Disclaimer : Hiro Mashima-sensei
Pair : Natsu D. X Lucy H.
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Warning : OOC, INGET! OOC, OOC banget!, Jangan Nyalahin Vee klo nggak suka yg OOC. dimana-mana, GaJe, Second fic,
Sekali lagi Vee ingetin, fic ini OOC. OOC!
Moga Suka, ya… Minna… :*
.
.
.
Natsu POV
.
Namaku Natsu Dragneel. Seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta yang sangat ternama di Fiore, Heartfilia Corp namanya. Kalian harus tahu satu hal besar yang baru hari ini aku jalani. Bosku yang bernama Lucy Heartfilia itu sekarang menjadi…
PLAK!
"Apa-apaan ini?! Kau pikir seperti ini membuat laporan? Dan Lihat! Kau lupa memberi titik dan koma dibagian ini! Buat laporan ulang!" Teriak seorang gadis berambut pirang sambil berkacak pinggang di depanku. Ini dia, gadis yang menjadi bosku. Namanya Lucy Heartilia, dia adalah…
PLAK!
"Kau dengar tidak?!"
PACARKU!
Hah! Lihat saja kelakuannya padaku! Apa itu yang dilakukan seorang gadis pada pacarnya? Di film-film manapun tak pernah sekalipun aku melihat adegan dimana si gadis memukul kepala pria yang dipacarinya dengan kertas laporan. Kalau salah satu dari kalian tahu film bergenre romance yang salah satu adegannya seperti tadi, tolong beri tahu aku, aku ingin segera menontonnya. Mungkin bosku yang satu ini pernah menontonnya dan langsung mempraktekannya pada pacarnya, dan sialnya pacar bosku itu adalah AKU!. Padahal aku sempat berpikir positif, jika aku menjadi pacarnya, maka aku bisa bebas dari sikap anehnya yang sering marah-marah tanpa alasan, tapi ternyata? You-know-what-I-mean.
Ya.. Asal kalian tahu saja, aku membencinya, Ah! Bukan, tapi… aku-sangat-amat-membencinya!. Sedikit pun tak pernah terpikir olehku akan berakhir menjadi pacarnya. Ya… salahkan saja ancamannya yang membuatku ciut. Jika saja dia mengancamku dengan memperbanyak pekerjaan yang harus aku lakukan, maka dengan lapang dada akan kuterima semua pekerjaan tersebut daripada menjadi pacarnya. Oh ayolah, siapapun pasti tidak ingin memacari orang yang dibenci, kan?
"Berhenti melamun, Dragneel! Aku tidak akan beranjak dari sini sebelum kau mulai menulis ulang laporanmu!" Tegur Lucy, menghentikan kegiatanku mengutuknya di dalam hati.
"Baiklah, Lucy-sama yang terhormat!" kataku. Penuh penekanan dengan rasa jengkel yang kentara.
Aku mulai merapikan kembali kertas-kertas yang tadi ia jadikan senjata untuk memukul kepalaku dan membuka lembar baru di komputer untuk mengetik ulang laporan yang ia berikan, namun..
"Pastikan kau tidak pulang terlebih dahulu, Natsu.. karena aku menunggumu." suara lembut nan menenangkan terdengar oleh telingaku. Benar-benar seperti bisikan gadis manja untuk pacarnya yang sedang bekerja, ya… jika saja itu yang mengucapkannya adalah Lisanna, tapi bagaimana jika yang mengucapkan hal tersebut adalah seorang bos-kurang ajar-yang-suka-memukul-bawahannya?
"Jangan coba-coba untuk pulang terlebih dahulu, karena kau tahu.. akibatnya, kan?" sambungnya.
'Sial! Sial! Sialaaan!' Umpatku dalam hati, saat sebuah seringai terpampang jelas di bibirnya yang kulihat dari ekor mataku.
"Pastikan kau tidak membuat kesalahan lagi, Dragneel!" kata Lucy kembali dengan suara yang penuh ketegasan. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan meja kerjaku dan menuju meja kerja pegawai yang lain.
"Haaaahh…"
Akhirnya aku bisa bernafas dengan benar…
"Pffftt…Pfftt… Hahaha.." Gelak tawa tertahan terdengar dari meja kerja yang ada di belakangku dan tentu saja aku tahu siapa pemilik tawa yang menyebalkan tersebut.
"Diamlah, Gray! Kau ingin aku melemparkan berkas ini ke kepalamu?" seruku, kesal saat tawa kecil tertahan lolos dari bibirnya.
"Hmmphh… Pfftt.."
Mataku melirik tajam pada suara tawa yang lain dan itu terdengar dari samping meja kerjaku.
"Kau juga, tak usah ikut-ikutan, Gajeel!"
Laki-laki berambut hitam panjang yang bernama Gajeel tersebut masih sibuk menahan tawanya dan itu sungguh membuatku jengkel setengah mati. Apalagi Gray masih menertawakanku dan beberapa teman kantorku yang lain juga ikut-ikutan tertawa. Sial!
'Hebat, sangat hebat! Selain bos terhebat di dunia kau juga pacar tersuper yang pernah kutemui. Sepertinya aku sangat beruntung menjadi pacarmu, HONEY!'
.
END Natsu POV
.
.
ISTIRAHAT
12.15
.
"Natsu, berhentilah mendumel. Pffft… Ini sedang istirahat. Apa salahnya kau melupakan semua yang Lucy-sama katakan padamu." Kata Gray sambil menepuk bahu pemuda bersurai pink yang sedang mengaduk latte-nya dengan keras. Tentunya masih dengan suara tawa yang tertahan, karena menurutnya acara duel antara Lucy-sama dan Natsu adalah sebuah hiburan untuknya.
"Cih!"
Pemuda bersurai pink yang dipanggil Natsu tadi hanya berdecih keras sambil terus melontarkan sumpah serapah, dengan suara kecil tentunya. Ya.. Natsu tidak mau bosnya itu tiba-tiba mendengar sumpah serapahnya dan kembali mempermalukannya di depan semua orang.
"Ya! Sebaiknya kau jalani saja derita hidupmu, Natsu. Hahaha…" Kata Gajeel, ikut angkat bicara dengan hal yang dialami oleh Natsu.
"Bisa kalian diam?! Kalau kalian hanya disini untuk mengejekku, sebaiknya kalian kembali ke kantor sebelum aku benar-benar naik darah." Ancam Natsu dengan kilatan mata yang cukup membuat dua pemuda tadi terdiam.
"Hei, Natsu.." Panggil pemuda berambut biru yang duduk di serong kiri Natsu. Irisnya menatap serius ke arah Natsu yang masih sibuk mendumel tak jelas, namun sikapnya terlihat tenang tidak se-berisik Gray dan Gajeel.
"Kalau kau mau mengejek silahkan saja, Jellal! Tak usah memakai bahasa formal!" kata Natsu sambil mencibir kesal pada pemuda yang ia panggil dengan Jellal tadi.
Pemuda berambut biru dan bertato di kitaran matanya tersebut hanya tersenyum kecil, masih dengan sikap tenang dan elegannya.
"Ku pikir Lucy-sama menyukaimu dalam artian romantis." Katanya.
"Bruh!"
Gray menyemburkan tehnya, Gajeel tersedak daging yang ia kunyah, dan Natsu batuk-batuk aneh setelah mendengar pernyataan Jellal.
"EEEEEHHH?! Itu tidak mungkin!" seru Gray dan Gajeel serempak.
"Kau sedang melantur, Jellal. Sudah sangat jelas kalau Lucy-sama itu memiliki dendam kesumat dengan Natsu." Kata Gray sambil menggeleng keras, menolak pernyataan Jellal.
"Hmmph…" Jellal hanya tersenyum menanggapi perkataan Gray.
"Ya, itu tidak mungkin. Lagipula apa yang Lucy-sama lihat dari pemuda tanggung seperti dia?" Sambung Gajeel sambil menatap heran wujud Natsu dari atas kepala sampai ujung sepatunya.
"Rambut pink yang aneh, kemeja kumal, sepatu butut, tampan juga tidak." Tambah Gajeel, setelah ia melihat sekali lagi wujud teman yang memiliki rambut teraneh di kantornya itu. Bayangkan saja, diantara seluruh pekerja di sana hanya Natsu yang memiliki warna rambut paling mencolok. Bahkan ia hampir ditendang keluar dari kantor karena dikira sengaja mengecat rambutnya. Ya, padahal rambut pink tersebut asli dan memang sudah ada sejak ia dilahirkan.
"Oi, Oi!" seru Natsu, kesal dengan perkataan Gajeel atau lebih tepatnya ejekan dari temannya yang bertampang preman itu.
Jellal yang melihat perdebatan ketiga pemuda lajang itu hanya tersenyum manis, masih dengan cangkir teh yang ia seruput isinya berkali-kali.
"Itu mungkin saja. Dan sangat jelas. Jika Lucy-sama memang membenci Natsu, dia pasti sudah lama memecatnya. Ya… logika saja, kau pasti tidak ingin berlama-lama dengan orang yang kau benci, kan? Tapi kenyataannya? Lucy-sama malah sengaja memperbanyak tugas Natsu agar ia bisa terus melihat Natsu." Jelas Jellal. Ia pun kembali menyeruput tehnya dengan elegan.
"EH?! Ta-tapi! Itu tidak mungkin! Lucy-sama itu benar-benar High class! High Standar!, bahkan aku pernah mendengar jika dia sering memacari anak CEO perusahaan dan pengusaha-pengusaha muda terkaya di Fiore tidak mungkin dia memilih laki-laki seperti Natsu." Kata Gray, masih berusaha menolak keras pernyataan Jellal.
"Ya.. terserah pada kalian ingin percaya atau tidak, karena apa yang aku alami hampir sama dengan apa yang sekarang Natsu alami." Kata Jellal sambil menunjukkan jari manisnya yang melingkar sebuah cincin emas.
Gray, Gajeel dan Natsu diam sebentar, mencerna maksud dari perbuatan Jellal yang dengan gamblangnya menunjukkan cincin emas di jari manisnya. Apa dia ingin memamerkan cincin emas yang mungkin harganya sangat mahal? Tapi, Tunggu dulu, di jari manisnya? Bukannya itu berarti..
"EHHH?! Kau sudah menikaaahh?!" seru Gray, Gajeel dan Natsu serempak, sangat OOC. Benar-benar OOC, bahkan teriakan mereka terdengar di telinga pegawai lain yang tengah menikmati makan siang mereka di kantin tersebut.
Jellal menanggapi ekpresi terkejut dari ketiga pemuda lajang tersebut dengan hanya tersenyum kecil dan mengangguk pasti.
"Istriku juga melakukan pendekatan yang sama dengan apa yang dilakukan Lucy-sama, namun sepertinya kau harus lebih bersyukur dengan pendekatan yang Lucy-sama lakukan saat ini, karena..."
Jellal berhenti sejenak dan menelan ludahnya, ngeri, saat membayangkan masa lajangnya bersama sang istri. Dulu, akibat ulah sang istri untuk menarik simpatinya, Jellal pernah di rawat di rumah sakit. Bahkan ia pernah mengalami patah tulang hanya karena sang istri salah paham dengan apa yang ia katakan. Pokoknya, yang dilakukan oleh Lucy-sama pada Natsu lebih baik dibandingkan pendekatan yang dilakukan oleh istrinya dulu.
"Karena?" Gray sedikit mencondongkan tubuhnya, penasaran dengan perkataan Jellal selanjutnya.
"Pokoknya Natsu masih lebih beruntung." Kata Jellal, bersikeras tidak ingin memberitahu alasannya.
"Tidak… "
Sebuah suara yang terdengar frustasi sekaligus khawatir terdengar dari mulut pemuda berambut merah muda yang atensinya sempat terlupakan oleh ketiga pemuda tersebut.
"Tidak… tidak… tidak mungkin…"
"Ada apa Natsu?" Kata Gray sambil mengerutkan dahinya bingung, karena teman karibnya itu terlihat seperti orang yang sakaw mendadak.
"Tidak… tidak.. aku tidak mau… aku tidak mau.. tidak!"
Natsu masih meracau aneh sambil memegangi kepalanya.
"Hey, Natsu!" Gajeel ikut menyadarkan Natsu dengan cara memukul-mukul punggung Natsu dengan pelan.
"Tidak, tidak! Aku menyukai Lisanna! Aku mencintai Lisanna! Aku akan menikahi Lisanna!" rapal Natsu seperti sebuah mantra untuknya.
Jika si bos meminta Natsu untuk menjadi pacarnya, Natsu mungkin masih bisa menerimanya, tapi jika si bos juga menginginkan Natsu menjadi suaminya, Natsu lebih baik hengkang kaki dan mencari pekerjaan baru dibandingkan harus hidup selama-lamanya dengan si bos. Tidur berdua dan membangun keluarga bersama dengan orang yang dibenci tentu saja sebuah mimpi buruk, bukan?
Jellal menghela nafas saat melihat sikap Natsu seperti itu. Apalagi setelah dia menunjukkan bukti pernikahannya dengan sang istri tercinta.
"Tak usah panik seperti itu, Natsu. Lagipula kau bisa menolaknya kalau tidak suka." Kata Jellal.
"Tapi dia mengancam akan memecatku kalau aku tidak jadi pacarnya!" Keluh Natsu spontan, tanpa ia sadari.
"Eh?!" Natsu menutup mulutnya dengan cepat saat sadar dengan apa yang ia keluhkan. Apalagi ia sadar jika kini berpasang-pasang mata mengarah ke meja tempat mereka berbincang.
"Natsu.."
Jellal meletakkan gelas tehnya dengan dahi mengerut, heran.
"Jangan bilang kau dan Lucy-sama…" Jellal menggantung kalimatnya.
"Berpacaran!" seru Gray dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.
"Oi, oi… Kau tidak pacaran dengan Lucy-sama, kan.. ?" Kata Gajeel yang sudah tidak tahu ingin berekspresi seperti apalagi, karena banyak hal mengejutkan terungkap pada hari ini. Mulai dari pendapat Jellal tentang perasaan Lucy pada Natsu, kenyataan bahwa Jellal yang menjadi idola di kantornya sudah menikah dan… fakta tentang status Natsu yang kini berpacaran dengan si bos!
"Eh?! Eh?! Apa yang kalian katakan? Hahaha… hahaha… tidak mungkin, kan? Aku hanya asal bicara tadi." kata Natsu sambil mengusap tengkuknya, gugup.
'Tidak! Mereka tidak boleh tahu kalau aku dan Lucy berpacaran!' Kata Natsu dalam hati.
Bagaimana pun juga menjadi pacar Lucy merupakan sebuah kesialan yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Bahkan teman terdekatnya seperti Gray sekalipun.
"Huufh!"
Gajeel dan Gray menghela nafas lega saat Natsu menyangkalnya, namun tidak untuk Jellal yang merasa curiga dari cara Natsu berbicara.
"Cih, kau mengejutkanku, Natsu." Kata Gray.
"Ahahaha… aku kan hanya bercanda, Gray. Jangan dianggap serius." Kata Natsu lagi, mencoba meyakinkan kedua temannya yang masih saja mengusap dada mereka karena terkejut dengan perkataan Natsu.
"Hmm…"
Jika pembantahan Natsu mempan terhadap Gray dan Gajeel, bukan berarti mempan juga untuk si idola kantor yang sudah menikah tersebut. Ya… Jellal terlihat tidak percaya dengan pembantahan yang dikatakan Natsu karena biasanya perkataan yang diucapkan tanpa sadar adalah perkataan yang benar adanya, namun akhirnya Jellal memilih mengangkat bahu, acuh dan kembali menikmati tehnya.
'Ya, kita lihat saja nantinya…' Gumam Jellal dalam hati.
.
.
.
Lucy's Room
.
" Ya ampun, sudah berapa kali aku katakan. Buang saja seluruh album-album foto yang diberikan Papa, Levy-chan." Kata Lucy dengan suara rendah yang terdengar lelah.
"Hmm…"
Levy hanya menghela nafas sambil meletakkan album yang tadi berada di tangannya diatas meja. Jujur saja, ia merasa kasihan dengan kerja jeras yang dilakukan Mr. Jude untuk mendapatkan calon suami yang pantas untuk Lucy. Lagipula, ia tidak mengerti kenapa sahabatnya yang perfecto tersebut bisa menyukai pemuda tanggung yang benar-benar jauh dari standar seorang Heartfilia.
"Mana mungkin aku menolak apa yang diamanatkan oleh Mr. Jude." Kata Levy sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam ruangan temannya tersebut.
"Ck, Papa benar-benar keras kepala. Padahal aku sudah mengatakan kalau aku mampu mencari pria idamanku sendiri." Gerutu Lucy sambil mem-pout-kan bibir pinknya. Kaki jenjang Lucy melangkat maju, kemudian berputar, lalu maju kembali, begitulah seterusnya. Persis seperti sebuah setrika.
"Jangan bicara seperti itu Lu-chan. Kau tahu, kan… kalau Mr. Jude benar-benar berusaha keras untuk membuatmu tertarik dengan laki-laki pilihannya." Tegur Levy sambil meraih gelas yang berisi cairan biru di dalamnya.
"Oh ayolah, Levy! Aku hanya tertarik pada Natsu. Dibandingkan pria-pria kaya dan sombong yang ada di album itu, lebih baik aku memilih Natsu. Lagipula, sekarang kami sudah berpacaran." Kata Lucy, berhenti sejenak sambil menatap Levy dengan pandangan meyakinkan.
Melihat keyakinan yang dipancarkan oleh Lucy membuat Levy tersenyum senang sekaligus iba. Baru kali ini ia melihat sang sahabat bisa bersikap teguh terhadap seorang pria, padahal sebelumnya ia gonta-ganti pria seperti mengganti pakaian, namun kali ini sepertinya Lucy harus bersusah payah untuk mendapatkan sang pria.
"Lu-chan, biar kukatakan sesuatu yang sedikit menyakitkan. Natsu-san itu sama sekali tidak mencintaimu. Menyukaimu saja tidak."
"…"
Lucy terdiam, mematung dengan perkataan Levy yang langsung 'stuck' di dadanya.
"Aku tahu itu, Levy-chan. " lirih Lucy dengan tatapan sedih yang begitu kentara. Bagaimana pun juga sangat menyakitkan jika kita mengetahui fakta kalau pria yang kau sukai malah memiliki rasa benci terhadapmu.
"Tapi lihat saja, Dia akan menyukaiku kurang dari enam bulan ini." Kata Lucy sambil tersenyum manis, namun tersirat kesedihan di sana.
"Dasar! Kau seperti masokis, Lu-chan." Kata Levy sambil meminum softdrink berwarna biru tersebut.
Sebenarnya Levy tidak bermaksud untuk menyakiti hati Lucy, tapi dia ingin membuat wanita itu sadar jika pria yang dia inginkan bukanlah pria yang cocok untuknya. Lagipula, Natsu benar-benar membenci Lucy, bahkan jika ada sesuatu yang melebihi kebencian, maka Levy dapat mengatakan jika perasaan Natsu pada Lucy di atas rasa kebencian itu sendiri.
"Ya, tidak apa-apalah… Lagipula, mendapatkan Natsu menjadi tantangan tersendiri untukku." Kata Lucy, kali ini bukan dengan senyum sedih, namun seringai seram seperti bos mafia yang tengah merencanakan hal jahat dan itu sukses membuat Levy merinding ketakutan.
"Baiklah… baiklah, aku akan terus mendukung keinginanmu, Lu-chan. Tapi ingat! Jangan melakukan hal yang aneh untuk mendapatkan Natsu-san. Usahakan kau bersikap feminine di depannya!" kata Levy, persis seperti seorang ibu yang menasehati anak gadisnya yang baru mengenal cinta.
"Hohoho… akan kuusahakan, Levy-chan."
.
.
Lucy POV
.
20.35
.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Lewat 3 jam setelah seluruh pegawai pulang, kecuali seseorang. Ya.. kalian tahu siapa dia.
Kakiku melangkah dengan cepat melewati lorong-lorong kantor yang mulai dipadamkan lampunya satu per satu. Tidak, jangan salah sangka, aku berjalan dengan cepat bukan karena takut gelap, tapi ingin segera bertemu dengan pacar baruku saat ini. Yang mungkin masih sibuk dengan pekerjaan kantornya.
Setelah kakiku berjarak 5 meter dari tempat kerjanya, aku diam sebentar mencoba meredakan detak jantungku yang makin menguat. Hahaha… aku benar-benar tidak tahu sisi mana dari Natsu yang membuatku berdebar saat ini? Wajahnya? Tidak mungkin, lihat saja wajahnya saat ini. Kusut, kusam dan terlihat guratan lelah di bawah matanya. Pakaiannya? Hmm… mungkin, karena saat ini kemeja coklat yang biasa ia pakai dengan rapi terlihat berantakan dengan tiga kancing bagian atas yang terbuka. Ya, mungkin saja, karena sisi maskulinnya tak sengaja terlihat dan terekam di kepalaku.
Tanpa buang-buang waktu aku kembali mendekatinya dengan langkah yang sedikit pelan, tidak ingin mengganggu konsentrasinya, namun tetap saja... sepertinya dia sangat peka terhadap sekelilingnya.
"Sebaiknya anda kembali saja ke ruangan anda." Kata Natsu, masih dengan pandangan yang tertuju pada layar komputernya. Hoo… sepertinya dia masih belum bisa berbicara non formal saat berdua. Cih!
"Kau berani memerintahku, hm… Natsu?"
"dan berhentilah berbicara formal." Kataku.
Aku tidak mendengar ia membalas perkataanku, namun aku bisa menangkap suara helaan nafasnya. Ya… biarkan saja, pokoknya aku ingin berdua dengannya.
"Aku akan menunggu sampai selesai." Lirihku sambil menarik kursi yang berada tak jauh dari meja kerja Natsu.
"Eh?!"
Spontan ia langsung menoleh saat aku mengatakan hal tersebut, apalagi saat ini aku sudah duduk manis 10 senti di sebelah kanannya.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Pekerjaanku selesai 2 jam lagi. Sebaiknya kau menunggu di ruanganmu! Biar aku yang akan menjemputmu nantinya." Ketus Natsu yang bahasa formalnya hilang entah kemana.
"Cih, lambat sekali." Cibirku acuh sambil melingkarkan kedua tanganku di atas meja dan menaruh kepalaku di atasnya. Irisku terbuka memperhatikan wajahnya yang kini terlihat marah dengan apa yang aku katakan. Fufufu… aku suka ekspresinya.
"Salahkan saja bosku yang over dalam memberikan pekerjaan." Sindirnya sambil melirik ke arahku dengan tajam. Oooh! Aku benar-benar ingin tertawa sekarang.
"Hohoho… bukankah itu memang tugas seorang bos untuk memberi banyak pekerjaan pada pegawainya yang payah?" Balasku sambil tersenyum sinis, menanggapi sindiran pedasnya padaku.
"A-apa?! Kau mengatakan aku payah!"
"Ck, sudah, kembalilah bekerja, sana! Siput!" Kataku, memutuskan perdebatan kecil yang terjadi antara kami berdua. Ya… jika aku terus saja menikmati acara berdebatku dengannya, kemungkinan besar waktu 2 jam untuk menyelesaikan semua tugas tersebut akan menjadi 4 jam.
"Cih." Decihnya kasar.
Dia pun kembali ke alam kerja yang menurutku sangat membosankan tersebut. Jujur saja, aku sebenarnya tidak tega memberinya banyak pekerjaan untuk dikerjakan, tapi mau bagaimana lagi? Aku ingin terus melihatnya. Lagipula dia pegawai yang bisa diandalkan, jadi semua tugas yang aku berikan bisa selesai dengan baik, ya.. meskipun aku sering mencari-cari kesalahannya agar bisa memiliki alasan untuk bertemu dengannya.
"Kenapa kau sangat menarik, Natsu?" tanyaku tanpa sadar, dengan suara yang cukup untuk di dengar oleh telinga Natsu.
OOPS!
Dahinya langsung mengerut heran setelah mendengar kalimatku yang baru saja memujinya. Ya, bagaimanapun juga hanya orang aneh yang menganggap kemarahan dan kekesalan seseorang sebagai hal yang menarik.
"Menarik? Heh! Kau memang aneh." Katanya sambil bergidik ngeri dan kembali membiarkan jari-jemarinya menari di atas keyboard.
"Hmph… mungkin." Kataku sambil tersenyum dengan mata yang masih asyik memandanginya.
'Karena aku aneh hanya saat bersamamu.'
.
.
END Lucy POV
.
Natsu masih sibuk dengan urusan kantornya meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 21.35. Ia berusaha sekuat tenaga agar pekerjaannya segera selesai, karena bagaimanapun juga semakin lama ia bersama bosnya, semakin mulutnya tidak tahan untuk menyumpahi gadis pirang yang kini masih sibuk menggeliat dalam gelungan kedua tangannya itu, tidak sabar.
"Cih, lama sekali. " Gerutu Lucy entah sudah keberapa ratus kali Natsu dengar dalam kurun waktu 60 menit mereka bersama.
"Hmph.. salah sendiri. Kalau ingin pulang, pulang saja sana." Ketus Natsu.
Lucy tidak menjawab, namun ia sudah tidak tahan lagi. Tanpa basa-basi ia langsung menggeser tubuh Natsu dan menguasai keyboard yang sedari tadi berada dalam wilayah kerja Natsu.
"Hey! Hey! Apa yang kau lakukan!" Seru Natsu saat sang bos sudah menekan huruf 'S' dan 'Ctrl'.
"Aku mau pulang! Dan kau juga harus pulang!" kata Lucy dengan suara yang terdengar dingin dan tidak ingin dibantah.
"Eh?! Pulang? Tidak bisa! Aku harus mengerjakan pekerjaanku! Karena kau pasti akan menambahnya lagi besok." Kata Natsu yang berusaha menyingkirkan Lucy dari hadapannya.
"Tidak akan, bodoh!" Kata Lucy yang sudah lelah menunggu Natsu menyelesaikan tugasnya. Bisa-bisa ia dan Natsu akan menginap di kantor jika masih mempertahankan keinginan Natsu untuk menyelesaikan seluruh pekerjaannya, karena kantor akan dikunci oleh penjaga pada pukul 22.00. Lagipula, Lucy merasa gerah karena tidak ada hal yang bisa ia lakukan saat itu. Haaah.. jika saja Natsu tipe laki-laki yang mudah terpikat dengan daya tariknya,mungkin satu jam menunggu akan terasa sebentar dengan dirinya yang sibuk bermanja-manja dengan Natsu.
Sepertinya Lucy memang harus mengurangi pekerjaan yang ia bebankan pada Natsu, karena sebenarnya ia ingin sekali mengajak Natsu makan malam bersama seusai pulang kantor. Ya! Lucy harus memberikan Natsu pekerjaan yang dapat diselesaikan sebelum pukul 21.00. Harus!
Setelah memastikan komputer tersebut telah mati total, Lucy menyandang ransel hitamnya dan langsung melempar jas Natsu.
"Aku akan mengantarmu! Jadi cepat berkemas, kuhitung sampai sepuluh atau gajimu ku potong!"
Natsu yang hanya terbengong dengan yang dilakukan Lucy langsung mengemas barangnya secepat kilat.
"1"
Natsu meraih kertas-kertas penting yang ada di meja kerjanya dan memasukkannya ke dalam ransel.
"5"
"Hei, apa-apaan itu! Kau bahkan belum menyebutkan angka 2!" keluh Natsu. Ia pun menghentikan acara berkemasnya, karena ingin protes.
"8"
"Iya! Iya!" gerutu Natsu sambil menzip ransel buluknya dengan cepat.
"Ok, ayo pulang." Kata Lucy. Tangan lembutnya menggenggam erat tangan Natsu dan membawanya ke luar dari ruangan tersebut secepat mungkin.
"Hoi! Lepaskan tanganku! Bagaimana kalau ada pegawai lain yang melihatnya? Aku ingin pulang sendiri!" kata Natsu sambil menggerakkan tangannya dengan kasar, agar lepas dari cengkraman Lucy, namun ternyata Natsu salah sangka. Ia mengira tangan lembut Lucy juga memiliki tenaga yang lembut pula, tapi ternyata cengkraman Lucy tidak beda jauh dengan cengkraman Gorilla liar.
'Selain memiliki seribu kepribadian dan aneh, dia juga memiliki tenaga Gorilla!' Gumam Natsu dalam hati dengan pandangan tidak percaya pada bosnya yang masih saja menggenggam tangannya.
"Kau pikir jam segini akan ada kereta?"
"Ee.."
Natsu terdiam dengan perkataan mutlak Lucy, ya… karena biasanya ia pulang kurang - lebih jam sembilan dan pada pukul itu kereta masih beroperasi.
Akhirnya Natsu memilih pasrah, daripada tangannya patah karena memaksa untuk membebaskan diri dari cengkraman Gorilla dan harus berjalan kaki ke rumah.
.
Tak sampai 5 menit mereka sudah berada di samping sebuah mobil Ferrari merah yang terparkir manis di depan gedung dan entah sudah menit keberapa Natsu memandangi mobil Ferrari La Ferrari super mewah tersebut dengan kedua iris onyx-nya. Baginya, ini merupakan sebuah mimpi hanya dengan melihat mobil cepat tersebut.
"I-i-i-i-ini.. mo-mo-mobilmu?" Tanya Natsu saat melihat salah satu mobil termahal di dunia itu kini berada di depan matanya. Tangannya sangat gatal ingin mencolek body mobil mewah tersebut, namun niatnya terhenti saat suara tawa terdengar dari bibir gadis di sampingnya.
"Sayang sekali, itu bukan mobilku. Kita akan pulang dengan mobil ini." Kata Lucy sambil membuka kunci sebuah mobil VW Beetle berwarna merah tua yang terparkir tepat di samping mobil mahal dan cepat tersebut.
"EEH?!"
Natsu hanya bisa ber'eh' ria saat ia melihat mobil kodok dengan bentuk original tersebut sudah terbuka lebar dan siap menjadi kendaraannya pulang.
"Ck, tak usah kecewa seperti itu! Kau ingin jalan kaki, huh?" suara sang bos menyadarkan Natsu dari acara kecewanya. Ya… Natsu mengira jika dirinya akan menaiki mobil yang sama dengan mobil-mobil yang biasa dipakai para bintang Hollywood tersebut.
"Hn.." Gumam Natsu,lesu. Ia pun masuk ke dalam VW Beetle yang mungkin umurnya lebih tua dari kakek-neneknya tersebut.
Tanpa Natsu sadari, gadis pirang di sampingnya tersenyum, Ah! Atau lebih tepatnya menyeringai senang.
.
.
"Di mana rumahmu?" kata Lucy tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Natsu menghela nafas kesal.
"Sudah ku bilang, turunkan saja aku di sekitar sini dan biarkan aku pulang sendiri." Kata Natsu dengan suara yang sedikit meninggi.
"Aku baru akan mengeluarkanmu dari mobil ini jika sudah sampai di depan rumahmu. Pokoknya aku ingin melihat rumahmu." Kata Lucy masih teguh dengan pendiriannya.
"Dasar keras kepala! Sudah, aku akan melompat dari mobil ini kalau kau tak menurunkanku." Kata Natsu yang sudah mulai gerah dan kesal.
"Silahkan saja, kalau kau berguling di aspal dan terluka, aku akan dengan senang hati melindasmu." Kata Lucy, dengan nada datar namun sinis.
"Ah!"
BUGH!
Natsu memukul kaca mobil yang sedikit terbuka tersebut dengan keras. Sudah cukup kesabarannya di uji hari ini oleh Lucy.
"Kaca yang kau pukul itu harganya 10 tahun gajimu di kantorku. Kau tidak ingin mengabdikan diri selama 10 tahun hanya untuk kaca yang kau rusak itu, kan?" Kata Lucy, masih dengan nada datar namun terdengar sinis.
"10 tahun gajiku? Yang benar saja, Kaca jelek seperti ini." Kata Natsu sambil memukul-mukul kaca mobil tersebut, bahkan ia menabuh kaca tersebut seperti menabuh gendang.
DUG! DUG! DUG!
"Aku sudah memperingatkanmu. Jangan salahkan aku kalau kau benar-benar akan bekerja selama 10 tahun untuk kaca itu. Asal kau tahu, ini mobil pertama ayahku dan mobilnya yang paling berharga!" kata Lucy, kali ini ia menatap tajam mata Natsu.
"EH!"
Natsu kembali kicep saat mendengar jika mobil ini merupakan mobil paling berharga milik Big Boss Heartfilia Corp, Mr. Jude, ayah Lucy.
'Cih, pantas harga kacanya selangit. Apa ada campuran berliannya?' Gumam Natsu di dalam hati.
"Ck, cepatlah! Kau tinggal memberi tahu alamatmu, dan semua ini selesai! Aku benci berputar-putar di sini." Gerutu Lucy, kali ini suaranya terdengar tajam seperti saat ia memarahi Natsu.
"Baiklah! Baiklah! BAIKLAAH! Aku menyerah! Dari sini kau tinggal belok kiri. Rumah paling pojok, itulah rumahku." Kata Natsu dengan penuh penekanan, karena untuk kesekian kalinya urat kesabarannya putus.
"Nah, apa susahnya!" kata Lucy sambil mengarahkan mobil VW miliknya kea rah yang ditunjukkan oleh Natsu.
5 menit kemudian, VW Beetle keluaran tahun 1940 itu terparkir tepat di depan pintu rumah tradisional Jepang yang disinyalir sebagai kediaman Natsu.
"Kau sudah sampai. Sekarang kau boleh turun." Kata Lucy sambil tersenyum manis.
Sumpah, Natsu sepertinya makin yakin jika bosnya ini memiliki lebih dari 5 kepribadian, karena ekspresi, cara bicaranya bisa berubah-ubah dengan cepat. Lihat saja tadi, selama perjalanan mereka sikap si bos berubah menjadi serius, dingin dan sinis, namun setelahnya ia bisa tersenyum manis seperti seorang gadis lugu. Benar-benar bos yang super aneh.
"Ah! Ini, berikan untuk keluargamu." Kata Lucy lagi sambil menyerahkan bungkusan berat yang Natsu yakin isinya adalah sepaket sushi yang tadi sempat mereka beli sebelum menuju ke rumahnya.
"Eh? Bukankah ini untuk kau makan sendiri?" Tanya Natsu ragu, karena bosnya tadi mengatakan jika sushi sebanyak itu akan ia makan sendirian, namun ternyata sushi tersebut diberikan pada keluarganya. Hmm… sepertinya kali ini Natsu harus mengakui jika bosnya memiliki kebaikan meskipun hanya sebanyak 0,00000001 persen.
"Aku bisa membelinya lagi. Ah, iya… kemari sebentar, Natsu." Panggil Lucy.
Natsu yang tadi sudah berada tepat di depan pintu rumahnya terpaksa berbalik kembali mendekati si bos.
"Besok aku akan menjemputmu. "
Natsu mengerutkan dahinya, setelah 4 kata tersebut terucap dari bibir pacar sekaligus bosnya tersebut.
"Ti-tidak usah. Kau tidak perlu menjemputku." Tolak Natsu. Ya, ia harus menolaknya, karena bagaimanapun juga Natsu tidak mau jika dia dijemput oleh seorang gadis, apalagi gadis beringas yang sangat ia benci. Lebih baik ia jalan kaki dibandingkan satu mobil lagi dengan Lucy, ya… lihat saja tadi, mereka hanya duduk bersama di dalam mobil 15 menit lamanya, namun sudah berdebat panjang hanya karena masalah sepele.
"Tak usah membantah, atau… kau akan tahu akibatnya dan jangan coba-coba untuk menghindar, Natsu." Kata Lucy dengan suara rendah mengancam, namun setelahnya…
"Yosh! Baby, aku pulang dulu. Jaa!"
Ia tersenyum riang.
Mobil VW Beetle itu pun melaju pergi, meninggalkan seorang pemuda berambut pink yang tengah meratapi nasibnya yang harus terikat penuh dengan bosnya.
Natsu sadar jika dia tidak berdaya, sangat tidak berdaya apalagi jika sudah diancam oleh bosnya seperti itu. Andai saja kami-sama tidak menjadikan seorang Lucy Heartfilia sebagai bosnya, Natsu akan senang hati menolak semua keinginan egoisnya, tapi lagi-lagi takdir membuat Natsu harus tetap bersabar dengan semua ini. Sepertinya Natsu harus berdo'a lebih keras lagi agar kami-sama menjadikan dia seorang bos, jika bisa menjadi atasan Lucy. Ya! Kalau bisa Natsu ingin menjadi atasan Lucy, jadi dia bisa memperlakukan Lucy dengan semena-mena. Tunggu dulu, jika ia ingin menjadi atasan Lucy, artinya ia harus menggantikan ayah Lucy, Mr. Jude The Big Boss of Heartfilia Corp dan satu-satunya cara untuk menggantikan ayah Lucy adalah dengan cara… me-me-me-menikahi…
"TIDAAAAKK!"
Burung-burung malam yang bertengger di atas kabel listrik langsung beterbangan setelah suara jeritan tersebut menggema. Untung saja malam itu sangat sepi, jika tidak… mungkin Natsu akan di cap sebagai orang gila.
'Tidak! Tidak akan! Menikahinya.. ? Ha..Ha..Hahaha.. Maaf saja!'
.
.
.
TBC
To
Be
Continued
Makasih sudah menyempatkan baca fic, Vee, Minna XD
Thank U So Much for all : Aimi Dragneel, Dragneel77, Fitri830, Koro-kun, Na-kun 4kou, Ndul-chan Namikaz,e Ochana, Riri406, Stayawake123, Tora, 92, luka, ririnki, sintiaesde, .9, 92, Tora , aim7, IanRamadhani, Riri406, Guest too, Love you :* Muuaach...
