Disclaimer, Amano Akira

"Oi, Verde-sensei!" pemuda berambut ungu dengan dandanan metal dan banyak aksesoris berandalan menegur dosen hijau yang fokus ke komputer kampus berkoneksi giga di depannya. Diabaikan, Skull menepuk pundak Verde.

"Apa?" ketus Verde yang tidak suka kegiatannya diganggu.

"Ini laporan anak-anak mau taruh di mana? Kalau bisa cepat periksa!" setumpuk hasil laporan lapangan berada di tangan kanan Skull, ada satu mug kopi instan yang masih mengepul panas di atasnya.

"Kau sajalah yang kerjakan!" Verde memutar lagi badannya menghadap layar. Skull sudah siap menyemburkan protes ketika perut Verde berbunyi nyaring. Dia memang belum makan sejak kemarin malam, salahkan antusiasmenya yang tidak bisa hilang dalam waktu dekat kalau sudah tertarik pada sesuatu.

"Cih, baik-baik aku akan memeriksa laporan keparat ini." Skull meletakkan tumpukan laporan mahasiswa yang diampunya menggantikan dosen kurang bertanggung jawab salah jurusan itu. Menyesap kopinya pelan sebelum membuka ponsel pintarnya dan men-dial satu nomor di sana. Tidak lama sebuah suara menjawab panggilannya. "Halo... hm, aku ingin memesan meja... mungkin setengah jam lagi aku sudah ada di sana... ya, terimakasih paman." lalu sambungan diputus.

Skull menegak kasar kopinya sampai tinggal ampas. Peduli buaya pada kopi yang masih panas, dia tidak akan mati hanya karena lidahnya mati rasa untuk sehari. Skull meletakkan mugnya ke meja, biarkan petugas kebersihan yang mengambilnya nanti. Melepas dasi hitam di kemeja violetnya lalu mengambil jaket kulitnya.

"Oi sensei." Skull melirik Verde yang sudah kembali menekuni komputernya. Dia sudah hapal betul tabiat dosen yang dulunya kakak angkatan beda jurusannya itu, ilmuan hijau itu memang keras kepala dan jaim. "Kau mau mati kelaparan di ruangan ini? aku baru saja memesan meja di Takesushi /warung sushi favorit Verde/." asdos dua puluh empat tahun yang biasa dibully mahasiswa sendiri itu memutar kunci motornya, sengaja membuatnya mengeluarkan suara. Layar komputer memproses penonaktifan diri.

Verde menyampirkan jaket lab-nya ke sadaran kursi dan melonggarkan dasinya. Mengambil ponsel flip hitamnya lalu berjalan mendahului Skull keluar ruangan. Skull sebenarnya menahan tawa, tapi dia usahakan tidak membuat wajah aneh atau dia akan jadi guineapig percobaan Verde besok.

"Sensei, traktir aku ya!" seru Skull menyusul langkah Verde.

"Dalam mimpimu bocah." protesnya sambil menendang kaki kiri Skull.

"Ow, sakit! Kalau nanti aku tidak bisa menyetir dengan benar bisa celaka! Aku menyalahkanmu!" Skull meringis sakit mengusap kakinya yang jadi korban tapi tidak kapok juga menggoda dosen hijau di sampingnya.

"Brengsek!" Verde sudah merah karena menahan napsu membunuhnya, tangannya meraih rambut ungu yang di-wax sedemikian rupa oleh Skull.

"Whaa, bercanda! Bercanda!"

"Akurlah sesekali kalian berdua." dari arah berlawanan Alfonso menegur dua dosennya dengan senyum usil.

"Tidak usah ikut-ikut kuda jingkrak!" Verde semakin menguatkan jambakannya tanpa sadar. Image jenius yang selalu dijaganya sudah tidak mungkin bertahan di wajahnya.

"Oh, Skull-sensei." Alfonso lalu menendang kaki kanan Skull. "Salam dari Reborn katanya." Alfonso smirk-smirk puas.

"SIALAAANNNN!" kodrat Skull selalu jadi korban bully, yang nulis si Author sih...

TBC

/saya merasa... Skull? Abis kejedot apa kamu nak? Kok kece?/


sankyuu~ Kuroshi Charlice, Caeliayuuki, Cocoa2795, Natsu Yuuki, Axerleoulus Xenon Xeluarixion, Xx-Aotsuki-xX, Sarasa Riani, shinobu millieur, Ssora0, Cloud the First Tsurugi, Zara Zahra, zhichaloveanime, Remah-Remah Rengginang, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama