Senin.

Satu nama dari tujuh hari wajib yang ada di deretan kalender masehi. Dan Tsuna menaruh kebencian yang sebelas dua belas dengan hari yang terjepit oleh liburan ini. Senin pagi selalu membuat Tsuna membutuhkan banyak-banyak keberuntungan tingkat maksimal. Alfonso yang bak alarm hidup rumah Sawada di 'Namimori yang hening di pagi hari' -karenajadwalpatrol'yakuza'berisiikementamvannanmoe- memiliki jadwal kuliah pagi yang tidak berniat masuk ke zona masuk akal karena dia berangkat subuh-subuh hari. Membuat kakak tertua berhalangan untuk membangunkan adik-adik naasnya yang hobi ngebo. Alarm beruntun pun tidak akan mempan untuk membangunkan tiga remaja cakep yang sudah biasa di bangunkan dalam kondisi hidup atau mati ini. Alfonso bahkan dengan baik hati akan memasangkan alarm dengan instrument nina bobo paling syahdu dan menyambungnya dengan rentetan suara dalam adegan peperangan dari salah satu koleksi filmnya ketika sudah mepet jam masuk sekolah. Alasan berhalangan untuk membangunkan disusun sengaja memang.

Bangun kesiangan, lupa sarapan, bento ketinggalan, uang saku pas-pasan, ga bawa sinpanan jajan. Tsuna selesai mendafter kesialannya pagi ini sambil lari dari seekor Chihuahua yang mengejar di belakangnya. Dosa apa Tsuna, cuma lari menyelamatkan nyawa dari penjaga gerbang yang naik dari neraka kok malah dikejar. Chihuahua sialan. Ah, sudah terlihat. Sang prefek sudah siap sedia di pos jaganya. Berdiri angkuh menyilangkan tangan, bersandar pada gerbang yang setengah ditutup. Tsuna merasa sengsara dengan kelakuan anikinya, bu- bukan berarti Tsuna rela dibangunkan dengan palu seratus ton tiap pagi atau apa loh, sumpah serapah lainnya mengekor. Picingan Hibari sepertinya menunjukkan betapa senangnya dia dapat mangsa pagi ini.

Hitungan mundur dari ujung tanduk, tiga, dua, satu, lalu memulai dering alarm bahaya tingkat waspada meteor jatuh. Dan gerbang tertutup dengan suara benturan keras. Petir imajiner bertenaga tinggi seperti menyambarnya, menghentikan derap jantung yang sedari tadi berpacu tak karuan dalam adrenalin nelangsa ditunggui malaikat maut tanpa belas kasihan.

Dan Tsuna masih berada tiga meter dari besi yang terangkai menghalangi jalan. Menyangkar Tsuna di luar bersama iblis bungsu keturunan Hibari. Sebuah seringaian membuat Tsuna ingin segera berbalik dan pulang, tapi sadar hukumannya akan beranak-pinak jika nekat dilakukan.

"Kau terlambat herbivore, kamikorosu." desisan senang terdengar kejam, menyayat mental hingga jatuh ke dasar. Seterbiasa apa pun Tsuna dengan pembelajaran menyiksa, dirinya masih tidak sanggup untuk terus menerima kejamnya dunia kepadanya.

"HIIIEEEEEE!" anak malang... dia harus bermesraan dengan tonfa-san untuk kedua kalinya. *tebar bunga tujuh rupa*

Disclaimer, Amano Akira

Meja resepsionis berhias tiga tangkai bunga lili Calla dalam vas kristal tinggi cukup membantu Tsuna kembali ke mood yang baik ketika masuk ke tempat ini. Novel fantasi yang berjejer cukup melegakan hati. Otaknya sedang ingin refresh dari keabsurd-an dunia barunya, di Namimori yang damai sentosa menurut orang gila tapi.

Dikarenakan rapat dadakan para guru dan wali kelas, jam pagi dikosongkan hingga selesai jam makan siang. Tidak dipulangkan sekalian memang. Leguh kecewa terdengar banyak ketika pengumuman itu disiarkan, berada di teritori skylark tanpa kegiatan pasti itu tidak menyenangkan sama sekali. Tsunanya sih bodo amat. Dia menyelamatkan diri di tempatnya kini berdiri... dengan senyum yang menurut penggemarnya kawaii tapi Author creepy.

Keberuntungan pertama hari ini, perpustakaan Namichuu ternyata memiliki koleksi yang bisa menyaingin perpustakaan pusat, terlebih novel-novel fiksi. Puaslah Tsuna bisa ngedem di tempat layaknya surga dunia ini. Tau lah kalau tutornya yang kasih buku, adanya buku undang-undang, peraturan, cara bertahan hidup, sejarah dan lain yang membuat mata enggan untuk menetap di kesadaran. Maka fiksi fantasi dalam cetak hitam di atas serat kayu hasil olahan selalu membantunya recover dari siksa materi di otak kiri.

Suasana tenang yang sesekali diselingi bunyi roda-roda kecil dari rak dorong petugas yang menggembalikan buku-buku yang sebelumnya dipinjam ke tempat semula, damai yang terlalu nikmat untuk dilewatkan. Terlebih alur-alur cerita yang merantainya masuk dalam imajinasi luas yang lebih dalam.

Tsuna selalu memiliki koleksi terbaru dari toko langganannya ketika masih di Sicilia. Mungkin nanti Tsuna akan bertanya pada Yamamoto tempat terbaik mendapatkan buku-buku luncuran terbaru. Ah, dirinya sudah membayangkan tumpukan buku yang menghias rak-rak koswong di kamarnya. Tsuna memasang muka berambisi yang cukup madesu di pengelihatan author.

"Tsuna-kun?" suara lembut berdentang indah mengisi pendengarannya. Suara yang kini sudah Tsuna hapal betul siapa pemiliknya. Keberuntungan berikutnya menghampiri pemilik wajah moe berhias lebam hasil ciuman tonfa kesayangan prefek Namimori. Kyoko tersenyum manis padanya, Tsuna butuh oksigen.

"Ha- hai Kyoko-chan." terkekeh canggung, Tsuna mencoba menenangkan debaran tiba-tiba yang mampir di jantungnya.

"Hee, Tsuna-kun, kau suka membaca novel?" pertanyaan simple yang membuat Tsuna berbunga-bunga out of topic. 'Aku bicara dengannya! Aku bicara dengannya! Waaaaaiiiiiii!' Tsuna girang dalam hati.

"U- um, tapi cerita fiksi fantasi." menggaruk belakang kepalanya.

"Hee, aku lebih suka cerita misteri. Tapi sepertinya fantasi juga menarik." Kyoko melirik tumpukan novel yang baru Tsuna selesaikan baca. Dua jam dan Tsuna sudah kalap oleh semangat imajinasi. Sedikit bergidik Tsuna ketika melihat sebuah buku hardcover berbahasa inggris di tangan Kyoko, sebuah novel misteri dengan lebal dua kali buku telepon. Tsuna meringis ngeri. Anak rajin memang beda.

"Nah Tsuna-kun. Ayo kapan-kapan kita ke toko buku. Aku ingin membeli novel misteri yang baru keluar minggu ini!"usul Kyoko yang membut Tsuna nge-fly seketika.

"Hm! Tentu!" jawab Tsuna pasti. Siapa yang tidak antusias kalau diajak jalan-jalanmoduskencanuhuk ke tempat yang memang sedari awal diidamkan oleh orang yang ditaksir? Tsuna bahagia langit ketujuh.

"Nah, aku juga akan mengajak beberapa temanku. Semakin ramai pasti asyik!"

Tsuna kejang tersambar petir yang menghanguskan hatinya. /Author pura-pura polos/

TBC


sankyuu~ Cocoa2795, Natsu Yuuki, zhichaloveanime, Kuroshi Charlice, Remah-Remah Rengginang, Ssora0, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama