Sore hari kali ini entah kenapa damai sekali. Hibari Kyoya menikmati waktunya di atap sekolah selepas berpatroli ke seluruh penjuru Namimori, bertopang dagu di pagar pembatas melihat jingga. Bahkan rumah Sawada yang selalu kebanjiran protes dan kadang didatangi mas-mas polisi bule sadis gara-gara sering ribut. Hanya burung-burung camar dari arah pelabuhan dekat sana yang bersua memberi kabar matahari untuk segera turun dan membiarkan bulan menabur kerlip bintang. Angin akhir musim semi yang hangat dan sesekali sejuk kadang mampir.

Ieyasu memutar kursi kerjanya di ruang ketua OSIS, menatap lembut warna jingga yang terbias di awan tipis di sekitar matahari yang masih bulat sempurna dari jendela lebar di sisi kirinya. Dihiraukannya kewajiban mepet deadline yang tinggal seperempat selesai di mejanya. Dia hanya merasa... suasana sering namun jarang dinikmati ini pantas untuk sekali ini saja ia perhatikan. Toh, paperworknya tidak akan pergi kemana-mana.

G masuk sambil membaca data di clipboard yang dibawanya. "Giotto, kurasa properti yang- " terhenti, perempatan amarah dan hawa-hawa seram sudah menyelimuti G sedari tadi karena dua glinding nanas baru saja membuat masalah. Mungkin akan bertambah parah mengetahui ketuanya malah bersantai memandangi langit sore dan bukan menyelesaikan tugasnya, jika dia tidak melihat Ieyasu yang malah melebarkan senyum 'malaikat'-nya ketika ia mulai berceloteh tentang masalah properti untuk acara bulan depan. Tidak ada salahnya juga sih melepas penat sampai matahari bersembunyi dari bulan.

Chrome dan Fran baru saja selesai dengan master mereka yang kini sedang berbaring dengan bekas kaki di pucuk mereka. Nanas naas.

"Aah, kita jadi dapat leburan tanpa dibayar gara-gara Shishou mengotori properti untuk gerbang." protes datar diluncurkan Fran, kakaknya hanya tersenyum kecil lalu mulai mengambil sisa-sisa kehancuran yang ditimbulkan master mereka. Meletakkan yang sudah tidak bisa dipakai di ujung ruangan dan mengambil bahan baru untuk membuat ulang papan nama di ruang klub kerajinan tangan. Fran membantunya mengangkati beberapa kaleng cat dan papan tripleks. Mereka menikmati matahari sore itu ketika melewati lorong panjang di antara ruang klub kerajinan tangan dan ruang kegiatan anggota OSIS.

Yamamoto meregangkan tubuhnya. Mengambil pemukul baseballnya dan segera menuju ruang klub untuk bersiap pulang. Ia berhenti begitu merasakan hangat matahari setelah lepas dari bayang gedung sekolah yang bertingkat di bagian luar lapangan. Semburat cahaya mengintip dari balik pohon-pohon sakura yang menghijau, melebarkan cengirannya lalu melanjutkan langkahnya.

Gokudera menenteng kantong plastik berisi banyak mi instan dan minuman botol. Rokok yang terselip di bibirnya masih cukup panjang. Mengambil kunci pintu apartemennya, Gokudera meletakkan belanjaan tidak sehatnya di depan pintu. Silau pergantian waktu menariknya untuk memperhatikan. Siluet gedung terkotak-kotak berlatar jingga membuatnya nyaman. Tiba-tiba dia ingin main piano.

Alfonso dan Fon berhenti sejenak, candaan mereka mengenai asdos ungu yang sering mereka bully berhenti dengan senyum simpul menyambut rona jingga. Taman di belakang gedung dekanat seolah sedang menyanyikan lullaby. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan laut berkilauan ditimpa cahaya matahari yang meremang. Waktu yang ternyata sudah terlewat tanpa sadar dengan cepat seolah melambat.

Elena menyampirkan handuk ke kepala Dino dan Byakuran yang baru saja keluar dari kolam renang setelah hampir dua jam melakukan pemotretan di dalam air. Byakuran meletakkan kameranya diatas tasnya lalu menyambar botol air mineral dingin. Senyum puas tercetak di bibir tipis pemuda dengan tato di pipi kirinya ini. Dino sendiri telentang di lantai tepian kolam renang sambil terengah-engah. Kemeja putih dan celana bahan hitamnya sudah lepas teronggok sembarangan. Elena menggelengkan kepala menghadapi model potretan bossnya, Romario masuk dengan kotak makanan dan jubah mandi untuk Dino dan Byakuran.

"Otsukaresan~" Byakuran menempelkan botol airnya ke pipi Dino.

"Otsukaree!" Dino dan Elena berseru riang akhirnya pekerjaan hari ini berakhir juga. Mereka beranjak duduk di tepian jendela lebar yang menjadi pengganti tembok ke luar ruangan itu. Menikmati pemandangan matahari terbenam sambil memakan sushi dari Takesushi yang di janjikan Romario jika Dino berhasil menyelesaikan sesi pemotretan ini.

Mammon keluar dari persembunyiannya setelah berhasil kabur dan mengambil isi dompet remaja playboy yang selalu mengganggunya ketika menjalankan pekerjaan 'mulia'nya. Langit sudah berubah warna dan keramaian pasar dan distrik perbelanjaan Namimori sudah agak berkurang memberi kesan lain di area kekuasaannya ini. Mommon berjalan santai menikmati waktu luangnya, membiarkan tatapan takut beberapa pedagang di sana.

Verde dan Skull berjalan beriringan, sesekali Skull tertawa karena ocehannya sendiri. Mereka baru saja berjalan-jalan setelah makan siang /Skull lagi-lagi harus bersusah payah membujuk Verde keluar dari 'gua'nya/ dan membeli buku-buku mengenai opini terhadap hukum dan beberapa buku novel ringan untuk refreshing, Skull yang menyarankan. Motornya dititipkan di depan Takesushi. Hangat matahari sore yang akan segera terbenam menyelimuti mereka dari belakang, hanya menjadi latar di hari damai yang akan segera berganti menjadi malam.

Haru, Kyoko dan Hana melewati mereka begitu saja. Hari ini adalah hari yang khusus mereka dedikasikan untuk memberi penghargaan untuk diri mereka sendiri. Mereka melakukannya tiap bulan, tapi hanya Hana saja yang dipaksa ikut. Serius, dia bukan tipe pecinta manis. Tapi menolak dua gadis manis itu susah. Walau tampak tidak ikhlas, Hana cukup menikmati waktunya menjadi pengasuh dua temannya itu. Haru menyeretnya duduk ke sebuah kursi taman di tepi jalan dan duduk di sebelahnya. Kyoko meletakkan kamera yang sudah di set-timer lalu duduk di sisi lain Hana. Mereka selalu mengambil gambar diakhir kegiatan bulanan mereka. Warna jingga yang membiaskan semangat muda mereka kali ini mungkin menjadi momen membuat kenangan yang bagus.

Paman putih pemilik toko buku menyelesaikan sapuannya dan membuangnya ke tempat sampah yang setengah penuh. Kaca mata bulatnya berkilat oleh warna jingga terang. Matahari di langit jingga serasa menyapanya. Dia tersenyum, mungkin hanya seringai jahil lalu terkekeh geli.

Reborn memperhatikan langit, matahari sudah hilang setengah di horizon. Dia duduk di beranda belakang menyandar tiang, novel fantasi milik Tsuna di tangannya, secangkir kopi yang mulai dingin terabaikan di sisinya. Leon dan Enzo yang datang bersamanya nyaman di rambut cokelat Tsuna. Tangan satunya memeluk perut sang brunette yang sedari siang tadi menemani si kecil Uni. Protektif namun mununjukkan sayang. Uni tidur nyaman di gendongan Tsuna sambil mengisap jempolnya, wajahnya sangat dekat dengan wajah Tsuna yang tidur tanpa suara.

Author bersimpuh di sampingnya menghadap matahari sambil minum occha yang masih panas.

Musim semi tahun ini sebentar lagi selesai.

Disclaimer, Amano Akira

Survive for Today, Hikage Natsuhimiko

「SPRING」: 27 chapters, 1 - 27

September 2015

Sawada Tsunayoshi arc.

FIN!

baca A/N : Sankyuu untuk semua yang sudah melihat, membaca entah summary atau storynya, yang nge-fav sama follow juga. Dan para reviewer, komen kalian membuat Hika semangat nulis walo kadang ngadat ide, kuota dan waktu xD. Pernahkah kalian membaca ulang review kalian di Survive for Today Author ini? Hika dibuat doki-doki tiap dapet review baru! Eheheee...


sankyuu~ Hikage Natsuhimiko, Caeliayuuki, Cocoa2795, lolichka, Sarasa Riani, Natsu Yuuki, zhichaloveanime, Kuroshi Charlice, Axerleoulus Xenon Xeluarixion, Xx-Aotsuki-xX, shinobu millieur, Ssora0, Cloud the First Tsurugi, Zara Zahra, Remah-Remah Rengginang, Renkou-tachii, tatsumi lover, Guest, Kyuushirou, AkabaneKazama