Read slowly, there may be sections that will make it difficult for you to understand the storyline

Kisah ini masuk ke dalam Dark-Romance; if you want a Happy Ending, please leave this story. I, don't guarantee a Happy Ending.

Kapel/Chapel: adalah sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk persekutuan dan ibadah bagi orang Kristen.


Sekeluarnya dari kafe yang selalu ia datangi, Sasuke kemudian berjalan mendekati mobilnya yang berada pada parkir umum di jalan kecil itu. Ia cukup santai melangkah sambil memandangi langit mendung di musim dingin. November belum waktunya untuk salju-salju itu turun dari langit sana. Tapi Sasuke bisa merasakan butiran salju itu berada tepat di atasnya dan segera menghujani dia yang berhenti di tengah jalan.

"Aku benci musim dingin," Sasuke kembali melanjutkan jalannya setelah dia bergumam kecil pada sesuatu yang ia benci sejak dulu.

Langkahnya kini stabil tak banyak menuntut menginjak aspal. Cara berjalannya seakan mengabsen meter demi meter langkah yang telah ia lewati, sampai akhirnya ia sampai di sebelah mobilnya—dan satu-satunya mobil yang terparkir di tempat parkir umum itu.

Dia menekan secara otomatis alarm mobilnya, lalu masuk tetapi tak buru-buru melakukan starter.

Sasuke memutuskan hanya duduk pada jok kemudi, menenggelamkan dirinya pada kesalahan-kesalahan yang seharusnya sudah berhasil ia buang. Ia tahu betul, apa yang dia lakukan telah menyakiti perasaan kakaknya yang tidak pernah dianggap ada oleh Uchiha hanya karena kakinya yang tak bisa berdiri seimbang, sedangkan Uchiha sendiri selalu mewarisi kesempurnaan bahkan mereka mencoba mempertahankannya.

"Ibu, apakah aku salah mengatakan itu?" Sasuke mendengkus, dia kemudian menarik sabuk pengaman dan menguncinya, setelah berhasil melakukan hal itu, barulah ia menyalakan mesin mobil. Memutuskan untuk segera meninggalkan tempat parkir.

Ada tempat yang paling ingin ia tuju, sebuah tempat yang membuatnya kembali merasakan apa itu artinya memiliki kesempurnaan bahkan kecacatan hati.

Mobil Sasuke melaju kencang di tengah jalan. Dia menyalip sesekali mobil di sampingnya bahkan depannya. Ia tak takut mati saat tahu seseorang menunggunya di suatu tempat, membutuhkan belas kasihan darinya.

Sakura Haruno, telah berada di genggamannya—di suatu tempat, wanita itu menunggunya datang memberikan belaian atau justru Sakura menunggu Sasuke memberikan sepiring nasi untuk dimakan.

Ia tahu apa yang dia lakukan tidak hanya bisa dibilang gila, memilih membuka hati pada kekasih gelap kakeknya. Seorang wanita yang menerima uang di setiap bulan, bahkan pendidikan sampai ke jenjang S2. Madara Uchiha terlalu mencintai wanita merah muda itu. Ia seorang pria tua bangka yang bisa melakukan apa pun demi wanita simpanannya.

Wanita tersebut mengecap kekayaan kakeknya lumayan rutin, memiliki banyak waktu untuk menikmati makan malam bersama Madara di luar. Berlibur bersama, ataupun berbelanja bersama di suatu mal besar Tokyo, tak sekali pula mereka melakukannya di luar negeri.

.


.

Suara bising di kelab malam memang menyiksa telinganya. Selesai sekuriti memeriksa identitasnya, barulah Sasuke masuk ke dalam dengan dandanan yang masih sama sejak pagi. Ia tidak membutuhkan bir atau segala macam koktail. Ia berada di sini ingin bertemu dengan seorang teman—yang memberikan segudang rencana paling brilian cara menyekap seorang wanita. Dia tahu, teman semasa kecilnya paling pintar dalam melakukan hal itu.

"Sasuke," ketika baru sampai di pinggir pagar pada lantai atas, Sasuke pun melirik ke bawah. Sebuah tanah dikeruk dijadikan sebagai lantai dansa; ia menemukan seorang lelaki berambut pirang berdiri dengan menenteng botol anggur, sedangkan Sasuke memutuskan untuk berhenti, menunggu si orang itu berjalan mendekat ke arahnya.

Temannya berlari mendekat, lalu berhenti tepat di depannya sambil tersenyum dengan wajahnya terlihat setengah mabuk. "Kau terlambat, kawan."

"Kau memindahkannya tidak mengatakannya padaku."

"Maaf, tapi Itachi bilang tempat sebelumnya sudah tidak aman. Dia menyuruhku membawanya ke sini. Aku tidak ada waktu untuk mengabari dirimu. Wanita itu ada di sana, bersama wanitaku."

"Kau yakin?"

"Kau berpikir mereka akan merencanakan untuk kabur?"

Dan, Sasuke selalu berada dalam ketakutan itu. Ia tak takut pada apa pun meski kakeknya menemukan dia sedang berkomplot bersama Itachi untuk melengserkan kakeknya dari Ketua Uchiha, hanya yang Sasuke takutkan, bahwa Sakura Haruno memiliki cara untuk kabur dari sangkar emas yang sebentar lagi akan selesai dibuat.

"Aku telah melatih wanitaku untuk tidak menjadi pembangkang. Dia tidak akan melakukan itu, merencanakan bahwa membawa kabur kekasihmu."

"Kau terlalu percaya diri."

"Tentu saja, karena aku memiliki alasan untuk selalu berada pada kepercayaan diri." Dulu sampai sekarang, Sasuke berpikir bahwa dia orang paling egois, jahat, dan kurang ajar dalam memiliki kesenangan atau sesuatu yang ia inginkan. Namun, saat ia menemukan kebusukan temannya, Sasuke bisa tahu kini, bahwa dia tidak benar-benar kejam atau memiliki hati yang telah mati.

"Kapel itu jauh berada di luar Tokyo. Aku memilih tempat sesuai dengan kriteria yang kau ajukan. Aku susah menemukannya, dengan kejujuran bahwa itu sungguh sulit. Tempat itu akan segera jadi dengan ruang bawah tanah yang kau inginkan. Sangat dalam, dan mungkin orang-orang tidak akan menemukan tempat itu sebagai ruang untuk menyekap wanitamu."

"Bisakah kau tidak terlalu banyak bicara? Aku tidak berusaha menyekap, tetapi aku melindungi dia."

"Aku tidak sedang banyak bicara, tetapi aku menjelaskan. Bahwa bangunan itu akan jadi satu atau dua tahu kemudian, dan—" lelaki itu tergelak sambil menggoyangkan tudingannya pada Sasuke. "Melindungi? Kau bisa saja."

Sasuke membuang pandangannya untuk sebentar, tetapi kembali memandang teman pirangnya, "Jika itu pilihan, aku ingin memilih satu tahun."

"Kau gila?" matanya mendelik hebat. "Aku tahu kau punya uang banyak, tapi jangan gila. Apa kau tidak bisa santai sedikit?"

"Naruto, Madara pasti akan menemukan Sakura. Untuk sekarang, mungkin dia menganggap bahwa wanita itu sulit dihubungi hanya karena ingin menyendiri atau pergi ke suatu tempat. Tapi jika kita mengulur waktu terlalu lama, Madara akan tahu. Kau, aku, ataupun Itachi, kita semua akan dibunuh olehnya."

Naruto menelan ludahnya, ia kemudian terbatuk. "Kenapa dengan aku juga?"

"Kau seorang arsitek yang merancang bangunan itu sebagai tempat berdiam Sakura nanti."

"Ya, tapi…" Naruto berkacak pinggang. Dia menarik napas sebanyak mungkin sebelum berhasil meluapkan emosinya. Tapi dia tahu betul, apa yang dia lakukan itu menjadi percuma, dan jika dia berpikir melawan Sasuke, itu akan menghancurkan persahabatan mereka. "Kita temui mereka dulu."

.


.

"Apa kau mau cokelat?" Sakura melirik penuh was-was. Dia kemudian merangkak mendekat saat ia dengan yakin gadis kecil di sampingnya tidak membahayakan. "I-ini cokelat enak, aku akan menikmati ini kalau sedang gugup."

"Tapi, cokelat itu—" Sakura diam, sambil hidungnya masih berusaha mengendus. Ia cukup yakin pada penciumannya tidak menjadi salah, ketika ia menemukan bahwa cokelat itu mengandung narkotika. Ia benar-benar menghafal segala komposisinya. Seorang analisis medis setidaknya harus bisa memahami hal sekecil itu. "Terima kasih tawarannya, tapi aku tidak sedang mood makan cokelat."

"Apa karena kau tahu apa yang ada di dalam sini?" gadis kecil itu tersenyum, lalu tangannya yang mungil secara perlahan kembali membungkus batang cokelat dengan sangat rapat, lalu memasukkannya ke dalam saku mantel. "Aku sudah menikmati ini sejak satu tahun yang lalu. Aku dibuat ketagihan pada barang-barang seperti ini. Kau tahu, mengapa dia melakukan itu?" Sakura menggeleng, "Agar aku tidak bisa jauh darinya. Sangat memalukan bahwa aku harus datang ke pusat rehabilitasi karena gadis baik sepertiku menjadi seorang penikmat barang haram. Belum lagi, bagaimana kecewanya keluargaku mengetahui hal seperti ini."

"Itu tidak terlambat, kau harusnya tidak malu untuk pergi dan berobat. Kau bisa bebas dari kehidupan seperti ini," gadis berambut hitam itu menggeleng. Ia kemudian menekuk kakinya. Melipat lengannya di atas lututnya, dan menyembunyikan separuh wajahnya di sana. "Kau gadis yang cantik, kau harusnya masuk ke universitas dan bersenang-senang. Kau pasti memiliki banyak teman. Aku melihat, kau orang yang baik."

"Tidak, kalau aku baik, aku tidak akan menawarkan cokelat itu kepadamu. Mungkin nanti kau akan ketagihan." Sakura tersenyum, dia mendekat sedikit lagi, lalu membelai pucuk kepala si gadis kecil itu. "Aku orang jahat ya?"

"Tidak, kok," seru Sakura. "Kau tidak jahat, orang yang membuat dirimu seperti ini, yang telah jahat kepadamu. Aku bahkan tidak ingin percaya, kau mencintai dia."

"Naruto?"

"Ya, lelaki pirang itu. Jika dia mencintaimu, tidak seharusnya dia menyekapmu seperti ini," gadis itu menggeleng. "Apa dia menyiksa tubuhmu juga?"

"Dia tidak menyekapku, tapi aku yang menginginkan itu darinya." Sakura menarik napas, dia pun berhenti mengusap kepala gadis kecil itu. Apa mungkin, keadaan dan keinginan mereka itu sama. Merasa berdosa, atau merasa putus asa. "Keluargaku bangkrut, dan dia memintaku untuk datang kepadanya, maka dia akan menolong keluargaku. Aku berpikir itu sulit. Aku tidak mencintainya, tapi sekarang tidak. Aku mencintai Naruto."

Sakura terenyuh, napas berubah terasa sulit untuk sekadar dinikmati. Ia mengamati gadis itu yang menunduk. Ada yang salah—semacam pencucian otak atau doktrin cukup keras telah ditanam.

"Aku tidak memiliki siapa pun lagi selain keluargaku ataupun Naruto. Aku, tidak akan kabur darinya atau pergi dari dia. Mungkin memang pada awalnya aku hanya ingin berada di sisinya karena obat itu, atau alasan lain agar dia mau menolong keluargaku. Tapi sekarang, karena aku mencintainya."

"Tidak, kau tidak mencintainya, kau ketergantungan, Hinata," Sakura menyalak. Dia berusaha menyadarkan bahwa itu bukan cinta. Sebuah ketergantungan dan Naruto tidak berhenti untuk terus menjejalkan narkotika itu ke tubuhnya. "Kau, harus sembuh—"

"Hei," tanpa ia sadari seseorang menyapa di samping mereka, salah satu dari dua orang lelaki yang berdiri di ambang pintu, memasang wajah kemarahannya. "Lihat Sasuke, wanitamu yang memulai duluan."

Naruto berjalan tergesa-gesa dan menarik lengan Hinata lumayan kasar. "Kau tidak berusaha kabur dariku, 'kan?" Hinata menunduk dia menggeleng berulang-ulang karena takut. "Ingat ya, aku bisa melukai keluargamu jika aku menginginkan itu."

"Kau gila?" Sakura kembali menyalak, sedangkan Sasuke masih tetap berada di tempatnya. "Kau menculik gadis di bawah umur. Kau memberikan suntikan tidak sekali pada tubuhnya. Dan, kau mengancam pula. Sudah berapa banyak pasal yang sudah menjerat dirimu, Tuan Rubah?"

"Jika kau sudah tahu aku gila, maka diam saja." Sakura memejamkan mata, ia berusaha untuk tenang. Namun ketika ia membuka mata, justru menemukan Hinata menangis sembari menggelengkan kepalanya. "Kami memiliki kesepakatan, jadi semuanya tidak salah padaku saja."

"Sakura, ayo kita pergi." Sakura mengempaskan tangan Sasuke. Dia menjauh dari lelaki berambut legam itu. "Apa masalahmu sekarang? Kau bahkan memiliki perjanjian denganku juga."

"Kau takut pada Madara sehingga kau menyuruh kakakmu untuk menculik aku? Mengapa kau melimpahkan semua itu pada kakakmu?" Sasuke membuang napasnya secara teratur. Ia masih tenang dan bersabar untuk tidak mengamuk di sini. "Apa kakakmu bisa dipercayai?"

"Apa maksudmu?"

"Lupakan, kau tidak akan mengerti apa yang aku maksud."

Sasuke kemudian memandang Naruto yang sudah marah. Mata temannya itu tidak terlalu ramah ketika ia menemukan Sakura sedang memandangi kekasihnya.

Kemudian, lelaki pirang itu bergerak, untuk menutupi tubuh Hinata, ia tidak pernah suka dengan pandangan semacam itu. Dan, Sakura meringis sembari menyisir rambutnya ke belakang.

"Kapel yang rencana akan kau ciptakan itu, aku berterima kasih padamu."

.

.

Tubicontinut

14.06.2018