yang telah kau lakukan dimasa lalu, kau mabuk berat saat kau merayakan kelulusanmu di Miracle Club. Dan kau melakukan One night stand bersama salah satu bartender disana. Aku berani bertaruh, kau bahkan tidak tau siapa nama Ibu Daehwi, dan bagaimana rupa dari Ibu Daehwi." Dongho menatap Daniel tajam. "Kau tau! Aku selalu mengawasimu, Niel. Karena aku tau, setiap hal yang kau lakukan itu pasti selalu membuat orang lain susah." Dongho menekankan kalimat terakhirnya dengan penuh emosi.
"Dongho... Jadi ini alasanmu bersikap biasa saat di taman tadi, kau... Berulang kali bilang padaku bahwa itu bukan Daehwi, dan... Dan lelaki yang membawa Jinyoung tadi berarti Ibu Dehwi, dan anak Daniel satunya lagi." Minki berujar lirih. Dongho makin mengeratkan pelukannya pada pinggang istrinya. "Jinyoung sayang, namanya Jinyoung. Kakak Daehwi bernama Jinyoung." Dongho mengelus punggung Minki yang bergetar.
"A-apa?! Kalian bertemu Ibu Daehwi?" Daniel membelalakan matanya.
"Ya, kami bertemu Ibu Daehwi, dan kami Juga bertemu Jinyoung, kakak Daehwi." Minki berujar sinis. "Daniel, jadi kau hanya melakukan One night stand? Kau berbohong pada Ibu dan Ayah, bahwa kau menghamili mantan pacarmu? Kau... Kau bahkan tidak tau siapa nama Ibu Daehwi, dan bagaimana wajahnya. Tidakkah itu terlalu kejam, Niel," Minki menangis tanpa suara, ia menatap Daniel yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Aku juga seorang Ibu, Niel. Aku tau bagaimana susahnya masa-masa hamil. Tetapi, walaupun begitu ada Dongho yang selalu mendampingiku, tapi dia... Dia tidak ada yang mendampingi, Niel. Dia menderita Niel, aku tidak bisa membayangkan penderitaan macam apa yang ia alami. Bagaimana pandangan orang-orang tentangnya yang hamil di luar nikah. Dia-
Dongho menarik Minki kedalam pelukannya, saat melihat istrinya itu menangis sesegukan. Dongho menatap tajam pada Daniel yang masih setia menundukkan kepalanya.
"Temuilah dia." Dongho berujar datar.
Daniel dengan cepat mengangkat kepalanya, ia menatap Dongho dengan bingung. "Siapa, hyung?"
"Ibu, dan kakak Daehwi."
"Apa?! Tapi-
"Aku mengetahui semuanya Kang Daniel, kau dan orang suruhanmu itu memang sama-sama bodoh! Dia bahkan tinggal tidak jauh dari kantormu, dan sekolah anakmu juga tidak jauh dari taman yang biasa didatangi Minki, taman yang hanya berjarak dua tak lebih dari lima puluh meter." Dongho berujar remeh.
"Hyung-
"Aku akan memberikanmu alamatnya, temuilah dia, minta maaf padanya secara baik-baik. Tebus kesalahanmu padanya, Niel. Kau sudah banyak membuatnya menderita."
"Tidak, jangan berikan aku alamatnya, hyung."
"Kenapa?" Dongho menatap bingung pada Daniel.
"Aku ingin mencari tau sendiri, terima kasih, setidaknya aku sudah menemukan sedikit petunjuk." Daniel berujar hampa.
Dongho mengangguk, ia menghormati keputusan Daniel. Bagaimanapun ini adalah hidupnya, dia tidak berhak terlalu jauh ikut campur.
TBC
Um... hello, masih ada yang nungguin FF ini?/g. ehehe... gagal ketemu lagi mereka ny wkwk... tenang pasti mereka ketemu kok wkwk..
nggak mau banyak cuap-cuap, ditunggu aja reviewnya, biar aku makin semangat buat lanjutinnya :)
see you next chapter.
2018-01-25
