Tittle; My Love
Cast; Kang Daniel, Hwang Minhyun, Bae Jinyoung, Lee Daehwi
Support Cast; Choi Minki, Im Youngmin, Takada Kenta, Kim Sanggyun, Kim Jonghyun, Ha Sungwoon, Ong Seongwoo, Yoon Jisung, Kang Dongho, and others.
Sebelumnya saya mau peringatin, kalo ini FF NielHwang, so yang nggak suka jangan maksain baca, okay :) jadilah pembaca yang cerdas :)
oOo
Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya mobil Audi R6 itu sampai dipekarangan mansion milik Daniel. Sebenarnya, mobil itu milik Jaehyun. Daniel meminjamnya karena sikembar tertidur saat mereka akan pulang. Tidak mungkin Daniel memaksakan diri membawa mobil yang ia bawa saat menemui Minhyun. Itu tidak akan nyaman untuk kedua buah hatinya, karena tempat duduknya yang sempit.
Sebenarnya bagian belakang mobil milik Jaehyun juga memiliki kursi yang sempit, tapi setidaknya lebih baik daripada mobilnya yang hanya muat untuk dua orang. Ingatkan Daniel untuk membeli satu mobil lagi, dan memilih mobil dengan kapasitas tempat duduk yang besar. Agar kedua anaknya bisa duduk dengan nyaman saat mereka berpergian.
Dua puluh menit yang dilewati hanya dengan keheningan, tidak ada satupun diantara mereka yang berniat membuka percakapan. Baik Daniel, maupun Minhyun, mereka hanya tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Daniel memarkirkan mobil milik Jaehyun tepat didepan pintu mansionnya. Tujuannya, agar mereka tidak terlalu jauh menggendong Daehwi dan Jinyoung yang masih tertidur lelap dikursi belakang. Daniel melepaskan sabuk pengaman miliknya, lalu beralih menatap Minhyun yang sedari tadi hanya diam sambil menatap ke arah luar. Daniel menghela napas panjang, ia tidak tau kenapa Minhyun enggan sekali bertatapan mata dengannya. Lelaki itu selalu menundukkan kepalanya setiap kali berinteraksi dengan Daniel.
"Minhyun, kita sudah sampai..." uajr Daniel membuyarkan lamunan Minhyun.
Minhyun menatap kesekeliling mereka, benar saja, mereka sudah sampai. Entah apa yang ada dipikiran Minhyun, sehingga dia tidak memperhatikan jika mereka sudah sampai dikediaman milik Daniel. Rumah ini... Minhyun tidak menyangka dia akhirnya memasuki rumah ini, selama ini dia hanya bisa menatap dari jauh. Dan sekarang... Sekarang ia akan memasukinya, Minhyun rasanya masih belum bisa percaya.
Kejadian yang kurang dari dua jam, bisa membuatnya memeluk Daehwi, bisa merasakan betapa bahagianya saat Jinyoung dan Daehwi memeluk dan menciumi pipinya. Minhyun masih tidak percaya.
"Minhyun..." Daniel menggenggam jemari mungil Minhyun yang terasa sangat pas digenggamannya.
Minhyun menolehkan kepalanya dengan cepat keara Daniel, saat merasakan jari besar Daniel yang menggenggam tangannya. Ia menatap Daniel dengan bingung, " Daniel kenapa...?"
"Apanya yang kenapa?" Daniep balik bertanya pada Minhyun.
"Kau... Kenapa menggenggam tanganku...?" Minhyun bertanya ragu.
Daniel mengangkat bahu acuh, " Hanya ingin, dan hanya agar kau mengalihkan pandanganmu dari luar sana." Balas Daniel seadanya.
Minhyun mengkesah, ia melirik Jinyoung dan Daehwi yang masih tertidur dengan pulas di bangku belakang.
"Daniel, sebaiknya kita cepat membawa Jinyoung dan Daehwi masuk kedalam. Kasihan mereka pasti merasa tidak nyaman."
"Baiklah, kita gendong mereka kedalam." ujar Daniel sambil mengeluarkan tubuhnya dari mobil, yang diikuti oleh Minhyun. Mereka menggendong Daehwi dan Jinyoung lalu memasuki rumah mewah milik Daniel dengan Minhyun yang menggendong Daehwi dan Daniel yang menggendong Jinyoung.
Minhyun meringis pelan saat melihat keadaan kamar Daehwi. Kamar dengan tema Frozen itu benar-benar terlalu feminim untuk ukuran anak laki-laki. "Daniel, kenapa kamar Daehwi feminim sekali seperti ini," ujar Minhyun setelah ia meletakkan Daehwi diatas tempat tidur. Dia memperhatikan seluruh isi kamar yang benar-benar semuanya Frozen.
"Mau bagaimana lagi Min, anakmu itu sangat tergila-gila dengan sosok Ana dan Elsa di kartun Frozen, jadilah dia ingin kamarnya dirubah menjadi seperti ini." Ujar Daniel sambil menggaruk tengkuknya dengan canggung.
"Tapi ini terlalu feminim untuk ukuran anak laki-laki Niel," Ujar Minhyun sambil tetap memperhatikan seisi ruangan.
"Apa kau keberatan?"
"Hah?! Apa maksudmu keberatan?"
"Apa kau keberatan aku menghias kamar Daehwi seperti ini?"
"Tidak! Tidak Niel, bukan seperti itu, aku hanya-
"Sudahlah, lebih baik kita kekamar Jinyoung sekarang." Daniel berkata sambil berjalan meninggalkan Minhyun yang terdiam kaku diatas tempat tidur Daehwi. 'Apa aku salah lagi?' iner Minhyun dalam hati.
Minhyun mengalihkan pandangannya pada Daehwi yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia mensejajarkan tubuhnya denga Daehwi, lalu mengecup lama kening putanya. Minhyun terkekeh kecil saat melihat Daehwi yang mengerang tak nyaman karena tidurnya terganggu.
"Sweet Dream sayang..."
oOo
Minhyun memasuki kamar yang bersebelahan dengan kamar Daehwi. Ia menghela napas lega, setidaknya kamar Jinyoung tidak seperti kamar Daehwi. Tapi kelegaannya tidak berlangsung lama, saat melihat begitu banyaknya mainan dikamar itu. Belum lagi, ranjang yang berbentuk seperti mobil, dan yang lebih membuat Minhyun malas adalah. Adanya tangga disebelah tempat tidur itu yang menuju lantai atas, yang sepertinya hanya Jinyoung yang bisa memasukinya.
"Sudah puas melihat-lihatnya?"
Minhyun mengalihkan perhatiannya pada Daniel saat mendengar lelaki itu berbicara padanya. Minhyun beranjak mendekat kearah tempat tidur Jinyoung saat melihat Daniel mengisyaratkannya untuk mendekat.
"Apa kau menyukai interior kamar Jinyoung?" Daniel bertanya dengan lembut saat Minhyun sudah mendudukkan tubuhnya di kasur Jinyoung.
"Aku suka, apalagi jika tidak ada mainan sebanyak itu disana." Minhyun menunjuk semua mainan yang berserakan dilantai, "Jinyoung tidak akan keluar dari kamar kalau seperti ini, Niel."
"Jinyoung yang menginkan ini, mana mungkin aku menolak keinginannya."
"Ya,... Aku tau," Minhyun menjawab singkat.
"Mau kekamarku?"
"A-apa?"
"Kekamarku Min," Daniel berujar sambil menggenggam tangan Minhyun dengan lembut. Ia tersenyum saat melihat Minhyun mengganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu. Daniel menuntun Minhyun untuk berdiri dari duduknya, ia melingkarkan tangannya secara paelahan pada pinggang ramping milik Minhyun. Daniel terkekeh kecil saat merasakan Minhyun yang berjengit, sepertinya anak itu masih belum terbiasa dengan skinship yang dilakukan Daniel padanya.
Minhyun mengikuti Daniel yang mengajaknya untuk melihat kamarnya. Tangan lelaki yang lebih muda satu tahun darinya itu tak lepas sedikitpun dari pinggang ramping miliknya. Tak ada percakapan diantara keduanya, Minhyun yang masih belum terbiasa, hanya bisa menundukkan kepalanya menutupi rona merah yang menjalar menghiasi pipinya.
Mereka sampai didepan kamar milik Daniel, ia hanya diam saat Daniel melepaskan rangkulan pada pinggangnya karena ia harus membuka pintu kamar.
Pintu kamar berwarna putih gading itu terbuka, Daniel menggenggam tangan Minhyun. Menuntunnya itu untuk memasuki kamar milik Daniel. Minhyun terus diam, tidak berani membuka suara sedikitpun. Dia tidak pernah membayangkan jika dia akan terjebak dalam satu ruangan dengan lelaki yang paling enggan ia temui dulu.
Minhyun juga hanya menurut, saat Daniel dengan perlahan mendudukkannya diatas kasur king size miliknya. Danie berjongkok dihadapannya, menggenggam tangannya dengan sangat lembut. Minhyun merona saat Daniel menyatukan jari-jari tangan mereka. Belum lagi tatapan mata Daniel yang menatapnya begitu dalam. Jantungnya berdetak tak keruan, Minhyun sangat malu saat ini.
"Da-Daniel... Jangan menatapku seperti itu," Minhyun berujar dengan terbata, ia semakin dalam menundukkan kepalanya.
Daniel terkekeh dengan tingkah malu-malu Minhyun, ia mencengkram dagu Minhyun dengan lembut, lalu mendongakan sedikit kepala Minhyun agar ia bisa menatap mata rubah fovoritnya itu.
"Aku masih tidak percaya, bahwa yang berada dihadapanku sekarang, adalah orang yang selama bertahun-tahun aku cari" ujar Daniel menatap tepat dimata Minhyun, " Kau tau? aku selama ini begitu frustrasi mencarimu, Min. Aku begitu tertekan dan takut. Takut bahwa aku tidak bisa menemukanmu, aku takut Daehwi akan selamanya tidak biasa merasakan kasih sayang seorang Ibu"
Minhyun terdiam kaku, dia menatap Daniel yang masih menatapnya dengan lembut.
"Kenapa kau bersembunyi dariku, Min?"
Degh
Minhyun membeku ditempatnya, kenapa ia bersembunyi? Kenapa? Ia juga tidak tau. Minhyun terlalu takut berurusan dengan Daniel. Dia dan Daniel tidak terlalu dekat, malah bisa dikatakan memang tidak dekat. Bahkan Minhyun sanksi jika Daniel ingat bahwa ia dan Daniel pernah satu kelas saat Senior High School.
Daniel melakukan 'itu' padanya dalam keadaan mabuk, dia bahkan tidak tau saat itu tengah meniduri siapa. Maka dari itu, Minhyun tidak yakin jika Daniel bersedia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Aku takut Niel" Minhyun berbisik lemah dia memejamkan matanya saat cairan bening itu mengalir tanpa diperintah dari kedua mata rubahnya.
"Kau takut akan hal apa,?"
"Aku takut Niel, saat itu aku bermaksud untuk mengatakan yang sejujurnya padamu, aku ingin memberitahukanmu bahwa aku hamil. Hamil, karena one night stand yang kita lakukan saat kau mabuk. Tapi malam itu, kau datang bersama teman-temanmu ke Miracle Club. Kau datang bersama teman wanita mu, mereka wanita yang berkelas, sedangkan aku... Aku hanya anak yatim piatu yang beruntung karena mendapatkan beasiswa di sekolah milik orang tuamu. Aku takut kau tidak percaya padaku, aku takut kau hanya mengira aku orang aneh yang mengaku-ngaku sedang mengandung anakmu. Dan lagi... orang tuamu, aku yakin mereka tidak akan percaya, dan mereka tidak akan suka padaku." ucapan Minhyun terhenti saat Daniel memeluknya dengan erat.
"Setidaknya kau bisa mencoba berbicara padaku Min, jika memang aku tidak mempercayaimu, kita bisa melakukan tes DNA 'kan? Kau menyerahkan Daehwi padaku melalui Yongguk. Sedangkan kau terus bersembunyi, kau hanya datang dengan diam-diam disaat hari ulang tahun Daehwi. Kau seperti menghukumku secara tidak langsung, Min. Kau tidak tau, betapa Daehwi sangat menginginkan kehadiranmu. Daehwi selalu di bully oleh teman-temannya karena dia tidak punya Ibu" Daniel berkata dengan nelangsa.
Minhyun semakin mengeratkan pelukannya, tangannya semakin mengencang melingkari pinggang Daniel. Minhyun semakin membenamkan wajahnya di dada Daniel, ia terisak dengan keras, saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh pria itu.
Dengan perlahan Daniel melepaskan pelukan erat Minhyun pada pinggangnya. Daniel menangkup pipi tembam Minhyun, ia menghapus air mata Minhyun dengan kedua Ibujarinya.
"Aku mohon Min, untuk kali ini jangan pergi lagi. Daehwi membutuhkanmu, dia sangat membutuhkan figur seorang Ibu. Sudah cukup selama lima tahun ini dia hanya bisa menatap teman-temannya yang mempunyai Ibu"
Minhyun menatap Daniel dengan pandangan yang memburam karena air mata. Ia bimbang harus bagaimana saat ini. di satu sisi, Minhyun sangat ingin bersama dengan Daehwi. Tapi di sisi lain, hati Minhyun masih diliputi banyak keraguan, Minhyun tidak tau harus menyikapinya seperti apa.
Minhyun tersentak saat Daniel menggenggam tangannya dengan begitu lembut. Ia refleks menundukkan kembali kepalanya, guna menutupi rona merah yang menjalar di kedua pipi nya hingga ketelinga.
Daniel menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Minhyun "Mata mu bengkak Min" Daniel menatap khawatir pada mata Minhyun yang memang membengkak, dan sangat merah.
"Eum... Aku memang memiliki alergi dengan garam Niel, bahkan jika aku berkeringat sedikit saja, alergiku akan kambuh."
"Ya Tuhan! Itu pasti sakit Min, tunggulah disini sebentar, aku akan kebawah mengambil air untuk mengompres kelopak mata mu." Daniel beranjak dari kasur King Size nya. Dia berjalan keluar kamar.
Minhyun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, walaupun ia tau itu tidak mungkin terlihat oleh Daniel, karena Daniel sudah lebih dulu keluar dari kamar.
oOo
Jam sudah menunjukkan pukul 16.45KST, Minhyun saat ini masih berada dikamar Daniel. Minhyun melirik kesamping kanan-nya, melirik Daniel yang tengah tertidur drngan sangat lelap, Daniel tidur sambil memeluk pinggangnya. Tangan Minhyun tak henti-hentinya mengelusi rambut blonde milik Daniel. Minhyun tersenyum kecil saat mengingat kejadian satu jam yang lalu, saat ia bermaksud untuk kembali ke caffè. Daniel tanpa pikir panjang dengan tegas melarangnya. Alasanya, karena ia takut jika Minhyun akan pergi lagi.
Padahal Minhyun sudah meyakinkan Daniel, kalau dia tidak akan pergi. Tapi Daniel dan segala ketakutannya dengan kekeuh melarangnya, dia malah mengirim enam orang anak buahnya untuk membantu pekerjaan di caffè. Jika sudah seperti itu, Minhyun bisa apa selain menuruti Ayah dari kedua anaknya tersebut. Dia sebisa mungkin memaklumi ketakutan Daniel.
Minhyun dengan sangat hati-hati melepaskan pelukan erat Daniel pada pinggangnya. Dia tidak mau Daniel terbangun, Daniel baru tidur kurang dari satu jam. Sepertinya dia sangat kelelahan, sehingga hanya beberapa detik saat dia berbaring Daniel sudah jatuh tertidur .
Minhyun perlahan-lahan turun dari kasur milik Daniel, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dipisahkan oleh pintu kaca yang terdapat disebelah sisi kanan kamar Daniel. Disana, terdapat sebuah pintu yang disembunyikan oleh hordeng yang tebal dan tinggi, hingga jika tidak dilihat dengan seksama tidak akan terlihat.
Minhyun sangat penasaran dengan ruangan itu, tadi saat Daniel turun kebawah untuk mengembalikan wadah berisi air kompres untuknya, Minhyun tidak sengaja menemukan pintu itu saat dia tengah melihat-lihat.
Minhyun membuka hordeng yang menutupi pintu tersebut. Lalu, menggeser pintu berwarna hitam pekat itu dengan sangat hati-hati, agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun yang bisa membuat Daniel terbangun. Minhyun menatap takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Ternyata, dibalik hordeng tinggi itu terdapat sebuah kamar. Kamar yang didominasi warna putih itu tampak bersih, dengan cermin besar desebelah kanan, yang berhadapan langsung dengan kasur. Dan juga... Desebelah kiri juga terdapat kaca yang memisahkan balkon dan juga kamar tersebut. Minhyun tau, kaca kamar itu tidak tembus pandang. Jika dari dalam bisa melihat dengan jelas kearah luar, tapi, jika dari luar tidak akan terlihat apa-apa, kecuali hanya kaca gelap.
"Suka dengan yang kau lihat?"
Minhyun nyaris terjungkal saat ia tiba-tiba mendengar suara husky berbisik ditelinganya. Membuat sensasi geli yang aneh. Dan, jangan lupakan sepasang tangan kekar yang melngkar dengan manis diperutnya. Minhyun membeku, saat Daniel mulai mengecupi area lehernya dengan pelan.
"Da- Daniel, berhenti" Minhyun berkata dengan susah payah.
Daniel menurut, dia menghentikan kegiatannya yang nengecupi area leher Minhyun. Dia kelepasan, salahkan leher mulus Minhyun yang mengundang untuk dikecupi.
"Kau sudah bangun?"
"Yah... Karena seseorang yang mengelus rambutku pergi, aku jadi tidak bisa melanjutkan tidurku."
Minhyun mendengus malas, ia mencoba melepaskan tangan Daniel yang melingkari perutnya. Namun itu tidaklah mudah, tidak karena Daniel semakin mengeratkan pelukannya.
"Min, bolehkah aku melihat sesuatu?" Daniel bertanya dengan serius, walaupun Minhyun tidak melihat wajahnya karena saat ini posisi mereka yang menghadap kearah luar.
"Melihat apa?" Minhyun menjawab dengan bingung.
Tanpa aba-aba, Daniel memutar posisi mereka menghadap kearah cermin besar ada dibelakang mereka. Minhyun merona melihat posisi mereka yang sangat intim seperti ini. Minhyun terbelalak, saat merasakan Daniel perlahan-lahan mengangkat baju yang ia kenakan. Ia menahan tangan Daniel dengan cepat.
"Daniel apa yang kau lakukan!" Minhyun berujar panik.
"Sssttt... Tenanglah, aku tidak akan berbuat yang macam-macam, setidaknya sampai kau mengizinkanku" Daniel berujar jenaka.
Minhyun memutar malas bola matanya, ia hanya diam saat Daniel melanjutkan kegiatan mari mengangkat baju Minhyun keatas.
Minhyun menegang saat Daniel meraba area diseketar bawah pusarnya. Daniel tengah mengelus luka bekas operasi saat ia melahirkan Jinyoung dan Daehwi dulu. Minhyun memperhatikan dalam diam ekspresi Daniel dari cerimin besar dihadapan mereka. Ekspresinya benar-benar tidak terbaca.
"Apa ini sakit?" Daniel bertanya dengan lembut. Ia tidak menghentikan sama sekali kegiatannya yang mengelus garis bekas luka tersebut. Daniel menatap lekat bekas luka tersebut dari cermin.
"Apa?" Minhyun bertanya bingung.
"Apa kau saat itu kesakitan? Kau pasti sedih harus melahirkan tanpa didampingi seorang suami."
"Ya... Saat itu aku sangat bingung, takut, dan juga sedih pada saat itu. Aku melihat orang lain melahirkan, mereka semua didampingi seorang suami. Sedangkan aku, aku bahkan hanya ada kak Sungwoon yang menemaniku."Minhyun berujar dengan suara bergetar.
"Maaf... Maafkan aku Min, Kau... Pasti kesulitan pada saat itu" Daniel berbisik pelan ditelinga Minhyun. "Maafkan aku yang sudah membuatmu menderita, aku memang lelaki brengsek, bejat, dan bodoh."
"Daniel..."
"Pantas jika kau menghukumku dengan cara bersembunyi, dan membiarkan aku kebingungan mencarimu, aku memang lelaki brengsek aku-
Cup
Daniel terbelalak saat merasakan bibir kenyal Minhyun yang mengecup bibirnya. Hanya beberapa detik, namun cukup untuk membuat pikirannya blank seketika.
"Minhyun..."
Minhyun memutar tubuhnya, agar berhadapan langsung dengan Daniel, tanpa melepaskan pelukan Daniel pada pinggangnya. Minhyun terenyuh saat melihat Daniel yang terlihat sangat tertekan, dan putus ada "Stop Niel, jangan terus-terusan menyalahkan dirimu. Posisinya sekarang bukan hanya kau yang salah, oke, kau memang salah karena meniduriku disaat kau mabuk. Tapi, aku juga salah, karena aku sangat pengecut untuk berterus terang padamu. Jadi, aku mohon, jangan menyalahkan dirimu lagi atas semua yang terjadi." Minhyun berujar dengan lembut.
Daniel tidak menjawab, dia menatap Minhyun dengan intense, dengan perlahan Daniel mendekatkan wajahnya kearah Minhyun. Perlahan tapi pasti, bibir tebal milik Daniel menyentuk bibir tipis Minhyun. Minhyun sendiri hanya mampu memejamkan matanya saat bibir Daniel melumat bibirnya dengan sangat hati-hati. Minhyun mengalungkan tangannya pada leher Daniel, ia menarik Daniel agar semakin memperdalam ciuman mereka.
"Ungghh" bibir Minhyun terbuka karena Daniel yang menggit-gugit kecil bibirnya. Menciptakan sensasi aneh yang menggelitik perutnya. Minhyun melenguh samar saat Daniel semakin liar menciumnya. Minhyun kualahan mengimbangi bibir Daniel yang terus-terusan melumat bibir atas dan bawahnya secara bergantian.
Daniel membelai bibir bawah Minhyun dengan lidahnya, membuat Minhyun lagi-lagi mengerang. Minhyun refleks membuka mulutnya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Daniel. Ia mengabsen seluruh isi dalam mulut Minhyun, membelitkan lidahnya dengan lidah Minhyun. Hingga terdengar suara kecipak yang membangkitkan sisi liar Daniel.
"N-Niel su-sudah" Minhyun berujar diselah-selah ciuman mereka, dia menepuk dada Daniel berkali-kali, agar dia menyudahi ciuman panas mereka, Minhyun benar-benar kehabisan napas.
Daniel menurut, ia melepaskan tautan bibir mereka. Dia tersenyum saat melihat Minhyun yang terengah-engah karena kehabisan napas. Pipinya merona, entah karena kurangnya oxygen, atau karena malu. Dada-nya naik turun, berusaha mengais udara sebanyak mungkin.
"Daniel! Kau gila! Aku hampir kehabisan napas" omel Minhyun begitu dia sudah bisa mengontrol napasnya.
Daniel terkekeh, dia menyatukan keningnya dengan kening Minhyun. Menggesekkan hidungnya pada hidung Minhyun.
"Min, apa kau mau melanjutkannya lebih jauh" Daniel berbisik sensual ditelinga Minhyun.
Minhyun meremang, merasakan napas hangat Daniel yang menerpa permukaan bibirnya.
"Apa?!"
"Apa kau mau?" Daniel mengulangi pertanyaanya.
"Aku takut." Minhyun mencicit pelan.
"Takut akan hal apa?"
"Aku..."
"Tidak usah memaksakan diri jika kau belum siap." Daniel berujar dengan lembut. Ia mengecupi bibir Minhyun berkali-kali, sepertinya, bibir kucing itu sekarang sudah menjadi candu bagi Daniel. Mengalahkan beer yang selalu menjadi favoritnya.
Minhyun menatap Daniel tepat dimatanya, lama mereka berdua saling menatap seperti itu. Hingga...
"MOMMY!! MOMMY DIMANA!"
-TBC-
NOTE;
WAKAKAKAK *ketawa nista* ciyeeee yang kesel ciyeeee yang lagi nyusun kata-kata buat hujat gue ciyeeee wkwkwk... OTW dihujat ini wkwk...
btw aku mau edit yang panggilan 'hyung' aku ganti jadi 'kakak' gapapa kan yah. Terus panggilan Daehwi ke Jinyoung Abang, bukan hyung.
Dan... CaurQuehhh maap adegan anu-nya harus dihentikan disini. Karena sudah terlalu panjang. Aku tak kuadhhh mengetik...
Entar (insya allah) aku bikin special chap aja ya, tapi gajanji wkwk...
Udahan gamau banyak cakap yang penting tinggalin review nya aja.
SEE YOU NEXT CHAPTER
BHAY!!!
2018-02-16
