"MOMMY! MOMMY DIMANA!"
Minhyun dengan refleks menjauhkan tubuhnya dari Daniel, saat ia mendengar jeritan cempreng dari salah satu anaknya itu. Dia bergegas keluar dari kamar tersebut, Minhyun meringis saat meliat Daehwi yang sedang duduk diatas tempat tidur Daniel. Ia duduk di tengah-tengah kasur milik Daniel, bibirnya mengerucut pertanda dia tengah kesal. Tanpa banyak bicara, Minhyun langsung menghampiri Daehwi, ia duduk ditepian kasur milik Daniel.
Daehwi menatap tajam Ibunya, ia semakin mengerucutkan bibirnya, saat melihat sang Ayah juga keluar dari tempat yang sama dengan Ibunya.
"Mommy kemana cih? Dedek cali-cali dicetiap kamal tidak ada, dedek juga cudah cali dikamal Jinyoung hyung, tapi Mommy tidak ada juga" Daehwi merajuk pada Minhyun.
"Eum... maaf sayang, Mommy... Mommy tadi sedang... sedang ada urusan sama Daddy," Minhyun menjawab dengan gugup.
"Ulucan apa?" Daehwi bertanya penuh selidik.
"Eum... I-itu... Niel bantu aku" Minhyun menatap Daniel semelas mungkin meminta bantuan, membuat Daniel terkekeh kecil.
Daniel mendekatkan diri pada Daehwi, ia mengikuti Minhyun yang duduk ditepian kasurnya, "Sayang, Daddy sedang ada urusan dengan Mommy tadi. Urusan rahasia, Dedek tidak boleh tau" Daniel berujar sambil mengedipkan matanya pada Minhyun, yang membuat Ibu dari kedua anaknya tersebut merona.
"Ulucan apa?" Daehwi bertanya dengan raut yang sama. Penuh selidik.
"Hm... dedek tidak boleh tau, ini rahasia, pokoknya ini urusan dewasa"
"Daddy... ulucan apa?" Daehwi merengek penasaran, membuat Daniel tergelak. "Oke,oke. Daddy kasih tau, Daddy sama Mommy... mau buat adek untuk Daehwi" Daniel berujar santai, Minhyun melotot.
"DANIEL!"
"Why Min? Kita memang akan membuatkan adik untuk Daehwi 'kan?" Daniel berkata dengan enteng.
"Daddy cama Mommy mau bikin dedek balu? Dedek yang dali dalem pelut kayak Mommy Len? (Re: Ren)" Daehwi bertanya antusias.
"Yaps... benar sekali, dedek dari dalem perut Mommy... Daehwi mau?" Daniel berujar sambil mengelus perut Minhyun yang berada berseberangan dengannya.
Daehwi terlihat bingung dengan kata-kata yang diucapkn oleh ayahnya, semua itu terlihat dari alisnya yang menyatu, tanda anak itu tengah berpikir dengan keras.
"Daddy... kalau dedek punya dedek, telus dedek dipanggil apa?" Daehwi bertanya bingung. Sebenarnya Daniel juga bingung, tapi dia lebih bingung dalam mecerna kata-kata yang diucapkan Daehwi barusan.
Bingung Nyel? Sama ainq juga wkwk...
"Dedek, bukan dedek lagi dong sayang, dedek bakal jadi kakak. Kayak Jinyoung hyung." Daniel menjelaskan dengan sabar.
"Nanti dedek dipanggil hyung cama dedeknya dedek, cama kayak dedek icung panggil Lenjun (re: Renjun) hyung yah Dadd?"
"Iya seperti itu sayang"
"Ummm Dedek- eh! Dewi hyung mau punya dedek Dadd..." Daehwi berujar dengan semangat, berbeda dengan Ibunya yang sudah keringat dingin.
"Benarkah? Tapi Mommy sepertinya tidak mau sayang" Daniel berpura-pura sedih, membuat Minhyun melotot pada Daniel. Minhyun bersumpah akan memukuli Daniel tanpa ampun setelah ini. Bisa-bisanya ia berkata yang tidak-tidak didepan anaknya.
"Mommy... kenapa tidak mau? Mommy tidak mau punya dedek balu? Padahal Dewi mau punya dedek balu" Daehwi berujar dengan nada sedih.
Minhyun gelagapan, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat; "Eum... ti-tidak bukan begitu sayang, Mommy hanya- hah... baiklah, iya Mommy mau" Minhyun berujar pasrah, dia benar-benar lemah dengan tatapan polos Daehwi yang menatapnya penuh harap.
"YEAYYY! DEDEK CAYANG MOMMY" Daehwi berujar girang, ia memeluk Minhyun dengan sangat erat. Yang dibalas dengan Minhyun tak kapah eratnya.
"Mommy Dewi mau punya dedek cewek, Dewi nanti mau ajak main cama Elca sama Ana (frozeen) nanti dedek juga mau beliin balang-balang walna Pink buat dedek. Telus Dewi mau hiacin kamalnya dedek pakek Hello kitty bial cantik. Telus juga ceplainya, celimutnya tempat tidulnya, kamalnya pokoknya cemuanya halus pink, halus hello kitty juga. Bajunya celananya, pita-nya cemua halus walna pink" Daehwi berujar menggebu-gebu.
Daniel? Jangan ditanya, dia sedang tertawa nista melihat Minhyun yang begitu nelangsa mendengar ocehan Daehwi yang sangat terobsesi untuk menghias kamar adiknya dengan ornamen Hello Kitty, dan warna pink. bahkan adiknya dibuat saja belum hehe.
"Mama"
Sedang asyik-asyiknya mereka membahas tentang adik, tiba-tiba Jinyoung masuk dengan wajah yang masih setengah mengantuk kedalam kamar Daniel. Daniel yang melihatnya dengan sigap turun dari atas kasur. Ia menghampiri Jinyoung, dan...
Hap...
Daniel mengangkat Jinyoung kedalam gendongannya. Jinyoung, yang pada dasarnya memang masih mengantuk, secara otomatis menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Ayahnya.
"Jinyongie Masih mengantuk hm...?" Daniel berujar sambil mengusapi surai belakang anaknya. Tidak ada jawaban dari Jinyoung, anak itu hanya menganggukkan kepalanya dengan enggan.
"Kenapa Jinyoungie sudah bangun kalau masih mengantuk?" Daniel menimang Jinyoung yang berada didalam gendongannya, berharap anak itu bisa tidur lagi.
"Jinyoungie mau bertemu Mama" Jinyoung menjawab dengan ogah-ogahan. Ia semakin menelusupkan wajahnya dierpotongan leher Daniel.
"Mama Jinyoung tidak kemana-mana, ada disini, bersama Daddy dan dedek" Daniel memutar tubuhnya menghadapan Jinyoung pada Daehwi dan Minhyun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Jinyoung mengangguk dalam pelukan Ayahnya, ia menatap Daehwi dan Minhyun secara bergantian. Lalu, setelahnya, perlahan mata anak itu sedikit demi sedikit mulai tertutup. Menadakan jika Jinyoung telah kembali terlelap menuju ke alam mimpi.
Minhyun terkekeh kecil, dan menggeleng maklum saat melihat Jinyoung yang sudah kembali terlelap. Minhyun sudah terlalu terbiasa dengan anak itu, Jinyoung memang mudah sekali tertidur, sangat berbeda dengannya yang sangat susah tidur jika bukan ditempat yang menurutnya nyaman.
"Niel, tidurkan saja Jinyoung kembali dikamarnya, dia sudah kembali terlelap." Minhyun memberitahukan Daniel bahwa Jinyoung sudah kembali terlelap beberapa saat yang lalu.
"Biarkan saja, aku masih ingin menggendongnya sebentar lagi" Jawab Daniel sembari terus menimang Jinyoung yang berada didalam gendongannya.
"Baiklah, kalau begitu... bolehkah aku kebawah? Aku... aku ingin menyiapkan makan malam" Minhyun memelankan intonasi suaranya, saat mengatakan kalimat terakhirnya. Karena bagaimanapun dia baru hari ini menginjakan kakinya dikediaman Daniel, dia tidak mau dianggap tidak sopan jika mengerjakan sesuatu tanpan izin.
"Kenapa harus meminta izin? Mulai sekarang ini adalah rumahmu juga, lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Tidak akan ada yang melarangmu" Daniel berkata seraya menatap Minhyun dengan lembut.
"Terima kasih, Niel."
"Anything for you, sweetheart"
ooOoo
Malam sudah semakin larut, keadaan rumah Daniel juga sangat sunyi. Karena, jam memang sudah menunjukkan pukul 23.30KST. Minhyun berkali-kali membolak-balikan tubuhnya, sudah lebih dari dua jam dia mencoba untuk tidur. Namun, matanya seolah enggan untuk terpejam.
Yah... Minhyun dan Jinyoung menginap dikediaman Daniel malam ini. Sebenarnya, Minhyun enggan, dan sempat menolak tawaran Daniel yang menyuruhnya untuk menginap malam ini. Namun, melihat Daehwi yang menatapnya dengan sedih saat dia bilang akan pulang, dia menjadi tidak tega. akhirnya setelah berpikir panjang, Minhyun memutuskan untuk menginap.
Dia menelpon Sungwoon, mengatakan kalau ia menginap dirumah temannya semasa menengah pertama dulu. Tidak mudah meminta izin dari Sungwoon, dia lebih dulu diceramahi karena menghilang tiba-tiba dan membuatnya khawatir. Namun dengan sedikit bujukan dan kebohongan, akhirnya Sungwoon mengizinkan, dengan syarat besok Minhyun harus pulang.
Minhyun mengkesah panjang, saat tenggorokannya terasa sangat haus. Minhyun beranjak dari posisi berbaringnya, dan berjalan keluar kamar, bermaksud untuk mengambil minum didapur.
Minhyun berjalan dengan sangat pelan, sebisa mungkin agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Ia menyusuri lorong panjang dilantai dua rumah Daniel, Minhyun melirik di sisi kanan dan kirinya, tidak ada ruangan lain selain kamar. Sepertinya, dilantai dua ini memang benar-benar dikhususkan untuk kamar.
Sebenarnya, menurut Minhyun rumah ini terlalu- Ah! tidak, sangat besar jika hanya untuk ditinggali Ayah dan Anak. Minhyun tidak habis pikir kenapa Daniel membeli rumah, atau lebih tepatnya, ini bisa disebut istana. Karena, ukuran rumahnya yang memang sangat luas.
Total keseluruhan kamar dirumah ini saja ada ada Dua belas. Terdapat delapan kamar dilantai dua. Lima kamar untuk anak-anak, dan tiga kamar untuk orang dewasa. Sedangkan dibawah, ada empat kamar satu kamar utama, dan dua kamar tamu. Yang satunya khusus dipakai jika Ayah dan Ibu Daniel pulang ke Korea.
Itu baru kamar yang ditunjukkan Daniel saja, belum kamar lain yang ada dibelakang (kamar asisten rumah tangga) itu terpisah. Mereka mempunyai ruangan sendiri dibelakang rumah, jadi para asisten rumah tangga dan supir tidak tinggal dirumah ini, melainkan tinggal di rumah terpisah yang berada dibelakang rumah.
"Ya Tuhan! Akhirnya sampai juga! Ingin kedapur saja jalannya lama sekali" Minhyun mengeluh dengan pelan, ia benar-benar sudah kehausan tapi dari tadi dia berjalan seperti tidak sampai-sampai.
"Hah... andaikan aku bertemu dengan Daniel sebelum ia membeli rumah ini, akan aku pastikan dia tidak akan pernah membeli rumah ini" Minhyun mendumel dengan pelan.
Minhyun berniat ingin kembali kekamarnya setelah dia selesai minum air putih didapur. Tak lupa, ia juga membawa satu gelas air putih ditangannya. Untuk berjaga-jaga saja, jika nanti ia haus, ia tidak perlu repot untuk turun kebawah. Minhyun berjalan sambil melirik kekanan dan kekiri. Keadaan rumah yang sangat sepi membuatnya sedikit takut, ditambah dengan cahaya yang minim membuatnya ingin cepat-cepat masuk kekamarnya.
Minhyun memghentikan langkah kakinya, saat melihat sedikit cahaya dari sebuah ruangan, yang berada tepat disebelah ruang keluarga. Karena penasaran, akhirnya Minhyun mendekati asal dari cahaya tersebut.
Dia mengerutkan kedua alisnya, dia belum sempat melihat ruangan itu tadi sore.
Minhyun membuka pintu tersebut dengan sangat perlahan, dia membukanya sedikit lebih lebar. Minhyun melongokkan kepalanya kedalam ruangan tersebut, Ah! Ternyata ini adalah ruang kerja.
Tanpa bertanya pun Minhyun tau ini ruangan milik siapa. Minhyun menyapukan pandangannya ke seisi ruangan, pandangannya terhenti saat retina matanya menangkap siluet seseorang yang baru tadi siang ia jumpai. Dia... adalah Kang Daniel, Ayah dari kedua anaknya.
Daniel duduk membelakanginya, pria itu terlihat tengah serius menatap grafik-grafik angka yang tertera dilayar Laptop didepannya. Minhyun tidak mengerti apa itu, tapi yang Minhyun tau, Daniel sedang berkerja. Minhyun mengernyit, Daniel berkerja hingga tengah malam seperti ini.
Dan lelaki itu hanya memakai sebuah sweater turttleneck berlengan panjang. Sweater itu melekat sangat pas ditubuh berotot milik Daniel. Minhyun merona, dilihat dari belakang seperti ini bahu Daniel benar benar terlihat lebar, dan kokoh.
Minhyun menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya dia berfikiran yang tidak-tidak. Minhyun meninggalkan ruangan kerja Daniel dengan sangat perlahan, tidak mau menimbulkan suara sedikitpun. Ia membuka salah satu kamar yang berada dilantai bawah.
Minhyun mengambil selimut tebal dari dalam lemari, Minhyun kembali keruang kerja Daniel, agak sedikit susah memang. Karena, dia sedang membawa gelas yang berisi airputih ditangannya, sedangkan ditangan lainnya dia harus membawa selimut tebal.
Ibu dua anak tersebut kembali memasuki ruangan kerja milik Daniel, ia meletakan gelas yang sedari tadi ia bawa keatas meja yang ada diruangan itu. Minhyun berjalan perlahan menghampiri Daniel, lalu menyampirkan selimut tebal tersebut pada punggung Daniel.
"Kau bisa demam jika hanya memakai pakaian seperti ini" Minhyun berbisik ditelinga Daniel. Dapat dia rasakan Daniel yang sedikit kaget dengan perlakuannya barusan.
Daniel sedikit tersentak saat tiba-tiba merasakan sesuatu menyentuh bahu-nya. Disusul dengan suara lembut yang sangat dikenalinya. Tanpa menolehpun Daniel tau itu siapa. Daniel menahan tangan Minhyun yang bermaksud menjauh dari bahu-nya karena ia menyampirkan selimut barusan.
Daniel menggenggam kedua tangan Minhyun dan sedikit menariknya agar lebih merapat padanya; posisinya Minhyun memeluk lehernya dari belakang. Minhyun sedikit menunduk, karena posisi Daniel saat ini sedang duduk di kursi kerjanya.
"D- Daniel..." Minhyun terbata.
Daniel sedikit memiringkan kepalanya, untuk menatap wajah Minhyun dari balil kacamata kerjanya.
Daniel mengecup dagu Minhyun sekilas. Dia terkekeh saat melihat Minhyun yang membulatkan matanya.
"Begini dulu sebentar sweetheart... biarkan aku bersandar sebentar, aku lelah, aku nyaman dengan posisi seperti ini" Daniel berujar sambil menempelkan pipinya dengan pipi Minhyun.
Minhyun sendiri hanya bisa pasrah, dia hanya diam menuruti kemauan Daniel, mereka hanya diam, tidak ada yang berniat memulai percakapan. Daniel juga kembali dengan aktivitas yang sebelumnya. Lama mereka dalam posisi seperti itu, hingga Daniel merasakan Minhyun yang mulai bergerak gelisah dibelakangnya. Ah! Sepertinya Minhyun mulai merasa pegal.
"Min... mau 'minum?" Daniel bertanya sembari mematikan Laptop yang berada didepannya. Ia memutar sedikit kepalanya agar dapat melihat wajah Minhyun.
"Eum... tapi aku tidak bisa minum, Niel." Minhyun mencicit pelan.
"Benarkah? Bukankah kau dulu berkerja sebagai bartender di Miracle club?" Daniel berujar tak percaya.
"Huum... tapi aku hanya membuatkan minuman untuk orang yang memesan, bukan meminumnya. Toleransiku terhadap alkohol samgat rendah."
"Oh, yah? Serendah apa?" Daniel bertanya penasaran
"Sangat rendah Niel, aku bahkan bisa mabuk hanya dalam satu teguk." Minhyun menjawab dengan malu.
Daniel melepaskan pelukan tangan Minhyun pada lehernya, ia memutar kursi kerjanya yang menyebabkan selimut yang tersampir dibahunya jatuh kebawah. Daniel menarik pinggang Minhyun agar semakin dekat dengannya, dia memeluk pinggang Minhyun dengan posesif. Daniel mendongakkan kepalanya menatap tepat kepada dua bola kembar yang selalu ia sukai itu.
"Kalau begitu, mau menemani aku minum?"
Daniel tersenyum saat melihat Minhyun yang menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu.
ooOoo
Daniel menaiki tangga dengan sangat hati-hati dengan Minhyun yang berada dalam gendongannya. Ia menggendong Minhyun ala bridalstyle, Minhyun mabuk karena tadi ia meminum dua gelas wine dengan kadar alkohol yang tinggi. Ia sudah melarangnya, tapi Minhyun dan kekeraskepalaannya kekeuh ingin mencoba rasa minuman itu. Dan berakhirlah dia mabuk seperti sekarang.
Daniel membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Kamar yang didominasi dengan warna greey dan putih gading itu sangat terasa berbeda, dengan penerangan temaram yang berasal dari lampu hias yang tergantung diatas langit-langit kamar Minhyun. Didamping tempat tidurnya terdapat cermin besar yang menutupi seluruh bagian dinding kamar.
Daniel meletakkan Minhyun dengan sangat hati-hati, ia terkekeh kecil saat melihat Minhyun yang mengoceh tidak jelas dalam tidurnya.
"Tidak! Jangan tinggalkan aku!"
Pergerakan Daniel terhenti, saat ia memdengar Minhyun mengigau dalam tidurnya. Minhyun bergerak gelisah, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.
"Daniel... aku mohon jangan tinggalkan aku"
Daniel membelalakan matanya saat mendengar igauan Minhyun barusan, semakin membelalak saat igauan itu disusul dengan isakan-isakan kecil. Sekarang dia tau, Minhyun sedang bermimpi buruk tentangnya. Daniel dengan cepat menepuk-nepuk pipi Minhyun, membangunkan lelaki itu dari mimpi buruknya.
"Minhyunie, bangun sweeheart... hey, bangun sayang" Daniel menepuk-nepuk pipi Minhyun dengan sedikit keras. Berhasil, Minhyun terbangun dengan napas yang terenggah-enggah. Ia bangun lalu memeluk Daniel dengan sangat erat.
"Daniel... aku takut... aku bermimpi kau meninggalkanku, kau... kau membawa Jinyoung dan Daehwi pergi dariku, kau... " Minhyun tidak sanggup meneruskan kata-katanya, ia kembali menangis dalam pelukan Daniel.
"Ssssst... tidak ada yang perlu ditakutkan sayang, aku berjanji aku tidak akan meninggalkanmu" Daniel mengusap punggung Minhyun berharap dapat menenangkan Minhyun yang terlihat sangat terguncang.
"Aku tetap takut Niel." Minhyun berujar dengan suara bergetar.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, dan tidak akan ada yang meninggalkan atau ditinggalkan" Daniel berujar mantap.
Minhyun melepaskan diri, dari pelukan Daniel. Minhyun menatap Daniel dengan lekat, "Daniel, aku mau melanjutkan yang tadi sore." Minhyun berujar pelan.
"Kau, A-apa?!" Daniel terlihat tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan Minhyun.
"Aku mau melanjutkan yang tadi sore, aku ingin kita malam ini bercinta." Minhyun berujar mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun.
Daniel menggelengkan kepalanya tak percaya, "Kau mabuk sweetheart sebaiknya kau tidur lagi, aku akan menemanimu disini" Daniel berujar sambil mendorong tubuh Minhyun untuk kembali berbaring.
Namun yang terjadi selanjutnya membuat Daniel terkejut bukan main. Minhyun menarik lehernya lalu menyatukan bibir mereka. Daniel dapat merasakan ciuman Minhyun terasa berbeda, Daniel sebisa mungkin mengimbangi ciuman Minhyun. Dia mengambil alih permainan, Daniel melumat bibir atas dan bawah Minhyun secara bergantian. Dia membelai bibir atas dan bawah Minhyun dengan lidahnya, seolah mengerti, Minhyun membuka mulutnya, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Daniel. Dia memasukan lidahnya kedalam goa hangat milik Minhyun.
"Enghhhh Niel" Minhyun mendesah disela-sela ciuman mereka.
Ciuman mereka menjadi semakin liar, Minhyun menarik tengkuk Daniel agar semakin memperdalam ciuman meraka. Daniel sendiri senang-senang saja, dia semakin gencar melumat bibir Minhyun. Tangan Daniel tidak tinggal diam, ia menelusupkan satu tangannya kedalam piyama tidur miliknya yang dipakai oleh Minhyun. Daniel mengusap perut Minhyun, ia mengusap luka yang disebabkan oleh bekas operasi pasca melahirkan Jinyoung dan Daehwi.
"Unghhhh" Minhyun menggeliat resah, saat tangan besar Daniel mengusap datarnya.
Daniel melepaskan pagutan bibir mereka, saat merasa Minhyun yang hampir kehabisan napas. Dia terkekeh saat melihat Minhyun yang terengah-engah mengais udara. Dadanya naik turun, jangan lupakan benang saliva yang tertinggal disudut bibirnya. .
Daniel mengecup sudut bibir Minhyun sekila, "Sudah hampir pagi, tidurlah lagi. Kau sedang mabuk sweetheart kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan, aku tidak mau kau nantinya menyesal." Daniel berujar sambil mengusak poni Minhyun yang berkeringat.
"Tidak Niel, aku tidak mabuk! Aku sadar! Dan aku tidak akan menyesal" Minhyun menjawab dengan cepat.
Daniel terkejut, ia tidak tau apa yang menyebabkan Minhyun bertingkah seperti ini, apa karena mimpinya barusan?
"Daniel... bukankah kau yang mengajakku 'melanjutkan' kenapa kau ragu?"
"Aku hanya- apa benar, kau tidak akan menyesal nanti?" Daniel bertanya dengan serius pada Minhyun.
"Tidak" Minhyun menjawab cepat.
Daniel menatap Minhyun dengan lekat, "Oke... aku harap kau mengatakan yang sebenarnya. Aku harap kau tidak akan menyesal setelah ini." Dengan begitu mereka kembali menyatukan bibir mereka.
-TBC-
Oke cukup hehe... jangan ganggu mami sama daddy ehem...eheman yah wkwk...
buat Din @Optimus-gun selay caurQueehh Speci chaptermu akan ada setelah chapter ini wkwk... aku nyari timing yang pas dong yah buat ehemnya, masa iya gada angin gada ujan langsung nayana
Oke sampe ketemu di chap selanjutnya
Dan maaf untuk typo nya, ini ngetik cuma dua jam, abis itu langsung di up wkwk...
Review nya ditunggu :)
BHAY
2018-02-25
