Tittle; My Love
Cast; Kang Daniel, Hwang Minhyun, Bae Jinyoung, Lee Daehwi
Support Cast; Choi Minki, Im Youngmin, Takada Kenta, Kim Sanggyun, Kim Jonghyun, Ha Sungwoon, Ong Seongwoo, Yoon Jisung, Kang Dongho, and others.
Sebelumnya saya mau peringatin, kalo ini FF NielHwang, so yang nggak suka jangan maksain baca, okay :) jadilah pembaca yang cerdas :)
ooo
Suasana meriah acara ulang tahun Jinyoung sudah berakhir dari beberapa jam yang lalu. Ya, hari ini, Minhyun memutuskan untuk merayakan ulang tahun Jinyoung hari ini, hari minggu. Walaupun seharusnya ulang tahun anaknya seharusnya dirayakan kemarin, namun, karena Minhyun yang masih merasa ketakutan, ia tidak mengizinkan Jinyoung keluar rumah sepulangnya Taehyung yang mengajak Jinyoung, dan Seonho ke taman kompleks. Kejutan ulang tahun yang sudah disiapkan di Caffè pun gagal total.
Sebenarnya, Minhyun merasa bersalah pada teman-teman kerjanya, dan juga boss nya. Tapi, apa boleh buat, Minhyun tidak mau mengambil resiko jika nanti ia akan bertemu 'orang itu' lagi. Ia lebih memilih aman, dengan berdiam diri dirumah.
Dan hari ini, hari ini dengan dibujuk (dipaksa lebih tepatnya) Sungwoon, dan anak-anak di Caffè akhirnya Minhyun mau merayakan ulang tahun Jinyoung di Caffè tempatnya berkerja. Bukan perayaan mewah, hanya perayaan kecil-kecilan yang dihadiri teman sekolah (TK) Jinyoung, dan beberapa anak-anak kompleks didekat rumah mereka saja yang hadir. Dan, juga teman-teman Minhyun yang berkerja di Caffè itu tentunya.
Walaupun sederhana, mereka merayakannya dengan sangat meriah. Minhyun sangat bersyukur, karena Tuhan mengirimkan orang-orang baik disekelilingnya. Dan juga... Minhyun sangat bersyukur dia kenal dengan Sungwoon, lelaki itu telah banyak membatunya... Membantunya dari segi apapun.
"Min, kenapa melamun?"
Minhyun tersentak kaget saat merasakan seseorang menepuk bahu nya. Ia saat ini tengah berada di atap Caffe. Ia sendiri tidak sadar, ia melamun. Minhyun mendongak untuk melihat siapa yang menepuk bahunya, ia tersenyum saat mendapati Jonghyun (temannya saat di panti asuhan dan temannya saat berkerja di Miracle Club) tengah menatapnya dengan khawatir.
"Ah! Jong, aku kira siapa."
"Kenapa kau sendirian disini? Kau memikirkan sesuatu?" tanya Jonghyun tepat sasaran.
"Tidak Jong, aku sedang tidak memikirkan apapun," Kilah Minhyun yang membuat Jonghyun makin curiga. Ia menatap Minhyun penuh selidik, membuat Minhyun risih ditatapi seperti itu. "Berhentilah menatapku seperti itu Jjong! Kau seperti Om mesum yang siap menerkam anak remaja."
Jonghyun memandang sengit Minhyun saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Minhyun, "Sorry, ya, Min.aku tidak berselera melihatmu." Ujar Jonghyun sarkastik.
Minhyun cemberut, ia menjitak Jonghyun dengan sekuat tenaga, membuat Jonghyun berteriak kesakitan.
"YA! BODOH! ITU SAKIT KAU TAU!" Jonghyun berujar sambil membalas jitakan Minhyun pada kepalanya, Minhyun yang tau gelagat dari Jonghyun langsung ambil ancang-ancang untuk kabur. Namun, dengan sigap Jonghyun menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Minhyun, membuat anak itu hampir saja terjungkal.
"Hey! Kalian berdua! Berhenti bercanda, ingat umur! Cepat urusi anak-anak kalian yang sudah seperti badut Lotte World. Jinyoung, dan Euiwoong saling colek krim dibawah!"
Minhyun dan Jonghyun menghentikan aktivitas mereka, saat mendengar teriakan membahana dari Sungwoon. Mereka meringis saat mendapati Sungwoon yang sudah berkacak pinggang didepan pintu atap Caffè. Jonghyun dengan cepat melepaskan kerah baju Minhyun dan ngacir turun kebawah, dengan hadiah jitakan sayang dari Sungwoon tentunya. Ia beralih menatap Minhyun yang sedang menggaruk lehernya; Sungwoon tau, anak itu tengah gugup sekarang.
"Min, cepatlah turun kebawah, kau tau? Jinyoung dan Euiwoong perang krim cake dan anakmu itu sudah berubah jadi badut Lotte World."
"Hah?! Ya Tuhan! Itu pasti lengket semua, hyung." Minhyun mengernyit jijik.
"Makanya! cepat turun dan bersihkan!" Titah Sungwoon, ia tersenyum puas saat melihat Minhyun secepat kilat berlalu dari hadapannya untuk turun kebawah.
ooo
Jika Minhyun merayakan ulang tahun Jinyoung secara sederhana, berbeda dengan Daniel. Ia merayakan ulang tahun Daehwi secara mewah. Daniel merayakan ulang tahun Daehwi di salah satu hotel bintang lima di Seoul. Ia mengundang seluruh teman-teman sekolah Daehwi, yang pastinya ia juga mengundang anak-anak dari kolega bisnisnya.
Acara tiup lilin sudah selesai dari beberapa saat yang lalu, sekarang hanya tinggal acara makan. Daniel menyapukan pandangannya ke segala arah, ia mencari Daehwi yang tidak terlihat olehnya sejak selesai meniup lilin tadi. Padangannya berhenti saat melihat siluet seorang anak kecil yang sedang duduk, sambil memakan kue dengan khusuk seorang diri. Daniel tersenyum, ia menghampiri anak itu.
"Dedek, kenapa disini sendirian? Kenapa tidak bergabung sama Jihoon hyung" Ujar Daniel setelah sampai dihadapan Daehwi, ia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Daehwi.
"Tidak apa-apa, dedek cuma mau makan ku cendilian Dadd, kalo dicana diganggguin cama Jihoon hyung." Ujarnya cemberut.
Daniel terkekeh pelan saat melihat Daehwi yang cemberut, ia mencubit pipi Daehwi dengan gemas. "Dedek tidak boleh pelit, apa yang Daddy ajarin?"
"Kita halus belbagi cama yang membutuhkan."
"Yaps, betul, kita harus berbagi sama yang membutuhkan."
"Tapi kan, kue dicini banyak Dadd, Jihoon hyung bukan olang yang membutuhkan, kan Jihoon hyung bukan hyung yang ada di panti acuhan." Daehwi berujar tak terima.
Daniel menggaruk kapalanya dengan canggung, benar juga, dia kan selalu mengajari untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Dan juga, ia selalu memberi contoh anak yang membutuhkan itu seperti anak panti. Well punya anak yang cerdas itu ternyata tidak selamanya enak.
"Oke, oke... Terserah dedek saja, sekarang Daddy mau tanya satu hal sama dedek." Daniel menggantungkan kata-katanya membuat Daehwi menatap penasaran kearahnya. "Tanya apa Dadd?"
"Dedek mau kado apa dari Daddy?" Daniel menatap Daehwi dengan lembut, namun ia mengernyit, saat melihat Daehwi yang beranjak dari duduknya, anak itu meletakkan piring kue yang sedari tadi dipangkunya keatas meja. Lalu, setelahnya ia kembali duduk di kursi tempatnya semula, berhadapan dengan Daniel.
"Daddy, cini peluk." Ujar Daehwi sambil mengisyaratkan Daniel agar lebih mendekat. Daniel menurut, ia memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Daehwi. Masih dengan posisi jongkoknya, Daniel kaget saat Daehwi memeluk lehernya dengan tiba-tiba. Anak itu menyamankan posisinya pada bahu lebar Daniel, Daniel sendiri hanya membalas pelukan Daehwi dengan usapan lembut dipunggung anaknya itu. Lama mereka dalam posisi seperti itu, hingga sebuah bisikan pelan Daehwi di telinganya mampu membuat air mata Daniel menetes seketika.
"Daddy, Dewi ingin kado Mommy dali Daddy, Dewi ingin beltemu Mommy, ingin liat wajah Mommy, dan ingin tidul cambil dipeluk Mommy." bisiknya pelan.
Daniel? Jangan ditanya, Daniel menangis dalam diam. Permintaan yang sederhana, namun begitu sulit untuk ia kabulkan. Karena perbuatan bodohnya di masa lalu, membuat anaknya harus merasakan tumbuh tanpa didampingi seorang Ibu. Daniel mengeratkan pelukannya pada Daehwi, ia menciumi rambut anaknya itu dari samping.
"Daddy janji sayang, Daddy janji akan membawa Mommy pada Daehwi, Mommy dan Hyung Daehwi." Daniel berbisik pelan ditelinga Daehwi. Membuat anak itu dengan cepat melepaskan pelukan Ayahnya. Daehwi menatap Daniel dengan bingung, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Ayahnya. "Daddy.. Makcud Daddy, dedek punya Hyung? Cama kayak dedek Icung?"
"Iya sayang, Daehwi punya hyung, kembar."
Daehwi membulatkan kedua matanya, ia menatap tak percaya pada Daniel, yang membuat kekehan kecil keluar dari bibir Daniel.
"Daddy... Kembal itu ceperlti Jihoon hyung, dan Woojin hyung?" tanya nya penasaran, Daniel mengangguk ia mencium pipi Daehwi sekilas, lalu mengangkat Daehwi kedalam gendongannya. "Daddy benelan dedek punya hyung kembal?"
"Iya sayang, dedek punya hyung kembar,"
"Benalkah? Dedek mau ketemu Dadd" Daehwi berujar antusias. "Iya dedek pasti ketemu sama hyung, tapi... Sebelumnya, dedek musti janji, dedek tidak akan nakal sama hyung?" Daniel menyodorkan jari kelingkingnya kehadapan Daehwi.
"JANJI!!!!" ujarnya sambil melingkar jari manisnya ke jari manis Daniel.
Setelahnya, mereka tertawa bersama-sama sambil berjalan menuju aula hotel. Karena semua orang berkumpul disana.
"Daddy tadi nangis" Ledek Daehwi pada Daniel disela-sela perjalanan mereka menuju Aula hotel, membuat pria berbahu lebar itu mendengus. Sifat Daehwi yang satu ini yang tidak ia sukai, jail. Daehwi akan meledeknya jika ia berbuat kesalahan sedikit saja, contoh seperti sekarang.
ooo
Sudah satu minggu berlalu, sejak insiden Minhyun bertemu dengan seseorang yang bisa dikatakan bibi si kembar. Entahlah, Minhyun juga tidak tau pasti. Tapi yang jelas, Minhyun sangat bersyukur, karena dia tidak bertemu lagi dengannya. Semuanya berjalan baik-baik saja, Minhyun juga bisa tenang saat meninggalkan Jinyoung disekolah karena ia harus berkerja.
Pagi ini, seperti pagi-pagi biasanya, sebelum berangkat ke Caffè, Minhyun akan lebih dulu mengantar Jinyoung. Caffè buka pukul 08.00KST, sekolah Jinyoung dimulai pukul 07.30KST. Sedangkan sekarang baru pukul 06.45KST, jadi dia masih punya waktu satu jam lebih untuk menemani Jinyoung disekolah. Mereka memang berangkat terlalu pagi, dan itu semua atas permintaan Jinyoung. Minhyun sendiri tidak faham sebenarnya, kenapa Jinyoung ingin pergi sekolah sepagi itu, tapi jika ditanya pun, Jinyoung tidak mau menjawab .
"Jinyoungie nanti disekolah jangan nakal yah, jangan suka gangguin Euiwoong, kalo Mama perhatiin, Jinyoung sering sekali jailin Euiwoong." ujar Minhyun disela-sela menyuapi Jinyoung sarapan, iya... Tadi saat dirumah Jinyoung bilang ingin sarapan disekolah saja, entah kenapa Minhyun tidak mengerti.
"Tapi, Ma, dedek Iwung lucu, Jinyoungie suka jailin dedek Iwung." ujar Jinyoung sambil nyengir.
Minhyun mencubit gemas hidung Jinyoung, ia terkekeh mendengar ucapan anaknya ini "Tetap tidak boleh sayang, kasian dedek Iwung nya, setiap deketan sama Jinyoung selalu nangis karena dijailin." Minhyun menasehati Jinyoung, yang hanya dibalas anggukkan singkat dari anak itu.
"Mama, Mama berangkat sekarang saja, Jinyoungie tidak apa-apa sendirian." ujar Jinyoung saat Ia telah menyelesaikan suapan terakhirnya.
Minhyun mengernyit bingung mendengar ucapan Jinyoung, beberapa hari belakangan inu anaknya selalu berujar seperti itu. Ia selalu menyuruh Minhyun berangkat lebih cepat ke Caffè tempat ia berkerja. Padahal, biasanya Jinyoung akan merengek tidak ingin ditinggal, tapi sekarang? Minhyun merasa aneh.
"Sayang... Jinyoungie tidak apa-apa? Kenapa beberapa hari belakangan Jinyoungie selalu menyuruh Mama berangkat kerja lebih cepat?" Minhyun bertanya penasaran.
Jinyoung menggeleng, ia menangkup pipi Minhyun yang memang posisinya saat ini tengah berjongkok dihadapan Jinyoung. "Tidak apa-apa Mama, Jinyoung sudah besar, Jinyoung sudah berani sendiri disekolah." ujar Jinyoung menatap polos Minhyun.
Minhyun mengerjap beberapa kali, kaget dengan kelakuan Jinyoung. "Apa benar begitu?" tanya Minhyun sanksi.
"Iya, Mama."
"Yasudah, kalau begitu Mama langsung berkerja ya sayang." ujar Minhyun sambil beranjak dari posisinya. Ia membereskan kotak makan milik Jinyoung. "Jinyoungie, ingat! Jangan menjaili Euiwoong lagi, ya." Minhyun memperingati anaknya yang memang kadang -tidak, setiap saat- suka jail dengan Kim Euiwoong, anak dari pasangan Kim Taemin dan Kim Jonghyun.
"Hehe...Jinyoungie tidak bisa janji kalau yang itu, Ma." Jinyoung berujar sambil cengegesan. Ia melepaskan tangannya yang berada di kedua pipi chubby ibunya.
"Tsk... Kau ini memang benar-benar, entah darimana datangnya sifat jail mu itu." ujar Minhyun sambil menggelengkan kepalanya.
Jinyoung mengantar Minhyun hingga kegerbang sekolahnya (TK) dia menunggu dengan sabar, sampai Minhyun naik kedalam bus. Setelah memastika Minhyun benar-benar sudah pergi, Jinyoung menolehkan kepalanya kearah kanan, ia menoleh kearah dimana ada sebuah mobil mewah terparkir di depan gerbang sekolahnya.
Jinyoung melambaikan tangannya pada mobil tersebut, mengisyaratkan agar seseorang yang sejak tadi mengawasi dia, dan Ibunya dari dalam mobil itu untuk segera keluar. Jinyojng tersenyum semringah, saat melihat seorang laki-laki keluar dari dalam mobil tersebut, Jinyoung dengan cepat berlari meghampiri lelaki itu.
"DADDY!!!" teriaknya girang, Jinyoung semakin mempercepat larinya saat ia sudah mendekati seseorang yang dipanggilnya Daddy tersebut.
Hap
Lelaki yang dipanggil Jinyoung Daddy itu langsung menggendong Jinyoung ala koala. Ia menciumi wajah Jinyoung membuat anak itu tertawa kerena kegelian.
"Hahaha... Daddy geli, Daddy..." rengeknya manja. Ia menyandarkan kepalanya dibahu lelaki tersebut.
"Daddy rindu Jinyoungie."
"Jinyoungie juga rindu Niel Daddy..."
"Mama sudah pergi berkerja sayang?"
Jinyoung mengangguk, ia menelusupkan kepalanya diperpotongan leher Daniel, "Daddy mana Daehwi?" tanya Jinyoung saat dia tidak melihat Daehwi dimanapun.
"Daehwi tidak ikut sayang, dia juga harus sekolah, sama seperti Jinyoungie." Ujar Daniel dengan lembut. Jinyoung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ia memejamkan matanya yang memang masih mengantuk. Alasannya meminta Ibunya untuk mengantarkannya pagi-pagi seperti ini adalah, karena ia ingin bertemu Daddy-nya
ooo
Daehwi merengut sebal, saat lagi-lagi bukan Ayahnya yang mengantarnya sekolah. Tangannya bersidekap didepan dada, bibirnya maju lima centi, membuat Jaehyun yang sedang menyetir disebelah kirinya terkekeh gemas.
"Dedek, kalau bibirnya terus-terusan maju seperti itu, lama-lama bisa jadi ikan cucut." Jaehyun berujar jail.
Mendengar ucapan Jaehyun, Daehwi buru-buru menstabilkan bibirnya, ia menatap horror pada Jaehyun. "Dedek ndak mau jadi ikan cucut Daddy..." rengek Daehwi dengan mata berkaca-kaca.
Jaehyun tergelak, ia mengacak rambut Daehwi dengan gemas. "Makanya, jangan mengerucut seperti itu lagi,"
"Tapi dedek kecel cama Niel Daddy, kenapa Daddy tidak mau antelin dedek kecekolah."
"Beneran dedek kesel sama Daddy? Katanya dedek mau ketemu sama Jinyoung hyung?... Daddy sekarang sedang bersama Jinyoung hyung loh."
Daehwi membelalakan matanya, seolah-olah baru saja mendengar seuatu yang mengejutkan. Padahal, itu sudah rutinitas Daddy nya beberapa hari belakangan ini.
"Dacal Daddy jelek, Daddy jelek cepelti kecoa!" Daehwi kembali manyun, dan membuang muka kearah jalanan, Jaehyun hanya menggeleng maklum melihat tingkah Daehwi yang seperti ini.
"Daddy Hyun, kapan dedek bica ketemu Mommy?" Daehwi bertanya penasaran.
"Dedek yang sabar ya sayang, sebentar lagi dedek bisa ketemu Mommy..."
"Tapi dedek tidak cabal Daddy..."
Jaehyun tidak menjawab, ia menghela napas sejenak. Jaehyun tidak tega melihat Daehwi yang seperti ini, Daehwi sudah dia anggap seperti anaknya sendiri, maka dari itu ia mengizinkan Daehwi memanggilnya Daddy dan memanggil Taeyong dengan sebutan Mommy.
ooo
Suasana Caffè ditempat Minhyun berkerja saat ini sedang ramai-ramainya. Bagaimana tidak, sekarang sudah memasuki waktu makan siang. Jadi pengunjung di Caffè akan lebih banyak berkali-lipat dari jam biasa. Karena di memang di Caffè ini juga bukan hana ada menu camilan, tapi juga untuk makan siang.
Semua karyawan tengah sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Youngmin, Kenta, dan Sanggyun tengah sibuk kesana kemari mengantar pesanan. Youngmin, Kenta, dan Sanggyun yang tengah sibuk kesana-kemari mengantarkan pesanan. Dan juga, di dapur ada Ten, dan Doyoung yang sedang sibuk memasak pesanan para pelanggan.
Minhyun menggigit bibir bawahnya dengan resah, berulang kali ia melirik jam dipergelangan tangan kirinya. Sekarang sudah hampir pukul Dua belas siang, dan Minhyun belum menjemput Jinyoung. Dia takut Jinyoung akan marah padanya, sebenarnya, Minhyun sedikit bingung, kenapa beberapa hari ini pelanggan di Caffè meningkat lebih dari biasanya. Tidak, bukan Minhyun tidak senang, hanya saja, ia jadi kesulitan meminta izin untuk menjemput Jinyoung. Tidak mungkin dia izin keluar disaat temannya sedang sibuk berkerja.
"Minhyun kau kenapa?"
Minhyun terlonjak kaget saat seseorang menepuk pundaknya, ia menghela napas lega saat mendapati Kenta yang berada dibelakangnya.
"Minhyun, kau kenapa?" tanya kenta sekali lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Minhyun.
"Eum... Kenta, aku... Aku harus menjemput Jinyoung, kau tau, ini sudah hampir lewat jam makan siang, dan artinya Jinyoung sudah menunggu lebih dari dua jam." Minhyun mengutarakan apa yang ada pikirannya.
"Ya Tuhan, Min! Cepat jemput Jinyoung sekarang, ini sudah terlalu lama Min, aku tajut dia nekat pulang sendiri!"
"Tapi Kenta, kau lihat sendiri, pelanggan masih ramai, siapa yang akan menjaga kasir jika aku pergi?" ujar Minhyun khawatir.
"Tidak perlu khawatir Min, Youngmin bisa menggantikanmu, sudahlah cepat kau pergi sana."
"Tapi-
"Sudahlah jangan tapi-tapian, cepatlah kau kemput Jinyoung, lebih cepat kau pergi, kau bisa cepat pulang."
Minhyun tersenyum mendengar ucapan kenta, ia dengan cepat melepaskan apron yang sedari pagi ia pakai. "Kenta, terima kasih, aku janji tidak akan lama."
"Tak masalah Min, jangan fikirkan itu, yang penting kau jemput Jinyoung."
"Aku pergi Kenta." Minhyun berujar sambil berlari keluar lewat pintu belakang Caffè.
Minhyun melangkahkan kakinya dengan tergesah, ia semakin mempercepat langkahnya saat sudah mendekati sekolah Jinyoung. Langkah Minhyun mendadak terhent, saat melihat keadaan sekolah yang sudah sangat sepi. Tidak ada satupun orang disana, Minhyun mencoba berpikir positif, ia yakin Jinyoung paati masih siaekitar sini, Jinyoung tidak mungkin berani kemana-mana.
ooo
Minhyun mengedarkan pandangannya kesegala arah, ia bernapas lega saat melihat Seongwoo (guru Jinyoung, sekaligus temannya saat SHS) sedang mengunci pintu kelas. Minhyun dengan cepat menghampiri Seongwoo.
"Seongwoo, dimana Jinyoung?" Ujar Minhyun tanpa basa-basi, pikirannya tengah kalut sekarang.
"Loh, Min? Jinyoung sudah pulang dari satu setengah jam yang lalu, Jinyoung bilang kau yang menjemputnya,"
"A-apa?! Tidak mungkin Seongwoo, aku baru saja sampai, bagaimana mungkin dia pulang bersamaku." Minhyun berujar dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi Min, Jinyoung tadi bilang kau sudah menjemputnya, makanya aku tenang-tenang saja."
"Seongwoo, bantu aku cari Jinyoung sekarang! Aku mohon Seongwoo." Minhyun berujar tak sabaran, air mata mulai menggenang di kedua mata rubahnya.
"Minhyun, hey... Tenangkan dirimu,"
"Aku tidak bisa tenang Seongwoo, aku tidak bisa tenang!"
"Oke, oke... Kita cari Jinyoung sekarang."
"Min, kita harus mencari Jinyoung kemana?" Seongwoo mencoba bertanya pada Minhyun yang terlihat sangat ketakutan, Seongwoo tidak mengerti mengapa Minhyun bisa setakut ini.
"Taman! Ayo kita ke taman diseberang sekolah ini." ujar Minhyun spontan, ia juga tidak tau kenapa dia tiba-tiba yakin jika Jinyoung berada di taman saat ini. Feeling-nya mengatakan demikian, Minhyun hanya mengikuti feeling-nya.
Seongwoo menganggukkan kepalanya, ia kualahan mengikuti langkah kaki Minhyun yang berjalan sangat cepat. Seongwoo menyipitkan pandangan matanya, saat melihat siluet anak kecil yang sedang duduk sendirian di ayunan yang memang ada di taman ini.
"Min, bukankah itu Jinyoung?" ujar Songwoo tak yakin, Minhyun menghentikan langkahnya. Ia mengikuti arah pandang Seongwoo, "Benar Seongwoo itu Jinyoung,"
"Ayo kita kesana, Jinyoung pasti sudah lama menunggumu Min."
Minhyun tidak menjawab, ia hanya memutar arah dan berjalan menghampiri dimana Jinyoung berada. Tanpa babibu Minhyun langsung memeluk Jinyoung dengan sangat erat, air matanya semakin deras mengalir. Minhyun tidak tau kenapa ia menangis, yang jelas ia hanya ingin memeluk Jinyoung. Perasaannya lega sekaligus aneh secara bersamaan.
Seongwoo dibelakangnya hanya bisa tersenyum kecil melihat pemandangan didepannya. Ia lega karena Jinyoung baik-baik saja. "Min, kalau begitu aku pulang ya, Jinyoung baik-baik saja bukan?"
Minhyun mendongak menatap Seongwoo, "Seongwoo terima kasih, maafkan aku merepotkanmu." ujar Minhyun tak enak.
"Jangan dipikirkn Min, Jinyoung muridku, dan lagi, ini semua karena keteledoranku juga. Aku yang seharusnya minta maaf, baiklah kalau begitu aku permisi." pamit Seongwoo, ia melangkahkan kakinya keluar area taman.
Minhyun kembali memusatkan perhatiannya pada Jinyoung, Minhyun mengernyit saat melihat Jinyoung hanya diam sambil menatapnya dengan err seperti tatapan rindu? Entahlah Minhyun tidak tau, "Sayang, kenapa Jinyoungie tidak menunggu Mama di area sekokah? Jinyounie tau? Mama sangat khawatir tadi, untungnya Jinyoung tidak kenapa-kenapa" Minhyun berujar sambil mencium pipi Jinyoung. Ia lega anaknya baik-baik saja.
"I'm not Jinyoung hyung, Momm. I am Dewi..."
Minhyun nyaris terjungkal saat mendengar kata-kata anaknya itu, jantungnya berdegup kencang hanya dengan mendengar nama Daehwi saja.
"Jinyoung, jangan bercanda Mama tidak suka." Minhyun berujar tegas.
"Why you don't belive me, Momm... Ini Dewi Momm..."
Minhyun mundur selangkah, tidak... anak yang berada dihadapannya ini bukan Daehwi dia Jinyoung. Jinyoung hanya menjailinya, Minhyun menggelengkan kepalanya dengan kuat. Perasaan takut tiba-tiba kembali menghampirinya.
"Kenapa Mommy tidak pelcaya? Dedek Dewi bukan Jinyoung Hyung.." Daehwi menatap Minhyun dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak mungkin!" Ujarnya frustrasi.
"Apa itu sikapmu, saat bertemu dengan anak yang sudah lima tahun tidak pernah kau temui!"
Deg
Suara itu... Minhyun masih ingat dengan jelas suara itu, suara orang yang paling tidak ingin ia temui. Minhyun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Demi apapun, Minhyun tidak berani melhat secara langsung wajahnya. Tanpa melihatpun Minhyun tau siapa dia, dia... Dia Ayah si Kembar, dia lelaki brengsek yang sudah menghancurkan hidupnya.
Dia adalah...
Kang Daniel...
-TBC-
Yang nyider gue do'ain jomblo abadi wkwk...
ditunggu reviewnya...
2018-02-02
