Minhyun menghapus air matanya dengan cepat saat Daniel memasukin kamarnya. Dia hanya menatap dalam diam Daniel yang tengah melihat-lihat interior kamarnya.
oOo
Daniel memperhatikan seluruh interior kamar Minhyun. Kamar dengan cat berwarna greey itu tampak rapi dan bersih, khas seorang Hwang Minhyun yang begitu mencintai kebersihan. Tatapan Daniel terhenti tatkala dirinya menangkap sebuah box bayi berwarna putih yang terletak disamping tempat tidur Minhyun.
Daniel mendekati box tersebut, dia memperhatikan dengan saksama box tersebut. Tanpa bertanya pun Daniel sudah tau itu milik siapa.
Daniel mengalihkan perhatiannya ke arah Minhyun, yang tak mengeluarkan suara sedikitpun sejak tadi. Dia mengernyit, saat melihat Minhyun yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Daniel mendekatkan diri ke arah Minhyun, ia makin menyatukan kedua alisnya saat melihat seperti ada jejak air mata dipipinya.
"Min, kau habis menangis? Kau kenapa?" Daniel bertanya saat dua telah mendudukkan dirinya disamping Minhyun.
Tak ada jawaban dari lelaki manis tersebut. Dia hanya diam memperhatikan Daniel.
"Min, kau kenapa? Jangan membuatku khawatir." Daniel bertanya dengan sangat lembut. Tinggal beberapa hari dengan Minhyun, membuat Daniel faham dengan sifat Ibu dari dua anaknya tersebut. Minhyun tidak suka jika dengan orang yang kasar, maka sebisa mungkin Daniel bersikap lembut dengan Minhyun.
Minhyun menatap Ayah dari anak-anaknya itu dalam diam. Namun, air mata yang ia tahan sejak tadi, akhirnya meluncur bebas dari kedua mata rubahnya. Minhyun menatap Daniel dengan pandangan yang memburam karena air mata. Mendengar Daniel yang memanggilnya dengan lembut seperti tadi, membuat pertahanan Minhyun runtuh. Dan tangisannya semakin menjadi saat Daniel menariknya kedalam dekapannya.
"Sssst... Apa aku yang membuatmu menangis? Apa aku melakukan kesalahan hm?" Daniel bertanya dengan lembut. Dia membenamkan wajahnya dirambut halus Minhyun. Daniel menyesap aroma shampoo yang sangat disukainya itu.
"Kau jahat Niel." Minhyun berkata dengan suara seraknya. Dia memberontak ingin melepaskan pelukan Daniel. Namun, tentu saja itu takkan mudah. Tenaganya tidak sekuat itu untuk melawan tenaga Daniel.
"Aku jahat? Memangnya aku melakukan apa Min? Katakan dengan jelas. Aku tidak mengerti jika kau hanya menangis seperti ini."
"Kau jahat! Kenapa kau mau membelikan Daehwi tempar tidur yang baru, hanya karena dia tidak menyukai tempat tidur yang sudah aku siapkan." Minhyun semakin terisak didekapan Daniel. Dia memukul-mukul dada Daniel dengan sekuat tenaga.
Sedangkan Daniel, dia hanya bisa meringis, menahat rasa sakit. Saat Minhyun semakin brutal memukulinya. Daniel semakin mengeratkan dekapannya pada Minhyun. "Maaf, maafkan aku, aku tidak tau jika kau sesedih ini. Aku pikir itu hanya masalah sepeleh Min. Kenapa kau sampai harus menangis seperti ini"
Mendengar perkataan Daniel, emosi Minhyun yang tadi sudah sedikit meredah akhirnya kembali saat Daniel menyebut kata 'sepele' barusan. Entah kekuatan darimana Minhyun bisa melepaskan diri dari kungkungan Daniel. Minhyun mendongak, ia menatap Daniel dengan pandangan yang memburam karena air mata.
"Kau bilang ini sepele?" Ujarnya dengan suara bergetar. "Ya, ini semua memang hal sepele. Bagi orang kaya sepertimu membelikan sebuah tempat tidur bukan sebuah hal yang besar. Kau tidak tau bagaimana usahaku untuk bisa menyiapkan semua itu? Aku mati-matian berkerja, agar bisa membeli tempat tidur itu. Dengan harapan suatu saat nanti, jika Daehwi kembali kerumah ini, dia mendapatkan tempat tidur yang layak." Minhyun menjedah kalimatnya, dia menepis tangan Daniel yang hendak menghapus air matanya.
"Kang Daniel, aku pikir, kau berbeda dari orang kaya kebanyakan. Aku fikir kau mendidik Daehwi dengan baik selama ini, dan bodohnya aku, mengira bahwa Daehwi akan menerima begitu saja pemberianku. Ternyata aku salah, aku salah dalam menilai kalian. Orang kaya, tetaplah orang kaya. Dia selalu melakukan apapun dengan uang dan kekuasaan. Kau mendidik Daehwi hanya dengan materi. Aku memang bodoh hahaha..." Minhyun mengakhiri kata-katanya dengan tetawa, siapapun tau tawa itu menyiratkan luka.
Daniel merasa seperti ditampar dengan keras, saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Minhyun barusan. Dia tidak tau, jika sebegitu niatnya Minhyun mempersiapkan semua ini. Semua ia lakukan, agar Daehwi bisa nyaman berada dirumahnya.
Daniel telah melakukan hal yang salah. Dia sudah menyakiti hati Minhyun, melihat Minhyun yang menangis seperti ini membuat hatinya seperti ditusuk belati tak kasat mata.
Daniel kembali menarik Minhyun kedalam pelukannya. Sekuat tenaga, ia menahan Minhyun yang berontak didalam pelukannya, "maafkan aku, maaf. Aku memang salah, jangan menangis lagi Min. Hatiku sakit melihatmu kacau seperti ini. Aku mohon jangan menangis lagi" Daniel menciumi rambut Minhyun berulang-ulang.
oOo
Butuh waktu setengah jam untuk Minhyun bisa tenang. Saat ini, dia tengah tertidur didalam dekapan Daniel. Minhyun jatuh tertidur karena kelelahan akibat banyak menangis. Daniel merenggangkan sedikit pelukannya, ia menunduk sedikit kepalanya untuk melihat keadaan Minhyun.
Hatinya mencelos, saat melihat mata sembab Minhyun. Namun dia terkekeh, saat melihat Minhyun yang tidur sambil mengerucutkan bibirnya. Daniel jadi gemas sendiri dibuatnya.
"Tsk... Apa benar kau ini seorang ibu yang sudah mempunyai dua orang anak. Aku heran, kenapa kau begitu cengeng hm... masalah Daehwi, padahal kan bisa langsung bilang padaku jika kau tidak setuju aku membelikannya tempat tidur baru. Tidak harus sampai menangis seperti ini." Daniel berujar sambil menggelengkan kepalanya.
Tatapan Daniel teralih pada leher Jenjang Minhyun. Damn! Hanya melihat lehernya saja Daniel sudah panas dingin. Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir pikiran kotor yang tiba-tiba melintas dibenaknya.
Dengan sangat perlahan, Daniel membaringkan Minhyun keatas kasur. Daniel memyelimuti Minhyun hingga sebatas dada, dan setelahnya, ia juga ikut masuk kedalam selimut yang sama dengan Minhyun. Daniel menelusupkan satu tangannya untuk memeluk Minhyun dari samping. Satu tangannya lagi, ia gunakan untuk menyingkapa kaus tidur yang dipakai oleh Minhyun.
Secara otomatis, tangan Daniel merabah permukaan perut mulus Minhyun, Ah! Tidak bisa dikatakan mulus, karena ada bekas luka sayatan disana. Danuel merabah area yang terdapat bekas luka itu. Luka yang didapatkan Minhyun karena memperjuagkan sikembar agar bisa melihat indahnya dunia.
Daniel tersenyum, saat Minhyun semakin merapatkan diri kedalam pelukannya, Minhyun membenamkan wajahnya di dada bidang miliknya.
Daniel juga semakin mengeratkan pelukannya pada Minhyun, dan mulai memejamkan matanya. Tak berapa lama kemudian, terdengar dengkuran halus dari bibir Daniel. Menandakkan Daniel juga tengah tidur terlelap menyusul Minhyun yang sudah lebih dulu terbang ke alam mimpi.
oOo
Sementara itu, dikamar sikembar, mereka tidak ada tanda-tanda akan segera tidur. Terlihat Daehwi yang sedang mengerucutkan bibirnya. Karena, sedari tadi, tak henti-hentinya ia diomeli oleh sang kakak. Dia diomeli karena telah membuat Ibu mereka sedih. Karena menolak tidur diranjang bertingkat yang disiapkan sejak lama oleh sang Ibu.
Jinyoung dan Daehwi duduk berhadap-hadapan, dikursi kecil yang terdapat ditengah-tengah kamar mereka. Jinyoung dengan tatapan (sok) tajamnya. Sedangkan Daehwi dengan tatapan memelasnya. Mereka sedang terlibat pembicaraan 'serius' karena, tadi mereka melihat sang Ibu menangis sambil dipeluk oleh Ayah mereka.
Tadi, duo kembar Kang berniat ingin kekamar Ibunya, karena tidak bisa tidur, dan ingin dibacakan dongeng. Seperti yang biasa dilakukan Ibunya saat dirumah Ayah mereka. Namun, langkah kaki mereka terhenti diambang pintu kamar yang terbuka sedikit.
Mereka melihat Ibu mereka yang menangis sesegukkan dipelukan sang Ayah. Dan sekilas mereka mendengar Ayah dan Ibu mereka membahas masalah kamar.
Jinyoung mengasumsikan, bahwa Ibunya sedih karena Daehwi yang tak menyukai kamar mereka. Dan... Berakhirlah mereka disini, dikamar mereka, duduk ditengah-tengah kamar dan berbicara dengan gaya (sok) serius mereka. Juga Minhyun melihatnya, pasti Minhyun akan menciumi kedua anaknya itu dengan penuh kegemasan.
"Lihat tuh, gara-gara dedek, Mama jadi sedih. Lagipula, kenapa sih dedek sukanya sama feozen. Seperti anak perempuan tau." Jinyoung kembali mengomeli Daehwi, yang pura-pura acuh dengan omelannya.
"Hyung... Dedek kan tidak tau, kalau Mama akan cedih. Dedek 'kan memang tidak cuka kalau kamal tidak ada flozen nya. Jelek." Daehwi membela diri.
Jinyoung mendelik kearah Daehwi, membuat anak itu menatap kearah mana saja, asal tidak menatap mata kakaknya yang sedang marah saat ini. Daehwi bersiul-siul tidak jelas, membuat Jinyoung mendengus dibuatnya.
#percayalah, ini idenya pas liat adek gue dimarain tapi dianya malah siul-siul# abaikan
"Dedek liat hyung... Kalau lagi dibilangin itu didengerin. Dedek jangan pura-pura tidak dengar yah. Hyung marah nih."
"Hyung... Dedek dengal kok, dengal" Daehwi menjawab dengan ogah-ogahan.
"Bilang dengar tapi seperti itu!" Jinyoung mendelik.
Daehwi semakin manyun. "Hyung cudah... Dedek ngantuk, Dedek mau tidul, dedek mau tidul dilanjang beltingkat. Dedek mau tidul dikamal yang tidak ada flozennya. Dedek juga mau tidul catu kamal cama Jinyoung hyung" Daehwi berkata sambil manyun. Dia beranjak dari duduknya, lalu naik ke lantai dua tempat tidur bertingkat mereka dengan susah payah. Daehwi mengabaikan Jinyoung yang melotot, karena perkataannya yang diabaikan oleh adik kembarnya itu.
"Dedek!" Seru Jinyoung marah.
"Hyung, tidul cana, becok kita cekolah. Kalau hyung tidul, hyung tampan, tidak cepelti kecoa lagi. Dedek juga tidak akan mengejek hyung cepelti kecoa." Daehwi berkata dengan mata yang sudah setengah terpejam.
Jinyoung tersenyum semringah, saat nendengar perkataan Daehwi yang terakhir. Berarti Daehwi tidak akan mengatainya seperti kecoa lagi dong. Melihat Daehwi yang sudah menyamankan diri didalam selimutnya.
"Beneran yah?" Tanya Jinyoung memastikan.
"Iya, kalau hyung tidul cekalang hyung tampan. Tampan cepelti anggota boyglup yang cedang telkenal."
"Awas yah, kalau bohong. Hyung tidak mau bantuin Dedek buat PR" ancam Jinyoung dengan sadis.
"Iya, ihhh... Cudaahhh hyung, dedek mau tidul" Daehwi merengek manja, karena tidurnya terus diganggu oleh kakaknya.
"Oke... kalau bohong liat saja yah, nanti." Ujar Jinyoung yang juga ikut-ikutan menaiki kasurnya. Jinyoung menarik selimutnya hingga sebatas dada. Tak lama kemudian, dia juga terlelap dengan melupakan fakta bahwa dirinya tadi yang tengah menasehati adiknya.
oOo
Pagi harinya, keluarga cemara kita sedang memakan sarapan mereka dengan khidmat. Namun, semua itu tidak lama. Karena, sebuah suara ketukan pintu yang diketuk dengan tidak sabaran memecah kesunyian yang sejak tadi tercipta. Minhyun dengan sigap bangun dari kursi yang ia duduki, Minhyun berjalan menuju kearah pintu.
Tanpa melihat kearah intercom Minhyun langsung membuka pintu rumahnya. Minhyun membeku, saat melihat Sungwoon yang berdiri dihadapannya. Dengan kikuk Minhyun mempersilahkan Sungwoon masuk. Entah kenapa, suasananya menjadi sedikit canggung.
"Dari mana saja kau? selama tiga hari ini tidak pulang! Dan mobil siapa yang didepan itu?" Tanya Sungwoon tanpa basa-basi. Dia mendudukkan tubuhnya disofa yang terdapat diruang tamu rumah Minhyun. Yang diikuti Minhyun disebelahnya.
"Eum... Itu... I-itu mobil...
"Mama... Dedek cudah celecei..." Daehwi datang dari arah dapur. Membuat perhatian Sungwoon otomatis teralih padanya.
Minhyun sangat gugup saat ini, dia benar-benar tidak menduga, bahwa Sungwoon, akan mengunjunginya sepagi ini. Minhyun belum menyiapkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan pada Sungwoon.
"Min, dia Jinyoung? Kenapa bicaranya cadel seperti itu?" Sungwoon bertanya bingung.
Daehwi mendelik, saat mendengar orang yang lebih pendek dari Mamanya itu, menyebutnya cadel. "Dedek bukan Jinyoung hyung!" Ujarnya ketus. Dia menghampiri Minhyun, dan duduk diatas pangkuan Ibunya.
"Apa?! Apa maksudnya ini, Min? Apa sebenarnya yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"
"Hyu- hyung... Aku bisa jelaskan semuanya, tapi hyung tenang dulu. Jangan emosi seperti ini."
Sungwoon menggeram tertahan, saat mendengar kata-kata yang diucapkan Minhyun. Dia benar-benar tidak mengerti, apa yang dilakukan Minhyun selama tiga hari ini. Karena tidak mau amarahnya semakin memuncak, Sungwoon jadi hanya diam saja. Menunggu Minhyun menjelaskan semuanya.
"Hyung... Sebenarnya, dia... Daehwi, bukan Jinyoung." Minhyun berujar sangat pelan. Jika Sungwoon tidak memiliki pendengaran yang baik, mungkin dia tidak akan dengar apa yang diucapkan Minhyun barusan.
Sungwoon menatap tak percaya pada Minhyun, yang saat ini tengah menundukkan kepalanya. "Minhyun... Apa benar dia Daehwi?" Sungwoon bertanya ragu.
"Ya... Dia Daehwi hyung... Daehwi kita" Minhyun berkata masih dengan suara pelan nya.
"Ta- tapi, tapi bangaimana bisa, Min?"
"Hyung... Sebenarnya, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Bicara apa?"
"A- aku... Aku ingin meminta izin untuk tinggal bersama Ayah sikembar." Minhyun berkata sambil menatap tepat pada mata Sungwoon.
"Tapi kenapa? Kenapa harus tinggal disana? Lalu rumah ini bagaimana?"
"Hyung... Aku harus tinggal disana..." Minhyun menatap Sungwoon dengan pandangan memohon.
"Kenap harus?" Tanya Sungwoon penuh selidik.
"Hyung... Daehwi membutuhkanku sebagai figur seorang Ibu, Jinyoung juga membutuhkan Daniel sebagai figur seorang Ayah."
"Hanya itu?" Tanya Sungwoon ambigu. Minhyun mengernyit bingung dibuatnya.
"Maksudnya hanya itu, apa hyung? Aku tidak mengerti." Minhyun berujar dengan raut bingungnya.
"Hanya itu Hwang Minhyun? Hanya karena kalian saling membutuhkan sebagai sosok orang tua. Tidak ada hal lain?" Sungwoon bertanya sekali lagi.
"Hyung... Maksudmu apa? Tolong bicara dengan jelas, aku benar-benar tidak mengerti."
Sungwoon tidak menjawab ucapan Minhyun, dia hanya melirik kearah dapur. Memperhatikan seorang pria, yang sedang memperhatikan percakapannya dengan Minhyun. Ah, jadi itu Ayah Jinyoung dan Daehwi. Seorang C.E.O muda, yang namanya sedang dieluh-eluhkan dimana-mana saat ini.
Dia Kang Daniel, seorang C.E.O muda, dari perusahaan ternama di Korea Selatan. Yang telah memilik satu anak, namun, tidak tau siapa Ibunya. Sang anak tidak pernah dipublikasikan, karena alasan takut privacy anaknya terganggu.
"Kau benar-benar 'hanya' akan tinggal bersamanya?" Sungwoong sengaja memberi penekanan, pada kata hanya. Agar Minhyun menegerti maksudnya. Tidak mungkin dia mengutarakan maksudnya secara gamblang disini.
"Hyung... Berkatalah dengan jelas, aku benar-benar tidak mengerti apa yang maksudmu? Aku memang akan tinggal bersama mereka." Minhyun mulai terpancing emosinya.
"Lakukan, apa yang ingin kau lakukan, aku tidak akan menghalangimu." Sungwoon berkata dengan datar. Dia beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan rumah Minhyun tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Hyung..." Kata-kata Minhyun tertahan, karena Sungwoon yang mengabaikan dirinya.
"Apa Sungwoon hyung tidak mengizinkanmu?" Daniel muncul dari arah dapur sesaat setelah kepergian Sungwoon.
Minhyun mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara Daniel. "Aku tidak tau, sepertinya Sungwoon hyung marah padaku. Tapi, aku tidak tau kesalahanku apa? Dia terus bertanya, apa aku hanya tinggal bersamamu?" Minhyun berkata dengan raut bingung yang ketara.
Daniel juga sama bingungnya dengan Minhyun. Lelaki berusia dua puluh tiga tahun tersebut mengerutkan keningnya, tanda dia sedang berpikir keras. "Min, aku juga tidak mengerti dengan maksud Sungwoon hyung"
"Aku juga sama, yasudahlah, sekarang kau antar Jinyoung dan Daehwi. Nanti mereka terlambat."
"Tunggu dulu, jadi bagaimana? Apa kau batal untuk tinggal dirumahku?"
"Aku akan tinggal dirumahmu, Niel. Jangan khawatir." Minhyun menenangkan Daniel yang terlihat mulai meragukannya.
"Benarkah?" Tanya Daniel memastikan.
"Ya, Tuan Kang. Jadi, cepat berangkat, dan antar anak-anak. Mereka bisa benar-benar terlambat, jika kau lima menit lebih lama disana." Minhyun berkata sebal.
Sedangkan Daniel, Ayah dua orang anak itu cuma bisa cengengesan saat mendengar omelan Minhyun. Dia dengan cepat mengambil jas, tas, dan kunci mobilnya untuk bersiap kerja, sekaligus untuk mengantar kedua buah hatinya.
TBC-
Note;
im back in fanfiction net :D
Mungkin readers sekalian udah pada lupa sama ff ini :v aku up nya di wp doang soalnya wkwkwk...
btw maapkeun EYD yang amburadul :( bikaus aku males ngedit :(
oke ditunggu review nya. :)
2018-07-15
