Disclaimer, Amano Akira

Sengat matahari sore, debu yang bergumul dengan angin, suara instruksi ketua klub yang sedang latihan, para manager dan pemain yang memberi semangat, dan suara pukulan keras antara bat dan bola putih yang sudah terbang entah kemana. Sorak sorai penghuni bangku cadangan merayakan homerun walau hanya latihan. Lapangan outdoor terhias semangat masa muda murid-murid berpeluh yang tengah mengasah diri.

Tsuna berjalan di sepangjang sisi lapangan yang dibatasi jaring besi tinggi. Sambil melihat latih tanding antara murid tahun pertama dan kedua. Berberapa berlatih mandiri di sisi lain lapangan. Beberapa suara seperti decit dan debuman tedengar dari gedung olahraga. Mungkin klub lain juga sedang berlatih.

"Tsuna!" suara familiar berseru panik, intuisinya mengatakan sesuatu namu terlambat.

BLETAK!

"Itte!" sebuah bola putih menggelinding beberapa meter darinya setelah memberi sebuah benjolan di antara surai cokelat yang berdiri liar. Tsuna bangkit dari posisi terlentang setelah terjungkal.

"Kau baik-baik saja?" Yamamoto mengulurkan tangan.

"Hm... sakiitt..." rengek Tsuna macam anak TK. Air mata siap jatuh, pipi tembam menggembung, tangan mengelus benjol yang menyakitkan. Yamamoto ingin menculiknya pulang. Baru selesai satu, sebuah peringatan mampir lagi... dan terlambat lagi... payah!

"UWOOOOO!"

Dan bokong Tsuna kembali mencium penuh kasih sang tanah kering di sisi lapangan setelah terpental oleh kekuatan extreme sang pelaku tabrak lari. Tsuna menangis penuh penderitaan fisik. Jauh-jauh dari 'bayi besar' yang sadis ga ketulungan, Tuna-fish malah merasa jadi bulan-bulanan penghuni kota kecil yang 'terlihat' biasa-biasa saja tapi ternyata luar binasa.

"Ahahaa, Sasagawa-senpai semangat sekali seperti biasanya." dengan senyuman yang memantulkan cahaya matahari sore, Yamamoto nyengir sambil mengamati punggung sang Sasagawa-senpai yang menjauh pergi. Menjadi murid pindahan yang belum tahu apa-apa itu merepotkan. Sekali lagi, ME-RE-POT-KAN! Tsuna benci ketika tidak tahu apa-apa yang bisa membahayakan hidupnya... ah... tunggu, Yamamoto bilang Sasagawa?

"Ano..."

"Ah, maaf-maaf." Yamamoto mengulurkan bantuan kembali untuk menolong Tsuna bangun dari tanah.

"Kamu tadi bilang Sasagawa-senpai?" Tsuna bertanya dengan nada biasa saja sambil menepuk celana dan kemejanya yang kotor, Yamamoto modus dengan membantu ikut menepuk seragam Tsuna dari debu.

"Hm, ya. Itu tadi Sasagawa Ryohei-senpai. Ketua klub tinju. Mottonya adalah melakukan apa pun dengan TO THE EXTREME!" Yamamoto mengangkat satu tinjunya, seolah menirukan gaya Sasagawa-senpai. Tuna-fish sweatdrop. Padahal dirinya juga tidak mungkin tahu apa-apa. "Dia kakak Kyoko. Kita sekelas dengan adiknya itu kok." nah, kalau yang ini... Tsuna pengen pundung ke pojokan buat gambar lingkaran.

'Itu tadi kakak Kyoko-chan?! Yang benar sajaaaa! Dia lebih seperti monster!' batinya meringis pedih, calon kakak ipar macam orang kesetanan. Puk puk.

"A- ahahaa... haa..." roh Tsuna melayang keluar dari mulutnya.

"Oh!" Yamamoto mah ga peka orangnya, "nah, Tsuna. Kau belum memiliki kegiatan klub 'kan?" mata amber Yamamoto berbinar merasa ada harapan. Tsuna tahu secara otomatis kemana arah pembicaraan ini akan bermuara.

"H- hmm... kegiatan klub y- yaa..." Tsuna meletakkan telunjuk di dagu, memiringkan kepala kesamping beberapa derajat, keping karamel melirik ke atas seolah berpikir. Beberapa orang tak berdosa kehabisan darah, Yamamoto hampir kehabisan napas. "Hm, memang belum. Tapi sepertinya akan sedikit sulit untukku mencari kegiatan klub di Jepang." senyum kecilnya bisa saja memanggil kawanan kriminal dan calon kriminal lalu menjadikannya buronan.

"Hee... memangnya dulu kegiatanmu di sekolah apa?" seandainya Yamamoto tahu kalau dia tidak sekolah secara formal dan benar, melainkan privat dan bikin sekarat... ah, tapi jangan sampai orang lain tahu, bisa rusak imagenya sebagai murid 'normal' dalam peran, walau hati dan pikiran sudah di atas level anak seumuran. Terutama bagian ketularan sadisnya.

"Hm, halang rintang, panjat tebing, marathon, lempar-tangkap, menyelam, mengurus binatang, babysit beberapa anak, meleda- ah... mungkin paling banyak hanya membaca buku." kalimat Tsuna barusan diucapkan dengan suara minimum yang jelas di bagian akhir. Tentu saja karena yang lainnya tidak masuk akal karena Tsuna terlihat lemah disini dan semua itu dilakukan dengan banyak bahan peledak dan jebakan juga binatang buas di alam liar sungguhan. Yamamoto merinding tersengat hawa dingin Tsuna.

"Hee... membca buku, eh?" air muka yang agak kecewa nampak jelas, "padahal kuharap kau bisa ikut klub baseball denganku." satu cengiran yang mempaknya pengharapan terakhir harus berakhir dengan agak tragis ketika-

"Sepertinya aku akan ikut klub sastra atau seni." tanpa mendengarkan apa yang dikatakan Yamamoto, Tsuna mangatakan klub tujuannya dengan cepat dan cukup antusias.

"Be- begitu ya..."

"Nah, atau aku bisa ambil klub drama saja?"

Entah ini ide siapa, datang dari mana, Yamamoto terbayang Tsuna mengenakan gaun seorang puteri lengkap dengan tiara di antara rambut cokelatny yang lembut. Make-up tipis yang natural, close-up bibir cherry mungil yang siap ditaut oleh dirinya sebagai sang pangeran. Lalu Yamamoto tumbang di tengah genangan darah.

"Ya- Yamamoto-kun? Yamamoto-kun?! Hei!"

Ah, sore yang cerah untuk berkegiatan klub sepulang sekolah~. /Authorpergitanpadosa/

TBC


sankyuu~ Cloud the First Tsurugi, Natsu Yuuki, Cocoa2795, Zara Zahra, zhichaloveanime, Kuroshi Charlice, Remah-Remah Rengginang, Ssora0, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama