Terhitung ini sudah hari ketiga Minhyun dan Jinyoung menginap di mansion Daniel. Minhyun sangat kesal dengan Daniel,Tiga hari ini, Minhyun benar-benar hampir mati bosan. Karena Daniel tidak membiarkan dirinya melakukan aktivitas apapun.
Daniel memperlakukan dia layaknya orang yang sedang sakit parah. Tidak boleh turun dari tempat tidur kecuali jika itu penting. Misalnya, jika dia ingin ke kamar mandi.
Makan pun, disiapkan oleh bibi Lee, dan yang lebih membuat Minhyun kesal lagi semua makanan itu dihantarkan kedalam kamarnya. Padahal Minhyun tidak sakit, dan yeaah... Kecuali butnya saja yang masih terasa sedikit nyeri.
Minhyun mengkesah bosan, ia ingin melakukan sesuatu, tapi tidak tau apa. Saat ini pun ia tengah sendirian dirumah, yah... Kecuali beberapa maid yang sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Minhyun sangat bosan jika hanya duduk diam di atas tempat tidur seperti ini. Tapi, kalau dia keluar kamar dia bisa diomeli oleh Daniel lagi. Minhyun malas mendengar omelan Daniel, dia baru tau kalau Daniel bisa secerewet itu. Dia fikir, Daniel pria yang cool dan pendiam. Ternyata dugaannya salah, Daniel lebih cerewet dari Sungwoon.
Ngomong-ngomong Sungwoon, Minhyun sudah tiga hari ini tidak memberi kabar pada Sungwoon. Dia yakin, jika dia pulang nanti Sungwoon pasti akan memarahinya habis-habisan. Karena menghilang tanpa kabar selama tiga hari.
"Bagaimana reaksi Sungwoon hyung nanti saat bertemu dengan Daehwi" Minhyun berkata gusar. "Apa dia akan mengizinkanku untuk tinggal disini? Hah... Semoga saja dia mengizinkan, karena aku sudah terlanjur berkata iya untuk tinggal disini"
"MAMA!"
Minhyun mengalihkan perhatiannya kearah pintu, saat mendengar suara Jinyoung yang memanggilnya dengan sangat keras. Minhyun mengernyit bingung saat melihat Jinyoung yang memasuki kamarnya sambil terengah-engah.
Jinyoung menaiki kasur Minhyun dan mendudukkan dirinya dengan nyaman disana.
"Jinyoungie hyung kenapa?" Minhyun bertanya bingung saat mendapati anak pertamanya itu datang dengan terengah.
"Jinyoungie lomba sama dedek, siapa yang lebih cepat sampai dikamar Mama hehe..." Jinyoung nyengir.
"Terus, yang kalah dihukum?"
"Tidak! Yang kalah tidak dihukum, tapi harus memanggil Mama dengan sebutan yang menang " Jinyoung menjelaskan pada Ibunya.
"Sayang, Mama tidak mengerti." Minhyun berujar dengan raut bingungnya.
"Isshh... Mama, maksud Jinyoung hyung itu... Kan dedek panggil Mama itu Mommy. Nah, Jinyoung kan panggilnya Mama... Kita lomba, siapa yang menang berarti harus manggil Mama dengan sebutan yang menang. Contohnya, sekarang Hyung menang, dan dedek harus panggil Mama dengan sebutan Mama, bukan Mommy." Jinyoung menjelaskan panjang lebar.
"Ah, begitu rupanya. Jadi... Dedek sekarang panggil Mama dengan sebutan 'Mama' bukan Mommy lagi?" Minhyun memastikan.
Jinyoung menganggukkan kepalanya dengan semangat sebagai jawaban. Membuat Minhyun terkekeh geli.
"Sekarang dedeknya mana?" Minhyun bertanya penasaran, karena tidak menemukan Daehwi dimanapun.
"Dedek dibawah, kelelahan. Dedek lagi minta dikipasin sama bibi Lee" Jinyoung terkikik.
"Tsk... Kalian ini ada-ada saja sih, kenapa harus lomba-lomba seperti itu? Kamar Mama ada dilantai dua, kalau kalian terpeleset ditangga bagaimana? Lain kali jangan diulangi lagi yah, Mama tidak suka. Itu berbahaya" Minhyun berkata dengan tegas.
"Maaf ma... Jinyoung janji tidak akan seperti itu lagi" ujarnya penuh rasa bersalah.
"Kali ini Mama maafkan, tapi kalau sekali lagi, Mama akan beri hukuman. Mengerti?"
Jinyoung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, bagaimanapun juga ini salahnya yang mengajak Daehwi untuk berlomba. Siapa yang tercepat sampai dikamar Mama nya.
"Jinyoung hyung!"
Minhyun dan Jinyoung, mengalihkan tatapan mereka kearah suara cempreng yang memanggil Jinyoung dengan nada merajuk itu. Daehwi berjalan dengan wajah serius menghampiri kakak dan Ibunya yang berada diatas kasur.
"Dedek kenapa?" Minhyun bertanya bingung. Namun dia mengernyit saat Daehwi hanya menggelengkan kepalanya.
"Dedek sudah makan?" Kali ini Jinyoung yang bertanya pada Daehwi.
"Dedek tidak mau makan cendilian, Jinyoung makan cama-cama, cama dedek." Daehwi cemberut.
"Oh... Hehe, oke kita makan. Mama, Jinyoungie sama dedek mau kebawah dulu yah. Mama sudah makan?"
"Sudah sayang, maaf Mama tidak bisa menemani kalian makan." Minhyun berjta dengan penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa Ma, Mama kan lagi sakit."
"Ah... Yah, Mama sedang sakit" Minhyun meringis.
"Mama, dedek cama Jinyoung hyung mau kebawah. Mau makan, Mama cendilian dulu yah. Nanti celecai makan dedek cama Jinyoung hyung kembali ke kamal Mama lagi."
"Iya, sayang. Hati-hati menuruni tangganya yah, pelan-pelan sayang. Jangan lomba-lomba lagi, kalau tidak Mama akan marah."
Jinyoung dan Daehwi dengan cepat menganggukkan kepala mereka secara bersamaan. Mereka takut kalau sampai Ibu mereka benar-benar marah. Sedangkan Minhyun, dia hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan dari kedua anaknya itu. Dia menciumi pipi Jinyoung dan Daehwi dengan gemas. Setelahnya, mereka benar-benar keluar dari kamar Minhyun dan turun kebawah untuk makan siang.
oOo
Malam harinya, mereka sedang sibuk berkemas. Ya, malam ini Minhyun memutuskan untuk pulang kerumahnya, yang sudah ia tinggal selama tiga hari, tentu saja dengan Daniel yang ikut kerumahnya. Daniel akan dan Daehwi akan menginap dirumahnya malam ini. Awalnya Minhyun melarang, tapi yang namanya Kang Daniel. Dia tidak akan pernah menyerah sebelum sesuatu yang ia inginkan tercapai.
Minhyun sendiri hanya bisa pasrah, dan diam saja, saat Daniel membawa embel-embel masa lalu dan Daehwi. Daniel tau betul bahwa Minhyun akan selalu mengalah jika sudah membahas topik tersebut.
"Min, apa sudah selesai?" Daniel datang dari luar kamar dengan Jinyoung yang berada didalam gendongannya.
Minhyun mengalihkan perhatiannya sebentar, lalu kembali fokus dengan baju Daehwi dan Jinyoung, yang sedang dia masukkan kedalam tas mereka masing-masing.
"Sebentar lagi aku selesai." Minhyun menjawab tanpa menolehkan kepalanya.
"Momm- eh Mama... Ayo cepat, dedek tidak cabal mau kelumah Mama cama Jinyoung hyung." Daehwi datang diiringi dengan suara cemprengnya.
"Sebentar lagi, dedek tunggu dibawah aja yah, sama Daddy dan Jinyoung hyung" Minhyun berujar dengan lembut.
"Oke, Ma. Jinyoung hyung ayo, jangan minta gendong telus, katanya cudah becal. Dedek aja tidak minta digendong cama Daddy." Daehwi berkata dengan wajah inocent.
"Biarin, hyung juga kan yang digendong, bilang saja dedek iri." Jinyoung berkata dengan jail, menyebabkan Daehwi mencebil kesal.
"Jinyoung hyung jelek cepelti kecoa." Setelah berkata demikian Daehwi keluar dari kamar dengan kaki yang dihentak-hentakkan.
"Daddy Jinyoungie tampan 'kan? Jinyoungie tidak mirip kecoa 'kan?" Jinyoung bertanya dengan raut wajah yang hampir menangis.
"Tidak, Jinyoungie tampan kok. Jangan dengerin kata-kata dedek. Dedek kan suka asal bicara." Daniel mengusap air mata Jinyoung dengan ibu jarinya.
Minhyun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak bungsunya itu. "Tsk! Anak itu, dia belajar dari diapa sih mengejek orang dengan sebutan kecoa seperti itu?" Minhyun bergumam pelan.
Yakin anak bungsu Mih? Hehe...
oOo
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga pulun menit. Akhirnya, Keluarga kecil yang baru bersama beberapa hari itu, sampai dikediaman Minhyun. Minhyun turun terlebih dahulu, dia membukakan sabuk pengaman kedua anaknya yang duduk dikursi belakang.
"Mama, lumah Mama yang mana?" Daehwi bertanya antusias. Dia menyapukan pandangannya kesekeliling kompleks, sedetik kemudian dia merasa bingung. Semua rumah sama saja bentuknya, yang membedakan hanya cat rumahnya saja.
"Rumah Mama disini sayang, ditempat mobil Daddy berhenti sekarang"
"Mama ayo macuk, dedek mau liat kamal Mama cama Jinyoung hyung." Daehwi berujar antusias. Dia menarik-narik tangan Minhyun agar cepat-cepat membuka pintu rumahnya. Minhyun sampau kualahan dibuatnya.
"Dedek pelan-pelan, jangan lari-lari nanti jatuh." Daniel memperingatkan Daehwi.
"Hehe... Maaf Daddy dedek tidak cabal mau liat kamal Mama, cama Jinyoung hyung..." Ujarnya cengengesan.
Minhyun menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Daehwi yang terlalu aktif. Baru tiga hari bersama saja Minhyun sering kualahan mengimbangi sifat Daehwi yang manja, keras kepala, moody. Moodnya cepat sekali berubah-ubah. Kadang Minhyun sendiri bingung harus berbuat apa jika mood Daehwi yang tiba-tiba buruk.
"Sudah-sudah, sekarang ayo masuk. Niel, kau bawa barang anak-anak masuk kedalam yah? Aku mau mengganti baju mereka dulu."
"Oke, jangan khawatir"
Minhyun tersenyum manis, ia menggiring kedua anaknya untuk masuk kedalam rumah. Minhyun menyuruh Jinyoung mengantarkan Daehwi ke kamar yang ditempatinya. Minhyun memustuskan Daehwi dan Jinyoung akan tidur dalam satu kamar malam ini.
Selagi anak-anaknya, dan Ayah mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Minhyun juga kini tengah sibuk didapur. Dia tengah sibuk memasak untuk makan malam. Karena, mereka tadi memamg tidak sempat sarapan, Daehwi yang tidak sabaran ingin cepat-cepat kerumahnya. Sehingga anak itu menolak untuk makan, mau tidak mau mereka juga tidak makan malam. Karena kalau tidak dituruti Daehwi akan terus-terusan merengek.
"Mama..."
Minhyun mengalihkan atensinya dari masakan yang ia masak, untuk menatap Daehwi yang datang dengan wajah ditekuk, anaknya itu sedang merajuk. Minhyun mengernyit bingung melihat Daehwi yang tiba-tiba merajuk seperti ini. Seingatnya, tadi Daehwi masih biasa saja saja saat dia menyuruh Jinyoung untuk mengantarkannya kekamar.
Minhyun mematikan kompor, dan berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Daehwi. "Dedek kenapa hm..?" Minhyun bertanya dengan lembut.
"Mama, dedek tidak cuka kamalnya. Tidak ada Ana cama Elca, dedek mau kamal yang ada Elca cama Ana." Daehwi merengek dengan manja.
Minhyun tertegun mendengar kata-kata yang diucapkan Daehwi barusan. Ada perasaan sesak yang ia rasakan, saat anaknya sendiri menolak apa yang telah ia persiapkan sejak lama.
"Ada apa sayang?" Daniel datang tiba-tiba dari arah ruang tamu.
"Daddy... Dedek tidak cuka kamalnya Jinyoung hyung. Kamalnya tidak ada flozen." Daehwi mengaduh pada Daniel.
Daniel terkekeh mendengar rajukan anaknya, "boleh hantar Daddy kekamar Jinyoung hyung? Daddy belum melihat bagaimana kamar Jinyoung hyung."
"Ayo Daddy, ayo. Daddy liat kamal Jinyoung hyung." Daehwi menarik-narik tangan Daniel. Membuat Ayah dua anak itu kualahan mengimbanginya.
Minhyun sendiri mengikuti mereka dalam diam. Moodnya mendadak menjadi jelek saat Daehwi mengatakan dia tidak menyukai kamar Jinyoung, dan... Kamar untuknya juga tentunya.
Daniel, Minhyun dan Daehwi memasuki kamar Jinyoung yang. Daehwi semakin menekuk wajahnya saat ia kembali memasuki kamar Jinyoung.
Tidak ada yang salah sebenarnya dengan kamar tersebut. Kamar dengan cat putih gading dengan hiasan didinding, dan barang yang berwarna-warni itu cukup indah sebenarnya. Ditengah-tengah ruangan, ada satu kursi dan meja kecil, yang biasa dipakai Jinyoung untuk belajar. Disampingnya ada ranjang bertingkat, yang besebelahan dengan jendela dan lemari khusus untuk menaru buku-buku.
"Loh? Inikan cantik sayang kamarnya, kenapa dedek tidak suka?" Daniel bertanya bingung.
"Daddy... Dedek tidak cuka, tidak ada flozen" Daehwi kembali merengek.
Daniel terkekeh mendengar rengekan manja Daehwi, berbeda dengan Minhyun yang kini tengah menahan diri untuk tidak menangis. Katakanlah Minhyun cengeng, tapi ini semua sudah benar-benar Minhyun persiapkan sedari Jinyoung masih kecil. Minhyun mati-matian menabung untuk mempersiapkan ini semua, mempersiapkan kamar yang cantik jika suatu saat Daehwi kembali padanya.
Namun, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Segala yang ia persiapkan selama ini seperti sia-sia. Dia merasa bodoh, dia bodoh karena berharap Daehwi akan menyukai semuanya. Minhyun lupa, jika Daehwi tinggal dengan Ayahnya dan hidup bergelimang harta. Apapun yang Daehwi inginkan pasti akan dengan cepat dia dapatkan.
"Yasudah, besok kita pesan tempat tidur yang bergambar frozen yah. Malam ini dedek tidur disini dulu bersama Jinyoung hyung." Daniel berkata dengan lembut.
Minhyun menolehkan kepalanya kearah Daniel, saat mendengar lelaki itu berkata akan membelikan tempat tidur baru untuk Daehwi. Runtuh sudah pertahanan Minhyun, dia bergegas meninggalkan kamar Jinyoung dan beralih masuk kekamarnya.
Minhyun tidak memperdulikan masakannya yang belum selesai didapur. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras. Minhyun menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, dia menenggelamkan wajahnya pada bantal.
"Aku memang bodoh, aku melupakan fakta bahwa Daehwi terbiasa tinggal bersama golongan orang-orang kaya." Lirihnya. "Kau bodoh Hwang Minhyun, untuk apa kau melakukan semua itu jika hanya sia-sia." Kekehnya sedih. Dia menengadahkan kepalanya, menghalau air matanya agar tidak kembali menetes.
-TBC-
heyo gaesss... masih adakah yang inget sama fic ini wkwk...
chap 11 up nih, mari tinggalkan jejaknya biar aku makin semangat buat lanjutinnya :)
2018-04-26
