Ini yang kedua~

Disclaimer, Amano Akira

"Kyoko-chan~!" seruan memanggil dari balik riuh distrik perbelanjaan Namimori. Seorang gadis seusia mereka melambai terlalu bersemangat. Berambut dan mata cokelat, pakaian kasual dengan paduan aneh tapi masuk akal (?). Di belakangnya Kurokawa Hana dengan pakaian tomboyish mengekor.

"Haru-chan! Hana-chan!" Kyoko mebalas dengan sahutan kalem dan lambaian kecil. Ah, Tsuna ingat kalau Kyoko berencana mengajak teman-temannya juga... sayang Author terlalu tidak berbaik hati untuk menjadikan ini chapter harem.

"Hahi, siapa yang di sebelahmu ini Kyoko-chan?" gadis penuh semangat menyaingi Yamamoto mendekati Tsuna dengan pandangan tertarik.

"Nah, Haru-chan perkenalkan, ini Tsuna-kun. Tsuna-kun, ini Haru-chan."

"Sawada Tsunayoshi, aku teman sekelas Kyoko-chan." Tsuna mengulurkan tangan, yang disambut tarikan berkekuatan fangirls ketemu idolanya.

"Miura Haru desu! Panggil Haru, Haru!"

Setelah perkenalan dengan salaman paling extreme yang pernah Tsuna rasakan(dia migrain kelamaan disalami begitu), mereka akhirnya pergi juga menuju toko buku yang dijanjikan. Tidak terlalu besar, terkesan sederhana dengan aksen kayu, tapi terlihat agak luas di bagian dalam dan sepertinya sudah ada sejak beberapa dekade ke belakang. Tsuna tidak yakin kalau toko ini yang dimaksud, pengunjungnya juga biasa-biasa saja, tapi melihat tiga gadis yang datang bersamanya sudah sibuk sendiri-sendiri di depan rak-rak buku, Tsuna masuk juga melihat-lihat.

Kalap.

Lagi-lagi Tsuna kalap.

Tarik lagi kalimatnya yang berkata toko ini tidak meyakinkan.

Pasang dengan huruf bold kalau jangan menilai sesuatu dari penampilannya.

"Whoaa... kenapa cetakan asli juga ada di sini?! Buku ini baru rilis di negaranya! Ah! Edisi pertama seri ini juga ada! ..." dan banyak lagi yang tidak akan cukup terpikirkan karena Author juga kalau kalap lupa tadi ngapain aja bisa sampe sebegitunya.

Tangannya maju mundur tak yakin kalau buku di depannya benar-benar sesuai dengan yang ia pikirkan. Gemetar, ia meraih sample buku yang ada. Matanya berbinar mengetahui buku ditangannya bukanlah buku hasil bajakan. Tsuna serasa sudah ada di surga dunia sekarang. Tunggu saja nanti, berapa tumpuk buku yang akan ia habiskan tanpa perlu repot membelinya. Sayang waktu itu juga terbatas membuat fantasinya terlibas satu kata 'pengen'.

"Tsuna-kun, sudah menemukan buku yang membuatmu tertarik?" Kyoko datang dari arah dalam toko, dua buku hardcover tebal di pelukannya. Tsuna bahkan lupa eksistenti orang yang ditaksirnya. Cintanya terhalang buku di etalase. Alay memang, sampai berharap tidak akan ada ftv-nya nanti.

"Bagaimana ini Kyoko-chan... rasanya aku ingin membeli semua isi toko ini..." hiperbola Tsuna menganggap tempat ini surga, air mata mengalir komikal di pipi chubbynya.

"Wah, kalau kau memborong semuanya mau jual apa aku nanti?" seorang paman berambut putih, (atau sudah ubanan?) menyela percakapan. Ia tersenyum mendekati seringai dengan mata sipit yang seperti tertutup. "Maa, kalau tidak ada yang bisa dijual aku masih ingin membuka warung ramen." candanya.

"Whooaaa, jangan-jangan-jangaaaannnn! Sulit menemukan toko selengkap ini!" sergah Tsuna tak rela, ditoko buku yang besar saja tidak selalu dia bisa menemukan buku-buku yang menarik perhatiannya seperti di sini. Paman putih yang sepertinya pemilik dari toko ini terkekeh geli.

"Haa, aku hanya bercanda. Aku tidak bisa berkeliling dunia kalau hanya membuka warung ramen." Dengan buku terdekat, paman itu memukul pelan kepala Tsuna. "Apa kau sebegitu bingungnya memilih sampai ingin membeli semua isi tokoku?" Tsuna mengangguk antusias.

"Oi, Kyoko. Lama sekali." Hana muncul dan berkacak pinggang. "Heeh, kau belum bisa memilih buku yang kau inginkan he, Tsuna?"

"Aku bingung Hana-san..." bermuka helpless, Tsuna kembali melancarkan aksi tangisan komikalnya.

"Nah, Shiro-san. Kenapa kau tidak memberinya rekomendasi?" saran Hana membuat telinga dan ekor anjing imajiner muncul pada Tsuna. Kenapa tidak dari tadi? Belum kepikiran...

"Hohoo, rekomendasi eh? Ah, aku ingat sesuatu." paman yang Hana panggil Shiro-san berjalan ke beberapa rak di bagian yang lebih dalam. Tidak terlalu banyak dikunjungi karena berisi buku-buku lama dan banyak prekamen sejarah. Tsuna dan Hana merasa tempat ini seperti situs bersejarah yang dicuri sekarang. Kyoko clueless sih. "Nah!" paman putih mengambil sebuah kardus dari atas rak yang bersandar dinding.

"Apa itu?" Hana bersua curiga.

"Hm? Tadi saat membuka toko, seorang berkata padaku kalau ada pelanggan yang terlalu bingung sampai ingin membeli semua isi buku di tokoku, berikan saja ini padanya." kardus itu berpindah tangan pada Tsuna yang bersama Hana sweatdrop besar dengan alasan pemilik toko ini.

"Di- dia... orang itu... sepertinya memperkirakan sekali, ya.. haha..." Tsuna merasakan sesuatu yang buruk tentang ini. Intuisinya mengetuk.

"Bukalah." senyuman misterius penuh makna yang membuat kepala Tsuna dan Hana penuh tanda tanya semakin memperburuk intuisi Tsuna. Dan, dari pada penasaran sampai kucing tetangga mati, Hana membantu Tsuna membukanya.

TBC

Apa? Emang sengaja dipotong di situ kok. /bunuhdiaaaa!


sankyuu~ Sarasa Riani, Natsu Yuuki, Caeliayuuki, Cocoa2795, Kuroshi Charlice, Ssora0, Cloud the First Tsurugi, Zara Zahra, zhichaloveanime, Remah-Remah Rengginang, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama