Mata rubah yang sejak semalam terpejam itu, perlahan-lahan mulai terbuka. Menampilkan sepasang manik kembar yang selalu bisa memikat siapa saja yang melihatnya. Hwang Mihyun, ia mengernyit, saat pertama kali dia membuka mata, yang dilihatnya bukanalah sebuah kamar minimalis dengan box bayi disampingnya.

Melainkan, sebuah kamar besar, dengan cat yang sama dengan kamarnya. Yang membedakan adalah, adanya kaca besar disisi kiri tempat tidurnya. Minyun terdiam untuk beberapa saat, mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. Dia mengerang kecil saat merasakan tubuhnya yang seolah remuk. Padahal, seingatnya dia tidak melakukan aktivitas yang terlalu menguras tenaga kemarin.

'Ah, aku lupa, aku sekarang berada dirumah Daniel' inernya dalam hati.

Minhyun melirik kesamping kanannya, ia tersenyum kecil saat didapatinya Daniel yang tengah tertidur nyenyak. Namun sedetik kemudian Minhyun terbelalak, setelah mengingat apa yang terjadi. Dia semalam menemani Daniel minum, dan sialnya ia juga ikut minum karena terlalu penasaran dengan rasa vodca diminum Daniel. Dia bermimpi buruk, dan...

"Ya Tuhan!" Minhyun berseru panik. Ia refleks mendudukkan tubuhnya tanpa sadar, yang menyebabkan bagian bawah tubuhnya terasa ngilu. Minhyun menarik selimutnya hingga sebatas leher, ia menggulung tubuhnya dengan selimut tersebut.

Minhyun menggigiti kuku tangannya dengan gusar, ia tidak habis pikir kenapa dia bisa sebodoh ini. Dia dan Daniel bahkan baru bertemu kemarin, tapi dia sudah berani melakukan hubungan badan (untuk yang kedua kali-nya).

"Apa yang telah aku lakukan," Bisiknya lirih, matanya mulai berkaca-kaca, Minhyun menatap Daniel yang tengah terlelap dengan pandangan yang memburam karena air mata.

Perlahan tapi pasti cairan bening itu meluncur bebas dari kedua mata rubah miliknya. Minhyun menangis dalam diam, menyesali kebodohannya yang sudah berbuat tidak semestinya. Dia dan Daniel belum ada ikatan apapun, dan dengan bodohnya ia meminta Daniel untuk menidurinya. Andai saja dia tidak mabuk, pasti tidak akan begini kejadiannya.

"Kau bodoh Hwang Minhyun! Bodoh! Sangat bodoh!" Minhyun memukuli kepala-nya berulang-ulang, tangisannya semakin menjadi saat sekilas bayangan masa lalu tiba-tiba terlintas dibenaknya.

"Aku memang bodoh!" Teriaknya frustrasi, melupakan Daniel yang tengah terlelap disampingnya.

Mendengar teriakan yang mengusik tidurnya membuat Daniel terbangun dari tidurnya. Ia menatap kearah samping tempat tidurnya, untuk memastikan siapa yang telah mengganggu tidurnya. Namun, ia kaget bukan main, saat melihat Minhyun yang tengah menangis sambil memukuli kepanya. Daniel dengan sigap menahan tangan Minhyun yang hendak kembali memukul kepala nya. Ia mencengkram kedua tangan Minhyun dengan kuat saat Minhyun berontak.

"Minhyun! Hey! Kenapa kau memukuli kepalamu seperti itu? Ada apa denganmu!" Karena terlalu khawatir Daniel tanpa sadar membentak Minhyun, membuat Ibu dari kedua anaknya tersebut langsung terdiam.

Minhyun mendongak menatap Daniel yang menatap khawatir kearahnya; "Daniel... Kenapa bisa seperti ini, kenapa kita bisa melakukan hal ini" Minhyun berujar lirih. Air mata kembali mengalir dari kedua mata rubahnya.

"Ada apa Min? Jelaskan padaku kau kenapa?" Daniel berkata dengan lembut, ia menghapus air mata Minhyun dengan kedua ibujarinya.

"Apa yang kita lakukan semalam..."

Daniel tersentak saat mendengar kata-kata yang diucapkan Minhyun. Dia menatap Minhyun dalam diam. Satu lagi kebodohan yang ia lakukan, seharusnya dia bisa menolak keinginan Minhyun semalam. Minhyun tengah mabuk, dia pasti tidak sadar dengan apa yang lakukannya. Dan bodohnya dia malah menuruti keinginan Minhyun.

Daniel menarik Minhyun kedalam pelukannya, ia mengusap punggung Minhyun yang bergetar dengan hebat.

"Maafkan aku," Daniel berbisik pelan ditelinga Minhyun "aku yang bodoh, seharusnya aku tidak menurutimu semalam, kau tengah mabuk yang pasti kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan maafkan aku"

"Da-Daniel..."

"Lakukan apapun yang bisa membuatmu lega Min, bahkan jika kau membunuhku sekarang pun aku rela"

Minhyun menggelengkan kepala tak setuju, ia melepaskan pelukan Daniel dengan paksa, ia menatap Daniel tepat dikedua matanya "Tidak! Aku mohon jangan menyalahkan dirimu, Niel. Kau tidak salah. Aku hanya takut, aku takut jika keadaan terdahulu kembali terulang, aku- aku takut kau meninggalkanku dan Jinyoung" Minhyun berbisik pelan diakhir kalimatnya.

"Tidak akan Min, aku janji tidak akan meninggalkanmu dan Jinyoung. Kau tau, betapa susahnya aku mencari kalian? Jadi aku tidak akan melakukan hal bodoh itu." Daniel meyakinkan Minhyun.

"Jangan berjanji, cukup lakukan saja Niel. Kareja aku tidak pernah percaya dengan sebuah janji" Minhyun berujar lirih.

Daniel tidak menjawab kata-kata Minhyun, ia hanya kembali menarik Minhyun kedalam pelukannya. Daniel bernapas lega saat Minhyun perlahan-lahan mulai menghentikan tangisya. Setidaknya, Minhyun sudah tidak menangis seperti tadi. Daniel sangat takut saat mendengar Minhyun yang menangis terisak seperti tadi.

Lama mereka dalam posisi seperti itu, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga suara Daniel memecah keheningan diantara mereka.

"Min, tinggal lah disini" Daniel berujar tiba-tiba, membuat Minhyun refleks melonggarkan sedikit pelukannya pada Daniel, namun tak sampai melepaskannya. Minhyun mendongak menatap Daniel tepat dikedua matanya.

"Kenapa kau memintaku tinggal disini?" Minhyun bertanya tanpa melepaskan kontak matanya dengan Daniel.

"Kenapa? Aku hanya ingin selalu berdekatan denganmu dan Jinyoung" Daniel merunduk mengecup bibir Minhyun sekilas.

Minhyun menganggukkan kepalanya ragu-ragu sebagai jawaban. Entahlah, setengah dari hatinya seperti meyerukan agar ia tidak menuruti permintaan Daniel. Seperti ada yang mengganjal didalam hatinya. Namun, Minhyun menepis semua perasaan aneh tersebut. Ia mencoba untuk berpikit positif.

"Tapi... temani aku untuk meminta izin pa Sungwoon hyung" ujar Minhyun dengan pelan.

"Yeah, aku akan lakukan itu" Daniel menjawab cepat. "Kita akan kerumah mu hari ini, jika kau tidak lelah" Daniel mengelus pipi Minhyun dengan punggung tangannya.

"Tidak, jangan hari ini" Minhyun menjawab cepat.

"Kenapa? Apa kau lelah?" Daniel bertanya bingung.

"Tsk... Dasar Kang bodoh Daniel! Kau habis meniduriku semalam, dan itu sudah sekian lama dari kejadian di Miracle club dan itu rasanya seperti saat pertama kali pertama kali melakukannya bosoh! Tentu saja bagian bawahku terasa sangat sakit, mana bisa aku berjalan dengan leluasa seperti biasnya. Yang ada cara jalanku akan terlihat aneh!" cerocos Minhyun panjang lebar, membuat Daniel menggaruk tengkuknya dengan canggung.

"Hehe... Maaf, aku lupa" Daniel cengengesan, membuat Minhyun mendengus malas.

"Sudahlah, sekarang cepat bantu aku kekamar mandi, aku harus mandi dan menyiapkan sarapan"

"No! Hanya mandi, tidak untuk membuat sarapan. Kau masih lekah, tetaplah diatas tempat tidur. Banyak maid dirumah ini yang bisa membuatkan sarapan" Daniel berujar tegas. Dia tau Minhyun masih kelelahan, dan sakit akibat aktivitas mereka semalam. Daniel tidak mau Minhyun memaksakan dirinya.

"Tapi... Aku harus menyiapkan bekal untuk Jinyoung dan Daehwi" Minhyun kekeuh pada keinginannya, yang membuat Daniel mendengus. Hwang Minhyun benar-benar manusia keras kepala.

"Hey, dengarkan aku. Kau masih lelah dan... Sakit, okay. Jadi tidak perlu memaksakan diri untuk membuatkan Jinyoung dan Daehwi sarapan. Tidak untuk hari ini, jika besok kau sudah tidak lelah ataupun sakit, aku tidak akan melarangmu" Daniel mencoba memberitau Minhyun selembut mungkin.

"Tsk... Baiklah," Ujarnya tak rela. "Sekarang bantu aku kekamar mandi saja"

"Mau aku gendong? Atau kau mau jalan sendiri?"

Minhyun terkejut, saat mendengar perkataan Daniel yang akan menggendongnya. Namun, ia mencoba bersikap biasa saja. "Eum... Apa tidak apa-apa jika aku minta kau menggendongku?" Minhyun bertanya ragu "eum... Maksudku, a-aku masih sakit" Minhyun memelankan kata terakhir yang diucapkannya. Dia menunduk, menutupi rasa panas yang menjalar dikedua pipinya.

Daniel terkekeh, ia mencubit hidung mancung Minhyun dengan gemas "aku tau," Daniel menjawab singkat. Ia melepaskan pelukannya pada Minhyun dia turun dari kasur, mengambil celana dalamnya yang tergeletak tak jauh dari kasur lalu memakai celananya dengan asal.

Minhyun semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam, saat melihat Daniel yang hanya mengenakan celana dalam dihdapannya.

"Da-Daniel, bisakah kau pakai celanamu yang semalam" Minhyun berujar terbata.

"Kenapa?" Daniel bertanya bingung.

"Aku malu bodoh!" Minhyun berkata sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Daniel tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Minhyun yang memurutnya sangat lucu. Semalam dia sangat binal diatas ranjang, tapi sekarang dia malu-malu seperti anak perawan yang baru digagahi pacarnya.

"Kenapa harus malu? Kau sudah melihat semuanya semalam" Ujar Daniel sambil menaik turunkan alisnya, membuat Minhyun semakin malu."semalam kan aku mabuk bodoh" Minhyun semakin menundukkan kepalanya, enggan menatap Daniel.

"Haha... Baiklah nyonya Kang, mari kita kekamar mandi sekarang." Daniel berujar sambil memposisikan diri untuk menggedong Minhyun ala bridal style. Dan melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi yang terdapat dikamar itu.

oOo

Diruang makan, terlihat Jinyoung dan Daehwi yang telah rapi dengan seragam masing-masing. Mereka sudah duduk dengan anteng sambil menyantap sereal yang dibuatkan oleh bibi Lee. Oh, tidak. Sepertinya hanya Jinyoung yang duduk tenang, sedangkan Daehwi sejak tadi terus mengerucutkan bibirnya. Jinyoung yang melihatnya pun menjadi bingung.

"Dedek kenapa sih? Daritadi merengut terus? Dedek tidak suka sarapannya?" Jinyoung akhirnya bertanya karena tidak tahan melihat Daehwi yang terus-terusan merengut.

"Hyung... Mommy cama Daddy mana? Kenapa tidak calapan cama kita?" Daehwi merengek pada Jinyoung.

"Hm... Hyung tidak tau" Jinyoung menjawab asal, dia sudah sangat lapar. Tapi dia tidak bisa makan jika melihat Daehwi yang terus-terusan merajuk seperti ini.

Ciyeeee abang yang baeq ciyeee wkwk...

"Kita kekamal Daddy caja" tanpa aba-aba Daehwi menarik Jinyoung turun dari kursi yabg diduduki oleh Jinyoung, membuat Jinyoung nyaris saja terjungkal.

"Dedek pelan-pelan"

Daehwi tidak mengidahkan kata-kata kakaknya. Dia terus menarik Jinyoung menaiki tangga, menuju kamar Ayah mereka. Daehwi berkali-kali mengetuk pintu kamar Daniel dengan sekuat tenaga, membuat tangan mungilnya menjadi merah.

"Dedek sudah, lihat tangan dedek jadi merah" Jinyoung menahan tangan Daehwi yang akan kembali mengetuk pintu kamar Ayah mereka.

"Daddy dimana? Mommy juga?" Daehwi mulai menangis karena tidak bisa menemukan Ayah dan Ibu mereka.

"Ssstt.. jangan menangis, coba kita ketuk pintu kamar Mama." Jinyoung berujar sambil menunjuk pintu yang disebelah kamar Daniel.

Daehwi mengangguk, ia menuruti kata-kata Jinyoung. Daehwi mengetuk kamar disebelah kamar Daniel. Dan benar saja, setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu kamar yang ditempati Ibu mereka terbuka.

"Daddy mana Mommy?" Daehwi bertanya pada Daniel sesaat setelah pintu kamar itu dibuka.

"Mommy ada didalam sayang"

"Dedek mau liat Mommy" Daehwi berlari masuk kedalam kamar Ibunya dengan cepat. Mengabaikan Ayahnya yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku-nya. Daniel mengedikkan bahunya, ia beralih menatap Jinyoung yang hanya diam didepan pintu.

"Morning jagoan Daddy" Daniel mengangkat Jinyoung kedalam gendongannya. Dia menutup pintu kamar, dan berjalan mendekati kasur Minhyun.

"Morning Daddy" Jawab Jinyoung singkat.

"Apa tidurmu nyenyak hm...?" Daniel mencium pipi sekilas.

Jinyoung hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Daniel terekeh kecil, kedua anaknya ini seperti memlikiki karakter yang berlawanan. Daehwi yang kelewat cerewet, sedangkan Jinyoung kelewat pendiam. Yah, anggap saja perpaduan mereka berdua, walaupun dirinya bukan orang yang pendiam. Setidaknya dia tidak secerewet Minhyun.

"Morning Jinyoungie"

"Morning Mama"

"Kalian sudah rapi? Siapa yang membantu kalian memakai baju?" Minhyun bertanya panasaran.

"Jinyoungie pakai baju sendiri Ma, kalau dedek dibantu bibi Lee" Jinyoung menjawab pertanyaan Minhyun, sedangkan Daehwi terlihat tak acuh. Dia menyaman dirinya dipangkuan Ibunya. Daehwi memeluk pinggang Minhyun dan menelusupkan kepalanya di dada Minhyun.

"Jinyongie pintar" Daniel mencium pipi Jinyoung dengan gemas.

"Dedek juga pintal" Daehwi berseru tak terima saat mendengar sang Ayah hanya memuji kakaknya.

Daniel dan Minhyun tertawa, mendengar Daehwi yang tidak terima jika hanya Jinyoung yang di puji. Sedangkan Jinyoung hanya diam saja. Dia lapar tapi karena Daehwi yang memaksanya untuk kesini, jadi ia gagal untuk memakan sarapannya.

"Daddy Jinyoungie mau sarapan" Jinyoung memeluk leher Daniel, dia menelusupkan kepala nya diceruk leher Ayahnya.

"Loh? Jinyoungie belum sarapan? Dedek juga?" Daniel bertanya bingung.

"Belum, tadi dedek memaksa untuk mencari Mama" Jinyoung berujar sebal.

"Yasudah, kita kedapur sekarang, dedek juga ayo" Daniel mendekati Daehwi yang masih nyaman dipelukan Minhyun.

"Tapi dedek mau digendong Mommy" Daehwi menatap Minhyun dengan polos. Membuat Minhyun gelagapan, sungguh bukannya Minhyun tidak mau, tapi bagian bawahnya benar-benar masih sakit karena digempur oleh Daniel semalam.

"Dedek, sama Daddy saja. Mommy sedang tidak sehat sayang" Daniel mencoba membujuk Daehwi. Dia tau betuk jika Minhyun masih kesakitan.

"Mommy cakit?" Daehwi menatap Minhyun dengan khawatir.

"Itu... Eummm, hanya tidak enak badan sayang" Minhyun menjawab dengan gugup.

"Daddy dedek tidak mau cekolah, dedek mau menemani Mommy caja dilumah."

"No! Ingat apa yang Daddy ucapkan waktu itu? Kalau Mommy Daehwi...

"Tidak cuka anak bodoh" Daehwi menjawab pelan.

"Nah, kalau Daehwi tidak sekolah berarti akan jadi anak bodoh"

"Dedek mau cekolah! Dedek mau cekolah! Dedek tidak mau jadi anak bodoh!" Daehwi berujar tiba-tiba.

Membuat Minhyun kaget, namun selanjutnya ia tertawa tebahak-bahak saat melihat ekspresi lucu Daehwi.

"Bagus, sekarang dedek turun kita kebawah untuk sarapan."

Daehwi menuruti kata-kata Ayahnya, ia turun dari pangkuan Minhyun dan berjalan menghampiri Daniel.

"Min, aku kebawah yah.Kau diamlah dikamar, maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku ada meeting penting hari ini. Jika kau butuh apa-apa, panggil saja bibi Jung. Dia kepala pelayan disini."

Daniel mengecup dahi Minhyun sekilas, lalu mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar Minhyun.

Minhyun menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Walaupun dia tidak yakin Daniel bisa melihatnya. Minhyun memperhatikan dalam diam Daniel, Jinyoung, dan Daehwi yang perlahan keluar dari kamarnya.

-TBC-

Note;

yang bilang ini pendek siap-siap kena santet onlen :v btw... ini sebenernya ada special chap nya, dan itu Full NC, hayoo mau di up nggak ni? kalopun up aku pisah, nggak disini hehe...

Chap 10 cukup sampai disini, gue keut aja, kalo nggak di keut kepanjangan. Entar kalean pada mabok bacanya

Kuy lah, yang udah baca tinggalin jejaknya. reviewn nya ditunggu yah :)

Kalo ada typo harap dimaklumi, ngetik cuma dua jam soalnya, tanpa edit juga wkwkwk,...

2018-03-11