Read slowly, there may be sections that will make it difficult for you to understand the storyline
Kisah ini masuk ke dalam Dark-Romance; if you want a Happy Ending, please leave this story. I, don't guarantee a Happy Ending.
Kapel/Chapel: adalah sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk persekutuan dan ibadah bagi orang Kristen.
10 tahun—yang lalu, Wina, Austria.
Ada kenangan manis yang tidak bisa Sasuke lupakan dari senyuman orangtuanya. Bahkan, ada kenangan buruk pula yang tak bisa ia lupakan mengenai senyuman palsu terakhir itu; di tengah malam serta udara dingin, hujan lebat, ditambah petir menggelegar.
Sasuke tidak bisa berkutik mengingat orangtuanya tengkurap di depannya dengan darah menggenang. Air matanya tak langsung turun. Ia masih berdiri di tengah ruang kosong tanpa adanya cahaya. Hanya gelap gulita yang dia temukan.
Terpampang jelas bahwa seseorang sedang berdiri membelakangi dia. Kedua senjata api digenggam dengan meneteskan lumuran darah, tetapi keadaan gelap, membuat Sasuke tidak tahu apa yang terjadi pada ibu dan ayahnya. Namun, ia yakin, bahwa orangtuanya telah dibunuh secara keji dan itu direncanakan.
Seseorang mungkin akan datang, suatu hari nanti mencarinya, atau ia akan diperlakukan sama seperti ibu atau ayahnya; dibunuh tanpa pernah mengungkit alasan yang sesungguhnya; mengapa mereka harus dilenyapkan.
5 tahun—yang lalu, Tokyo, Jepang.
"Baik, saya sudah mencatat pesanan Anda, wafel dengan siraman sirup, satu panekuk dengan siraman cokelat. Dan terakhir, dengan dua gelas lemon tea. Silakan diterima catatannya, lalu ini adalah kupon hari ini, Anda bisa menukarkannya saat pembayaran di kasir, karena Anda dan teman Anda adalah pelanggan kedua kami."
Kafe kecil itu terletak jauh dari pinggir jalan raya utama. Dan mereka selalu memberikan promo bagi pelanggan pertama sampai kelima, yang datang di pagi hari.
Sementara itu, kafe tersebut memiliki pelanggan tetap yang selalu datang di setiap pagi setiap harinya, seorang lelaki berambut hitam legam. Ia menguncir asal-asal rambutnya yang agak panjang ke belakang—Sasuke Uchiha, ke sana bukan karena ia bisa mendapatkan diskon ataupun menerima promo yang dijanjikan. Ia memiliki maksud lain, sebab tempat itu ia gunakan demi bertemu seseorang.
Sambil menyesap kopi paling pahit yang ia minta seperti biasa, dia memandangi jalanan sepi, tak terlalu lebar maupun tak terlalu untuk bisa dilewati dua kendaraan yang sama-sama melintas. Kemudian ia meletakkan cangkir pada piringan kecilnya, jari-jarinya pun tak tertinggal mengetuk secara konstan di atas meja.
Ia berusaha menghitung orang yang lewat di samping kafe itu. Walau hal itu tampak biasa saja untuk dilakukan, tetapi terbukti bahwa hal tersebut bisa menyingkirkan rasa bosannya. Sasuke terus mengamati, mengamati, dan ia mengamati tanpa bosan. Sampai akhirnya lonceng kafe membuatnya mengalihkan pandangan, dan jatuh memandang ke depan.
Ia menemukan seorang pria berjaket hitam dan warna topi senada masuk ke dalam kafe, hingga berjalan cukup tergesa-gesa mendekatinya. Sesudah sampai di depannya, Sasuke mendongak, ia tak perlu basa-basi untuk apa lelaki itu di sana, hingga akhirnya sebelum lelaki itu berhasil duduk di kursi, Sasuke sudah melemparkan amplop cokelat berisi uang ke depan.
"Bayaranmu, tapi lama-lama aku bosan dengan cara kuno ini. Aku akan buatkan rekening khusus." Lelaki di depannya mendengkus setelah ia berhasil duduk pada kursinya, tak lama dari itu pun ia mendongak, memandangi Sasuke yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa selain wajah datarnya. "Apa kau tidak mau meninggalkan cara kuno seperti ini, Itachi?"
"Ini membuatku lebih nyaman, aku bisa tahu kau baik-baik saja. Hanya kau Uchiha yang mempedulikan aku sebagai Uchiha yang terbuang." Sasuke membuang napasnya. Dia sempat mengalihkan pandangan bila sedang merasa tidak begitu nyaman, tapi kembali lagi memandang Itachi, saat kakaknya bertanya, "Apa kau senang berada di bawah kuasa kakek?"
"Dan, apakah kau senang hidup bebas tanpa aturan?" Sasuke secara cepat memutuskan untuk bertanya balik. Itachi tersenyum, ia kemudian menggeleng kecil tetapi Sasuke tidak menemukan jawaban yang bisa membuatnya mengerti mengapa Itachi tersenyum seperti itu—tidak menunjukkan apa pun.
Barangkali Itachi baru saja menjawab bahwa ia tidak menginginkan hidup sengsara tanpa uang sepeser pun, dan ia lebih menginginkan pekerjaan yang menghasilkan uang dengan rutin di waktu tertentu di setiap bulannya, bukan ia mengemis dan menghubungi, bahkan perlu melakukan pekerjaan ekstrem tak masuk akal, agar bisa menikmati sesuap nasi atau berfoya-foya.
"Berhenti untuk mencoba menikmati barang haram itu." Perasaan gelisah itu, membuat Itachi menoleh ke kanan ke kiri. Matanya yang gelap pada bagian bawah ia gosok sekali lagi. Lalu, berhenti sebentar, dan kini mulai menggosok hidungnya yang terasa gatal. Padahal, baru saja ia merasa tenang, tetapi adiknya mengungkit hal tersebut secara berulang di hari pertemuannya.
"Barang itu, adalah sumber kesenangan dan penghilang rasa kesal pada Uchiha," kata Itachi, ia menunduk, lalu menggebrak meja kecil. "Jangan membahas ini lagi berulang-ulang. Kau, sama saja seperti kakek yang hanya bisa memberikan rasa sakit padaku, karena aku hanya anak cacat di matanya. Betapa beruntung kau adalah manusia paling sempurna sekarang."
"Seharusnya kau tahu, aku bukan orang paling sempurna. Kau tahu, bila hatiku cacat." Itachi menarik ujung bibirnya, ia menunjukkan pandangan seakan mengejek setelah ia puas pada satu hal itu. Namun Sasuke bertahan pada ketenangan yang sengaja ia latih. "Suatu hari, aku akan berikan waktu untuk kau menyapa kakek dan memberikan hadiah kepadanya."
"Kau tahu risiko seperti itu, Sasuke?"
"Tentu, aku betul-betul tahu risikonya bila aku memberikan kau jalan ke sana. Memberikan kado di tengah malam tepat ulang tahunnya. Bagaimana, apa kau menginginkan hal seperti itu Itachi?"
"Kau—" Itachi terdiam, dia berhenti tersenyum. Setelahnya ia mengerang karena kesal. "Benar-benar seperti Uchiha." Lanjutnya, lalu ia bangkit dari duduknya. Kakinya yang tak sama panjangnya semakin terlihat terpincang-pincang, hingga menjadi pusat perhatian ketika Itachi memutuskan untuk meluap kekesalannya dengan membanting pintu kafe. Tak hanya suara dentaman keras, justru lonceng pada pintu kafe tersebut pun tak berhenti berdentang-dentang.
Sekeluarnya dari kafe tersebut Itachi masuk ke dalam taksi yang sejak tadi menunggu dia. Membiarkan argo taksi yang tak murah itu terus-menerus menyala.
Masih di dalam kafe itu, Sasuke menunduk sembari menyesap kopi pahitnya. Dia tidak merasakan perasaan apa pun bahkan merasa kesal pada Itachi.
Ia telah mati—dalam merasakan perasaan menggebu-gebu atau sekadar iba pada saudara kandungnya. Sementara Itachi, ia tersengguk-sengguk di dalam taksi yang melaju kencang memecahkan hari di musim dingin itu. Mereka telanjur berkomplot dan masing-masing dari mereka pun memiliki tujuan.
Membalaskan dendam, ditambah kepemilikan dalam rencana pribadi lainnya; menyekap kekasih gelap kakeknya, yang sebenarnya dengan tulus ia mencintai wanita merah muda itu.
Tubicontinut
13.06.2018
