Terhitung, ini sudah bulan ke dua Minhyun tinggal di Mansion mewah milik Daniel. Sejauh ini, tidak ada kendala sama sekali. Semuanya berjalan lancar. Daniel dan Minhyun menjalan hari-hari mereka layaknya keluarga kecil yang bahagia pada umumnya. Namun, mereka melupakan suatu hal yang sangat penting didalam suatu keluarga.
Yaitu, pernikahan. Sampai sekarang, tidak ada satupun diantara mereka yang membahas tentang pernikahan. Bahkan Minhyun pun, seolah terlena dengan keharmonisan 'keluarga kecil' mereka.
Tapi, mungkin pertemuan Minhyun dan Jonghyun beberapa hari yang lalu bisa mengubah semuanya. Perkataan Jonghyun beberapa hari yang lalu serasa menohok hatinya. Kenapa dia begitu bodoh, kenapa dia tidak memikirkan hal yang sangat penting didalam sebuah hubungan keluarga.
Pernikahan...
Kenapa Minhyun tidak memikirkan itu, dia bahkan sudah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan Daniel. Tapi dia sama sekali tidak memikirkan tetang pernikahan. Wajar saja, jika Sungwoon marah saat dia mengatakan, bahwa dia dan Jinyoung akan tinggal bersama Daniel dan Daehwi. Dan dengan segala ketidakpekaannya, Minhyun tidak bisa menangkap maksud dari pertanyaan Sungwoon waktu itu.
Bahkan, Minhyun belum pernah satu kalipun diperkenalkan dengan orang tua Daniel. Dan Minhyun lagi-lagi tidak memikirkan itu.
"Kenapa aku begitu bodoh, kenapa aku tidak peka sama sekali dengan apa yang dimaksud oleh Sungwoon hyung..." Minhyun berujar lemah.
"Damn! Entah aku harus marah atau berterimakasih pada Jonghyun. Aku terus memikirkan kata-katanya sampai-sampai aku tidak fokus dalam mengerjakan apapun."
Minhyun menghempaskan tubuh lelahnya pada sofa ruang keluarga di mansion milik Daniel. Dia mengkesah panjang, tatkala rasa pusing kembali menyerangnya. Jangan lupakan tubuhnya yang terasa sakit dimana-mana. Padahal, selama di mansion Daniel tidak mengerjakan apapun, selain mengurus kedua buah hatinya.
Tapi entahlah, sudah satu minggu ini Minhyun merasa tidak enak badan. Dia sering merasa pusing dan mual secara tiba-tiba. Nafsu makannya juga berkurang, dan juga, dia sering merasa ingin makan, makanan yang aneh-aneh. Minhyun juga jadi lebih sensitif dan mudah marah.
Cotohnya, Jika salah satu dari kedua anaknya membuat kesalahan, Minhyun pasti akan memarahi mereka. Marah disini, marah yang benar-benar marah, dia bahkan sampai membentak dan mencubit anaknya. Bukan hanya mengomeli saja seperti biasanya.
Contohnya, saatDaehwi yang sehabis mandi tidak mau memakai baju. Minhyun tanpa sadar akan membentaknya, karena putra bungsunya yang tidak mau menurut. Itu semua membuat Daehwi menjadi takut, dan anak itu jadi tidak mau berdekatan dengannya.
Dan juga, Jinyoung. Beberapa hari yang lalu juga Minhyun mencubit Jinyoung. Hanya karena anak itu tidak mau mengerjakan PR nya, dan lebih memilih menonton kartun Pororo saat sore hari. Minhyun dengan gemas mencubit lengan anak sulungnya tersebut, Jinyoung yang tidak pernah melihat Ibunya semarah itu menjadi ketakutan.
Kalian tau bukan? Kalau Minhyun itu orang yang sabar, sangat sabar. Senakal apapun kedua anaknya, dia pasti hanya akan mengomeli keduanya saja. Tidak sampai membentak, apalagi mencubit. Tapi, beberapa hari belakangan Minhyun menjadi cepat emosi. Kesalahan sedikit saja, dia akan menjadi cepat marah. Rasanya dia sangat tersiksa dengan itu semua.
"Sebenarnya aku ini kenapa sih? Kenapa beberapa hari belakangan aku jadi cepat marah, Daehwi dan Jinyoung sampai takut berdekatan denganku." Ujar Minhyun dengan lemah. Dia benar-benar lelah sendiri dengan sikapnya belakangan ini.
"Apa aku hamil lagi?"
Deg
Minhyun dengan cepat membuka matanya. Ia lantas menegakkan tubuhnya, saat tiba-tiba sepintas fikiran dirinya hamil terlintas dibenaknya. Jantung Minhyun mendadak berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi. Jika itu terjadi, berarti dia telah jatuh pada lubang yang sama. Dan itu berarti, dia kembali mengulang dosa besar yang pernah ia lakukan dulu.
"Tidak! Tidak mungkin aku hamil lagi. Ya... Tidak mungkin..."
Minhyun mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, mengingat ia sudah beberapa kali berhubungan intim dengan Daniel, membuatnya tak bisa mengelak prasangka buruknya.
"Aku harus memastikannya..."
Ujar Minhyun sembari berangkat dari posisi duduknya. Dia bergegas menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Minhyun berganti pakaian, tak lupa mengambil dompet dan ponsel miliknya yang terletak diatas nakas disamping tempat tidurnya. Minhyun kembali menuruni tangga,dan berjalan menuju kearah dapur. Dia berniat berpamitan dengan bibi Lee.
oOo
Minhyun menatap nanar, pada benda kecil berwarna putih, yang berada didalam genggamannya. Badannya seketika menjadi lemas, saat melihat benda kecil tersebut menunjukkan tanda dua garis merah.
Sudah lebih dari satu jam Minhyun berdiam diri didalam toilet. Dan sudah selama itu pula, Minhyun bolak-balik mengetes apakah dia benar-benar hamil atau tidak. Ini sudah test pack kesepuluh yang Minhyun coba.
Minhyun sengaja membeli sepuluh Test pack dengan merk yang berbeda. Berharap, hasil dari salah satu benda kecil tersebut menunjukkan garis negatif. Namun, harapan tinggal harapan.
Tidak ada satu pun, diantara sepuluh test pack yang ia beli menunjukkan satu garis. Semuanya menunjukkan dua garis merah. Yang menandakkan, bahwa Minhyun memang benar hamil. Minhyun tengah berbadan dua saat ini. Didalam rahimnya terdapat kehidupan lain.
"Apa ini... Aku kembali hamil disaat aku belummempunyai status pernikahan dengan Daniel." Minhyun berbisik lemah
"Kau memang jalang, Hwang Minhyun... Kau memang menjijikan" maki Minhyun pada dirinya sendiri.
Tanpa bisa dicegah, air mata mulai menggenang dipelupuk matanya. Dia benar-benar merasa bodoh. Untuk kedua kalinya dia melakukan kesalahan yang sama. Sungwoon dan Jonghyun pasti kecewa, kecewa untuk yang kedua kali padanya.
Tok tok tok
"Mama"
Minhyun dengan cepat menghapus air matanya. Tatkala mendengar salah satu buah hatinya mengetuk pintu kamar mandi yang sudah satu jam ia diami. Ia beranjak dari duduknya, Minhyun membereskan benda-benda kecil yang berserakan dilantai, dan membuangnya dengan asal didalam kotak sampah.
Minhyun membasuh wajahnya, dan memastikan bahwa wajahnya terlihat baik-baik saja. Dia tidak mau anaknya melihat gurat kesedihan diwajahnya. Setelah, merasa cukup, Minhyun keluar dari kamar mandi. Bibirnya mengulas senyum kecil, saat mendapati Daehwi dengan duduk dengan anteng diatas kasur miliknya.
Minhyun menghampiri Daehwi, dia mendudukkan tubuhnya disamping Daehwi. Lalu menarik putra keduanya itu masuk kedalam dekapannya. Minhyun tersenyum saat Daehwi membalas pelukannya dengan erat, anak itu semakin menyamankan diri didalam dekapannya.
"Dedek sudah pulang hm...? Mana Jinyoung hyung sayang?" Minhyun berujar sembari mengelusi rambut Daehwi yang sudah mulai panjang.
"Udah, dedek balu aja pulang, Jinyoung hyung ada dikamalnya Ma, Jinyoung hyung tidak mau main cama dedek." Daehwi bersungut kesal.
"Jinyoung hyung sedang apa memangnya? Kenapa tidak mau main sama dedek?" Minhyun bertanya dengan lembut.
"Jinyoung hyung lagi ngeljain pe'el Ma."
"Pantesan hyung tidak mau main sama dedek. Hyung mau mengerjakan PR dulu sayang, dedek kenapa tidak mengerjakan PR juga hm..?"
"Dedek tidak mau ngerjain pe'el, dedek maunya cama Mama... Dedek lindu Mama..." Daehwi semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Minhyun.
"Tsk... Alasan, padahal hanya berpisah saat dedek sekolah saja." Minhyun menyentil dahi Daehwi. Dengan pelan tentunya.
"Mama, ih. Dedek kan benel-benel lindu Mama..." Daehwi memanyunkan bibirnya.
Minhyun tergelak, saat mendengar ucapan dengan nada merajuk itu keluar dari bibir tipis anaknya. Dia menciumi Daehwi dengan gemas. Hatinya menghangat, saat melihat Daehwi yang sudah tidak takut lagi dengannya.
"Iya-iya... Mama tau, Dedek rindu Mama" Minhyun mencubit hidung Daehwi dengan gemas.
"Eum.. Dedek, Mama mau memberitaukan sesuatu" Minhyun berujar tiba-tiba.
"Apa itu ma?" Daehwi bertanya penasaran.
"Tapi, dedek harus janji dulu. Kalau dedek tidak boleh memberitau siapapun? Maksud Mama, dedek tidak boleh memberitau siapapun kecuali Jinyoung hyung"
Kerutan tercetak jelas didahi lebar milik Daehwi. Dia tidak mengerti dengan ucapan Ibu nya. Dia bingung, kenapa dia tidak boleh memberitau siapapun. Dengan keadaan yang sedikit bingung Daehwi menganggukkan kepalanya.
"Kalu Jiun hyung cama Woojin hyung, Lenjun (re; Renjun) hyung cama Dedek Icung dedek Iwung tidak boleh juga?" Daehwi menyebutkan nama-nama yang terlintas dikepalanya.
"Tidak boleh sayang, Daewhi tidak boleh memberitau mereka." Minhyun berkata dengan tegas.
"Oh, oke... Dedek tidak akan membelitau meleka, Mama mau kacih tau apa memangnya?"
"Oke sayang, tapi sebelumnya Mama mau tanya dulu, Daehwi mau tidak, kalau Daehwi punya adik?" Minhyun bertanya hati-hati.
Daehwi terdiam beberapa saat, dia tengah mencerna ucapan Ibunya.
"Makcud mama? Dedek bakalan punya dedek?"
"Huum... Tapi, Daehwi sekarang bukan dedek lagi sayang. Daehwi bakal jadi hyung, seperti Jinyoung hyung, Daehwi juga akan dipanggil hyung."
Daehwi melepaskan diri dari dekapan hangat Ibunya, ia mendongak, menatap Minhyun tepat dimata. Binar bahagia tak dapat disembunyikan dari netra cokelatnya.
"Benalkah?" Tanya Daehwi antusias.
"Iya sayang, Daehwi mau?"
"Mau, Ma"
"Tapi Daehwi harus janji. Daehwi tidak boleh memberitau siapapun, termasuk Daddy sayang."
Daehwi mengangguk semangat.
Minhyun tersenyum lega, saat mendapati Daehwi yang mengangguk dengan semangat. Ia lega, setidaknya, Daehwi bisa menerima kehadiran adiknya. Dan anak itu bisa ia percaya untuk tutup mulut. Sekarang, tinggal bagaimana caranya dia menyampaikan ini dengan Daniel.
Minhyun harap-harap cemas, dengan respon yang akan ia dapat dari Daniel. Minhyun takut, Daniel tidak mau menerima anak yang ada didalam kandungannya. Akan tetapi, jika tidak diberitau pun, lambat laun Daniel pasti akan tau.
"Tuhan... Maafkan aku, maafkan semua kesalahanku. Aku tau, aku memang banyak dosa, aku mohon ampuni aku." Ratap Minhyun dalam hati.
"Mama... Kenapa melamun?"
Minhyun tersentak kaget, saat mendapati Daehwi yang berdiri didepannya. Anak itu menangkupkan k tangan mungilnya dikedua pipi Minhyun yang terlihat semakin chubby.
"Tidak ada apa-apa sayang, Mama hanya lelah. Daehwi sekarang main bersama hyung saja yah. Mama ingin istirahat dulu."
Daehwi tidak menjawab, ia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Daehwi turun dari kasur Ibunya dengan susah payah. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Mama, istilahat yang baik yah. Bial dedeknya cehat."
Setelahnya Daehwi benar-benar keluar dari kamar Minhyun. Menyisahkan Minhyun yang hanya bisa terdiam ditempatnya.
"Aku harus secepatnya memberitau Daniel. Aku juga harus memintanya untuk menikahiku, aku tidak mau, anak ku lahir diluar pernikahan untuk yang kedua kalinya. Cukup Jinyoung dan Daehwi, jangan lagi." Minhyun berujar lirih.
oOo
Minhyun saat ini tengah terduduk diruang tamu sendirian. Dia duduk dengan Laptop berykuran 14 inchi, yang menyala dihadapannya. Minhyun sedang menunggui Daniel pulang. Minhyun memutuskan untuk mengatakannya malam ini juga. Dia tidak sanggup jika harus menahannya seorang diri.
Minhyun sudah menguatkan hatinya, kalau-kalau respon yang diberikan oleh Daniel tidak sesuai dengan harapannya. Kayakanlah Minhyun sudah siap, dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dia juga sudah siap, jika Daniel menolak calon anak ke tiga mereka.
Tapi, dia boleh berharap bukan? Tidak salah jika dia berharap Daniel akan menerima calon anak mereka.
Minhyun melirik kearah jam yang terdapat di layar berukuran 14 inchi tersebut. Minhyun mengkesah saat sudah mendapati jam sudah menunjukkan pukul 23.15 KST. Daniel2 lembur lagi, ini sudah hari ketiga Daniel seperti ini. Dia pergi pagi-pagi sekali, dia pergi disaat kedua buah hati mereka masih terlelap. dan pulang disaat kedua buah hati mereka sudah telelap.
Sebenarnya, Daniel melarangnya untuk menungguinya seperti ini. Namun, ada masalah penting yang haru ia bicarakan dengan Daniel. Dia tidak bisa menunda-nunda masalah seperti ini.
Ceklek
Minhyun refleks bangun dari duduknya, saat mendengar seseorang membuka pintu utama mansion. Dia mengkesah lega, saat mendapati Daniel masuk dengan wajah lelahnya. Minhyun mengahampiri Daniel, yang tengah melepaskan sepatunya dengan sandal rumah.
"Kau pulang..."
Daniel tersentak kaget, saat mendengar suara seseorang bertanya padanya. Daniel mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Dia mengernyit bingung mendapati Minhyun yang berdiri tepat didepannya.
Daniel menghampiri Minhyun, ia menagkup wajah Minhyun lalu mengecup dahi Minhyun lama. Sedangkan Minhyun, ia sendiri hanya bisa memejamkan matanya, menikmati ciuman Daniel didahinya.
"Kenapa belum tidur sweetheart? Ini sudah larut, kau bisa sakit jika tidur terlalu malam." Daniel berujar dengan lembut.
"Niel, aku ingin membicarakan sesuatu..." Minhhun berbisik lirih. Mengidahkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Daniel barusan.
"Bicara apa Sweetheart? Apa tidak bisa besok saja? Aku benar-benar lelah sekarang."
"Tidak, Niel. Aku ingin kita berbicara sekarang." Minhyun berkata dengan nada panik. Membuat Daniel bingung dibuatnya.
"Oke, kita bicara sekarang. Tapi kita bicara dikamarku."
Daniel berujar sambil menuntun Minhyun menuju kamarnya. Tak lupa dia mematikan laptop di atas meja yang sedari tadi masih menyala.
Minhyun nenurut saja, saat Daniel menggenggam tangannya dengan lembut, dan menuntunnya menaiki tangga, menuju ke kamar Daniel. Minhyun juga hanya diam saat Daniel mendudukkan tubuhnya di ranjang King Size milik Daniel.
"Tunggu disini sebentar sweetheart, setidaknya izinkan aku mandi sebentar. Setelah itu, kita baru berbicara." Daniel berujar dengan lembut.
"Apa kau mau aku siapkan air hangat?"
"No! Kau hanya perlu diam disini, kau pasti sangat lelah bukan? Aku akan menyiapkannya sendiri. Tunggulah aku disini sebentar."
"Baiklah..." Jawab Minhyun seadanya. Jujur saja, dia sudah mulai mengantuk saat ini.
Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit. Akhirnya Daniel keluar dengan baju kaus tanpa lengan, dan celana boxer sebatas lutut. Daniel kelaur dengan handuk kecil menggantung dilehernya, dan juga tetes-tetes air menetes dari ujung rambutnya yang berwarna greey tersebut.
"Daniel, kemari." Minhyun mengisyaratkan Daniel untuk mendekatinya.
Daniel sendiri hanya menurut saja, saat Minhyun memanggilnya. Ia mendekatkan diri kearah Minhyun.
"Duduklah dibawah, dan berikan handukmu, aku akan mengeringkan sisa-sia air dirambutmu. Kau ini, kau bisa sakit jika rambutmu dibiarkan basah seperti ini"
Daniel lagi-lagi menurut saja, saat Minhyun menyuruhnya untuk duduk dibawah, dia juga hanya diam saat Minhyun terus mengomelinya. Sedangakan Minhyun, dia duduk diatas ranjang Daniel sembari mengusak rambut Daniel dengan sangat lembut.
Daniel sendiri hanya dapat memejamkan matanya, saat usapan lembut ia rasakan dirambutnya. Minhyun tengah mengusapi rambutnya dengan handuk kecil yang ia bawa tadi.
"Bukankah tadi kau ingin membicarakan sesuatu sweetheart? Bicaralah sekarang."
Usapan Minhyun dikepala Daniel mendadak terhenti, saat ia mendengar perkataan Daniel. Keberanian yang ia kumpulkan sejak tadi, mendadak hilang entah kemana. Namun, ia mencoba mengumpulkan kembali keberaniannya.
Jika tidak sekarang, kapan lagi ia mempunyai kesempatan untuk membicarakan masalah ini. Daniel pasti akan sering lembur untuk beberapa minggu kedepan. Karena, cabang perusahaannya yang berada di Jeju tengah dalam masalah serius saat ini.
"Sweetheart, kenapa diam?"
Minhyun tersentak, saat Daniel mengguncang pelan lengannya. Dia mengerjap beberapa kali, saat mendapati Daniel yang sudah duduk bersebelahan dengannya.
"Eum... Niel, a-aku ingin memberitau kau sesuatu" Minhyun beruajar gugup.
"Oh, ya? Apa itu?"
"A-aku ha-hamil..." Minhyun berujar pelan, sangat pelan. Jika Daniel tidak mendengarkan dengan seksama, mungkin Daniel tidak akan mendengar perkakataan Minhyun.
"A-aku ha-hamil Niel, dan aku ingin kita me-menikah." Ujar Minhyun dengan terbata. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, Minhyun tidak berani melihat ekspresi Daniel saat ini.
"Ini sudah malam sweetheart jangan bicara yang tidak-tidak. Bercandamu tidak lucu sayang."
Minhyun dengan cepat mengangkat kepalanya, saat mendengar kata-kata yang diucapkan Daniel. Apa dia terlihat sedang bercanda? Kenapa Daniel mengira dirinya bercanda. Perlahan tapi pasti, air mata Minhyun meluncur bebas dari kedua mata rubahnya. Dia tidak menyangka jika Daniel menganggap ucapannya barusan hanya sebagai candaan.
"Apa aku terlihat sedang bercanda, Niel? Apa pantas jika kehamilan seseorang dijadikan candaan? Aku serius Kang Daniel! Aku tengah hamil sekarang dan kita harus menikah! Aku tidak mau hamil diluar nikah untuk yang kedua kalinya!" Jerit Minhyun dengan lantang.
Dia tidak peduli jika jeritannya barusan bisa membangunkan kedua buah hatinya. Minhyun tidak peduli. Dia hanya ingin mengeluarkan rasa sesak dihatinya saat mendengar kata-kata yang diucapkan Daniel barusan.
Daniel? Tentu saja dia kaget saat melihat Minhyun yang menangis dihadapannya. Dia tidak menyangka ucapannya membuat Minhyun menjadi semarah ini.
"Maafkan aku sweetheart, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tadi hanya bercanda, aku hanya terlalu kaget dan tidak tau harus bereaksi seperti apa. Dan juga, jangan beteriak seperti tadi. Kau bisa membangunkan Jinyoung dan Daehwi." Daniel berbicara dengan sangat lembut. Dia tau benar, jika Minhyun tidak suka dengan orang yang kasar.
Daniel mencoba untuk memeluk Minhyun, namun dengan cepat ditepis oleh Minhyun. Dia hanya pasrah, saat melihat Minhyun yang menangis dalam diam. Minhyun memandanginnya dengan air mata yang terus terus mengalir dari kedua mata rubahnya.
"Kita harus menikah, Niel. Aku tidak mau anak ini lahir diluar pernikahan lagi. Aku tidak mau" Minhyun terisak dengan kuat.
Melihat Minhyun yang terisak, Daniel dengan cepat menarin Minhyun kedalam dekapannya. Berkali-kali Daniel mendaratkan kecupan-kecupan kecil di rambut halus Minhyun.
"Maaf, maafkan aku. Jangan menangis sayang, aku tidak suka jika kau menangis seperti ini. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku, aku berjanji, sesegera mungkin aku akan mengurus pernikahan kita. Aku juga tidak mau anak ketiga kita lahir diluar pernikahan lagi." Daniel berbisik ditelinga Minhyun.
"Kau menyakitiku, Niel. Hatiku sakit saat kau mengatakan aku hanya bercanda. Kau tidak tau, seberapa gugupnya aku. Aku mati-matian mengumpulkan keberanianku untuk membicarakan masalah ini denganmu. Dan kau, kau menganggap aku hanya bercanda. Jika kau tidak menginginkan anak ini katakan saja! Aku tidak akan memaksamu untuk menerimanya!" Minhyun kembali terisak hebat dipelukan Daniel. Dia mencengkram kaus Daniel dengan sangat erat. Melampiaskan emosi yang sedari tadi dia tahan.
"Tidak sayang, apa yang kau katakan. Aku tidak mungkin untuk tidak menerima anak kita sayang. Buang jauh-jauh fikiran itu, itu semua tidak benar."
Minhyun tidak menanggapi kata-kata yang diucapkan Daniel. Dia hanya terus terisak di pelukan Daniel. Tenggorokannya terasa tercekat, bahkan untuk mengatakan satu kata saja Minhyun kepayahan.
"Sebaiknya kita tidur sweetheart, ini sudah sangat larut. Tidak baik juga untuk baby jika Mama nya tidur sangat larut." Daniel berujar sembari mengusap perut datar Minhyun yang terhimpit diantara pelukan mereka.
Tidak ada tanggapan dari Minhyun.
Daniel mengernyit bingung, saat tidak ada tanggapan dari Minhyun. Ia merenggangkan sedikit pelukannya, dan dia sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat keadaan Minhyun. Daniel tergelak, saat melihat Minhyun yang sudah tertidur dengan pulas. Sepertinya Minhyun kelelahan menangis.
Dengan sangat hati-hati Daniel merebahkan Minhyun keatas ranjangnya. Dia menyelimuti Minhyun hingga sebatas dada. Daniel terkekeh saat melihat wajah Minhyun yang sangat menggemaskan. Minhyun tidur dengan bibir yang mengerucut, dan jangan lupakan mata sembab, dan kedua pipi tembamnya yang memerah karena terlalu banyak manangis.
Daniel mengecup bibir Minhyun sekilas. Dia turun dari ranjang untuk mematikan lampu kamar.
Setelahnya, dia kembali menaiki ranjangnya. Daniel ikut masuk kedalam selimut yang sama dengan Minhyun. Dia menelusupkan satu tangannya kebawah punggung Minhyun untuk merarik Minhyun kedalam pelukannya. Sedangkan satu tangannya yang lain, berada diatas perut datar Minhyun. Dia mengelus perut datar Minhyun dengan sangat lembut. Seolah-olah, itu adalah suatu benda yang sangat rapuh.
"Baik-baik didalam yah sayang, jaga Mama kalau Daddy sedang tidak ada. Dedek jangan nakal, jangan menyusahkan Mama. Daddy minta maaf. Karena, dalam beberapa minggu ini Daddy tidak bisa menemani baby dan hyungdeul. Tapi, Daddy janji, kalau pekerjaan Daddy sudah selesai. Daddy akan menemani baby dan hyung dirumah seharian."
Daniel tersenyum geli, saat menyadari dirinya yang berbicara sendiri layaknya orang gila. Daniel menjadi faham, dengan apa yang dirasakan Dongho -kakaknya- jika kakaknya sedang berinteraksi dengan anak mereka yang masih didalam perut kakak iparnya. Rasanya... Ada kebahagian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, saat dia berinteraksi dengan calon anaknya.
Daniel mengalihkan perhatiannya kembali kepada Minhyun. Daniel mengecupi seluruh wajah Minhyun dengan gemas. Entahlah, Daniel selalu gemas, jika melihat Minhyun yang sedang tidur seperti saat ini.
"Kau itu ibu dua orang anak, dan sebentar lagi akan menjadi Ibu dari tiga orang anak. Tapi kenapa kau masih semenggemaskan ini." Daniel berujar sembari terus menciumi seluruh wajah Minhyun.
Ciuman Daniel terhenti di bibir kucing milik Minhyun. Dia memberi sedikit lumatan pada bibir itu. Menyesap bibir atas, dan bibir bawah Minhyun secara bergantian. Cukup kama Daniel dengan aktivitasnya mengerjai bibir Minhyun. Dia baru melepaskannya saat Minhyun yang menggeliat tidak nyaman. Mungkin dia merasa tidak nyaman, karena merasa seseorang mengusik tidurnya.
Daniel mengecup sekali lagi bibir Minhyun, lalu menaikkan kecupannya pada dahi Minhyun.
"Good Night sweetheart, sweet dream. Good Night juga baby... Daddy menyayangimu."
Setelahnya, Daniel juga ikut memejamkan matanya. Menyusul Minhyun yang telah lebih dulu berkelana ke alam mimpi.
-TBC-
Aloha masih ada yang menantikan ff ini? (GAK!) wkwk...
tinggalkan review nya yaaakk
2018-09-19
