Minhyun menundukkan kepalanya dalam-dalam, saat mendengar suara yang amat ia kenal menyapa indera pendengarannya. Demi Tuhan! Minhyun sama sekali tidak pernah berpikir, kalau dia akan bertemu dengan Daniel lagi. Minhyun takut, sangat takut. Bahkan untuk sekedar menatap wajahnya saja Minhyun tidak sanggup. Daniel adalah orang terakhir yang ingin ia jumpai kalaupun didunia ini tidak ada orang lain selain mereka.
Minhyun mendadak pusing, kejadian beberapa menit ini sanggup membuat pikirannya blank seketika. Bayang-bayang masalalu berputar dikepalanya seperti kaset rusak.
"Hwang Minhyun... Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun?" bukankah setiap orang diajarkan untuk menatap lawan bicaranya jika seseorang sedang berbicara kepadamu." Daniel berujar tajam.
Minhyun refleks memejamkan matanya saat suara berat Daniel kembali terdengar ditelinganya. Kepalanya ia tundukkan semakin dalam, membuat Daniel mendengus kesal.
Daniel melangkahkan kakinya mendekat kearah Minhyun. Ia mencengkram kedua lengan Minhyun dengan kuat, membuat Minhyun meringis.
"Aku bukan orang yang sabar Hwang Minhyun! Apa sesulit itu untuk sekadar mengangkat kepalamu? Apa kau masih ingin menyembunyikan wajahmu, walaupun aku sudah dihadapanmu?"
Minhyun mendongakkan kepalanya, saat Daniel semakin mencengkram lengannya. Air mata mulai menggenang dipelupuk matanya. "Maaf..." bisiknya lirih, air mata yang sedari tadi ditahannya kini meluncur dengan bebas saat mata-nya bersiborok dengan tatapan tajam milik Daniel.
Daniel terkesiap, saat melihat air mata yang mengalir dengan derasnya dari kedua mata rubah milik Minhyun. Ia menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi chuby milik Minhyun. Perlahan tapi pasti, Daniel menghapus air mata yang terus mengalir dari mata, lalu turun hingga ke dagu. Minhyun sendiri hanya bisa memejam, menikmati sentuhan tangan Daniel pada pipinya.
Daniel dengan cepat menarik Minhyun kedalam pelukannya, ia mengusap punggung Minhyun yang bergetar dengan hebat. Hatinya sakit melihat keadaan Ibu dari anak-anaknya terlihat kacau seperti ini. "Ssst... Jangan menangis, jangan meminta maaf... Aku yang salah... maafkan aku, aku memang brengsek, aku bajingan, Aku bodoh. Maafkan aku yang telah membuatmu menderita selama ini, aku mohon maafkan aku... Maafkan aku..." Daniel berulang kali mengucapkan kata maaf sambil terus mengusak punggung Minhyun yang semakin bergetar.
Minhyun semakin terisak dipelukan Daniel, kemeja putih yang dipakai lelaki itu pun sudah basah karena air matanya yang seolah enggan untuk berhenti.
"Daddy..."
Minhyun refleks melepaskan pelukan Daniel, saat mendengar suara Daehwi yang memanggil Daniel dengan nada merajuk. Minhyun terkekeh tanpa suara, saat melihat Daniel yang menepuk keningnya dengan kuat. Minhyun sendiri hanya bisa menunduk malu, rona merah menghiasi kedua pipi chuby-nya. Mereka lupa jika saat ini mereka tidak hanya berdua. Masih ada Daehwi yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan polosnya.
"Ada apa sayang?" Daniel bertanya dengan lembut, ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Daehwi. Ia tersenyum saat melihat Daehwi yang menatapnya dengan polos. sekarang Daniel tau, darimana Daehwi mendapatkan mata indah itu.
"Daddy, dedek juga pengin peluk Mommy" Daehwi berbisik pelan.
Daniel tersenyum, ia mencium pipi anaknya sekilas, lalu mengangkat Daehwi kedalam gendongannya. Ia membawa Daehwi mendekat kearah Minhyun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka.
"Mommy... Dedek mau peluk Mommy," Daehwi berkata dengan takut-takut. Sepertinya ia masih teringat dengan penolakan yang terjadi diawal pertemuan mereka tadi.
Hati Minhyun mencelos, dia tidak tau jika perbuatannya tadi membuat anaknya takut, "Sini sayang, Mommy gendong." Minhyun memberi gestur agar Daehwi mendekat. Ia merentangkan tangannya mengisyaratkan agar Daehwi masuk kedalam gendongannya.
Daniel yang mengerti, langsung mendekatkan Daehwi pada Minhyun. Dan...
Hap...
Daehwi langsung dengan cepat berpindah dari gendongan Daniel, ke gendongan Minhyun. Minhyun hanya bisa terkekeh geli, saat melihat Daehwi langsung menyamankan diri dipundaknya.
"Dewi lindu Mommy... Mommy kenapa tidak pelnah datang kelumah? Temen-temen Dewi celalu ngatain Dewi anak batu kalena tidak punya Mommy..."
Pertanyaan polos yang keluar dari bibir Daehwi, membuat Minhyun merara seperti dihantam sebuah batu besar. Dia tidak tau, jika anaknya mengalami hal sulit karena tumbuh tidak ada seorang ibu disampingnya. Daehwi pasti merasa iri pada teman-teman sebayanya yang pulang-pergi pasti diatar ibu mereka masing-masing. Bahkan Jinyoung saja tidak mau kalau bukan ia yang mengantarkan anak itu sekolah.
"Maafkan Mommy sayang... Maaf.." Minhyun berbisik lirih, ia berulang kali menciumi wajah anaknya, dan tak hentinya menggumamkan kata maaf bagaikan sebuah mantra yang harus dibaca berulang-ulang.
"Dedek, ayo kita pulang sayang, dan... Kau ikut dengan kami..." Daniel mengambil alih Daehwi kedalam gendongannya, namun anak itu menolak dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada leher Minhyun.
"Ta-tapi..."
"Apa lagi Hwang Minhyun? Kau tidak mau ikut dengan kami? Apa kau akan kabur dan bersembunyi lagi?" Daniel berkata tajam, membuat Minhyun berjengit takut, mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Daniel.
"Bu-bukan seperti itu, ta-tapi Jinyoung..." Minhyun menggantungkan kalimatnya, ia memandang Daniel takut-takut.
"Daddy! Tidak boleh malah-malah cama Mommy!" Daehwi menatap Daniel dengan garang, yang malah terkesan imut dimata dua orang dewasa disana.
Daniel terkesiap saat mendengar kata-kata yang diucapkan anaknya barusan damn dia lupa kalau masih ada Daehwi. "A-ah... Oke... Daddy tidak marah kok sayang, Daddy hanya..." Daniel bingung melanjutkan kata-katanya, ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Dasal Daddy jelek cepelti kecoa!" ujarnya tajam. Minhyun nyaris tergelak mendengar kata-kata Daehwi barusan. Namun ia tahan, karena takut Daniel marah padanya.
"Ssst... Sayang, tidak boleh seperti itu." Minhyun mencoba menasehati Daehwi, membuat anak itu mencebil. "Tapi tadi Daddy malah-malah cama Mommy, Daddy tidak boleh malah-malah cama Mommy." Daehwi berujar sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tidak, Daddy tidak marah sama Mommy..." Minhyun berujar pelan, rasanya masih aneh saat ia menyebutkan kata 'Daddy' untuk anaknya, ia masih belum terbiasa akan hal itu.
"Benelan?" Tanya Daehwi penuh selidik.
"Iya sayang, Daehwi percaya 'kan sama Mommy?..." tanya Minhyun, meyakinkan anaknya. Ia tersenyum lega saat Daehwi menganggukkan kepalanya tanda ia mempercayai kata-kata yang diucapkan Minhyun.
"Well... Hari sudah semakin siang, sebaiknya kita segera pulang..." Ujar Daniel sambil mengecek jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Daniel, tapi Jinyoung..." Minhyun memelankan suaranya saat menyebutkan nama Jinyoung, ia lupa jika Daniel tidak mengetahui perihal anaknya yang kembar. Karena Minhyun memang tidak mengizinkan Yongguk memberitahukannya.
Daniel mengkesah panjang, ia menatap Minhyun tepat dikedua matanya. Membuat Minhyun gugup bukan main, "Hwang Minhyun, dengar. Tidak perlu khawatir okay, Jinyoung berada ditempat yang aman sekarang. Kau tidak perlu gusar, yang terpenting sekarang, kita pulang. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu." Daniel berujar tegas.
"Tapi, dimana Jinyoung sekarang?" Minhyun bertanya khawatir, ia masih belum tenang jika belum melihat keadaan Jinyoung secara langsung.
Daniel menggeram saat mendengar pertanyaan Minhyun, damn sekarang Daniel tau, darimana datangnya sifat keras kepala Daehwi. "Demi Tuhan! Hwang Minhyun! Hanya ikut aku sekarang, ikut aku pulang! Jinyoung baik-baik saja saat ini." Daniel berujar setengah membentak, mengabaikan Daehwi yang sudah melotot saat mendengar Daniel yang nyaris membentak Minhyun.
Minhyun sontak menundukkan kepalanya takut saat mendengar ucapan Daniel.
Daniel menghembuskan napas dengan keras, ia mendekati Minhyun dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik lelaki manis tersebut. Daniel memeluk Minhyun dari sampimg, setelahnya ia memaksa Minhyun agar mengikuti langkah kakinya menuju kearah mobil Daniel yang terparkir tak jauh dari taman.
Minhyun sendiri hanya bisa pasrah diperlakukan Daniel seperti itu. Dia tidak mau jika Daniel marah lagi padanya, Minhyun terlalu takut akan hal itu. Karena, untuk berdekatan dengan Daniel saja ia harus menekan rasa takutnya. Apalagi jika harus menerima kemarahan Daniel, Minhyun tidak mau. Benar-benar tidak mau.
oOo
Minhyun tau, Daniel adalah jajaran dari anak konglomerat di Korea Selatan. Dan Minhyun juga tau, bahwa Daniel adalah salah satu pengusaha muda yang terbilang sangat sukses. Jadi... Minhyun tidak heran jika mobil yang dimaksud oleh Daniel adalah Lamborghini dengan tipe Murcielago 6.2l A/T lah yang terparkir manis di seberang taman tempat mereka bertemu tadi.
Minhyun mendengus sebal saat ia kesusahan membuka pintu mobil. Karena mobil yang sedikit rendah dari mobil biasanya, Minhyun jadi agak kesusahan, ditambah lagi dengan adanya Daehwi digendongannya yang membuatnya semaki kesulitan. Anak itu sama sekali tidak mau turun dari gendongannya, padahal tangan Minhyun sudah kebas karena terlalu lama menggedongnya. You know Daehwi sudah berumur Lima tahun, dan walaupun badannya kurus, tapi tetap saja berat.
Daniel, ia hanya bisa tersenyum geli saat melihat Minhyun yang kesulitan membuka pintu mobil. Ia hanya diam, dan bersandar pada pintu mobil memperhatikan Minhyun yang mulai mengerucutkan bibirnya karena sebal. Ia menggelengkan kepalanya, apakah ini benar Ibu dari anak-anaknya?
Daniel masih tidak percaya, dia... Hwang Minhyun, adalah teman satu kelasnya saat Senior high school. Minhyun adalah anak beasiswa disekolahnya, dan Daniel, Daniel adalah anak akselerasi bersama dengan Yongguk temannya yang berasal dari China. Minhyun lebih tua satu tahun darinya, tapi Daniel dari dulu memang enggan memanggil teman sekelasnya dengan sebutan hyung.
Takdir memang tidak bisa ditebak, ia dan Minhyun bahkan sangat jarang bertegur sapa saat disekolah. Minhyun adalah anak nerd pendiam, dan tidak banyak memiliki teman. Sedangkan Daniel, adalah anak popular yang memiliki banyak fans, baik wanita ataupun lelaki yang berstatus uke.
Daniel bisa dikatakan anak yang berandalan, playboy, hobi melakukan one night stand bersama wanita-wanita di bar. Tidak menolak juga, jika anak-anak disekolahnya yang dengan suka rela menawarkan tubuh mereka. Intinya Daniel adalah anak yang bejat, dan dia benar-benar tidak menyangka jika di malam kelulusannya yang ia tiduri adalah seorang Hwang Minhyun.
"DADDY!"
Daniel terkesiap, saat mendengar jeritan cempreng anaknya menyapa indera pendengarannya. Daniel meringis saat melihat Daehwi yang sudah melotot karena ia tak kunjung masuk kedalam mobil. Ia bergegas memutar tubuhnya dan duduk di balik kemudi.
oOo
Minhyun mengernyit bingung, saat Daniel menghentikan mobilnya didepan sebuah gedung yang tinggi menjulang.
"Daniel, kenapa kita berhenti disini?" Minhyun bertanya bingung.
"Ini kantorku, kita turun sebentar, aku ingin mengambil beberapa berkas yang harus aku tanda tangani, sekaligus aku ingin memperkenalkan kau pada seseorang."
"Si-siapa?"
Daniel melepaskan sabuk pengaman miliknya, dan beralih melepaskan sabuk pengaman milik Minhyun juga. Ia mengalihkan pandangannya pada Daehwi yang tertidur lelap dipelukan Minhyun. Ia menunduk, lalu mengecup dahi anaknya sekilas.
Daniel beralih menatap Minhyun dengan dalam dan intense, membuat Minhyun menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Da-Daniel... Kenapa kau menatapku seperti itu." Minhyun menundukkan kepalanya, karena terlalu gugup ditatap Daniel dengan sedemikian dalam oleh Daniel.
Daniel tidak menjawab pertanyaan Minhyun, ia hanya mengelus puncak kepala Minhyun dengan lembut. Membuat anak itu refleks mendongak, Daniel kembali tersenyum saat mata rubahnya bertatapan langsung dengan mata rubah milik Minhyun. Sepertinya... Mulai hari ini, memandangi mata rubah itu adalah bagian dari favoritnya.
"Kita turun sekarang..." Daniel berujar sambil beranjak keluar dari dalam mobil, ia memutar tubuhnya untuk membukakan pintu mobil untuk Minhyun.
"Biar aku saja yang menggendong Daehwi." Ujar Daniel mengambil alih Daehwi kedalam gendongannya. Ia menggedong Daehwi ala koala, dan mulai berjalan memasuki kawasan kantornya.
Daniel menggenggam tangan Minhyun, dan menarik anak itu agar berjalan sejajar dengannya. Ia berjalan dengan santai, berbeda dengan Minhyun, yang sudah menundukkan kepala dalam-dalam. Minhyun tidak nyaman saat mendapati semua orang menatap penuh minat kearahnya dan Daniel. Okay... mungkin Daniel sudah biasa, tapi tidak dengannya, dari dulu Minhyun tidak pernah suka jika menjadi pusat perhatian.
"Da-Daniel... Bisakah kita sedikit lebih cepat, aku... Aku tidak nyaman dengan tatapan semua pegawaimu." Minhyun mencicit dengan sangat pelan.
"Jangan hiraukan mereka, fokus saja dengan Daehwi dan aku." tangan Daniel secara otomatis melingkar dipinggang ramping Minhyun. Ia menarik Minhyun agar lebih mendekat kearahnya, tidak memperdulikan para karyawan yang sudah berbisik-bisik mulai menggosipkan mereka.
Setelah sepuluh menit menaiki lift akhirnya mereka sampai dilantai teratas gedung ini. Minhyun menatap takjub saat memauki ruang kerja milik Daniel.
Minhyun menatap dalam diam, saat Daniel yang dengan sangat hati-hati meletakkan Daehwi ke sofa besar yang ada diruangan itu. Ia menyapukan pandangannya keseluruh ruangan, tatapannya berhenti saat melihat satu kardus besar mainan, san satu meja berlajar untuk anak TK, serta kertas hasil gambaran yang diasumsikan Minhyun gambaran Daehwi tertempel disana-sini. Dapat Minhyun tebak, Daniel sering mengajak Daehwi ke saat berkerja.
"Duduklah Min, sebentar lagi Jaehyun akan datang bersama Jinyoung." ujar Daniel dibalik meja kerjanya.
Minhyun membelalakan matanya, saat mendengar Daniel menyebutkan nama Jinyoung dengan santai.
"Kenapa? Kau kaget? Aku sudah tau, tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Aku sudah tau jika anak ku bukan hanya Daehwi."
"Tapi... Kau..."
"Dari mana aku tau?" tanyanya retoris.
Minhyun menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Yongguk yang memberitahukannya padaku,"
"A-apa?! Tapi aku..."
"Kenapa kau tidak menizinkan aku tau kalau aku mempunyai anak kembar?" Danie bertanya serius.
Minhyun tergagap, bibirnya terkatup rapat bingung harus menjawab apa.
"Kenapa diam? Kau-
"MAMA!"
Minhyun dengan cepat menolehkan kepalanya, saat mengar suara anak kecil yang amat ia kenal memanggilnya. Dengam cepat Minhyun menghampiri Jinyoung, dan memeluk anak itu dengan erat.
"Jinyoungie kemana? Jinyoungie membuat Mama khwatir sayang." ujar Minhyun dengan suara bergetar.
"Maaf, Ma... Jinyoungi tidak bilang dengan Mama,"
Minhyun melepaskan pelukannya, dan berslih mengecup pipi Jinyoung dengan gemas, "Tak apa sayang, yang penting Jinyoungie sudah ada disini, Mama lega Jinyoungie baik-baik saja."
"Dia siapa hyung?"
Minhyun menolehkan kepalanya, saat mendengar suara lain diruangan ini. Minhyun terlalu fokus dengan Jinyoung, sehingga dia tidak melihat ada orang lain yang datang bersama Jinyoung.
"Dia Ibu Daehwi dan Jinyoung." Jawab Daniel santai.
"Hah?! Maksudmu calon ibu?" Jaehyun memastikan.
"Bukan, Jaehyun, dia benar-benar Ibu kandung Daehwi dan Jinyoung."
"Tunggu dulu, jadi dia Ibu kandung si kembar? Ya Tuhan hyung, akhirnya pencarianmu selama ini tidak sia-sia."
Minhyun hanya diam, memperhatikan percakapan antara Daniel dan lelaki yang dipanggil Jaehyun oleh Daniel tadi.
Daniel mengangguk membenarkan ucapan Jaehyun, ia melirik jam yang berada dipergelangan tangan kirinya"Baiklah, kami akan pulang sekarang, Jaehyun tolong handle perkerjaanku hari ini okay? Ada urusan penting yang harus aku selesaikan." Ujar Daniel sambil melirik kearah Minhyun.
"Oke... Tidak masalah, selesaikanlah masalah kalian, agar Daehwi dan Jinyoung bisa merasakan kasih sayang Ayah dan Ibu secara lengkap." Ujar Jaehyun dengan tulus.
"Yah... Aku harap begitu Jae."
-TBC-
Yuhuuuu kembali dengan chapter 7 nggak mau banyak cuap-cuap dah, yang penting review nya ditunggu biar aku semangat ngelanjutinnya!!!
see you next chapter
2018-02-10
