Disclaimer, Amano Akira
Pagi ini... eum, Tsuna dan Author menggigil. Musim panas yang tinggal menghitung minggu seharusnya sudah terasa hangat. Hanya saja Tsuna merasa yang datang sekitar sebulan lagi itu bukanlah musim panas, tapi malah musim dingin. Salah siapa banyak orang-orang kece badai berhati beku beraura salju? Dirinya yang pendek bisa merasakan desiran angin musim gugur berlalu ketika ia baru menginjakkan kakinya di depan gerbang sekolahnya. Dia tidak terlambat kok, serius deh. Jam besar di gedung megah Namichuu juga membuktikan dia tidak bersalah dan tidak seharusnya mendapatkan sepaket prefek iblis klan Hibari lengkap dengan aksesori death-glare dan napsu membunuh. Kalau napsu nge-rape, Tsu sudah memaklumi karena tiap dia keluar rumah pasti ada saja yang begitu.
"Ano..." Tsuna memiringkan kepalanya mempertanyakan kesalahan macam apa yang membuat Hibari Kyoya mencegatnya di gerbang sekolah. Terlalu imut kah? Terlalu menggoda kah? Terlalu –ehem, kembali ke topik. "... a- apa aku melakukan sesuatu Hibari-san?" sebuah desisan sebal menjawab Tsuna.
Intuisi Tsuna yang tidak bisa diragukan keakuratannya berdering memperingatkan. Bukan, bukan tentang Hibari. Tsuna memegang dagu dan memiringkan kepalanya ke arah lain, memikirkan apa yang membuat intuisinya berbisik di kepalanya –yang mana hanya membuat si pendek Sawada terlihat semakin manis-. Maju tiga langkah. Merunduk. Berdiri, menghindar ke samping. Pergi ke samping Hibari-san. Itu yang tiba-tiba terlintas di otak Tsuna dan dilakukannya secara autopilot.
Maju tiga langkah. Ryohei dengan suara nyaring dan hanya mengenakan celana trainingnya berlari melewati jalan tempat Tsuna tadi berdiri. Tsuna itu pendek, karena itu Ryohei yang berlari dengan kepala yang mendongak pasti akan menabrak Tsuna seperti ketika di tepi lapangan waktu itu. Merunduk. Sepasang Rokudo diterjang sepasang Dokuro yang juga dikendalikan autopilot melesat cepat melewati kepala Tsuna yang berjongkok. Berdiri, menghindar ke samping. Seekor kuda pirang jatuh tersungkur mencium tanah di tempatnya tadi jongkok. Pergi ke samping Hibari-san. Dinamit yang beterbangan dan menggelinding meledak. Tsuna berbalik dan menatap kehancuran absurd yang baru saja terjadi. Mungkin bukan dia yang menyebabkan Hibari terganggu, tapi apa yang ada di sekitar Tsuna ketika dia ada di tempat umum dan beberapa hal absurd yang 'normal' terjadi setiap hari. Tapi dia masih merasa ada yang kurang. Hibari menyeringai tertarik dengan tindakan Tsuna yang berdasarkan intuisi.
"Mukuro-sama, anda tidak apa-apa? Maafkan saya, tadi itu reflek karena mendeteksi pedopil anda kumat." Chrome berjongkok di sisi nanas madesu dengan wajah cemas yang manis dan kalimat yang copy-paste di setiap dia menendang masternya itu.
"Semangka-sama? Kenapa tiduran di sana? Ketua-OSIS-brocom-senpai dan Gurita-wakil-ketua-OSIS-senpai memintaku menendangmu kalau kau menguntit Moe-senpai. Tenang saja, tagihan gajiku akan dikirimkan padamu segera." bocah apel raksasa dengan suara datar menusuk-nusuk pipi Spade dengan ranting kayu entah dari mana. Dilihat dari manapun dia itu masih sekolah dasar, jangan tanya bagaimana dia bisa jadi pelayannya sulung Rokudo. Tsu saja tidak mau tahu.
"Buckin'bronco! Berhenti mengikuti Tsuna-sama! Sesuai perintah Alfonso-sama dan Reborn-san aku akan meledakkanmu!" Gokudera berteriak nyaring dengan dinamit yang sudah siap di tangannya.
"Maa, maa, Gokudera. Lagi pula dia itu kakaknya Tsuna 'kan?" Yamamoto memegangi Gokudera, berusaha menahannya.
"Diam kau Yakyuu-baka! Yang berani macam-macam dengan Tsuna-sama harus aku ledakkan!"
"Tsu, aku ingin bersama Tsu-chan~. Hwee..." padahal menyelam sambil minum air bisa liat skylark unyu juga.
"Hah, boss. Berhentilah mengeluh! Demi marshmellow, kau hanya akan masuk kolam sedalam satu meter!" seorang laki-laki berkacamata dengan muka sesabar guru TK lagi jaga sekelas balita pas jam makan siang menghampiri Dino.
"Tapi Romario, aku tidak pernah punya waktu bersama Tsu-chan!" dengan helaan lelah, Romario menggeret Dino pergi.
Tsuna seperti mendengar sesuatu yang putus. Sekarang intuisinya memerintahkannya untuk segera masuk ke gedung sekolah dan duduk manis di bangkunya tanpa menoleh ke belakang. Reborn berjalan sejajar dengannya ketika di tangga, dia merasa lebih pendek dari ukuran pendek sebelumnya karena bahkan tidak sampai sepundak Reborn. Bel masuk berbunyi tepat ketika Tsuna mengistirahatkan diri di kursinya. Hah! Dia ingat apa yang kurang, dia harus membuat rencana pembunuhan Author yang terlalu banyak mengatainya pendek sepagian(?) ini. /Haaaaahhhhh?!/
TBC
sankyuu~ Caeliayuuki, Cocoa2795, Natsu Yuuki, Sarasa Riani, zhichaloveanime, Kuroshi Charlice, Axerleoulus Xenon Xeluarixion, Xx-Aotsuki-xX, shinobu millieur, Ssora0, Cloud the First Tsurugi, Zara Zahra, zhichaloveanime, Remah-Remah Rengginang, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama
