Disclaimer, Amano Akira
Entah terlalu bosan atau memang tidak mengerti materi yang diajarkan sang guru setengah botak berwajah mesum menyebalkan, Tsuna membiarkan tangannya bermain gembira mencipta dunia di atas lembar putih serat kayu hasil olahan pabrik. Tsuna tidak ahli dalam seni, keterampilan atau menggambar. Tapi setidaknya apa yang ia gambar masih bisa terlihat jelas tujuannya... mungkin bagi Tsuna begitu.
Gorensan terakhirnya membentuk rambut yang tersapu angin. Tergambar dengan wajah dan mata bulat, senyum terbentuk, di buku catatan Tsuna tergambar seorang gadis dengan rambut sebahu yang diblok arsiran. Walau layak dikatakan karya anak SD bari pertama pegang alat tulis, tapi orang lain yang melihatnya dapan menyimpulkan kata manis yang simple. Um, lumayanlah.
"Hah, Kyoko-chan..." desahnya pelan, meratapi apa yang pantas untuk dia ratapi. Mungkin kodratnya begitu.
Dirinya mengalihkan pandang menuju awan tipis, cuaca cerah untuk bermain. Otaknya melakukan flashback ke acara 'kencan' yang normal untuk sebuah malapetaka, benar-benar cerah sebelum badai. Tsuna tidak mengeti kenapa Uni yang manis itu bisa menjadi cucu tutor neraka yang sudah menistakan kepolosan Tsuna. Mungkin kodrat, kasihan takdir disalahin mulu.
Dunia dalam otak Tsuna terguncang, intuisinya berkata bahaya. Dalam pengelihatannya warna memecah kayaknya film tiga dimensi. Hawanya tiba-tiba menjadi dingin dan keringat dingin keluar membuatnya kuyup. Lalu sebuah kapur menghantam keras dahi lebar Tsuna yang sudah dengan susah paya dia tutup dengan poni, walau kadang poninya tidak selalu menurutinya untuk tunrun menutup aib.
"Dame-Tsuna, perhatikan pelajaran dari gurumu! Jangan melamun!"
Guntur merambati latar belakang, ombak menghantam keras, guncangan hebat merobohkannya. Tsuna terjungkal terlambat dari kursinya. Jantungnya berhenti berdetak sepanjang kalimat dari orang yang melemparinya kapur tadi. Sekarang ketika dia sadar, Tsuna merasa kemarin harusnya dia harakiri beneran saja.
Karena hanya satu orang yang suka sekali memangginya dengan sebutan dame. Sejahat-jahatnya kakak Al, dia hanya memanggilnya ikan karena memang namanya begitu.
"Minna, perkenalkan saya adalah guru baru yang akan menggantikan wali kelas dan kepala sekolah kalian."
Hening sejenak melanda, lalu seruan EEEEHHHHHHHHH didasari rasa terkejut, salut, fangirls(?) dan bingung membahana dari semua murid kelas kecuali Tsuna yang menjeritkan HIIIIEEEEEEEE karena mengkhawatirkan nyawanya yang cuma satu.
Berdiri gagah menyandar kusen pintu dan menyilangkan kaki. Sosok kakkoi berseringai ikemen dibawah bayangan fendora yang seraasi dengan pakaianya yang serba hitam kecuali kemeja senja. Tangan kiri di saku, tangan kanan diangkat membenarkan posisi fendoranya... ah, bukan. Seekor kadal hijau imut merambati tangan kurus yang kuat, lalu berubah. Tsuna beruntung karena terjengkang, dia sempat sembunyi ketika desingan keras mulai mengancam nyawa. Dosa siapa Tsuna sampai ketemu lagi dengan iblis tampan bersifat kekanakan yang bikin Author doki-doki ini? Maa maa, sudahlah~
"Aku Reborn Chaos. Jadilah murid yang baik atau kepala kalian berlubang."
Tsuna sudah memutuskan, dia akan menulis surat wasiat sepulangnya ke rumah nanti.
TBC
sankyuu~ Caeliayuuki, Sarasa Riani, Cocoa2795, shinobu millieur, Natsu Yuuki, Kuroshi Charlice, Ssora0, Cloud the First Tsurugi, Zara Zahra, zhichaloveanime, Remah-Remah Rengginang, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama
